SpongeBob SquarePants

Selasa, 07 Januari 2014

El-Love-Classico "Ketika Cintaku Salah Assist" Part 6

Tittle : Please Don't Be True
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter (@_zi98)
Kylie Mourinho (@kusumasinuraya_)
Demylia Sanchez (@myta_savitri)
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Cristian Tello
Other….

Bukan sinetron, bukan telenovela, bukan drama dan sandiwara, apalagi FTV. Ini cuma FF yang isinya hanyalah khayalan fans semata. Semakin ngawur ya? Hehe map :v. And one more thing, ini FF entah dimana ujungnya so pantengin aja selagi kalian mau :D

****

Bruna dan Zi menikmati indahnya sunset di pantai Barcelona. Bersama sebuah kamera SLR milik Bruna mereka asyik berfoto bersama. Dua wanita cantik itu mencoba berbagai gaya. Sunset indah yang bergradasi dengan deburan kecil-kecil ombak di pantai membuat pemandangan itu semakin menakjubkan.
Neymar mengamati mereka berdua dari jauh. Senyumnya mengembang, dua wanita itu adalah bidadarinya. Bruna—kekasihnya yang ia cintai dan mencintainya— dan juga Zi—sahabat yang ia cintai namun bertepuk sebelah tangan.
" Ah Bruna itu fotoku jelek." Zi mencoba mengambil kamera yang tengah dipengang Bruna.
" Tapi kamu lucu Zi, mungkin kamu cocok jadi ulzzang—tanpa operasi plastik."
Zi memajukan bibirnya. Lucu? Darimana? Pikirnya.
" Ayolah Zi kenang kenangan." Bruna mencoba membujuk Zi dengan rayuan mautnya.
" Baiklah."
Dan keduanya kembali berfoto ria. Hantaman kecil riak-riak ombak yang bertempur dengan karang-karang kecil mememecah keheningan pantai ini. Sesekali suara jepretan kamera dan burung-burung pantai menambah variasi(?).
" Ney fotoin aku sama Bruna dong."
Neymar segera beranjak dari tempatnya tadi berdiri menghampiri dua bidadarinya. Diraihnya kamera yang dipegang Zi. Kemudian kedua gadis tadi langsung beraksi dengan gaya mereka masing-masing. Mata Neymar tak hentinya menatap kagum dari balik lensa.

****

" Myla tunggu." Kylie berteriak dikoridor kampus.
" Kenapa?"
" Kau sekarang dekat dengan Tello ya?" Kylie langsung nyengir.
Myla terbengong sebentar, bola matanya mengarah keatas. Ia sedang memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Kylie. " Menurutmu?" Myla malah balik menanyai.
" Kalau menurutku kalian sangat cocok." Kylie menjawab dengan wajah polosnya.
" Bagiku tidak." Myla langsung berlalu, membiarkan Kylie yang masih berpikir.
" Myl…"
" Apalagi?"
" Kamu ingat pelajaran tentang Integral dan Deferensial tidak?"
" Ingat." Myla menyerngitkan dahinya.
"Bisa membantuku?" kini Kylie malah memasang wajah aegyo namun gagal.
" Baiklah."
Myla menghela napas lega. Kylie tidak terlalu mengorek informasi tentang dirinya dan Tello.
****
Morata memegangi ponselnya sedari tadi, wajahnya cemas. Seharian Zi sama sekali tak memberinya kabar apapun.
" Kemana sih kamu Zi?" Morata mondar-mandir didalam kamar. Hatinya terlalu kacau saat ini.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, nama Zi tertera dilayar.
" Zi kamu kemana aja? Kamu tau nggak aku khawatir."
" Maaf Mor aku tadi ada beberapa MaKul dadakan. Maaf." suara Zi disebrang membuat Morata sedikit tenang.
" Baiklah, lain kali beritau aku kabar. Aku khawatir."
" Maaf. Eh tapi Mor aku boleh tanya?"
" Apa?"
" Tentang rumor mu?" Zi berbicara hati-hati sekali.
" Rumorku?"
" Iya tentang ke pindahanmu ke Inggris."
" Percayalah aku tak pindah." Morata mencoba menenangkan. " Tapi rumor itu kamu tau dari mana?"
" Beberapa pemberitaan online."
" Jangan percaya apapun kecuali aku yang memberi tau tentang itu ok."
" Aku hanya menanyakan." jawaban Zi datar.
KLIK. Sambungan telepon tadi Morata matikan. Kini datang satu masalah lagi yang harus ia jelaskan pada semua orang. Bursa Transfer.

****

Sekali lagi Zi memandangi ponselnya. Pemberitaan dibeberapa portal berita online membuatnya jengah, sebagian besar dari pemberitaan itu mengaitkan kekasihnya itu dengan Arsenal.
Bukannya Zi tak ingin Morata angkat kaki dari Santiago Bernabeu. Tapi jarak yang harus ia hadapi dengan Morata lah yang membuatnya tidak ingin Morata pergi dari Real Madird. Jangankan sampai ke London, jarak antara Madrid dan Barcelona saja sudah cukup jauh bagi Zi untuk memisahkannya dengan Morata.
" Kenapa sih Zi?" Neymar menangkap kegelisahan dari tatapan mata Zi. Zi hanya menggeleng pelan.
Tangan Neymar perlahan menggenggam tangan Zi. " Katakan, kamu pasti ada masalah."
Hanya sebulir airmata yang menjawab perkataan Neymar tadi, kemudian Zi menggeleng lagi. Bukan saatnya membahas hal ini, apalagi dengan Neymar.
" Tentang Morata?" tebak Neymar.
Zi menggigit bibir bawahnya seperti biasa jika ia kebingungan, " Bisa tidak Ney bursa transfer dihilangkan?" Zi melirik Neymar ragu-ragu.
" Heh kenapa?"
" Bukan dihilangkan secara permanen, setidaknya sampai aku lulus… kuliah" Zi mencoba menjelasakan maksudnya menghilangkan bursa transfer.
" Memangnya ada apa sih Zi? Ada hubungannya sama rumor Morata."
Zi menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. " Kamu tau rumornya Morata?"
" Zi Zi berita itu udah nyebar luas kali, siapapun tau."
" Aku takut." Zi menunduk, beberapa helai rambut menutupi wajahnya.
" Kenapa?" Neymar terheran, bukannya seorang pemain pindah ketika bursa transfer itu biasa?
" Itu artinya…"
" Kamu sama Morata semakin jauh?" Neymar menyambar kata-kata Zi yang belum selesai.
Zi kemudian menopangkan dagunya dikedua tangannya sambil memandangi ponsel putih miliknya. Mungkin setelah bursa transfer selesai benda itu akan menjadi salah satu jalan untuk dia dan Morata.
Kenapa hidup terasa berat saat kamu baru saja bertemu dengan orang yang kamu cintai dan mencintaimu?
Zi langsung menempelkan pipinya di meja kafe, bibirnya yang ia manyunkan membuat orang yang melihatnya akan merasa gemas.

****

" Zii…" Tello melambaikan tangannya ketika tau Zi mendatangi tempat latihan skuad Barcelona. Zi hanya membalas dengan membungkuk.
" Ngapain Zi kesini? Nyariin Neymar ya? Sebegitu kangennya." goda Cesc, Zi hanya nyengir. Gigi gingsulnya seolah hendak menunjukkan kegugupan sang pemilik.
" Ada apa Zi?"
" Kamu ada waktu Ney?"
" Kencan kencan." Tello mengompori anak-anak Barca yang lain supaya suasana semakin canggung untuk Zi dan Neymar.
" Tidak." Zi setengah berteriak, " Hanya ingin menanyakan MaKul." kelahnya.
" MaKul? Anak kedokteran menanyakan MaKul ke anak hukum?" Cesc menyerngitkan dahinya bingung.
" Aa.. Membahas tentang hukum transplantasi organ dinegara ini. Iya." Zi memutar otaknya agar menemukan alasan yang tepat.
" Ohh." anak-anak Barca yang lain ber-Oh ria.
" Boleh aku pinjam sebentar kan Neymarnya, coach?" Zi memasang aegyo miliknya dihadapan Tata Martino.
" Baiklah, kembalikan seperti semula oke."
" Siap caoch."
Zi langsung menarik tangan Neymar mencoba mencari tempat paling nyaman untuk meminta pendapat.
" Memangnya ada apa sih Zi?"
" Rumor Morata Ney."
" Dia lagi dia lagi," Neymar membatin dalam hatinya. " Kenapa lagi? Apa Morata sudah memutuskan mau bermain dimana?"
" Belum." Zi menggelengkan kepalanya.
" Lalu?"
" Menurutmu kalau Morata jadi pindah apa aku musti ikut pindah juga? Maksudku, kau tau kan kalau hubunganku dengan Morata masih sangat baru dan aku tak mau hubunganku dengan Morata langsung angin-anginan."
Neymar merasakan kalau seseorang sepertinya baru saja mengambil jantungnya. " Pindah?" tanyanya.
" Eumm…" Zi mengangguk mantap. " Lagi pula universitas di London tak terlalu memprihatinkan."
" Kamu yakin?" pandangan Neymar kosong. " Tapi Zi kamu tau kan kalau WAGs nggak semuanya tinggal bersama kekasihnya. Contohnya ya aku sama Bruna, toh kalian masih bisa bertemu sesekali." Neymar mencoba memberi pertimbangan.
" Dan ingat juga Zi, semua itu masih sekedar rumor. Kamu masih bisa mempengaruhi Morata agar tetap bertahan di Madrid."
" Tapi Ney apa Morata betah dengan peluangnya sekarang? Semua pemain ingin masuk tim inti." Zi menitikan airmatanya.
" Nggak ada jaminan buat masuk tim inti di klub sebesar Real Madrid. Siapapun bisa diandalakan kemudian didepak hanya karena kesalahan kecil. Percayalah." Neymar meraih tubuh mungil Zi kedalam pelukannya.
Bahu Zi masih tersengal, apapun akan dia lakukan kali ini. Demi cintanya dan demi karir Morata.

****

" Hati-hati ya Myl, ngajarnya yang bener."
Senyum kecil dibibir Myla membalas kata-kata Tello. " Hati-hati juga kamu." pipi Myla memerah saat mengucapkan kata-kata tadi.
Perlahan deru mobil Tello meninggalkan gerbang kampus, Myla masih mengamati mobil itu hingga tak nampak sesenti pun. Sambil terus mengembangkan senyum Myla berlari kecil menuju ruangan Mr. Daniel.

Tok… Tok… Tok…

" Masuk." suara dari Mr. Daniel langsung menyambut Myla.
" Morning, emm… mister." Myla memang tak pernah menyapa Mr. Daniel sebelumnya.
" Kalau canggung panggil saja aku Dani." senyum manis Dani membuat Myla hanya bisa menggigit bibir bawahnya; gugup.
" Baiklah."
" Oh ya Myl hari ini aku nggak bisa ngajar, kamu bisa kan sementara gantiin aku?"
" Ha? Aku?" Myla menunjuk dirinya sendiri. Matanya terbelalak.
" Iya, kamu sudah mempelajari materi yang aku beri tempo hari itu kan?"
Myla mengangguk tapi matanya masih menatap kosong kearah Mr. Daniel.
" Baiklah, aku harus segera ke Malaga, jadi ku sarankan kamu secepatnya masuk ke kelas." suara pintu yang ditutup oleh Mr. Daniel membuyarkan acara bengong-bengongan Myla. Dengan langkah gugup ia pun berjalan sendiri menyusuri koridor kampus menuju kelas tempat ia akan mengajar hari ini.
Keringat dingin mulai menampakkan dirinya dipelipis Myla. Sesampainya didepan kelas Myla malah berkomat-kamit. Beberapa mantra tak jelas terlontar samar.
" Myla, fighting." ia menyemangati dirinya sendiri sebelum masuk ke kelas.

****

Zi menyeruput pelan vanilla latte nya, menikmati setiap tetes yang melewati kerongkongannya. Morata hanya membiarkan kekasihnya itu sibuk dengan jalan pikirannya sendiri. Dari cara pandang Zi ia bisa menyimpulkan kalau gadis itu sedang dalam sebuah kegundahan.
" Ada masalah Zi?"
Pertanyaan Morata hanya berbalas sebuah gelengan kepala tak ikhlas. " Ayolah Zi ceritakan."
" Aku tidak ada masalah, mungkin hanya rindu dengan orang tuaku." Zi mencoba  menjawab sekenanya.
" Lalu? Kau ingin pergi ke Singapura dan menemui orang tuamu? Begitu?"
" Tidak, aku akan ada UAS sebentar lagi."
Morata menghela napas lega, Zi tidak pergi, Zi tidak pergi. Itulah kalimat yang ia desiskan dalam hati saat ini.
" Mor sepertinya aku ingin pulang sekarang." Zi merapatkan jaketnya, hawa dingin yang memeluk dirinya hingga ke tulang membuatnya harus bekerja ekstra untuk tetap hangat.
" Mau kuantarkan?"
" Tidak usah, itu merepotkan."
" Aku memaksamu." Morata meraih tas milik Zi supaya gadis itu tidak bisa mengelak lagi.
" Baiklah kalau itu maumu." Zi kemudian menggandengkan tangannya ke lengan kekar milik Morata, sekarang suhu tubuhnya semakin menghangat—tanda jatuh cinta.
Sampai didepan kafe tempatnya dan Zi menikmati secangkir Vanilla Latte tadi ia menghentikan langkahnya. Ekor matanya menangkap banyangan seseorang yang tak asing baginya.
Hampir sama dengan Morata, Zi juga mendapati seorang yang sepertinya tak asing baginya.
" Myla?"(Morata)
" Tello?"(Zi)
Zi dan Morata mengucapkan nama tadi hampir bersamaan. Lalu keduanya serempak menutup mulut dengan tangan mereka masing-masing. Zi menatap Morata heran, Morata hanya mengangkat kedua bahunya.
" Itu urusan mereka." Morata mengandeng tangan Zi menuju mobilnya.
" Tapi apa kau tau kalau mereka pacaran?"
" Setauku Myla memang tak memiliki kekasih. Tak tau." lagi-lagi Morata mengangkat kedua bahunya.
" Tello juga free."
" Gosip baru." Morata nyengir.
" Sejak kapan aku menyuruhmu menjadi penggosip?" Zi mempelototi Morata hingga yang dipelototi ciut nyali.
" Iya sayang, tidak jadi." Morata mencoba aegyo yang biasa dilakukan Zi.
Zi hanya memajukan bibirnya, selalin karena sebal dengan Morata yang mulai menyukai gosip seperti itu. Ia juga sebal dengan aegyo Morata yang gagal.

****

Tello dan Myla menghabiskan akhir pekan terakhir mereka sebelum natal bersama. Menyusuri beberapa kafe yang menyajikan beragam jenis makanan adalah kegiatan mereka saat ini.
Myla mengeratkan pelukan tangannya dilengan Tello. Baginya ini adalah salah satu kebahagiaan yang tak bisa terungkapkan dengan apapun. Hanya dia dan Tello.
" Kamu mau itu?" Tello menunjuk sebuah restoran makanan Jepang.
" Terserah."
" Kalau kamu terpaksa ya tidak usah." Tello sedikit memajukan bibirnya.
" Baiklah aku mau, lagian jarang juga aku makan makanan Asia."
Kedua sejoli itu berjalan menuju restoran Jepang tadi. Myla tak sengaja mengarahkan pandangannya keseberang jalan, matanya langsung terbelalak. Zi dan Morata bergandengan mesra. Perasaan hangat yang tadi menjalar ketika Tello menggandengnya seketika lenyap, semuanya hambar.
" Ngeliatin apa sih Myl? Kok langsung bengong."
" Nggak apa-apa." Myla sedikit mempercepat langkahnya.
Tello menaikkan sebelah alisnya, kelakuan Myla tak pernah bisa ia duga.

-----

" Apa ini mentah?" Myla menelan ludah saat melihat makanan yang sangat asing baginya itu.
" Sebagian iya, sebagian lainnya tidak." Tello menjawabnya dengan enteng, " Memangnya kenapa?" Tello menatap Myla intens.
" Aku tidak suka makanan mentah."
" Kau makan ini saja." Tello menaruh beberapa menu yang tadi ia pesan—menu yang dimasak dengan sempurna—dihadapan Myla.
Bayangan tentang makanan mentah langsung memenuhi kepala Myla, bayangan-bayangan tadi berputar-putar dikepala dan membuatnya mual.
Semenit kemudian Myla ambruk, tubuhnya lemas. Melihat hal itu Tello langsung membawa kekasihnya itu ke rumah sakit terdekat. Perasaan bersalah karena telah mengajak Myla ke restoran Jepang tadi menyusupi pikirannya.

****

Myla mengerjapkan matanya pelan, disampingnya sudah ada Tello yang menemaninya.
" Kamu kenapa disini?"
" Menemanimu." senyum teduh Tello sedikit melunakkan Myla.
" Sudah sadar Myl?" suara Morata membuat Myla terkaget. Tapi kehadiran Zi disebelah Morata membuat perut Myla kembali mulas.
" Iya." Myla hanya menjawab singkat.
" Maaf ya Myl aku nggak tau kalau kamu alergi makanan mentah." Tello mengelus pelan rambut Myla, hal itu sedikit menenangkan hati Myla yang panas.
" Wah kayaknya kamu nggak cocok jalan berdua sama Zi, dia sukanya makan makanan mentah." Morata meledek Zi yang sedari tadi hanya diam dan mengekor dibelakangnya.
Zi yang kesal hanya mencubit pinggang Morata dari belakang. Myla hanya bisa menahan gemuruh didadanya, mencoba menahan semua kristal air yang merangsek keluar dari pelupuk matanya.
" Bisa aja kamu Mor." Myla menjawab datar.
" Ya udah aku tinggal dulu ya, takutnya jadi ngeganggu kalian." Morata melempar senyum jahil kearah Tello dan Myla.
" Alah bilang aja kalau mau berduaan juga." Tello membalas celetukan Morata tadi.
Keduanya lalu tertawa bersamaan, Zi hanya menunduk karena tersipu malu. Sementara Myla ikut tersenyum namun pahit.

****

 “ Myla kamu kemana aja?” suara melengking Kylie menyambut Myla dihari pertamanya ngampus setelah kejadian direstoran Jepang beberapa waktu yang lalu.
“ Aku sakit eoh.” Myla mendengus kesal.
“ Santai aja coy, kan sekarang elu udah sehatkan?”
“ Iya iya aku udah sehat.”
“ Sakit apa sih? Galak bener.” Kylie memancungkan bibirnya. Myla  menatap Kylie sangar.
“ Makannya Myl kalau alergi sama makanan mentah ya jangan kencan direstoran sushi dong.”
Wajah Myla yang merah padam sama sekali tak menghentikan celotehan Kylie. Karena sebalnya Myla langsung memasang headset ditelinganya dan memutar lagu Simple Plan keras-keras.



Bersambung(insya allah ya ;))












Tidak ada komentar:

Posting Komentar