Huwaa ini last part buat El-love-classico makasih buat
yg setia membaca/? Disarankan saat baca part ini sambil dengerin lagunya Usher
yang Separated biar makin nyes/?
&&&&
Morata memasuki apartementnya dengan gontai. Kepalanya
pening. Bau alkohol juga menyeruak dari bibirnya.
" Mor kamu gapapa kan?" Myla menahan tubuh
Morata yang hampir ambruk.
" Zi…"
" Kamu mabuk?" Myla membulatkan matanya
ketika bau alkohol menyeruak.
" Zi…."
" Kenapa dengan Zi?"
" Aku menceraikannya… tidak dia memintaku
menceraikannya."
" Kamu serius?"
Morata hanya menganggukkan kepalanya. Myla masih tidak
bisa mempercayai perkataan Morata.
" Aku memang sedang dalam pengaruh alkohol Myl,
tapi aku sadar sama apa yang aku ucapkan." mata sayu Morata menatap dalam
Myla. Yang ditatap hanya menunduk.
" Mau aku ambilkan air putih Mor?"
" Eum…" Morata mengangguk.
&&&&
" Zi….." Bartra melambaikan tangannya saat
Zi berjalan ke arah cafeteria.
Zi balik melambaikan tangannya ceria, tapi saat
melihat ekspresi Neymar disebelah Bartra dia menurunkan tangannya ragu. Mimik
wajah Neymar berubah saat melihat Zi.
" Kok jarang sama Morata lagi Zi?" Bartra
menyenggol bahu Zi.
Mendengar nama itu wajah Zi berubah, matanya menahan
tangis. " Aku… Udah pisah." Zi mengucapkannya dengan volume yang
sangat pelan.
" Kamu cerai?"
Teriakan Bartra sukses membuat beberapa orang yang ada
di cafeteria menoleh, tak terkecuali Neymar yang langsung menengok saat Bartra
menyebutkan kata 'cerai'.
" Kamu serius Zi?"
" Takdir." Zi menjawab enteng.
Disela-sela kesibukannya dengan handphone(?) Neymar
melirik Zi yang tersenyum ke Bartra, dan Bartra yang masih pucat karena shock.
" Oh ya bulan depan aku sepertinya bakalan balik
ke China."
" Kuliahmu Zi?"
" Akan kuteruskan di China, pamanku memberiku
penawaran untuk magang di rumah sakit miliknya." Zi mengangkat kedua bahu
nya.
" Kamu bakalan balik ke sini kan Zi?" Bartra
menghembuskan napas lemah(?).
" Kalau untuk liburan mungkin iya kalau buat
menetap sepertinya enggak deh."
" Yah ga ada Zi lagi."
Sontak Bartra memeluk Zi. Zi merasakan airmatanya
menetes. Ternyata masih ada orang yang menerimanya.
Manik mata Zi menatap Neymar yang masih tidak beralih
dari tempatnya dan masih dengan posisi yang sama. Perih. Padahal ia mengharap
pelukan dari pria itu.
" Pesanlah apa yang kalian mau, aku
traktir."
" Serius Zi?"
" Eum… Ini hari terakhirku dikampus."
Neymar otomatis menoleh. Zi pergi? Zi benar-benar
pergi?
&&&&
To : Myla
Selamat ya Myl anakmu udah lahir kkk~
Zi mengirim pesan saat tau anak Myla―dengan
Morata―telah lahir. Bahagia? Tentu. Sedikit kecewa? Mungkin.
From : Myla
Terimakasih Ya Zi ^^
To : Myla
Boleh aku bertemu?
Myla menggigit bibir bawahnya. Apakah ia harus
mengizinkan Zi datang menemuinya―dan pastinya akan bertemu Morata juga.
From : Myla
Baiklah.
Dengan segera Zi mengambil tas nya dan bergegas keluar
rumah untuk mencegat taksi. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhirnya
dengan Myla dan Morata tentunya.
&&&&
" Myla…" Zi langsung memeluk Myla saat
menemukan ruangan Myla.
Morata melihat kerukunan―istri dan mantan istrinya―itu
dengan lemah. Andai mereka berdua masih miliknya. Ah tidak, itu akan membuat Zi
terluka.
" Oh ya Zi selamat buat kehamilannya."
Zi memaksakan senyum sambil melirik Morata. Dan
diamnya Morata juga melirik Zi, mencoba mencari tau bagaimana reaksinya.
" Denger-denger mau balik ke China Zi?"
" Iya Myl, aku berangkat besok."
" Besok?" Myla membulatkan mata.
" Iya besok jam sembilan pagi."
" Kenapa cepat sekali." Myla memukul pelan
bahu Zi.
" Hanya itu tiket yang aku dapat untuk
penerbangan dalam waktu dekat ini."
" Enjoy your flight darl." kini giliran Myla
yang mendekap erat Zi.
Pandangan Zi dan Morata saling bertemu. Dari tatapan
itu bisa disimpulkan kalau mereka satu sama lain saling mengatakan
"Selamat tinggal."
It's foolish but you know I'm this kind of girl
So please, this is my last favor
If you ever run to me
Will you please smile at me, who can't
forget you?
[ Jiyeon - 1Min 1Sec ]
&&&&
Zi masih menunggu anak-anak Barca menyelesaikan
latihannya dipinggir lapangan. Karena banyaknya pemain Barca berserta staff nya
yang kenal dengan Zi makanya dengan mudah ia keluar masuk area latihan bahkan
loker room.
" Ney…" Zi melambaikan tangannya ke Neymar
saat seluruh latihan telah berakhir.
Tapi apa yang Zi terima, hanya sebuah tatapan singkat
dan sikap dingin dan acuh Neymar. Bartra yang melihat Zi mendunduk setelah
dicampakkan Neymar langsung berlari kecil kearah Zi.
" Zi… Udah lama?"
" Baru kok." tentu saja Zi bohong karena ia
sudah disitu sejak dua jam yang lalu.
" Ada perlu?"
" Eung bilangin ya ke Neymar aku berangkat besok
pagi, kalau dia masih menganggapku teman datang kerumahku nanti malam. Ada yang
mau aku sampaikan."
" Baiklah nanti aku bilangin ke Neymar. Oh ya mau
aku traktir?"
" Nggak usah, aku harus balik ke rumah."
" Oke…"
----
" Ney." Bartra menepuk pundak Neymar.
" Eung…"
" Besok pagi Zi berangkat ke China."
Hati Neymar seperti terjatuh, secepat inikah Zi
kembali ke China? Bahkan sebelum kuliahnya Selesai.
" Lalu?" Neymar mencoba untuk tidak menaruh
minat.
" Dia bilang kalau kamu masih menganggapnya teman
datanglah malam ini kerumahnya. Katanya ada yang mau dia sampaikan."
" Memangnya siapa yang perlu? Cih." Neymar
tersenyum sinis.
" Datanglah, buang egomu yang sebesar Titanic
itu." Bartra mencibir Neymar.
" Sudahlah
ini urusanku." Neymar sedikit membentak Bartra yang sudah melenggang
keluar pintu.
" Aku hanya memberi saran, datangi Zi sebelum
terlambat." suara Bartra perlahan menghilang, tinggal Neymar yang masih
menunduk dalam hening.
----
Jam sembilan Malam Neymar masih bimbang,
memberhentikan mobilnya didepan jalan rumah Zi. Rumah itu nampak kosong, hanya
lampu ruang tamu yang terlihat menyala. Sambil terus memegangi tangannya yang
mulai basah akibat keringat dingin. Neymar mencoba meyakinkan dirinya dalam
hati.
" Ayolah, hanya menemui Zi. Bahkan ini bisa yang
terakhir."
Neymar memegangi ponselnya mencoba menghubungi Zi.
Ditekannya dial number 2. Suara sambungan terhubung.
Sementara disini lain Zi langsung terlonjak kaget saat
nama yang beberapa bulan ini jarang sekali ia temui dilayar handphone nya kini
muncul kembali.
" Ney?"
Tidak ada jawaban sama sekali
" Ney? Kamu disana?"
Tuutt tuttt tuuttt. Bunyi sambungan telepon terputus.
Zi menatap layar handphone nya lemas. Apa Neymar hanya membuatnya menunggu
seperti ini.
" Why you wont talk with me?"
&&&&
Pukul tujuh pagi Zi sudah sampai di Bandara. Tidak ada
seorangpun yang bersamanya. Hanya sebuah pesan dari paman Zhang kalau ia akan
dijemput saat tiba nanti.
Zi menangkupkan kedua tangannya kedinginan. Sedikit
uap dari napasnya menambah kesan sunyi didiri Zi.
Dari kejauhan sepasang mata memandang kearah Zi―hanya
kearah Zi. Dipelupuk itu sudah bergelayut kristal-kristal airmata yang hendak
mengalir.
" Zi?" Zi refleks menoleh. Senyum Morata
menyambutnya.
Sepasang mata yang dari tadi memandangi Zi dari
kejauhan semakin menumpukkan butiran-butiran airmata yang semakin jelas.
Morata memeluk Zi saat gadis itu sudah masuk
jangkauannya(?).
" Jaga dirimu baik-baik ya Zi… Suatu saat aku
pasti akan menemuimu lagi." Morata mengeratkan pelukkannya.
" Jaga Myla ya…" Zi membalas dekapan erat
Morata.
Kini Morata beralih menatap intens mata sipit milik
Zi. Yang ditatap hanya gelagapan. Seperti kebanyakan kisah di novel maupun
film, Morata mengecup pelan bibir mungil Zi. Kecupan terakhirnya.
Pemilik sepasang mata yang sedari tadi memandangi Zi
dari kejauhan membantik sebuah benda kecil yang sejak tadi ia genggam di tangan
kanannya.
Ya, Neymarlah yang sejak tadi memandang Zi dari kejauhan.
Neymar datang kebandara hanya untuk memberikan sebuah cincin pemberian ibunya
dulu. Ibunya selalu bilang bahwa cincin itu hanya kepada wanita yang ia
cintai―sangat-sangat ia cintai.
Seperti sudah ditakdirkan, semua kejadian dibawah
langit memang sudah memiliki kepastian. Dan tak pernah bisa ia miliki Zi juga
telah menjadi sebuah kepastian.
&&&&
Whered you go? You said you never leave me
All alone, my heart is barely beating
Like a ghost you haunt me everyday, that you're gone
I'm not the same, now something went missing
There's a cage, it feels like a prison
Here, I stay until you comeback home…
[ The Cab - Lovesick Fool ]
Lagu itu bergelayut manja selama limabelas menit
pertama saat didalam pesawat ditelinga Zi. Kenapa hanya limabelas menit? Karena
berjam-jam selanjutnya Zi sudah tertidur pulas.
&&&&
*** 18Tahun kemudian***
Rho Morata memperhatikan seorang gadis seusianya
tengah menyeret sebuah koper lumayan besar bergambar hello kitty. Wajah gadis
itu sangat Asia tapi entah kenapa wajah gadis itu nampak sangat tidak asing.
Kemudian datang lagi sepasang suami-istri―seumuran
dengan ayah-ibu Rho―yang berwajah sangat Asia, kemungkinan terbesar kedua orang
tua gadis tersebut.
" Lim… Jalanmu lambat sekali." Zi menjitak
pelan kepala Yelim Wang―anaknya, dengan Morata.
Manik mata Zi tak sengaja menatap wajah anak muda yang
tidak asing baginya. Wajah itu mengingatkannya pada satu hal. Morata.
Ngomong-ngomong bagaimana kabar pria itu? Apakah berubah setelah delapan belas
tahun.
" Eomma melihat apa?" Lim menengok
kebelakang menatap wajah cowok yang sepertinya sejak tadi diperhatikan Zi.
" Tidak teruslah." Zi mendorong bahu Lim
menyusul appa nya yang sudah jalan duluan.
" Eomma kira-kira bagaimana wajah Pyo dengan Rho
ya?"
Lim membayangkan wajah kedua adik kembarnya yang sudah
sekitar duatahun tidak ia temui karena memilih untuk bersekolah di Spanyol.
Sedangkan ia sibuk dengan sekolahnya di Jerman.
" Oh ya eomma, eomma bilang aku punya kakak? Tapi
kenapa eomma tidak pernah mengenalkannya padaku?" Lim seketika teringat
dengan cerita eomma nya tentang 'kakak'nya.
Zi menoleh kebelakang, remaja tadi sudah tidak ada.
" Nanti akan eomma ceritakan saat sampai di Spanyol."
----
" Perhatian kepada
seluruh penumpang pesawat Asia Airlines dengan nomor penerbangan A165 tujuan
Berlin-Guangzhou agar segera menuju ruang tunggu…."
Saat mendengar suara pengumuman keberangkatannya
menuju Guangzhou Rho langsung bergegas keruang tunggunya.
" Akhirnya aku bertemu juga dengan adikku, Yelim
aku datang." Rho mengembangkan senyumnya.
Baik Lim maupun Rho tidak ada yang tau kalau mereka
tidak perlu melintas benua untuk bertemu. Yelim sudah limatahun belakangan
tinggal di Jerman dan baru saja mereka saling tatap, berada dibawah naungan
langit yang sama, menghirup udara yang sama. Takdir kah ini?
-END-
Gimana? Ga sesuai harapan? Pastinya(?). Makasih buat
semua yang udah ngikutin FF ini dari awal. Ga nyangka bakalan habis kkk~ Maybe
it’s my last FF. Maybe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar