SpongeBob SquarePants

Jumat, 28 Maret 2014

El-Love-Classico-Ketika Cintaku Salah Assist Part 7


Tittle : Vacation disaster
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter
Kylie Mourinho
Demylia Sanchez
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Cristian Tello
Other….

Nggak tau mau sampai mana, liatin aja deh :). Sampe FF ini habis tolong anggap saja Neymar sama Bruna masih pacaran *jleb*

****

" Akhirnya Mor kamu nggak pergi."
" Ini semua demi kamu." Zi langsung mendongak, wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang.
Myla mengamati dalam diam tingkah Zi dan Morata itu dari kejauhan. Dihatinya terus berkecamuh pertanyaan-pertanyaan tentang perasaannya kepada Morata. " Kenapa ia tak bisa menggapai wajah yang sudah dihadapannya itu? Mau sampai kapan ia terus-terusan menyimpan perasaan ini?" batinnya terus-terusan berkecamuk.
" Kenapa sih Myl? Murung?" Tello menatap kekasihnya itu prihatin.
" Mungkin ini jadwal bulananku." Myla menjawab ngasal. Mendengar kata jatah bulanan Tello hanya mengangguk.
Selanjutnya suasana sangat hening, Zia dan Morata hanya saling tatap sambil sesekali tersenyum, entah apa yang ada dipikiran mereka. Bertingkah seperti idiot. Sedangkan Myla dan Tello hanya saling diam dengan pikiran masing-masing.
Entah mengapa disaat seperti ini Myla malah menginginkan si ceria Kylie tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka dan membuat beberapa celotehan yang pastinya akan menghadirkan tawa. Myla lalu merutuki ketidakbisaannya melucu dihadapan orang, dia terlalu canggung untuk melakukan hal-hal konyol.
" Ah kenapa harus seperti ini ceritanya?" Myla menggumam.
" Apanya yang seperti ini? Cerita apa?" Tello yang dengan jelas mendengar gumaman Myla tadi langsung mencerca gadis itu dengan nada menyelidik.
" Ah tidak apa-apa, lupakanlah."
" Kamu ada masalah ya Myl? Cerita saja. Akukan pacarmu, aku juga bisa jadi tempatmu membagi sedikit masalahmu, banyak juga gak papa kok." Tello tersenyum tulus sambil memegang tangan kanan Myla.
" Mungkin bukan sekarang waktunya." Myla menggigit bibir bawahnya getir. " Kenapa dunia ini terasa adil bagi Zi? Bukan aku? Kenapa keadilan tak pernah mencoba menyapaku?"  setitik kristal air menetes dari sudut mata Myla.

&&&&

" Zi aku ada rencana liburan dengan SMA ku dulu. Kamu mau ikut?"
Pagi buta, matahari saja masih mau menampakkan diri dan Morata sudah bertamu untuk mengajak Zi pergi berlibur. Ini memang sedang liburan semester ganjil, tapi bukan untuk mahasiswa seperti Zi yang mengambil semester pendek. Liburan mereka sudah berakhir itupun juga hanya tiga hari, bukan seperti mahasiswa dengan semester normal yang dua minggu bahkan lebih.
" Bukannya nggak menghargai ajakan kalian tapi sepertinya aku gak bisa."
" Loh kenapa sih Zi? Inikan liburan semester."
" Kamu memangnya nggak ingat Mor kalau aku mengambil semester pendek, itu artinya tidak ada liburan."
Morata menggaruk canggung kepalanya yang sama sekali tak gatal. Ia jadi merasa telah melakukan hal terkonyol yang pernah manusia lakukan.
" Tapi lain kali kita bisa berlibur bedua kan Zi?" Morata mengalihkan rasa malunya.
" Tergantung Mor. Kapan kamu mengajaknya."
" Nanti setelah kamu menyelesaikan kuliah mu, sebelum kamu kembali ke Cina sesuai rencana mu." Morata mengucapkannya sambil terus menunduk. Ia merasa kalau kalimat yang baru saja ia ucapkan lebih tajam ketimbang pisau belati.
Jantung Zi mencelos, apa maksud kalimat Morata tadi pria itu merelakan ia kembali ke Cina tanpa mencegahnya sama sekali? Ataupun setidaknya berusaha untuk ikut serta ke Cina, memulai hidup baru berdua. Tidak kah Morata memikirkan kalau Zi sangat menginginkan itu? Morata bersamanya.
" Baiklah." Zi menjawab pelan. Gadis itu mengigit bibir bawahnya karena menahan tangis, dadanya terasa sesak.
" Kamu mau jalan-jalan Zi? Tidak ada kuliah kan?"
" Sekarang?"
" Iya, memangnya kenapa kalau sekarang?"
" Maaf Mor, aku ada kuliah pagi ini."
" Ya sudah. Semangat ya Zi." Morata tersenyum sampai matanya menyipit. Zi hanya membalas dengan senyuman hambar.

------

Sepeninggal Morata Zi langsung menangkupkan kepala ke bantal dan mengangis sepuas hatinya. Ia terpaksa berbohong kalau pagi ini dia ada kelas padahal kelasnya hari ini baru dimulai jam dua siang nanti. Dengan sisa air mata yang ada gadis itu mencurahkan semua emosinya ke boneka beruang berwarna putih yang pernah Morata berikan padanya.
Terpaan dinginnya udara pagi diperalihan musim dingin ke musim semi tak digubris Zi, gadis itu terus menangis dihadapan boneka beruang berwarna putih tadi. Terkadang Zi merangkul beruang itu, terkadang juga ia meninju boneka itu hingga terpental cukup jauh, tapi terkadang ia juga membelai lembut bulu-bulu halus boneka tadi dan sesekali menciumi wajah boneka lucu tersebut.
" STUPID." dengan sisa tenaganya Zi menendang boneka tadi hingga mencelat sampai ke pintu. Ia sudah tak peduli, yang ia rasakan sekarang hanya sakit. Dan boneka tadi satu-satunya barang pelampiasannya.
" Zi Zi." seseorang memanggilnya dan suara itu sungguh tak asing baginya.
" Ney?" Zi bertanya memastikan siapa yang memanggilnya.
" Iya ini aku, kamu dimana?"
" Dikamar."
" Boleh masuk?" Melihat kamar Zi yang tertutup rapat, membuat Neymar meragukan pertanyaan nya tadi. Karena biasanya pagi-pagi begini Zi baru saja bangun tidur, dan cewek itu paling benci ketika wajah bangun tidurnya ketahuan orang lain.
" Masuk lah."
Neymar membuka pintu kamar berwarna coklat terang itu pelan-pelan. Napasnya tercekat ketika mendapati kondisi Zi yang memprihatinkan. Penampilan awut-awutan, mata bengkak dan   keadaan kamar yang berantakan.
" Kamu kenapa Zi?"
" Tidak apa-apa."
" Jujur saja Zi. Kamu seperti tidak mengenalku saja kalau seperti itu, apa kamu sudah nggak percaya sama aku lagi?"
Zi hanya bisa mengigit bibir bawahnya—lagi-lagi—kemudian menarik napas panjang dan menceritakan hal yang baru saja membuatnya menangis meraung-raung.
" Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula pasti Morata juga memikirkan bagaimana caranya untuk bisa bersamamu terus Zi. Yakinlah." Neymar mencoba menenangkan Zi dengan cara merangkul pundak gadis itu dan sedikit menasehatinya. Padahal dalam hatinya sendiri gemuruh tak henti-hentinya berbunyi. Satu lagi langkah mundur yang Neymar ambil, dan sebuah kenyataan pahit yang terkuak.

&&&&

" Mor kamu bawa baju berapa? Jangan cuma sepasang aja. Kita disana seminggu loh." Kylie meledek Morata yang memang jarang sekali membawa baju lebih dari sepasang—baju dan celana—ketika bepergian. Cowok itu lebih suka berbelanja baju baru ditempat yang ia tuju.
" Tenang Ky, aku sudah bawa dua kok gak sepasang lagi." entah apa lucunya kalimat tadi yang jelas Kylie dan Morata langsung serempak tertawa.
" Kamu gak bawa Zi?"
" Dia kan anak semester pendek liburnya hanya tiga hari. Mana mau ikut-ikut acara begini, mending di perpus."
Kylie dan Morata pun langsung tertawa bersama(lagi). Dua sobat karib itu memang sangat susah untuk tidak menertawakan hal apapun (sarap).
" Heh kamu liat Myla nggak?" Morata mengedarkan pandangan, tapi wajah Myla memang tak nampak.
" Oh Myla tadi bilang bakalan datang sedikit telat." Kylie menjawab dengan entengnya sambil mengutak-atik hape hitam kesayangannya.
Brak. Myla yang terengah-engah menggebrak pintu asal. Wajahnya sedikit merah karena terkena sengatan matahari.
" Eh elu Myl?" Kylie menatap Myla dari atas sampai bawah.
" Bukan." ketus Myla.
" Lah terus?"
" Gumiho baru lewat."
Morata hanya melongo mendapati dua sahabatnya itu yang saling melempar tatapan sadis(?).
" Udah cepetan berkemas, biar cepet berangkatnya."
Kylie mengacungkan jempol kanannya bersemangat, sementara Myla hanya membalas dengan anggukan sambil merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.

------

" Capeknyaa…" Morata sedikit membanting tubuhnya di kasur.
" Mor… Mor…"
" Siapa?"
" Aku Myla."
" Ada apa Myl?"
" Mau makan siang bareng? Temen-temen udah nunggu diluar."
" Kamu tunggu diluan dulu deh, aku masih kenyang."
" Eummm…" Myla berjalan mundur lalu menutup pintu kamar Morata pelan-pelan.

" Mana Morata?" Kylie berkacak pinggang didekat tangga.
" Katanya suruh duluan, dia masih kenyang." Myla mengangkat bahu tak mengerti.
" Aish, waktuku yang berharga." Kylie mendadak melow.
" Baru 5menit Ky."
" 5menit aku sudah bisa menghabiskan seporsi steak Myl."
Myla memutar bola matanya. Terkadang Kylie sedikit berlebihan.

&&&&


To : Morata Gege
Bagaimana liburanmu? Menyenangkan?

From : Morata Gege
Lumayan, tapi aku pinginnya sama kamu :* :(

To : Morata Gege
Lain kali yaa {}

From : Morata Gege
Janji ya tapi

To : Morata Gege
Janji :* selamat bersenang-senang

From : Morata Gege
Tanpamu :( {}

Zi tersenyum-senyum sendiri. Neymar, Tello, Bartra yang duduk didepannya hanya bisa mlongo dan menatap gadis itu dengan ekspresi cengonya masing-masing.
" Ada apa Zi?" tanya Bartra masih dengan menggigiti sedotan yang belum sempat ia lepas tadi—karena terbegong dengan senyum nyeleneh Zi.
" Morata. Bukan apa-apa." Zi masih terus cekikikan sambil berkonsentrasi menatap layar ponselnya.
Neymar hanya melirik sekilas, baginya sekarang sudah jelas. Melangkah mundur dari pusaran cinta Zi lebih baik. Karena sepertinya semakin hari semakin susah saja Zi dan Morata dipisahkan.
" Loh bukannya Morata liburan? Bareng temen-temen SMA nya kan?"
" Eoh. Dia emang lagi liburan, pasti pulang-pulang aku akan semakin terlihat seperti salju kalau berjalan dengannya." Zi, Tello dan Bartra langsung serempak tertawa bersama.
" Kenapa Ney? Kok diem aja? Gak biasanya." Tello menyenggol pelan lengan Neymar.
" Sakit gigi."
" Tadi katanya sariawan, mana yang bener? Sakit gigi apa sariawan?" Bartra menatap heran kearah Neymar.
" Keduanya." Neymar menjawab tanpa minat. Matanya menerawang keluar jendela menatap beberapa burung kecil yang sedang mematuk-matuk tanah mencari biji-biji yang mungkin saja terjatuh.

&&&&

" Mor nanti malam kita diajak nge-wine. Mau ikut?" Kylie asyik membolak-balik majalah sport yang dibelinya tadi pagi.
" Oke lah. Lama nggak nge-wine bareng kalian."
" Eh Mor, tadi Myla nangis. Kamu tau nggak dia ada masalah apa?"
" Eung…" Morata menggelengkan kepalanya. " Kemarin aku lihat dia mentionan sama Tello masih adem ayem." Morata menaruh hape nya. Setahunya Myla memang bukan type cewek yang mudah menangis karena hal sepele.
" Dia bilang ini ada hubungannya sama cinta pertamanya. Kamu tau nggak siapa cinta pertamanya?" Kylie menatap bola mata Morata dalam.
Morata mengaburkan pandangan, ingatannya terlempar ke masa ia kenal Myla. Myla bercerita kalau baru saja ada cowok yang berhasil membuatnya terpesona dan membuat jantungnya berdebar untuk pertama kali.

Flashback On
" Mor, kamu bisa jaga rahasia kan?" Myla menggoyang-goyangkan kakinya sambil duduk diatas ayunan.
" Rahasia apa?"
" Sepertinya akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang orang-orang sebut dengan jatuh cinta."
" Jatuh cinta?"
" Iya."
" Rasanya bagaimana?" Morata bertanya dengan polosnya.
" Kamu nggak tau Mor?"
" Enggak. Memangnya kenapa?"
" Kayaknya aku salah tempat curhat." Myla mendengus kesal. Rupanya cinta pertamanya ini akan bertepuk sebelah tangan.
" Kamu gak salah kok. Kalau mau curhat silahkan, curhat aja."
" Gimana aku mau curhat masalah cinta kalau yang ku ajak curhat aja gak pernah ngalamin rasanya jatuh cinta." Myla berdiri lalu mengambil langkah kesal.
" Myl." panggilan Morata menghentikan Myla. " Kalau kamu suka bilang aja suka ke cowok itu. Telpon dia atau langsung bicara padanya kalau kamu suka."
" Baik, akan kuturuti perkataanmu."
Malamnya hape Morata berdering enam kali, nomor yang sama. Itu adalah Myla yang menelponya, namun setiap Morata mengangkatnya, Myla hanya diam. Tidak ada suara apapun, kecuali hembusan napas.
Flashback Off

Kelebatan bayangan kejadian itu muncul kembali dalam benak Morata.
" Tidak mungkin." tiba-tiba Morata berkata setengah berteriak.
" Apanya yang tidak mungkin?"
" Sepertinya aku tau siapa cinta pertama Myla." Kylie menatap Morata penuh harap, " Tapi aku tidak yakin." Morata langsung menunduk.
" Kamu gimana sih, katanya tau. Tapi ragu."
" Cintakan gak kayak hitung-hitungan Matematikan Ky yang jawabannya pasti."
" Iya juga sih."

&&&&

" Mor kayaknya Myla mabuk berat tuh, kamu bisa kan anterin dia ke kamarnya?"
" Eum."
Suasana jadi terasa sangat canggung buat Morata. Untunglah Myla sedang mabuk, coba Myla dalam keadaan sadar.
" Myl? Kamu kuat jalan nggak?"
" Huh?"
" Kalau gak kuat naiklah ke punggung ku. Kugendong aja." tanpa berkata apa-apa lagi Myla langsung memposisikan dirinya.
Entah dapat perasaan dari mana yang jelas Morata merasa suhu tubuhnya panas menadadak. Ada sesuatu yang sepertinya ingin meledak dari dalam tubuhnya.
" Aish kenapa dia gak tau sih." Myla mulai meracau dibawah kendali alkohol.
" Tau apa Myl?"
" Morata…" Myla tidak meneruskan perkataannya.
Racauan Myla semakin tidak jelas, Myla bahkan juga meracau menggunakan bahasa Prancis. Dan selama perjalanan Morata mencoba menahan dirinya sebisa mungkin.
KLEK. Pintu kamar Myla terbuka, Morata buru-buru membaringkan Myla di tempat tidur.
" Bisa tolong ambilkan hape ku." Morata mengambil hape putih milik Myla.
Myla—dalam keadaan setengah sadar—memandangi layar hapenya dengan muka frustasi.
" Ah berapa tanggal lahir anak itu? Kenapa aku jadi pelupa begini." Myla mengacak-aca rambutnya sendiri.
" Tanggal lahir siapa? Tanggal lahir Tello?" Morata menebak ngasal.
" Sejak kapan aku menaruh tanggal lahir mu di hapeku eoh."
Morata melongo, jadi Myla menganggapnya Tello?
" Lalu tanggal lahir siapa yang kamu jadikan kata sandi?" Morata berpura-pura menjadi Tello.
" Seseorang yang pernah ada dalam hati ku, cinta pertamaku. Ah…." lagi-lagi Myla mengacak-acak rambutnya sendiri.
" Siapa?"
" Tapi kamu jangan marah ya."
" Iya aku gak bakalan marah."
" Morata." Myla menjawab lirih.
Morata langsung menarik hape ditangan Myla dan menuliskan tanggal lahirnya. Dan benar, tanggal lahirnya memang digunakan Myla sebagai kata sandi.
" Tello."
Wajah Myla semakin dekat dengan Morata yang Myla anggap sebagai Tello. Morata hanya bisa diam terpaku saat bibirnya bersentuhan dengan bibir mungil milik Myla. Bagaimana bisa ciuman pertamanya adalah sahabatnya sendiri? Bukan seorang Hwang Zia Carter kekasihnya?
Dan semua hal itu terjadi begitu saja tanpa bisa keduanya sadari. " Tello kamu mau kan maafin aku malam ini?"
Morata hanya terdiam. " Kalau Tello tau mungkin kita berdua tak kan termaafkan. Bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Zi."
Setelah merapikan bajunya dan baju Myla, Morata segera kembali ke kamar hotelnya.

&&&&

" Ah hari terakhir." Kylie merentangkan tangannya di balkon. " Kamu ada rencana beli sesuatu gak buat oleh-oleh?" Kylie melirik kearah Morata yang dua hari belakangan ini banyak merenung. Terutama saat ia berpapasan dengan Myla.
" Kamu ada masalah?"
" Enggak kok Ky, cuman lagi bingung. Kira-kira cewek suka cincin yang kayak gimana?"
" Kamu mau nglamar Zi?"
" Sepertinya, sebelum terlambat. Kamu tau kan apa rencana Zi."
" Kembali ke Cina?"
" Tepat."
" Ngomongin apa sih?" Myla tiba-tiba muncul dari belakang. Suasana canggung langsung muncul dipihak Morata.
" Morata mau nyari cincin buat Zi." Kylie menjelaskan sambil nyengir, karena ia sama sekali tak tau problem kedua sahabatnya itu.
" Oh." Myla hanya menjawab sekenanya.

-------

Disebuah toko perhiasan Morata melihat sebuah cincin mungil yang manis. Morata sudah membayangkan betapa cantiknya cincin itu tersemat di jari manis Zi.
" Yang itu bagus Mor." suara Myla membuyarkan lamunan Morata.
" Iya."
Myla melihat raut wajah Morata yang sedari tadi tersenyum saat melihat cincin-cincin pernihakan itu. Hatinya terasa perih.


Everytime I hear your voice
I grow I grow I grow
Endless waiting I can't control
I wonder if you hear me now oh hear my cry
( #backsound : Lunafly - Day by Day)

&&&&

From : Morata Gege
Besok aku pulang :*

Zi hanya melirik tulisan itu tanpa ekspresi, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Melihat nama Morata rasanya ada sesuatu yang aneh menggganjal dirinya.

&&&&

Pagi pagi sekali, Zi sudah dibangunkan dengan suara gaduh petasan.
" Siapa sih jam segini main petasan, kayak kurang kerjaan." Zi membanting guling yang tadi dipeluknya.
" Zi keluar lah." seseorang memanggilnya dan Zi sangat tidak asing dengan suara itu. Buru-buru Zi keluar rumah.
" Mor…" Suara Zi terhenti ketika ia melihat Morata berlutut didepan pintu rumahnya sambil memegang kotak cincin.
" Zi, would you marry me?"
Tenggorokan Zi tercekat, gadis itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan kekuatan yang ia miliki sekarang Zi hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Morata langsung memeluk gadis nya itu, kemudian menciumnya.

I want to be your oppa
Why don't you know my heart for you?
Even if you ignore me
Even if you act cold
I can't push you out of my mind
I want to be your oppa
I will be your man, just watch
So that my heart can touch yours
I will run to you right now
( #Backsound : BTS - Boy in Luv)

" Mau jalan-jalan nyonya Morata?" Morata melirik Zi sambil memainkan alisnya. Zi hanya mengangguk dan menggandeng lengan Morata.

&&&&

From : Zi
Ney, Morata melamar ku #fly

 Neymar menatap layar hape nya nanar. Semuanya sudah terlambat.

I was thinking about her, thinking about me
Thinking about us, what we gone be
Open my eyes, it was only just a dream
So I travelled back down that road
Will she come back? No one knows
I reliaze, it was only just a dream
( #backsound : LC9 - Just a dream)





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar