SpongeBob SquarePants

Sabtu, 16 November 2013

El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 3

Tittle : El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 3
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter (@fauziahfitri_)
Kylie Mourinho (@kusuma_wij)
Demylia Sanchez (@myta_savitri)
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Other….

Kali ini rada serius dan semakin serius. *pasangmukasangar*. Kalau pendekan dan rada-rada gaje ya maaf. Kebanyakan PR membuat juru ketiknya kurang konsen saat ngetik, karena tiba-tiba keingetan tabel periodik gitu kan -_- #ngeles. Feel nya nggak dapet ya? Maap. Alurnya semakin nggak jelas.

****

Seminggu sudah sejak "tragedi" Neymar mencium Zi, Zi semakin menjaga jarak dengan Neymar. Bahkan jika Neymar datang masuk ke kelas nya ia hanya akan diam lalu pergi ke perpustakaan atau entah kemana, pergi menenggelamkan diri.
Kondisi ini sangat-sangat menyebalkan bagi Neymar, hubungannya dengan Bruna sudah nggak bisa diharapkan lagi. Zi malah pergi menghindarinya.
" Zi tunggu."
Meskipun seseorang memanggilnya, Zi tetap terus melangkah tanpa menghiraukannya. Dia hapal betul siapa pemilik suara itu. Melangkah kedepan dan menghindarinya mungkin lebih baik ketimbang menanggapinya.
" Zi kenapa kamu diam terus?"
Zi masih terus melangkah.
" Zi aku ada salah ya?"
Hati Zi semakin panas tapi dia masih mencoba untuk nggak meledak.
" Zi kenapa kamu kayak gini ke aku? Udahlah Zi kita masih teman kan?"
Zi langsung berbalik air mukanya berubah drastis. " Harusnya aku yang tanya kenapa kamu bilang kayak gitu ke aku? Apa dalil mu? Dan kenapa juga kamu ngelakuin hal itu ke aku? Kenapa Ney kenapa?" ia mengambil nafas, mengumpulkan seluruh tenaga nya agar tak meneteskan sebutirpun air mata. Kemudian Zi berbalik, memunggungi Neymar. " Dan kalau kau pikir kita teman kamu salah Ney, kita bukan sekedar teman. Tapi kita sahabat." suara langkah kaki Zi terdengar seperti palu godam bagi Neymar.

****

Suasana tegang di kota Barcelona tak berimbas apapun di Madrid :|.
" Makin sering aja Mor ke kampus." Kylie tiba-tiba muncul di hadapan Morata.
" Iya Ky, sumpek juga dirumah. Nggak ke Barca lagi?"
" Emmmm…" Kylie berfikir sejenak. " Mungkin ntar pas weekend, kenapa?"
" Nggak papa sih."
" Mau nitip salam buat Zi apa kangen sama Zi?" sama aja kalee.
Semburat pink(?) di pipi Morata menegaskan segalanya.
" Udah deh ngaku aja, Zi emang cantik. Matanya itu lo mirip sama siapa temen mu dulu itu?" ekspresi wajah Kylie seperti seseorang yang sedang mikir keras, sedang Morata langsung menunduk lesu. Napa harus dibahas? Batinnya.
" Sung Hye maksud mu?"
" Iya, Sung siapa tadi?" G-U-B-R-A-K.
" Hay semua." Myla yang membawa setumpuk buku langsung menempatkan dirinya sedekat mungkin dengan Morata.
" Bih rajinnya si Myla bawaannya sekarang buku yang tebalnya kayak batako Santiago Bernabeu." celetuk Kylie. Batako Santiago Bernabeu? Myla dan Morata langsung tertawa terbahak.
" Apanya yang lucu coba." Kylie cemberut, dan hal itu semakin membuat Morata dan Myla semakin terbahak.

****

Dua minggu hubungan Neymar dan Zi tak kunjung membaik, bahkan hubungan Zi dengan Morata semakin mengalami kenaikan yang cukup signifikan(halah bahasa apa ini?)
" Jadi kamu maunya apa Zi?" suara Morata diseberang(?) telepon membuat tubuh Zi guling-gulingan di kasur. Kesenengan.
" Aku sih ngikut aja, terserah sih."
" Aku ke Barca ya besok."
" Besok? Bukannya lusa kamu bakalan tanding?"
" I don’t care."
" No, itu nggak boleh, nglanggar kode etik namanya."
" Kayak DPR ya Zi." Morata cekikikan.
" Ih aku serius tau."
" Iya deh iya, habis tanding aja gimana?"
" Sepakat, ketemu dimana?"
" Enaknya dimana?"
" Sekali lagi terserah."
" Rumahmu?"
Zi berfikir sejenak, " Ok."
" Good night my precious."
" Good night moonlight."
KLIK(bukan acara musik yang di tv itu ya). Suara hape dimatikan. Setelah itu Zi mencoba memejamkan mata, tiba-tiba pintu diketuk pelan.
" Siapa?" Zi masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
" Aku." cukup satu kata dan Zi tau siapa yang ada diluar. Dengan langkah gontai Zi berjalan menuju pintu dan membukakannya.
" Kenapa?"
" Kau masih marah?"
Zi hanya diam, mematung.
" Kumohon Zi, maafin aku ya? Aku khilaf Zi. Dan cuman pengen kamu tau aja kalau aku suka sama kamu Zi. Aku masih jadi sahabatmu kan Zi?"
Zi hanya menjawabnya dengan anggukkan kecil.
" Makasih Zi." kini Zi semakin mematung, Neymar memeluknya dengan erat.
" Good night Zi." Neymar mengecup puncak kepala Zi.
" Night too Ney." Zi menatap bayangan didepannya, perlahan menjauh. Masuk kedalam mobil dan pergi.

****

" Mor ini foto siapa?" Myla menatap walpaper hape Morata. Seorang cewek bermata sipit tersenyum polos dengan rambut sebahu yang tergerai.
" Foto Zi. Menurutmu cantik nggak Myl?" Morata menatap Myla penuh harap. Berharap Myla akan sependapat sama dia.
" Cantik." suara Myla memelan. " Kenal dimana?"
" Di Camp Nou."
" Jurnalis?"
" Temennya Neymar."
" Dia fans Barca?"
Morata mengangguk sambil terus tersenyum lebar, Myla terbelalak.
" Kamu nggak gila kan Mor?"
" Mungkin orang akan berpikiran kayak begitu Myl, tapi emang benar aku gila. Gila gara-gara mencintai Zi."
" Kamu nggak serius kan Mor?" Myla masih nggak percaya. Seorang pemain Real Madrid jatuh cinta dengan seorang fans Barca yang juga teman dari pemain Barca.
" Aku nggak pernah bercanda masalah cinta Myl, tau sendiri kan."
" Tapi apa kata fans mu nanti? Apa kata madridista?" Myla berdecak.
" Liat aja deh Kylie sama Cesc mereka damai-damai aja tuh. Malah ayahnya si Kylie pernah jadi pelatih Madrid yang sering berkomentar pedas tentang Barca. Mereka? Santai aja tuh."
" Tetep aja deh pandangan orang tuh nggak enak. Tau aja kan gimana Kylie pernah cerita tentang beberapa fans Barca yang nggak rela hubungan mereka berjalan."
" Udahlah Myl toh kalau seandainya aku emang beneran sama Zi dan Zi dibully seperti itu aku bakalan pindah club."
" Pindah?" inilah kenyataan yang nggak pernah Myla mau itu terjadi. Morata menempatkan cinta diatas segalanya, dan naasnya itu bukan cintanya. Mengenaskan.
" Ayo Myl kita pulang bareng." Morata menggandeng tangan Myla.
" Pulang aja duluan." Myla melepaskan genggaman tangan Morata. Genggaman tangan yang dulu bisa membuatnya hangat dan menjalarkan kebahagian disetiap pembuluh daranya kini hanya terasa hambar; dingin dan datar.
" Kamu yakin?"
" Iya, lagipula aku kayaknya masih ada urusan sama Selena."
" Bye." Morata melambaikan tangannya.
" Bye." Myla hanya menatap punggung itu pergi.
Myla mengacak-acak rambutnya sendiri, merutuki kelancangannya membuka hape Morata dan mendapati kenyataan bahwa Morata memang sedang jatuh cinta dengan gadis berwajah oriental dan juga seorang fans Barca bernama Zi.

****

Tv Zi menyala, sedang menyiarkan pertandingan antara Real Betis vs Barcelona. Kali ini Zi nggak bisa mendukung klub bola kesayangannya langsung di stadion karena tugas kuliah memang sedang menumpuk disana-sini.
Tapi mata sipit itu tak sepenuhnya memandang tivi, kebanyakan pandangan itu tertuju pada kertas-kertas dan tumpukan buku tebal yang membuat siapapun yang melihatnya jengah. Zi sedikit melirik hape nya ada beberapa pesan disana. Ah kalau memang perlu juga bakalan nelpon, lagian yang biasanya kontak sama aku kan itu itu mulu. Batin nya.
Seusai menyelesai tugas Zi melirik televisi, tenyata pertandingan telah usai sejak tadi. Bahkan sudah berganti dengan acara berita malam yang hampir selesai, ia mengecek hape nya. 8sms masuk. 5Morata 2 Neymar 1Kylie? Zi mengankat sebelah alisnya. Kylie?

From : Morata
Semangat sipit ^^

Sisanya sama, hanya emote yang membedakan. Nggak usah dibalas.

From : Kylie
Ada yang tau Barca vs Betis jam berapa mainnya? Please help me, mau dukung bebeb Cesc nih :(.

" Nggak perlu dibalas palingan juga udah tau." ocehnya sendiri. Dan Zi sangat yakin kalau Kylie juga mengirim sms yang sama pada semua pemain Barca yang lain.


From : Neymar
Kamu besok kuliah siang kan? Aku anterin ya? Mumpung lagi free besok, kangen juga sama kampus :).

Zi mengecek sms yang satunya lagi, dia bingung ingin menjawab apa sms tadi.

From : Neymar
Zi ingetkan kalau besok jadwalnya kamu cek jantung lagi? Obat masih ada kan?

Zi mengingat-ngingat sebentar. Lalu ia menepuk jidatnya sendiri, besok memang ia harus periksa jantung lagi. Akhir-akhir ini memang nggak ada tanda-tanda jantungnya mengalami masalah, tapi ini akan menjadi masalah serius jika ia kehabisan obat.

To : Neymar
Ok deh ;). Makasih ya udah ngingetin aku buat periksa jantung {}, aku aja nggak inget besok waktunya periksa lagi.

Zi meregangkan otot-otonya, membereskan buku-buku lalu beranjak ke kamar tidur. Mencoba untuk terlelap bersama mimpi-mimpi indahnya.

****

Saat Zi terbangun ia mendapati sebuklet mawar putih disebelah tempat tidurnya. Matanya mengerjap, benarkah ini? Mawar putih?
" Siapa ini?" Zi meraba tangan yang menutupi matanya.
" Surprise Zi."
" Ney."
" Mukamu lucu Zi pas bangun tidur."
" Jangan ngejek. Eh tapi kamu kok bisa masuk rumahku?"
" Kamu nggak inget ya? kan aku punya kunci duplikat."
" Dimana kamu ngambilnya?" Zi was-was.
" Ya ampun Zi, kan kamu dulu pernah pingsan dan aku anterin kerumah. Jadi aku ada dong kunci duplikat."
Zi menendang selimut yang menutupi tubuhnya. " Tunggu sebentar ya Ney, aku mau mandi dulu. Jangan ngintip." Zi memasang muka sangar.
" Hahaha… buat apa aku ngitipin kamu, Bruna lebih sexy tau."
BUKK. Zi melempar boneka pandanya tepat di dada Neymar. Entah kenapa dia cemburu ketika Neymar membanding-bandingkannya dengan Bruna.
" Kenapa Zi cemburu ya?" tanya Neymar jahil sambil melangkah keluar kamar.
" Enggak tuh ngapain cemburu sama situ. Apa hak ku."
Ketika Zi bersiap membuka handle pintu ia terkesiap mendengar penyataan Neymar, " Tenang aja kok Zi kalau jodoh nggak kemana, palingan juga ntar ke altar dengan sendirinya."
"What? Apa maksudnya coba kalau jodoh nggak kemana?" batin Zi.
Neymar mengamati setiap centi isi ruangan rumah Zi yang sudah cukup ia hapal. Matanya tertuju pada sebuah foto. Diambil nya foto itu, foto gadis kecil berpakaian ala anak perempuan China yang sedang merayakan Imlek. Dibalik figuranya terdapat tulisan dengan 2 bahasa. Satu bahasa China yang Neymar tak tau cara membaca tulisan tersebut apalagi artinya, dan bahasa Inggris bertuliskan "My 5th Birthday".
" Hayo ngapain?" Neymar tersentak ketika Zi tiba-tiba mengejutkannya.
" Udah selesai? Cepet banget." Neymar melirik jamnya. " Jalan yuk Zi."
" Kemana?"
" Nggak tau juga sih. Ntar deh kita tentuin dijalan aja gimana?"
" Aku sih acc aja."
" Let's go." Neymar langsung menggandeng tangan mungil Zi.

****

Jalan-jalan Zi dan Neymar kali ini berujung di sebuah kafe yang menyediakan berbagai jenis Ice Cream; makanan favorit Zi, yang letaknya nggak jauh dari kampus.
" Zi habis ini langsung ke kampus?"
" Iya Ney, kamu ada kuliah?"
" Nggak ada sih, kamu?"
" Nggak ada juga."
Lalu mereka berdua pun tertawa. Jika orang tak mengenal mereka berdua, mungkin orang-orang itu akan mengira kalau Zi dan Neymar adalah sepasang kekasih dan baru dimabuk arak cinta.
Seseorang mengamati mereka berdua dengan tatapan dengki dari balik kaca mobil. Cowok itu membawa sebuklet mawar putih kesukaan Zi.
Perlahan mobil itu melaju kencang, membawa sejuta benci, sejuta perih dan berjuta rasa sakit hati bagi pengendaranya. Cowok itu adalah Morata, ia sengaja datang ke Barca tanpa sepengetahuan Zi sebagai sebuah kejutan.
Tapi apa yang dia harapkan tak sesuai kenyataan. Dia memang melihat senyum dan tawa Zi, tapi sayang semua itu bukan untuknya, bukan dihadapannya. Tapi semua yang dia lihat untuk Neymar.
Perlahan-lahan kristal-kristal air merembes disudut mata Morata. Hatinya terlalu pedih untuk menyaksikan "pertunjukan" tadi, apa yang dia harapkan hanyalah sebatas khayalan semata.
Sementara itu Neymar dan Zi masih asyik menikmati sajian mereka. Zi sama sekali tak menyadari kalau dia telah membuat seseorang terluka tanpa ia tau.
Hape Zi berdering, sebuah pesan masuk.

From : Morata
Mungkin aku tak layak menyatakan ini, tapi inilah adanya Zi, aku mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Aku tak tau perasaan ini benar apa nggak, yang jelas berbahagialah dengan semua pilihan hatimu.

Muka Zi langsung pucat pasi. Dengan cepat tangannya menyentuh layar touch screen hape nya, membalas pesan singkat penuh makna dari Morata.

To : Morata
Kenapa kamu bilang begitu Mor? Kenapa kamu bilang kalau kamu nggak layak? Kamu lebih dari sekedar layak, kamu teristimewa dihatiku. Love you too.

From : Morata
Jangan pernah mendustaiku kali ini Zi 

To : Morata
Kenapa ku mendustai perasaanku sendiri? Apa untungnya bagiku? Kenapa kamu kayak gini ke aku Mor? Kenapa?

Bahu Zi tersengal, dia menangis. Menangisi ketidaktahuannya kenapa Morata bisa sampai seperti ini.
" Zi kamu kenapa?"
Zi tak bergerak sama sekali, hanya bahunya saja yang masih tersengal.
" Aku ada salah ya Zi?" Zi menggeleng. " Lalu?"
" Morata." satu kata yang sanggup membuat Neymar mematung seketika. Mendengar nama itu disebut oleh Zi membuatnya seperti orang yang jantungnya sedang ditusuk dengan pisau belati berkarat dari belakang.
" Kamu diapain sama dia?"
" Enggak papa Ney, bisa anterin aku pulang nggak?" Zi sedikit menyeka air matanya.
" Baiklah." Neymar hanya bisa pasrah.
Selama perjalanan, Zi memilih bungkam sambil mengamati orang-orang yang sedang berlalu lalang.
" Kau yakin baik-baik aja Zi."
Zi berbalik sebelum membuka pintu rumahnya, " Aku yakin, sangat sangat yakin." Zi memaksakan senyum agar Neymar yakin kalau dia baik-baik saja.
" See you Zi."
" See you." senyumnya memudar.

****

Sesampainya di kota Madrid tempat pertama yang Morata tuju adalah rumah Myla; sahabat baiknya.

Tokk…tokk…tokk….

" Siapa?"
" Myl ini aku Morata."
" Tunggu sebentar ya." jawab Myla sedikit ogah-ogahan.
Mata Myla langsung berbinar melihat Morata datang dengan sebuklet mawar putih ditangannya. Apapun bunganya jika Morata yang memberikan itu akan sangat bermakna bagi Myla, apalagi kalau bunga deposito :p.
" Untukku?" Myla menunjuk mawar ditangan Morata. Kini Morata merasa kikuk dengan mawar ditangannya.
" Eh, iya ini untukmu." jawab Morata sedikit tergagap.
" Makasih ya Mor. Mari masuk."
" Eh kayaknya aku harus buru-buru."
" Ya udah hati-hati ya."
" Bye."
Hati Myla semakin berbunga-bunga, ia bahkan sangat yakin bahwa bunga itu ditujukan untuknya sebagai ucapan maaf dari Morata. Padahal seharusnya bunga itu berada di tangan gadis yang membuat Myla kecewa dengan Morata; Zi.

****

Zi meremas-remas kertas bertuliskan kata-kata untuk Morata yang sedari tadi ia tulis lalu ia remas dan buang. Hanya itu yang Zi lakukan.
" Ya tuhan apa yang telah terjadi padaku? Ini yang pertama aku merasakannya. Merasakan rasa kecewa yang amat sangat dalam. Beri aku ketenangan menghadapi ini, menghadapi semua kerumitan masalah cintaku." Zi mengacak-acak rambutnya sendiri. Perlahan air mata kembali menetes membasahi pipi chubby nya.

-Insya Allah bersambung-







Tidak ada komentar:

Posting Komentar