&&&&
Salom menghentikan
mobilnya diantara deretan pohon-pohon sakura yang mulai berguguran bunganya.
Dengan memendam luka Salom berjalan menyusuri sakura-sakura itu. Entah kenapa
setiap melihat bunga-bunga sakura yang berjatuhan Salom selalu teringat dengan
Nana. Gadis yang sepuluh tahun lalu muncul didalam kehidupannya.
Saat melangkahkan
kakinya Salom melihat gambaran seorang gadis yang beranjak dewasa. Dan bayangan
itu adalah bayangan Nana.
Nana berbalik dan
member senyum kearah Salom, dengan sejuta pertanyaan Salom beranjak mengikuti
bayangan Nana. Sampai ditengah-tengah hutan sakura Nana berhenti, didepannya
terdapat sebuah piano.
Salom tersadar,
piano itu adalah piano yang sama dengan piano yang dulu ia pakai untuk latihan
saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat dimana ia mulai mengenal
Nana.
Tuts tuts piano
mulai membunyikan nada, Nana memainkannya sambil terus tersenyum tanpa beban.
Dan satu bayangan lagi masuk diantara mereka. Salom menahan napasnya, karena ia
terkejut. Bayangan itu adalah dirinya. Sepuluh tahun yang lalu.
Bayangan Salom itu
menutup mata Nana dari belakang. “ Salom lepaskan.” Nana memohon sambil tertawa
cekikikan. Salom remaja tersenyum dan melepaskan tangannya.
Salom remaja itu
lalu duduk disebelah Nana. Memainkan piano itu besama. Walaupun lagu yang
mereka mainkan berantakan tapi karena mereka memainkannya dengan perasaan
terpendam masing-masing jadilah nada itu tetap terdengar indah—bagi
mereka.
Kemudian semua
bayangan itu mulai kabur. Berganti dengan bayangan Nana yang berdiri didepan
sebuah pintu. Lagi-lagi Nana tersenyum kearah Salom.
Tangan mungil Nana
mencoba membuka grendel pintu. Cahaya yang berpendar langsung menyeruak saat
pintu itu terbuka. Rasa penasaran dalam diri Salom membuat kakinya refleks
bergerak mendekati pintu itu dan masuk kedalamnya.
The
mysterious end of that season
I think, did I really love you?
Somewhere, all those times that we were together
I look back to those times, as if I could touch it, as if it was yesterday
I think, did I really love you?
Somewhere, all those times that we were together
I look back to those times, as if I could touch it, as if it was yesterday
&&&&
Aneh. Itu hal yang
Salom rasakan saat masuk ke pintu tadi. Hanya pendar putih yang berada disana.
Dan gaya gravitasi seperti semakin kuat. Semuanya seperti terserap kedalam.
Beberapa detik
kemudian Salom berdiri disebuah koridor sekolah yang sangat ia kenali.
“ Tidak berubah
sama sekali,” ia bergumam.
Salom memutuskan
untuk berjalan-jalan menyusuri sekolah penuh kenangan itu tanpa memikirkan
bagaimana caranya tadi bisa sampai berpijak ditempat itu.
Beberapa murid
sibuk dengan kegiatannya. Tapi ada juga yang lebih memilih untuk tidur
ketimbang mendengarkan penjelasan guru dihadapannya.
Sayup-sayup
terdengar suara instrument musik dari dalam ruangan orkestra. Ruangan itu dulu selalu menjadi favorit Salom
selain ruang kelas. Disini ia bagai memiliki jam tambahan untuk tetap berada
didekat Nana.
Saat menengok
kedalam ruang orkestra Salom baru sadar kalau dirinya terjebak dalam ruang
waktu. Waktu yang dijalani nya sekarang
adalah waktu yang berlaku sepuluh tahun yang lalu.
&&&&
Nana POV
“ Ah sialan aku
lupa lagi membawa buku bahasa Jepang ku. Pasti Ishida sensei akan marah besar,”
aku memaki-maki dalam hati.
“ Nana-san,” suara
tegas Ishida sensei memanggil namaku. Sama sekali bukan pertanda baik. Aku
terus menunduk.
“ Kamu juga,
berdiri,” Ishida sensei menunjuk seorang siswa. Dengan keberanian yang masih
tersisa aku berusaha untuk melirik. Ternyata anak baru yang kemarin bermain
piano di ruang orkestra.
“ Kalian berdua
karena tidak membawa buku mata pelajaran dan itu tandanya kalian tidak mau ikut
pelajaran sensei sebaiknya kalian berdua keluar.”
Aku terus saja
menunduk, sambil sedikit menahan rasa kecewa serta kebodohan karena lupa
membawa buku .
“ Nana kan?”
“ Eh?” aku
mendongak. “ Iya aku Nana.”
“ Aku Salom,”
mengulurkan tangannya. Aku yang kikuk hanya menyambut uluran tangannya. Ia
tersenyum simpul.
&&&&
Salom POV
Ah lucunya kalau
aku ingat saat pertama Nana tau namaku. Aku yang terlalu canggung untuk
mengetahui namanya dan Nana yang bingung denganku. Hahaha betapa lucu nya kami
dulu saat berkenalan.
Aku menahan ketawa
ku melihat gambaran bagaimana canggungnya aku.
“ Hei kalian
berdua,” suara Ishida sensei mengagetkanku.
Beliau keluar kelas
sambil membawa penghapus penghapus yang sudah kotor karena tumpukan debu debu
kapur.
Kami membersihkan
penghapus penghapus itu bersama. Saat itu aku ingat bagaimana rasanya. Aku
gugup, walau hanya membersihkan debu kapus dari penghapus berdua aku sudah
gugup. Diluar hanya ada aku dan Nana.
Nana
terbatuk-batuk, mungkin karena debu-debu itu masuk ke saluran pernapasannya.
Sebenarnya aku rela saja melakukan ini sendirian tapi aku tidak ingin melihat
Nana didamprat Ishida sensei jika ketahuan tidak melaksanakan hukumannya.
Setelah selesai
kami duduk dulu sebentar dibawah pohon yang mulai menguning daunnya mendekati
musim gugur.
“ Nana,” aku
memberanikan diri memulia percakapan.
“ Eum,” ia hanya
menoleh.
“ Ah itu, kamu
piket hari ini kan?” aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
“ Iya, kamu juga?”
“ Hehe,” kau
nyengir.
Saat jam pulang sekolah,
saat piket. Ini yang aku tunggu-tunggu. Nana bilang aku dan dia berbagi tugas
membersihkan kaca jendela yang sebetulnya tidak kotor-kotor sangat.
Nana membersihkan
kaca dari bagian dalam. Ah ini kesempatanku untuk mengejutinya dari luar.
Aku tidak menunduk
supaya tubuhku tidak terlihat Nana. Setiap gerakan tangannya aku ikuti dari
luar supaya terlihat sama. Gerakan Nana lalu sedikit melambat.
“ Daaa…” aku
tersenyum dibalik kaca.
“ Salom,” ia
menyebut namaku sambil tertawa simpul. Sedetik kemudian aliran darah ku
menghangat dengan sendirinya.
&&&&
Author POV
Salom tersenyum
sendiri melihat bayangan masa lalunya. Semuanya seperti terukir indah, terpahat
rapi dan seperti tersusun apik seperti sebuah puzzle.
“ Nana mau aku
antar pulang?”
“ Nggak usah, kakak
aku udah jemput. Bye.” Nana buru-buru keluar kelas dan melenggang pergi.
Each moment, I think of you
That voice that quietly rang with a low
tone
Even your resemblance to the spring
sunlight
You always brightly shined on my day
&&&&
Hari ini adalah
hari latihan orkestra, seperti biasa Nana sudah mempersiapkan biola
kesayangannya.
“ Nana.” Salom
melambaikan tangannya supaya Nana bisa menemukannya dengan segera.
Nana hanya membalas
dengan lambaian tangan dan berjalan kearah Salom.
“ Ke ruang
orchestra bareng yuk.” Salom langsung menggandeng tangan Nana tanpa persetujuan
sang empunya tangan.
“ Eh Salom ini
tangan kita.” Nana mengucapkannya pelan sekali. Salom langsung melepas
genggaman tangannya karena malu.
“ Ma..maaf.”
“ Ga apa-apa kok.
Kamunya kelupaan mungkin.”
Pipi Salom semakin
memerah. “ Astaga cerobohnya aku,” ia membatin.
Sampai diruang
orkestra suasana sudah cukup ramai.
“ Baiklah karena
orangnya sudah lengkap bagaimana kalau kita mulai latihan hari ini,” suara Mr.
Ken memecah keheningan diruang orkestra.
Saat latihan ada
hal yang paling Nana benci, dirinya harus rela melihat kemesraan diantara Rania
dan Salom yang berbagi piano. Entah datangnya dari mana, yang jelas saat Nana
mencoba menoleh kearah Salom disitu sudah ada Rania.
Sebagai anak baru,
Salom cukup populer. Karena kemahirannya memainkan piano banyak siswi yang
luluh dibuatnya termasuk Nana. Tapi Nana tidak pernah mencoba memperlihatkan
rasa sukanya kepada Salom karena Nana sendiri tidak yakin dengan perasaan Salom
padanya.
Nana hanya bisa
memandang dengan rasa jengkel, sebenarnya ia ingin sekali melempar biola
kesayangannya kearah Rania. Tapi diurungkannya niat tersebut karena kalau ia
melempar biola itu masalah akan tambah rumit dan panjang.
“ Nana pulang yuk,
latihan sudah selesai.” Salom menghampiri Nana yang masih sibuk dengan
biolanya.
“ Aku masih ada
keperluan dengan Mr. Ken.” Nana berkelah.
“ Baiklah.” Salom
menjawabnya dengan nada cemas.
“ Hati-hati
dijalan.” Nana memaksakan senyumnya, terlebih ia melihat Rania sudah menanti
Salom didepan pintu.
Maksud Nana masih
bertahan diruang orkestra bukanlah karena keperluan, tapi karena ia ingin
mengambil satu tuts piano yang Salom gunakan tadi.
“ Maaf ya Salom,
aku pinjam ini darimu.” Nana lalu memasukkan tuts piano itu kedalam saku dalam
jas sekolahnya.
Each
moment, I think of you
That
voice that quietly rang with a low tone
Even
your resemblance to the spring sunlight
Even
the small memories are still so clear
&&&&
Saat Nana tengah
sibuk membawa setumpuk buku bahasa Jepang suruhan Ishida sensei segerombol
anak-anak cowok iseng malah mengerjainya dengan menarik tali sepatu Nana.
“ Aww,” Nana
berteriak refleks.
Suara buku-buku
jatuh dan teriakan Nana membuat Salom langsung keluar kelas.
“ Nana.”
panggilnya.
PLAK. Nana menampar
pipi Salom. Pikirannya tidak jernih sekarang.
“ Nana?” Salom
terbelalak kaget, Nana bukan tipikal cewek kasar.
Nana sama sekali
tidak memperhatikan Salom dan langsung pergi. Buku-buku bahasa Jepang yang
harus diantarnya ke Ishida sensei malah ia tinggal.
Kemudian terdengar
tawa anak-anak yang tadi mengerjai Nana. “ Rasakan,” salah satu diantara mereka
menyeletuk.
Salom berbalik dan
mengepalkan tangannya.
Pulang sekolah
Salom langsung mengejar Nana. “ Nana yang tadi itu bukan aku.” Salom mencoba
meraih tangan Nana tapi Nana menepisnya.
“ Nana sudah
kubilang itu bukan aku.”
Bukannya dapat
perlakuan baik Nana malah mendorong Salom hingga tersungkur.
“ Leave me alone.”
&&&&
Esoknya Nana
memandangi bangku Salom yang masih kosong. Sama dengan bangku itu pandangannya
juga kosong.
Pandangan kosong
Nana buyar saat seseorang menaruh susu kotak di meja nya. Dan orang itu adalah
Salom—dengan luka dipipinya. Rasa bersalah Nana muncul
“ Maaf ya, aku
terlalu egois sampai membuatmu terluka.” Nana
memandangi Salom yang menunduk lesu.
“ Mr. Aaron
datang,” teriak salah satu murid. Mr. Aaron adalah guru matematika yang cukup
killer.
“ Ya anak-anak
bagaimana PRnya sudah selesai?”
“ Yes, Sir.”
“ Baiklah, Salom
Nana maju kedepan.”
Nana memandangi
Salom sebentar. Bahkan sampai saat mengerjakan nomor yang Mr. Aaron suruh Nana
masih memperhatikan Salom.
Hingga Salom duduk
kembali ke bangkunya pun Nana masih memandangi Salom dengan perasaan
bersalahnya.
&&&&
Kegiatan orkestra
masih berjalan seperti biasanya, tapi ada satu yang mengganjal Salom. Satu tuts
piano nya hilang, Nana memandangi sambil
tersenyum kecil dibalik permainan biola nya.
“ Nana, setelah ini
kamu tolong bawakan buku-buku itu ke perpustakaan,” suara Mr. Ken menghentikan
permainan biola Nana.
“ Baik, Mister.”
Nana menganggukkan kepalanya.
Salom rupanya
diam-diam memperhatikan percakapan Nana dan Mr. Ken dari balik bahunya.
Usai dari kelas
orkestra Nana buru-buru berkemas lalu membawa setumpukan buku suruhan Mr. Ken
tadi ke perpustakaan yang letaknya tak jauh dari gerbang masuk sekolah. Searah
dengan jalan pulang.
Dari belakang Salom
langsung mengambil buku-buku yang Nana bawa tadi. Nana yang terkaget hanya
refleks tersenyum saat tau siapa yang membawakan buku untuknya.
“ Salom tunggu.”
Senyum Nana
mengembang, baginya perlakuan Salom tadi Manis. Lebih manis dari Caramel buatan
mamanya kemarin sore.
&&&&
Nana POV
Mungkin hari ini
adalah hari paling menyedihkan bagiku, hari ini dan seterusnya aku bakalan
kehilangan Salom yang lima bulan belakangan ini menemaniku. Salom yang ada
untukku sebentar lagi akan pergi.
Semua berawal saat
aku tidak sengaja mendengar percakapan guru pembimbing konseling dengan Salom
diruang BK. Walaupun tidak semua percakapannya aku dengar aku tau kalau Salom
akan ke Amerika hari ini juga.
Penyakit leukemia
nya semakin parah dan rumah sakit di Sevilla sudah tidak sanggup untuk
menangani kasus Salom. Salom disarankan untuk ke Amerika karena disana
penanganan tentang leukemia lebih memadai dan lebih cepat.
Airmata ku perlahan
menetes, pandanganku mulai buyar. Saat Salom keluar dari ruang BK bukannya
melihat ku atau memelukku sekedar menenangkan ia malah berlalu pergi keluar.
Aku terus
membuntutinya dari belakang dengan perasaan yang campur aduk. Salom sepertinya
memang tidak berniat untuk memandangku lagi. Mungkin ini yang terbaik kami
saling melupakan.
Saat Salom semakin
dekat dengan mobil orang tuanya, suara ku yang tercekat akhirnya keluar juga. “
Salom,” dan hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Syukurlah Salom
mendengar ucapanku, dia berbalik. Ternyata airmata mulai ada disudut matanya.
Aku memberikan tuts
piano yang selama ini aku sembunyikan dibalik jas sekolahku. Kemudian aku
berbalik dan pergi, menghapus semua airmata perpisahan ku dan Salom yang
membuat wajahku penuh dengannya.
Where
are we?
I
look back at all those memories
Were
we happy?
Only
unknown feelings remain in the same place
&&&&
Salom POV
Aku seperti melihat
kembali kenangan-kenangan masa laluku dengan Nana. Pintu tadi benar-benar
membawaku kedimensi lain. Sayangnya aku tidak bisa melakukan hal lain selain
memandanginya sambil tersenyum pahit.
Takdir dimasa lalu
tidak bisa dirubah sekalipun kamu mengendarai mesin waktu tercanggih dimuka
bumi. Apa yang kamu jalani sekarang ya karena keputusanmu dimasa lalu. Itu yang
aku tau, jadi aku tidak ingin mengubah nasib siapapun disini hanya karena satu
tindakan.
Pintu yang tadi membawaku
kesini muncul lagi. Setelah apa yang aku lihat selesai aku akhirnya kembali
keduniaku sekarang—sepuluh tahun kemudian dari cerita yang
aku tonton tadi.
Dulu aku pergi dari
Nana karena dokter yang menangani kasus leukemia ku mengatakan kalau umurku
tinggal setengah tahun lagi. Dengan waktu yang seingkat itu susah bagiku untuk
membahagiakan wanita yang aku cintai.
Sekalipun ia
bahagia denganku dalam waktu enam bulan, lalu seterusnya. Ia hanya akan
menghabiskan sisa harinya dengan menangis meratapi kebahagian yang pernah ada
dalam hidupnya.
Aku tidak berani
mengambil keputusan saat itu dan aku pilih untuk pergi dengan alasan yang bisa
masuk akal.
Kudekap erat tuts
piano yang pernah Nana sembunyikan.
“ Mungkin kah aku
masih hidup karena Nana?”
Each
moment, I think of you
That
voice that quietly rang with a low tone
Even
your resemblance to the spring sunlight
I
still haven’t forgotten you
Where
are we?
Were
we happy?
-END-

Keren ff nya,, kalo G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ salah ceritanya mirip sama video clipnya Lee Seung Gi :)
BalasHapusKerenn ceritanya ;) kalo nggak salah, ceritanya hampir mirip sama MV nya Lee Seung Gi ya? Tapi lupa judul lagunya apa :D
BalasHapushaha iya emang dari situ... lagu return... kece banget lagunya
Hapus