Tittle : Cant
Choose one
Rating : T
aja deh :D
Genre :
Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia
Carter
Kylie
Mourinho
Demylia
Sanchez
Neymar
Alvaro Morata
Other….
Sorry labil,
tapi disini ceritanya Neymar-Bruna putusan /bakar mercon/
&&&&
Myla dan Morata masih menunggu kata-kata apa yang akan terlontar dari
mulut Zi.
" Aku cuma pingin Morata menikahi Myla…"
kalimat Zi menggantung, " … dan aku."
Jleb. Dua kata terakhir Zi mampu meruntuhkan kebahagiaan Myla beberapa
detik sebelumnya.
" Oke aku tau aku egois, aku terlalu ingin memiliki Morata. Aku
mencintai Morata terlalu berlebihan? Memang…. Ini karena
aku sayang." Zi menangis diatas ranjang rumah sakit dengan tangan yang
masih berhiaskan selang infus.
" Kalau kamu gak bisa nikahi aku secara sipil…."
Belum selesai Zi berbicara Morata langsung memotongnya dengan sebuah
pelukan hangat, " Aku akan menikahi kalian berdua."
&&&&
Myla POV
PERIH. Kenapa dunia tidak pernah adil padaku. Huh, semuanya seperti
berjalan indah pada Zi. Menyenangkan, selalu mendapat apa yang ia mau. Terutama
mendapatkan Morata—lelaki yang sama-sama kami cintai.
Morata selalu melihatnya, selalu menyayanginya. Padahal pertemuan mereka
terbilang baru. Aku? Selalu dipandang sebelah mata oleh laki-laki tampan itu.
Bahkan disaat seperti ini Morata masih mementingkan Zi ketimbang aku
yang mengandung anaknya. Well, walau bayi ini hasil kecelakaan tetap saja kan
ini anak Morata.
Mor… lihatlah aku sekali saja. Kali ini saja.
&&&&
Morata POV
Aku boleh mengambil keputusan terberat saat ini. Mungkin bagi beberapa
laki-laki diluar sana, posisiku sangat mereka dambakan saat ini. Direbutkan dua
wanita cantik. Dan dua-duanya memintaku menikahinya.
Tapi bagiku ini dilema, Zi wanita yang sangat aku sayangi. Myla, sahabat
ku—yang sedang mengandung anakku.
" Arrrgghhh…." aku menjambak rambutku
sendiri. Kamar apartement acak-acakan setelah aku hambur(?).
" Zi kenapa kamu meminta hal seperti ini? Kenapa Zi?" aku
menatap nanar sebuah bingkai foto. Foto Zi tengah tersenyum dengan pose V—foto Zi saat masih SMA.
&&&&
Zi POV
Sekarang mungkin akulah orang paling egois didunia ini. Memisahkan dua
insan manusia yang—hampir—berjodoh.
Tidak… tidak.. Morata jodohku. Walau kiamat sekarang
Morata jodohku.
&&&&
Author POV
" Ky kamu benar akan ke London?" Myla membantu Kylie mengepak
barang-barangnya yang akan ia bawa pindahan ke London. Menyusul ayahnya—sebenarnya menyusul pacarnya.
" Ya kau tau, Cesc sudah beberapa waktu lalu pindah ke London dan
urusanku disini baru selesai sekarang." Kylie menjawab cuek sambil terus
mengepak baju-bajunya.
" Aku gak punya temen dong." Myla memanyunkan bibirnya.
" Kamu kan mau menikah sayang, Morata pasti akan menemanimu."
Kylie mencubit pipi Myla gemas.
" Dan Zi juga." Myla berucap pelan.
" Ayolah Myl… Cerialah." Kylie tersenyum
tiga jari.
Mau tak mau Myla ikut tersenyum karena kelakuan sahabatnya.
" Baiklah kita selesaikan ini, lebih cepat maka lebih banyak
waktumu untuk istirahat."
Kylie sumringah melihat senyum terkembang di bibir Myla. Akhirnya dia
tersenyum juga.
&&&&
Pernikahan Zi-Morata-Myla dilakukan secara sangat sederhana karena hanya
dicatat di catatan sipil tanpa sebuah acara pesta resepsi.
" Mor maaf ya aku langsung balik Barcelona lagi." Zi langsung
pamit undur diri(?) saat Mereka bertiga baru akan kembali ke apartement Morata.
" Kenapa Zi?" Myla menatap Zi sendu.
" Tugas-tugas aku numpuk jadi aku harus balik ke Barcelona."
Zi memegangi tengkuknya.
Morata melihat kilat kebohongan dipelupuk mata Zi. Tapi dia tak bisa
mencegah kalau Zi memang mau kembali ke Barcelona.
" Hati-hati di jalan ya Zi." Morata mengecup pelan puncak
kepala Zi.
Zi hanya tersenyum lalu memeluk erat Morata, " Da…"
Zi melambaikan tangannya sebelum memasuki mobil putih mungil miliknya.
" Ayo kita pulang." Morata meraih pinggang ramping Myla.
Bahkan hanya dengan diperlakukan seperti itu Myla sudah merasakan jutaan
kupu-kupu berterbangan didalam perutnya.
&&&&
Sesampainya di rumah Zi langsung menceburkan diri kedalam bathtube,
menenangkan syaraf-syaraf nya yang penat dengan semua pikiran yang berkecamuk
dipikirannya.
Limabelas menit waktu yang Zi butuhkan untuk berendam. Usai berendam Zi
langsung berpakaian lalu menonton tv.
Tokk… tokk… tokk….
" Siapa?" Zi masih belum beranjak dari sofa.
" Aku." tanpa jawaban lebih Zi sudah tau siapa yang ada
dibalik pintu itu.
Senyum Neymar menyambut Zi saat ia membuka pintu.
" Selamat ya Zi." Neymar langsung memeluk erat tubuh mungil
Zi. Zi yang dipeluk hanya melongo kebingungan.
" Kamu kenapa?"
Neymar memasang wajah datar. Tanpa menggubris Zi yang masih bingung
didepan pintu. Dengan santainya Neymar melewati Zi lalu duduk di sofa.
" Zi kamu sakit?"
Pertanyaan Neymar menyadarkan Zi dan buru-buru ia menyusul Neymar yang
tengah duduk disofa nya. Zi memegangi tengkuknya karena gugup. Betapa idiotnya
dia tadi.
" Morata kemana?" Neymar celingukan mencari sosok Morata yang
memang tidak ada.
" Dia di Madrid." Zi menjawab lemas.
" Ya, kamu ini. Bagaimana bisa sepasang pengantin baru pisah
rumah?" Neymar menatap Zi tak percaya.
" Tugas kuliahku banyak yang tertunda. Jadi aku 'pinjamkan' dulu
dia pada Myla. Toh pasti Myla butuh Morata disebelahnya, kalau-kalau dia
mendadak nyidam(?)." Zi menangkupkan kedua tangannya ke wajah. "
Sudahlah Ney, aku butuh ketenangan. Kalau kamu kesini hanya mau mengusikku… sebaiknya pulanglah."
Dengan gerakan refleks Neymar malah langsung memeluk Zi, membuat gadis
itu senyaman mungkin didalam dekapannya. " Kalau kamu punya masalah
ceritalah Zi." Neymar mengelus pelan rambut Zi.
" Mungkin bukan sekarang." Zi melepaskan dekapan Neymar. Berlalu
menuju kamarnya.
Neymar tau itu tanda kalau Zi memang sedang ingin sendirian. Menenangkan
otaknya yang penat. " Zi jaga dirimu baik-baik ya."
Suara pintu tertutup. Neymar sudah keluar dari apartement Zi. Dengan
sisa tenaga nya Zi menumpahkan semua airmata yang sudah memenuhi pelupuk
matanya sejak tadi. Tangis yang selama ini ia tahan tertumpah sudah.
" Ya tuhan… apa ujian ini masih akan
berlanjut?" baju kaos yang tadi dikenakan Zi sudah penuh dengan airmata.
&&&&
" Apa kamu sudah menghubungi Zi?" Myla melihat kegelisahan
diwajah Morata. Suaminya―suami Zi juga―itu
terlihat lesu sambil sesekali mengacak-acak rambutnya.
" Belum. Nomor Zi tidak bisa dihubungi sama sekali." Morata
makin mengkucelkan wajahnya(?).
" Coba kamu hubungi teman terdekatnya." Myla tidak mencoba
menyebutkan nama teman dekat Zi, karena pasti Morata juga akan tertuju pada
satu nama. Neymar.
Melihat Morata yang tak kunjung menyentuh handphone nya untuk
menghubungi seseorang―yang bisa dimintai informasi tentang
Zi―Myla diam-diam mengirim sebuah pesan singkat―menggunakan salah satu aplikasi chat―pada
Neymar.
" Aku baru saja memberi pesan Neymar lewat li*ne." Myla
menyentuh pelan bahu suaminya itu. Morata memandang sejenak kearah Myla.
Setidaknya Myla juga peduli pada Zi―atau padanya.
" Kamu gak tidur Myl? Ibu hamil gaboleh tidur larut loh."
Morata mengacak gemas rambut Myla.
Myla memanyunkan bibirnya, " Rusak kan rambutku."
" Gapapa kok, makin cantik."
-blush- pipi Myla memerah. Astaga, hanya diperlakukan seperti itu oleh
Morata, Myla sudah blushing. Myla menundukkan wajahnya menahan malu, apalagi
kalau sampai Morata melihat pipinya yang memerah.
Myla terlonjak ketika tiba-tiba Morata menggendongnya―ala
bridal style―sontak ia langsung mengalungkan tangannya ke
leher Morata.
" Apa aku tidak berat?"
" Kamu ringan seperti bulu, sayang."
Lagi-lagi perlakuan Morata membuat pipinya semakin memerah. Morata
merebahkan Myla diranjang king size mereka.
" Tidurlah." Morata mengecup pelan kening Myla. " Eung,
Myl…"
" Iya?"
" Minggu depan aku boleh ke Barcelona?"
Myla sedikit merasakan kekecewaan. Walau Morata sekarang pintar
membuatnya melayang―sembari merasakan kupu-kupu yang
beterbangan diperutnya―ternyata Morata yang sekarang masih
seperti itu. Otaknya penuh dengan hal-hal yang berhubungan dengan satu nama.
Zi.
&&&&
Morata menyulap apartement Zi menjadi lebih romantis. Lilin dimana-mana,
bau mawar semerbak mengisi seluruh ruangan. Belum lagi kamar Zi yang penuh
dengan kelopak bunga mawar.
" Zi pasti akan senang, satu jam lagi pasti dia pulang dari
kuliahnya."
Morata hanya bilang kalau sekitar jam 5sore nanti―sekitar
satu jam dari sekarang―ia akan menghubungi Zi melalui
skype. Sudah pasti Zi akan pulang karena gadis itu sedang tidak membawa laptop
hari ini.
-----
Saat Zi membuka pintu, lampu dirumahnya langsung mati. Tinggalah temaram
cahaya lilin-lilin yang tadi Morata susun rapi(?).
" Kamu suka Zi?" Morata menaikkan sebelah alisnya
Tanpa berkata apa-apa lagi Zi langsung menubruk Morata. Memeluk pria
dihadapannya erat sambil menitikkan airmata.
" Kamu nangis?"
" Aku bahagia."
Zi masih belum mengalihkan wajahnya didada bidang Morata. Walau
menghindar sebenarnya Zi sangat merindukan Morata. Merindukan pelukan pria itu,
merindukan suaranya yang selalu terdengar lembut dan semua yang ada pada Morata.
" Jangan ngindar lagi ya." Morata mengacak pelan rambut Zi. Zi
mengangguk kecil. " Yuk makan, aku udah buatin kamu makanan."
" Really?"
" Tapi aku gatau enak apa nggak nya." Morata menjawab ragu.
Morata menggandeng Zi ke ruang makan. Tak berbeda jauh dengan ruang
tamunya tadi. Ruang makan Zi juga telah Morata sulap, walau tak banyak
lilin-lilin kecil tapi warnanya berubah jadi sedikit pink karena
kelopak-kelopak bunga mawar pink yang Morata tebar.
Lagi-lagi Zi menitikan airmatanya bahagia, makan malam romantis yang
lama ia inginkan.
" Like that MV right?" Morata menanyai Zi dengan sedikit
seringaian―yang tidak Zi perhatikan.
Zi hening menatap Morata, " MV yang mana?"
" Yang di laptopmu. Aku tidak tau judulnya. Bukan bahasa Spanyol
sih."
" Oh." Zi berlagak sok tau, padahal dia tidak tau MV apa yang
Morata maksud. Ada ratusan MV di laptopnya, sebagian besar tidak sering ia
tonton. Mana ia ingat. " Mari makan, aku sudah sangat lapar."
" Baiklah." Morata memberi senyum terbaiknya. " Kalau
tidak enak bilang ya."
Zi memasukkan sepotong daging yang baru ia iris. Asin. Itulah rasa
pertama yang ia rasakan " Enak kok Mor, lain kali masak lagi ya." Zi
tersenyum, " Tanpa garam berlebih." tambahnya dalam hati.
Selesai makan Zi melirik jam tangan kecilnya. Sudah pukul 19.00 rupanya.
Saatnya mengerjakan tugas.
" Mor…" Zi terlonjak ketika Morata
tiba-tiba menggendongnya ala bridal.
" Kenapa? Kaget?" Morata tersenyum seduktif.
" Aku tidak suka digendong seperti ini. Turunkan."
Dengan berat hati Morata menurunkan Zi, " Lalu kamu mau digendong
seperti apa?"
" Berbalik."
" Apa?"
" Kamu mau menggendongku apa tidak?"
" Kamu minta gendong belakang?"
" Eum…" Zi mengangguk.
" Naiklah."
" Nah seperti ini lebih mengasyikkan."
" Tapi ini kurang romantis." Morata melayangkan protesnya.
Saat sampai didepan kamar Zi Morata membukanya hanya dengan medorongkan
tubuhnya. Tentu saja semua ini telah Morata setting sedemikian rupa.
" Kamu benar-benar melakukannya." Zi menatap ke arah
ranjangnya yang penuh dengan kelopak bunga.
" Mawar merah romantis untuk bulan madu. Maaf tidak bisa membawamu
pergi kesuatu tempat yang ideal."
" Ini lebih dari segalanya." Zi mengecup pelan pipi Morata.
Merasa sudah mendapat izin, Morata langsung mencium bibir Zi. Awalnya
hanya lumatan-lumatan pelan, tapi lama kelamaan lumatan diantara mereka semakin
liar dan kasar.
Karena kehabisan napas Zi mendorong tubuh Morata.
" Kenapa? Kau tidak suka?"
" Aku kehabisan napas."
" Bisa aku lanjutkan?" seringai Morata membuat Zi luluh. Gadis
itu mengangguk
Morata membimbing Zi menuju ranjang yang penuh kelopak bunga tadi,
" Kamu siap?"
" Eum…" Zi mengangguk, " Tapi Mor…"
" Iya?"
" Lakukan dengan pelan ya, kau taukan ini pengalaman
pertamaku?"
" As you wish baby." Morata mengecup pelan kening Zi.
Malam itu disela-sela adegan erotis mereka, diantara suara desahan yang
beradu. Morata telah resmi memiliki Zi(?).
I can't do
anything because of you all day
I think my
heart has been taken away by you
It's as if
you're right next to me
My heart is
drunk with thoughts of last night
I can't sober
up, it's all because of you
I'm going
crazy, I want you
I want to
have you, I want to touch you
I'm falling
for you, deeper and deeper
[ 2PM - All
Day Think Of You ]
&&&&
Your eyes,
nose, lips
Your touch
that used to touch me,
To the ends
of your fingertips
I can still
feel you
But like a
burnt out flame
Burnt and
destroyed all of our love
It hurts so
much
But now I'll
call you a memory
[ Taeyang -
Eyes Nose Lips ]
Neymar menatap keluar jendela apartement nya, baginya semua kini kosong.
Dia sudah kehilangan dua orang―wanita―sekaligus.
Bruna―gadis yang mencintainya―dan Zi―gadis yang ia cintai.
" Tuhan pasti punya rencana untukku." ia bergumam sambil
menyesap kopinya. Headset masih terpasang ditelinganya. Mendengarkan lagu yang
sesuai dengan isi hatinya―lagu yang memiliki lirik
menyayat hati.
" Kapan aku bisa lepas dari bayang-bayang kalian berdua, huh?"
Ditatapnya langit yang mulai mendukung, bahkan langitpun ikut sedih. Apa
benar? Matanya nanar, butir-butir kristal mulai menyusuri pipinya. Menumpahkan
kesedihan dengan caranya sendiri.
&&&&
*Tujuh bulan berlalu*
Disebuah malam dirumah Zi, Morata dan Zi sedang menyantap makan malam
mereka dengan hening. Morata merasakan hal yang aneh pada diri Zi belakangan
ini.
" Mor, aku ingin bicara."
" Bicaralah."
" Aku ada hadiah untukmu." Zi masih memasang wajah datarnya.
" Hadiah?" Morata membulatkan matanya senang.
Zi menyerahkan sebuah testpack dan selembar data USG.
" Zi kamu hamil? 3minggu?" Morata semakin tak bisa membendung
kebahagiannya.
" Aku juga ada permintaan."
" Katakanlah." Morata tak bisa menghentikan senyumnya.
Kali ini Zi menyerahkan beberapa lembar kertas, " Aku minta kamu
menandatangani ini."
" Su… surat cerai?" Morata menatap heran
Zi, bagaimana bisa istrinya ini menerbangkannya lalu menjatuhkannya dalam
sekejap.
" Kamu gak bercanda kan Zi?"
Zi masih bergeming, ia malah menyerahkan beberapa kembar kertas dengan
tulisan-tulisan bernada mengancam.
" Siapa yang mengirimi semua ini Zi?"
Lagi-lagi Zi hanya diam dan malah menyerahkan sebuah kertas lagi pada
Morata.
" Jauhi
anakku, atau kamu akan kehilangan dia dan bayimu."
Zi menyerahkan satu kertas lagi.
"
Ceraikan anakmu, kalau kamu ingin bayimu selamat."
" Jadi ini ulah ibuku?"
Zi mengangguk mengiyakan. " Ibumu menginginkan aku menggugurkan
anak ini kalau aku memilihmu, dan aku menolaknya."
" Tapikan kita bisa membuatnya lagi(?)."
" Apa kamu pikir hidupku akan berakhir seperti ini?
Hamil-menggugurkannya-hamil-menggugurkannya? Aku juga ingin bahagia Mor, aku
juga ingin punya anak? Dan aku tau kalau aku memilih jalan bersamamu aku tidak
akan pernah menjadi seorang ibu." Zi berteriak dalam tangisnya yang pecah.
Tangis yang sejak tadi ia tahan.
" Kenapa kamu gak pernah bisa jadi ibu kalau memilih
denganku?"
" Kamu tidak peka? Ibumu tidak mau kamu punya anak dariku, dia
tidak mau memiliki cucu dari rahimku."
" Tidak mungkin, ibu menyayangimu."
" Itu yang kamu tau…. Ibumu beranggapan aku
yang merebut kebahagiaan Myla. Aku tau aku salah tapi haruskah aku terjebak
seperti ini?"
Morata memeluk Zi erat, jadi selama ini istrinya tertekan karena
perilaku ibunya sendiri?
" Aku kan mengikuti keinginanmu, jaga bayiku."
Zi menghentikan tangisnya, mengelap airmata yang mengalir dipipinya.
" Terimakasih Mor, terimakasih sudah pernah menjadikanku serpihan kisah
hidupmu."
" Serpihan yang paling aku sayang."
" Maaf kalau beberapa waktu belakangan ini aku mengecewakanmu―berlalu dengan yang lain. Karena aku tertekan dengan
ibumu."
" Sekarang aku mengerti."
Aku tau ini
semua tak adil
Aku tau ini
sudah terjadi
Mau bilang
apa akupun tak sanggup
Airmatapun
tak lagi mau menetes
….
Jujurlah
sayang aku tak mengapa
Biar semua
jelas tak berbeda
Jika nanti
aku yang harus pergi
Kuterima
walau sakit hati
[ Repvblik –
Sandiwara Cinta ]
Huah gimana? Alurnya kecepetan? Feelnya gadapet? Jujur lagi bingung ide
ini kkk~ Kayaknya ini FF bakalan habis 1-2 eps(?) mendatang. Yesh(?).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar