Tittle : 21CandleLove (One Shot)
Rating : Insya Allah T kalau ada yang gak T ane
yang buat cuman bisa angkat tangan :D
Genre : Romace (insya allah)
Cast :
Hwang Zia
Marco Van Ginkel
Oscar
Sisanya figuran... <<---Suer dah nih cast nya niat
nggak sih?
Sekedar
iseng buat nyambut ultahnya si Ginkel. Semoga anda terhibur walau ceritanya
sangat ngelantur dan khayalannya sangat absurd dan ngawur :D. Typo itu biasa a.k.a
wajar aja gan *dilempargawang*
****
BUKK. Sebuah bola
mengenai kepalaku, sekarang aku merasakan pening yang sangat-sangat pening, ya
iyalah. Tak lama kemudian aku ambruk, beberapa orang langsung mengerubuti ku.
Seseorang malah terdengar seperti memarahi seseorang, entahlah, suara itu
seperti berputar-putar dikepalaku.
Sekitar tigapuluh menit
aku harus terbaring di UKS, pertama yang kurasakan saat aku membuka mata adalah
sakit yang menjalar diseluruh kepalaku.
" Hay kau sudah
sadar?" tanya cowok berbadan jangkung cenderung kurus.
" Aww."
teriakku saat aku mencoba mengangkat badanku untuk duduk.
Cowok itu mencoba
membantuku dan berhasil.
" Maaf ya
tadi." aku hanya membalasnya dengan senyuman. " Ku ambilkan minum
ya?" tanpa menunggu persetujuanku dia langsung mengambilkan aku segelas
air putih hangat.
"
Terimakasih." ku tenggak sedikit air itu dan ku taruh kembali ke meja
disebelahku.
" Siapa
namamu?"
" Zi,
namamu?"
" Oscar."
" Maaf banget ya
tadi." sepertinya ia sangat merasa bersalah.
" Nggak papa kok,
kamu nggak sengaja juga kan."
Oscar masih menunduk,
dari balik bulu mata lentik nya terbersit rasa bersalah dan rasa penasaran
dengan wajah China milikku yang sepertinya asing bagi pandangannya.
****
Sekitar sebulan aku
berada di London, tak banyak yang bisaku kenal dan ku kerjakan. Selain sekolah
dan kegiatan ekstrakulikuler yang ku ikuti, jurnalis. Dikelaspun aku tak banyak
memiliki teman, hanya Ginkel, cowok Belanda yang menjadi teman sebangku.
" Zi makan yuk aku
bawa bekal nih."
Mungkin cowok satu ini
rada males melihatku yang biasanya ceria malah murung dan hanya menunduk
sepanjang hari.
" Dimana? Kelas
aja deh." aku masih menundukkan wajahku, memandang halaman demi halaman
buku yang tak ku
baca sama sekali.
" Padahal
pengennya sih di taman tapi kalau kamu maunya di kelas ya udah deh dikelas
aja." inilah sifat Ginkel, selalu mengalah kepada ku. Aku jadi risih-risih sendiri.
Akhirnya kamipun makan
bekal Ginkel berdua dikelas, anak-anak lain menikmati makan siangnya entah
dimana; berpencar.
" Zi." suara
yang sangat kuhapal.
" Kenapa
Os?" tanpa berbalikpun aku tau
siapa pemilik suara itu.
" Hay Zi."
dua suara lagi mengekor dibelakang. Pasti Hazard dan Mata, batinku.
Ketiga cowok itu duduk
mengintariku dan Ginkel, kami berdua merasa risih. Belum lagi Oscar yang dengan
seenak jidatnya merangkulkan tangannya di pundakku. Ginkel menatapku sedikit,
ah tak bisa kujelaskan.
" Zi keluar
yuk." Oscar berbisik ditelingaku.
" Nggak ah."
" Kenapa?"
" Nggak
mood."
" Ayo Zi sekali
aja, ada Hazard sama Mata juga kok."
" Sekali nggak mau
ya nggak mau, Os."
" Yaudah."
Oscar melepaskan rangkulannya lalu pergi bareng Mata dan Hazard.
" Kenapa sih Zi
nggak mau diajak sama Oscar, diakan cowok paling populer disekolah ini."
" Nggak ah, mau
populer apa enggak aku lagi nggak mood. Udah jangan dibahas lagi, terusin aja
makannya."
" Sip Zi."
****
Aku hanya mengamati
Oscar yang sedang bermain bola, skill nya sangat ku akui;
bagus. Disisi lapangan lainnya
segerombol cewek-cewek sedang meneriaki namanya, memberi semangat. And then….
"GOOLLLL."
semuanya bersorak, aku masih tetap diam. Ginkel yang duduk disebelahku bertepuk
tangan.
Tiba-tiba Oscar datang
kearahku, membentuk simbol "love" seraya meraih tanganku dan
mengecupnya. Sontak semua pandangan beralih kearahku, tatapan cemburu para
gadis langsung muncul disana sini. SIAL.
" Wah Zi kamu
beruntung banget ya."
" Sial ini Gin
bukannya beruntung."
" Apanya
yang sial Zi? Kamu beruntung
banget Zi, kamu nggak perlu
ngejar-ngejar Oscar tapi Oscar yang ngejar-ngejar kamu. Dan hebatnya lagi
kamunya ituloh cueknya minta ampun."
" Aku nggak
tertarik sama Oscar ngapain aku ngejar-ngejar dia. Emang dia apa? Layangan
putus?"
" Jadi kalau cowok
yang kamu kejar-kejar itu kamu anggep layangan putus gitu Zi?"
" Iya, soalnya
kalau ada layangan putus pasti aku bakalan nyoba dapetin dia gimanapun caranya
nggak peduli. Pokoknya harus dapet."
" Aku mau Zi jadi
layangan putus buat kamu." ucap Ginkel malu-malu. Aku hanya bisa diam dan
menelan ludah.
Ku acak-acak rambut
blondenya. " Yakin mau jadi layangan lepasku?"
" Iya, tapi jangan
rusak tatanan rambutku dong Zi." sambil memanyunkan bibirnya ia
membetulkan letak rambutnya yang tadi ku acak-acak.
Aku berdiri melangkah
meninggalkan Ginkel yang masih duduk-duduk didepan kelas yang pas menghadap
lapangan yang sering dijadikan tempat bermain futsal.
Belum sampai duapuluh
meter aku berjalan segerombol cewek menghadangku. Membrondongiku dengan
pertanyaan-pertanyaan konyol seputar Oscar. Aku cuma bisa berhedeh-hedeh ria.
Apa spesialnya cowok berwajah baby face dengan badan jangkung cenderung kurus
itu? Pinter? Enggak juga. Berwawasan luas? Apalagi, nggak ada tampangnya.
Aku hadapi segerombolan
cewek tadi dengan muka datar, nggak ada guna juga aku ladenin. Percuma.
Niatanku buat beli
minum dikafeteria sekolah pun akhirnya batal, aku kembali ke kelas.
Menyandarkan punggungku didinding sambil memijat kening adalah hal pertama yang
aku lakukan setelah sampai di tempat duduk. Ginkel hanya menatapku gemas.
" Ada
apa lagi Zi?"
" Males ah, keluar
kelas. Diintrogasi mulu sama fansnya Oscar."
" Efek jadi cewek
spesialnya Oscar."
" Pindah planet
yuk, kira-kira kamu tau nggak planet mana yang bisa jadi tempat kabur paling
nyaman?"
" Rumahku."
BUKK, buku Kimia yang
tebalnya sekitar 200lembar aku lempar ke arah Ginkel.
" Jangan dibating
dong Zi, ini ilmu tau nggak….."
And bla bla bla…. Yah Ginkel langsung menceramahiku ini itu, dasar maniak
buku. Kupasang headset, kuputar lagu Maroon5 sekencang-kencangnya.
****
" Ziiii aku dapat
A+ Midsemester ini." Ginkel melambai-lambaikan dua buah kertas.
Aku hanya menghela napas, bukan hal yang aneh kalau
Ginkel dapat nilai A+.
" A+ itu udah
biasa , apalagi kamu yang dapet." Ginkel senyum-senyum sendiri, dasar cowok aneh, batin ku.
" Tada." ia
menyerahkan aku selembar kertas satunya.
" Aaaa.."
sontak aku berteriak. " Ini beneran nilai ku?" Ginkel mengangguk
sambil terus tersenyum.
Sontak kupeluk tubuh
jangkung Ginkel, kupeluknya erat-erat. Ginkel hanya bisa diam dan menahan
napas.
" Eh kenapa kok
diem sih?" aku cemberut.
" Kamu kok mau sih
peluk-peluk aku Zi, pas dipeluk aku Oscar nggak mau." Ginkel menatapku
dalam.
" Kan kamu
layangan lepasku."
" Zi Zi."
Ginkel mengacak-acak rambutku gemas.
" Balas dendam
ya?"
" Hadiah dapat
nilai A+."
" Nggak gini juga
dong."
Ginkel hanya
menertawakanku yang sedang cemberut sambil membetulkan rambutku yang tadi
diacak-acaknya.
" Selamat ya
Zi." seseorang langsung memelukku dari belakang.
" Apaan sih
Os."
" Tau banget kalau
ini aku."
" Suaramu."
" Mau kutraktrir?
Kan udah dapat nilai A+." tawarnya.
" Males, Gin
perpus yuk."
" Lets go."
kugandeng tangan Ginkel, yang digandeng malah panas dingin.
" Rileks dong
Gin."
" Gimana mau
rileks kalau nanti pas aku pulang tinggal nama."
" Kok bisa?"
" Digorok Oscar
duluan."
" Oscar berani
gorok kamu? Langkahi dulu mayatku."
Aku dan Ginkel tertawa
terbahak-bahak.
****
Penghujung November aku
berencana memberikan sebuah kejutan di ulang tahun Ginkel nanti.
" Buat apa sih Zi
kok sibuk banget." Oscar mendekatiku yang sedang menggunting-gunting
beberapa kertas warna-warni.
Aku hanya diam sambil
tetap asyik menggunting-gunting.
" Zi." Oscar
merapatkan tempat duduknya denganku, aku masih diam. " Sebenarnya itu
kertas buat apa sih? Kayaknya penting banget." Oscar memandangku sebal.
" Buat sweet
seventen nya Ginkel kenapa?"
" Ginkel lagi
Ginkel lagi bosen Zi, kamu selalu ngurusin cowok kutubuku itu. Hargai aku
sedikit kenapa sih?"
" Lah emang kenapa
kalau aku ngurusin Ginkel terus? Lagian kamu juga, orang lagi sibuk malah di
datengin."
" Aku cemburu Zi
aku cemburu."
" Kamu siapaku?
Kenapa musti cemburu."
Oscar memutar bola
matanya, sejurus kemudian dia berlutut. Meraih tanganku.
" Zi hargai
perasaan ini Zi. Kumohon. Aku mau jadi siapapun yang kamu minta, nglakuin
apapun yang kamu minta asal kamu hargai aku Zi. Aku sedih kamu nggak pernah mau
ngerti sama perasaanku. Aku mencintaimu Zi, aku mencintaimu."
Kutarik tanganku dari
dalam gengamannya, " Kamu nggak perlu nglakuin apapun, kamu nggak perlu
jadi siapapun. Sekeras apapun kamu berusaha kamu nggak akan pernah bisa
menembus hatiku."
" Aku mohon
Zi." kini ia telah berdiri dihadapanku. " Suruh aku jadi siapapun
yang kamu mau, aku
mohon."
" Ginkel."
nama itu meluncur begitu saja dari bibirku. Dan aku yakin
seyakin-yakinnya kalau Oscar nggak
bakalan mau nurutin kataku yang satu ini.
" Jadi Ginkel? Kau
yakin?"
" Emm." aku
mengangguk pelan lalu menunduk.
" Jika itu yang
kamu mau Zi maaf aku nggak akan pernah bisa."
" Kenapa?"
aku mendongak.
Oscar tak menjawab ia
malah berlalu.
" Ziii."
"
Eh."buru-buru aku membereskan kertas-kertasku tadi.
" Kamu apain Oscar
kok sampai bisa kayak begitu."
" Udahlah Gin, ayo
masuk kekelas."
Syukurlah Ginkel sama
sekali nggak menanyakan untuk apa kertas-kertasku tadi.
Pandangannya malah terfokus pada Oscar yang melangkah dengan gontai menuju
kelasnya.
****
Tepat dimalam pertama
bulan Desember aku masuk ke apartemen Ginkel memberinya sebuah kejutan
kecil-kecilan.
" Happy Birthday
layangan lepasku." aku berbisik tepat di telinganya.
Ia terkesiap melihatku
yang sudah muncul dihadapannya. " Zi? Kok bisa masuk?"
" Nggak inget sama
ini ya?" aku menggoyang-goyangkan sebuah kunci duplikat.
" Makasih ya Zi
kamu orang pertama yang mau bangun malem-malem cuman buat ngucapin Happy
Birthday ke aku." dia langsung mendekapku. Aku hanya bisa mematung dan
terpaku.
" Ya udah make a
wish dulu." Aku mengalihkan perhatian.
Ia menutup matanya, lalu
mengucapkan " Aku ingin jadi layangan lepas yang ditemukan sama Zi."
temaram lilin pun padam, hanya tersisa sinar lampu tidur milik Ginkel.
" Maksudnya?"
" Aku ingin jadi
pasangan hidupmu. Selamanya."
" Gin nggak usah
bercanda deh."
" Udahlah Zi
jangan naif, kamu itu cantik dan berbeda dari cewek lain. Banyak cowok suka dan
penasaran sama kamu."
" Ngaco."
" Serius Zi. I
Love You."
Kembali aku mematung,
tak bisa kupungkiri perasaan ini benar cinta. Aku benar mencintai Ginkel.
Perasaan yang selama ini kututup-tutupi kini tak bisa kututupi lagi.
" Love you too
layanganku. Semoga benang ini nggak kabur lagi ya kayak dulu." aku tarik
hidung mancungnya.
" May I kiss
you?"
Tak kujawab. Tapi
kurasakan wajah kami semakin mendekat, bibirnya mengecup bibirku.
" Jadi kita resmi
nih Zi?"
" Kalau mau mu itu
ya terserah." aku tersenyum. Ia menarikku kedalam dekapannya lagi, kini
tubuhku berada diatas tubuhnya yang terbaring diatas ranjang tidur milikknya.
Kutempelkan telingaku
di dadanya. Mendengarkan alunan detak jantungnya yang menjadi melodi terindahku
malam ini.
" Malam ini jangan
pulang ya Zi. Besok kan hari minggu juga, ya?" ia merapatkan posisi kami.
Aku mendongak, "
Emang kenapa?"
" Aku masih pengen
meluk kamu lagi Zi."
" Tapi kayaknya
horor banget deh kalau posisi tidur kita kayak begini."
Ia melepaskan
dekapannya, sesaat kemudian kami tertawa lepas.
" Yaudah tidur
sini sebelah ku." Dia menyuruhku untuk rebahan disebelahnya.
" Jangan
macem-macem." Aku memasang muka sangar.
" Iya beibi
hahaha." Dengan tampang terimutnya.
****
Hubunganku dengan
Ginkel berjalan sangat lancar, sedikit demi sedikit Oscar mulai mundur dengan
teratur.
" Zi kenalin ini
Ludy." Oscar menggandeng seorang cewek berambut blonde.
Aku yang sedang asyik
dengan buku mendongak sejenak. " Oh kenalin aku Zi." lalu melanjutkan
aktifitas ku tadi. Entah kenapa mungkin virus Ginkel yang seorang kutubuku
telah menjalar kepadaku.
" Malam ini kamu
sama Ginkel nggak ada acara kan?" hanya kujawab dengan berdehem.
" Mau nggak double
date?"
Mataku terbelalak dan
aku langsung melongo. " Double date?"
" Iya Zi, mau
nggak?"
" Eh itu kayaknya
nggak bisa deh. Soalnya si Ginkel malam ini harus ngajar anak les privat."
buru-buru aku pergi dari tempat itu. Double date? Gila.
Cepat-cepat aku
melangkah. Menghindari darahku yang tiba-tiba mendidih. Ah betapa anehnya aku?
Kenapa aku? Entahlah aku juga bingung. Entah kenapa juga aku tak mengerti,
jantung ini mendadak nyeri seperti tak menerima kenyataan bahwa ada wanita lain disisi
Oscar; sekarang.
" Ziii…."
Ginkel berteriak memanggilku dari kejauhan.
"Gin…" aku
memeluknya hambar.
" Kamu
sakit?"
Aku hanya menggeleng.
Aku sendiri nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Apa aku sakit? Sakit hati
karena Oscar memiliki kekasih? Ah mungkin aku wanita paling tolol
saat ini kalau itu adalah sebuah fakta nyata bukan hanya hipotesa karangan
ilmuan saja. Toh aku juga punya
Ginkel yang sangat aku cintai ini kan? Kalau aku sekarang sakit hati, kenapa
dulu aku menghindari Oscar dan memilih si kutubuku tampan ini? Aku kembali
menggeleng.
" Ke UKS ya Zi.
Liat deh wajahmu pucat."
Buru-buru Ginkel
membawaku ke ruang UKS, ruang penuh makna bagiku. Ruang dimana aku pertama kali
melihat sosok itu. Sosok yang katanya paling tenar disekolah ini, sosok yang
katanya juga mencintaiku, dan sosok yang susah payah aku hindari.
" Gin kayaknya aku
pengen dikelas aja deh."
Berlama-lama di UKS
malah membuatku semakin pening dan mual.
" Yakin Zi? Tapi
kamu sakit. Kamu pucet kayak gitu, aku nggak mau kamu kenapa-napa Zi. I love
you and I won’t to
let u hurts."
" Love you too
Gin," kugenggam tangannya mencoba meyakinkan. " Aku akan semakin
sakit kalau disini, kau tau kan aku nggak suka bau obat-obatan. Dan menurutku
disini, ruangan ini, bau obatnya cukup mengganggu." kelah ku.
" Maafkan aku Gin,
sebenarnya bau obat-obatan itu sama sekali tak menggangguku, tapi apa yang
pernah terjadi diruangan inilah yang menggangguku untuk tetap disini." Batinku. Maaf Gin aku bohong kali ini.
Tanpa protes lagi
perlahan Ginkel membantuku untuk berdiri, menuntunku berjalan melewati koridor
sekolah menuju kelas kami.
****
" Happy Birthday
Ziii…." Tepat jam 12 malam 9April Ginkel membawakanku sebuah cupcake kecil
favoritku dengan sebuah lilin diatasnya.
" Thanks
Gin." Kukecup sekilas bibirnya, lalu kudekap tubuh cowok berkacamata itu.
" Maaf ya aku
nggak bisa naruh 17lilin diatasnya. Kuenya nggak muat, tapi syukurlah ini kan
kue kesukaanmu." ucapnya sambil balas mendekapku.
" Love you Gin,
Love you so much. Sweet seventen yang akan sangat berarti untukku."
" Love you too
Zi." ia mengecup puncak kepalaku. " Make a wish." ucapnya
bersemangat.
Pelukan kami mengendur
dan terlepas. " Aku ingin memiliki Ginkel seutuhnya." kutiup lilin
kecil itu perlahan. Ginkel memandangku sambil terus tersenyum.
" Makasih Zi.
Makasih kamu sudah mau jadiin aku salah satu bagian dalam hidupmu."
" Bagian
terpenting dalam hidupku." aku kembali memeluk Ginkel. " Gin aku ada
sesuatu buat kamu."
" Aduh Zi kamu ini
gimana sih, kamu yang ulang tahun tapi malah kamu yang ngasih aku
sesuatu."
" Cuma sesobek
kertas kok Gin, tapi semoga bermakna."
" Apa itu?"
" Tadaaa…"
aku mengulurkan tanganku yang memegang sebuah amplop putih.
Dibukanya amplop itu
perlahan, diambil nya secarik kertas berisi coretan tanganku.
" Tiket?"
Ia memandang selembar
kertas itu dengan heran. " Aku membuatnya agar semirip mungkin dengan
tiket pesawat." aku hanya nyengir, menampakan jejeran gigi yaeba milikku.
" Kau serius
dengan tiket ini?" ia masih terheran.
" Iya Gin aku
serius, "Tiket untuk hidup bersama Zi". Apa kamu nggak
mau?"
" Tentu saja aku
mau, sangat sangat mau. Tapi apa kamu mau sama aku?"
Aku memutarkan bola
mataku, " I Love You Gin. Too… much."
Tiba-tiba ia
menciumiku, perlahan memang hanyalah sebuah ciuman biasa. Tapi lama-kelamaan
ciuman itu kian memanas. Kunikmati setiap sentuhannya hingga permainan itu
berakhir dan kamipun terlelap dengan mimpi masing-masing.
****
*Tiga
tahun kemudian disebuah caféteria disalah satu Universitas ternama di London*
" Zi aku putusan.
Jadi embloo deh." ucap Oscar sambil menyeruput vanila latte nya.
" Ya udah ikhlasin
aja, mungkin emang Ludy bukan jodohmu." ucapku sambil terus membaca buku
yang tadi baru saja kupinjam dari perpustakaan kampus.
Entah sejak kapan aku
jadi akrab dengan Oscar, yang jelas kami sering sekali saling curhat bareng,
menceritakan pasangan masing-masing. Sedikit demi sedikit aku mulai mengikis
rasa sukaku dengan Oscar. Yang menurutku muncul dengan cara yang
terlalu aneh dan sangat nggak
wajar.
" Oh ya gimana
kamu sama Ginkel?"
" Yah kayak
biasanya hehe… mau bikin rencana kejutan ulang tahun ke 20nya sama 3tahun aku
jadian."
" Ikutan
dong."
" Boleh." aku
tersenyum sumringah.
" Oke, ntar malam
kamu kerumahku. Bantuin aku bikin kue tart sekalian dihias."
" Sip Hwang."
" Please
don’t call me Hwang, Os. Ini London
bukan di China." aku menatapnya jengah.
" Tapi Hwang kan
namamu juga." ia nyengir.
" Iya tapi itu
nama hanya aku pakai kalau aku lagi di China. Bukan nama
Internasionalku(?)."
" Haha… kamu
ada-ada aja Zi Zi."
" Nyebelin tau
nggak dipanggil Hwang. Kalau bukan karena terpaksa aku nggak bakalan mau
dipanggil Hwang." aku memajukan bibirku; cembetut.
" Lah emang
kenapa?"
" Sangat-sangat
formal menurutku. Kau taukan itu nama depan ayahku. Padahal ayahku sendiri
nggak pernah dipanggil Hwang atau Mr. Hwang." kurapatkan jaket musim
dinginku. Menjelang musim dingin seperti ini udara memang sangat sangat dingin.
" Alasanmu itu
rada-rada…"
" Nggak masuk
akal, memang." kupotong saja perkataannya yang belum
selesai, dan karena aku juga
tau apa yang akan dia katakan. Ratusan kali sudah aku mendengar
komentar yang sama.
" Eh kayaknya aku
ada kelas deh Zi. See you dirumahmu ntar malem ya." ia melirik jam tangan
silvernya.
" Fighting."
teriakku.
Ia berbalik lalu
mengerjipkan sebelah matanya. Imut, batinku.
****
" Sorry Zi aku
nggak bisa ikut ngrayain ultahnya Ginkel ntar malam." ucap Oscar setelah
kami selesai menghiasi kue tart.
" Kenapa?"
"Mendadak dosen
bilang kalau aku ada kuliah malam dan kayaknya habis itu aku harus ngerjain
beberapa tugasku yang tertunda. Nggak papa kan?"
" Enggak kok.
Makasih ya udah bantu-bantu aku nyiapin kejutan buat ultahnya si Ginkel."
" Bye Zi. Kasih
tau aku ya gimana detail nya hehe."
" Tenang aja Os,
aku bakalan cerita kok."
Oscar menarik pedal gas
mobilnya dan berlalu pergi menuju kampus. Kulirik jam tanganku, tiga jam sebelas menit lagi Ginkel akan ulang tahun.
****
" Happy Birthday
to you, Happy Birthday to you, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday
to…. You…." aku menyanyikan nya setengah berbisik ditelinga Ginkel.
Inilah rutinitasku
setiap tengah malam tanggal satu Desember, semenjak aku pindah ke London.
Merayakan ultah Ginkel dikamar nya.
" Thanks Zi, Love
You." dan ia langsung mengecup bibirku.
" Love you too.
Congrats Gin, kamu sekarang udah dewasa, nggak remaja lagi."
" Maksudnya
Zi?"
" Kan umurmu sudah
masuk duapuluh tahun, nggak belasan lagi."
" Iya juga
sih."
" Make a
wish." aku tersenyum lalu menatap kue tart yang dihiasi lilin-lilin kecil
diatasnya.
" Aku pengen
ngebahagiain Zi. Menjadikan Zi cinta terakhirku dan juga ibu buat anak-anakku
nanti."
Lilin-lilin kecil
itupun padam. Aku terharu dengan apa yang Ginkel harapkan. Bocah itu boleh saja
terlihat seperti orang yang tak pernah merasakan jatuh cinta semasa hidupnya, tapi
setiap kali ia dihadapanku ia akan menjadi lelaki paling romantis dikolong
langit.
" Semoga apa yang
kamu harapkan terkabul. Semoga." kupeluk erat tubuh Ginkel. Dan ia balas
memelukku.
" Zi bisa tutup
mata sebentar nggak?"
" Buat apa?"
" Udah pokoknya
tutup mata, ok."
" Baiklah."
aku hanya menurut saja saat ia menyuruhku memejamkan matanya.
" Zi buka
matamu."
Kubuka mataku secara
perlahan, ia sudah berimpuh dihadapanku sambil memegang sebuah cincin.
" Hwang Zia, Will
you marry me?"
Pertanyaan itu tak langsung
jawab karena tubuhku membeku seketika. Seseorang tolong bangunkan aku, apa aku
mimpi? Apa Ginkel hanya bercanda?
" Hwang Zia, Will
you marry me?" ulangnya.
Aku langsung tersadar,
ini benar adanya. Ginkel melamarku. " Yes I do."
Aku menjawab dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan yang menghalanginya. Perlahan airmata ku menetes. Aku merasa bahwa saat ini
tak ada wanita yang lebih bahagia dariku.
" Kenapa kamu
nangis Zi?"
" Aku bahagia Gin,
akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan juga. Padahal aku nggak pernah yakin hal
ini akan terjadi, hal ini akan berlaku dalam hidupku."
Ia meraihku, dan mendekapku erat-erat. " Aku tau Zi nggak anak manusia yang
sempurna dimuka bumi ini, tapi aku bahagia bisa mencintai, dicintai dan
memiliki wanita yang hampir sempurna sepertimu. Dan aku nggak pernah
membayangkan hal indah ini akan terjadi padaku."
Aku memeluknya lebih
erat lagi, tangis ku semakin pecah.
Aku mencintaimu Marco van
Ginkel. Dan nggak perlu kamu pertanyakan lagi betapa aku mencintaimu.
****
To : Oscar
Os, Ginkel nglamar aku :)
From : Oscar
Ciyee… kalau udah nikahan jangan lupain temen ya Zi :p
To : Oscar
Jelas dong Os :p, tapi ngomongin pernikahan kami belum
tau pasti.
Hatiku sangat
berbunga-bunga saat ini. Ginkel melamarku tepat diulang tahunnya yang ke 20 dan
3tahun kami resmi menjadi sepansang kekasih. Perfecto.
****
Entah apa yang ada
dalam mimpiku semalam ketika tiba-tiba datang sebuah pesan
singkat dari Ginkel.
From
: My Boyfriend :*
Sayang
minggu depan aku harus kembali ke Belanda
Tubuhku merosot. Kenapa kamu musti pergi Gin? Aku tau
kamu bakalan balik lagi ke London, tapi apa kamu tega meninggalkanku barang
untuk seminggu? Kau tau sendiri kan kalau aku nggak pernah bisa jauh dari kamu
Gin?
To
: My Boyfriend :*
Kamu
nggak lama kan sayang di Belanda nya? Kamu nggak niat buat ninggalin aku kan
sayang? :’(
Ku cercanya dengan pertanyaan-pertanyaanku. Hapeku
kembali berdering. Sebuah pesan singkat.
From
: My Boyfriend :*
Tenang
aja sayang aku nggak bakalan lama kok :* {}
To
: My Boyfriend :*
I’ll
Miss You sayang :* {}
From
: My Boyfriend :*
Me
too :* {}
****
“ Os?” Ginkel membuka pintu.
“ Eh, ada perlu ya? Nggak biasanya kamu ke apartemen
ku.” Oscar langsung men-sleep laptopnya.
“ Iya nih, aku nggak ganggu kan?” Ginkel melirik laptop
yang sudah di-sleep Oscar tadi.
“ Enggak kok, tadi cuma iseng nge-tweet geje doang kok
Gin.”
“ Gini Os, kan itu aku mau ke Belanda minggu depan.
Pamanku nawarin aku buat magang di rumah sakit nya, mungkin disana aku bakalan
stay sekitar 3bulan dulu, kalau kondisinya cocok mungkin aku akan nerusin
kuliah disana sekalian bawa Zi.”
“ Serius kamu mau ke Belanda?” Oscar masih bengong
mendengar perkataan Ginkel.
Ginkel menangguk pelan, “ Iya Os. Titip Zi dulu ya,
kalau dia nakal pitet aja hidungnya. Diem kok.”
“ Tenang aja Gin, Zi udah jinak sama aku.”
Kedua laki-laki itu langsung tertawa bersama, suara tawa
mereka memenuhi setiap senti dari ruangan itu. Suara tawa yang mencerminkan
kalau kebahagian itu sepertinya takkan berakhir hanya sampai disini saja.
****
Seminggu hanyalah sekejap mata bagiku sekarang, aku
menatap wajah Ginkel lekat-lekat. Laki-laki didepanku ini akan meninggalkan ku,
setidaknya untuk tiga bulan kedepan dan aku tak tau apa yang akan berlaku
setelah itu.
" Zi maafin aku ya, kali ini aku harus ninggalin
kamu. Maaf juga aku nggak bisa bawa kamu." Ginkel memelukku. Perlahan air
mata pria itu merembes dipundakku.
" Kamu nangis Gin?" kulepas pelukan kami, ku
tatap matanya lekat-lekat.
" Aku nggak tau harus ngapain, 3bulan dan bisa
bertambah, tanpa kamu."
" Kamu pikir aku nggak juga, 3bulan tanpamu."
kumajukan bibirku. Ginkel sepertinya hanya memikirkan dirinya sendiri,
sekarang.
"Gin satu jam lagi pesawat bakalan take off
dan kamu belum check-in." Oscar yang memandang kami dari kejauhan
mengingatkan. Ah, dasar nggak tau orang lagi mau pelukan lebih lama apa, batinku.
" Os titip Zi ya."
" Siap bos." Oscar mengacungkan jempol
kanannya.
" Zi aku pergi dulu ya."
Ia merengkuh tubuhku sekali lagi, lalu menciumiku.
Ciuman terakhir kami. Perlahan sosok itu pergi. Dan entah kapan aku melihat
sosok itu lagi.
****
Aku shock melihat berita di TV, baru tiga jam yang lalu
Ginkel memelukku, menciumku dan berdiri di hadapanku kini sudah tak ada lagi.
Tak ada lagi Ginkel yang selalu berusaha membuatku tersenyum, Ginkel yang
maniak terhadap buku-buku Ilmiah dan sangat mengagumi Neils Bohr (seorang ilmuan yang berhasil
mengungkapkan teori atom Kuantum).
Kini tak ada lagi Ginkel dan tak ada lagi kelanjutan
mimpi-mimpiku. Mimpi itu telah berhenti, tak ada kelanjutan, tak ada kepastian,
dan mimpi itu jelas tak akan menjadi nyata.
Langit
begitu gelap
Hujan
tak juga reda
Kuharus
menyaksikan
Cintaku
terenggut, tak terselamatkan
Inginku
ulang hari
Inginku
perbaiki
Kau
sangat kubutuhkan
Beraninya
kau pergi, dan tak kembali
Dimana
letak surga itu?
Biar
kugantikan, tempatmu denganku
Adakah
tangga surga itu?
Biar
kutemukan, untuk bersamamu
Kubiarkan
senyumku
Menari
di udara, biar semua tahu
Kematian
tak mengakhiri… Cinta…
(
Agnes Monica - Tanpa Kekasihku)
****
Perlahan aku mencoba untuk membuka mataku, aku mengerjap
perlahan.
" Zi kamu sadar?" suara Oscar langsung
menyambutku.
" Aku kenapa Os? Kok banyak selang sama kabel
begini?" aku memandang sekitarku, kabel disana-sini, bunyi alat pendeteksi
detak jantung terdengar jelas, selang dari tabung oksigen dan tabung infus
seperti rantai yang membelenggu tubuh kecilku.
" Kamu koma tujuh hari."
" Koma? Tujuh hari?"
Aku tak tau bagaimana aku bisa sampai ditempat aneh yang
disebut rumah sakit ini, aku hanya ingat saat aku tak sadarkan diri setelah
mendengar berita kalau pesawat yang ditumpangi Ginkel tergelincir dan terbakar
karena kesalah pilot ketika landing, dan tak satupun kru maupun penumpangnya
yang selamat. Tapi aku tak tau sama sekali kalau aku bisa nggak sadar sampai
seminggu.
Semua ini seperti de javu untukku, aku pingsan, Oscar
menolong ku, dan dia orang pertama yang kulihat saat sadar. Persis ketika
pertama kali aku masuk SMA dulu. Namun kali ini kondisinya berbeda, aku pingsan
bukan karena terkena bola. Aku pingsan karena aku kehilang pria yang peling
kucintai, calon suamiku, untuk selamanya.
" Iya. Waktu itu kamu pingsan dan wajahmu langsung
pucet aku panik, jadinya aku bawa ke RS langsung Zi. " tutur Oscar.
" Makasih ya Os, udah nolongin aku."
" Udahlah Zi, yang penting kamu baik-baik aja
sekarang."
" Oh ya Os aku boleh minta satu permintaan
nggak?"
" Apa?"
" Bisa bantu lepasin kabel sama selang-selang ini
nggak?"
o.O
****
Kulangkahkan kakiku perlahan, ekor gaunku menyapu lantai.
Di altar Oscar sudah menyambutku dengan senyuman yang tak pernah kulihat selama
ini, senyum paling bahagianya. Aku menikah dengan Oscar. Ini kulakukan semata
karena surat yang Ginkel tulis sebelum ia meninggalkan London dan dunia untuk
selamanya.
" Jika aku nggak bisa menikahimu Zi, kuharap aku
bisa melihatmu tersenyum bahagia dipelaminan bersama laki-laki yang baik
seperti Oscar."
Meskipun aku harus merelakan semua mimpi-mimpi indah
yang pernah aku susun berdua bersama Ginkel, tapi inilah aku sekarang dan
disinilah aku, mencoba untuk mewujudkan salah satu mimpi Ginkel; mimpi
terakhirnya.
“Semoga
kamu melihat semua ini dari atas sana ya Gin, kamu ngeliat aku sama Oscar nikah
dari surga.” Ucapku dalam hati.
****
Harusnya ini menjadi satu Desember keempatku bersama
Ginkel. Bisa jadi satu Desember keempat menjadi kekasihnya, atau malah menjadi
satu Desember pertamaku menjadi istri sah Marco van Ginkel. Tapi ini malah
menjadi satu Desember pertamaku tanpanya. Dan demi apapun juga aku akan tetap
menjadikan tanggal ini bermakna.
Tengah malam aku berdiri disebuah taman dibelakang
apartemenku sambil dikelilingi 21 lilin-lilin kecil yang disusun membentuk
lambang love, aku berdiri sambil memegang benang layangan. Dilayangan
itu tertulis " Aku mencoba untuk bahagia disini Gin, jadi bahagialah
kamu disana :)."
Perlahan layangan itu aku lepas. Aku tersenyum.
Tersenyum pada apa yang telah berlaku dimasa lalu antara aku dan Ginkel, juga tersenyum
untuk masa sekarang yang aku jalani bersama Oscar.
" Sudah Zi? Ibu hamil nggak boleh diluar
malem-malem terlalu lama loh." Oscar mengamati tingkah laku ku tadi dari
kejauhan. Aku tersenyum kearahnya. Berlari kecil lalu memelukknya.
Aku memandang lilin-lilin kecil itu sekali lagi. "
Maafkan aku Gin aku nggak bisa nahan benang itu lebih lama, dulu kamu lepas,
aku tangkap, dan sekarang lepas lagi. Maaf Gin kalau usahaku kali ini nggak
cukup bikin kamu balik lagi buat menjadikan semua mimpi indah yang pernah kita
rancang menjadi sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa dijalani dan dibagi
sebagai sebuah cerita cinta indah di dunia nyata." batinku.
" Yuk Zi balik kerumah. Ntar aku bikinin teh anget.
Kayaknya kamu kedinginan banget deh."
" Selama kamu mau meluk aku, aku nggak akan pernah
kenal dingin Os."
" Haha bisa aja kamu Zi. Eith tapi kenapa itu
lilin-lilinnya nggak dimatiin? Ntar kalau kebakaran gimana?"
" Biarin aja, biar cepet ketemu Ginkel." Oscar
menatapku heran.
Bener apa katamu dulu Gin, kalau kamu pengen bahagia
maka buatlah dongengmu sendiri. Jalani sendiri, nikmati sendiri setelah itu
bagilah dengan orang lain. Tapi dongeng itu nggak pernah ada tanpa kamu. Karena
hanya aku dan kamu “kita” yang tau dimana dongeng itu berawal dan kemana ia
akan berakhir dengan kebahagiaan.
Yang kujalani saat ini bukan dongeng yang dulu sering
kamu dan aku coba ciptakan, ini hanyalah sepenggal novel yang tak memiliki
tokoh utama. Nggak berjalan sebagaimana mestinya dan yang jelas novel ini tak
pernah berakhir bahagia dan tak pernah adil. Untukmu dan untukku.
Gin sekarang aku memang boleh menjadi istri sah Oscar;atas
permintaanmu, dan anak yang sedang ku kandungpun boleh anaknya Oscar. Tapi tak
ada satupun didunia ini yang melebihi rasa cintaku sama kamu. Hati ini belum
beralih mencintai dan memikirkan satu nama. Yaitu kamu; Marco van Ginkel.
In another life, I
would be your girl
We'd keep all our promises
We'd keep all our promises
Be "us"
against the world
In another life, I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away
One That got away
In another life, I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away
One That got away
(
Katty Perry – The One That Got Away)
-THE END-

FFnya bagus ^^ aku hampir nangis pas baca bagian akhirnya >0<
BalasHapustapi, buat FF selanjutnya tolong pake bahasa formal ya supaya dapet feelnya pas baca. terus pas awal FF alurnya kecepetan, pas akhirnya alurnya udah pas kok
keep writing ya ^^
H W A I T I N G~
haha thanks udh komen :) bahasa formal? bakalan jadi pertimbangan nih. iya yang diawal itu aku sempet bingung kek gimana mau bikin ceritanya nya ^^
Hapus