SpongeBob SquarePants

Rabu, 11 Desember 2013

Bisakah ini Cinta?


Title : Bisakah Ini Cinta?
Rating : seperti biasanya, Insya Allah aja T (Amiinn)
Genre : Romance (sepenuhnya dipaksakan)
Cast :
Zia Carter <--- apapun keadaannya anggep aja dia Bruna Marquezine
Marc Marquez
Robert Lewandowski
Other...

Lu anggep cerita ini seriusan gue jotos. Tapi kalaupun ini (jadi) kisah nyata ya Alhamdulillah *yang nulis ngarep*.  alurnya kecepetan? 120km/jam aja kok :D

****

 Marc membolak-balik halaman buku. Tangannya dengan cekatan mencatat beberapa hal yang dianggapnya penting. Matanya dengan jeli membaca kata demi kata yang jumlahnya ribuan itu.
" Serius ama luh Marc." Zi mencondongkan tubuhnya, melihat aktifitas sahabatnya itu lebih dekat.
" Iya nggak kayak kamu." Marc tak menoleh sama sekali.
Zi hanya memanyunkan bibirnya. Pipinya yang tembem membuat gadis itu lebih terlihat seperti Masha di serial kartun "Masha and The Bear"
" Ngambek ya Zi?"
" Nggak tuh." Zi masih memanyunkan bibirnya. Marc yang gemas hanya mencubit pipi Zi dan melanjutkan aktifitasnya.
" Keluar yuk Marc. Gak boring apa dikelas mulu."
" Kalau mau keluar silahkan aja Zi. Nanggung nih tugas."
Lagi-lagi Zi memanyunkan bibirnya. Sebenarnya dirinya sangat ingin menghabiskan beberapa menit saja dengan Marc diluar kelas. Tapi cowok maniak buku itu selalu saja berdiam diri dikelas, seperti tak mau menampakkan dirinya ke dunia luar. Walaupun hanya untuk lingkungan sekolahnya.
" Eh Zi kenapa cemberut?"
" Biasa Lew, si Marc."
" Kenapa lagi?" Lewy memandangi Zi penuh perhatian. Sejujurnya Lewy merasa jengah dengan sikap Zi. Meskipun Marc selalu mengabaikan Zi, tapi entah kenapa Zi terus ingin bersama Marc.
" Dia nggak mau aku ajak keluar kelas. Masa sih manusia isi hidupnya cuman belajar—baca buku—ibadah—tidur. Social life nya kapan?"
" Ya udah sama aku aja." Lewy membujuk Zi seperti membujuk anak umur lima tahun yang baru saja dilarang orang tuanya membeli ice cream.
Masih dengan wajah kucelnya, Zi langsung menggandeng tangan Lewy. Setengah menyeret tangan itu bersama pemilik nya menuju kafeteria. Lewy hanya pasrah, toh dalam hati ia mengharapkan ini kan? Mengharapkan tangannya digandeng Zi—dengan cara apapun.

****

Marc merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pagi ini. Marc mencoba mengingatnya.
" Perasaaan ada yang kurang deh. Tapi apa?" Marc bergumam sendiri.
Pandangannya kemudian tertuju pada bangku kosong disebelahnya. " Oh iya Zi." ucapnya dalam hati sambil menepuk jidatnya sendiri. Beberapa anak yang sudah ada didalam kelas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Jam pelajaran pertama hampir saja selesai namun Zi tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Marc semakin cemas, meskipun ia terkadang sedikit terganggu dengan ke-hyperaktive'an gadis itu tapi entah kenapa ia malah merasa kehilangan sekarang.
" Maaf  mom saya terlambat." Zi masih menundukkan wajahnya.
Marc yang mendengar suara itu langsung mendongak. Benar Zi ada disana.
" Karena pelajaran saya hampir berakhir dan kamu baru datang jadi kamu nggak boleh ikut pelajaran saya."
" Tapi mom…"
" Baiklah anak-anak kalian paham?"
Mrs. Eva sama sekali tak memperdulikan Zi yang masih berdiri dihadapannya. Guru cantik—tapi galak—itu malah menanyai anak murid yang lain. Zi langsung keluar kelas begitu saja—tanpa permisi.
Dari salah satu sudut kelas Marc hanya bisa mengamati Zi keluar dengan air muka bersalahnya. Zi memang tak pernah terlambat sekolah, apalagi sampai seperti ini.
Mrs. Eva baru saja keluar ruangan. Marc buru-buru membuntutinya. Bukan karena ia ingin menjadi stalker Mrs. Eva tapi lebih untuk ingin segera tau dimana Zi berada.

****

Mata Lewy terus memperhatikan seorang gadis yang sejak tadi duduk terpengkur disebuah bangku didekat perpustakaan. Ia ragu untuk mendatangi gadis itu. Dalam hati ia merasa kalau gadis itu adalah Zi, tapi setengah hatinya juga ragu, kenapa Zi ada disana? Bukan didalam kelas yang jaraknya hanya seumpama sejengkalan kaki?
Baru tiga kali kakinya melangkah. Seorang pemuda menghampiri gadis yang sama. Sekarang ia sangat yakin gadis tadi adalah Zi, karena pemuda yang baru saja menghampirinya adalah Marc. Marc langsung mempersilahkan Zi menyandarkan kepalanya di bahunya. Pemandangan itu membuat Lewy perih. Karena Lewy tau betapa Zi sangat mengharapkan hal itu.

****

Marc bisa langsung menemukan Zi. Karena gadis itu duduk dibangku didekat perpustakaan yang jaraknya tak jauh dari muka kelas. Marc melihat Zi yang terus menunduk.
Perlahan bahu Zi tersengal. Buru-buru Marc berlari dan langsung menempatkan pundaknya untuk sandaran Zi—ketika ia menangis.
Tangisan Zi sedikit mereda saat ada seseorang yang menawarkan bahunya. Seketika itu ia mendongak, ia pikir bahu itu milik Lewy. Ternyata bahu itu milik Marc.
" Udahlah Zi toh kamu baru sekali ini kan terlambat?" Marc mengusap lembut rambut panjang Zi. Zi hanya bisa terdiam sambil menikmati setiap sentuhan itu.
" Gak usah terlalu dipikirin kata-kata nya Mrs. Eva tadi. Sini sandaran lagi." Marc kembali menempatkan kepala Zi dipundaknya berharap gadis itu bisa tenang.
Bagi Zi ini tak hanya ketenangan. Tapi juga sebuah kebahagian yang selalu ia idam-idamkan kedatangnya—sebuah kebahagiaan dari surga.

****

Dimalam prom, Zi tampil anggun dengan balutan gaun selutut berwarna pink. Rambutnya dibiarkan terurai, hanya ada sebuah jepit kecil di salah satu sisinya. Dirinya mampu membuat semua mata terpesona. Zi memang cantik dan punya wajah lumayan baby face tapi melihat Zi berdandan memang jarang.
" Hay Cantik." Pipi Zi langsung memanas ketika pujian Marc terlontar padanya.
" Kamu lumayan tampan Marc kalau pake jas." Zi mengucapkannya sambil terus tertunduk—tersipu malu. Lamat-lamat Marc merasakan jantungnya berdegup kencang. Sebuah desiran halus melewati pembuluh darahnya—hangat.
Lewy hanya bisa menyaksikan pemandangan tadi dari kejauhan. Sebenarnya dirinya sangat ingin mendekati Zi dan mengajaknya berdansa. Tapi Marc disebelah Zi terlihat sepeti seongok es dari kutub utara yang baru saja tersesat di Barcelona.
" Lew.." suara panggilan Zi membuat Lewy mendongak.
Masih disebelah Marc gadis itu memanggilnya sambil melambaikan tangan. Isyarat agar Lewy mendekat kearahnya. Dengan langkah gontai Lewy mendekat.
" Gak bawa cewek Nin?" Marc menanyai Lewy sambil memainkan alisnya.
Sebagai striker andalan klub sepakbola sekolah dan sering menjuarai beberapa kompetisi bergensi—keluar sebagai top skorer—cukup mengherankan kalau Lewy tak memiliki pasangan prom.
" Males ah. Dandanan nya kayak tante-tante semua." Lewy melempar pandangan jengah kearah segerombol cewek-cewek yang tengah memandanginya.
Sepanjang malam prom Lewy hanya memandangi kemesraan antara Marc dan Zi. Hatinya terlampau perih. Malam prom yang harusnya menjadi malam paling mengensakan saat lulus SMA kini malah menjadi malam petaka bagi Lewy. Petaka saat melihat bagaimana dekatnya Zi dengan Marc—Petaka karena bukan dia yang tengah berdansa dengan gadis itu.

****

" Lew kamu tau nggak Marc baru aja beliin aku boneka lucu loh." Zi memandang ke langit-langit apartemen Lewy. Matanya menerawang jauh.
Lewy mencoba antusias, padahal dalam hati ia tak pernah menghendaki mendengar nama itu keluar dari ucapan Zi. Terdengar bersama seulas senyum bahagia nya. Baginya itu perih, bagi Lewy itu sebuah penyiksaan.
" Mungkin boneka ini nggak lucu tapi ini buat kamu." Lewy menyerahkan sebuah boneka panda seukuran bayi. Boneka itu ia sembunyikan dibawah tempat tidur.
" Ini lucu Lew." Zi langsung memeluk erat boneka tersebut. " Tapi kenapa kamu sembunyiin dikolong Lew?"
" Sebenarnya itu boneka buat seorang cewek. Tapi ah sudahlah toh dia udah punya pacar."
" Bodohnya tuh cewek. Masa cowok tampan dan seromantis Lewy kayak gini disia-siain sih." Zi menopangkan dagunya di kepala boneka yang kini menjadi miliknya.
Ada getaran yang melewati pembuluh Lewy. Seperti tersengat listrik. That’s it terkadang cinta memang seperti sengatan listrik.
" Kamu salah berfikir Zi. Cewek itu bukan cewek yang bodoh. Karena gadis itu adalah kamu. Seseorang yang memiliki boneka itu beserta cinta ku." Lewy tersenyum—getir.

When you speak of him, you look so happy (you look happy)
It’s good that you can be this happy (I’m happy)
You say you really love him, want to be with him forever
You trust him completely (I don’t know what to say no more)
Your friends all know that guy (yup they know)
It’s so obvious, why can’t you see (it’s you)
They say love is blind, Oh baby, you’re so blind
Please, I beg you, break it off
[ That XX - G-Dragon]


****

Malam ini Lewy hanya menatap nanar undangan berwarna silver yang dihiasi pita berwarna gold dihadapannya. Hatinya remuk saat ini. Masih segar dalam ingatannya malam prom yang pernah ia nobatkan menjadi malam paling menyedihkan dalam hidupnya. Malam dimana Zi tak terpisahkan dengan Marc. Kini datang satu bencana lagi. Sebuah rencana yang akan memisahkan ia dengan Zi selamanya.
" Kejadian itu memang sudah empat tahun yang lalu Zi. Tapi aku masih mengingatnya. Kenapa kau buka luka lagi Zi? Kenapa?" diremasnya undangan itu.
Lewy tak tau apa yang akan ia hadapi kalau dirinya datang? Apa yang akan ia lihat? Semuanya terlampau pedih.
" Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu Zi—apapun itu." Lewy menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Mencoba untuk sedikit mengurangi rasa sakit yang menjalar disekujur tubuhnya. Matanya menatap langit-langit apartemen. Bayangan manis Zi ketika tersenyum berlalu lalang, bahkan bayangan Zi ketika menangis juga berkelebatan dibenaknya. Semuanya kini tentang Zi. Semuanya tentang gadis itu.
Belum sempat Lewy memejamkan mata, suara bel membuyarkannya. Seseorang datang? Malam-malam begini? Dengan semangat yang tersisa ia mencoba berdiri dan berjalan keluar.
" Lew…" senyuman manis langsung menyambut Lewy ketika pintu apartemen terbuka.
Dirinya langsung membeku. Benarkah ini? Senyum yang tadi aku bayangkan?
" Zi?"
" Iya ini aku Lew."
Zi masih menyuguhkan senyum manisnya. Senyum polos yang belum berubah sampai sekarang.
" Kenapa?" Lewy terlalu kaku untuk mengatakan sesuatu. Tapi sebuah senyum tersungging disudut bibirnya.
" Kamu sudah dapat undangan kan?"
Seketika senyuman tadi hilang. Berganti dengan senyum pahit penuh keterpaksaan. " Sudah kenapa?"
" Kamu mau kan Lew jadi pendamping pria?" Zi menatap Lewy penuh harap.
Hati Lewy bergemuruh. Menghadiri acara itu saja sudah sangat enggan apalagi harus menjadi pendamping pria. Setengah hati Lewy menolak, setengahnya lagi mengiyakan. Bisa jadi ini adalah permintaan terakhir Zi sebelum benar-benar pergi dengan kehidupan barunya—bersama Marc.
" Ayolah Lew kumohon."
" Baiklah." suara Lewy melemah.
Zi langsung menghamburkan pelukkannya kearah Lewy. Lewy hanya membalas hambar. Pelukan itu dulunya sangat berarti. Sekarang tidak lagi. Pelukkan iu bukan apa-apa kecuali hanya sebuah dekapan dingin tubuh mungil Zi dibadannya yang jangkung.

****

Hari ini adalah hari terbahagia bagi Zi. Hari ini ia sah menjadi Mrs. Marc Marquez—hal yang sudah ia idamkan sejak lama.
Lewy hanya bisa menyaksikan semua itu. Menyaksikan gadis yang paling ia cintai menikah dengan lelaki lain. Lelaki yang sering membuat gadis itu menangis, bad mood dan sebagainnya.
" Selamat ya Zi." Lewy merengkuh tubuh mungil dihadapannya itu. Mungkin ini pelukan terakhirnya. Mungkin juga tidak.
" Selamat Marc." Lewy hanya menjabat tangan Marc dingin.
" Cepet nyusul ya Lew." Ucapan Marc hanya berbalas senyum pahit Lewy.

****

Entah untuk yang keberapa kalinya Zi hanya bisa menatap sosok yang tengah tertidur dihadapannya. Tangannya membelai lembut wajah itu. Menelusuri setiap senti salah satu anugrah tuhan yang terindah yang pernah diberikan kepadanya.
" Marc tak peduli seberapa dinginnya kamu. Tak peduli betapa kamu lebih mencintai pekerjaanmu ketimbang aku. Aku tetap mencintaimu." usai mengakhiri kalimatnya Zi mengecup pelan bibir Marc.
Zi menempatkan tubuhnya serapat mungkin dengan Marc. Matanya mencoba terpejam. Mencoba untuk memimpikan hal indah yang mungkin bisa ia lalui dengan Marc—suaminya.

-----

" Zi kenapa aku nggak dibangunin?"
" Kamu tadi malam lembur Marc kamu perlu istirahat."
" Dan membiarkan aku telat ke kantor? Zi apa yang dipikirkan karyawanku nantinya? Apa kamu nggak mikir sampai ke situ."
" Maaf." suara Zi terlampau lirik. Tenggorokannya seolah kering.
" Apa maaf mu itu cukup?"
Zi hanya terdiam dan masih terus menunduk. Marc melangkahkan kakinya menuju pintu. Dibantingnya pintu itu keras-keras dan membuat Zi tersontak.


Pernahkah kau bicara?
Tapi tak didengar, tak dianggap, sama sekali
Pernahkah kau tak salah?
Tapi disalahkan, tak diberi kesempatan


Zi menyandarkan tubuhnya didepan kulkas sambil memeluk lututnya. Ia takut. Takut karena Marc begitu marah padanya. Takut seolah ia akan kehilangan Marc.
Zi merasaka kehilangan Marc. Laki-laki itu berubah. Menjadi sangat dingin dan kaku. Selalu sibuk dengan segudang pekerjaannya. Bersama setumpuk buku-buku yang lebih ia cintai ketimbang istrinya sendiri.
Air mata Zi meleleh. Kenapa Marc jadi seperti ini? Mana Marc suamiku yang dulu? Hanya itu pertanyaan yang jawabannya paling ini Zi ketahui.

****

Dengan menahan kantuk Zi menanti Marc yang baru pulang pukul 2 pagi. Matanya mencoba bertahan dari deraan kantuk yang menerjang. Kejengkelan hatinya dan kemarahannya sudah tak bisa ditoleransi. Ia ingin Marc tau betapa ia sangat rindu sosok itu. Sosok yang hanya bisa ditatapnya ketika terlelap.
" Zi. Belum tidur?"
" Aku menantimu pulang." ketus Zi.
" Kenapa kamu? Nggak biasanya kamu cuek begini?" Marc menyerngitkan dahinya. Alisnya saling bertautan.
" Marc aku pengen kamu jawab satu pertanyaan." suara Zi lantang.
" Apa? Tanyakan saja."
" Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama aku?"
" Cinta."
" Sayang nggak sih?"
" Jelas dong aku sayang kamu." Marc masih tetap pada posisinya.
" Sekarang kamu pilih aku atau pekerjaanmu."
Badan Marc seketika kaku. " Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
" Aku merasa selama kita menikah hanya 1-2 bulan awal aku menjadi istrimu. Sisanya istrimu itu ya pekerjaan sama buku-buku ilmiahmu itu." Zi menyilangkah tangannya didada dengan santai.
" Zi…"
" Kenapa? Kamu mau menamparku? Silahkan. Mau mukul aku? Silahkan."
" Kamu habis kerasukan apa sih Zi?"
" Aku hanya ingin dianggap sebagai istri Marc." mata Zi mulai berkaca-kaca, sifatnya sebagai perempuan pun muncul.
" Kamu istriku Zi. Istri tercintaku." Marc langsung memeluk Zi. Mendekapnya.
" Kalau aku istrimu apa kau ingat kapan kamu terakhir kamu mengucapkan selamat pagi untuku ku, kapan terakhir kamu memberikan ku morning kiss, bahkan kapan terakhir kamu memelukku ketika tidur saja kamu pasti tak ingat." bahu Zi tersengal.

Kuhidup dengan siapa?
Tak tau kau siapa?
Kau kekasihku, tapi orang lain bagiku
Kau dengan dirimu saja
Kau dengan duniamu saja
Teruskanlah, teruskanlah
Kau begitu….


Marc hanya bisa terdiam. Apa yang ditanyakan Zi memang tak bisa ia jawab. Ia terlalu egois untuk meluangkan waktu bersama istrinya. Ia terlalu egois untuk meninggalkan pekerjaan. Bahkan ia pernah membentak Zi hanya karena Zi tak membangunkan nya. Zi melakukan itu karena Zi punya alasan, sedangkan ia? Ia membentak Zi tanpa alasan jelas. Hanya karena takut reputasinya sebagai pemimpin perusahaan rusak?
" Maafkan aku Zi. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya. Aku janji Zi."
" Aku nggak tau Marc kapan janji itu bakalan kamu tepatin. Aku butuh realita Marc bukan janji yang hanya ada dalam ilusi ku semata." Zi menjauhkan tubuhnya dari dekapan Marc.
" Kamu mau kemana Zi?"
" Pergi kesuatu tempat dimana aku bisa dianggap sebagai manusia."
" Tapi ini masih dini hari Zi."
" Jangan khawatirkan aku Marc. Aku sudah tak berhak atas perhatianmu." langkah Zi meninggalkan beribu bekas parutan dalam dada Marc.
Janji Marc sia-sia. Zi telah pergi dan tak akan pernah kembali.


Kau tak butuh diriku
Aku patung bagimu
Cinta bukan, kebutuhanmu


****

" Lew cepetan bukain pintunya." Zi mencoba untuk berteriak. Tapi dirinya yang hampir membeku hanya bisa berharap suara bisa didengar Lewy yang mungkin tengah tidur.
Ternyata tak menunggu waktu lama pintu itu terbuka. Lewy menatap heran sosok dihadapannya.
" Zi kenapa kamu kesini? Mana Marc?"
" Tolong Lew jangan sebut nama itu sekarang." setitik airmata mengalir dipipinya
" Memangnya ada apa?"
" Ceritanya panjang."
" Ya udah Zi masuk deh. Dingin banget ya diluar? Mau minum?" Zi hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Ini bukan hanya dingin lagi, tapi mendekati titik beku.
Setelah itu Zi menceritakan semua kejadian yang baru saja ia alami. Kejadian yang membuatnya berpisah dengan Marc. Kejadian yang mengubah hidupnya—selamanya.
Lewy terpaku mendengar semua cerita Zi. Ia tak menyangka apa yang telah di pilih Zi. Jalan ini kah yang ia mau? Sejujurnya ia sedikit lega karena ia bisa mendapatkan Zi lagi. Tapi kenapa harus perpisahan seperti ini yang harus dialami Zi? Apakah tak ada cara lain yang bisa memisahkan Marc dengan Zi tanpa harus menyakiti Zi?

That XX, what does he have that I don’t
Why can’t I have you
That XX doesn’t love you
How much longer are you going to cry yourself silly?
[That XX - G-Dragon]

****

Same bed but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio but it don't sound the same
When our friends talk about you, all it does is just tear me down
'Cause my heart breaks a little when I hear your name


Kini yang Marc bisa lakukan hanyalah memandang kamar tidur yang dulu sering ia dan Zi tempati. Tidak, hanya Zi yang sering disini. Tiga tahun yang berat, tiga tahun tanpa Zi. Semuanya terasa buram. Akhirnya ia tau betapa ia mengharapkan Zi, betapa ia sangat membutuhkan Zi.
Kepalanya pening memikirkan kenapa dulu ia selalu menyianyiakan Zi? Kenapa dulu ia tak pernah peka dengan apa yang Zi rasakan. Semuanya hanyalah sebuah penyesalan. Penyesalan yang takkan pernah ada ujungnya.


My pride, my ego, my needs, and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life
Now I never, never get to clean up the mess I made, ohh…
And it haunts me every time I close my eyes


Dulu ia selalu menolak permintaan maaf Zi ketika wanita itu merasaka bersalah. Tapi sekarang ia tau, kata maaf tak selamanya mampu meluruskan masalah. Kata maaf memang tak pernah cukup. Dan kata maaf terlampau mundah ketimbang memaafkan.


Although it hurts
I'll be the first to say that I was wrong
Oh, I know I'm probably much too late
To try and apologize for my mistakes

That I should've bought you flowers
And held your hand
Should've gave you all my hours
When I had the chance


" Marc… Marc…"
Marc langsung terlonjak dari tempat tidurnya. Jantungnya berdegub kencang. Buru-buru ia keluar mencoba memastika kalau dirinya tak salah dengar.
" Zi?"
" Iya ini aku."
" Kamu kenapa kesini?"
" Cuma pengen ngasih ini aja Marc." Zi menyerahkan sebuah undangan berwarna biru dengan hiasan pita berwarna pink.
Setelah menyerahkan undangan tadi Zi langsung berbalik. Disampulnya tertera nama Zia&Lewy. Ekor mata Marc hanya menatap mantan istrinya itu pergi. Dimuka pagar rumahnya ternyata Lewy tengah duduk diatas kap mobil sambil menyilangkan tangannya didada. Marc merasakan seseorang sepertinya baru saja melucuti satu per satu tulangnya. Ditatapnya bayangan Zi sambil mencoba untuk terus tersenyum.

I hope he buys you flowers
I hope he holds your hand
Give you all his hours
When he has the chance
Take you to every party
'Cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done
When I was your man

****

Zi melangkahkan kakinya sambil terus tersenyum. Lewy yang tengah duduk dikap mobil langsung membalas senyum calon istrinya itu.
" Udah kan sayang?"
" Udah kok."
Lewy langsung merengkuh tubuhl Zi dalam pelukannya kemudian mengecup sekilas bibir mungilnya.
" Pulang yuk dingin." Lewy merapatkan pelukannya.
" Ok."
Kini kebahagian yang telah lama bergelayut manja dimimpi Zi terwujud sudah. Bukan bersama Marc—lelaki yang dicintainya. Tapi bersama Lewy—lelaki yang mencintainya.
Kebahagian memang terkadang tak datang dari orang yang kamu cintai, justru terkadang kebahagian datang dari sisi lainnya. Dari orang yang mencintaimu.


****

*setahun kemudian*


" Maafkan aku Zi kalau selama aku bersamamu aku tak pernah bisa membuatmu selalu tersenyum seperti sekarang."
Diam-diam Marc sering mengamati kegiatan Zi. Kali ini Marc menguntit Zi yang tengah duduk dibangku taman bersama Lewy. Sekarang Marc sudah lumayan bisa tersenyum lega. Zi bahagia, iya Zi bahagia. Kebahagian Zi kini menjadi kebahagian Marc juga.
Marc merasa kalau dirinya tak pantas untuk merutuki kepergian Zi. Zi pergi juga karena dia, karena Marc yang tak pernah peduli ketika Zi masih menjadi miliknya.

-----

ZI POV

Pagi ini aku duduk dibangku taman bersama suamiku yang mulai kucintai. Perhatiannya, kasih sayangnya, cintanya, dan semua yang ada padanya membuatku selalu berada diatas awan. Berbeda dengan masalalu ku yang membuatku terpuruk, dia membangkitkan ku.
" Anak papa lagi ngapai didalam? Main bola ya? Posisinya apa? Striker?" Lewy menempelkan telinganya diperutku yang mulai membesar karena kehamilanku memasuki bulan ke tujuh.
Aku tertawa geli. Tingkahnya lucu, menggemaskan dan terkadang romantis membuatku tak pernah ingin menjauhkan tubuhku sejengkal pun darinya. Orang bilang aku sangat manja saat bersama Lewy, tapi aku tak pernah peduli. Karena dengan manja aku semakin mencintainya. Jalanku untuk mencintainya.
" Anak papa jangan nakal ya didalam. Main bola nya jangan keras-keras, nanti mama sakit lo." Lewy menjauhkan telinganya. Giliran tangannya yang mengelus-elus perutku.
Aku sangat bahagia dengan ini. Hal yang seperti nya takkan pernah aku dapatkan jika aku masih memilih bersama dengan laki-laki itu—Marc.

-----

LEWY POV

Bisa melihat Zi tersenyum setiap hari seperti ini membuatku bahagia. Akhirnya aku bisa membahagian wanita yang aku cintai ini. Wanita yang aku cintai setelah ibuku. Wanita yang akan menjadi ibu untuk anak pertamaku dan anak-anakku selanjutnya.
" Makasih ya sayang udah mau menerima aku. Setelah apa yang aku alami dan aku lakuin ke kamu. Aku hanya mencoba untuk berjanji bahwa aku takkan melakukan kesalahan yang sama seperti dimasa lalu." ia mengelus pipiku pelan. Sentuhannya memabukkanku.
" Kesalahan bukan di kamu. Ini jalan tuhan, nggak ada yang salah." ku balas menyentuh pipinya.
" Inikah yang dikatakan cinta?" ia menatapku ragu.
" Ini bukan hanya cinta, tapi juga kasih sayang, kedamaian dan kebahagiaan. You not just only something, You're everything."
Lalu kuciumi bibirnya lembut. Dan ia membalas perlakuanku. Kuperdalam ciuman itu.

Bangku taman ini menjadi saksi. Dimana aku dan Zi ingin membuktikan bahwa kami saling mencintai. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Cintaku bersambut gayung


-TAMAT-
Gaje? Emang :p.







2 komentar:

  1. Hallo :)
    FF kamu bagus banget! beneran... feel nya dapet banget. oiya kalau ada waktu kunjungi blog aku juga ya http://realsindi.blogspot.com/ aku nulis FF juga disitu hehe

    BalasHapus
  2. Makasih, i'll read your ff asap ;)

    BalasHapus