SpongeBob SquarePants

Senin, 04 November 2013

El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 2

Tittle : El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 2
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter (@fauziahfitri_)
Kylie Mourinho (@kusuma_wij)
Demylia Sanchez (@myta_savitri)
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Other….

Karena kemarin nih ep ep responnya cukup bagus, bagus untuk membuat para Fans Morata ngamuk-ngamuk ama Zi. So gue selaku author(?) mau nyambung cerita yg semalem. Banyak adegan ujan-ujanannya ya? Kotaku lagi banyak ujan. Nggak nyambung? Nih kabel #sodorinKabel.
****
Zi akhirnya nekat buat ngajak Neymar ikut makan malam bersama Morata. Tapi Neymar memberikan syarat, ia tak mau terlihat oleh Morata. Sekalipun nanti dia sama Morata bakalan bertatap muka, ia tidak ingin Morata tau kalau ia pergi ke restoran itu bersama Zi. Zi menyanggupi nya, syaratnya nggak terlalu susah. Asalkan ada Neymar bersamanya Zi akan tenang.
Tapi Zi juga meminta syarat, Neymar tak boleh jauh darinya. Zi tak ingin jauh dari Neymar, entah apa yang mendasari Zi meminta syarat ini, yang jelas ia tak ingin jauh dari Neymar saat makan malam nanti.
" Ney apa aku sudah cantik?" Zi mengenakan gaun selutut berwarna putih. Ia terus memutar badanya didepan cermin. Ia membiarkan Neymar masuk ke kamarnya karena ia ingin bagaimana penilaian Neymar tentang penampilannya.
Neymar termangu, Zi nampak sangat cantik dan anggun. Ini kesempatan langka karena Zi sangat jarang sekali memakai rok, bisa dibilang setahun sekali belum tentu memakai rok -_-.
" Kau cantik Zi." mata Neymar masih menatap Zi dengan tatapan kosong. Pikirannya sudah kesana kemari, bahkan sudah yang tidak-tidak bukan yang iya-iya.
" Makasih." Zi tersenyum. Gigi gingsul kebanggaan Zi menyembul dibalik bibir mungilnya.
" Kau mau pergi denganku atau Morata akan menjemputmu?"
Zi berfikir sejenak. " Bareng kamu aja deh."
" Ok ;)."
****
Selama perjalanan mereka hanya diam. Tak ada sepatah katapun yang terlontar, mereka saling diam. Menatap keluar, mengamati lampu-lampu yang menghiasi Barcelona malam ini.
Sesampainya didepan restoran yang dimaksud Zi memberi kode kepada Neymar yang hanya mereka ketahui. Authornya pun tak tau -_-.
" Zi, kau cantik sekali." pujian Morata langsung terlontar ketika Zi masuk.
" Kau juga tampan." ucap Zi malu-malu untuk mengakuinya. Neymar yang mendengar kata-kata barusan langsung terbakar api cemburu.
" Udahlah Neymar. Kau bukan siapa-siapa Zi dan Zi bukan siapa-siapa mu. Kau tak patut cemburu, ini hal yang sangat-sangat wajar kalau seandainya Zi memang menyukai Morata. Toh kamu juga sudah punya Bruna kan?" Batin Neymar.
" Kau mau pesan apa Zi?"
Zi memandang sebentar ke menu makanan yang tertera. Dimenu itu juga disebutkan bahan makanan yang digunakan dalam pembuatan menu. Setelah membaca beberapa lembar akhirnya Zi memilih makanan vegetarian yang entah apa namanya. Karena hanya itu yang tak mengandung susu maupun keju.
" Minumannya apa Zi?"
Untuk urusan yang satu ini Zi tak terlalu ribet untuk memilih. Melihat ada kata "Vanilla Late" tertera Zi langsung memilihnya.
Sembari menati makanan tersedia, mereka berdua saling tatap, tersenyum, dan mengagumi satu sama lain.
Hal ini sangat tidak bagus bagi Neymar, ia hanya bisa mengepalkan tangannya. Hatinya pastilah sangat panas. Tapi ia sudah terlanjur memiliki perjanjian dengan Zi. Ia tak ingin mengecewakan Zi;sahabatnya, pujaan hatinya.
" Zi aku kebelakang dulu ya."
Zi hanya membalas sambil tersenyum dan mengangguk.
" Zi Zi." Neymar memanggil Zi sambil berbisik.
" Kenapa?"
" Apa ini masih lama?"
Sebenarnya Neymar sudah tak tahan dengan perlakuan Morata terhadap Zi yang kelewat manis, bahkan lebih manis ketimbang gula jawa :3.
" Hay Zi, kau berbincang sama siapa?" Morata memcoba mencari tau siapa orang yang tadi sepertinya mengajak Zi ngobrol. Neymar dan Zi tak kalah cepat, mereka segera berbalik ketika tau Morata akan datang.
" Ha? Hanya orang bertanya tadi."
Pintu restoran terbuka, tempat duduk Zi yang pas menghadap pintu langsung bisa melihat siapa yang baru saja masuk. Mengetahui siapa yang baru masuk Zi langsung menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
" Kau kenapa Zi?"
" Tidak apa-apa."
" Hay Kylie." tiba-tiba Morata memanggil nama yang sangat tak ingin Zi dengar.
" Kau makan malam disini juga? Dengan siapa?" Kylie masih menggandeng tangan Cesc tapi matanya mencoba mencari tau siapa sebenarnya gadis yang sedang bersama Morata.
" Hey sepertinya aku mengenalimu." Kylie mencoba menerka-nerka lagi siapa pemilik wajah yang tertutupi telapak tangan itu.
Zi masih menutupi wajahnya dengan tangannya.
" Hey kau Hwang Zia yang ketemu di Camp Nou pas El-Classico kemaren bukan?"
" Aduh celaka tujuhbelas nih." Zi bergumam dalam hatinya.
Seteguh apapun Zi menutupinya tetap saja Kylie akan tau siapa dia. Akhirnya Zi membuka pernyamarannya(?).
" Tuhkan bener apa kataku, kau pasti Zi. Kenapa kau tidak dengan Neymar?"
" Ha?" Zi pura-pura kaget.
" Bukannya kalian kemaren di loker room berdua."
Ahh. Mulut nya memang tak bisa diajak Zi kompromi, buktinya Zi ingin sekali menyumpalnya dengan tisu. Sedangkan Neymar sangat santai, toh kalau akibat perkataan Kylie, Morata akan mundur secara perlahan itu kan pertanda baik untuknya.
" Neymar?" wajah Morata menunjukan kalau dia punya seribu pertanyaan.
" Iya Neymar pemain Barca masa kau tak tau. Mereka kemarin sedang berduaan di loker room. Tapi tenang aja kok Zi bilang mereka cuman temen aja."
Kalimat terakhir yang diucapkan Kylie seperti menghujam jantung Neymar, Zi selalu mengatakan kata yang sama ketika ditanyai apa hubungannya dengan Neymar.
" Ah sudahlah beb, kamu mau makan apa?" Cesc mencoba mengalihkan perhatian kekasihnya itu agar tidak mengganggu sepasang anak manusia yang ingin berduaan (ceileh kek dia enggak pengen beduaan aja bang Cesc nih).
" Jadi kau bisa masuk ke loker room kemaren karena ada Neymar." sesaat setelah Cesc dan Kylie pergi Morata gantian menanyai Zi.
Dengan ekspresi lemas Zi mengangguk kecil. Morata menjadi sangat kikuk. Ia pikir perkataannya tadi lumayan menyinggung Zi.
" Emmm... Zi kamu mau kuantarkan pulang nanti?"
Zi jadi sangat kacau sekarang. Sejujurnya dia sangat ingin diantarkan pulang Morata, setelah ia kenal lelaki itu ia merasa bahwa ada satu hal yang menarik, Morata sangat sangat perhatian. Tapi ia juga akan segan dengan Neymar, sahabat yang selalu ada untuknya.
" Emm gimana ya? Makan dulu deh." Zi mengalihkan perhatian, apa laper?
" Emm baiklah."
Baru memakan tiga suapan Zi bilang kalau dia harus kebelakang, bukannya apa sih dia pengen konsultasi ama Neymar.
" Bagaimana ini?"
" Terserah kau saja Zi."
" Baiklah. Aku berangkat bersamamu dan itu tandanya…."
" Kau pulang bersama Morata?" Neymar langsung memotong kalimat Zi yang masih menggantung.
" Aku akan pulang bersamamu."
Neymar hampir tak percaya apa yang telah sahabatnya katakan.
" Yakin Zi kau tak ingin pulang diantar Morata?"
Zi menggelengkan kepalanya dengan mantap(?).
" Baiklah, kau keluar duluan." Neymar mempersilahkan Zi keluar lebih dulu dari tempat persembunyian mereka; dalam mobil Neymar -_-.
Saat Zi memasuk restoran kembali ternyata Zi sudah tak menjumpai wajah Kylie dan Cesc #Yess.
" Zi sepertinya aku ada urusan mendadak. Kau yakin tak ingin kuantar pulang?"
" Tenang saja, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula aku bisa menelpon taksi langgananku kalau aku harus berangkat ke kampus."
" Baiklah."
Dan ~chu~ kecupan hangat Morata mendarat di pipi Zi. Neymar yang begitu memperhatikan kejadian itu hanya bisa ngelus dada sambil bilang "Napa bukan gue?"  sedangkan Zi dalam hati bilang " Uyee."  ok ini semakin ngawur.
" Zi bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?"
" Kemana?"
" Entahlah, aku sedang boring." sebenernya Neymar bukannya boring sih tapi habis terbakar api cemburu -,-
" Davi?"
" Tadi aku titipkan ke tempat kak Leo, sekalian mainan sama Thiago gitu." nyengir.
" Baiklah."
Apa yang mereka sebut dengan jalan-jalan adalah mengelilingi hampir separuh kota Barcelona. Menikmati keindahannya dimalam hari.
" Zi, Morata itu baik ya?"
" Emmm." Zi menganggukkan kepalanya.
" Kau menyukainya?"
Mata Neymar dan Zi saling beradu pandang.
" Tidak." tapi terlihat jelas ada semburat merah muda di pipi Zi.
" Kau yakin?" Neymar mencoba memancing Zi, sebenarnya jika pertanyaan-pertanyaan ini dilanjutkan ia adalah orang yang paling sakit hati.
" Lupakan Ney, Lupakan." Zi jengah
" Baiklah." Neymar hanya tertunduk pasrah. Sebenarnya ia ingin sekali tau apa yang Zi rasakan pada Morata.
Baru setengah perjalanan menuju rumah Zi, hujan mengguyur dengan derasnya. Akibat jarak pandang yang semakin memburuk, Neymar memutuskan untuk menepi sebentar. Menunggu jarak pandang kembali normal, setidaknya cukup aman untuk berkendara.
" Zi kau kedinginan?"
Neymar sangat mengkhawatirkan sahabatnya yang nggak tahan dengan cuaca dingin.
" Tidak." Zi sama sekali tak bisa berbohong, terbukti bibir mungil gadis itu sudah membeku; biru.
" Kata-katamu boleh bisa berbohong tapi bibirmu tidak." Neymar melepas jas, memakaikannya pada tubuh mungil Zi yang hanya berbalutkan gaun.
Hujan sedikit mereda, Neymar kembali mengambil alih kemudi. Menyusuri jalan kota yang lenggang.
Sesampainya didepan rumah Zi, hujan deras kembali turun. Hujan kali ini bahkan lebih lebat.
" Kau yakin akan pulang?" gelagat Neymar yang seperti ingin cepat-cepat pulang membuat Zi tak enak hati.
" Aku khawatir dengan Davi."
" Tapi jarak pandang nggak memungkinkan."
" Emmmm…" Neymar melihat ke pelataran.
" Kalau kamu mau kamu  bisa dirumahku sebentar nunggu hujannya reda."
Tanpa sepatah kata lagi, Zi mmbuka pintu rumah, masuk kedalam diikuti Neymar yang mengekor dibelakang.
Suasana langsung berubah cangcung, wajarlah Zi hanya tinggal sendirian dirumah ini. Sebenarnya ayah nya Zi pernah nyaranin apartemen tapi Zi menolak, Zi lebih suka tinggal dirumah ketimbang apartemen. Mungkin Zi ingin suasana baru karena saat SMA di Singapura dia sudah tinggal di apartemen selama 2tahun.
" Kau mau minum apa? Teh? Kopi?"
" Nggak usah repot-repot Zi."
" Ayolah tak baik menelantarkan tamu, hehe." Zi sedikit memaksa sambil nyengir.
" Baiklah, kopi aja deh."
Zi langsung berlari menuju dapur yang tak jauh dari ruang tamu. Suara gemerincing gelas yang beradu dengan sendok terdengar diseluruh ruangan.
Neymar menyusul Zi kedapur, dia penasaran kenapa bikin kopi aja ributnya minta ampun.
Saat Zi berbalik, Zi telah mendapati Neymar disebelahnya. Mata mereka lagi-lagi beradu. Detak jantung meraka berdua semakin tak karuan, untung saja suara hujan diluar mampu menyembunyikannya.
" Kapan kesininya?" suara Zi terdengar gugup.
" Barusan."
Suasana semakin hening tak ada suara selain suara rintik hujan diluar.
Hape Zi berdering, sebuah pesan singkat.
" Siapa?"
" Morata." jawabnya pendek.

From : Morata
Zi kau sudah sampai rumah? :(

To : Morata
Sudah :) kamu?

From : Morata
Syukurlah, aku sedang dalam perjalan ke Madrid.

To : Morata
Ditengah hujan begini?

Suasana hati Neymar sedikit memanas, Morata tak hanya baik dan bertingkah manis, tapi dia juga perhatian terhadap Zi. Dan sangat sangat naas baginya, Zi juga bertingkah sama terhadap Morata. Zi membalas sms sms tadi sambil bikinin Neymar kopi ^0^.

From : Morata
Tenanglah Zi jarak pandang memungkinkan kok :)

To : Morata
Be careful ok ;)

From : Morata
Night Zi :*

Neymar hanya mengamati layar hape Zi.
" Eh Ney ini kopi nya."
" Thanks ya Zi, kayaknya hujannya udah mendingan deh."
Setelah menandaskan segelas kopi yang dibuat Zi tadi Neymar langsung pergi begitu saja. Deru mobil perlahan meninggalkan pelataran rumah Zi.
" Kayaknya ada yang ketinggalan deh." Zi mencoba mengingat akhirnya menepuk jidatnya sendiri. " Ah! Jas nya Ney."
****
" Hey kamu kemana aja? Anak-anak yang lain udah balik dari kemarin." baru sampai di kampus Morata langsung disambut dengan ocehan Myla.
" Aku ada urusan."
Sebenarnya Morata nggak ada jadwal kuliah hari ini, tapi ia kangen suasana kampus yang jarang banget dia datangi. Paling-paling kalau ia perlu buku baru dari perpustakaan baru ia pergi ngampus.
Ia berjalan lurus menuju taman kampus; tempat paling nyaman buat baca buku. Myla hanya mengikutinya dari belakang.
" Kemarin kamu kok nggak ada?"
" Sorry nggak bisa nonton langsung, papa lagi datang."
Nggak biasanya Myla absen ketika El-Real bertanding. Tapi saat El-Classico lalu dia malah nggak ada batang hidungnya.
" Kenapa lagi? Masalah keuangan?"
" Aku bakalan punya butik." Myla terseyum.
" Uang dari ayah kurang ya sampai ada rencana punya butik segala." Morata cekikikan. Myla memang sering mengeluh tentang masalah uang, masa uang nya masih seribu euro dia udah kalang kabut bilang duitnya habis -_-.
" Enggak lah, aku pengen aja punya butik. Belajar investasi kecil-kecilan lah."
Morata mengacak-acak rambut Myla dengan gemas. " Kafe yuk."
" Nggapain?"
" Berenang. Ya makan lah."
" Horee traktiran nih." Myla langsung berdiri sambil menarik tangan Morata.
" Enggak deh ya, kan abis kalah. Ntar kalau menang aku traktir."
" Nggak jadi ah, perpus aja yuk." Myla menggembungkan pipinya.
" Kamu lucu deh Myl, iya iya aku traktir soalnya mood aku lagi bagus."
" Eh kenapa nih abis kalah kok malah moodnya bagus."
" Ada deh."
Sejurus kemudian hape Morata berdering. Seulas senyum langsung mengembang diwajah tampannya.
" Siapa sih? Gebetan baru ya?"
Morata hanya tersenyum lalu meraih Myla dan menggandengnya menuju kafe. Myla hanya menahan nafas, mencoba menyeimbangkan detak jantungnya yang semakin tak berirama.
****
" Ney ini jas mu." Zi yang melihat Neymar melintas didepan fakultas kedokteran langsung berteriak sambil menenteng sebuah jas berwarna hitam.
" Oh iya aku sampai lupa. Habis ini kemana lagi Zi?"
" Aku masih ada tugas lagi."
" Anak kedokteran emang sibuk ya."
Zi cemberut; tanda ia nggak menyukai keadaan disekelilingnya.
" Jalan yuk Zi kalau tugasnya udah selesai."
" Yakin mau nungguin, aku sampai sore lo. Habis itu aku harus ke Rumah Sakit dulu, biasa jadwal bulanan."
" Siapa takut, lagian aku mau main bola melawan anak fakultas teknik."
" Sip deh, selesai jam berapa?"
" Sekitar jam 4 lah. Kamu Zi?"
" Yess, kita pulangnya barengan."
" See you ntar sore ya."
Zi melambaikan tanganya, setelah itu ia berjalan menuju perpustakaan.
****
Titik tiitik hujan kembali menjadi background sore ini, Zi menatap Neymar yang sedang bermain bola bersama teman-teman mahasiswa yang lain. Kuliah selesai lebih cepat, entah kenapa dosen tiba-tiba membubarkan kuliah.
Limabelas menit kemudian pertandingan telah usai, anak-anak fakultas hukum menang 3-1. Neymar menyumbang 1gol dan 1assist.
" Kuliah udah selesai Zi?"
" Eh, udah dari tadi. Anterin aku ke Rumah Sakit bisa kan?"
" Bolehlah, kali aja ada suster yang cantik."
Kedua keturuan Adam dan Hawa itupun langsung tertawa terbahak bersama.
" Kubilangin Bruna tau rasa kau."
" Bilangin aja nggak takut Zi, lagian kan dia nggak tau keadaan betulannya kayak gimana."
Zi terdiam. " Haha satu kosong Zi. Ayo cepetan ke Rumah Sakit, keburu sore."
" Ini udah sore kali Ney."
" Eh iya."
Dan keduanya tertawa lagi, sepertinya susah memisahkan mereka berdua dengan hal yang disebut dengan tertawa.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit mereka tak henti hentinya tertawa.
" Mungkin kalau ibu hamil bisa men-design wajah anak mereka pasti pada mau anaknya mirip kamu?"
" Aku cantik banget ya sampai segitunya."
" Kamu sempurna Zi."
Zi langsung tertawa terbahak-bahak tapi Neymar enggak, dia memandangi Zi.
" Kenapa ada yang salah?"
" Nggak ada. Kesalahanmu itu kebenaran dimataku, jadi nggak ada yang salah."
" Ah gombalannya ngaco."
" Tapi aku serius Zi."
Kini giliran Zi yang membatu, wajahnya terasa memanas.
Perjalanan berlanjut tanpa ada kata-kata yang terlontar lagi. Rencana jalan-jalan pun akhirnya batal, Zi dan Neymar terjebak di Rumah Sakit akibat hujan yang turun dengan derasnya. Jarak pandang sangat sangat nggak mendukung.
" Sampai kapan kita disini?" Zi melirik jam tangan berbentuk Spongebob miliknya.
Dua jam sudah Zi dan Neymar terpaksa bertahan di Rumah sakit, akhirnya hujan sedikit reda.
Jarak rumah dan rumah sakit terbilang lumayan. Mungkin kalau ditempuh menggunakan mobil akan memakan waktu sekitar 30menit, apalagi sekarang sedang hujan.
****
" Zi aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu."
" Apa? Katakan mumpung aku belum buka pintu pagar."
" I Love You Zi."
Kerongkongan Zi tercekat, ia hanya bisa menelan ludah. Tak tau apa yang harus dikatakan sekarang, yang jelas ia tak bisa bergerak; membeku.
" Ney."
" I Love You Zi." Neymar mengulagi perkataannya.
" Kamu nggak sepatutnya bilang kayak gitu."
" Kenapa?"
" Karena kamu sudah punya pacar dan kamu sahabatku."
" Aku akan putuskan Bruna." Neymar setengah berteriak.
" Kamu sahabatku Ney, dan kata itu pantang kamu katakan. Pamali." Heh? Di Barcelona ada pamali?
Hujan masih terus mengguyur dan membasahi tubuh mereka berdua.
" Tapi apa aku salah mencintamu? Salahkan perasaan ini ada? Hinakah ini?"
Pandangan Zi semakin kabur bulir-bulir airmata bercampur tetes air hujan melebur jadi satu. Zi berbalik dan bergegas menuju teras rumahnya.
Tapi gerakan tangan Neymar tak kalah lincah, ditariknya tangan gadis itu. Tangan lainnya meraih dagunya, lalu ia mencium lembut bibir mungil Zi.
Zi yang terkejut tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa pasrah dalam rengkuhan Neymar (kayaknya ini bukan pasrah deh, tapi menikmati keadaan).
Dengan sekuat tenanganya Zi berusa melepaskan diri dari cengkraman Neymar. Seketika itu juga ia lari dan mengunci rapat-rapat rumahnya.

-Insya Allah disambung lagi-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar