SpongeBob SquarePants

Sabtu, 21 Desember 2013

Melody—Secret Admirer [One Shot]

Title : Melody—Secret Admirer [One Shot]
Rating : like always T :)
Genre : Romance
Cast :
Demylia Lorenzo
Jorge Lorenzo
Other

Kenapa ganti nama tokoh? Biar kalian nggak bosen sama sebuah nama yang bunyinya Zi. Inspirasi dari lagunya Utopia - Antara Ada dan Tiada.

****

" Mama kak Jojo nakal." Myla menangis kencang ketika boneka pandanya direbut oleh Jojo, kakaknya. Bocah kecil itu langsung menitikan airmata.
" Jo, kamu jangan jahil." Mrs. Lorenzo langsung mencubit pipi tembem anak laki-lakinya itu dan menyerahkan kembali boneka panda kesayangan Myla.
" Kak Jojo nakal." teriak Myla disela-sela tangisannya.
" Manja." balas Jojo mencibir Myla yang masih sibuk menyeka air matanya.
" Mamaa kak Jojo." kali ini Myla berteriak lebih kencang. Ia tak terima dicibir, itu adalah hal yang paling Myla benci. Myla benci dikatakan manja, Myla kuat itulah kata hatinya.
" Jojo jangan ganggu adikmu." sekali lagi Mrs. Lorenzo harus menegur Jojo.

****

-12 tahun kemudian-

Disebuah malam dimusim semi. Dimana udara dingin sisa musim salju berhembus pelan. Mendinginkan kulit Myla yang baru saja pulang dari rumah Emily. Ia berjalan dengan santainya sambil terus menggosokkan kedua telapak tangannya. Rupanya jaket tebal yang dipakainya tidak cukup membuat dirinya hangat.
Langkahnya terhenti, ia mendengar sekelumit percakapan antara ayah dan ibunya—mengenai Jojo. Ia kemudian menempelkan kupingnya di pintu kamar kedua orang tuanya itu.
" Jojo sudah duapuluh tahun, apa kita musti seperti ini terus menerus. Aku jadi kasihan dengannya."
" Sudah terlambat untuk memberitahunya."
" Tidak ada kata terlambat pa, kasihan Jojo. Dan kulihat sepertinya Myla mengagumi Jojo, bukankah lebih baik kalau mereka berdua kita jodohkan. Dengan begitu kita tidak akan kehilangan Jojo."
" Iya kalau Jojo mencintai Myla juga, kalau tidak? Kau taukan bagaimana sifat Jojo pada Myla sejak keci?"
Keduanya kemudian terdiam. Myla mendengarkan percakapan tadi dengan perasaan kacau. Dari kesimpulan yang ia dapat Jojo bukan kakak kandungnya. Yah, Jojo bukan kakak kandungnya. Dan rencana ibunya untuk menjodohkannya dengan Jojo, itu jelas gila.
Dalam hati Myla sangat ingin itu terjadi. Tapi kembali lagi, apakah Jojo mau dengan gadis sepertinya? Myla mendesah dalam hati.
" Heh penguping." suara Jojo dari arah tangga mengagetkan Myla.
" Belum tidur eoh?"
" Belum, kamu sendiri? Kerjaan hanya menjadi penguping, stalker. Huh, parasit."
" Jaga ucapanmu." Myla berjalan menuju kamarnya dengan langkah kesal. Jojo terlalu dingin dan terlalu menyebalkan.
Didalam kamar Myla langsung meraih gitar kesayangannya dan memainkannya sembarangan. Dari lantai atas—kamar Jojo—tak kalah ribut. Jojo menyaingi permainan abstrak gitar Myla dengan memencet tuts pianonya acak. Jojo melakukan hal itu sambil tersenyum jahil, sementara itu Myla semakin memajukan bibirnya. Ia tak suka ditiru kakaknya itu.
" Plagiat." teriakknya.
" Stalker." balas Jojo.
" Maamaaa." suara melengking Myla membuat Jojo refleks untuk menutup kupingnya.
" Myla ini sudah malam." sepertinya Mrs. Lorenzo sudah terlalu muak dengan kelakuan kedua anaknya itu.
" Tuh Myl udah malam."
" Aahh fuck you Jo."
" Myla." suara datar tapi tegas milik Mr. Lorenzo langsung menghentikan perdebatan antara Myla dan Jojo. Keduanya langsung diam dan beranjak tidur.

****

Suasana sarapan sangat hening. Myla menghancurkan omlete nya, sedangkan Jojo hanya mengamati adiknya itu heran.
" Cantik-cantik makannya kok gitu sih Myl."
" Tumben muji aku." pipi Myla memanas.
" Terserah deh." Jojo kembali ke sifat asalnya. Myla langsung memajukan bibirnya. Kalimat yang hampir jadi moodbooster nya malah menjadi bom baginya.
Disambarnya tas pink miliknya kemudian berlalu begitu saja. Jojo hanya mengamati Myla sambil terus melongo.
" Cantik sih, tapi galak dan aneh." ucapnya lirih. Lalu melanjutkan acara makan paginya.

Dikampus Myla langsung disambut Emily, gadis bermata sipit itu langsung berlari menghampiri Myla.
" Apa?"
" Ih Myl jangan galak-galak nanti nggak ada cowok yang mau deket loh."
" Iya apa?" Myla mencoba bersikap manis.
" Kamu mau memberikan ini ke kakakmu?"
Myla menaikkan sebelah alisnya. Surat(lagi)? Pikirnya. Sejujurnya ia cemburu dengan kelakuan beberapa gadis yang mengirimi kakaknya surat dan beberapa bingkisan imut. Menurutnya ini tidak pantas. Bukan tidak pantas karena kakaknya tidak tampan, tidak. Hanya saja ia ingin wajah tampan itu—tanpa tabiat sang pemilik—hanya miliknya, dan hanya dikaguminya bukan untuk siapapun selainnya.
" Ok nanti aku sampaiin."
" Janji ya Myl." Emily menatapnya penuh harap.
" Kalau dia tidak sibuk dengan dunianya—piano."
" Aku mohon Myl."
" Baiklah." dengan santainya Myla berlalu melewati Emily.
Ia cemburu dengan gadis-gadis yang bisa mengirimkan pesan-pesan cinta pada Jojo seenak jidatnya. Sedangkan dia? Selalu dianggap stalker oleh Jojo. Ia juga sempat berpikir bagaimana kalau Jojo juga tau bahwa mereka bukan saudara kandung. Apa Jojo juga memiliki perasaan yang sama? Myla menghela napas berat.
Dengan langkah berat ia tetap menuju ruang kelasnya. Menikmati setiap jengkal penderitaannya bersama selembar kertas yang tadi Emily beri padanya.
" Cemberut kenapa?" Han memasang tampang termanisnya.
" Jojo." jawab Myla singkat. Ia sedang tidak mood pada siapapun.
" Kalian bertengkar?"
" Bukannya itu wajar?"
" Untuk kalian."
Han diam, Myla ikut diam. Pikirannya berkecamuk, terlalu banyak hal yang ia pikirkan. Dan naasnya terlalu banyak Jojo dalam pikirannya.

****

Sesampainya dirumah Myla langsung melempar kertas pemberian Emily tadi. Jojo yang tengah asyik menikmati acara tivi nya langsung terlonjak kaget.
" Surat dari para penggemarmu." Myla tak menoleh sedikitpun.
" Siapa?"
" Terlalu banyak penggemar kah? Emily."
" Kau tidak berpikiran untuk memberiku ini?" Jojo mengacungkan suratnya tadi. Seringai jahil menghiasi wajah rupawannya.
" Bermimpilah selagi bisa atau aku akan meremukkan tulang belakangmu."
" Baiklah aku akan terus bermimpi." Jojo tertawa terbahak-bahak sementara Myla langsung menutup pintu kamarnya keras-keras.
Tangannya kemudian meraih sebuah binder yang tergeletak disebelah laptop putih milikknya. Tak ada hal yang paling pas selain menodai binder polosnya itu dengan coretan-coretan tangannya yang terkadang bermakna kadang tidak.
Pulpen yang ia pegang seolah menari-nari diatas kertas. Tintanya mencoba mengungkapkan bagaimana perasaan Myla sekarang. Perlahan sebutir airmata meleleh juga dari pelupuk matanya, lama-kelamaan matanya mulai buram, padangannya kabur. Myla menangis, bahunya pelahan ikut tersengal bersama tangisan sang empunya.
" Myl mau ikut keluar bersamaku?"
Butuh waktu lama bagi Myla untuk menjawab pertanyaan itu. Setidaknya untuk meredakan tangis yang sempat pecah tadi.
" Tunggu."
" Lima menit aku tunggu di garasi."
Myla tak menjawab, dirainya cardingan ungu miliknya, kemudian tangan satunya lagi sibuk menyemprotkan pafrum. Merasa cukup rapi—walau dengan mata sedikit bengkak—Myla langsung berlari menuju garasi.
" Cepet banget?"
" Berangkat atau tidak?"
Jojo yang terbengong lalu sadar dan membukakan pintu untuk Myla. " Tumben?"
" Mau apa tidak?" ketus Jojo.
Dalam hati Myla ingin sekali menjitak kepala Jojo saat ini juga. Mumpung ayah dan ibunya memang sedang tidak ada, tapi niatan itu ia urungkan.
Sepanjang perjalanan Myla masih memajukan bibirnya. Dirinya terlalu kesal dengan tingkah Jojo yang terlalu mengejeknya. Ah, sialan. Umpatnya dalam hati.

****

Besok Jojo akan meninggalkan Spanyol, pergi menuju California USA untuk mengejar salah satu mimpinya, menjadi seorang pianist. Hari terberat bagi Myla, terutama karena berpisah dengan Jojo. Walaupun menyebalkan tapi Jojo selalu membuatnya menjadi diri sendiri. Ia menjadi dingin juga karena ia ingin seperti Jojo.
Myla lebih memilih duduk beranda rumahnya, menatap keheningan malam yang berlaburkan cahaya remang rembulan. Airmatanya kembali meminta izin untuk menetes tapi dihalaunya. Ia harus bisa sekarang, ia harus mampu sekarang. Tanpa Jojo, tanpa perdebatan tak perlu lagi.
" Kenapa Myl?" Mrs. Lorenzo yang melihat Myla merenung sendirian langsung menghampiri anak gadis nya itu.
" Jojo." ucapnya lirih. Bahkan mengucapkan namanya saja tak semudah dulu. Batinnya.
" Sudahlah kakakmu pergi kan untuk menuntut ilmu." Mrs. Lorenzo hanya mengelus pelas rambut panjang bergelombang milik Myla.
Myla hanya terisak, mungkin yang ada dalam benak ibu nya adalah ia tak pernah tau bahwa Jojo bukan kakak kandungnya. Jojo hanyalah anak angkat. Dan yang terpenting ibunya tak pernah tau kalau ia mencintai Jojo.
" Datangi kakakmu dan bilang kalau kamu sayang dia. Kalian sih kalau berdua perang terus." Myla hanya nyengir membalas celetukan mamanya itu.
Hati Myla bergetar menatap pintu berwana coklat itu. Beberapa stiker kecil tertempel disana. Dalam hati ia terus bertanya, apakah ia kuat? Apa ia mampu mengatakan apa yang mamanya sruh tadi. Myla mundur, kemudian maju lagi selangkah, mundur lagi, maju lagi. Ia teramat ragu.
" Datangi dia, Jojo juga sayang kamu Myl." suara ibunya yang muncul secara tiba-tiba membuat jantung Myla seakan ingin melompat dari asalnya.
Kemudian diketuknya pelan pintu kamar itu. Wajah kucel tapi rupawan milik Jojo langsung menyambutnya.
" Myl kamu kenapa?"
" Aku sayang kamu Jo, walaupun aku nyebelin, kamu juga nyebelin, jadi intiny kita sama-sama nyebelin tapi aku sayang kamu Jo. Aku nggak mau pisah sama kamu." Myla langsung memeluk Jojo, entah apa yang dia pikirkan, tapi ia bisa memeluk Jojo adalah kesempatan langka.
Jojo langsung membalas pelukan itu, " Aku juga sayang kamu Myl, baik-baik ya sendiri dirumah selagi aku, mama, papa, nggak ada."
Pelukan hangat Jojo itu terasa berbeda bagi Myla. Ini bisa menjadi yang terakhir baginya. California, bukan sejengkalan kaki untuk kau tuju dari Barcelona. Bukan juga sebatas pematang sawah yang akan memisahkannya dengan Jojo. Itu ribuan mil, ribuan kilometer. Bahkan sekalipun kau melihat globe, ia melintasi sebuah samudra luas dan menyebrangi beberapa zona waktu. Terlalu mengenaskan jika kamu berpisah dengan orang yang kamu cintai dengan jarak sejauh itu.
" Bisa tidak Jo kamu kuliahnya di Europe aja?"
" Ini cita-citaku Myl." Jojo masih tetap memeluk erat Myla.
" Aku terima itu, tapi California itu terlalu jauh."
" Tenang, aku pasti kembali untukmu kok aku janji."
" Semoga kamu tepati janjimu Jo, semoga." Myla berdoa dalam dekapan Jojo.

****

Dibandara Myla melepas kepergian Jojo bersama keluarga yang lain. Hatinya yang paling hancur, setidaknya ia ingin pergi ke California bersama Jojo. Menanggalkan semua mimpinya sekarang asal ia bisa bersama Jojo. Andai rahasia itu terbongkar, andai Jojo juga memiliki sebuah rasa yang sama dengannya. Andai, apa artinya sebuah andai sekarang baginya? Hanya khayalan.
" Jaga dirimu baik-baik disana ya." Mrs. Lorenzo memeluk Jojo dengan haru.
" Iya ma."
" Kejar mimpimu, bukan yang lain. Fokus Jo." timbal Mr. Lorenzo.
" Aku akan ingat pesan papa."
Saat berhadapan dengan Myla suasana langsung berubah canggung. Mata Myla membengkak akibat tangisan yang susah sekali ia hentikan alirannya.
" Jangan diri baik-baik ya kecil, kalau kangen telpon aja." Jojo mendekap tubuh mungil Myla.
" Iya kak."
" Kamu manggil aku apa tadi?"
" Kak, kenapa? Tidak boleh?"
" Akhirnya kamu mengakui ku sebagai kakakmu juga." Jojo tersenyum, Myla membalasnya dengan keterpaksaan.
Selama ini aku tidak memanggilmu 'kakak' karena aku tau siapa aku bagimu dan siapa kamu bagiku. Kamu bukan kakakku, lalu apakah aku harus terpaksa menyebutkan kata itu untuk sekedar memanggilmu disaat yang bersamaan aku bisa memanggil namamu? batin Myla bertanya lirih.

****

-Tiga tahun kemudian-
( Ceritanya Jojo sama Myla udah sama-sama nikah ^^)

Myla duduk santai diberanda rumahnya, sambil menikmati orange juice. Matanya menerawang entah kemana.
" Kok bengong sih Myl."
Myla malah menatap Jojo yang tengah berdiri dihadapannya heran. Tak ada sepatah katapun yang terlontar, " Eh malah nambah bengong, ibu hamil nggak bagus lo banyak nglamun."
" Eh Jo sejak kapan disini?"
" Astaga Myla, makannya kalau nglamun jangan niat." Jojo memposisikan dirinya disamping Myla.
" Nggak kok Jo, Emily mana?"
" Didalam." Jojo menjawab singkat, " Yang didalam tadi suamimu?"
" Han?" Myla mencoba untuk mempertegas.
" Iya yang sama kayak Emily." Jojo menarik kedua ujung kelopak matanya agar terlihat sipit. Myla memaksakan tawa.
" Kan Han orang China Jo."
" Selera kita sama ya Myl, sama-sama suka yang sipit."
Lagi-lagi Myla hanya memaksakan senyum untuk kakak—yang bukan kakaknya—itu. Sampai kapan ia harus bertahan seperti ini? Berdiri diatas pedih dan ketidaktahuan.
" Myla." suara melengking milik Emily menyambut Myla. Rupanya ia sedang berbincang bersama Han.
" Miss you bestie." Myla langsung memeluk tubuh Emily yang sedikit lebih jangkung darinya. Myla merasa kalau sudah terlalu lama ia tak menatap wajah oriental dan mata sipit itu. Yang biasanya setiap pagi menyambutnya dikampus.
" Kita berkumpul lagi disini." Han merangkul Emily dan Myla yang tengah berpelukan. Jojo yang baru masuk ke ruang tengah hanya tersenyum. Tiga orang tadi memang satu fakultas dan satu angkatan. Wajarlah kalau mereka seperti itu.
" Kak Jojo sini, kita pelukan bareng-bareng." suara Han membuat Jojo melangkah mendekati ketiga orang yang tengah berpelukan tadi.
" Berasa paling tua hehehe…" celetukan Jojo membuat Han dan Emily tertawa bersamaan. Myla? Ia hanya terpengkur dalam diam.

****

Jojo sibuk membereskan rumah. Rumah berukuran lumayan besar itu akan ia tempati bersama Emily—karena Myla dan Han akan menetap di China. Saat memasuki kamar yang dulu ditempati Myla sebuah perasaan rindu yang berkecamuk menyusupi relung Jojo.
Ia bereskan kamar itu, mungkin saja suatu saat nanti bisa ditempati oleh salah satu anaknya—atau mungkin kalau Myla kembali lagi ke Barcelona. Beberapa barang berharga milik Myla masih tertinggal, salah satunya adalah binder usang berwarna biru muda yang tergeletak di atas meja riasnya.
Jojo membuka halaman pertamanya ia langsung menyerngit heran " Untuk kakak yang bukan kakakku" ia terlalu bingung memaknai kata tadi.
Kemudian dibacainya satu persatu kalimat didalamnya, lembar demi lembar ia balik. Matanya terbelalak ketika akhirnya ia tau. Ia bukan bagian inti keluarga Lorenzo, ia hanya anak angkat ketika Mrs. Lorenzo belum memiliki anak.
Hati Jojo lebih miris ketika ia tau kalau orang tuanya akan menjodohkannya dengan Myla. Juga tersayat ketika tau bahwa Myla mencintainya. Yup, Myla mencintainya, dan itulah alasan kenapa Myla selalu bersikap dingin pada semua orang. Hanya karena Myla ingin menjadi dirinya.
Jojo merutuki dirinya yang tidak tau apa-apa sama sekali. Bahkan ia terlalu buta soal cinta yang Myla berikan padanya. Lalu ia masih menganggap ia pantas menjadi kakak untuk Myla? Terlalu lucu kalau ia memaksakan hal itu.

****

Hampir sama seperti ketika Jojo pertama kali menginjakan kakinya di Barcelona setelah tiga tahun menuntut ilmu di sebuah universitas di California. Tapi kali ini suasanya beda. Myla tak lagi tengah mengandung, anaknya Lynn telah lahir. Dan ia tengah menanti kelahiran anak pertamanya.
Jojo dan Myla tengah duduk berdua diberanda rumah. Mereka hanya saling diam dan terkadang mencuri pandang.
" Kau tau Myl, jodoh tak pernah tertukar. Tuhan juga tidak pernah menukar jodoh seseorang. Cintailah yang mencintaimu ketika yang kamu cintai mencoba mencintai yang lain—yang belum tentu ia cintai." Myla hanya menatap Jojo sambil mencoba mencerna kata demi kata yang Jojo ucapkan.
Airmatanya seakan ingin meleleh ketika ia tau apa yang Jojo maksud, Jojo mencintainya. Hanya saja yang Jojo tau dia adik kandungnya. Myla mencoba menahan tangis. Tangis yang dulu sering mengiringi nya ketika menulis kata-kata bersama coretan di binder miliknya.
Jojo benar, jodoh tak pernah ditukar oleh tuhan. Mungkin sejak awal dia dan Jojo tak pernah diizinkan tuhan untuk bersama.


Ku tak bisa menggapaimu
Takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku
Tak mungkin lepas lagi
Kau hanya mimpi bagiku
Tak untuk jadinya
Dan segala rasa buatmu
Harus padam dan berakhir
[ Utopia – Antara Ada dan Tiada ]

-Tamat-















Tidak ada komentar:

Posting Komentar