Tittle : The
Confess that You did
Rating : T aja
deh :D
Genre : Romance
seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia
Carter (@fauziahfitri_)
Kylie Mourinho
(@kusuma_wij)
Demylia Sanchez
(@myta_savitri)
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Cristian Tello
Other….
Bukan sinetron, bukan telenovela, bukan drama dan sandiwara, apalagi
FTV. Ini cuma FF yang isinya hanyalah khayalan fans semata. Semakin ngawur ya?
Hehe map :v. Satu lagi ini FF nggak tau kapan akhirnya -_-
****
“ Kenapa kamu nggak berterus terang sama aku Myl?”
Myla memilih untuk membenamkan wajahnya. Menjawab pertanyaan Morata akan
membuatnya semakin sakit, ia akan semakin merasa bersalah kalau sampai Morata
tau kalau dia sangat-sangat mencintai pria itu.
“ Kenapa Myl? Apa karena Zi?” satu-satunya orang yang bisa menjadi
alasan hanyalah Zi. Myla menggeleng pelan. “ Lalu karena apa?” lanjut Morata.
“ Alasan ini sepertinya belum saatnya kamu ketahui Mor.” Suara lemah
Myla mampu membuat kekesalan Morata sedikit mereda―yang digantikan rasa
bersalah.
“ Baiklah aku hargai itu.” Morata langsung memeluk sahabatnya itu.
Membiarkan Myla menangis sepuasnya dalam dekapannya.
****
“ Ayolah beb. Maafin aku kenapa?” Cesc berusaha sebisa mungkin membujuk
Kylie yang akhir-akhir ini mulai sedikit menjauhinya. Pesepakbola bertato itu
bahkan ngebela-belain pergi ke kota Madrid hanya untuk sebuah kata maaf
dari kekasihnya.
“ Kamu nggak punya salah kok.” Jawab Kylie sewot.
“ Lah terus kenapa kamu diem-dieman mulu sama aku?”
“ Fans mu itu loh.”
“ Please dong beb, mereka nggak tau apa-apa tentang kita.” Cesc memasang
wajah semelas mungkin―supaya Kylie mau mengasihani nya.
“ Mereka emang nggak tau apa-apa tentang kita. Tapi mereka tau semua
tentang kamu.” Kylie menunjuk Cesc penuh amarah. Cewek itu mencoba berlalu
sekuat tenaga sebelum ada sebulirpun air mata yang berjatuhan. Tapi refleks
Cesc tak kalah cepat. Tangan Kylie ia tarik lalu dibaliknya tubuh gadis itu.
Mata mereka saling bertemu. Kylie gugup setengah mati.
“ Mau apa kamu?”
“ Maafin aku ya?”
Kylie hanya bisa mengangguk sambil menelan ludahnya.
“ Nah itu baru pacar ku yang baik.” Cesc lalu mengecup kening
Kylie―dalam. Satu lagi cerita dibawah hamparan bintang yang memenuhi langit
kota Madrid.
****
Zi hanya menatap makanan didepannya—tak berselera. Seporsi ramen yang
sering ia pesan direstoran-restoran Asia Timur dan sering membuat nafsu
makannya meningkat tajam kini telah gagal membuatnya merasa lapar.
“ Ayo Zi kamu kudu makan.” Ucapnya untuk diri sendiri. Baru satu suapan
yang masuk ke mulut Zi langsung mendorong jauh-jauh mangkok ramennya.
Ditatapnya mangkok berwarna coklat itu.
Namun bukan bayangan mangkok itu yang ada dibenak Zi. Melainkan wajah
Morata dan Neymar yang berlalu lalang. Wajah kedua pria itu seperti saling
bergantian mengisi setiap inci pikiran Zi. Ia mengerang pelan. “ Siapa mereka
untukku? Bukan siapa-siapa. Lalu siapa aku untuk mereka? Bukan siapa-siapa
juga. Terus kenapa mereka sering ada dipikiranku?” Zi menggigit bibir bawahnya.
Ditariknya kembali mangkok yang tadi ia jauhkan. Perlahan sesumpit demi
sesumpit mi ramen tadi di makannya. Dingin. Tapi tak pernah lebih dingin dan
kaku ketimbang apa yang ia rasakan sekarang.
****
Myla merapatkan jaketnya. Cuaca dingin yang menusuk tulang ditambah
udara malam yang mampu membekukan tubuh membuatnya harus berusaha ekstra supaya
suhu tubuhnya tetap stabil.
Kampus tampak sepi—suasana yang mulai akrab dengannya. Hanya beberapa
mahasiswa yang memang mengambil jam kuliah di malam hari.
" Wih calon dosen sekarang kuliah malam terus." Dave mencoba
menggoda Myla yang tengah asyik duduk sambil membaca buku.
" Ah iya Dave. Kamu jugakan calon dosen."
" Amin deh dibilang gitu." Dave nyengir.
" Ih sok nggak tau kalau kamu juga mulai jadi asisten dosen di Univ
sebelah."
" Iya deh iya. Sama-sama calon dosen."
Seusai kuliah jam sudah menunjukan pukul 11pm.
" Semoga masih ada taxi." Myla mempercepat langkahnya.
" Myl." seseorang memanggilnya dari kejauhan. Lamat-lamat Myla
mencoba mengingat suara siapa itu tadi. Selesai melahap mata kuliah Myla memang
bukan tipe orang yang cepat tanggap.
" Mor? Ngapain?"
" Aku juga baru selesai kuliah. Pulang bareng yuk, sekalian makan
malem mau kan? Anak kost belum keisi nih." Morata memegangi perutnya.
" Boleh." hati Myla kian berbunga-bunga.
Diantar pulang Morata sudah seperti anugrah baginya apalagi ditambah
dengan makan malam. Itu ibarat kau menjadi seorang kiper dan mencetak gol dari
tendangan gawang—difinal piala dunia.
" Habis makan mau nggak Myl nemenin aku nyari buku bentaran?"
Jantung Myla berdegup kencang. Gadis itu bahkan merasa kalau dia
sekarang menjadi salah satu penderita tachyarrhytmia—keadaan dimana
jantung berdetak lebih dari 100kali/menit[1].
Dengan tambahan mencari buku? Seseorang bangunkan aku tolong, ini pasti
cuman mimpiku. Jeritnya dalam hati.
" Bolehlah." jawabnya singkat dengan rona bahagia disetiap
sudut.
" Boleh terus dari tadi." Morata mencoba memancing Myla agar
mengatakan sesuatu yang lain. Bolehlah menurutnya bukan jawaban ikhlas.
" Kalau nggak mau ditemenin ya udah." Myla memancungkan
bibirnya.
" Iya Myla sayang. Mau kok." Morata mencubit pipi Myla dengan
tangan kanannya. Tangan kirinya masih berkutat dengan setir mobilnya.
Pipi Myla memanas. Jantungnya semakin berdetak liar, penerangan didalam
mobil yang remang membuatnya sedikit terselamatkan. Kalau tidak, bukan tak
mungkin Morata akan mendapati wajahnya dengan kondisi semerah jersey timnas
Spanyol (semerah kepiting rebus sama tomat itu udah biasa, cari yang beda dong
:p).
****
" Sakit ya Zi? Mukamu pucet."
" Nggak kok Ney." Zi mencoba untuk berkelah.
Apa yang Neymar katatakan adalah benar. Akhir-akhir ini ia sangat jarang
makan, tak pernah bersemangat untuk melakukan sesuatu, bahkan tak memiliki
semangat hidup.
" Aduh Zi jujur aja deh. Muka mu itu pucet banget, bahkan lebih
pucet ketimbang terakhir kali aku liat kamu pas pingsan."
" Efek kedinginan mungkin Ney. Aku kalau kedinginan emang
gini." lagi-lagi Zi berbohong.
" Lain kali bawa jaket yang tebel ya Zi. Musim dingin bentar lagi
datang. Dan kayaknya jaketku kurang tebal buat bikin kamu hangat." Neymar
melepaskan jaket yang tadi membalut tubuhnya. Mengenakannya di bahu Zi, sebisa
mungkin ia ingin melihat Zi terlihat hangat.
" Makasih ya Ney."
" Jaga kondisi ya Zi. Jangan menantang penyakit."
" Aku tau kok Ney, lagian juga nggak ada kok orang yang mau
sakit."
" Yaiyalah Zi. Mau ku antar pulang?"
" Nggak usah deh, aku juga masih ada perlu sama anak-anak
lain."
" Ok aku duluan ya."
" Jaketnya?"
" Pakai aja dulu."
Neymar berlalu, namun aroma parfume pesepakbola yang melekat dijaketnya
menyusupi setiap relung di jiwa Zi. Mengisi setiap inci kekosongan yang sedang
melandanya—saat ini.
****
Morata menatap rumah dengan warna cat biru muda itu. Matanya tak
henti-hentinya memandang rumah minimalis itu.
" Mor?" sebuah suara menyebutkan namanya—jernih. Dan Morata
tau siapa pemilik suara yang memanggilnya itu.
" Eh Zi udah pulang ngampus?"
" Udah. Kenapa ya kok kesini?"
" Cuma mau main, boleh kan?"
" Tentu, tunggu ya aku buka dulu pagarnya."
Morata mengamati setiap gerak-gerik Zi. " Masukin aja mobilnya. Gak
enak ganggu jalan orang. Pamali." Morata hanya mengangguk. Menyetujui saja
apapun arahan Zi.
" Maaf ya kalau berantakan." Zi mencoba membereskan beberapa
majalah yang bertebaran di atas meja. Ruang tamu yang langsung menghadap
televisi membuat Zi banyak menghabiskan waktu dirumahnya diruangan itu.
" Nggak papa kok Zi, apartemenku juga berantakan. Malah lebih absurd
lagi."
Morata duduk dengan kikuknya. Zi sedari tadi hanya bisa menelan
ludahnya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang masuk kedalam mimpinya semalam
sampai Morata datang kerumahnya. Bahkan rela berpanas hanya untuk menatap
rumahnya yang masih digembok.
" Ini minumnya." Zi menyerahkan sebotol minuman berserat
rendah lemak nya.
" Anak kedokteran minumannya kayak gini ya?" Morata tertawa.
Seumur-umur dia memang belum pernah meminum minuman sejenis itu.
" Kenapa? Kalau kamu nggak suka aku ada kok minuman yang lain kalau
kamu mau."
" Apa?"
" Air mineral."
Morata menyerngitkan dahi nya, kedua alisnya mencoba untuk saling
bertautan. " Minuman mu semua kayak gini Zi?" Zi mengangguk
bangga(?).
Diliriknya botol minuman yang tadi Zi beri. "Rasa Apel, nggak
buruk buruk banget." batinnya
sambil menenggak nya sedikit. " Rasanya lumayan ternyata Zi. Selera anak
kedokteran boleh juga, sehat pula."
Darah Zi menghangat, perlahan pipinya memerah. Itu tadi memang bukan
pujian, tapi perkataan Morata yang mengindikasikan kalau anak
kedokteran—termasuk dirinya—adalah orang-orang yang cukup pintar memilih
nutrisi membuatnya tersanjung.
" Sebenernya aku kesini ada sesuatu yang mau aku sampaiin Zi."
Jantung Zi berdegup tak karuan. Tangan kanannya menggengam erat pojokan
sofa yang tengah didudukinya.
Dengan sekuat nyali yang telah tadi dikumpulkannya, akhirnya sebuah
kalimat yang paling Zi nanti bunyinya terlontar juga dari mulut Morata. "
I Love you Zi. Wo Ai Ni." (yey si eMor(?) bisa bahasa China, China
ngawur).
Zi tak segera merespon pengakuan Morata. Ia malah terdiam. Berbagai
pertanyaan berkecamuk dibenaknya. Seperti, semerah apakah wajahnya sekarang?
Benarkah lelaki dihadapannya ini Morata—bukan Neymar? Zi mengerjapkan matanya,
benar memang Morata yang dihadapannya. Pemuda itu masih terus tersenyum sambil
memandang ekspresi aneh Zi yang berubah-ubah.
" Mor…"
" Emm…"
" I'm Sorry…" Morata langsung merubah air mukanya—cemas.
" Sorry I can't hate you. And I
can't stop loving you." Zi melanjutkan kata-katanya. Kecemasan Morata kini
berakhir, direngkuhnya tubuh mungil Zi. Memeluk gadis itu seperti tak mau
seorang pun menariknya dari dalam dekapan. Zi hanya bisa membalas, semua
memiliki kejelasan sekarang.
Morata milikknya—dirinya milik Morata.
****
" Ciye yang punya pacar baru." Kylie langsung menempatkan
dirinya diantara Morata dan Myla yang tengah duduk berdua disebuah bangku di
taman kampus.
Mata Myla langsung mengarah pada Morata. Benarkah? Morata memiliki
kekasih?
" Apaan sih Ky." Morata tersipu malu—Pipinya memerah.
" Alah sok nggak diakuin nih. Ku laporin lo."
" Iya deh iya terserah mu aja."
" Emang siapa pacarnya Mor?" setelah terdiam melihat
perdebatan dua sahabat tadi akhirnya Myla mengeluarkan suaranya juga.
" Masa kamu nggak tau Myl?" Myla hanya menggeleng lemah ketika
Kylie menanyainya. " Morata kan baru aja jadian sama Zi. Ya kan Mor?"
ucap Kylie sambil menyenggol bahu Morata.
Myla merasakan tubuhnya melemas. Hal yang paling cemaskan sejak ia tau
siapa itu Zi akhirnya menjadi kenyataan. Morata dan Zi saling mencintai, lalu
apa yang ia bisa perbuat sekarang? Memisahkan mereka? 1 : 1010 hal
itu akan berhasil.
" Eh Myl kok langsung diem kenapa?"
" Eh nggak papa Ky, lagi mikirin materi kuliah tadi."
" Kirain kenapa kok langsung bengong gitu."
Dalam hati Myla menahan sakit. Menahan pedihnya keputusan Morata yang ia
rasa seperti sebuah tusukan belati berkarat yang baru saja menghujamnya dari
belakang. Menghujam tanpa ampun, dan belati itu begitu keras untuk ia cabut.
Karat-karatnya bercokol disana. Membuat semua semua usaha yang coba ia lakukan
sekarang untuk mengaburkan bayangan—indah— Morata terasa sia-sia.
" Kenapa Mor senyum-senyum sendiri?" perkataan Kylie
membuyarkan lamunan Myla tadi.
" Nggak papa kok. Iseng aja pengen senyum." Morata nyengir.
Menampakkan deretan giginya yang rapi.
" Efek punya pacar kali yah. Senyum aja iseng."
" Alah kayak nggak pernah aja Ky." kini giliran Kylie yang
nyengir.
Myla hanya diam membisu melihat kelakuan kedua sahabatnya itu. Hatinya
terlalu pedih walau hanya untuk tersenyum—pahit.
****
Zi memandang layar hapenya sambil terus tersenyum. Kata-kata rayuan yang
Morata kirimkan melalui pesan singkat membuat senyumnya tak pernah mau pergi
begitu saja dari wajahnya—senantiasa menghiasi.
" Ciye senyum-senyum terus." candaan Tello hanya berbalas
senyum simpul Zi.
Neymar mengaduk orange juice nya tak bersemangat. Kenyataan bahwa Zi
telah 'resmi' dengan Morata membuatnya tak memiliki semangat pagi ini.
" Kenapa sih Ney dari tadi kayak orang gak punya nyawa aja. Ada
masalah sama Bruna ya?"
" Enggak kok Zi. Kurang mood aja sama dosen." Neymar berkelah.
Setelah mendengar jawaban Neymar, Zi
kembali berkutat dengan layar hape nya.
" Setidaknya aku masih punya Bruna kan?" Neymar
membatin. " Bukannya dari awal harusnya aku udah tau kalau Zi memang
mencintai Morata—begitupun sebaliknya. Jadi kalau mereka jadian itu kan bukan
suatu kejutan—dan juga bukan masalahku." batin Neymar berkecamuk.
" Ney. Kok bengong?" Zi menggerak-gerakkan tangannya dihadapan
Neymar.
" Nggak papa Zi."
" Bayangin Bruna ya?" Zi tersenyum lebar. Mata nya semakin
sipit. Neymar hanya membalas dengan senyum penuh keterpaksaan.
Sahabatnya ini telah bahagia sekarang—diantara sakit yang ia derita.
Mungkin Zi telah melupakan tetang perasaannya, juga melupakan bagaimana
kenekatan Neymar ketika menciumnya dibawah guyuran hujan saat pulang dari makan
malam bersama Morata. Neymar mengehela napasnya, mencoba melenyapkan pedihnya
seperti lenyapnya udara yang baru saja keluar—lenyap bersama luka lainnya.
****
" Myl kita akhir pekan mau ke Barca. Ikut nggak?" suara
melengking Kylie dari seberang telepon membuat Myla langsung menjauhkan benda
itu dari telinganya.
" Kita? Siapa aja?"
" Yang jelas aku sama Morata kamu mau ikut?"
Myla menggigit bibir bawahnya. Ia gugup. Terima atau tidak?
" Heh Myl kok diem?"
" Eh sorry Ky aku pikir-pikir dulu ya soalnya bisa jadi aku ada
jadwal kuliah akhir pekan."
" Tapi kalau nggak ada kuliah bisa kan Myl? Please Myl, kamu
sekarang ngindar terus kenapa sih?"
" Aku usahain ya Ky aku nggak janji." suara Myla lemah.
Benarkah ia sudah terlalu mengindar? Kalau iya sejauh apa? Apa itu
terlalu kentara? Apa perubahan itu langsung signifikan?
" Maafkan aku semuanya. Aku berlaku seperti ini karena aku tak
pernah ingin kalian tau betapa rapuhnya aku. Betapa aku terpuruk hanya karena
sebuah luka." Myla menyandarkan
punggungnya didinding.
Sebenarnya ia ingin ikut ke Barcelona. Ingin mengetahui seberapa ia bisa
bertahan melihat Zi dan Morata bersama. Tapi disatu sisi ia juga tak sanggup
membayangkan hal itu akan dialaminya didunia nyata.
****
Baby you light up my world
like nobody else
The way that you flip your
hair gets me overwhelmed
But you when smile at the
ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re
beautiful
If only you saw what I can
see
You’ll understand why I
want you so desperately
Right now I’m looking at
you and I can’t believe
You don’t know
You don’t know you’re
beautiful
Oh oh
But that’s what makes you
beautiful
[ One Direction - What
Makes You Beautiful ]
Sesaat
setelah Morata selesai menyanyikan lagunya semua orang disitu bertepuk tangan.
Neymar, Bruna, Cesc, Kylie, Zi, Myla dan Tello. Lagu itu Morata nyanyikan untuk
Zi, ditemani nada-nada dari petikan gitar yang dimainkannya. Zi terharu. Punggung
tangannya tak henti-hentinya mencoba menghapus air mata yang mengalir disudut
matanya.
"
Ah so sweet. Sayang aku mau." Bruna bergelayut manja di bahu Neymar.
"
Tapi aku nggak tau lagu One Direction." Neymar mengelak.
"
Lagu apa aja terserah yang penting romantis."
"
Aku juga mau beb." Kylie seperti tak mau kalah. Ia juga meninta Cesc
menyanyikan sebuah lagu untuknya.
Diantara keributan pasangan-pasangan tadi Tello dan Myla hanya saling
tatap. Maklum hanya mereka berdua yang tidak memiliki pasangan disini.
"
Kamu nggak pingin aku nyanyiin lagu buat kamu kan?" Tello menatap ke arah
Myla.
"
Kalau kamu mau nyanyiin aku terima. Nggak dinyanyiin ya nggak papa." Myla
mengangkat bahunya.
"
Mau request juga gak papa. Satu lagu cuma 50euro aja." Myla dan Tello pun
tertawa secara bersamaan.
"
Eh kenapa ini dua makhluk pada ketawa-ketiwi?" Cesc yang biasanya pendiam
kini jadi yang pertama bersuara.
"
Itu pasti semacam tanda." Kylie menimpali sambil tersenyum jahil.
"
Ok ini siapa yang bakalan nyanyi pertama?" Morata bertanya sambil
mengangkat gitarnya.
"
Cesc aja deh dulu."
"
Langsung reff nya gak papa kan beb?"
"
Yang penting lagunya romantis beb."
'Cause there's
somethin' in the way you look at me
It's as if my
heart knows
You're the
missing piece
You make me
believe
That there's
nothing in this world I can't be
I never know
what you see
But there's
somethin' in the way you look at me
[ Cristian
Bautista - The Way You Look At Me ]
" Udah gitu aja?" Kylie melongo.
" Katanya boleh reff nya aja. Aku kan nggak hafal lagunya."
Cesc menatap Kylie penuh pengharapan.
" Gak papa deh lagunya romantis juga."
" Sayang giliran kamu." Bruna menatap manja kearah Neymar.
Neymar meraih gitar yang tadi baru saja dipakai Cesc untuk konsernya.
I know you're
somewhere out there
Somewhere far
away
I want you
back, I want you back
My neighbors
think I'm crazy
But they don't
understand
You're all I
had, You're all I had
At night when
the stars light up my room
I sit by myself
talking to the moon.
Trying to get
to you
In hopes you're
on the other side talking to me too.
Or am I a fool
who sits alone talking to the moon?
[ Bruno Mars -
Talking To The Moon ]
" Seandainya kamu tau, itulah yang aku lakukan setiap malam saat
kamu berada jauh dariku." ucapan Neymar ini mengakhiri lagunya.
Tanpa banyak berkata lagi Bruna langsung menghamburkan pelukannya kepada
Neymar. Neymar membalas mengusap lembut rambut Bruna kemudian dikecupnya lembut
bibir gadis itu. Untuk pertama kalinya Neymar merasa bisa melupakan Zi sejenak walaupun
Zi ada dihadapannya. Ada satu hal yang bisa Bruna beri dan sepertinya tak akan
pernah Zi beri untuknya. Sebuah kepastian.
" Kamu nggak jadi nyanyi?" Kylie melirik Tello yang masih
bengong.
" Eh aku nyanyi juga ya? Ya udah deh demi fans." Tello cengar-cengir
sendiri.
" Fans?" semuanya langsung berteriak hampir bersamaan. Tello
refleks langsung menutup kedua telinganya.
“ Eh Sorry ya kalau lagunya nggak romantic.” Tello nyengir sambil
memengang gitar.
“ Udah nyanyi aja.” Cesc mendorong-dorong tubuh Tello supanya maju
ketengah-tengah lingkarang api unggun. Tempat dimana tadi dia bernyanyi.
Your
stare was holding
Ripped jeans, skin was showing
Ripped jeans, skin was showing
Hot
night, wind was blowing
Where you think you're going, baby?
Where you think you're going, baby?
Hey
I just met you and this is crazy
But here's my number, so call me maybe
It's hard to look right at you baby
But here's my number, so call me maybe
Hey I just met you and this is crazy
But here's my number, so call me maybe
And all the other girls try to chase me
But here's my number, so call me maybe
But here's my number, so call me maybe
It's hard to look right at you baby
But here's my number, so call me maybe
Hey I just met you and this is crazy
But here's my number, so call me maybe
And all the other girls try to chase me
But here's my number, so call me maybe
[ Carly Rae Japsen – Call Me Maybe ]
“ Ciye Myl tanda tuh. Suruh nelpon si Tello.” ucapan Kylie yang asal
ceplos membuat semua orang disitu langsung tertawa. Kecuali Myla dan Tello yang
tampak kikuk dengan suasana yang ada.
“ Kayaknya bakalan ada satu pasangan baru nih.” senyum jahil Morata yang
mengarah ke Myla langsung membuat Myla menunduk. Morata menginginkannya bersama
Tello? Dengan lelaki bertato ini? Dalam pikiran Myla berkecamuk—hatinya pedih.
…..
Aku
mencintaimu, lebih dari yang kau tau
Meski kau
takkan pernah tau
…..
Baru kusadari,
cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk,
seluruh hatiku
[ #backsound :
Dewa 19 – Pupus ]
Selain Myla semua orang disitu menikmati kegiatan api unggun mereka. Api
unggun dibawah bintang-bintang malam dan beralaskan rumput-rumput yang mulai
diselimuti dingin karena salju sepertinya akan segera datang.
Myla berpikir kalau ia akan sakit hati karena Zi. Tapi ternyata
perkiraannya salah. Ia tak sakit hati karena gadis itu. Ia sakit hati karena
Morata. Laki-laki itu sepertinya benar-benar tak menganggapnya lebih. Hanya
seorang sahabat yang ia kenal sejak SMA—mungkin itu saja. Dadanya sesak tapi
dia tak mau menangis.
Dia bertekad untuk tidak menangis dihadapan pria itu sekarang. Ia harus
terlihat kuat. Toh memang ini kan yang ia mau. Tak pernah menginginkan Morata
tau bahwa dia mencintainya—sejak pertama bertemu.
****
“ Myl tunggu.”
Merasa seseorang memanggilnya Myla langsung berbalik “ Tello?”
“ Ini buat kamu.” Tello menyerahkan sebuah kotak yang entah isinya apa
kepada Myla. Setelah kotak itu diterima Myla, Tello langsung berbalik
arah—melawan arah yang akan dituju Myla.
“ Coklat?” Myla berdesis.
“ Makasih ya.” ucapan terimakasih Myla setengah berteriak karena Tello
sudah berjalan cukup jauh
Tello langsung berbalik dan memberikan senyum. Myla membalas senyum itu.
“ Aneh.” Myla mengangkat bahunya. “ Lumayan coklat gratis.” ia lalu
mengikik pelan.
-Bersambung Insya Allah, doain
yah ;)-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar