Holla gue balik bawa FF oneshot. FF kali ini bakalan beda karena
rada-rada mistis gitu /authornya sok/. Ok beberapa adegannya ini gak boleh
dilakuin dirumah, apalagi pas bayangan mantan lewat /tabokin/
Inspirasinya dari lagunya VIXX yang Voodoo Doll sama MV nya Big Bang -
Lies. Gak bagus? Ya maaf.
&&&&
18 Oktober 2014
" Menikah? Tapikan aku belum siap menikah." lagi-lagi aku dan
kekasihku Vale terlibat pertengkaran yang entah keberapa dengan masalah yang
sama. Menikah.
" Kapan kamu akan siap? Dari dulu kalau ku ajak menikah kamu selalu
gak pernah siap." nada suara Vale meninggi. Aku mengepal tanganku
erat-erat.
" Memangnya kenapa kalau selamanya aku gak siap nikah."
" Demi." Vale membentakku. Aku langsung ciut nyali dan
perlahan airmataku menangis.
" Kamu benar-benar mencintaku atau tidak?"
" Aku mencintaimu Demi. Aku sangat mencintaimu." Vale
menggenggam tanganku erat.
" Kalau kamu memang mencintaiku. Tunggu keputusanku tiga bulan
lagi."
Genggaman tangannya mengendur, " Aku tidak punya waktu untuk tiga
bulan. Aku butuh jawaban itu seminggu lagi."
Ia berlalu begitu saja meninggalkan aku yang duduk terkulai. Seminggu
lagi? Orang itu gila atau gimana sih? Aku tidak siap kalau seminggu lagi.
Ku pejamkan mataku, beberapa bayangan tentang ku dan Vale berkelebatan.
Mulai dari aku mengenalnya sampai menembakku, tragedi putus-nyambung kami,
hingga kerenggangan kami yang mulai nyata beberapa bulan terakhir. Mulai dari
dia mengajakku menikah.
&&&&
20 April 2014
" Ayolah Demi semangat, tinggal satu tahap lagi. Semangat
yaa." Andrea memberiku semangat dengan senyum mengembang. Sungguh mood ku
sedang bobrok kali ini.
Andrea Iannone. Dia ini temanku dari jaman-jaman susah ku saat mama dan
papa bercerai. Bocah ini juga bisa dibilang buku diary ku. Karena ingatannya
yang sangat kuat dan ia bukan tipe orang yang suka lapor sana-sini makannya aku
sering curhat dengannya. Bahkan kadang ia lebih ingat tentang kejadian masa
lampau ku ketimbang aku sendiri. Terutama tentang nama dan wajah orang yang
pernah ku kenal.
" Iya iya aku tau satu semester lagi. Dan akan ada satu tahap lagi
supaya aku terhindar dari ini." aku menunjuk jejeran tabung reaksi didalam
lab. Terkadang aku mengutuk pilihanku untuk masuk fakultas teknik. Teknik
Kimia.
" Haha sudahlah, nikmati saja. Inilah bedanya kita dengan anak-anak
yang lain." Andrea tersenyum sambil memainkan alisnya.
" Iya beda, di fakultas lain mereka jadi mahasiswa disini kita jadi
bahan siksaan. Siksa batin." Aku meletakkan tas dan beberapa buku diatas
meja.
" Tapi setidaknya kan kita lebih peka dengan makanan layak konsumsi
atau tidak."
" Itu juga karena sebelum kita makan kita musti bikin uji lab dulu.
Keluar hasilnya 3jam kemudian. Keburu pasukan perang dalam perut ngeluncurin
bom atom."
" Itu perut apa Hirosima-Nagasaki?" Andrea melirik ke perut
rata milik Demi.
" Enak aja." aku cemberut.
" Honey…" aku dan Andrea serempak menoleh. Ternyata vale sudah
nyender dengan antengnya di pintu masuk sambil berpose ala artis-artis di CF
parfum.
" Tumben pagi-pagi gini ke sekolah?" aku menyerngit heran.
" Lupa sesuatu ya?" Vale tersenyum nakal. Andrea dibelakangku
hanya terkekeh geli.
" Kalian kenapa sih? Aku gak kelupaan sesuatu kok." aku
berusaha meyakinkan diri. Dan mereka berdua semakin tertawa terbahak-bahak
karenaku. Andrea malah sempat mengerluarkan airmatanya saking kerasnya tertawa.
" Hari ini ulang tahunmu dan kamu lupa?"
Aku membulatkan mataku. Andrea masih berusaha untuk tidak tertawa.
" Kenapa gak bilang sih." aku menyenggol-nyenggol lengan Andrea.
" Gak usah dipikirin lagi. Yang penting sekarang kamu ingat kan
kalau kamu ulang tahun." Vale mendekapku dan mencium puncak kepalaku.
" Aku jadi ragu kok bisa si kamu diterima jadi mahasiswa teknik
kimia. Padahal pelupanya tingkat akhir gitu."
" Enak aja, aku gak separah itu tau. Kamu juga kadang-kadang
lupa." aku memukul pelan punggung Andrea.
" Kalau memang gak separah itu coba sebutkan anak fakultas teknik
kimia mana lagi yang lupa hari lahirnya sendiri? Jangan bilang kamu juga lupa
berapa umurmu." Andrea menatapku seperti orang habis dapat jackpot.
SKAK MAT. Aku benar-benar kalah sekarang. Siapa coba anak dikelas ini
yang lupa hari lahirnya sendiri selain aku? Pastinya tidak ada. Bahkan jika aku
tanya anak satu kampus ini belum tentu aku menemukan orang yang sepertiku.
" Demi.." Vale menyebut namaku lembut. Aku refleks menoleh
kearahnya. " Will you marry me?" sebuah cincin perak nan manis ia
tujukan padaku.
&&&&
3 Desember 2014
" Ayolah pikirkan ulang De, itu dosa. Kamu juga harus ingat tuhan.
Kamu masih punya tuhan kan?" Andrea menatapku khawatir. Ia tentunya lebih
khawatir dengan otakku yang mulai sarap dengan ide-ide gila. Ide gila untuk
menghancurkan Vale.
" Tuhan. Aku punya, tapi sepertinya tuhan ku sudah tidak peduli
dengan ku. Dengan semua masalah-masalahku." aku melempar tatapan bengis
kearah Andrea.
Ini bukan waktunya untuk membicarakan masalahku kepada tuhan. Ini
urusanku dengan Vale, bukan dengan tuhan. Jeritku dalam hati.
" De berpikirlah yang jernih. Atau kamu mau kubawa ke
psikolog?"
" Psikolog tidak akan menyelesaikan masalahku. Karena ada yang
lebih baik ketimbang kamu membawaku ke psikolog."
" Apa?" Andrea menatapku ingin tau.
" Psikopat."
" De please jangan gila."
" Kamu tidak tau An bagaimana suka dukanya hidup bersama seorang
psikolog. Kalau kamu tau mungkin kamu akan sama sepertiku, mencoba untuk
menjadi psikopat."
Andrea menunduk. Ia baru ingat kalau Vale adalah seorang psikolog.
" An asal kamu tau psikolog dan psikopat itu beda tipis. Psikolog
mereka mencoba mengurangi beban hidupmu dengan cara konsultasi rutin. Sedang
psikopat mereka menyelesaikan masalahmu, tentunya dengan cara mereka
sendiri."
" Tolong De jangan buat hidupmu berakhir dipenjara atau menjadi
buronan setiap saat."
" Aku hanya akan membunuh Vale bukannya membunuh orang banyak. Dan
untung saja selama jadi mahasiswa teknik kimia aku tidak menemukan rumus baru.
Mungkin rumus yang bisa membuat daya ledak yang sejuta kali lebih kuat
ketimbang nuklir." aku menbalas semua kata-kata khawatir Andrea dengan
enteng.
" Memangnya kenapa kalau kamu menemukan rumus itu?"
" Akan kuhancurkan semua orang, termasuk dirimu, diriku sendiri,
Vale si brengsek itu tentu saja diakan target utamaku, dan tujuh milyar manusia
lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Kamu mau aku
melakukannya?"
Andrea bergidik ngeri.
" Memangnya kamu akan menghabisinya dengan apa? Dengan tanganmu
sendiri?" sepertinya Andrea mulai ingin tau tentang apa yang akan aku
lakukan pada bajingan itu.
" Cih. Tangaku bahkan terlalu suci jika harus bersentuhan dengan
brengsek itu. Tidak, aku akan melakukannya dengan cara lain. Tapi aku tidak
akan menggunakan jasa pembunuh bayaran, karena aku akan melakukannya sendiri,
dengan caraku sendiri, dan tepat dihadapan mataku."
" Aku hanya minta kamu pikir ulang rencanamu ini De. Aku nggak mau
malaikat sepertimu harus mendekam dipenjara hanya karena percobaan
pembunuhan." Andrea berbalik dan melenggang menuju pintu.
" Memangnya kamu pikir aku hanya merencanakannya? Aku akan
benar-benar melakukannya. Toh kalau aku hanya merencakan dan benar-benar
membunuhnya sama-sama dipenjara."
" Terserah kamu saja. Tapi kamu tidak akan pernah bisa melakukan
itu selama ada aku De."
" Baiklah. Buktikan kata-katamu An."
&&&&
10 November
2014
" Vale akan menikah?" Andrea berteriak refleks.
Aku hanya bisa menunduk lemas. Bagaimana bisa seorang lelaki baru saja
putus dengan kekasihnya yang sudah menjalin hubungan selama 4tahun tiba-tiba
akan menikah begitu saja.
" Aku harus bagaimana An?"
" Tegar lah De, dunia nggak sempir kok. Masih ada jutaan laki-laki
yang disediakan tuhan untukmu. Banyak dari mereka yang lebih baik dari pada
Vale." Andrea berusaha menenangkan ku. Tapi tetap saja aku tidak pernah
bisa tenang. Vale meninggalkanku. Cinta pertamaku, pacar pertamaku, bahkan
sudah seperti belahan jiwaku meninggakanku. SAKIT.
" Tapi, aku sudah bilang kalau aku minta waktu berfikir."
" Memangnya kamu bilang berapa lama kamu perlu befikir?"
" Tiga bulan."
" De jangan coba permaikan perasaan orang lain. Kamu selalu
menyingkir jika ia memintamu menikah. Mungkin Vale sudah dituntut orang tuanya.
Dan kamu masih mengulur-ngulur. Vale nggak salah."
" Terus saja semuanya membela Vale. Kenapa tidak ada yang
memihakku? Bahkan tuhan juga lupa kalau dia punya hamba sepertiku." Aku
berteriak seperti orang kesetanan di café.
Aku bergegas meninggalkan café itu. Rintik-rintik hujan yang mulai
menyapa tanah membuat background yang sangat cocok untukku sore ini. HANCUR.
&&&&
27 November
2014
Aku mulai banyak mempelajari tentang ilmu santet, Voodoo sampai cara
menggunakan senjata laras pendek yang paling ampuh untuk membunuh manusia.
Semua bahan-bahan 'ajarku' ku itu berserakan dilantai apartemenku dengan
cueknya. Seperti tak ada masalah dan tak ada perkara jika tiba-tiba saja ada
orang yang tanpa permisi masuk dan melihat semua benda-benda sadis itu.
Voodoo aku banyak melihat boneka ini di film film horor kelas ekstrem
yang sebenarnya membuatku mual saat menontonnya. Tapi apa boleh buat, demi
dendamku pada bajingan sialan itu aku harus mempelajari ilmu tentang boneka
ini. Dan sepertinya ini akan menjadi senjataku untuk melenyapkan mantan pacarku
yang paling menyebalkan.
" De apa yang kamu lakuin? Kenapa pistol-pistol dan Voodoo-voodoo
ini bertebaran dimana-mana?" Andrea yang nyelonong begitu saja tersontak
dengan isi apartemenku.
" Iseng. " jawabku dengan santainya sambil menenguk softdrink.
" Mau?" aku mengacungkan botol softdrink ku tadi.
" Tidak. Terimakasih. Tapi ini untuk apa semuanya?"
" Untuk hadiah."
" Hadiah? Hadiah buat siapa?"
" Vale."
" What? Kamu mau membunuhnya? De tolong aku gak mau kehilangan
kamu."
" Tenang aja An. Kamu gak bakalan kehilangan aku kok. Kamu hanya
akan kehilangan Vale bukan aku."
" Tapi itu sama saja De. Kamu akan dipenjara gara-gara masalah ini.
Itu sama saja aku kehilangan kamu." Andrea memelukku erat. Tapi aku
meronta agar pelukan itu ia lepaskan.
" Perssetan dengan penjara. Toh disana aku juga dikasih
makan."
" Demi, tolong dengerin kata-kata aku kali ini."
" Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata mu Andrea, semua
nasihat-nasihat bahkan kotbah mu selalu aku dengarkan. Kamu yang tidak pernah
mendengarkan kata-kataku."
Andrea mati kutu, " Jadi tolong dengarkan aku kali ini. Ini yang
terbaik, jangan protes."
" Da irwojirira, Da sarajirira." aku bergumam pelan.
" Kamu bilang apa tadi? Apa itu mantra?"
" Suatu saat kamu pasti akan tau." senyuman kaku aku coba
kembangankan diwajahku.
&&&&
15 Desember
2014
Inilah hari penghabisan Vale. Aku
menyetir mobilku dengan tenang. Senyum mengembang di wajahku, seperti hari ini
aku akan mendapat sebuah berlian sebesar bola sepak.
Sesampainya didepan gedung apartemen bajingan itu aku langsung memarkir
mobil ku sembarangan.
Dengan cepat aku melangkahkan kakiku menyusuri lobi apertemen, menaiki
lift dan mencari kamar apartemen milik Vale.
Tidak sulit untuk menemukannya karena aku sudah hapal tempat itu.
Bajingan itu benar-benar bodoh karena tidak berpindah tempat. Dan ketika aku
mencoba tombol kombinasi agar bisa masuk ketempat itu, ternyata ia lebih bodoh
dari yang kukira. Password nya tidak pernah ia rubah. Benar-benar tolol.
Saat aku masuk ke apartemennya ia begitu terkejut. Ia seperti melihat
tamu paling jahanam yang tidak diundang.
" Lama tidak berjumpa, honey." aku memberikan intonasi khusus
pada kata honey.
" Ka…kamu… kenapa kesini?" ia tergagap.
" Kaget ya?"
Tanpa menambah basa-basi aku langsung mengeluarkan boneka voodoo yang
sudah aku bawa dari rumah.
" Ma…mau apa kamu?"
Aku tidak membalas pertanyaannya, tapi langsung membuang kaki boneka
itu. Dan sihirnya bekerja. Vale langsung jatuh tersungkur, walau dalam bentuk
nyata kakinya masih menyatu dengan tubuh tapi apa gunanya toh sudah tidak
berfungsi.
" Tenang saja aku tidak akan langsung membunuhmu. Mungkin sedikit
bermain-main dengan ini," aku menunjuk boneka voodoo ku, " lebih
indah ketimbang menghabisimu langsung."
" Demi aku mohon, aku masih mencintamu. Aku mohon jangan lakukan
ini, aku bisa membatalkan pernikahan itu."
" Cinta? Lies."
----
Andrea mencoba mencari-cari Demi kemanapun tapi tidak ketemu batang
hidungnya. Andrea khawatir kalau Demi akan mengeksekusi Vale hari ini. Karena
tadi saat ia masuk ke apartemen milik Demi apatemen itu bersih dan rapi. Bahkan
sebuah bungkus permen yang biasanya ada inipun tidak ada.
Dengan kecepatan penuh Andrea membawa mobilnya membelah jalanan menuju
apartemen Vale. Tidak ada alasan yang pasti kenapa Andrea mencoba untuk pergi
kesana, tapi tidak ada tempat lain yang akan Demi pilih untuk menghabisi
mantannya itu.
Tepat dugaanya, mobil Demi terparkir sembarangan didepan gedung itu,
dengan langkah seribu Andrea pertama-tama mencoba mencari sesuatu di mobil
Demi. Hanya ada secarik kertas.
Da irwojirira, Da sarajirira
Everything will come true, Everything will
dissapear[i]
Andrea baru ingat kalau itu adalah kalimat mantra milik Demi.
Cepat-cepat ia berlari pontang-panting masuk keapartemen dan mencoba mencari
dimana letak kejadian tragis itu berlangsung.
------
" Kumohon De maafkan aku kali ini. Aku bersedia menantimu dan
mewujudkan keinginanku." suara Vale teramat lemah.
" Kamu pernah bilang kan kalau kamu nggak punya waktu buat nunggu
jawabanku tiga bulan lagi. Dan benar kamu menepatinya, dengan bantuanku tentunya.
Ini belum ada tiga bulan dan tidak akan ada lagi waktu buat kamu." tepat
saat itu aku menghujam keras-keras dada sebelah kiri boneka voodoo tadi.
BRAK. Pintu kamar apartemen terbuka, tapi semua sudah terlambat. Aku
sudah menghabisi Vale dengan caraku sendiri dan didepan mataku.
Andrea hanya bisa memelukku dari belakang, airmatanya membasahi
punggungku. Boneka voodoo tadi kulepas dan terjatuh kelantai.
" Apa yang aku lakukan?"
" Membunuh orang dengan caramu dan dihadapan matamu." Andrea
masih memelukku dari belakang.
" Apa tuhan mau memaafkanku?"
" Tuhan maha pemaaf." Andrea membalik tubuhku, kini kami
berhadapan.
" Apa sebaiknya aku pergi menyerahkan diri?" entah kenapa aku
menjadi linglung seperti ini.
" Jangan De, lebih baik kamu pergi jauh dari sini. Sore ini juga,
aku yang akan mengurus semuanya."
" Tapi An.."
" Dan jangan kembali apapun yang terjadi nantinya. Tempat ini hanya
akan menjadikan mu psikopat sungguhan."
" An.."
" Berjanjilah dan percaya padaku."
Aku mengangguk pasrah.
&&&&
17 Desember 2014
Sore itu juga aku pergi, entah kemana aku juga tidak mengerti yang jelas
aku hanya menyetir mobilku kearah manapun yang aku mau.
Sambil melepas suntuk aku meminggirkan dulu mobilku. Iseng aku mencoba
membaca berita melalui portal berita online. Mataku langsung terbelalak. Andrea
menjadi salah satu pembicaraan disitu.
" Seorang pemuda menyerahkan diri setelah tega menghabisi nyawa
temannya sendiri"
Kututup mulutku yang menganga. Andrea kenapa kamu?
Aku baca kalimat perkalimat. " Diduga karena masalah asmara?"
aku menyerngitkan kening.
" Kenapa kamu musti ngorbanin dirimu sendiri sih An?" aku
berteriak setengah menangis didalam mobil.
Ingin rasanya aku memutar balik mobil ini dan pergi ketempat Andrea
berada. Tapi aku kadung berjanji untuk tidak kembali. Setidaknya masih ada yang
mencoba melindungiku, tapi aku malah menghancurkan apa yang dimiliki orang yang
kelewat baik padaku itu.
" Maafkan aku An, aku hanya mencoba memegang janjiku padamu."
setitik airmata mengalir dipipi kananku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar