Tittle :
El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 2
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter (@fauziahfitri_)
Kylie Mourinho (@kusuma_wij)
Demylia Sanchez (@myta_savitri)
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Other….
Karena kemarin nih
ep ep responnya cukup bagus, bagus untuk membuat para Fans Morata ngamuk-ngamuk
ama Zi. So gue selaku author(?) mau nyambung cerita yg semalem. Banyak adegan
ujan-ujanannya ya? Kotaku lagi banyak ujan. Nggak nyambung? Nih kabel
#sodorinKabel.
****
Zi akhirnya nekat
buat ngajak Neymar ikut makan malam bersama Morata. Tapi Neymar memberikan
syarat, ia tak mau terlihat oleh Morata. Sekalipun nanti dia sama Morata
bakalan bertatap muka, ia tidak ingin Morata tau kalau ia pergi ke restoran itu
bersama Zi. Zi menyanggupi nya, syaratnya nggak terlalu susah. Asalkan ada
Neymar bersamanya Zi akan tenang.
Tapi Zi juga meminta
syarat, Neymar tak boleh jauh darinya. Zi tak ingin jauh dari Neymar, entah apa
yang mendasari Zi meminta syarat ini, yang jelas ia tak ingin jauh dari Neymar
saat makan malam nanti.
" Ney apa aku
sudah cantik?" Zi mengenakan gaun selutut berwarna putih. Ia terus memutar
badanya didepan cermin. Ia membiarkan Neymar masuk ke kamarnya karena ia ingin
bagaimana penilaian Neymar tentang penampilannya.
Neymar termangu, Zi
nampak sangat cantik dan anggun. Ini kesempatan langka karena Zi sangat jarang
sekali memakai rok, bisa dibilang setahun sekali belum tentu memakai rok -_-.
" Kau cantik
Zi." mata Neymar masih menatap Zi dengan tatapan kosong. Pikirannya sudah
kesana kemari, bahkan sudah yang tidak-tidak bukan yang iya-iya.
"
Makasih." Zi tersenyum. Gigi gingsul kebanggaan Zi menyembul dibalik bibir
mungilnya.
" Kau mau pergi
denganku atau Morata akan menjemputmu?"
Zi berfikir sejenak.
" Bareng kamu aja deh."
" Ok ;)."
****
Selama perjalanan
mereka hanya diam. Tak ada sepatah katapun yang terlontar, mereka saling diam.
Menatap keluar, mengamati lampu-lampu yang menghiasi Barcelona malam ini.
Sesampainya didepan
restoran yang dimaksud Zi memberi kode kepada Neymar yang hanya mereka ketahui.
Authornya pun tak tau -_-.
" Zi, kau
cantik sekali." pujian Morata langsung terlontar ketika Zi masuk.
" Kau juga
tampan." ucap Zi malu-malu untuk mengakuinya. Neymar yang mendengar kata-kata
barusan langsung terbakar api cemburu.
" Udahlah
Neymar. Kau bukan siapa-siapa Zi dan Zi bukan siapa-siapa mu. Kau tak patut
cemburu, ini hal yang sangat-sangat wajar kalau seandainya Zi memang menyukai
Morata. Toh kamu juga sudah punya Bruna kan?" Batin Neymar.
" Kau mau pesan
apa Zi?"
Zi memandang
sebentar ke menu makanan yang tertera. Dimenu itu juga disebutkan bahan makanan
yang digunakan dalam pembuatan menu. Setelah membaca beberapa lembar akhirnya
Zi memilih makanan vegetarian yang entah apa namanya. Karena hanya itu yang tak
mengandung susu maupun keju.
" Minumannya
apa Zi?"
Untuk urusan yang
satu ini Zi tak terlalu ribet untuk memilih. Melihat ada kata "Vanilla
Late" tertera Zi langsung memilihnya.
Sembari menati
makanan tersedia, mereka berdua saling tatap, tersenyum, dan mengagumi satu
sama lain.
Hal ini sangat tidak
bagus bagi Neymar, ia hanya bisa mengepalkan tangannya. Hatinya pastilah sangat
panas. Tapi ia sudah terlanjur memiliki perjanjian dengan Zi. Ia tak ingin
mengecewakan Zi;sahabatnya, pujaan hatinya.
" Zi aku
kebelakang dulu ya."
Zi hanya membalas
sambil tersenyum dan mengangguk.
" Zi Zi."
Neymar memanggil Zi sambil berbisik.
" Kenapa?"
" Apa ini masih
lama?"
Sebenarnya Neymar
sudah tak tahan dengan perlakuan Morata terhadap Zi yang kelewat manis, bahkan
lebih manis ketimbang gula jawa :3.
" Hay Zi, kau
berbincang sama siapa?" Morata memcoba mencari tau siapa orang yang tadi
sepertinya mengajak Zi ngobrol. Neymar dan Zi tak kalah cepat, mereka segera
berbalik ketika tau Morata akan datang.
" Ha? Hanya
orang bertanya tadi."
Pintu restoran
terbuka, tempat duduk Zi yang pas menghadap pintu langsung bisa melihat siapa
yang baru saja masuk. Mengetahui siapa yang baru masuk Zi langsung menutupi
wajahnya dengan telapak tangan.
" Kau kenapa
Zi?"
" Tidak
apa-apa."
" Hay
Kylie." tiba-tiba Morata memanggil nama yang sangat tak ingin Zi dengar.
" Kau makan
malam disini juga? Dengan siapa?" Kylie masih menggandeng tangan Cesc tapi
matanya mencoba mencari tau siapa sebenarnya gadis yang sedang bersama Morata.
" Hey
sepertinya aku mengenalimu." Kylie mencoba menerka-nerka lagi siapa
pemilik wajah yang tertutupi telapak tangan itu.
Zi masih menutupi
wajahnya dengan tangannya.
" Hey kau Hwang
Zia yang ketemu di Camp Nou pas El-Classico kemaren bukan?"
" Aduh celaka
tujuhbelas nih." Zi bergumam dalam hatinya.
Seteguh apapun Zi
menutupinya tetap saja Kylie akan tau siapa dia. Akhirnya Zi membuka
pernyamarannya(?).
" Tuhkan bener
apa kataku, kau pasti Zi. Kenapa kau tidak dengan Neymar?"
" Ha?" Zi
pura-pura kaget.
" Bukannya
kalian kemaren di loker room berdua."
Ahh. Mulut nya
memang tak bisa diajak Zi kompromi, buktinya Zi ingin sekali menyumpalnya
dengan tisu. Sedangkan Neymar sangat santai, toh kalau akibat perkataan Kylie,
Morata akan mundur secara perlahan itu kan pertanda baik untuknya.
" Neymar?"
wajah Morata menunjukan kalau dia punya seribu pertanyaan.
" Iya Neymar
pemain Barca masa kau tak tau. Mereka kemarin sedang berduaan di loker room.
Tapi tenang aja kok Zi bilang mereka cuman temen aja."
Kalimat terakhir
yang diucapkan Kylie seperti menghujam jantung Neymar, Zi selalu mengatakan
kata yang sama ketika ditanyai apa hubungannya dengan Neymar.
" Ah sudahlah
beb, kamu mau makan apa?" Cesc mencoba mengalihkan perhatian kekasihnya
itu agar tidak mengganggu sepasang anak manusia yang ingin berduaan (ceileh kek
dia enggak pengen beduaan aja bang Cesc nih).
" Jadi kau bisa
masuk ke loker room kemaren karena ada Neymar." sesaat setelah Cesc dan
Kylie pergi Morata gantian menanyai Zi.
Dengan ekspresi lemas
Zi mengangguk kecil. Morata menjadi sangat kikuk. Ia pikir perkataannya tadi
lumayan menyinggung Zi.
" Emmm... Zi
kamu mau kuantarkan pulang nanti?"
Zi jadi sangat kacau
sekarang. Sejujurnya dia sangat ingin diantarkan pulang Morata, setelah ia
kenal lelaki itu ia merasa bahwa ada satu hal yang menarik, Morata sangat
sangat perhatian. Tapi ia juga akan segan dengan Neymar, sahabat yang selalu
ada untuknya.
" Emm gimana
ya? Makan dulu deh." Zi mengalihkan perhatian, apa laper?
" Emm
baiklah."
Baru memakan tiga
suapan Zi bilang kalau dia harus kebelakang, bukannya apa sih dia pengen
konsultasi ama Neymar.
" Bagaimana
ini?"
" Terserah kau
saja Zi."
" Baiklah. Aku
berangkat bersamamu dan itu tandanya…."
" Kau pulang
bersama Morata?" Neymar langsung memotong kalimat Zi yang masih
menggantung.
" Aku akan
pulang bersamamu."
Neymar hampir tak
percaya apa yang telah sahabatnya katakan.
" Yakin Zi kau
tak ingin pulang diantar Morata?"
Zi menggelengkan
kepalanya dengan mantap(?).
" Baiklah, kau
keluar duluan." Neymar mempersilahkan Zi keluar lebih dulu dari tempat
persembunyian mereka; dalam mobil Neymar -_-.
Saat Zi memasuk
restoran kembali ternyata Zi sudah tak menjumpai wajah Kylie dan Cesc #Yess.
" Zi sepertinya
aku ada urusan mendadak. Kau yakin tak ingin kuantar pulang?"
" Tenang saja,
aku bisa pulang sendiri. Lagi pula aku bisa menelpon taksi langgananku kalau
aku harus berangkat ke kampus."
"
Baiklah."
Dan ~chu~ kecupan
hangat Morata mendarat di pipi Zi. Neymar yang begitu memperhatikan kejadian
itu hanya bisa ngelus dada sambil bilang "Napa bukan gue?" sedangkan Zi dalam hati bilang "
Uyee." ok ini semakin ngawur.
" Zi bagaimana
kalau kita jalan-jalan dulu?"
" Kemana?"
" Entahlah, aku
sedang boring." sebenernya Neymar bukannya boring sih tapi habis terbakar
api cemburu -,-
" Davi?"
" Tadi aku
titipkan ke tempat kak Leo, sekalian mainan sama Thiago gitu." nyengir.
"
Baiklah."
Apa yang mereka
sebut dengan jalan-jalan adalah mengelilingi hampir separuh kota Barcelona.
Menikmati keindahannya dimalam hari.
" Zi, Morata
itu baik ya?"
" Emmm."
Zi menganggukkan kepalanya.
" Kau
menyukainya?"
Mata Neymar dan Zi
saling beradu pandang.
" Tidak."
tapi terlihat jelas ada semburat merah muda di pipi Zi.
" Kau
yakin?" Neymar mencoba memancing Zi, sebenarnya jika pertanyaan-pertanyaan
ini dilanjutkan ia adalah orang yang paling sakit hati.
" Lupakan Ney,
Lupakan." Zi jengah
"
Baiklah." Neymar hanya tertunduk pasrah. Sebenarnya ia ingin sekali tau
apa yang Zi rasakan pada Morata.
Baru setengah
perjalanan menuju rumah Zi, hujan mengguyur dengan derasnya. Akibat jarak
pandang yang semakin memburuk, Neymar memutuskan untuk menepi sebentar.
Menunggu jarak pandang kembali normal, setidaknya cukup aman untuk berkendara.
" Zi kau
kedinginan?"
Neymar sangat
mengkhawatirkan sahabatnya yang nggak tahan dengan cuaca dingin.
" Tidak."
Zi sama sekali tak bisa berbohong, terbukti bibir mungil gadis itu sudah
membeku; biru.
" Kata-katamu
boleh bisa berbohong tapi bibirmu tidak." Neymar melepas jas,
memakaikannya pada tubuh mungil Zi yang hanya berbalutkan gaun.
Hujan sedikit
mereda, Neymar kembali mengambil alih kemudi. Menyusuri jalan kota yang
lenggang.
Sesampainya didepan
rumah Zi, hujan deras kembali turun. Hujan kali ini bahkan lebih lebat.
" Kau yakin
akan pulang?" gelagat Neymar yang seperti ingin cepat-cepat pulang membuat
Zi tak enak hati.
" Aku khawatir
dengan Davi."
" Tapi jarak
pandang nggak memungkinkan."
" Emmmm…"
Neymar melihat ke pelataran.
" Kalau kamu
mau kamu bisa dirumahku sebentar nunggu
hujannya reda."
Tanpa sepatah kata
lagi, Zi mmbuka pintu rumah, masuk kedalam diikuti Neymar yang mengekor
dibelakang.
Suasana langsung
berubah cangcung, wajarlah Zi hanya tinggal sendirian dirumah ini. Sebenarnya
ayah nya Zi pernah nyaranin apartemen tapi Zi menolak, Zi lebih suka tinggal
dirumah ketimbang apartemen. Mungkin Zi ingin suasana baru karena saat SMA di
Singapura dia sudah tinggal di apartemen selama 2tahun.
" Kau mau minum
apa? Teh? Kopi?"
" Nggak usah
repot-repot Zi."
" Ayolah tak
baik menelantarkan tamu, hehe." Zi sedikit memaksa sambil nyengir.
" Baiklah, kopi
aja deh."
Zi langsung berlari
menuju dapur yang tak jauh dari ruang tamu. Suara gemerincing gelas yang beradu
dengan sendok terdengar diseluruh ruangan.
Neymar menyusul Zi
kedapur, dia penasaran kenapa bikin kopi aja ributnya minta ampun.
Saat Zi berbalik, Zi
telah mendapati Neymar disebelahnya. Mata mereka lagi-lagi beradu. Detak
jantung meraka berdua semakin tak karuan, untung saja suara hujan diluar mampu
menyembunyikannya.
" Kapan
kesininya?" suara Zi terdengar gugup.
"
Barusan."
Suasana semakin
hening tak ada suara selain suara rintik hujan diluar.
Hape Zi berdering,
sebuah pesan singkat.
" Siapa?"
" Morata."
jawabnya pendek.
From : Morata
Zi kau sudah sampai
rumah? :(
To : Morata
Sudah :) kamu?
From : Morata
Syukurlah, aku
sedang dalam perjalan ke Madrid.
To : Morata
Ditengah hujan
begini?
Suasana hati Neymar
sedikit memanas, Morata tak hanya baik dan bertingkah manis, tapi dia juga
perhatian terhadap Zi. Dan sangat sangat naas baginya, Zi juga bertingkah sama
terhadap Morata. Zi membalas sms sms tadi sambil bikinin Neymar kopi ^0^.
From : Morata
Tenanglah Zi jarak
pandang memungkinkan kok :)
To : Morata
Be careful ok ;)
From : Morata
Night Zi :*
Neymar hanya
mengamati layar hape Zi.
" Eh Ney ini
kopi nya."
" Thanks ya Zi,
kayaknya hujannya udah mendingan deh."
Setelah menandaskan
segelas kopi yang dibuat Zi tadi Neymar langsung pergi begitu saja. Deru mobil perlahan
meninggalkan pelataran rumah Zi.
" Kayaknya ada
yang ketinggalan deh." Zi mencoba mengingat akhirnya menepuk jidatnya
sendiri. " Ah! Jas nya Ney."
****
" Hey kamu
kemana aja? Anak-anak yang lain udah balik dari kemarin." baru sampai di
kampus Morata langsung disambut dengan ocehan Myla.
" Aku ada
urusan."
Sebenarnya Morata
nggak ada jadwal kuliah hari ini, tapi ia kangen suasana kampus yang jarang
banget dia datangi. Paling-paling kalau ia perlu buku baru dari perpustakaan
baru ia pergi ngampus.
Ia berjalan lurus
menuju taman kampus; tempat paling nyaman buat baca buku. Myla hanya
mengikutinya dari belakang.
" Kemarin kamu
kok nggak ada?"
" Sorry nggak
bisa nonton langsung, papa lagi datang."
Nggak biasanya Myla
absen ketika El-Real bertanding. Tapi saat El-Classico lalu dia malah nggak ada
batang hidungnya.
" Kenapa lagi?
Masalah keuangan?"
" Aku bakalan
punya butik." Myla terseyum.
" Uang dari
ayah kurang ya sampai ada rencana punya butik segala." Morata cekikikan.
Myla memang sering mengeluh tentang masalah uang, masa uang nya masih seribu
euro dia udah kalang kabut bilang duitnya habis -_-.
" Enggak lah,
aku pengen aja punya butik. Belajar investasi kecil-kecilan lah."
Morata mengacak-acak
rambut Myla dengan gemas. " Kafe yuk."
"
Nggapain?"
" Berenang. Ya
makan lah."
" Horee
traktiran nih." Myla langsung berdiri sambil menarik tangan Morata.
" Enggak deh
ya, kan abis kalah. Ntar kalau menang aku traktir."
" Nggak jadi
ah, perpus aja yuk." Myla menggembungkan pipinya.
" Kamu lucu deh
Myl, iya iya aku traktir soalnya mood aku lagi bagus."
" Eh kenapa nih
abis kalah kok malah moodnya bagus."
" Ada
deh."
Sejurus kemudian
hape Morata berdering. Seulas senyum langsung mengembang diwajah tampannya.
" Siapa sih?
Gebetan baru ya?"
Morata hanya
tersenyum lalu meraih Myla dan menggandengnya menuju kafe. Myla hanya menahan
nafas, mencoba menyeimbangkan detak jantungnya yang semakin tak berirama.
****
" Ney ini jas
mu." Zi yang melihat Neymar melintas didepan fakultas kedokteran langsung
berteriak sambil menenteng sebuah jas berwarna hitam.
" Oh iya aku
sampai lupa. Habis ini kemana lagi Zi?"
" Aku masih ada
tugas lagi."
" Anak
kedokteran emang sibuk ya."
Zi cemberut; tanda
ia nggak menyukai keadaan disekelilingnya.
" Jalan yuk Zi
kalau tugasnya udah selesai."
" Yakin mau
nungguin, aku sampai sore lo. Habis itu aku harus ke Rumah Sakit dulu, biasa
jadwal bulanan."
" Siapa takut,
lagian aku mau main bola melawan anak fakultas teknik."
" Sip deh,
selesai jam berapa?"
" Sekitar jam 4
lah. Kamu Zi?"
" Yess, kita
pulangnya barengan."
" See you ntar
sore ya."
Zi melambaikan
tanganya, setelah itu ia berjalan menuju perpustakaan.
****
Titik tiitik hujan
kembali menjadi background sore ini, Zi menatap Neymar yang sedang bermain bola
bersama teman-teman mahasiswa yang lain. Kuliah selesai lebih cepat, entah
kenapa dosen tiba-tiba membubarkan kuliah.
Limabelas menit
kemudian pertandingan telah usai, anak-anak fakultas hukum menang 3-1. Neymar
menyumbang 1gol dan 1assist.
" Kuliah udah
selesai Zi?"
" Eh, udah dari
tadi. Anterin aku ke Rumah Sakit bisa kan?"
" Bolehlah,
kali aja ada suster yang cantik."
Kedua keturuan Adam
dan Hawa itupun langsung tertawa terbahak bersama.
" Kubilangin
Bruna tau rasa kau."
" Bilangin aja
nggak takut Zi, lagian kan dia nggak tau keadaan betulannya kayak gimana."
Zi terdiam. "
Haha satu kosong Zi. Ayo cepetan ke Rumah Sakit, keburu sore."
" Ini udah sore
kali Ney."
" Eh iya."
Dan keduanya tertawa
lagi, sepertinya susah memisahkan mereka berdua dengan hal yang disebut dengan tertawa.
Sepanjang perjalanan
menuju rumah sakit mereka tak henti hentinya tertawa.
" Mungkin kalau
ibu hamil bisa men-design wajah anak mereka pasti pada mau anaknya mirip
kamu?"
" Aku cantik
banget ya sampai segitunya."
" Kamu sempurna
Zi."
Zi langsung tertawa
terbahak-bahak tapi Neymar enggak, dia memandangi Zi.
" Kenapa ada
yang salah?"
" Nggak ada.
Kesalahanmu itu kebenaran dimataku, jadi nggak ada yang salah."
" Ah
gombalannya ngaco."
" Tapi aku
serius Zi."
Kini giliran Zi yang
membatu, wajahnya terasa memanas.
Perjalanan berlanjut
tanpa ada kata-kata yang terlontar lagi. Rencana jalan-jalan pun akhirnya
batal, Zi dan Neymar terjebak di Rumah Sakit akibat hujan yang turun dengan
derasnya. Jarak pandang sangat sangat nggak mendukung.
" Sampai kapan
kita disini?" Zi melirik jam tangan berbentuk Spongebob miliknya.
Dua jam sudah Zi dan
Neymar terpaksa bertahan di Rumah sakit, akhirnya hujan sedikit reda.
Jarak rumah dan
rumah sakit terbilang lumayan. Mungkin kalau ditempuh menggunakan mobil akan
memakan waktu sekitar 30menit, apalagi sekarang sedang hujan.
****
" Zi aku ingin
mengatakan sesuatu sama kamu."
" Apa? Katakan
mumpung aku belum buka pintu pagar."
" I Love You
Zi."
Kerongkongan Zi
tercekat, ia hanya bisa menelan ludah. Tak tau apa yang harus dikatakan sekarang,
yang jelas ia tak bisa bergerak; membeku.
" Ney."
" I Love You
Zi." Neymar mengulagi perkataannya.
" Kamu nggak
sepatutnya bilang kayak gitu."
" Kenapa?"
" Karena kamu
sudah punya pacar dan kamu sahabatku."
" Aku akan
putuskan Bruna." Neymar setengah berteriak.
" Kamu
sahabatku Ney, dan kata itu pantang kamu katakan. Pamali." Heh? Di
Barcelona ada pamali?
Hujan masih terus
mengguyur dan membasahi tubuh mereka berdua.
" Tapi apa aku
salah mencintamu? Salahkan perasaan ini ada? Hinakah ini?"
Pandangan Zi semakin
kabur bulir-bulir airmata bercampur tetes air hujan melebur jadi satu. Zi
berbalik dan bergegas menuju teras rumahnya.
Tapi gerakan tangan
Neymar tak kalah lincah, ditariknya tangan gadis itu. Tangan lainnya meraih
dagunya, lalu ia mencium lembut bibir mungil Zi.
Zi yang terkejut tak
bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa pasrah dalam rengkuhan Neymar (kayaknya ini
bukan pasrah deh, tapi menikmati keadaan).
Dengan sekuat
tenanganya Zi berusa melepaskan diri dari cengkraman Neymar. Seketika itu juga
ia lari dan mengunci rapat-rapat rumahnya.
-Insya Allah
disambung lagi-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar