Tittle
: El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 4
Rating
: T aja deh :D
Genre
: Romance seperlunya komedi
Cast
:
Hwang
Zia Carter (@fauziahfitri_)
Kylie
Mourinho (@kusuma_wij)
Demylia
Sanchez (@myta_savitri)
Bruna
Neymar
Alvaro
Morata
Cesc
Fabregas
Dani
Pedrosa
Other….
Bukan sinetron, bukan telenovela, bukan drama dan
sandiwara, apalagi FTV. Ini cuma FF yang isinya hanyalah khayalan fans semata.
Semakin ngawur ya? Hehe map :v
****
Dear Morata
Aku nggak tau kenapa kamu marah sama aku, aku juga nggak
ngerti kenapa kamu menghindari aku. Jelaskan Mor, jelaskan, aku mohon. Kalau
aku ada salah, aku akan minta maaf. Kumohon Mor jangan perlakukan aku seperti
ini, aku mencintaimu Mor, sangat sangat mencintaimu. Beri aku satu kesempatan
untuk mengubah semua ini.
Zi menulis e-mail tersebut sambil terus menitikan
airmata. Ia tak tau apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Morata―ia tak
paham―sama sekali tak paham.
****
Morata berangkat ke kampus dengan muka ditekuk menjadi
tujuhbelas bagian(?), murung banget maksudnya. Setiap orang yang mencoba
menyapanya hanya mendapat balasan hambar dari cowok bertubuh jangkung itu.
" Whats up ma men, napa tah muka ditekuk-tekuk kek
jemuran baru keluar laundry tapi hasil paket yang tanpa setrika?" Kylie
langsung ngejeplak saat melihat muka masam Morata. Dan ternyata kelakuan
rada melenceng kekasih Cesc Fabregas itu bisa membuat Morata tersenyum
kecil.
" Enggak papa kok Ky, lagi BT aja."
" Marahan sama Zi ya?" Kylie bertanya ngasal.
Raut muka Morata berubah, sebenarnya ia ingin sekali
bilang kalau semua ke-masaman-nya ini nggak ada hubungannya sama Zi tapi
kenyataan berkata lain.
" Enggak tuh." entah kenapa tiba-tiba Morata
merasakan lidahnya terlalu kelu untuk melontarkan kata-kata.
" Alah kalau lagi marahan nggak papa juga kok Mor,
lagian aku juga lagi bete sama Cesc. Biar ada temen gitu." kini giliran Ky
yang cembetut.
" Lah emang kenapa sama Cesc?" Morata duduk
disebelah Kylie, mencoba menjadi pendengar yang baik. Meskipun rada nyeleneh
tapi Kylie ini asyik kalau diajak sharing.
" Fans ceweknya itu loh pada nyerbu aku mulu,
katanya aku nggak panteslah, katanya aku kalau ngomong kayak bokapku aja asal njeplak
dan tipe yang kayak begitu nggak cocok sama Cesc dan bla bla bla." (di
Spain ada istilah bokap?)
Morata hanya mengangguk-ngangguk saja, karena dua
alasan, pertama karena dia nggak paham dan kedua karena dia sedang berfikir.
Mungkin nggak ya kalau Zi bakalan menghadapi hal yang sama kalau gadis itu
beneran jadi pacarnya?
" Jadi menurutmu aku harus gimana Mor? Tetep sama
Cesc apa enggak?"
Morata berpura-pura berfikir, padahal sedari tadi dia
dalam keadaan setengah sadar saat mendengarkan Kylie berbicara.
" Coba deh kamu fikir lagi, kamu masih sayang juga
kan sama Cesc?"
" Kalau itu mah jangan ditanya lagi, udah pasti
sayang banget." Kylie tersenyum, sepintas bayangan Cesc yang sedang
tersenyum melintas dibenaknya.
" Terus kamu maunya apa?"
" Maunya sih tetep jadian, tapi aku nggak tahan
lagi Mor di intimidasi kayak gitu tiap hari, eh enggak deh tiap minggu. Dan naasnya
itu cuman gara-gara kelakuan papaku yang menurut mereka kurang menyenangkan.
Padahal dulu kan papaku juga bagian dari tim itu." Kylie ngoceh kesana
kemari.
" Kamu liat Myla nggak?"
" Dia lagi di Barcelona kali Mor, napa nyari Myla?
Kangen ya? Zi dikemanain?"
" Heh ngapain di Barca? Enggak tuh kalau kangen,
soal Zi dia nggak kemana-mana kok." muka Morata kembali masam.
" Katanya sih ada yang musti diurus. Iya Zi emang
nggak kemana-mana, dia cuman ada dihatimu. Bukan begitu Mor?" Kylie
menatap Morata penuh tanya.
Morata terdiam. Benarkah Zi hanya ada dalam hatinya?
Sama sekali tak ada dihati yang lain?―meragukan.
****
" Zi, gabung sini." Bartra berteriak ketika
melihat Zi melintas didepan kafeteria sambil membawa sebuah buku tebal.
" Hay semua." Zi langsung menghampiri. Disana
juga ada Tello dan Neymar.
" Mau pesen Zi?"
" Enggak ah." pandangan Zi kembali terfokus
untuk membaca buku tebal tadi.
" Liat deh calon dokter serius baca bukunya."
Tello mencoba menggoda Zi. Tapi respon Zi hanyalah mendongak―tersenyum―lalu
menunduk lagi―melanjutkan bacaannya.
" Ah Zi nggak asyik, baca mulu."
" Eh bukannya apa sih tapi aku lagi ngambil
semester pendek jadi harus banyak baca buku, belajar, dan semakin banyak jam
kuliah." Zi mencoba menjelaskan. Ia tak mau dianggap terlalu angkuh sampai
mengabaikan teman, apalagi teman-teman yang ini.
Neymar merasakan ada hal aneh sama Zi, untuk apa coba
gadis itu mengambil semester pendek? Dan yang lebih aneh―mungkin bisa jadi hal
yang sangat mengagumkan kalau hal itu
berhasil―adalah Zi anak Fakultas kedokteran, yang hanya untuk mendapatkan gelar
sarjana saja dibutukan beberapa semester―berat―dengan materi-materi yang
membosankan.
" Ngapain Zi ngambil semester pendek?" Tello
sepertinya penasaran. Neymar hanya diam, ia sejujurnya sangat ingin tau apa
yang diinginkan gadis itu tapi ia hanya bisa diam kali ini. Takut melukai
perasaan Zi―sekali lagi.
" Aku pengen cepet lulus lalu ngambil spesialis.
Setelah selesai kuliahku disini aku bakalan balik ke asalku." ucap Zi
sambil terus tersenyum sumringah. Membayangkan apa yang akan terjadi kalau
semua itu berhasil.
" Balik ke asal mu? Rahim ibu?" Bartra masih
belum ngeh.
" Bukan gitu juga kali maksudku.” Zi memutar bola
matanya. “Aku bakalan balik ke Cina secepatnya setelah kuliahku selesai."
" Ke Cina?" Neymar tak lagi bungkam.
" Iya, dan aku akan mengabdi disana. Mengamalkan
semua ilmu yang udah kudapat disini." Zi tersenyum, bayangan negeri tirai
bambu berlalu lalang di kepalanya.
" Kapan kira-kira kamu balik ke Cina?" entah
kenapa Neymar jadi sangat-sangat khawatir akan kehilangan Zi. Cina bukan tempat
yang cukup dekat untuk didatangi―kapan saja.
" Kalau sampai program spesialisku selesai ya
sekitar 2 tahun lagi, paling lama ya 3tahun. Atau malah bisa lebih cepat."
" Setelah di Cina kamu ada rencana balik ke Barca
lagi nggak Zi?" Tello bertanya usil.
" Nggak tau juga sih, bisa juga balik ke Barca bisa
jadi enggak."
Neymar merasa kalau ada seseorang yang baru saja melepas
tulang-tulang nya satu per satu. Tubuhnya langsung lemas, 2-3 tahun lagi wajah
ini tak kan dia lihat lagi. Kecuali kalau dia bisa menikahinya, ya jalan
satu-satu nya dia masih bisa melihat Zi adalah menjadi suaminya. Tapi apa dia
bisa menikahi Zi―setelah ia tau Zi tak mencintainya―dia hanyalah sahabatnya.
Dan laki-laki beruntung karena Zi cintai adalah Morata.
" Ya udah aku ke kelas dulu ya." Zi pamit.
" Aku juga mau cabut dulu bye." Bartra
langsung menarik lengan Neymar yang masih melamun.
Tello menopangkan dagunya, membayangkan wajah dosen yang
super killer yang akan dia hadapi setelah ini.
" Ini tagihannya." suara seorang cewek
membuyarkan lamunan Tello.
" Tagihan apa ya?" Tello melirik gadis
dihadapan yang sedang memegang secarik kertas.
" Semua makanan ini." gadis itu menunjuk meja
yang penuh dengan makanan.
" Dasar kampret tuh kunyuk bedua makan pake gak
bayar asal kabur aja." Tello misuh-misuh.
" Cepetan dibayar." gadis itu berdecak kesal.
" Eh tapi ini bukan aku yang makan."
" Lah terus siapa?"
" Iya deh iya berapa semua?"
" 20euro."
" What?"
" Bayar apa ngepel?"
" Iya deh ini." Tello menyerahkan beberapa
uang lalu pergi meninggalkan kafeteria.
" Dasar, katanya pemain bola yang gajinya lumayan,
klub nya ok, masuk timnas pula tapi bayar pake duit recehan." kini giliran
gadis itu yang menggerutu sambil menghitungi recehan yang Tello beri tadi :|.
****
" Prosesnya bisa dipercepat tidak?" Myla
menanyai seorang petugas administrasi.
" Kau ambil jurusan apa untuk kuliahmu?"
" Pendidikan Biologi."
" Sepertinya bisa, salah satu asisten dosen disini
baru saja mengundurkan diri." ucap petugas itu sambil terus
membolak-balikkan dokumen yang tadi Myla serahkan. " Lalu kamu mau stay di
Barcelona atau tetap di Madrid?"
" Aku tetap di Madrid, kesini kalau ada jam kuliah aja."
" Baiklah. Kamu bisa mulai menjadi assisten Mr.
Daniel rabu depan. Beliau ahli Fisiologi―salah satu cabang Biologi yang
mempelajari proses dan kegiatan yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup―dan
sekarang beliau menjadi salah satu dosen di Fakultas kedokteran."
" Sekali lagi terimakasih."
" Sama-sama."
Wajah Myla sumringah, ia diterima menjadi salah satu
assisten dosen di University of Barcelona. Gadis itu terus tersenyum sambil
terus membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang assisten dosen.
" Dunia perdosenan aku datang." ucap Myla
sebelum memasuki mobil Honda-CRV putih miliknya.
****
Bruna menatap wajah Neymar yang sedang murung. Sekali
lagi ia menatap wajah Neymar semakin dalam.
" Kenapa sih beb? Ada masalah ya? Cerita aja."
Bruna menggengam tangan Neymar.
" Nggak papa kok, lagi nggak mood aja." Neymar
membalas genggaman tangan Bruna.
" Ya udah deh kalau mau istirahat silahkan aja. Aku
balik ke hotel aja, takut ganggu kamu."
" Masa kamu tega ninggalin aku."
" Tapi ntar itu kamunya keganggu." ucap Bruna
ragu.
" Setelah kamu jauh-jauh datang dari Brazil kesini.
Nooo… kamu disini aja, ok." Neymar menarik bahu Bruna lalu merangkulnya.
Bruna jadi aneh sendiri dengan perilaku Neymar. Neymar meraih dagu Bruna, sedetik
kemudian pasangan itu berciuman panas.
BRAKKK. Pintu rumah apartemen Neymar terbuka, terlihat
Zi yang sedang mematung dengan mulut menganga melihat adegan―horor―dihadapannya.
Pelan-pelan Zi mundur, ditutupnya pintu apartemen itu
dan lari.
" Stupid, kenapa aku lupa mengunci pintu."
Neymar mengumpat, Bruna buru-buru membetulkan beberapa kancing bajunya yang
terbuka.
" Siapa cewek tadi? Kamu kenal?"
" Dia Zi―sahabatku." jawab Neymar. Entah
kerasukan setan apa Neymar langsung menyambar hape nya dan menelpon seseorang.
Rupanya dia baru sadar siapa yang membuka pintu tadi.
" Ziii…" Neymar langsung berseru ketika Zi
mengangkat telponnya.
" Kenapa Ney?"
balas Zi diseberang.
" Masalah yang tadi…"
" Udahlah Ney itu wajar Bruna kan pacarmu." Zi
tertawa renyah.
" Ya udah Zi bye." Neymar menutup panggilan
itu dengan perasaan kacau.
Bahkan Zi tak sedikitpun menyesal melihatnya making
out dengan Bruna. Bukan pertanda bagus.
****
Tampan
Itulah yang pertama kali Myla pikirkan ketika bertemu
dengan Mr. Daniel―seorang dosen muda di University of Barcelona.
" Kamu siap buat hari pertamamu?"
" Iya." Myla hanya bisa menelan ludah saking
gugupnya.
" Santai aja. Aku dulu juga ngalamin hal yang sama
kok―menjadi asisten dosen."
Mr. Daniel berjalan diikuti Myla yang terus menunduk.
Para mahasiswa langsung terdiam ketika Mr. Daniel
memasuk ruangan. Suasana sunyi senyap membuat Myla berkeringat dingin.
" Oh ya perkenalkan ini asisten baruku. Namanya
Demylia Sanchez tapi biasanya dipanggil Myla, dia satu angkatan dengan
kalian." suara Mr. Daniel yang bening membuat Myla memberanikan diri
mengankat dagunya. Melihat para mahasiswa yang sekarang sedang menatapnya―tatapan
ingin tau.
Mata Myla terbelalak, pandangannya tertuju pada seorang
mahasiswi berwajah Asia.
" Zi? Benarkah dia?"
Myla mematung memandangi pemilik wajah yang fotonya terpampang jelas di hape
Morata.
Jam untuk mata kuliah Fisiologi sudah selesai, buru-buru
Myla mengejar Zi yang keluar bersama mahasiswa lainnya.
" Kamu Zi kan?"
Zi berbalik dan menatap Myla heran. " Iya?"
" Kamu teman Morata?"
Tubuh Zi lemas seketika. Myla adalah orang pertama yang
menanyakan Morata kepadanya setelah kejadian itu.
" Aku pernah lihat fotomu dihape Morata."
lidah kelu ketika Myla ketika mengatakan hal paling menyakitkan―menurutnya saat
ini.
" Dihapenya?"
" Iya dijadikan walpaper malahan." Myla
memaksakan senyum. Hatinya terlalu pedih.
" Aku nggak tau masalah itu, kupikir Morata marah
padaku."
" Marah kenapa?"
" Nah itu dia. Sampai sekarang aku nggak tau dia
marah karena apa."
Kini giliran Myla yang menatap Zi heran.
" Emm… ya udah aku mau cabut dulu. Bye." Myla
segera pergi.
Gadis itu memasuki mobil dan langsung menarik pedal
gasnya secepat mungkin. Morata sedang marah pada Zi? Ini hal yang bagus.
Untukknya. Senyum menghiasi bibir mungilnya yang ranum.
****
" Eh Myl denger-denger jadi asisten dosen di Barca.
Jarang di Madrid dong."
" Iya Ky, dan kamu tau nggak dosennya imut
banget." Myla membayangkan senyum terindah Mr. Daniel.
" Masih muda nggak? Single nggak?" Kylie
langsung antusias ketika mendengar kata dosen imut. <-- sementang
marahan lagi ama Cesc, ya gini lah effect nya :p.
" Duadelapan, masih bisa lah buat digaet hehe. Soal
single atau enggak aku belum tau, maklum baru sekali ngajar."
" Wih kenalin dong."
" Wani piro?"
" Hay girls." kali ini Morata terlihat lebih
ceria ketimbang biasanya.
" Ceileh dateng udah senyum-senyum aja. Dapet mimpi
apa?" Kylie langsung nyeletuk.
" Ketemu elu dibulan Ky."
" Hahaha…"
" Eh ada asisten dosen. Gimana pengalaman pertama?
Dosennya baik nggak?" Morata sengaja menggoda Myla.
" Ah biasa aja deh Mor. Jangan tanyain lagi kalau
masalah itu, dosennya super baik, ganteng pula."
" Wah jadi pengen ngikut kuliah disana Myl denger
kamu cerita kalau dosen nya baik. Ya nggak Kylie?" Morata langsung melirik
Kylie.
" Bener banget Mor. Imut pula dosennya." Kylie
menimpali
Myla terdiam dalam benaknya ia membayangkan Morata satu
kampus dengan Zi―Mimpi buruk.
****
Semakin hari Zi semakin tak menampakkan dirinya.
Dikampus pun Zi hanya berkutat dengan ruangan kelas, lab, perpus, taman kampus,
bahkan kafeteria pun sudah seperti tempat asing baginya. Sekarang dalam
fikirannya hanya lah lulus, lulus, dan lulus. Tak ada cara lain, semester
pendek harus berhasil kalau ia ingin segera kembali ke Cina dengan langkah
tegap.
" Zi kamu nggak keluar? Betah banget dikelas
mulu." Neymar sengaja mendatangi Zi dikelasnya, dia sangat-sangat
kehilangan gadis itu. Gadis paling unpredictable
yang pernah dia temui.
" Enggak ah Ney. Nggak ada waktu lagi buat itu―sekarang
waktunya buat serius."
" Ayolah Zi, satu kali ini saja. Ku mohon."
Neymar memasang tampang paling melasnya.
" Baiklah hanya kali ini."
Zi mengalah, dia mengikuti apa kata Neymar. Tak ada
salahnya juga untuk keluar, sedikit refreshing mungkin bisa men-charger
otaknya yang sudah low-bat.
Zi sedikit terheran setelah tau kemana ia akan pergi―Madrid.
Neymar mengajaknya ke Madrid, untuk apa? Entalah.
" Kenapa ke Madrid?"
" Kamu kenal Kylie kan?" Zi hanya mengangguk.
Tentu saja aku kenal Kylie, batinnya.
" Kita kerumahnya saja gimana?"
" Setuju."
Sesampainya di rumah Kylie mata Zi menatap sebuah mobil
yang tak asing baginya. Morata? Batin gadis itu.
Tokk..tokk..tokk..
Pintu terbuka, Kylie langsung menyambut ramah dua tamu dadakan
nya.
" Ah kebetulan banget kalian datang. Masuk
masuk."
Tubuh Zi mematung kaki-kaki terasa dipaku, mata sipitnya
tak henti memandangi Morata yang tengah duduk berdampingan dengan Myla.
Pertemuan pertamanya setelah Morata marah kepadanya tanpa sebab.
" Zi?" Morata tak kalah kagetnya mendapati Zi
tiba-tiba muncul bersama Neymar. Myla langsung menyumpah serapah dalam hati.
" Tuh kan Mor bener kataku, kalau jodoh nggak
bakalan kemana-mana." Kylie malah dengan bangganya berkata seperti itu.
Tak tau betapa tegangannya keempat orang diruangan itu―Zi, Myla, Morata,
Neymar―sekarang.
" Sepertinya aku salah ngajak Zi kesini―saat ini."
batin Neymar.
" Eh kok malah pada diem-dieman gini. Silahkan
duduk, aku ambilin minum dulu ya." Kylie berlari kearah dapur. Myla
mengikutinya.
Kini tinggal Zi, Morata dan Neymar di ruang tamu.
Suasana canggung tak terelakkan.
" Sehat Zi?" ini pertama kalinya Morata
berbicara dengan Zi semenjak kejadian beberapa waktu yang lalu.
" Sehat, kamu?"
" Sehat juga. Kok makin kurus?"
" Efek semester pendek kali Mor."
" Semester pendek?"
" Emm.." Zi mengangguk kecil.
Neymar mengamati setiap gerak-gerik Zi ketika berbicara
dengan Morata. Sepintas tak ada yang berbeda, tak ada yang sepesial. Tapi jika
benar-benar diperhatikan, ada suatu desiran halus ketika Zi berbicara dengan
Morata.
" Eh Zi ngambil semester pendek ya?" Kylie
yang beru keluar dari dapur bersama Myla yang mengekorinya langsung
berkomentar.
" Iya, pengen cepet-cepet balik ke Cina." Zi
langsung menunduk.
Wajah Morata seperti orang yang baru saja melihat
tsunami setinggi 50meter yang akan segera menerjang tubuhnya―pria jangkung itu
langsung menegang. Begitupun Neymar, dirinya begitu mengutuk negara berjuluk
tirai bambu itu, negara yang akan menjadi destinasi Zi selanjutnya dan menjadi
destinasi Zi yang sepertinya takkan pernah dia sentuh―kecuali kalau timnya;klub
maupun timnas, membawanya tour ke Negara itu.
" Ke Cina Zi? Kamu yakin bakalan ke Cina?"
bibir Morata bergetar.
" Iya Mor aku kangen sama masa kecil ku
disana." dusta Zi.
" Tapi kamu bakalan balik ke Spanyol kan Zi?"
Zi menggigit bibir bawahnya―ia tak sanggup―sekuat tenaga
ia tahan agar tak ada sebulir airmata pun yang akan keluar. Setiap
pertanyaan-pertanyaan Morata tadi semakit menyayat hatinya.
" Kamu bakalan balik ke
Spanyol kan?" Sepertinya
pertanyaan itu lebih susah untuk dijawab dibandingkan soal tersulit yang pernah
ia temui selama ujian semester. Sebuah pertanyaan yang hanya perlu YA atau
TIDAK sebagai jawaban terbaik.
"Mungkin―suatu saat nanti―mungkin juga tidak sama
sekali." suara Zi melemah.
Myla menatap Zi bimbang, antara rasa bahagia dan ikut
sedih. Bahagia karena Zi akan segera jauh dari kehidupan Morata, sedih karena
ia membayangkan bagaimana sakitnya kalau kamu harus berpisah dari orang yang
kamu cintai dan mencintaimu juga?
Dalam hati Myla sangat-sangat menanti waktu itu tiba,
waktu dimana Morata terhindar dari Zi. Memang ia akan menjadi orang yang sangat
egois jika ia mensyukuri perpisahan Zi dengan Morata dan merampas Morata begitu
saja dari tangan Cina itu, tapi itulah cinta. Butuh KEEGOISAN supaya kamu
bisa bahagia―diatas penderitaan orang lain―dan memiliki sesuatu yang bisa kamu
banggakan―karena memilikinya.
Suasana hening seketika, semua orang memilih untuk
diam―berkonsentrasi dengan fikiran mereka masing-masing. Hanya bunyi napas mereka
yang memenuhi setiap relung ruangan itu.
" Tapi Zi kapan ke Cina nya?" pertanyaan Myla
memecah keheningan.
" Kalau spesialisku udah selesai sesegera mungkin
aku akan ke Cina." jawab Zi mantap.
Myla menghitung-hitung berapa lama lagi Zi akan ada
disebelah Morata. 1tahun? 2tahun? 3tahun? Itu waktu yang cukup lama untuk
merubah sesuatu, termasuk merubah cerita yang sedang mereka alami saat ini.
Myla menundukkan wajahnya, menenggelamkannya bersama seribu harapan yang
berbunyi sama. Ya tuhan segera kau luluskan Cina ini dan jauhkan dia dari
Morata ku.
" Ya tuhan semoga Zi nggak cepet-cepet lulus.
Amin." ucap Kylie sambil mengadahkan tangan. Celetukan Kylie itu bisa
membuat suasana tegang dan hening sedikit demi sedikit menjadi cair.
Pembicaraan beralih membahas tetang kuliah mereka masing-masing.
Myla memilih untuk menjadi pendengar yang baik tanpa menceritakan secara detail
apa yang dia lalukan akhir-akhir ini dan menjawab beberapa pertanyaan yang
terlontar untuknya. Ia tak mau seorang pun terutama Morata tau kalau dia
menjadi asisten dosen yang mengajar Zi, dan ia patut bersyukur karena Zi sama
sekali tak menyinggung masalah Mr.Daniel―dan mata kuliah Fisiologi. Gadis itu
hanya menceritakan tentang semester pendek yang diambilnya.
Sekali lagi Myla menghembuskan CO2 dan H2O[i]
secara bersamaan dengan lega.
****
Setelah kunjungan itu Zi semakin banyak mengikuti
kegiatan kampus, walaupun tak semuanya. Ia mencoba untuk sedikit menyibukan
diri. Jadwal semester pendek yang diambilnya sudah mulai bisa ia kendalikan―tak
seperti awalnya yang acak-acakan. Neymar mengamati hal itu hanya dengan senyum.
Sekarang semuanya seperti lenyap―Zi yang dulu―Zi yang
dia harapkan seperti perlahan-lahan terkikis sendiri. Apa yang bisa ia harapkan
dari gadis itu sekarang? Tak ada. Walaupun begitu Neymar tetap menyayanginya
sepenuh hati. Dan selalu mencoba tersenyum pada apa yang membuat Zi tersenyum,
sesakit apapun ia akan mencoba untuk bertahan.
“ Zii….” Myla berlari tergopoh-gopoh.
“ Eh kenapa ini?” Zi memandangi Myla heran, tak biasanya
cewek ini menyebutkan namanya. Bahkan sampai berlari-lari seperti ini
kearahnya.
Lamunan Neymar buyar akibat datangnya Myla. Perlahan
kaki-kaki itu seperti otomatis berjalan perlahan mendatangi kedua cewek yang
tengah berbincang dikoridor kampus.
“ Nggak papa pengen pulang bareng kamu aja. Aku juga
pengen tau rumahmu juga kali Zi.”
“ Ayo.” Zi berjalan mendahuli Myla yang mengekor
dibelakangnya.
“ Zii…” satu suara lagi menyebut nama itu.
“ Eh kamu Ney, udah selesai kulihanya?”
“ Udah, pulang bareng yuk.” Neymar langsung menawarkan
diri―seperti biasa―tanpa pernah Zi minta.
“ Tapi Myla udah ngajak aku pulang duluan, nggak papa
kan Ney? Kalau mau kamu juga bisa mampir dulu di rumah. Myla katanya mau
mampir.” Senyum yang merekah dibibir Zi membuat Neymar merasakan kupu-kupu
berterbangan di perutnya.
“ Ok.” Zi menggandeng tangan Neymar begitu saja, tanpa
memikirkan bagaimana merahnya pipi sang empunya tangan.
Myla menundukkan wajahnya, menatap langkah kaki Neymar dan
Zi didepannya.
“ Myl….” Seseorang memanggilnya. Tapi nadanya melemah di
akhir. Dan ia sangat yakin siapa pemiliknya.
“ Mor?”
Myla menatap Morata yang mematung, begitupun Zi, cewek
itu juga ikut-ikutan mematung.
“ Kamu ngapain kesini?” pertanyaan Myla hanya
samar-samar terdengar, suaranya terlalu lemah.
“ Kamu jadi asisten dosen disini?” Morata malah balik
bertanya.
Myla ragu untuk menjawab, ia mencoba untuk melirik
Morata. Tatapan pria itu malah seperti anggota FBI yang sedang mengintrogasi
seorang terduga teroris. Mencoba untuk menatap Zi, cewek itu sama-sama menunduk
sepertinya. Neymar―jalan satu-satunya.
Seperti tau apa yang ada dalam fikiran Myla cowok itu
hanya mengangkat bahunya―tanda menyerahan semua jawaban pada Myla.
“ Ii.. yaa…” Myla mendadak gagap.
Morata semakin mematung. Apa ini alasan kenapa Myla
selalu bungkam dan terkesan tertutup ketika ditanyai tentang dimana ia
menjadi asisten dosen? Tapi apa ada hubungannya dengan Zi? Entahlah Morata
belum tau pasti. Belum tau pasti kalau dia dicintai dua wanita terdekatnya
secara bersamaan–dalam diam.
~Insya
Allah disambung~
[i] Bagi yang gak tau itu
maksudnya apa. H2O sama CO2 itu senyawa(?) yang
dikeluarin pas menghembuskan napas :)
