SpongeBob SquarePants

Sabtu, 30 November 2013

El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 4

Tittle : El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 4
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter (@fauziahfitri_)
Kylie Mourinho (@kusuma_wij)
Demylia Sanchez (@myta_savitri)
Bruna
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Dani Pedrosa
Other….

Bukan sinetron, bukan telenovela, bukan drama dan sandiwara, apalagi FTV. Ini cuma FF yang isinya hanyalah khayalan fans semata. Semakin ngawur ya? Hehe map :v

****

Dear Morata
Aku nggak tau kenapa kamu marah sama aku, aku juga nggak ngerti kenapa kamu menghindari aku. Jelaskan Mor, jelaskan, aku mohon. Kalau aku ada salah, aku akan minta maaf. Kumohon Mor jangan perlakukan aku seperti ini, aku mencintaimu Mor, sangat sangat mencintaimu. Beri aku satu kesempatan untuk mengubah semua ini.

Zi menulis e-mail tersebut sambil terus menitikan airmata. Ia tak tau apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Morata―ia tak paham―sama sekali tak paham.

****

Morata berangkat ke kampus dengan muka ditekuk menjadi tujuhbelas bagian(?), murung banget maksudnya. Setiap orang yang mencoba menyapanya hanya mendapat balasan hambar dari cowok bertubuh jangkung itu.
" Whats up ma men, napa tah muka ditekuk-tekuk kek jemuran baru keluar laundry tapi hasil paket yang tanpa setrika?" Kylie langsung ngejeplak saat melihat muka masam Morata. Dan ternyata kelakuan rada melenceng kekasih Cesc Fabregas itu bisa membuat Morata tersenyum kecil.
" Enggak papa kok Ky, lagi BT aja."
" Marahan sama Zi ya?" Kylie bertanya ngasal.
Raut muka Morata berubah, sebenarnya ia ingin sekali bilang kalau semua ke-masaman-nya ini nggak ada hubungannya sama Zi tapi kenyataan berkata lain.
" Enggak tuh." entah kenapa tiba-tiba Morata merasakan lidahnya terlalu kelu untuk melontarkan kata-kata.
" Alah kalau lagi marahan nggak papa juga kok Mor, lagian aku juga lagi bete sama Cesc. Biar ada temen gitu." kini giliran Ky yang cembetut.
" Lah emang kenapa sama Cesc?" Morata duduk disebelah Kylie, mencoba menjadi pendengar yang baik. Meskipun rada nyeleneh tapi Kylie ini asyik kalau diajak sharing.
" Fans ceweknya itu loh pada nyerbu aku mulu, katanya aku nggak panteslah, katanya aku kalau ngomong kayak bokapku aja asal njeplak dan tipe yang kayak begitu nggak cocok sama Cesc dan bla bla bla." (di Spain ada istilah bokap?)
Morata hanya mengangguk-ngangguk saja, karena dua alasan, pertama karena dia nggak paham dan kedua karena dia sedang berfikir. Mungkin nggak ya kalau Zi bakalan menghadapi hal yang sama kalau gadis itu beneran jadi pacarnya?
" Jadi menurutmu aku harus gimana Mor? Tetep sama Cesc apa enggak?"
Morata berpura-pura berfikir, padahal sedari tadi dia dalam keadaan setengah sadar saat mendengarkan Kylie berbicara.
" Coba deh kamu fikir lagi, kamu masih sayang juga kan sama Cesc?"
" Kalau itu mah jangan ditanya lagi, udah pasti sayang banget." Kylie tersenyum, sepintas bayangan Cesc yang sedang tersenyum melintas dibenaknya.
" Terus kamu maunya apa?"
" Maunya sih tetep jadian, tapi aku nggak tahan lagi Mor di intimidasi kayak gitu tiap hari, eh enggak deh tiap minggu. Dan naasnya itu cuman gara-gara kelakuan papaku yang menurut mereka kurang menyenangkan. Padahal dulu kan papaku juga bagian dari tim itu." Kylie ngoceh kesana kemari.
" Kamu liat Myla nggak?"
" Dia lagi di Barcelona kali Mor, napa nyari Myla? Kangen ya? Zi dikemanain?"
" Heh ngapain di Barca? Enggak tuh kalau kangen, soal Zi dia nggak kemana-mana kok." muka Morata kembali masam.
" Katanya sih ada yang musti diurus. Iya Zi emang nggak kemana-mana, dia cuman ada dihatimu. Bukan begitu Mor?" Kylie menatap Morata penuh tanya.
Morata terdiam. Benarkah Zi hanya ada dalam hatinya? Sama sekali tak ada dihati yang lain?―meragukan.

****

" Zi, gabung sini." Bartra berteriak ketika melihat Zi melintas didepan kafeteria sambil membawa sebuah buku tebal.
" Hay semua." Zi langsung menghampiri. Disana juga ada Tello dan Neymar.
" Mau pesen Zi?"
" Enggak ah." pandangan Zi kembali terfokus untuk membaca buku tebal tadi.
" Liat deh calon dokter serius baca bukunya." Tello mencoba menggoda Zi. Tapi respon Zi hanyalah mendongak―tersenyum―lalu menunduk lagi―melanjutkan bacaannya.
" Ah Zi nggak asyik, baca mulu."
" Eh bukannya apa sih tapi aku lagi ngambil semester pendek jadi harus banyak baca buku, belajar, dan semakin banyak jam kuliah." Zi mencoba menjelaskan. Ia tak mau dianggap terlalu angkuh sampai mengabaikan teman, apalagi teman-teman yang ini.
Neymar merasakan ada hal aneh sama Zi, untuk apa coba gadis itu mengambil semester pendek? Dan yang lebih aneh―mungkin bisa jadi hal yang sangat mengagumkan kalau  hal itu berhasil―adalah Zi anak Fakultas kedokteran, yang hanya untuk mendapatkan gelar sarjana saja dibutukan beberapa semester―berat―dengan materi-materi yang membosankan.
" Ngapain Zi ngambil semester pendek?" Tello sepertinya penasaran. Neymar hanya diam, ia sejujurnya sangat ingin tau apa yang diinginkan gadis itu tapi ia hanya bisa diam kali ini. Takut melukai perasaan Zi―sekali lagi.
" Aku pengen cepet lulus lalu ngambil spesialis. Setelah selesai kuliahku disini aku bakalan balik ke asalku." ucap Zi sambil terus tersenyum sumringah. Membayangkan apa yang akan terjadi kalau semua itu berhasil.
" Balik ke asal mu? Rahim ibu?" Bartra masih belum ngeh.
" Bukan gitu juga kali maksudku.” Zi memutar bola matanya. “Aku bakalan balik ke Cina secepatnya setelah kuliahku selesai."
" Ke Cina?" Neymar tak lagi bungkam.
" Iya, dan aku akan mengabdi disana. Mengamalkan semua ilmu yang udah kudapat disini." Zi tersenyum, bayangan negeri tirai bambu berlalu lalang di kepalanya.
" Kapan kira-kira kamu balik ke Cina?" entah kenapa Neymar jadi sangat-sangat khawatir akan kehilangan Zi. Cina bukan tempat yang cukup dekat untuk didatangi―kapan saja.
" Kalau sampai program spesialisku selesai ya sekitar 2 tahun lagi, paling lama ya 3tahun. Atau malah bisa lebih cepat."
" Setelah di Cina kamu ada rencana balik ke Barca lagi nggak Zi?" Tello bertanya usil.
" Nggak tau juga sih, bisa juga balik ke Barca bisa jadi enggak."
Neymar merasa kalau ada seseorang yang baru saja melepas tulang-tulang nya satu per satu. Tubuhnya langsung lemas, 2-3 tahun lagi wajah ini tak kan dia lihat lagi. Kecuali kalau dia bisa menikahinya, ya jalan satu-satu nya dia masih bisa melihat Zi adalah menjadi suaminya. Tapi apa dia bisa menikahi Zi―setelah ia tau Zi tak mencintainya―dia hanyalah sahabatnya. Dan laki-laki beruntung karena Zi cintai adalah Morata.
" Ya udah aku ke kelas dulu ya." Zi pamit.
" Aku juga mau cabut dulu bye." Bartra langsung menarik lengan Neymar yang masih melamun.
Tello menopangkan dagunya, membayangkan wajah dosen yang super killer yang akan dia hadapi setelah ini.
" Ini tagihannya." suara seorang cewek membuyarkan lamunan Tello.
" Tagihan apa ya?" Tello melirik gadis dihadapan yang sedang memegang secarik kertas.
" Semua makanan ini." gadis itu menunjuk meja yang penuh dengan makanan.
" Dasar kampret tuh kunyuk bedua makan pake gak bayar asal kabur aja." Tello misuh-misuh.
" Cepetan dibayar." gadis itu berdecak kesal.
" Eh tapi ini bukan aku yang makan."
" Lah terus siapa?"
" Iya deh iya berapa semua?"
" 20euro."
" What?"
" Bayar apa ngepel?"
" Iya deh ini." Tello menyerahkan beberapa uang lalu pergi meninggalkan kafeteria.
" Dasar, katanya pemain bola yang gajinya lumayan, klub nya ok, masuk timnas pula tapi bayar pake duit recehan." kini giliran gadis itu yang menggerutu sambil menghitungi recehan yang Tello beri tadi :|.

****

" Prosesnya bisa dipercepat tidak?" Myla menanyai seorang petugas administrasi.
" Kau ambil jurusan apa untuk kuliahmu?"
" Pendidikan Biologi."
" Sepertinya bisa, salah satu asisten dosen disini baru saja mengundurkan diri." ucap petugas itu sambil terus membolak-balikkan dokumen yang tadi Myla serahkan. " Lalu kamu mau stay di Barcelona atau tetap di Madrid?"
" Aku tetap di Madrid, kesini kalau ada jam kuliah aja."
" Baiklah. Kamu bisa mulai menjadi assisten Mr. Daniel rabu depan. Beliau ahli Fisiologi―salah satu cabang Biologi yang mempelajari proses dan kegiatan yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup―dan sekarang beliau menjadi salah satu dosen di Fakultas kedokteran."
" Sekali lagi terimakasih."
" Sama-sama."
Wajah Myla sumringah, ia diterima menjadi salah satu assisten dosen di University of Barcelona. Gadis itu terus tersenyum sambil terus membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang assisten dosen.
" Dunia perdosenan aku datang." ucap Myla sebelum memasuki mobil Honda-CRV putih miliknya.

****

Bruna menatap wajah Neymar yang sedang murung. Sekali lagi ia menatap wajah Neymar semakin dalam.
" Kenapa sih beb? Ada masalah ya? Cerita aja." Bruna menggengam tangan Neymar.
" Nggak papa kok, lagi nggak mood aja." Neymar membalas genggaman tangan Bruna.
" Ya udah deh kalau mau istirahat silahkan aja. Aku balik ke hotel aja, takut ganggu kamu."
" Masa kamu tega ninggalin aku."
" Tapi ntar itu kamunya keganggu." ucap Bruna ragu.
" Setelah kamu jauh-jauh datang dari Brazil kesini. Nooo… kamu disini aja, ok." Neymar menarik bahu Bruna lalu merangkulnya. Bruna jadi aneh sendiri dengan perilaku Neymar. Neymar meraih dagu Bruna, sedetik kemudian pasangan itu berciuman panas.
BRAKKK. Pintu rumah apartemen Neymar terbuka, terlihat Zi yang sedang mematung dengan mulut menganga melihat adegan―horor―dihadapannya.
Pelan-pelan Zi mundur, ditutupnya pintu apartemen itu dan lari.
" Stupid, kenapa aku lupa mengunci pintu." Neymar mengumpat, Bruna buru-buru membetulkan beberapa kancing bajunya yang terbuka.
" Siapa cewek tadi? Kamu kenal?"
" Dia Zi―sahabatku." jawab Neymar. Entah kerasukan setan apa Neymar langsung menyambar hape nya dan menelpon seseorang. Rupanya dia baru sadar siapa yang membuka pintu tadi.
" Ziii…" Neymar langsung berseru ketika Zi mengangkat telponnya.
" Kenapa Ney?" balas Zi diseberang.
" Masalah yang tadi…"
" Udahlah Ney itu wajar Bruna kan pacarmu." Zi tertawa renyah.
" Ya udah Zi bye." Neymar menutup panggilan itu dengan perasaan kacau.
Bahkan Zi tak sedikitpun menyesal melihatnya making out dengan Bruna. Bukan pertanda bagus.

****

Tampan
Itulah yang pertama kali Myla pikirkan ketika bertemu dengan Mr. Daniel―seorang dosen muda di University of Barcelona.
" Kamu siap buat hari pertamamu?"
" Iya." Myla hanya bisa menelan ludah saking gugupnya.
" Santai aja. Aku dulu juga ngalamin hal yang sama kok―menjadi asisten dosen."
Mr. Daniel berjalan diikuti Myla yang terus menunduk.
Para mahasiswa langsung terdiam ketika Mr. Daniel memasuk ruangan. Suasana sunyi senyap membuat Myla berkeringat dingin.
" Oh ya perkenalkan ini asisten baruku. Namanya Demylia Sanchez tapi biasanya dipanggil Myla, dia satu angkatan dengan kalian." suara Mr. Daniel yang bening membuat Myla memberanikan diri mengankat dagunya. Melihat para mahasiswa yang sekarang sedang menatapnya―tatapan ingin tau.
Mata Myla terbelalak, pandangannya tertuju pada seorang mahasiswi berwajah Asia.
" Zi? Benarkah dia?" Myla mematung memandangi pemilik wajah yang fotonya terpampang jelas di hape Morata.
Jam untuk mata kuliah Fisiologi sudah selesai, buru-buru Myla mengejar Zi yang keluar bersama mahasiswa lainnya.
" Kamu Zi kan?"
Zi berbalik dan menatap Myla heran. " Iya?"
" Kamu teman Morata?"
Tubuh Zi lemas seketika. Myla adalah orang pertama yang menanyakan Morata kepadanya setelah kejadian itu.
" Aku pernah lihat fotomu dihape Morata." lidah kelu ketika Myla ketika mengatakan hal paling menyakitkan―menurutnya saat ini.
" Dihapenya?"
" Iya dijadikan walpaper malahan." Myla memaksakan senyum. Hatinya terlalu pedih.
" Aku nggak tau masalah itu, kupikir Morata marah padaku."
" Marah kenapa?"
" Nah itu dia. Sampai sekarang aku nggak tau dia marah karena apa."
Kini giliran Myla yang menatap Zi heran.
" Emm… ya udah aku mau cabut dulu. Bye." Myla segera pergi.
Gadis itu memasuki mobil dan langsung menarik pedal gasnya secepat mungkin. Morata sedang marah pada Zi? Ini hal yang bagus. Untukknya. Senyum menghiasi bibir mungilnya yang ranum.

****

" Eh Myl denger-denger jadi asisten dosen di Barca. Jarang di Madrid dong."
" Iya Ky, dan kamu tau nggak dosennya imut banget." Myla membayangkan senyum terindah Mr. Daniel.
" Masih muda nggak? Single nggak?" Kylie langsung antusias ketika mendengar kata dosen imut. <-- sementang marahan lagi ama Cesc, ya gini lah effect nya :p.
" Duadelapan, masih bisa lah buat digaet hehe. Soal single atau enggak aku belum tau, maklum baru sekali ngajar."
" Wih kenalin dong."
" Wani piro?"
" Hay girls." kali ini Morata terlihat lebih ceria ketimbang biasanya.
" Ceileh dateng udah senyum-senyum aja. Dapet mimpi apa?" Kylie langsung nyeletuk.
" Ketemu elu dibulan Ky."
" Hahaha…"
" Eh ada asisten dosen. Gimana pengalaman pertama? Dosennya baik nggak?" Morata sengaja menggoda Myla.
" Ah biasa aja deh Mor. Jangan tanyain lagi kalau masalah itu, dosennya super baik, ganteng pula."
" Wah jadi pengen ngikut kuliah disana Myl denger kamu cerita kalau dosen nya baik. Ya nggak Kylie?" Morata langsung melirik Kylie.
" Bener banget Mor. Imut pula dosennya." Kylie menimpali
Myla terdiam dalam benaknya ia membayangkan Morata satu kampus dengan Zi―Mimpi buruk.

****

Semakin hari Zi semakin tak menampakkan dirinya. Dikampus pun Zi hanya berkutat dengan ruangan kelas, lab, perpus, taman kampus, bahkan kafeteria pun sudah seperti tempat asing baginya. Sekarang dalam fikirannya hanya lah lulus, lulus, dan lulus. Tak ada cara lain, semester pendek harus berhasil kalau ia ingin segera kembali ke Cina dengan langkah tegap.
" Zi kamu nggak keluar? Betah banget dikelas mulu." Neymar sengaja mendatangi Zi dikelasnya, dia sangat-sangat kehilangan gadis itu.  Gadis paling unpredictable yang pernah dia temui.
" Enggak ah Ney. Nggak ada waktu lagi buat itu―sekarang waktunya buat serius."
" Ayolah Zi, satu kali ini saja. Ku mohon." Neymar memasang tampang paling melasnya.
" Baiklah hanya kali ini."
Zi mengalah, dia mengikuti apa kata Neymar. Tak ada salahnya juga untuk keluar, sedikit refreshing mungkin bisa men-charger  otaknya yang sudah low-bat.
Zi sedikit terheran setelah tau kemana ia akan pergi―Madrid. Neymar mengajaknya ke Madrid, untuk apa? Entalah.
" Kenapa ke Madrid?"
" Kamu kenal Kylie kan?" Zi hanya mengangguk. Tentu saja aku kenal Kylie, batinnya.
" Kita kerumahnya saja gimana?"
" Setuju."
Sesampainya di rumah Kylie mata Zi menatap sebuah mobil yang tak asing baginya. Morata? Batin gadis itu.

Tokk..tokk..tokk..

Pintu terbuka, Kylie langsung menyambut ramah dua tamu dadakan nya.
" Ah kebetulan banget kalian datang. Masuk masuk."
Tubuh Zi mematung kaki-kaki terasa dipaku, mata sipitnya tak henti memandangi Morata yang tengah duduk berdampingan dengan Myla. Pertemuan pertamanya setelah Morata marah kepadanya tanpa sebab.
" Zi?" Morata tak kalah kagetnya mendapati Zi tiba-tiba muncul bersama Neymar. Myla langsung menyumpah serapah dalam hati.
" Tuh kan Mor bener kataku, kalau jodoh nggak bakalan kemana-mana." Kylie malah dengan bangganya berkata seperti itu. Tak tau betapa tegangannya keempat orang diruangan itu―Zi, Myla, Morata, Neymar―sekarang.
" Sepertinya aku salah ngajak Zi kesini―saat ini." batin Neymar.
" Eh kok malah pada diem-dieman gini. Silahkan duduk, aku ambilin minum dulu ya." Kylie berlari kearah dapur. Myla mengikutinya.
Kini tinggal Zi, Morata dan Neymar di ruang tamu. Suasana canggung tak terelakkan.
" Sehat Zi?" ini pertama kalinya Morata berbicara dengan Zi semenjak kejadian beberapa waktu yang lalu.
" Sehat, kamu?"
" Sehat juga. Kok makin kurus?"
" Efek semester pendek kali Mor."
" Semester pendek?"
" Emm.." Zi mengangguk kecil.
Neymar mengamati setiap gerak-gerik Zi ketika berbicara dengan Morata. Sepintas tak ada yang berbeda, tak ada yang sepesial. Tapi jika benar-benar diperhatikan, ada suatu desiran halus ketika Zi berbicara dengan Morata.
" Eh Zi ngambil semester pendek ya?" Kylie yang beru keluar dari dapur bersama Myla yang mengekorinya langsung berkomentar.
" Iya, pengen cepet-cepet balik ke Cina." Zi langsung menunduk.
Wajah Morata seperti orang yang baru saja melihat tsunami setinggi 50meter yang akan segera menerjang tubuhnya―pria jangkung itu langsung menegang. Begitupun Neymar, dirinya begitu mengutuk negara berjuluk tirai bambu itu, negara yang akan menjadi destinasi Zi selanjutnya dan menjadi destinasi Zi yang sepertinya takkan pernah dia sentuh―kecuali kalau timnya;klub maupun timnas, membawanya tour ke Negara itu.
" Ke Cina Zi? Kamu yakin bakalan ke Cina?" bibir Morata bergetar.
" Iya Mor aku kangen sama masa kecil ku disana." dusta Zi.
" Tapi kamu bakalan balik ke Spanyol kan Zi?"
Zi menggigit bibir bawahnya―ia tak sanggup―sekuat tenaga ia tahan agar tak ada sebulir airmata pun yang akan keluar. Setiap pertanyaan-pertanyaan Morata tadi semakit menyayat hatinya.
" Kamu bakalan balik ke Spanyol kan?"  Sepertinya pertanyaan itu lebih susah untuk dijawab dibandingkan soal tersulit yang pernah ia temui selama ujian semester. Sebuah pertanyaan yang hanya perlu YA atau TIDAK sebagai jawaban terbaik.
"Mungkin―suatu saat nanti―mungkin juga tidak sama sekali." suara Zi melemah.
Myla menatap Zi bimbang, antara rasa bahagia dan ikut sedih. Bahagia karena Zi akan segera jauh dari kehidupan Morata, sedih karena ia membayangkan bagaimana sakitnya kalau kamu harus berpisah dari orang yang kamu cintai dan mencintaimu juga?
Dalam hati Myla sangat-sangat menanti waktu itu tiba, waktu dimana Morata terhindar dari Zi. Memang ia akan menjadi orang yang sangat egois jika ia mensyukuri perpisahan Zi dengan Morata dan merampas Morata begitu saja dari tangan Cina itu, tapi itulah cinta. Butuh KEEGOISAN supaya kamu bisa bahagia―diatas penderitaan orang lain―dan memiliki sesuatu yang bisa kamu banggakan―karena memilikinya.
Suasana hening seketika, semua orang memilih untuk diam―berkonsentrasi dengan fikiran mereka masing-masing. Hanya bunyi napas mereka yang memenuhi setiap relung ruangan itu.
" Tapi Zi kapan ke Cina nya?" pertanyaan Myla memecah keheningan.
" Kalau spesialisku udah selesai sesegera mungkin aku akan ke Cina." jawab Zi mantap.
Myla menghitung-hitung berapa lama lagi Zi akan ada disebelah Morata. 1tahun? 2tahun? 3tahun? Itu waktu yang cukup lama untuk merubah sesuatu, termasuk merubah cerita yang sedang mereka alami saat ini. Myla menundukkan wajahnya, menenggelamkannya bersama seribu harapan yang berbunyi sama. Ya tuhan segera kau luluskan Cina ini dan jauhkan dia dari Morata ku.
" Ya tuhan semoga Zi nggak cepet-cepet lulus. Amin." ucap Kylie sambil mengadahkan tangan. Celetukan Kylie itu bisa membuat suasana tegang dan hening sedikit demi sedikit menjadi cair.
Pembicaraan beralih membahas tetang kuliah mereka masing-masing. Myla memilih untuk menjadi pendengar yang baik tanpa menceritakan secara detail apa yang dia lalukan akhir-akhir ini dan menjawab beberapa pertanyaan yang terlontar untuknya. Ia tak mau seorang pun terutama Morata tau kalau dia menjadi asisten dosen yang mengajar Zi, dan ia patut bersyukur karena Zi sama sekali tak menyinggung masalah Mr.Daniel―dan mata kuliah Fisiologi. Gadis itu hanya menceritakan tentang semester pendek yang diambilnya.
Sekali lagi Myla menghembuskan CO2 dan H2O[i] secara bersamaan dengan lega.

****

 Setelah kunjungan itu Zi semakin banyak mengikuti kegiatan kampus, walaupun tak semuanya. Ia mencoba untuk sedikit menyibukan diri. Jadwal semester pendek yang diambilnya sudah mulai bisa ia kendalikan―tak seperti awalnya yang acak-acakan. Neymar mengamati hal itu hanya dengan senyum.
Sekarang semuanya seperti lenyap―Zi yang dulu―Zi yang dia harapkan seperti perlahan-lahan terkikis sendiri. Apa yang bisa ia harapkan dari gadis itu sekarang? Tak ada. Walaupun begitu Neymar tetap menyayanginya sepenuh hati. Dan selalu mencoba tersenyum pada apa yang membuat Zi tersenyum, sesakit apapun ia akan mencoba untuk bertahan.
“ Zii….” Myla berlari tergopoh-gopoh.
“ Eh kenapa ini?” Zi memandangi Myla heran, tak biasanya cewek ini menyebutkan namanya. Bahkan sampai berlari-lari seperti ini kearahnya.
Lamunan Neymar buyar akibat datangnya Myla. Perlahan kaki-kaki itu seperti otomatis berjalan perlahan mendatangi kedua cewek yang tengah berbincang dikoridor kampus.
“ Nggak papa pengen pulang bareng kamu aja. Aku juga pengen tau rumahmu juga kali Zi.”
“ Ayo.” Zi berjalan mendahuli Myla yang mengekor dibelakangnya.
“ Zii…” satu suara lagi menyebut nama itu.
“ Eh kamu Ney, udah selesai kulihanya?”
“ Udah, pulang bareng yuk.” Neymar langsung menawarkan diri―seperti biasa―tanpa pernah Zi minta.
“ Tapi Myla udah ngajak aku pulang duluan, nggak papa kan Ney? Kalau mau kamu juga bisa mampir dulu di rumah. Myla katanya mau mampir.” Senyum yang merekah dibibir Zi membuat Neymar merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
“ Ok.” Zi menggandeng tangan Neymar begitu saja, tanpa memikirkan bagaimana merahnya pipi sang empunya tangan.
Myla menundukkan wajahnya, menatap langkah kaki Neymar dan Zi didepannya.
“ Myl….” Seseorang memanggilnya. Tapi nadanya melemah di akhir. Dan ia sangat yakin siapa pemiliknya.
“ Mor?”
Myla menatap Morata yang mematung, begitupun Zi, cewek itu juga ikut-ikutan mematung.
“ Kamu ngapain kesini?” pertanyaan Myla hanya samar-samar terdengar, suaranya terlalu lemah.
“ Kamu jadi asisten dosen disini?” Morata malah balik bertanya.
Myla ragu untuk menjawab, ia mencoba untuk melirik Morata. Tatapan pria itu malah seperti anggota FBI yang sedang mengintrogasi seorang terduga teroris. Mencoba untuk menatap Zi, cewek itu sama-sama menunduk sepertinya. Neymar―jalan satu-satunya.
Seperti tau apa yang ada dalam fikiran Myla cowok itu hanya mengangkat bahunya―tanda menyerahan semua jawaban pada Myla.
“ Ii.. yaa…” Myla mendadak gagap.
Morata semakin mematung. Apa ini alasan kenapa Myla selalu bungkam dan terkesan tertutup ketika ditanyai tentang dimana ia menjadi asisten dosen? Tapi apa ada hubungannya dengan Zi? Entahlah Morata belum tau pasti. Belum tau pasti kalau dia dicintai dua wanita terdekatnya secara bersamaan–dalam diam.




~Insya Allah disambung~









[i] Bagi yang gak tau itu maksudnya apa. H2O sama CO2 itu senyawa(?) yang dikeluarin pas menghembuskan napas :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar