SpongeBob SquarePants

Jumat, 13 Juni 2014

Looking Back [One SHot]


Story asli nya sih ini 

&&&&

Salom menghentikan mobilnya diantara deretan pohon-pohon sakura yang mulai berguguran bunganya. Dengan memendam luka Salom berjalan menyusuri sakura-sakura itu. Entah kenapa setiap melihat bunga-bunga sakura yang berjatuhan Salom selalu teringat dengan Nana. Gadis yang sepuluh tahun lalu muncul didalam kehidupannya.
Saat melangkahkan kakinya Salom melihat gambaran seorang gadis yang beranjak dewasa. Dan bayangan itu adalah bayangan Nana.
Nana berbalik dan member senyum kearah Salom, dengan sejuta pertanyaan Salom beranjak mengikuti bayangan Nana. Sampai ditengah-tengah hutan sakura Nana berhenti, didepannya terdapat sebuah piano.
Salom tersadar, piano itu adalah piano yang sama dengan piano yang dulu ia pakai untuk latihan saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat dimana ia mulai mengenal Nana.
Tuts tuts piano mulai membunyikan nada, Nana memainkannya sambil terus tersenyum tanpa beban. Dan satu bayangan lagi masuk diantara mereka. Salom menahan napasnya, karena ia terkejut. Bayangan itu adalah dirinya. Sepuluh tahun yang lalu.
Bayangan Salom itu menutup mata Nana dari belakang. “ Salom lepaskan.” Nana memohon sambil tertawa cekikikan. Salom remaja tersenyum dan melepaskan tangannya.
Salom remaja itu lalu duduk disebelah Nana. Memainkan piano itu besama. Walaupun lagu yang mereka mainkan berantakan tapi karena mereka memainkannya dengan perasaan terpendam masing-masing jadilah nada itu tetap terdengar indahbagi mereka.
Kemudian semua bayangan itu mulai kabur. Berganti dengan bayangan Nana yang berdiri didepan sebuah pintu. Lagi-lagi Nana tersenyum kearah Salom.
Tangan mungil Nana mencoba membuka grendel pintu. Cahaya yang berpendar langsung menyeruak saat pintu itu terbuka. Rasa penasaran dalam diri Salom membuat kakinya refleks bergerak mendekati pintu itu dan masuk kedalamnya.

The mysterious end of that season
I think, did I really love you?
Somewhere, all those times that we were together
I look back to those times, as if I could touch it, as if it was yesterday


&&&&

Aneh. Itu hal yang Salom rasakan saat masuk ke pintu tadi. Hanya pendar putih yang berada disana. Dan gaya gravitasi seperti semakin kuat. Semuanya seperti terserap kedalam.
Beberapa detik kemudian Salom berdiri disebuah koridor sekolah yang sangat ia kenali.
“ Tidak berubah sama sekali,” ia bergumam.
Salom memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri sekolah penuh kenangan itu tanpa memikirkan bagaimana caranya tadi bisa sampai berpijak ditempat itu.
Beberapa murid sibuk dengan kegiatannya. Tapi ada juga yang lebih memilih untuk tidur ketimbang mendengarkan penjelasan guru dihadapannya.
Sayup-sayup terdengar suara instrument musik dari dalam ruangan orkestra.  Ruangan itu dulu selalu menjadi favorit Salom selain ruang kelas. Disini ia bagai memiliki jam tambahan untuk tetap berada didekat Nana.
Saat menengok kedalam ruang orkestra Salom baru sadar kalau dirinya terjebak dalam ruang waktu.  Waktu yang dijalani nya sekarang adalah waktu yang berlaku sepuluh tahun yang lalu.

&&&&

Nana POV
“ Ah sialan aku lupa lagi membawa buku bahasa Jepang ku. Pasti Ishida sensei akan marah besar,” aku memaki-maki dalam hati.
“ Nana-san,” suara tegas Ishida sensei memanggil namaku. Sama sekali bukan pertanda baik. Aku terus menunduk.
“ Kamu juga, berdiri,” Ishida sensei menunjuk seorang siswa. Dengan keberanian yang masih tersisa aku berusaha untuk melirik. Ternyata anak baru yang kemarin bermain piano di ruang orkestra.
“ Kalian berdua karena tidak membawa buku mata pelajaran dan itu tandanya kalian tidak mau ikut pelajaran sensei sebaiknya kalian berdua keluar.”
Aku terus saja menunduk, sambil sedikit menahan rasa kecewa serta kebodohan karena lupa membawa buku .
“ Nana kan?”
“ Eh?” aku mendongak. “ Iya aku Nana.”
“ Aku Salom,” mengulurkan tangannya. Aku yang kikuk hanya menyambut uluran tangannya. Ia tersenyum simpul.

&&&&

Salom POV
Ah lucunya kalau aku ingat saat pertama Nana tau namaku. Aku yang terlalu canggung untuk mengetahui namanya dan Nana yang bingung denganku. Hahaha betapa lucu nya kami dulu saat berkenalan.
Aku menahan ketawa ku melihat gambaran bagaimana canggungnya aku.
“ Hei kalian berdua,” suara Ishida sensei mengagetkanku.
Beliau keluar kelas sambil membawa penghapus penghapus yang sudah kotor karena tumpukan debu debu kapur.
Kami membersihkan penghapus penghapus itu bersama. Saat itu aku ingat bagaimana rasanya. Aku gugup, walau hanya membersihkan debu kapus dari penghapus berdua aku sudah gugup. Diluar hanya ada aku dan Nana.
Nana terbatuk-batuk, mungkin karena debu-debu itu masuk ke saluran pernapasannya. Sebenarnya aku rela saja melakukan ini sendirian tapi aku tidak ingin melihat Nana didamprat Ishida sensei jika ketahuan tidak melaksanakan hukumannya.
Setelah selesai kami duduk dulu sebentar dibawah pohon yang mulai menguning daunnya mendekati musim gugur.
“ Nana,” aku memberanikan diri memulia percakapan.
“ Eum,” ia hanya menoleh.
“ Ah itu, kamu piket hari ini kan?” aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
“ Iya, kamu juga?”
“ Hehe,” kau nyengir.

Saat jam pulang sekolah, saat piket. Ini yang aku tunggu-tunggu. Nana bilang aku dan dia berbagi tugas membersihkan kaca jendela yang sebetulnya tidak kotor-kotor sangat.
Nana membersihkan kaca dari bagian dalam. Ah ini kesempatanku untuk mengejutinya dari luar.
Aku tidak menunduk supaya tubuhku tidak terlihat Nana. Setiap gerakan tangannya aku ikuti dari luar supaya terlihat sama. Gerakan Nana lalu sedikit melambat.
“ Daaa…” aku tersenyum dibalik kaca.
“ Salom,” ia menyebut namaku sambil tertawa simpul. Sedetik kemudian aliran darah ku menghangat dengan sendirinya.

&&&&

Author POV
Salom tersenyum sendiri melihat bayangan masa lalunya. Semuanya seperti terukir indah, terpahat rapi dan seperti tersusun apik seperti sebuah puzzle.
“ Nana mau aku antar pulang?”
“ Nggak usah, kakak aku udah jemput. Bye.” Nana buru-buru keluar kelas dan melenggang pergi.

Each moment, I think of you
That voice that quietly rang with a low tone
Even your resemblance to the spring sunlight
You always brightly shined on my day

&&&&
Hari ini adalah hari latihan orkestra, seperti biasa Nana sudah mempersiapkan biola kesayangannya.
“ Nana.” Salom melambaikan tangannya supaya Nana bisa menemukannya dengan segera.
Nana hanya membalas dengan lambaian tangan dan berjalan kearah Salom.
“ Ke ruang orchestra bareng yuk.” Salom langsung menggandeng tangan Nana tanpa persetujuan sang empunya tangan.
“ Eh Salom ini tangan kita.” Nana mengucapkannya pelan sekali. Salom langsung melepas genggaman tangannya karena malu.
“ Ma..maaf.”
“ Ga apa-apa kok. Kamunya kelupaan mungkin.”
Pipi Salom semakin memerah. “ Astaga cerobohnya aku,”  ia membatin.
Sampai diruang orkestra suasana sudah cukup ramai.
“ Baiklah karena orangnya sudah lengkap bagaimana kalau kita mulai latihan hari ini,” suara Mr. Ken memecah keheningan diruang orkestra.
Saat latihan ada hal yang paling Nana benci, dirinya harus rela melihat kemesraan diantara Rania dan Salom yang berbagi piano. Entah datangnya dari mana, yang jelas saat Nana mencoba menoleh kearah Salom disitu sudah ada Rania.
Sebagai anak baru, Salom cukup populer. Karena kemahirannya memainkan piano banyak siswi yang luluh dibuatnya termasuk Nana. Tapi Nana tidak pernah mencoba memperlihatkan rasa sukanya kepada Salom karena Nana sendiri tidak yakin dengan perasaan Salom padanya.
Nana hanya bisa memandang dengan rasa jengkel, sebenarnya ia ingin sekali melempar biola kesayangannya kearah Rania. Tapi diurungkannya niat tersebut karena kalau ia melempar biola itu masalah akan tambah rumit dan panjang.
“ Nana pulang yuk, latihan sudah selesai.” Salom menghampiri Nana yang masih sibuk dengan biolanya.
“ Aku masih ada keperluan dengan Mr. Ken.” Nana berkelah.
“ Baiklah.” Salom menjawabnya dengan nada cemas.
“ Hati-hati dijalan.” Nana memaksakan senyumnya, terlebih ia melihat Rania sudah menanti Salom didepan pintu.
Maksud Nana masih bertahan diruang orkestra bukanlah karena keperluan, tapi karena ia ingin mengambil satu tuts piano yang Salom gunakan tadi.
“ Maaf ya Salom, aku pinjam ini darimu.” Nana lalu memasukkan tuts piano itu kedalam saku dalam jas sekolahnya.

Each moment, I think of you
That voice that quietly rang with a low tone
Even your resemblance to the spring sunlight
Even the small memories are still so clear

&&&&
Saat Nana tengah sibuk membawa setumpuk buku bahasa Jepang suruhan Ishida sensei segerombol anak-anak cowok iseng malah mengerjainya dengan menarik tali sepatu Nana.
“ Aww,” Nana berteriak refleks.
Suara buku-buku jatuh dan teriakan Nana membuat Salom langsung keluar kelas.
“ Nana.” panggilnya.
PLAK. Nana menampar pipi Salom. Pikirannya tidak jernih sekarang.
“ Nana?” Salom terbelalak kaget, Nana bukan tipikal cewek kasar.
Nana sama sekali tidak memperhatikan Salom dan langsung pergi. Buku-buku bahasa Jepang yang harus diantarnya ke Ishida sensei malah ia tinggal.
Kemudian terdengar tawa anak-anak yang tadi mengerjai Nana. “ Rasakan,” salah satu diantara mereka menyeletuk.
Salom berbalik dan mengepalkan tangannya.
Pulang sekolah Salom langsung mengejar Nana. “ Nana yang tadi itu bukan aku.” Salom mencoba meraih tangan Nana tapi Nana menepisnya.
“ Nana sudah kubilang itu bukan aku.”
Bukannya dapat perlakuan baik Nana malah mendorong Salom hingga tersungkur.
“ Leave me alone.”

&&&&

Esoknya Nana memandangi bangku Salom yang masih kosong. Sama dengan bangku itu pandangannya juga kosong.
Pandangan kosong Nana buyar saat seseorang menaruh susu kotak di meja nya. Dan orang itu adalah Salomdengan luka dipipinya. Rasa bersalah Nana muncul
“ Maaf ya, aku terlalu egois sampai membuatmu terluka.” Nana memandangi Salom yang menunduk lesu.
“ Mr. Aaron datang,” teriak salah satu murid. Mr. Aaron adalah guru matematika yang cukup killer.
“ Ya anak-anak bagaimana PRnya sudah selesai?”
“ Yes, Sir.”
“ Baiklah, Salom Nana maju kedepan.”
Nana memandangi Salom sebentar. Bahkan sampai saat mengerjakan nomor yang Mr. Aaron suruh Nana masih memperhatikan Salom.
Hingga Salom duduk kembali ke bangkunya pun Nana masih memandangi Salom dengan perasaan bersalahnya.

&&&&

Kegiatan orkestra masih berjalan seperti biasanya, tapi ada satu yang mengganjal Salom. Satu tuts piano nya hilang,  Nana memandangi sambil tersenyum kecil dibalik permainan biola nya.
“ Nana, setelah ini kamu tolong bawakan buku-buku itu ke perpustakaan,” suara Mr. Ken menghentikan permainan biola Nana.
“ Baik, Mister.” Nana menganggukkan kepalanya.
Salom rupanya diam-diam memperhatikan percakapan Nana dan Mr. Ken dari balik bahunya.

Usai dari kelas orkestra Nana buru-buru berkemas lalu membawa setumpukan buku suruhan Mr. Ken tadi ke perpustakaan yang letaknya tak jauh dari gerbang masuk sekolah. Searah dengan jalan pulang.
Dari belakang Salom langsung mengambil buku-buku yang Nana bawa tadi. Nana yang terkaget hanya refleks tersenyum saat tau siapa yang membawakan buku untuknya.
“ Salom tunggu.”
Senyum Nana mengembang, baginya perlakuan Salom tadi Manis. Lebih manis dari Caramel buatan mamanya kemarin sore.

&&&&

Nana POV
Mungkin hari ini adalah hari paling menyedihkan bagiku, hari ini dan seterusnya aku bakalan kehilangan Salom yang lima bulan belakangan ini menemaniku. Salom yang ada untukku sebentar lagi akan pergi.
Semua berawal saat aku tidak sengaja mendengar percakapan guru pembimbing konseling dengan Salom diruang BK. Walaupun tidak semua percakapannya aku dengar aku tau kalau Salom akan ke Amerika hari ini juga.
Penyakit leukemia nya semakin parah dan rumah sakit di Sevilla sudah tidak sanggup untuk menangani kasus Salom. Salom disarankan untuk ke Amerika karena disana penanganan tentang leukemia lebih memadai dan lebih cepat.
Airmata ku perlahan menetes, pandanganku mulai buyar. Saat Salom keluar dari ruang BK bukannya melihat ku atau memelukku sekedar menenangkan ia malah berlalu pergi keluar.
Aku terus membuntutinya dari belakang dengan perasaan yang campur aduk. Salom sepertinya memang tidak berniat untuk memandangku lagi. Mungkin ini yang terbaik kami saling melupakan.
Saat Salom semakin dekat dengan mobil orang tuanya, suara ku yang tercekat akhirnya keluar juga. “ Salom,” dan hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Syukurlah Salom mendengar ucapanku, dia berbalik. Ternyata airmata mulai ada disudut matanya.
Aku memberikan tuts piano yang selama ini aku sembunyikan dibalik jas sekolahku. Kemudian aku berbalik dan pergi, menghapus semua airmata perpisahan ku dan Salom yang membuat wajahku penuh dengannya.

Where are we?
I look back at all those memories
Were we happy?
Only unknown feelings remain in the same place


&&&&

Salom POV
Aku seperti melihat kembali kenangan-kenangan masa laluku dengan Nana. Pintu tadi benar-benar membawaku kedimensi lain. Sayangnya aku tidak bisa melakukan hal lain selain memandanginya sambil tersenyum pahit.
Takdir dimasa lalu tidak bisa dirubah sekalipun kamu mengendarai mesin waktu tercanggih dimuka bumi. Apa yang kamu jalani sekarang ya karena keputusanmu dimasa lalu. Itu yang aku tau, jadi aku tidak ingin mengubah nasib siapapun disini hanya karena satu tindakan.
Pintu yang tadi membawaku kesini muncul lagi. Setelah apa yang aku lihat selesai aku akhirnya kembali keduniaku sekarangsepuluh tahun kemudian dari cerita yang aku tonton tadi.
Dulu aku pergi dari Nana karena dokter yang menangani kasus leukemia ku mengatakan kalau umurku tinggal setengah tahun lagi. Dengan waktu yang seingkat itu susah bagiku untuk membahagiakan wanita yang aku cintai.
Sekalipun ia bahagia denganku dalam waktu enam bulan, lalu seterusnya. Ia hanya akan menghabiskan sisa harinya dengan menangis meratapi kebahagian yang pernah ada dalam hidupnya.
Aku tidak berani mengambil keputusan saat itu dan aku pilih untuk pergi dengan alasan yang bisa masuk akal.
Kudekap erat tuts piano yang pernah Nana sembunyikan.
“ Mungkin kah aku masih hidup karena Nana?”

Each moment, I think of you
That voice that quietly rang with a low tone
Even your resemblance to the spring sunlight
I still haven’t forgotten you
Where are we?
Were we happy?





-END-




3 komentar:

  1. Keren ff nya,, kalo G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ salah ceritanya mirip sama video clipnya Lee Seung Gi :)

    BalasHapus
  2. Kerenn ceritanya ;) kalo nggak salah, ceritanya hampir mirip sama MV nya Lee Seung Gi ya? Tapi lupa judul lagunya apa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya emang dari situ... lagu return... kece banget lagunya

      Hapus