Title : Bisakah Ini Cinta?
Rating : seperti biasanya, Insya Allah aja T (Amiinn)
Genre : Romance (sepenuhnya dipaksakan)
Cast :
Zia Carter <--- apapun keadaannya anggep aja dia Bruna Marquezine
Marc Marquez
Robert Lewandowski
Other...
Lu anggep cerita ini seriusan gue jotos. Tapi kalaupun ini (jadi) kisah
nyata ya Alhamdulillah *yang nulis ngarep*. alurnya kecepetan? 120km/jam aja kok :D
****
Marc membolak-balik halaman buku. Tangannya dengan cekatan
mencatat beberapa hal yang dianggapnya penting. Matanya dengan jeli membaca
kata demi kata yang jumlahnya ribuan itu.
" Serius ama luh Marc." Zi mencondongkan tubuhnya, melihat
aktifitas sahabatnya itu lebih dekat.
" Iya nggak kayak kamu." Marc tak menoleh sama sekali.
Zi hanya memanyunkan bibirnya. Pipinya yang tembem membuat gadis itu
lebih terlihat seperti Masha di serial kartun "Masha and The Bear"
" Ngambek ya Zi?"
" Nggak tuh." Zi masih memanyunkan bibirnya. Marc yang gemas
hanya mencubit pipi Zi dan melanjutkan aktifitasnya.
" Keluar yuk Marc. Gak boring apa dikelas mulu."
" Kalau mau keluar silahkan aja Zi. Nanggung nih tugas."
Lagi-lagi Zi memanyunkan bibirnya. Sebenarnya dirinya sangat ingin
menghabiskan beberapa menit saja dengan Marc diluar kelas. Tapi cowok maniak
buku itu selalu saja berdiam diri dikelas, seperti tak mau menampakkan dirinya
ke dunia luar. Walaupun hanya untuk lingkungan sekolahnya.
" Eh Zi kenapa cemberut?"
" Biasa Lew, si Marc."
" Kenapa lagi?" Lewy memandangi Zi penuh perhatian. Sejujurnya
Lewy merasa jengah dengan sikap Zi. Meskipun Marc selalu mengabaikan Zi, tapi
entah kenapa Zi terus ingin bersama Marc.
" Dia nggak mau aku ajak keluar kelas. Masa sih
manusia isi hidupnya cuman belajar—baca buku—ibadah—tidur. Social life nya
kapan?"
" Ya udah sama aku aja." Lewy membujuk Zi seperti membujuk anak umur lima tahun yang baru saja dilarang orang tuanya membeli ice cream.
" Ya udah sama aku aja." Lewy membujuk Zi seperti membujuk anak umur lima tahun yang baru saja dilarang orang tuanya membeli ice cream.
Masih dengan wajah kucelnya, Zi langsung menggandeng tangan Lewy.
Setengah menyeret tangan itu bersama pemilik nya menuju kafeteria. Lewy hanya
pasrah, toh dalam hati ia mengharapkan ini kan? Mengharapkan tangannya
digandeng Zi—dengan cara apapun.
****
Marc merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pagi ini. Marc mencoba
mengingatnya.
" Perasaaan ada yang kurang deh. Tapi apa?" Marc bergumam
sendiri.
Pandangannya kemudian tertuju pada bangku kosong disebelahnya. "
Oh iya Zi." ucapnya dalam hati sambil menepuk jidatnya sendiri.
Beberapa anak yang sudah ada didalam kelas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
heran.
Jam pelajaran pertama hampir saja selesai namun Zi tak kunjung
menampakkan batang hidungnya. Marc semakin cemas, meskipun ia terkadang sedikit
terganggu dengan ke-hyperaktive'an gadis itu tapi entah kenapa ia malah merasa
kehilangan sekarang.
" Maaf mom saya
terlambat." Zi masih menundukkan wajahnya.
Marc yang mendengar suara itu langsung mendongak. Benar Zi ada disana.
" Karena pelajaran saya hampir berakhir dan kamu baru datang jadi
kamu nggak boleh ikut pelajaran saya."
" Tapi mom…"
" Baiklah anak-anak kalian paham?"
Mrs. Eva sama sekali tak memperdulikan Zi yang masih berdiri
dihadapannya. Guru cantik—tapi galak—itu malah menanyai anak murid yang lain.
Zi langsung keluar kelas begitu saja—tanpa permisi.
Dari salah satu sudut kelas Marc hanya bisa mengamati Zi keluar dengan
air muka bersalahnya. Zi memang tak pernah terlambat sekolah, apalagi sampai
seperti ini.
Mrs. Eva baru saja keluar ruangan. Marc buru-buru membuntutinya. Bukan
karena ia ingin menjadi stalker Mrs. Eva tapi lebih untuk ingin segera tau
dimana Zi berada.
****
Mata Lewy terus memperhatikan seorang gadis yang sejak tadi duduk
terpengkur disebuah bangku didekat perpustakaan. Ia ragu untuk mendatangi gadis
itu. Dalam hati ia merasa kalau gadis itu adalah Zi, tapi setengah hatinya juga
ragu, kenapa Zi ada disana? Bukan didalam kelas yang jaraknya hanya seumpama
sejengkalan kaki?
Baru tiga kali kakinya melangkah. Seorang pemuda menghampiri gadis yang
sama. Sekarang ia sangat yakin gadis tadi adalah Zi, karena pemuda yang baru
saja menghampirinya adalah Marc. Marc langsung mempersilahkan Zi menyandarkan
kepalanya di bahunya. Pemandangan itu membuat Lewy perih. Karena Lewy tau
betapa Zi sangat mengharapkan hal itu.
****
Marc bisa langsung menemukan Zi. Karena gadis itu duduk dibangku didekat
perpustakaan yang jaraknya tak jauh dari muka kelas. Marc melihat Zi yang terus
menunduk.
Perlahan bahu Zi tersengal. Buru-buru Marc berlari dan langsung
menempatkan pundaknya untuk sandaran Zi—ketika ia menangis.
Tangisan Zi sedikit mereda saat ada seseorang yang menawarkan bahunya.
Seketika itu ia mendongak, ia pikir bahu itu milik Lewy. Ternyata bahu itu
milik Marc.
" Udahlah Zi toh kamu baru sekali ini kan terlambat?" Marc
mengusap lembut rambut panjang Zi. Zi hanya bisa terdiam sambil menikmati
setiap sentuhan itu.
" Gak usah terlalu dipikirin kata-kata nya Mrs. Eva tadi. Sini
sandaran lagi." Marc kembali menempatkan kepala Zi dipundaknya berharap
gadis itu bisa tenang.
Bagi Zi ini tak hanya ketenangan. Tapi juga sebuah kebahagian yang
selalu ia idam-idamkan kedatangnya—sebuah kebahagiaan dari surga.
****
Dimalam prom, Zi tampil anggun dengan balutan gaun selutut berwarna
pink. Rambutnya dibiarkan terurai, hanya ada sebuah jepit kecil di salah satu
sisinya. Dirinya mampu membuat semua mata terpesona. Zi memang cantik dan punya
wajah lumayan baby face tapi melihat Zi berdandan memang jarang.
" Hay Cantik." Pipi Zi langsung memanas ketika pujian Marc
terlontar padanya.
" Kamu lumayan tampan Marc kalau pake jas." Zi mengucapkannya
sambil terus tertunduk—tersipu malu. Lamat-lamat Marc merasakan jantungnya
berdegup kencang. Sebuah desiran halus melewati pembuluh darahnya—hangat.
Lewy hanya bisa menyaksikan pemandangan tadi dari kejauhan. Sebenarnya
dirinya sangat ingin mendekati Zi dan mengajaknya berdansa. Tapi Marc disebelah
Zi terlihat sepeti seongok es dari kutub utara yang baru saja tersesat di
Barcelona.
" Lew.." suara panggilan Zi membuat Lewy mendongak.
Masih disebelah Marc gadis itu memanggilnya sambil melambaikan tangan.
Isyarat agar Lewy mendekat kearahnya. Dengan langkah gontai Lewy mendekat.
" Gak bawa cewek Nin?" Marc menanyai Lewy sambil memainkan
alisnya.
Sebagai striker andalan klub sepakbola sekolah dan sering menjuarai
beberapa kompetisi bergensi—keluar sebagai top skorer—cukup mengherankan kalau
Lewy tak memiliki pasangan prom.
" Males ah. Dandanan nya kayak tante-tante semua." Lewy
melempar pandangan jengah kearah segerombol cewek-cewek yang tengah
memandanginya.
Sepanjang malam prom Lewy hanya memandangi kemesraan antara Marc dan Zi.
Hatinya terlampau perih. Malam prom yang harusnya menjadi malam paling
mengensakan saat lulus SMA kini malah menjadi malam petaka bagi Lewy. Petaka
saat melihat bagaimana dekatnya Zi dengan Marc—Petaka karena bukan dia yang
tengah berdansa dengan gadis itu.
****
" Lew kamu tau nggak Marc baru aja beliin aku boneka lucu
loh." Zi memandang ke langit-langit apartemen Lewy. Matanya menerawang
jauh.
Lewy mencoba antusias, padahal dalam hati ia tak pernah menghendaki
mendengar nama itu keluar dari ucapan Zi. Terdengar bersama seulas senyum bahagia
nya. Baginya itu perih, bagi Lewy itu sebuah penyiksaan.
" Mungkin boneka ini nggak lucu tapi ini buat kamu." Lewy
menyerahkan sebuah boneka panda seukuran bayi. Boneka itu ia sembunyikan
dibawah tempat tidur.
" Ini lucu Lew." Zi langsung memeluk erat boneka tersebut.
" Tapi kenapa kamu sembunyiin dikolong Lew?"
" Sebenarnya itu boneka buat seorang cewek. Tapi ah sudahlah toh
dia udah punya pacar."
" Bodohnya tuh cewek. Masa cowok tampan dan seromantis Lewy kayak
gini disia-siain sih." Zi menopangkan dagunya di kepala boneka yang kini
menjadi miliknya.
Ada getaran yang melewati pembuluh Lewy. Seperti tersengat listrik.
That’s it terkadang cinta memang seperti sengatan listrik.
" Kamu salah berfikir Zi. Cewek itu bukan cewek yang bodoh. Karena
gadis itu adalah kamu. Seseorang yang memiliki boneka itu beserta cinta
ku." Lewy tersenyum—getir.
When you speak
of him, you look so happy (you look happy)
It’s good that
you can be this happy (I’m happy)
You say you
really love him, want to be with him forever
You trust him
completely (I don’t know what to say no more)
Your friends
all know that guy (yup they know)
It’s so
obvious, why can’t you see (it’s you)
They say love
is blind, Oh baby, you’re so blind
Please, I beg
you, break it off
[ That XX -
G-Dragon]
****
Malam ini Lewy hanya menatap nanar undangan berwarna silver yang dihiasi
pita berwarna gold dihadapannya. Hatinya remuk saat ini. Masih segar dalam
ingatannya malam prom yang pernah ia nobatkan menjadi malam paling menyedihkan
dalam hidupnya. Malam dimana Zi tak terpisahkan dengan Marc. Kini datang satu
bencana lagi. Sebuah rencana yang akan memisahkan ia dengan Zi selamanya.
" Kejadian itu memang sudah empat tahun yang lalu Zi. Tapi aku
masih mengingatnya. Kenapa kau buka luka lagi Zi? Kenapa?" diremasnya
undangan itu.
Lewy tak tau apa yang akan ia hadapi kalau dirinya datang? Apa yang akan
ia lihat? Semuanya terlampau pedih.
" Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu Zi—apapun itu." Lewy
menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Mencoba untuk sedikit mengurangi rasa
sakit yang menjalar disekujur tubuhnya. Matanya menatap langit-langit
apartemen. Bayangan manis Zi ketika tersenyum berlalu lalang, bahkan bayangan
Zi ketika menangis juga berkelebatan dibenaknya. Semuanya kini tentang Zi.
Semuanya tentang gadis itu.
Belum sempat Lewy memejamkan mata, suara bel membuyarkannya. Seseorang
datang? Malam-malam begini? Dengan semangat yang tersisa ia mencoba berdiri dan
berjalan keluar.
" Lew…" senyuman manis langsung menyambut Lewy ketika pintu
apartemen terbuka.
Dirinya langsung membeku. Benarkah ini? Senyum yang tadi aku bayangkan?
" Zi?"
" Iya ini aku Lew."
Zi masih menyuguhkan senyum manisnya. Senyum polos yang belum berubah
sampai sekarang.
" Kenapa?" Lewy terlalu kaku untuk mengatakan sesuatu. Tapi
sebuah senyum tersungging disudut bibirnya.
" Kamu sudah dapat undangan kan?"
Seketika senyuman tadi hilang. Berganti dengan senyum pahit penuh
keterpaksaan. " Sudah kenapa?"
" Kamu mau kan Lew jadi pendamping pria?" Zi menatap Lewy
penuh harap.
Hati Lewy bergemuruh. Menghadiri acara itu saja sudah sangat enggan
apalagi harus menjadi pendamping pria. Setengah hati Lewy menolak, setengahnya
lagi mengiyakan. Bisa jadi ini adalah permintaan terakhir Zi sebelum
benar-benar pergi dengan kehidupan barunya—bersama Marc.
" Ayolah Lew kumohon."
" Baiklah." suara Lewy melemah.
Zi langsung menghamburkan pelukkannya kearah Lewy. Lewy hanya membalas
hambar. Pelukan itu dulunya sangat berarti. Sekarang tidak lagi. Pelukkan iu
bukan apa-apa kecuali hanya sebuah dekapan dingin tubuh mungil Zi dibadannya
yang jangkung.
****
Hari ini adalah hari terbahagia bagi Zi. Hari ini ia sah menjadi Mrs.
Marc Marquez—hal yang sudah ia idamkan sejak lama.
Lewy hanya bisa menyaksikan semua itu. Menyaksikan gadis yang paling ia
cintai menikah dengan lelaki lain. Lelaki yang sering membuat gadis itu
menangis, bad mood dan sebagainnya.
" Selamat ya Zi." Lewy merengkuh tubuh mungil dihadapannya
itu. Mungkin ini pelukan terakhirnya. Mungkin juga tidak.
" Selamat Marc." Lewy hanya menjabat tangan Marc dingin.
" Cepet nyusul ya Lew." Ucapan Marc hanya berbalas senyum
pahit Lewy.
****
Entah untuk yang keberapa kalinya Zi hanya bisa menatap sosok yang
tengah tertidur dihadapannya. Tangannya membelai lembut wajah itu. Menelusuri
setiap senti salah satu anugrah tuhan yang terindah yang pernah diberikan
kepadanya.
" Marc tak peduli seberapa dinginnya kamu. Tak peduli betapa kamu
lebih mencintai pekerjaanmu ketimbang aku. Aku tetap mencintaimu." usai
mengakhiri kalimatnya Zi mengecup pelan bibir Marc.
Zi menempatkan tubuhnya serapat mungkin dengan Marc. Matanya mencoba
terpejam. Mencoba untuk memimpikan hal indah yang mungkin bisa ia lalui dengan
Marc—suaminya.
-----
" Zi kenapa aku nggak dibangunin?"
" Kamu tadi malam lembur Marc kamu perlu istirahat."
" Dan membiarkan aku telat ke kantor? Zi apa yang dipikirkan
karyawanku nantinya? Apa kamu nggak mikir sampai ke situ."
" Maaf." suara Zi terlampau lirik. Tenggorokannya seolah
kering.
" Apa maaf mu itu cukup?"
Zi hanya terdiam dan masih terus menunduk. Marc melangkahkan kakinya
menuju pintu. Dibantingnya pintu itu keras-keras dan membuat Zi tersontak.
Pernahkah kau
bicara?
Tapi tak
didengar, tak dianggap, sama sekali
Pernahkah kau
tak salah?
Tapi
disalahkan, tak diberi kesempatan
Zi menyandarkan tubuhnya didepan kulkas sambil memeluk lututnya. Ia
takut. Takut karena Marc begitu marah padanya. Takut seolah ia akan kehilangan
Marc.
Zi merasaka kehilangan Marc. Laki-laki itu berubah. Menjadi sangat
dingin dan kaku. Selalu sibuk dengan segudang pekerjaannya. Bersama setumpuk
buku-buku yang lebih ia cintai ketimbang istrinya sendiri.
Air mata Zi meleleh. Kenapa Marc jadi seperti ini? Mana Marc suamiku
yang dulu? Hanya itu pertanyaan yang jawabannya paling ini Zi ketahui.
****
Dengan menahan kantuk Zi menanti Marc yang baru pulang pukul 2 pagi.
Matanya mencoba bertahan dari deraan kantuk yang menerjang. Kejengkelan hatinya
dan kemarahannya sudah tak bisa ditoleransi. Ia ingin Marc tau betapa ia sangat
rindu sosok itu. Sosok yang hanya bisa ditatapnya ketika terlelap.
" Zi. Belum tidur?"
" Aku menantimu pulang." ketus Zi.
" Kenapa kamu? Nggak biasanya kamu cuek begini?" Marc
menyerngitkan dahinya. Alisnya saling bertautan.
" Marc aku pengen kamu jawab satu pertanyaan." suara Zi
lantang.
" Apa? Tanyakan saja."
" Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama aku?"
" Cinta."
" Sayang nggak sih?"
" Jelas dong aku sayang kamu." Marc masih tetap pada
posisinya.
" Sekarang kamu pilih aku atau pekerjaanmu."
Badan Marc seketika kaku. " Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
" Aku merasa selama kita menikah hanya 1-2 bulan awal aku menjadi
istrimu. Sisanya istrimu itu ya pekerjaan sama buku-buku ilmiahmu itu." Zi
menyilangkah tangannya didada dengan santai.
" Zi…"
" Kenapa? Kamu mau menamparku? Silahkan. Mau mukul aku? Silahkan."
" Kamu habis kerasukan apa sih Zi?"
" Aku hanya ingin dianggap sebagai istri Marc." mata Zi mulai
berkaca-kaca, sifatnya sebagai perempuan pun muncul.
" Kamu istriku Zi. Istri tercintaku." Marc langsung memeluk
Zi. Mendekapnya.
" Kalau aku istrimu apa kau ingat kapan kamu terakhir kamu
mengucapkan selamat pagi untuku ku, kapan terakhir kamu memberikan ku morning
kiss, bahkan kapan terakhir kamu memelukku ketika tidur saja kamu pasti tak
ingat." bahu Zi tersengal.
Kuhidup dengan
siapa?
Tak tau kau
siapa?
Kau kekasihku,
tapi orang lain bagiku
Kau dengan
dirimu saja
Kau dengan
duniamu saja
Teruskanlah,
teruskanlah
Kau begitu….
Marc hanya bisa terdiam. Apa yang ditanyakan Zi memang tak bisa ia
jawab. Ia terlalu egois untuk meluangkan waktu bersama istrinya. Ia terlalu
egois untuk meninggalkan pekerjaan. Bahkan ia pernah membentak Zi hanya karena
Zi tak membangunkan nya. Zi melakukan itu karena Zi punya alasan, sedangkan ia?
Ia membentak Zi tanpa alasan jelas. Hanya karena takut reputasinya sebagai
pemimpin perusahaan rusak?
" Maafkan aku Zi. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya. Aku
janji Zi."
" Aku nggak tau Marc kapan janji itu bakalan kamu tepatin. Aku
butuh realita Marc bukan janji yang hanya ada dalam ilusi ku semata." Zi
menjauhkan tubuhnya dari dekapan Marc.
" Kamu mau kemana Zi?"
" Pergi kesuatu tempat dimana aku bisa dianggap sebagai
manusia."
" Tapi ini masih dini hari Zi."
" Jangan khawatirkan aku Marc. Aku sudah tak berhak atas
perhatianmu." langkah Zi meninggalkan beribu bekas parutan dalam dada
Marc.
Janji Marc sia-sia. Zi telah pergi dan tak akan pernah kembali.
Kau tak butuh
diriku
Aku patung
bagimu
Cinta bukan,
kebutuhanmu
****
" Lew cepetan bukain pintunya." Zi mencoba untuk berteriak.
Tapi dirinya yang hampir membeku hanya bisa berharap suara bisa didengar Lewy
yang mungkin tengah tidur.
Ternyata tak menunggu waktu lama pintu itu terbuka. Lewy menatap heran
sosok dihadapannya.
" Zi kenapa kamu kesini? Mana Marc?"
" Tolong Lew jangan sebut nama itu sekarang." setitik airmata
mengalir dipipinya
" Memangnya ada apa?"
" Ceritanya panjang."
" Ya udah Zi masuk deh. Dingin banget ya diluar? Mau minum?"
Zi hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Ini bukan hanya dingin lagi, tapi
mendekati titik beku.
Setelah itu Zi menceritakan semua kejadian yang baru saja ia alami.
Kejadian yang membuatnya berpisah dengan Marc. Kejadian yang mengubah
hidupnya—selamanya.
Lewy terpaku mendengar semua cerita Zi. Ia tak menyangka apa yang telah
di pilih Zi. Jalan ini kah yang ia mau? Sejujurnya ia sedikit lega karena ia
bisa mendapatkan Zi lagi. Tapi kenapa harus perpisahan seperti ini yang harus
dialami Zi? Apakah tak ada cara lain yang bisa memisahkan Marc dengan Zi tanpa
harus menyakiti Zi?
That XX, what
does he have that I don’t
Why can’t I
have you
That XX doesn’t
love you
How much longer
are you going to cry yourself silly?
[That XX -
G-Dragon]
****
Same bed but it
feels just a little bit bigger now
Our song on the
radio but it don't sound the same
When our
friends talk about you, all it does is just tear me down
'Cause my heart
breaks a little when I hear your name
Kini yang Marc bisa lakukan hanyalah memandang kamar tidur yang dulu
sering ia dan Zi tempati. Tidak, hanya Zi yang sering disini. Tiga tahun yang
berat, tiga tahun tanpa Zi. Semuanya terasa buram. Akhirnya ia tau betapa ia
mengharapkan Zi, betapa ia sangat membutuhkan Zi.
Kepalanya pening memikirkan kenapa dulu ia selalu menyianyiakan Zi?
Kenapa dulu ia tak pernah peka dengan apa yang Zi rasakan. Semuanya hanyalah
sebuah penyesalan. Penyesalan yang takkan pernah ada ujungnya.
My pride, my
ego, my needs, and my selfish ways
Caused a good
strong woman like you to walk out my life
Now I never,
never get to clean up the mess I made, ohh…
And it haunts
me every time I close my eyes
Dulu ia selalu menolak permintaan maaf Zi ketika wanita itu merasaka
bersalah. Tapi sekarang ia tau, kata maaf tak selamanya mampu meluruskan
masalah. Kata maaf memang tak pernah cukup. Dan kata maaf terlampau mundah
ketimbang memaafkan.
Although it
hurts
I'll be the
first to say that I was wrong
Oh, I know I'm
probably much too late
To try and
apologize for my mistakes
That I
should've bought you flowers
And held your
hand
Should've gave
you all my hours
When I had the
chance
" Marc… Marc…"
Marc langsung terlonjak dari tempat tidurnya. Jantungnya berdegub
kencang. Buru-buru ia keluar mencoba memastika kalau dirinya tak salah dengar.
" Zi?"
" Iya ini aku."
" Kamu kenapa kesini?"
" Cuma pengen ngasih ini aja Marc." Zi menyerahkan sebuah
undangan berwarna biru dengan hiasan pita berwarna pink.
Setelah menyerahkan undangan tadi Zi langsung berbalik. Disampulnya
tertera nama Zia&Lewy. Ekor mata Marc hanya menatap mantan istrinya itu
pergi. Dimuka pagar rumahnya ternyata Lewy tengah duduk diatas kap mobil sambil
menyilangkan tangannya didada. Marc merasakan seseorang sepertinya baru saja
melucuti satu per satu tulangnya. Ditatapnya bayangan Zi sambil mencoba untuk
terus tersenyum.
I hope he buys
you flowers
I hope he holds
your hand
Give you all his
hours
When he has the
chance
Take you to
every party
'Cause I
remember how much you loved to dance
Do all the
things I should have done
When I was your
man
****
Zi melangkahkan kakinya sambil terus tersenyum. Lewy yang tengah duduk
dikap mobil langsung membalas senyum calon istrinya itu.
" Udah kan sayang?"
" Udah kok."
Lewy langsung merengkuh tubuhl Zi dalam pelukannya kemudian mengecup
sekilas bibir mungilnya.
" Pulang yuk dingin." Lewy merapatkan pelukannya.
" Ok."
Kini kebahagian yang telah lama bergelayut manja dimimpi Zi terwujud
sudah. Bukan bersama Marc—lelaki yang dicintainya. Tapi bersama Lewy—lelaki
yang mencintainya.
Kebahagian memang terkadang tak datang dari orang yang kamu cintai,
justru terkadang kebahagian datang dari sisi lainnya. Dari orang yang
mencintaimu.
****
*setahun kemudian*
" Maafkan aku Zi kalau selama aku bersamamu aku tak pernah bisa
membuatmu selalu tersenyum seperti sekarang."
Diam-diam Marc sering mengamati kegiatan Zi. Kali ini Marc menguntit Zi
yang tengah duduk dibangku taman bersama Lewy. Sekarang Marc sudah lumayan bisa
tersenyum lega. Zi bahagia, iya Zi bahagia. Kebahagian Zi kini menjadi
kebahagian Marc juga.
Marc merasa kalau dirinya tak pantas untuk merutuki kepergian Zi. Zi
pergi juga karena dia, karena Marc yang tak pernah peduli ketika Zi masih
menjadi miliknya.
-----
ZI POV
Pagi ini aku duduk dibangku taman bersama suamiku yang mulai kucintai.
Perhatiannya, kasih sayangnya, cintanya, dan semua yang ada padanya membuatku
selalu berada diatas awan. Berbeda dengan masalalu ku yang membuatku terpuruk,
dia membangkitkan ku.
" Anak papa lagi ngapai didalam? Main bola ya? Posisinya apa?
Striker?" Lewy menempelkan telinganya diperutku yang mulai membesar karena
kehamilanku memasuki bulan ke tujuh.
Aku tertawa geli. Tingkahnya lucu, menggemaskan dan terkadang romantis
membuatku tak pernah ingin menjauhkan tubuhku sejengkal pun darinya. Orang
bilang aku sangat manja saat bersama Lewy, tapi aku tak pernah peduli. Karena
dengan manja aku semakin mencintainya. Jalanku untuk mencintainya.
" Anak papa jangan nakal ya didalam. Main bola nya jangan
keras-keras, nanti mama sakit lo." Lewy menjauhkan telinganya. Giliran tangannya
yang mengelus-elus perutku.
Aku sangat bahagia dengan ini. Hal yang seperti nya takkan pernah aku
dapatkan jika aku masih memilih bersama dengan laki-laki itu—Marc.
-----
LEWY POV
Bisa melihat Zi tersenyum setiap hari seperti ini membuatku bahagia.
Akhirnya aku bisa membahagian wanita yang aku cintai ini. Wanita yang aku
cintai setelah ibuku. Wanita yang akan menjadi ibu untuk anak pertamaku dan
anak-anakku selanjutnya.
" Makasih ya sayang udah mau menerima aku. Setelah apa yang aku
alami dan aku lakuin ke kamu. Aku hanya mencoba untuk berjanji bahwa aku takkan
melakukan kesalahan yang sama seperti dimasa lalu." ia mengelus pipiku
pelan. Sentuhannya memabukkanku.
" Kesalahan bukan di kamu. Ini jalan tuhan, nggak ada yang
salah." ku balas menyentuh pipinya.
" Inikah yang dikatakan cinta?" ia menatapku ragu.
" Ini bukan hanya cinta, tapi juga kasih sayang, kedamaian dan
kebahagiaan. You not just only something, You're everything."
Lalu kuciumi bibirnya lembut. Dan ia membalas perlakuanku. Kuperdalam
ciuman itu.
Bangku taman ini menjadi saksi. Dimana aku dan Zi ingin membuktikan
bahwa kami saling mencintai. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Cintaku
bersambut gayung
-TAMAT-
Gaje? Emang :p.


Hallo :)
BalasHapusFF kamu bagus banget! beneran... feel nya dapet banget. oiya kalau ada waktu kunjungi blog aku juga ya http://realsindi.blogspot.com/ aku nulis FF juga disitu hehe
Makasih, i'll read your ff asap ;)
BalasHapus