Tittle : Please
Don't Be True
Rating : T aja
deh :D
Genre : Romance
seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia
Carter (@_zi98)
Kylie Mourinho
(@kusumasinuraya_)
Demylia Sanchez
(@myta_savitri)
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Cristian Tello
Other….
Bukan sinetron, bukan telenovela, bukan drama dan sandiwara, apalagi
FTV. Ini cuma FF yang isinya hanyalah khayalan fans semata. Semakin ngawur ya?
Hehe map :v. And one more thing, ini FF entah dimana ujungnya so pantengin aja
selagi kalian mau :D
****
Bruna dan Zi menikmati indahnya sunset di pantai Barcelona. Bersama
sebuah kamera SLR milik Bruna mereka asyik berfoto bersama. Dua wanita cantik
itu mencoba berbagai gaya. Sunset indah yang bergradasi dengan deburan
kecil-kecil ombak di pantai membuat pemandangan itu semakin menakjubkan.
Neymar mengamati mereka berdua dari jauh. Senyumnya mengembang, dua
wanita itu adalah bidadarinya. Bruna—kekasihnya yang ia cintai dan
mencintainya— dan juga Zi—sahabat yang ia cintai namun bertepuk sebelah tangan.
" Ah Bruna itu fotoku jelek." Zi mencoba mengambil kamera yang
tengah dipengang Bruna.
" Tapi kamu lucu Zi, mungkin kamu cocok jadi ulzzang—tanpa operasi
plastik."
Zi memajukan bibirnya. Lucu? Darimana? Pikirnya.
" Ayolah Zi kenang kenangan." Bruna mencoba membujuk Zi dengan
rayuan mautnya.
" Baiklah."
Dan keduanya kembali berfoto ria. Hantaman kecil riak-riak ombak yang
bertempur dengan karang-karang kecil mememecah keheningan pantai ini. Sesekali
suara jepretan kamera dan burung-burung pantai menambah variasi(?).
" Ney fotoin aku sama Bruna dong."
Neymar segera beranjak dari tempatnya tadi berdiri menghampiri dua
bidadarinya. Diraihnya kamera yang dipegang Zi. Kemudian kedua gadis tadi
langsung beraksi dengan gaya mereka masing-masing. Mata Neymar tak hentinya
menatap kagum dari balik lensa.
****
" Myla tunggu." Kylie berteriak dikoridor kampus.
" Kenapa?"
" Kau sekarang dekat dengan Tello ya?" Kylie langsung nyengir.
Myla terbengong sebentar, bola matanya mengarah keatas. Ia sedang
memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Kylie. " Menurutmu?"
Myla malah balik menanyai.
" Kalau menurutku kalian sangat cocok." Kylie menjawab dengan
wajah polosnya.
" Bagiku tidak." Myla langsung berlalu, membiarkan Kylie yang
masih berpikir.
" Myl…"
" Apalagi?"
" Kamu ingat pelajaran tentang Integral dan Deferensial
tidak?"
" Ingat." Myla menyerngitkan dahinya.
"Bisa membantuku?" kini Kylie malah memasang wajah aegyo namun
gagal.
" Baiklah."
Myla menghela napas lega. Kylie tidak terlalu mengorek informasi tentang
dirinya dan Tello.
****
Morata memegangi ponselnya sedari tadi, wajahnya cemas. Seharian Zi sama
sekali tak memberinya kabar apapun.
" Kemana sih kamu Zi?" Morata mondar-mandir didalam kamar.
Hatinya terlalu kacau saat ini.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, nama Zi tertera dilayar.
" Zi kamu kemana aja? Kamu tau nggak aku khawatir."
" Maaf Mor aku tadi ada beberapa MaKul dadakan. Maaf." suara
Zi disebrang membuat Morata sedikit tenang.
" Baiklah, lain kali beritau aku kabar. Aku khawatir."
" Maaf. Eh tapi Mor aku boleh tanya?"
" Apa?"
" Tentang rumor mu?" Zi berbicara hati-hati sekali.
" Rumorku?"
" Iya tentang ke pindahanmu ke Inggris."
" Percayalah aku tak pindah." Morata mencoba menenangkan.
" Tapi rumor itu kamu tau dari mana?"
" Beberapa pemberitaan online."
" Jangan percaya apapun kecuali aku yang memberi tau tentang itu
ok."
" Aku hanya menanyakan." jawaban Zi datar.
KLIK. Sambungan telepon tadi Morata matikan. Kini datang satu masalah
lagi yang harus ia jelaskan pada semua orang. Bursa Transfer.
****
Sekali lagi Zi memandangi ponselnya. Pemberitaan dibeberapa portal
berita online membuatnya jengah, sebagian besar dari pemberitaan itu mengaitkan
kekasihnya itu dengan Arsenal.
Bukannya Zi tak ingin Morata angkat kaki dari Santiago Bernabeu. Tapi
jarak yang harus ia hadapi dengan Morata lah yang membuatnya tidak ingin Morata
pergi dari Real Madird. Jangankan sampai ke London, jarak antara Madrid dan
Barcelona saja sudah cukup jauh bagi Zi untuk memisahkannya dengan Morata.
" Kenapa sih Zi?" Neymar menangkap kegelisahan dari tatapan
mata Zi. Zi hanya menggeleng pelan.
Tangan Neymar perlahan menggenggam tangan Zi. " Katakan, kamu pasti
ada masalah."
Hanya sebulir airmata yang menjawab perkataan Neymar tadi, kemudian Zi
menggeleng lagi. Bukan saatnya membahas hal ini, apalagi dengan Neymar.
" Tentang Morata?" tebak Neymar.
Zi menggigit bibir bawahnya seperti biasa jika ia kebingungan, "
Bisa tidak Ney bursa transfer dihilangkan?" Zi melirik Neymar ragu-ragu.
" Heh kenapa?"
" Bukan dihilangkan secara permanen, setidaknya sampai aku lulus…
kuliah" Zi mencoba menjelasakan maksudnya menghilangkan bursa transfer.
" Memangnya ada apa sih Zi? Ada hubungannya sama rumor
Morata."
Zi menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "
Kamu tau rumornya Morata?"
" Zi Zi berita itu udah nyebar luas kali, siapapun tau."
" Aku takut." Zi menunduk, beberapa helai rambut menutupi
wajahnya.
" Kenapa?" Neymar terheran, bukannya seorang pemain pindah
ketika bursa transfer itu biasa?
" Itu artinya…"
" Kamu sama Morata semakin jauh?" Neymar menyambar kata-kata
Zi yang belum selesai.
Zi kemudian menopangkan dagunya dikedua tangannya sambil memandangi
ponsel putih miliknya. Mungkin setelah bursa transfer selesai benda itu akan
menjadi salah satu jalan untuk dia dan Morata.
Kenapa hidup terasa berat saat kamu baru saja bertemu dengan orang yang
kamu cintai dan mencintaimu?
Zi langsung menempelkan pipinya di meja kafe, bibirnya yang ia manyunkan
membuat orang yang melihatnya akan merasa gemas.
****
" Zii…" Tello melambaikan tangannya ketika tau Zi mendatangi
tempat latihan skuad Barcelona. Zi hanya membalas dengan membungkuk.
" Ngapain Zi kesini? Nyariin Neymar ya? Sebegitu kangennya."
goda Cesc, Zi hanya nyengir. Gigi gingsulnya seolah hendak menunjukkan
kegugupan sang pemilik.
" Ada apa Zi?"
" Kamu ada waktu Ney?"
" Kencan kencan." Tello mengompori anak-anak Barca yang lain
supaya suasana semakin canggung untuk Zi dan Neymar.
" Tidak." Zi setengah berteriak, " Hanya ingin menanyakan
MaKul." kelahnya.
" MaKul? Anak kedokteran menanyakan MaKul ke anak hukum?" Cesc
menyerngitkan dahinya bingung.
" Aa.. Membahas tentang hukum transplantasi organ dinegara ini.
Iya." Zi memutar otaknya agar menemukan alasan yang tepat.
" Ohh." anak-anak Barca yang lain ber-Oh ria.
" Boleh aku pinjam sebentar kan Neymarnya, coach?" Zi memasang
aegyo miliknya dihadapan Tata Martino.
" Baiklah, kembalikan seperti semula oke."
" Siap caoch."
Zi langsung menarik tangan Neymar mencoba mencari tempat paling nyaman
untuk meminta pendapat.
" Memangnya ada apa sih Zi?"
" Rumor Morata Ney."
" Dia lagi dia lagi,"
Neymar membatin dalam hatinya. " Kenapa lagi? Apa Morata sudah memutuskan
mau bermain dimana?"
" Belum." Zi menggelengkan kepalanya.
" Lalu?"
" Menurutmu kalau Morata jadi pindah apa aku musti ikut pindah
juga? Maksudku, kau tau kan kalau hubunganku dengan Morata masih sangat baru
dan aku tak mau hubunganku dengan Morata langsung angin-anginan."
Neymar merasakan kalau seseorang sepertinya baru saja mengambil
jantungnya. " Pindah?" tanyanya.
" Eumm…" Zi mengangguk mantap. " Lagi pula universitas di
London tak terlalu memprihatinkan."
" Kamu yakin?" pandangan Neymar kosong. " Tapi Zi kamu
tau kan kalau WAGs nggak semuanya tinggal bersama kekasihnya. Contohnya ya aku
sama Bruna, toh kalian masih bisa bertemu sesekali." Neymar mencoba
memberi pertimbangan.
" Dan ingat juga Zi, semua itu masih sekedar rumor. Kamu masih bisa
mempengaruhi Morata agar tetap bertahan di Madrid."
" Tapi Ney apa Morata betah dengan peluangnya sekarang? Semua
pemain ingin masuk tim inti." Zi menitikan airmatanya.
" Nggak ada jaminan buat masuk tim inti di klub sebesar Real
Madrid. Siapapun bisa diandalakan kemudian didepak hanya karena kesalahan
kecil. Percayalah." Neymar meraih tubuh mungil Zi kedalam pelukannya.
Bahu Zi masih tersengal, apapun akan dia lakukan kali ini. Demi cintanya
dan demi karir Morata.
****
" Hati-hati ya Myl, ngajarnya yang bener."
Senyum kecil dibibir Myla membalas kata-kata Tello. " Hati-hati
juga kamu." pipi Myla memerah saat mengucapkan kata-kata tadi.
Perlahan deru mobil Tello meninggalkan gerbang kampus, Myla masih
mengamati mobil itu hingga tak nampak sesenti pun. Sambil terus mengembangkan
senyum Myla berlari kecil menuju ruangan Mr. Daniel.
Tok… Tok… Tok…
" Masuk." suara dari Mr. Daniel langsung menyambut Myla.
" Morning, emm… mister." Myla memang tak pernah menyapa Mr.
Daniel sebelumnya.
" Kalau canggung panggil saja aku Dani." senyum manis Dani
membuat Myla hanya bisa menggigit bibir bawahnya; gugup.
" Baiklah."
" Oh ya Myl hari ini aku nggak bisa ngajar, kamu bisa kan sementara
gantiin aku?"
" Ha? Aku?" Myla menunjuk dirinya sendiri. Matanya terbelalak.
" Iya, kamu sudah mempelajari materi yang aku beri tempo hari itu
kan?"
Myla mengangguk tapi matanya masih menatap kosong kearah Mr. Daniel.
" Baiklah, aku harus segera ke Malaga, jadi ku sarankan kamu
secepatnya masuk ke kelas." suara pintu yang ditutup oleh Mr. Daniel
membuyarkan acara bengong-bengongan Myla. Dengan langkah gugup ia pun berjalan
sendiri menyusuri koridor kampus menuju kelas tempat ia akan mengajar hari ini.
Keringat dingin mulai menampakkan dirinya dipelipis Myla. Sesampainya
didepan kelas Myla malah berkomat-kamit. Beberapa mantra tak jelas terlontar
samar.
" Myla, fighting." ia menyemangati dirinya sendiri sebelum
masuk ke kelas.
****
Zi menyeruput pelan vanilla latte nya, menikmati setiap tetes yang
melewati kerongkongannya. Morata hanya membiarkan kekasihnya itu sibuk dengan
jalan pikirannya sendiri. Dari cara pandang Zi ia bisa menyimpulkan kalau gadis
itu sedang dalam sebuah kegundahan.
" Ada masalah Zi?"
Pertanyaan Morata hanya berbalas sebuah gelengan kepala tak ikhlas.
" Ayolah Zi ceritakan."
" Aku tidak ada masalah, mungkin hanya rindu dengan orang
tuaku." Zi mencoba menjawab
sekenanya.
" Lalu? Kau ingin pergi ke Singapura dan menemui orang tuamu?
Begitu?"
" Tidak, aku akan ada UAS sebentar lagi."
Morata menghela napas lega, Zi tidak pergi, Zi tidak pergi. Itulah
kalimat yang ia desiskan dalam hati saat ini.
" Mor sepertinya aku ingin pulang sekarang." Zi merapatkan
jaketnya, hawa dingin yang memeluk dirinya hingga ke tulang membuatnya harus
bekerja ekstra untuk tetap hangat.
" Mau kuantarkan?"
" Tidak usah, itu merepotkan."
" Aku memaksamu." Morata meraih tas milik Zi supaya gadis itu
tidak bisa mengelak lagi.
" Baiklah kalau itu maumu." Zi kemudian menggandengkan
tangannya ke lengan kekar milik Morata, sekarang suhu tubuhnya semakin
menghangat—tanda jatuh cinta.
Sampai didepan kafe tempatnya dan Zi menikmati secangkir Vanilla Latte
tadi ia menghentikan langkahnya. Ekor matanya menangkap banyangan seseorang
yang tak asing baginya.
Hampir sama dengan Morata, Zi juga mendapati seorang yang sepertinya tak
asing baginya.
" Myla?"(Morata)
" Tello?"(Zi)
Zi dan Morata mengucapkan nama tadi hampir bersamaan. Lalu keduanya
serempak menutup mulut dengan tangan mereka masing-masing. Zi menatap Morata
heran, Morata hanya mengangkat kedua bahunya.
" Itu urusan mereka." Morata mengandeng tangan Zi menuju
mobilnya.
" Tapi apa kau tau kalau mereka pacaran?"
" Setauku Myla memang tak memiliki kekasih. Tak tau."
lagi-lagi Morata mengangkat kedua bahunya.
" Tello juga free."
" Gosip baru." Morata nyengir.
" Sejak kapan aku menyuruhmu menjadi penggosip?" Zi
mempelototi Morata hingga yang dipelototi ciut nyali.
" Iya sayang, tidak jadi." Morata mencoba aegyo yang biasa
dilakukan Zi.
Zi hanya memajukan bibirnya, selalin karena sebal dengan Morata yang
mulai menyukai gosip seperti itu. Ia juga sebal dengan aegyo Morata yang gagal.
****
Tello dan Myla menghabiskan akhir pekan terakhir mereka sebelum natal
bersama. Menyusuri beberapa kafe yang menyajikan beragam jenis makanan adalah
kegiatan mereka saat ini.
Myla mengeratkan pelukan tangannya dilengan Tello. Baginya ini adalah
salah satu kebahagiaan yang tak bisa terungkapkan dengan apapun. Hanya dia dan
Tello.
" Kamu mau itu?" Tello menunjuk sebuah restoran makanan
Jepang.
" Terserah."
" Kalau kamu terpaksa ya tidak usah." Tello sedikit memajukan
bibirnya.
" Baiklah aku mau, lagian jarang juga aku makan makanan Asia."
Kedua sejoli itu berjalan menuju restoran Jepang tadi. Myla tak sengaja
mengarahkan pandangannya keseberang jalan, matanya langsung terbelalak. Zi dan
Morata bergandengan mesra. Perasaan hangat yang tadi menjalar ketika Tello
menggandengnya seketika lenyap, semuanya hambar.
" Ngeliatin apa sih Myl? Kok langsung bengong."
" Nggak apa-apa." Myla sedikit mempercepat langkahnya.
Tello menaikkan sebelah alisnya, kelakuan Myla tak pernah bisa ia duga.
-----
" Apa ini mentah?" Myla menelan ludah saat melihat makanan
yang sangat asing baginya itu.
" Sebagian iya, sebagian lainnya tidak." Tello menjawabnya
dengan enteng, " Memangnya kenapa?" Tello menatap Myla intens.
" Aku tidak suka makanan mentah."
" Kau makan ini saja." Tello menaruh beberapa menu yang tadi
ia pesan—menu yang dimasak dengan sempurna—dihadapan Myla.
Bayangan tentang makanan mentah langsung memenuhi kepala Myla,
bayangan-bayangan tadi berputar-putar dikepala dan membuatnya mual.
Semenit kemudian Myla ambruk, tubuhnya lemas. Melihat hal itu Tello
langsung membawa kekasihnya itu ke rumah sakit terdekat. Perasaan bersalah
karena telah mengajak Myla ke restoran Jepang tadi menyusupi pikirannya.
****
Myla mengerjapkan matanya pelan, disampingnya sudah ada Tello yang
menemaninya.
" Kamu kenapa disini?"
" Menemanimu." senyum teduh Tello sedikit melunakkan Myla.
" Sudah sadar Myl?" suara Morata membuat Myla terkaget. Tapi
kehadiran Zi disebelah Morata membuat perut Myla kembali mulas.
" Iya." Myla hanya menjawab singkat.
" Maaf ya Myl aku nggak tau kalau kamu alergi makanan mentah."
Tello mengelus pelan rambut Myla, hal itu sedikit menenangkan hati Myla yang
panas.
" Wah kayaknya kamu nggak cocok jalan berdua sama Zi, dia sukanya
makan makanan mentah." Morata meledek Zi yang sedari tadi hanya diam dan
mengekor dibelakangnya.
Zi yang kesal hanya mencubit pinggang Morata dari belakang. Myla hanya
bisa menahan gemuruh didadanya, mencoba menahan semua kristal air yang
merangsek keluar dari pelupuk matanya.
" Bisa aja kamu Mor." Myla menjawab datar.
" Ya udah aku tinggal dulu ya, takutnya jadi ngeganggu
kalian." Morata melempar senyum jahil kearah Tello dan Myla.
" Alah bilang aja kalau mau berduaan juga." Tello membalas
celetukan Morata tadi.
Keduanya lalu tertawa bersamaan, Zi hanya menunduk karena tersipu malu.
Sementara Myla ikut tersenyum namun pahit.
****
“ Myla kamu kemana aja?” suara melengking Kylie menyambut Myla
dihari pertamanya ngampus setelah kejadian direstoran Jepang beberapa waktu
yang lalu.
“ Aku sakit eoh.” Myla mendengus kesal.
“ Santai aja coy, kan sekarang elu udah sehatkan?”
“ Iya iya aku udah sehat.”
“ Sakit apa sih? Galak bener.” Kylie memancungkan bibirnya. Myla menatap Kylie sangar.
“ Makannya Myl kalau alergi sama makanan mentah ya jangan kencan
direstoran sushi dong.”
Wajah Myla yang merah padam sama sekali tak menghentikan celotehan
Kylie. Karena sebalnya Myla langsung memasang headset ditelinganya dan memutar
lagu Simple Plan keras-keras.
Bersambung(insya
allah ya ;))

Tidak ada komentar:
Posting Komentar