SpongeBob SquarePants

Minggu, 24 November 2013

21Candlelove [One Shot]

Tittle : 21CandleLove (One Shot)
Rating : Insya Allah T kalau ada yang gak T ane yang buat cuman bisa angkat tangan :D
Genre : Romace (insya allah)
Cast :
Hwang Zia
Marco Van Ginkel
Oscar
Sisanya figuran... <<---Suer dah nih cast nya niat nggak sih?

Sekedar iseng buat nyambut ultahnya si Ginkel. Semoga anda terhibur walau ceritanya sangat ngelantur dan khayalannya sangat absurd dan ngawur :D. Typo itu biasa a.k.a wajar aja gan *dilempargawang*

****

BUKK. Sebuah bola mengenai kepalaku, sekarang aku merasakan pening yang sangat-sangat pening, ya iyalah. Tak lama kemudian aku ambruk, beberapa orang langsung mengerubuti ku. Seseorang malah terdengar seperti memarahi seseorang, entahlah, suara itu seperti berputar-putar dikepalaku.
Sekitar tigapuluh menit aku harus terbaring di UKS, pertama yang kurasakan saat aku membuka mata adalah sakit yang menjalar diseluruh kepalaku.
" Hay kau sudah sadar?" tanya cowok berbadan jangkung cenderung kurus.
" Aww." teriakku saat aku mencoba mengangkat badanku untuk duduk.
Cowok itu mencoba membantuku dan berhasil.
" Maaf ya tadi." aku hanya membalasnya dengan senyuman. " Ku ambilkan minum ya?" tanpa menunggu persetujuanku dia langsung mengambilkan aku segelas air putih hangat.
" Terimakasih." ku tenggak sedikit air itu dan ku taruh kembali ke meja disebelahku.
" Siapa namamu?"
" Zi, namamu?"
" Oscar."
" Maaf banget ya tadi." sepertinya ia sangat merasa bersalah.
" Nggak papa kok, kamu nggak sengaja juga kan."
Oscar masih menunduk, dari balik bulu mata lentik nya terbersit rasa bersalah dan rasa penasaran dengan wajah China milikku yang sepertinya asing bagi pandangannya.

****

Sekitar sebulan aku berada di London, tak banyak yang bisaku kenal dan ku kerjakan. Selain sekolah dan kegiatan ekstrakulikuler yang ku ikuti, jurnalis. Dikelaspun aku tak banyak memiliki teman, hanya Ginkel, cowok Belanda yang menjadi teman sebangku.
" Zi makan yuk aku bawa bekal nih."
Mungkin cowok satu ini rada males melihatku yang biasanya ceria malah murung dan hanya menunduk sepanjang hari.
" Dimana? Kelas aja deh." aku masih menundukkan wajahku, memandang halaman demi halaman buku yang tak ku baca sama sekali.
" Padahal pengennya sih di taman tapi kalau kamu maunya di kelas ya udah deh dikelas aja." inilah sifat Ginkel, selalu mengalah kepada ku. Aku jadi risih-risih sendiri.
Akhirnya kamipun makan bekal Ginkel berdua dikelas, anak-anak lain menikmati makan siangnya entah dimana; berpencar.
" Zi." suara yang sangat kuhapal.
" Kenapa Os?" tanpa berbalikpun aku tau siapa pemilik suara itu.
" Hay Zi." dua suara lagi mengekor dibelakang. Pasti Hazard dan Mata, batinku.
Ketiga cowok itu duduk mengintariku dan Ginkel, kami berdua merasa risih. Belum lagi Oscar yang dengan seenak jidatnya merangkulkan tangannya di pundakku. Ginkel menatapku sedikit, ah tak bisa kujelaskan.
" Zi keluar yuk." Oscar berbisik ditelingaku.
" Nggak ah."
" Kenapa?"
" Nggak mood."
" Ayo Zi sekali aja, ada Hazard sama Mata juga kok."
" Sekali nggak mau ya nggak mau, Os."
" Yaudah." Oscar melepaskan rangkulannya lalu pergi bareng Mata dan Hazard.
" Kenapa sih Zi nggak mau diajak sama Oscar, diakan cowok paling populer disekolah ini."
" Nggak ah, mau populer apa enggak aku lagi nggak mood. Udah jangan dibahas lagi, terusin aja makannya."
" Sip Zi."

****

Aku hanya mengamati Oscar yang sedang bermain bola, skill nya sangat ku akui; bagus. Disisi lapangan lainnya segerombol cewek-cewek sedang meneriaki namanya, memberi semangat. And then….
"GOOLLLL." semuanya bersorak, aku masih tetap diam. Ginkel yang duduk disebelahku bertepuk tangan.
Tiba-tiba Oscar datang kearahku, membentuk simbol "love" seraya meraih tanganku dan mengecupnya. Sontak semua pandangan beralih kearahku, tatapan cemburu para gadis langsung muncul disana sini. SIAL.
" Wah Zi kamu beruntung banget ya."
" Sial ini Gin bukannya beruntung."
" Apanya yang sial Zi? Kamu beruntung banget Zi, kamu nggak perlu ngejar-ngejar Oscar tapi Oscar yang ngejar-ngejar kamu. Dan hebatnya lagi kamunya ituloh cueknya minta ampun."
" Aku nggak tertarik sama Oscar ngapain aku ngejar-ngejar dia. Emang dia apa? Layangan putus?"
" Jadi kalau cowok yang kamu kejar-kejar itu kamu anggep layangan putus gitu Zi?"
" Iya, soalnya kalau ada layangan putus pasti aku bakalan nyoba dapetin dia gimanapun caranya nggak peduli. Pokoknya harus dapet."
" Aku mau Zi jadi layangan putus buat kamu." ucap Ginkel malu-malu. Aku hanya bisa diam dan menelan ludah.
Ku acak-acak rambut blondenya. " Yakin mau jadi layangan lepasku?"
" Iya, tapi jangan rusak tatanan rambutku dong Zi." sambil memanyunkan bibirnya ia membetulkan letak rambutnya yang tadi ku acak-acak.
Aku berdiri melangkah meninggalkan Ginkel yang masih duduk-duduk didepan kelas yang pas menghadap lapangan yang sering dijadikan tempat bermain futsal.
Belum sampai duapuluh meter aku berjalan segerombol cewek menghadangku. Membrondongiku dengan pertanyaan-pertanyaan konyol seputar Oscar. Aku cuma bisa berhedeh-hedeh ria. Apa spesialnya cowok berwajah baby face dengan badan jangkung cenderung kurus itu? Pinter? Enggak juga. Berwawasan luas? Apalagi, nggak ada tampangnya.
Aku hadapi segerombolan cewek tadi dengan muka datar, nggak ada guna juga aku ladenin. Percuma.
Niatanku buat beli minum dikafeteria sekolah pun akhirnya batal, aku kembali ke kelas. Menyandarkan punggungku didinding sambil memijat kening adalah hal pertama yang aku lakukan setelah sampai di tempat duduk. Ginkel hanya menatapku gemas.
" Ada apa lagi Zi?"
" Males ah, keluar kelas. Diintrogasi mulu sama fansnya Oscar."
" Efek jadi cewek spesialnya Oscar."
" Pindah planet yuk, kira-kira kamu tau nggak planet mana yang bisa jadi tempat kabur paling nyaman?"
" Rumahku."
BUKK, buku Kimia yang tebalnya sekitar 200lembar aku lempar ke arah Ginkel.
" Jangan dibating dong Zi, ini ilmu tau nggak….."
And bla bla bla…. Yah Ginkel langsung menceramahiku ini itu, dasar maniak buku. Kupasang headset, kuputar lagu Maroon5 sekencang-kencangnya.

****

" Ziiii aku dapat A+ Midsemester ini." Ginkel melambai-lambaikan dua buah kertas. Aku hanya menghela napas, bukan hal yang aneh kalau Ginkel dapat nilai A+.
" A+ itu udah biasa , apalagi kamu yang dapet." Ginkel senyum-senyum sendiri, dasar cowok aneh, batin ku.
" Tada." ia menyerahkan aku selembar kertas satunya.
" Aaaa.." sontak aku berteriak. " Ini beneran nilai ku?" Ginkel mengangguk sambil terus tersenyum.
Sontak kupeluk tubuh jangkung Ginkel, kupeluknya erat-erat. Ginkel hanya bisa diam dan menahan napas.
" Eh kenapa kok diem sih?" aku cemberut.
" Kamu kok mau sih peluk-peluk aku Zi, pas dipeluk aku Oscar nggak mau." Ginkel menatapku dalam.
" Kan kamu layangan lepasku."
" Zi Zi." Ginkel mengacak-acak rambutku gemas.
" Balas dendam ya?"
" Hadiah dapat nilai A+."
" Nggak gini juga dong."
Ginkel hanya menertawakanku yang sedang cemberut sambil membetulkan rambutku yang tadi diacak-acaknya.
" Selamat ya Zi." seseorang langsung memelukku dari belakang.
" Apaan sih Os."
" Tau banget kalau ini aku."
" Suaramu."
" Mau kutraktrir? Kan udah dapat nilai A+." tawarnya.
" Males, Gin perpus yuk."
" Lets go." kugandeng tangan Ginkel, yang digandeng malah panas dingin.
" Rileks dong Gin."
" Gimana mau rileks kalau nanti pas aku pulang tinggal nama."
" Kok bisa?"
" Digorok Oscar duluan."
" Oscar berani gorok kamu? Langkahi dulu mayatku."
Aku dan Ginkel tertawa terbahak-bahak.

****

Penghujung November aku berencana memberikan sebuah kejutan di ulang tahun Ginkel nanti.
" Buat apa sih Zi kok sibuk banget." Oscar mendekatiku yang sedang menggunting-gunting beberapa kertas warna-warni.
Aku hanya diam sambil tetap asyik menggunting-gunting.
" Zi." Oscar merapatkan tempat duduknya denganku, aku masih diam. " Sebenarnya itu kertas buat apa sih? Kayaknya penting banget." Oscar memandangku sebal.
" Buat sweet seventen nya Ginkel kenapa?"
" Ginkel lagi Ginkel lagi bosen Zi, kamu selalu ngurusin cowok kutubuku itu. Hargai aku sedikit kenapa sih?"
" Lah emang kenapa kalau aku ngurusin Ginkel terus? Lagian kamu juga, orang lagi sibuk malah di datengin."
" Aku cemburu Zi aku cemburu."
" Kamu siapaku? Kenapa musti cemburu."
Oscar memutar bola matanya, sejurus kemudian dia berlutut. Meraih tanganku.
" Zi hargai perasaan ini Zi. Kumohon. Aku mau jadi siapapun yang kamu minta, nglakuin apapun yang kamu minta asal kamu hargai aku Zi. Aku sedih kamu nggak pernah mau ngerti sama perasaanku. Aku mencintaimu Zi, aku mencintaimu."
Kutarik tanganku dari dalam gengamannya, " Kamu nggak perlu nglakuin apapun, kamu nggak perlu jadi siapapun. Sekeras apapun kamu berusaha kamu nggak akan pernah bisa menembus hatiku."
" Aku mohon Zi." kini ia telah berdiri dihadapanku. " Suruh aku jadi siapapun yang kamu mau, aku mohon."
" Ginkel." nama itu meluncur begitu saja dari bibirku. Dan aku yakin seyakin-yakinnya kalau Oscar nggak bakalan mau nurutin kataku yang satu ini.
" Jadi Ginkel? Kau yakin?"
" Emm." aku mengangguk pelan lalu menunduk.
" Jika itu yang kamu mau Zi maaf aku nggak akan pernah bisa."
" Kenapa?" aku mendongak.
Oscar tak menjawab ia malah berlalu.
" Ziii."
" Eh."buru-buru aku membereskan kertas-kertasku tadi.
" Kamu apain Oscar kok sampai bisa kayak begitu."
" Udahlah Gin, ayo masuk kekelas."
Syukurlah Ginkel sama sekali nggak menanyakan untuk apa kertas-kertasku tadi. Pandangannya malah terfokus pada Oscar yang melangkah dengan gontai menuju kelasnya.

****

Tepat dimalam pertama bulan Desember aku masuk ke apartemen Ginkel memberinya sebuah kejutan kecil-kecilan.
" Happy Birthday layangan lepasku." aku berbisik tepat di telinganya.
Ia terkesiap melihatku yang sudah muncul dihadapannya. " Zi? Kok bisa masuk?"
" Nggak inget sama ini ya?" aku menggoyang-goyangkan sebuah kunci duplikat.
" Makasih ya Zi kamu orang pertama yang mau bangun malem-malem cuman buat ngucapin Happy Birthday ke aku." dia langsung mendekapku. Aku hanya bisa mematung dan terpaku.
" Ya udah make a wish dulu." Aku mengalihkan perhatian.
Ia menutup matanya, lalu mengucapkan " Aku ingin jadi layangan lepas yang ditemukan sama Zi." temaram lilin pun padam, hanya tersisa sinar lampu tidur milik Ginkel.
" Maksudnya?"
" Aku ingin jadi pasangan hidupmu. Selamanya."
" Gin nggak usah bercanda deh."
" Udahlah Zi jangan naif, kamu itu cantik dan berbeda dari cewek lain. Banyak cowok suka dan penasaran sama kamu."
" Ngaco."
" Serius Zi. I Love You."
Kembali aku mematung, tak bisa kupungkiri perasaan ini benar cinta. Aku benar mencintai Ginkel. Perasaan yang selama ini kututup-tutupi kini tak bisa kututupi lagi.
" Love you too layanganku. Semoga benang ini nggak kabur lagi ya kayak dulu." aku tarik hidung mancungnya.
" May I kiss you?"
Tak kujawab. Tapi kurasakan wajah kami semakin mendekat, bibirnya mengecup bibirku.
" Jadi kita resmi nih Zi?"
" Kalau mau mu itu ya terserah." aku tersenyum. Ia menarikku kedalam dekapannya lagi, kini tubuhku berada diatas tubuhnya yang terbaring diatas ranjang tidur milikknya.
Kutempelkan telingaku di dadanya. Mendengarkan alunan detak jantungnya yang menjadi melodi terindahku malam ini.
" Malam ini jangan pulang ya Zi. Besok kan hari minggu juga, ya?" ia merapatkan posisi kami.
Aku mendongak, " Emang kenapa?"
" Aku masih pengen meluk kamu lagi Zi."
" Tapi kayaknya horor banget deh kalau posisi tidur kita kayak begini."
Ia melepaskan dekapannya, sesaat kemudian kami tertawa lepas.
" Yaudah tidur sini sebelah ku." Dia menyuruhku untuk rebahan disebelahnya.
" Jangan macem-macem." Aku memasang muka sangar.
" Iya beibi hahaha." Dengan tampang terimutnya.

****

Hubunganku dengan Ginkel berjalan sangat lancar, sedikit demi sedikit Oscar mulai mundur dengan teratur.
" Zi kenalin ini Ludy." Oscar menggandeng seorang cewek berambut blonde.
Aku yang sedang asyik dengan buku mendongak sejenak. " Oh kenalin aku Zi." lalu melanjutkan aktifitas ku tadi. Entah kenapa mungkin virus Ginkel yang seorang kutubuku telah menjalar kepadaku.
" Malam ini kamu sama Ginkel nggak ada acara kan?" hanya kujawab dengan berdehem.
" Mau nggak double date?"
Mataku terbelalak dan aku langsung melongo. " Double date?"
" Iya Zi, mau nggak?"
" Eh itu kayaknya nggak bisa deh. Soalnya si Ginkel malam ini harus ngajar anak les privat." buru-buru aku pergi dari tempat itu. Double date? Gila.
Cepat-cepat aku melangkah. Menghindari darahku yang tiba-tiba mendidih. Ah betapa anehnya aku? Kenapa aku? Entahlah aku juga bingung. Entah kenapa juga aku tak mengerti, jantung ini mendadak nyeri seperti tak menerima kenyataan bahwa ada wanita lain disisi Oscar; sekarang.
" Ziii…." Ginkel berteriak memanggilku dari kejauhan.
"Gin…" aku memeluknya hambar.
" Kamu sakit?"
Aku hanya menggeleng. Aku sendiri nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Apa aku sakit? Sakit hati karena Oscar memiliki kekasih? Ah mungkin aku wanita paling tolol saat ini kalau itu adalah sebuah fakta nyata bukan hanya hipotesa karangan ilmuan saja. Toh aku juga punya Ginkel yang sangat aku cintai ini kan? Kalau aku sekarang sakit hati, kenapa dulu aku menghindari Oscar dan memilih si kutubuku tampan ini? Aku kembali menggeleng.
" Ke UKS ya Zi. Liat deh wajahmu pucat."
Buru-buru Ginkel membawaku ke ruang UKS, ruang penuh makna bagiku. Ruang dimana aku pertama kali melihat sosok itu. Sosok yang katanya paling tenar disekolah ini, sosok yang katanya juga mencintaiku, dan sosok yang susah payah aku hindari.
" Gin kayaknya aku pengen dikelas aja deh."
Berlama-lama di UKS malah membuatku semakin pening dan mual.
" Yakin Zi? Tapi kamu sakit. Kamu pucet kayak gitu, aku nggak mau kamu kenapa-napa Zi. I love you and I wont to let u hurts."
" Love you too Gin," kugenggam tangannya mencoba meyakinkan. " Aku akan semakin sakit kalau disini, kau tau kan aku nggak suka bau obat-obatan. Dan menurutku disini, ruangan ini, bau obatnya cukup mengganggu." kelah ku.
" Maafkan aku Gin, sebenarnya bau obat-obatan itu sama sekali tak menggangguku, tapi apa yang pernah terjadi diruangan inilah yang menggangguku untuk tetap disini." Batinku. Maaf Gin aku bohong kali ini.
Tanpa protes lagi perlahan Ginkel membantuku untuk berdiri, menuntunku berjalan melewati koridor sekolah menuju kelas kami.

****

" Happy Birthday Ziii…." Tepat jam 12 malam 9April Ginkel membawakanku sebuah cupcake kecil favoritku dengan sebuah lilin diatasnya.
" Thanks Gin." Kukecup sekilas bibirnya, lalu kudekap tubuh cowok berkacamata itu.
" Maaf ya aku nggak bisa naruh 17lilin diatasnya. Kuenya nggak muat, tapi syukurlah ini kan kue kesukaanmu." ucapnya sambil balas mendekapku.
" Love you Gin, Love you so much. Sweet seventen yang akan sangat berarti untukku."
" Love you too Zi." ia mengecup puncak kepalaku. " Make a wish." ucapnya bersemangat.
Pelukan kami mengendur dan terlepas. " Aku ingin memiliki Ginkel seutuhnya." kutiup lilin kecil itu perlahan. Ginkel memandangku sambil terus tersenyum.
" Makasih Zi. Makasih kamu sudah mau jadiin aku salah satu bagian dalam hidupmu."
" Bagian terpenting dalam hidupku." aku kembali memeluk Ginkel. " Gin aku ada sesuatu buat kamu."
" Aduh Zi kamu ini gimana sih, kamu yang ulang tahun tapi malah kamu yang ngasih aku sesuatu."
" Cuma sesobek kertas kok Gin, tapi semoga bermakna."
" Apa itu?"
" Tadaaa…" aku mengulurkan tanganku yang memegang sebuah amplop putih.
Dibukanya amplop itu perlahan, diambil nya secarik kertas berisi coretan tanganku.
" Tiket?"
Ia memandang selembar kertas itu dengan heran. " Aku membuatnya agar semirip mungkin dengan tiket pesawat." aku hanya nyengir, menampakan jejeran gigi yaeba milikku.
" Kau serius dengan tiket ini?" ia masih terheran.
" Iya Gin aku serius, "Tiket untuk hidup bersama Zi". Apa kamu nggak mau?"
" Tentu saja aku mau, sangat sangat mau. Tapi apa kamu mau sama aku?"
Aku memutarkan bola mataku, " I Love You Gin. Too… much."
Tiba-tiba ia menciumiku, perlahan memang hanyalah sebuah ciuman biasa. Tapi lama-kelamaan ciuman itu kian memanas. Kunikmati setiap sentuhannya hingga permainan itu berakhir dan kamipun terlelap dengan mimpi masing-masing.

****
*Tiga tahun kemudian disebuah caféteria disalah satu Universitas ternama di London* 

" Zi aku putusan. Jadi embloo deh." ucap Oscar sambil menyeruput vanila latte nya.
" Ya udah ikhlasin aja, mungkin emang Ludy bukan jodohmu." ucapku sambil terus membaca buku yang tadi baru saja kupinjam dari perpustakaan kampus.
Entah sejak kapan aku jadi akrab dengan Oscar, yang jelas kami sering sekali saling curhat bareng, menceritakan pasangan masing-masing. Sedikit demi sedikit aku mulai mengikis rasa sukaku dengan Oscar. Yang menurutku muncul dengan cara yang terlalu aneh dan sangat nggak wajar.
" Oh ya gimana kamu sama Ginkel?"
" Yah kayak biasanya hehe… mau bikin rencana kejutan ulang tahun ke 20nya sama 3tahun aku jadian."
" Ikutan dong."
" Boleh." aku tersenyum sumringah.
" Oke, ntar malam kamu kerumahku. Bantuin aku bikin kue tart sekalian dihias."
" Sip Hwang."
" Please don’t call me Hwang, Os. Ini London bukan di China." aku menatapnya jengah.
" Tapi Hwang kan namamu juga." ia nyengir.
" Iya tapi itu nama hanya aku pakai kalau aku lagi di China. Bukan nama Internasionalku(?)."
" Haha… kamu ada-ada aja Zi Zi."
" Nyebelin tau nggak dipanggil Hwang. Kalau bukan karena terpaksa aku nggak bakalan mau dipanggil Hwang." aku memajukan bibirku; cembetut.
" Lah emang kenapa?"
" Sangat-sangat formal menurutku. Kau taukan itu nama depan ayahku. Padahal ayahku sendiri nggak pernah dipanggil Hwang atau Mr. Hwang." kurapatkan jaket musim dinginku. Menjelang musim dingin seperti ini udara memang sangat sangat dingin.
" Alasanmu itu rada-rada…"
" Nggak masuk akal, memang." kupotong saja perkataannya yang belum selesai, dan karena aku juga tau apa yang akan dia katakan. Ratusan kali sudah aku mendengar komentar yang sama.
" Eh kayaknya aku ada kelas deh Zi. See you dirumahmu ntar malem ya." ia melirik jam tangan silvernya.
" Fighting." teriakku.
Ia berbalik lalu mengerjipkan sebelah matanya. Imut, batinku.

****

" Sorry Zi aku nggak bisa ikut ngrayain ultahnya Ginkel ntar malam." ucap Oscar setelah kami selesai menghiasi kue tart.
" Kenapa?"
"Mendadak dosen bilang kalau aku ada kuliah malam dan kayaknya habis itu aku harus ngerjain beberapa tugasku yang tertunda. Nggak papa kan?"
" Enggak kok. Makasih ya udah bantu-bantu aku nyiapin kejutan buat ultahnya si Ginkel."
" Bye Zi. Kasih tau aku ya gimana detail nya hehe."
" Tenang aja Os, aku bakalan cerita kok."
Oscar menarik pedal gas mobilnya dan berlalu pergi menuju kampus. Kulirik jam tanganku, tiga jam sebelas menit lagi Ginkel akan ulang tahun.

****

" Happy Birthday to you, Happy Birthday to you, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday to…. You…." aku menyanyikan nya setengah berbisik ditelinga Ginkel.
Inilah rutinitasku setiap tengah malam tanggal satu Desember, semenjak aku pindah ke London. Merayakan ultah Ginkel dikamar nya.
" Thanks Zi, Love You." dan ia langsung mengecup bibirku.
" Love you too. Congrats Gin, kamu sekarang udah dewasa, nggak remaja lagi."
" Maksudnya Zi?"
" Kan umurmu sudah masuk duapuluh tahun, nggak belasan lagi."
" Iya juga sih."
" Make a wish." aku tersenyum lalu menatap kue tart yang dihiasi lilin-lilin kecil diatasnya.
" Aku pengen ngebahagiain Zi. Menjadikan Zi cinta terakhirku dan juga ibu buat anak-anakku nanti."
Lilin-lilin kecil itupun padam. Aku terharu dengan apa yang Ginkel harapkan. Bocah itu boleh saja terlihat seperti orang yang tak pernah merasakan jatuh cinta semasa hidupnya, tapi setiap kali ia dihadapanku ia akan menjadi lelaki paling romantis dikolong langit.
" Semoga apa yang kamu harapkan terkabul. Semoga." kupeluk erat tubuh Ginkel. Dan ia balas memelukku.
" Zi bisa tutup mata sebentar nggak?"
" Buat apa?"
" Udah pokoknya tutup mata, ok."
" Baiklah." aku hanya menurut saja saat ia menyuruhku memejamkan matanya.
" Zi buka matamu."
Kubuka mataku secara perlahan, ia sudah berimpuh dihadapanku sambil memegang sebuah cincin.
" Hwang Zia, Will you marry me?"
Pertanyaan itu tak langsung jawab karena tubuhku membeku seketika. Seseorang tolong bangunkan aku, apa aku mimpi? Apa Ginkel hanya bercanda?
" Hwang Zia, Will you marry me?" ulangnya.
Aku langsung tersadar, ini benar adanya. Ginkel melamarku. " Yes I do." Aku menjawab dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan yang menghalanginya. Perlahan airmata ku menetes. Aku merasa bahwa saat ini tak ada wanita yang lebih bahagia dariku.
" Kenapa kamu nangis Zi?"
" Aku bahagia Gin, akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan juga. Padahal aku nggak pernah yakin hal ini akan terjadi, hal ini akan berlaku dalam hidupku."
Ia meraihku, dan mendekapku erat-erat. " Aku tau Zi nggak anak manusia yang sempurna dimuka bumi ini, tapi aku bahagia bisa mencintai, dicintai dan memiliki wanita yang hampir sempurna sepertimu. Dan aku nggak pernah membayangkan hal indah ini akan terjadi padaku."
Aku memeluknya lebih erat lagi, tangis ku semakin pecah.

Aku mencintaimu Marco van Ginkel. Dan nggak perlu kamu pertanyakan lagi betapa aku mencintaimu.

****

To : Oscar
Os, Ginkel nglamar aku :)

From : Oscar
Ciyee… kalau udah nikahan jangan lupain temen ya Zi :p

To : Oscar
Jelas dong Os :p, tapi ngomongin pernikahan kami belum tau pasti.

Hatiku sangat berbunga-bunga saat ini. Ginkel melamarku tepat diulang tahunnya yang ke 20 dan 3tahun kami resmi menjadi sepansang kekasih. Perfecto.

****
Entah apa yang ada dalam mimpiku semalam ketika tiba-tiba datang sebuah pesan singkat dari Ginkel.

From : My Boyfriend :*
Sayang minggu depan aku harus kembali ke Belanda

Tubuhku merosot. Kenapa kamu musti pergi Gin? Aku tau kamu bakalan balik lagi ke London, tapi apa kamu tega meninggalkanku barang untuk seminggu? Kau tau sendiri kan kalau aku nggak pernah bisa jauh dari kamu Gin?

To : My Boyfriend :*
Kamu nggak lama kan sayang di Belanda nya? Kamu nggak niat buat ninggalin aku kan sayang? :’(

Ku cercanya dengan pertanyaan-pertanyaanku. Hapeku kembali berdering. Sebuah pesan singkat.

From : My Boyfriend :*
Tenang aja sayang aku nggak bakalan lama kok :* {}

To : My Boyfriend :*
I’ll Miss You sayang :* {}

From : My Boyfriend :*
Me too :* {}

****

“ Os?” Ginkel membuka pintu.
“ Eh, ada perlu ya? Nggak biasanya kamu ke apartemen ku.” Oscar langsung men-sleep laptopnya.
“ Iya nih, aku nggak ganggu kan?” Ginkel melirik laptop yang sudah di-sleep Oscar tadi.
“ Enggak kok, tadi cuma iseng nge-tweet geje doang kok Gin.”
“ Gini Os, kan itu aku mau ke Belanda minggu depan. Pamanku nawarin aku buat magang di rumah sakit nya, mungkin disana aku bakalan stay sekitar 3bulan dulu, kalau kondisinya cocok mungkin aku akan nerusin kuliah disana sekalian bawa Zi.”
“ Serius kamu mau ke Belanda?” Oscar masih bengong mendengar perkataan Ginkel.
Ginkel menangguk pelan, “ Iya Os. Titip Zi dulu ya, kalau dia nakal pitet aja hidungnya. Diem kok.”
“ Tenang aja Gin, Zi udah jinak sama aku.”
Kedua laki-laki itu langsung tertawa bersama, suara tawa mereka memenuhi setiap senti dari ruangan itu. Suara tawa yang mencerminkan kalau kebahagian itu sepertinya takkan berakhir hanya sampai disini saja.

****

Seminggu hanyalah sekejap mata bagiku sekarang, aku menatap wajah Ginkel lekat-lekat. Laki-laki didepanku ini akan meninggalkan ku, setidaknya untuk tiga bulan kedepan dan aku tak tau apa yang akan berlaku setelah itu.
" Zi maafin aku ya, kali ini aku harus ninggalin kamu. Maaf juga aku nggak bisa bawa kamu." Ginkel memelukku. Perlahan air mata pria itu merembes dipundakku.
" Kamu nangis Gin?" kulepas pelukan kami, ku tatap matanya lekat-lekat.
" Aku nggak tau harus ngapain, 3bulan dan bisa bertambah, tanpa kamu."
" Kamu pikir aku nggak juga, 3bulan tanpamu." kumajukan bibirku. Ginkel sepertinya hanya memikirkan dirinya sendiri, sekarang.
"Gin satu jam lagi pesawat bakalan take off dan kamu belum check-in." Oscar yang memandang kami dari kejauhan mengingatkan. Ah, dasar nggak tau orang lagi mau pelukan lebih lama apa, batinku.
" Os titip Zi ya."
" Siap bos." Oscar mengacungkan jempol kanannya.
" Zi aku pergi dulu ya."
Ia merengkuh tubuhku sekali lagi, lalu menciumiku. Ciuman terakhir kami. Perlahan sosok itu pergi. Dan entah kapan aku melihat sosok itu lagi.

****

Aku shock melihat berita di TV, baru tiga jam yang lalu Ginkel memelukku, menciumku dan berdiri di hadapanku kini sudah tak ada lagi. Tak ada lagi Ginkel yang selalu berusaha membuatku tersenyum, Ginkel yang maniak terhadap buku-buku Ilmiah dan sangat mengagumi  Neils Bohr (seorang ilmuan yang berhasil mengungkapkan teori atom Kuantum).
Kini tak ada lagi Ginkel dan tak ada lagi kelanjutan mimpi-mimpiku. Mimpi itu telah berhenti, tak ada kelanjutan, tak ada kepastian, dan mimpi itu jelas tak akan menjadi nyata.

Langit begitu gelap
Hujan tak juga reda
Kuharus menyaksikan
Cintaku terenggut, tak terselamatkan

Inginku ulang hari
Inginku perbaiki
Kau sangat kubutuhkan
Beraninya kau pergi, dan tak kembali

Dimana letak surga itu?
Biar kugantikan, tempatmu denganku
Adakah tangga surga itu?
Biar kutemukan, untuk bersamamu

Kubiarkan senyumku
Menari di udara, biar semua tahu
Kematian tak mengakhiri… Cinta…
( Agnes Monica - Tanpa Kekasihku)

****

Perlahan aku mencoba untuk membuka mataku, aku mengerjap perlahan.
" Zi kamu sadar?" suara Oscar langsung menyambutku.
" Aku kenapa Os? Kok banyak selang sama kabel begini?" aku memandang sekitarku, kabel disana-sini, bunyi alat pendeteksi detak jantung terdengar jelas, selang dari tabung oksigen dan tabung infus seperti rantai yang membelenggu tubuh kecilku.
" Kamu koma tujuh hari."
" Koma? Tujuh hari?"
Aku tak tau bagaimana aku bisa sampai ditempat aneh yang disebut rumah sakit ini, aku hanya ingat saat aku tak sadarkan diri setelah mendengar berita kalau pesawat yang ditumpangi Ginkel tergelincir dan terbakar karena kesalah pilot ketika landing, dan tak satupun kru maupun penumpangnya yang selamat. Tapi aku tak tau sama sekali kalau aku bisa nggak sadar sampai seminggu.
Semua ini seperti de javu untukku, aku pingsan, Oscar menolong ku, dan dia orang pertama yang kulihat saat sadar. Persis ketika pertama kali aku masuk SMA dulu. Namun kali ini kondisinya berbeda, aku pingsan bukan karena terkena bola. Aku pingsan karena aku kehilang pria yang peling kucintai, calon suamiku, untuk selamanya.
" Iya. Waktu itu kamu pingsan dan wajahmu langsung pucet aku panik, jadinya aku bawa ke RS langsung Zi. " tutur Oscar.
" Makasih ya Os, udah nolongin aku."
" Udahlah Zi, yang penting kamu baik-baik aja sekarang."
" Oh ya Os aku boleh minta satu permintaan nggak?"
" Apa?"
" Bisa bantu lepasin kabel sama selang-selang ini nggak?"
o.O

****

Kulangkahkan kakiku perlahan, ekor gaunku menyapu lantai. Di altar Oscar sudah menyambutku dengan senyuman yang tak pernah kulihat selama ini, senyum paling bahagianya. Aku menikah dengan Oscar. Ini kulakukan semata karena surat yang Ginkel tulis sebelum ia meninggalkan London dan dunia untuk selamanya.
" Jika aku nggak bisa menikahimu Zi, kuharap aku bisa melihatmu tersenyum bahagia dipelaminan bersama laki-laki yang baik seperti Oscar."
Meskipun aku harus merelakan semua mimpi-mimpi indah yang pernah aku susun berdua bersama Ginkel, tapi inilah aku sekarang dan disinilah aku, mencoba untuk mewujudkan salah satu mimpi Ginkel; mimpi terakhirnya.
“Semoga kamu melihat semua ini dari atas sana ya Gin, kamu ngeliat aku sama Oscar nikah dari surga.” Ucapku dalam hati.

****

Harusnya ini menjadi satu Desember keempatku bersama Ginkel. Bisa jadi satu Desember keempat menjadi kekasihnya, atau malah menjadi satu Desember pertamaku menjadi istri sah Marco van Ginkel. Tapi ini malah menjadi satu Desember pertamaku tanpanya. Dan demi apapun juga aku akan tetap menjadikan tanggal ini bermakna.
Tengah malam aku berdiri disebuah taman dibelakang apartemenku sambil dikelilingi 21 lilin-lilin kecil yang disusun membentuk lambang love, aku berdiri sambil memegang benang layangan. Dilayangan itu tertulis " Aku mencoba untuk bahagia disini Gin, jadi bahagialah kamu disana :)."
Perlahan layangan itu aku lepas. Aku tersenyum. Tersenyum pada apa yang telah berlaku dimasa lalu antara aku dan Ginkel, juga tersenyum untuk masa sekarang yang aku jalani bersama Oscar.
" Sudah Zi? Ibu hamil nggak boleh diluar malem-malem terlalu lama loh." Oscar mengamati tingkah laku ku tadi dari kejauhan. Aku tersenyum kearahnya. Berlari kecil lalu memelukknya.
Aku memandang lilin-lilin kecil itu sekali lagi. " Maafkan aku Gin aku nggak bisa nahan benang itu lebih lama, dulu kamu lepas, aku tangkap, dan sekarang lepas lagi. Maaf Gin kalau usahaku kali ini nggak cukup bikin kamu balik lagi buat menjadikan semua mimpi indah yang pernah kita rancang menjadi sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa dijalani dan dibagi sebagai sebuah cerita cinta indah di dunia nyata." batinku.
" Yuk Zi balik kerumah. Ntar aku bikinin teh anget. Kayaknya kamu kedinginan banget deh."
" Selama kamu mau meluk aku, aku nggak akan pernah kenal dingin Os."
" Haha bisa aja kamu Zi. Eith tapi kenapa itu lilin-lilinnya nggak dimatiin? Ntar kalau kebakaran gimana?"
" Biarin aja, biar cepet ketemu Ginkel." Oscar menatapku heran.
Bener apa katamu dulu Gin, kalau kamu pengen bahagia maka buatlah dongengmu sendiri. Jalani sendiri, nikmati sendiri setelah itu bagilah dengan orang lain. Tapi dongeng itu nggak pernah ada tanpa kamu. Karena hanya aku dan kamu “kita” yang tau dimana dongeng itu berawal dan kemana ia akan berakhir dengan kebahagiaan.
Yang kujalani saat ini bukan dongeng yang dulu sering kamu dan aku coba ciptakan, ini hanyalah sepenggal novel yang tak memiliki tokoh utama. Nggak berjalan sebagaimana mestinya dan yang jelas novel ini tak pernah berakhir bahagia dan tak pernah adil. Untukmu dan untukku.
Gin sekarang aku memang boleh menjadi istri sah Oscar;atas permintaanmu, dan anak yang sedang ku kandungpun boleh anaknya Oscar. Tapi tak ada satupun didunia ini yang melebihi rasa cintaku sama kamu. Hati ini belum beralih mencintai dan memikirkan satu nama. Yaitu kamu; Marco van Ginkel.

In another life, I would be your girl
We'd keep all our promises
Be "us" against the world
In another life, I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away
One That got away
( Katty Perry – The One That Got Away)


-THE END- 







2 komentar:

  1. FFnya bagus ^^ aku hampir nangis pas baca bagian akhirnya >0<
    tapi, buat FF selanjutnya tolong pake bahasa formal ya supaya dapet feelnya pas baca. terus pas awal FF alurnya kecepetan, pas akhirnya alurnya udah pas kok
    keep writing ya ^^

    H W A I T I N G~

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha thanks udh komen :) bahasa formal? bakalan jadi pertimbangan nih. iya yang diawal itu aku sempet bingung kek gimana mau bikin ceritanya nya ^^

      Hapus