SpongeBob SquarePants

Sabtu, 21 Desember 2013

Melody—Secret Admirer [One Shot]

Title : Melody—Secret Admirer [One Shot]
Rating : like always T :)
Genre : Romance
Cast :
Demylia Lorenzo
Jorge Lorenzo
Other

Kenapa ganti nama tokoh? Biar kalian nggak bosen sama sebuah nama yang bunyinya Zi. Inspirasi dari lagunya Utopia - Antara Ada dan Tiada.

****

" Mama kak Jojo nakal." Myla menangis kencang ketika boneka pandanya direbut oleh Jojo, kakaknya. Bocah kecil itu langsung menitikan airmata.
" Jo, kamu jangan jahil." Mrs. Lorenzo langsung mencubit pipi tembem anak laki-lakinya itu dan menyerahkan kembali boneka panda kesayangan Myla.
" Kak Jojo nakal." teriak Myla disela-sela tangisannya.
" Manja." balas Jojo mencibir Myla yang masih sibuk menyeka air matanya.
" Mamaa kak Jojo." kali ini Myla berteriak lebih kencang. Ia tak terima dicibir, itu adalah hal yang paling Myla benci. Myla benci dikatakan manja, Myla kuat itulah kata hatinya.
" Jojo jangan ganggu adikmu." sekali lagi Mrs. Lorenzo harus menegur Jojo.

****

-12 tahun kemudian-

Disebuah malam dimusim semi. Dimana udara dingin sisa musim salju berhembus pelan. Mendinginkan kulit Myla yang baru saja pulang dari rumah Emily. Ia berjalan dengan santainya sambil terus menggosokkan kedua telapak tangannya. Rupanya jaket tebal yang dipakainya tidak cukup membuat dirinya hangat.
Langkahnya terhenti, ia mendengar sekelumit percakapan antara ayah dan ibunya—mengenai Jojo. Ia kemudian menempelkan kupingnya di pintu kamar kedua orang tuanya itu.
" Jojo sudah duapuluh tahun, apa kita musti seperti ini terus menerus. Aku jadi kasihan dengannya."
" Sudah terlambat untuk memberitahunya."
" Tidak ada kata terlambat pa, kasihan Jojo. Dan kulihat sepertinya Myla mengagumi Jojo, bukankah lebih baik kalau mereka berdua kita jodohkan. Dengan begitu kita tidak akan kehilangan Jojo."
" Iya kalau Jojo mencintai Myla juga, kalau tidak? Kau taukan bagaimana sifat Jojo pada Myla sejak keci?"
Keduanya kemudian terdiam. Myla mendengarkan percakapan tadi dengan perasaan kacau. Dari kesimpulan yang ia dapat Jojo bukan kakak kandungnya. Yah, Jojo bukan kakak kandungnya. Dan rencana ibunya untuk menjodohkannya dengan Jojo, itu jelas gila.
Dalam hati Myla sangat ingin itu terjadi. Tapi kembali lagi, apakah Jojo mau dengan gadis sepertinya? Myla mendesah dalam hati.
" Heh penguping." suara Jojo dari arah tangga mengagetkan Myla.
" Belum tidur eoh?"
" Belum, kamu sendiri? Kerjaan hanya menjadi penguping, stalker. Huh, parasit."
" Jaga ucapanmu." Myla berjalan menuju kamarnya dengan langkah kesal. Jojo terlalu dingin dan terlalu menyebalkan.
Didalam kamar Myla langsung meraih gitar kesayangannya dan memainkannya sembarangan. Dari lantai atas—kamar Jojo—tak kalah ribut. Jojo menyaingi permainan abstrak gitar Myla dengan memencet tuts pianonya acak. Jojo melakukan hal itu sambil tersenyum jahil, sementara itu Myla semakin memajukan bibirnya. Ia tak suka ditiru kakaknya itu.
" Plagiat." teriakknya.
" Stalker." balas Jojo.
" Maamaaa." suara melengking Myla membuat Jojo refleks untuk menutup kupingnya.
" Myla ini sudah malam." sepertinya Mrs. Lorenzo sudah terlalu muak dengan kelakuan kedua anaknya itu.
" Tuh Myl udah malam."
" Aahh fuck you Jo."
" Myla." suara datar tapi tegas milik Mr. Lorenzo langsung menghentikan perdebatan antara Myla dan Jojo. Keduanya langsung diam dan beranjak tidur.

****

Suasana sarapan sangat hening. Myla menghancurkan omlete nya, sedangkan Jojo hanya mengamati adiknya itu heran.
" Cantik-cantik makannya kok gitu sih Myl."
" Tumben muji aku." pipi Myla memanas.
" Terserah deh." Jojo kembali ke sifat asalnya. Myla langsung memajukan bibirnya. Kalimat yang hampir jadi moodbooster nya malah menjadi bom baginya.
Disambarnya tas pink miliknya kemudian berlalu begitu saja. Jojo hanya mengamati Myla sambil terus melongo.
" Cantik sih, tapi galak dan aneh." ucapnya lirih. Lalu melanjutkan acara makan paginya.

Dikampus Myla langsung disambut Emily, gadis bermata sipit itu langsung berlari menghampiri Myla.
" Apa?"
" Ih Myl jangan galak-galak nanti nggak ada cowok yang mau deket loh."
" Iya apa?" Myla mencoba bersikap manis.
" Kamu mau memberikan ini ke kakakmu?"
Myla menaikkan sebelah alisnya. Surat(lagi)? Pikirnya. Sejujurnya ia cemburu dengan kelakuan beberapa gadis yang mengirimi kakaknya surat dan beberapa bingkisan imut. Menurutnya ini tidak pantas. Bukan tidak pantas karena kakaknya tidak tampan, tidak. Hanya saja ia ingin wajah tampan itu—tanpa tabiat sang pemilik—hanya miliknya, dan hanya dikaguminya bukan untuk siapapun selainnya.
" Ok nanti aku sampaiin."
" Janji ya Myl." Emily menatapnya penuh harap.
" Kalau dia tidak sibuk dengan dunianya—piano."
" Aku mohon Myl."
" Baiklah." dengan santainya Myla berlalu melewati Emily.
Ia cemburu dengan gadis-gadis yang bisa mengirimkan pesan-pesan cinta pada Jojo seenak jidatnya. Sedangkan dia? Selalu dianggap stalker oleh Jojo. Ia juga sempat berpikir bagaimana kalau Jojo juga tau bahwa mereka bukan saudara kandung. Apa Jojo juga memiliki perasaan yang sama? Myla menghela napas berat.
Dengan langkah berat ia tetap menuju ruang kelasnya. Menikmati setiap jengkal penderitaannya bersama selembar kertas yang tadi Emily beri padanya.
" Cemberut kenapa?" Han memasang tampang termanisnya.
" Jojo." jawab Myla singkat. Ia sedang tidak mood pada siapapun.
" Kalian bertengkar?"
" Bukannya itu wajar?"
" Untuk kalian."
Han diam, Myla ikut diam. Pikirannya berkecamuk, terlalu banyak hal yang ia pikirkan. Dan naasnya terlalu banyak Jojo dalam pikirannya.

****

Sesampainya dirumah Myla langsung melempar kertas pemberian Emily tadi. Jojo yang tengah asyik menikmati acara tivi nya langsung terlonjak kaget.
" Surat dari para penggemarmu." Myla tak menoleh sedikitpun.
" Siapa?"
" Terlalu banyak penggemar kah? Emily."
" Kau tidak berpikiran untuk memberiku ini?" Jojo mengacungkan suratnya tadi. Seringai jahil menghiasi wajah rupawannya.
" Bermimpilah selagi bisa atau aku akan meremukkan tulang belakangmu."
" Baiklah aku akan terus bermimpi." Jojo tertawa terbahak-bahak sementara Myla langsung menutup pintu kamarnya keras-keras.
Tangannya kemudian meraih sebuah binder yang tergeletak disebelah laptop putih milikknya. Tak ada hal yang paling pas selain menodai binder polosnya itu dengan coretan-coretan tangannya yang terkadang bermakna kadang tidak.
Pulpen yang ia pegang seolah menari-nari diatas kertas. Tintanya mencoba mengungkapkan bagaimana perasaan Myla sekarang. Perlahan sebutir airmata meleleh juga dari pelupuk matanya, lama-kelamaan matanya mulai buram, padangannya kabur. Myla menangis, bahunya pelahan ikut tersengal bersama tangisan sang empunya.
" Myl mau ikut keluar bersamaku?"
Butuh waktu lama bagi Myla untuk menjawab pertanyaan itu. Setidaknya untuk meredakan tangis yang sempat pecah tadi.
" Tunggu."
" Lima menit aku tunggu di garasi."
Myla tak menjawab, dirainya cardingan ungu miliknya, kemudian tangan satunya lagi sibuk menyemprotkan pafrum. Merasa cukup rapi—walau dengan mata sedikit bengkak—Myla langsung berlari menuju garasi.
" Cepet banget?"
" Berangkat atau tidak?"
Jojo yang terbengong lalu sadar dan membukakan pintu untuk Myla. " Tumben?"
" Mau apa tidak?" ketus Jojo.
Dalam hati Myla ingin sekali menjitak kepala Jojo saat ini juga. Mumpung ayah dan ibunya memang sedang tidak ada, tapi niatan itu ia urungkan.
Sepanjang perjalanan Myla masih memajukan bibirnya. Dirinya terlalu kesal dengan tingkah Jojo yang terlalu mengejeknya. Ah, sialan. Umpatnya dalam hati.

****

Besok Jojo akan meninggalkan Spanyol, pergi menuju California USA untuk mengejar salah satu mimpinya, menjadi seorang pianist. Hari terberat bagi Myla, terutama karena berpisah dengan Jojo. Walaupun menyebalkan tapi Jojo selalu membuatnya menjadi diri sendiri. Ia menjadi dingin juga karena ia ingin seperti Jojo.
Myla lebih memilih duduk beranda rumahnya, menatap keheningan malam yang berlaburkan cahaya remang rembulan. Airmatanya kembali meminta izin untuk menetes tapi dihalaunya. Ia harus bisa sekarang, ia harus mampu sekarang. Tanpa Jojo, tanpa perdebatan tak perlu lagi.
" Kenapa Myl?" Mrs. Lorenzo yang melihat Myla merenung sendirian langsung menghampiri anak gadis nya itu.
" Jojo." ucapnya lirih. Bahkan mengucapkan namanya saja tak semudah dulu. Batinnya.
" Sudahlah kakakmu pergi kan untuk menuntut ilmu." Mrs. Lorenzo hanya mengelus pelas rambut panjang bergelombang milik Myla.
Myla hanya terisak, mungkin yang ada dalam benak ibu nya adalah ia tak pernah tau bahwa Jojo bukan kakak kandungnya. Jojo hanyalah anak angkat. Dan yang terpenting ibunya tak pernah tau kalau ia mencintai Jojo.
" Datangi kakakmu dan bilang kalau kamu sayang dia. Kalian sih kalau berdua perang terus." Myla hanya nyengir membalas celetukan mamanya itu.
Hati Myla bergetar menatap pintu berwana coklat itu. Beberapa stiker kecil tertempel disana. Dalam hati ia terus bertanya, apakah ia kuat? Apa ia mampu mengatakan apa yang mamanya sruh tadi. Myla mundur, kemudian maju lagi selangkah, mundur lagi, maju lagi. Ia teramat ragu.
" Datangi dia, Jojo juga sayang kamu Myl." suara ibunya yang muncul secara tiba-tiba membuat jantung Myla seakan ingin melompat dari asalnya.
Kemudian diketuknya pelan pintu kamar itu. Wajah kucel tapi rupawan milik Jojo langsung menyambutnya.
" Myl kamu kenapa?"
" Aku sayang kamu Jo, walaupun aku nyebelin, kamu juga nyebelin, jadi intiny kita sama-sama nyebelin tapi aku sayang kamu Jo. Aku nggak mau pisah sama kamu." Myla langsung memeluk Jojo, entah apa yang dia pikirkan, tapi ia bisa memeluk Jojo adalah kesempatan langka.
Jojo langsung membalas pelukan itu, " Aku juga sayang kamu Myl, baik-baik ya sendiri dirumah selagi aku, mama, papa, nggak ada."
Pelukan hangat Jojo itu terasa berbeda bagi Myla. Ini bisa menjadi yang terakhir baginya. California, bukan sejengkalan kaki untuk kau tuju dari Barcelona. Bukan juga sebatas pematang sawah yang akan memisahkannya dengan Jojo. Itu ribuan mil, ribuan kilometer. Bahkan sekalipun kau melihat globe, ia melintasi sebuah samudra luas dan menyebrangi beberapa zona waktu. Terlalu mengenaskan jika kamu berpisah dengan orang yang kamu cintai dengan jarak sejauh itu.
" Bisa tidak Jo kamu kuliahnya di Europe aja?"
" Ini cita-citaku Myl." Jojo masih tetap memeluk erat Myla.
" Aku terima itu, tapi California itu terlalu jauh."
" Tenang, aku pasti kembali untukmu kok aku janji."
" Semoga kamu tepati janjimu Jo, semoga." Myla berdoa dalam dekapan Jojo.

****

Dibandara Myla melepas kepergian Jojo bersama keluarga yang lain. Hatinya yang paling hancur, setidaknya ia ingin pergi ke California bersama Jojo. Menanggalkan semua mimpinya sekarang asal ia bisa bersama Jojo. Andai rahasia itu terbongkar, andai Jojo juga memiliki sebuah rasa yang sama dengannya. Andai, apa artinya sebuah andai sekarang baginya? Hanya khayalan.
" Jaga dirimu baik-baik disana ya." Mrs. Lorenzo memeluk Jojo dengan haru.
" Iya ma."
" Kejar mimpimu, bukan yang lain. Fokus Jo." timbal Mr. Lorenzo.
" Aku akan ingat pesan papa."
Saat berhadapan dengan Myla suasana langsung berubah canggung. Mata Myla membengkak akibat tangisan yang susah sekali ia hentikan alirannya.
" Jangan diri baik-baik ya kecil, kalau kangen telpon aja." Jojo mendekap tubuh mungil Myla.
" Iya kak."
" Kamu manggil aku apa tadi?"
" Kak, kenapa? Tidak boleh?"
" Akhirnya kamu mengakui ku sebagai kakakmu juga." Jojo tersenyum, Myla membalasnya dengan keterpaksaan.
Selama ini aku tidak memanggilmu 'kakak' karena aku tau siapa aku bagimu dan siapa kamu bagiku. Kamu bukan kakakku, lalu apakah aku harus terpaksa menyebutkan kata itu untuk sekedar memanggilmu disaat yang bersamaan aku bisa memanggil namamu? batin Myla bertanya lirih.

****

-Tiga tahun kemudian-
( Ceritanya Jojo sama Myla udah sama-sama nikah ^^)

Myla duduk santai diberanda rumahnya, sambil menikmati orange juice. Matanya menerawang entah kemana.
" Kok bengong sih Myl."
Myla malah menatap Jojo yang tengah berdiri dihadapannya heran. Tak ada sepatah katapun yang terlontar, " Eh malah nambah bengong, ibu hamil nggak bagus lo banyak nglamun."
" Eh Jo sejak kapan disini?"
" Astaga Myla, makannya kalau nglamun jangan niat." Jojo memposisikan dirinya disamping Myla.
" Nggak kok Jo, Emily mana?"
" Didalam." Jojo menjawab singkat, " Yang didalam tadi suamimu?"
" Han?" Myla mencoba untuk mempertegas.
" Iya yang sama kayak Emily." Jojo menarik kedua ujung kelopak matanya agar terlihat sipit. Myla memaksakan tawa.
" Kan Han orang China Jo."
" Selera kita sama ya Myl, sama-sama suka yang sipit."
Lagi-lagi Myla hanya memaksakan senyum untuk kakak—yang bukan kakaknya—itu. Sampai kapan ia harus bertahan seperti ini? Berdiri diatas pedih dan ketidaktahuan.
" Myla." suara melengking milik Emily menyambut Myla. Rupanya ia sedang berbincang bersama Han.
" Miss you bestie." Myla langsung memeluk tubuh Emily yang sedikit lebih jangkung darinya. Myla merasa kalau sudah terlalu lama ia tak menatap wajah oriental dan mata sipit itu. Yang biasanya setiap pagi menyambutnya dikampus.
" Kita berkumpul lagi disini." Han merangkul Emily dan Myla yang tengah berpelukan. Jojo yang baru masuk ke ruang tengah hanya tersenyum. Tiga orang tadi memang satu fakultas dan satu angkatan. Wajarlah kalau mereka seperti itu.
" Kak Jojo sini, kita pelukan bareng-bareng." suara Han membuat Jojo melangkah mendekati ketiga orang yang tengah berpelukan tadi.
" Berasa paling tua hehehe…" celetukan Jojo membuat Han dan Emily tertawa bersamaan. Myla? Ia hanya terpengkur dalam diam.

****

Jojo sibuk membereskan rumah. Rumah berukuran lumayan besar itu akan ia tempati bersama Emily—karena Myla dan Han akan menetap di China. Saat memasuki kamar yang dulu ditempati Myla sebuah perasaan rindu yang berkecamuk menyusupi relung Jojo.
Ia bereskan kamar itu, mungkin saja suatu saat nanti bisa ditempati oleh salah satu anaknya—atau mungkin kalau Myla kembali lagi ke Barcelona. Beberapa barang berharga milik Myla masih tertinggal, salah satunya adalah binder usang berwarna biru muda yang tergeletak di atas meja riasnya.
Jojo membuka halaman pertamanya ia langsung menyerngit heran " Untuk kakak yang bukan kakakku" ia terlalu bingung memaknai kata tadi.
Kemudian dibacainya satu persatu kalimat didalamnya, lembar demi lembar ia balik. Matanya terbelalak ketika akhirnya ia tau. Ia bukan bagian inti keluarga Lorenzo, ia hanya anak angkat ketika Mrs. Lorenzo belum memiliki anak.
Hati Jojo lebih miris ketika ia tau kalau orang tuanya akan menjodohkannya dengan Myla. Juga tersayat ketika tau bahwa Myla mencintainya. Yup, Myla mencintainya, dan itulah alasan kenapa Myla selalu bersikap dingin pada semua orang. Hanya karena Myla ingin menjadi dirinya.
Jojo merutuki dirinya yang tidak tau apa-apa sama sekali. Bahkan ia terlalu buta soal cinta yang Myla berikan padanya. Lalu ia masih menganggap ia pantas menjadi kakak untuk Myla? Terlalu lucu kalau ia memaksakan hal itu.

****

Hampir sama seperti ketika Jojo pertama kali menginjakan kakinya di Barcelona setelah tiga tahun menuntut ilmu di sebuah universitas di California. Tapi kali ini suasanya beda. Myla tak lagi tengah mengandung, anaknya Lynn telah lahir. Dan ia tengah menanti kelahiran anak pertamanya.
Jojo dan Myla tengah duduk berdua diberanda rumah. Mereka hanya saling diam dan terkadang mencuri pandang.
" Kau tau Myl, jodoh tak pernah tertukar. Tuhan juga tidak pernah menukar jodoh seseorang. Cintailah yang mencintaimu ketika yang kamu cintai mencoba mencintai yang lain—yang belum tentu ia cintai." Myla hanya menatap Jojo sambil mencoba mencerna kata demi kata yang Jojo ucapkan.
Airmatanya seakan ingin meleleh ketika ia tau apa yang Jojo maksud, Jojo mencintainya. Hanya saja yang Jojo tau dia adik kandungnya. Myla mencoba menahan tangis. Tangis yang dulu sering mengiringi nya ketika menulis kata-kata bersama coretan di binder miliknya.
Jojo benar, jodoh tak pernah ditukar oleh tuhan. Mungkin sejak awal dia dan Jojo tak pernah diizinkan tuhan untuk bersama.


Ku tak bisa menggapaimu
Takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku
Tak mungkin lepas lagi
Kau hanya mimpi bagiku
Tak untuk jadinya
Dan segala rasa buatmu
Harus padam dan berakhir
[ Utopia – Antara Ada dan Tiada ]

-Tamat-















Sabtu, 14 Desember 2013

El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist" Part 5

Tittle : The Confess that You did
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter (@fauziahfitri_)
Kylie Mourinho (@kusuma_wij)
Demylia Sanchez (@myta_savitri)
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Cristian Tello
Other….

Bukan sinetron, bukan telenovela, bukan drama dan sandiwara, apalagi FTV. Ini cuma FF yang isinya hanyalah khayalan fans semata. Semakin ngawur ya? Hehe map :v. Satu lagi ini FF nggak tau kapan akhirnya -_-

****

“ Kenapa kamu nggak berterus terang sama aku Myl?”
Myla memilih untuk membenamkan wajahnya. Menjawab pertanyaan Morata akan membuatnya semakin sakit, ia akan semakin merasa bersalah kalau sampai Morata tau kalau dia sangat-sangat mencintai pria itu.
“ Kenapa Myl? Apa karena Zi?” satu-satunya orang yang bisa menjadi alasan hanyalah Zi. Myla menggeleng pelan. “ Lalu karena apa?” lanjut Morata.
“ Alasan ini sepertinya belum saatnya kamu ketahui Mor.” Suara lemah Myla mampu membuat kekesalan Morata sedikit mereda―yang digantikan rasa bersalah.
“ Baiklah aku hargai itu.” Morata langsung memeluk sahabatnya itu. Membiarkan Myla menangis sepuasnya dalam dekapannya.

****

“ Ayolah beb. Maafin aku kenapa?” Cesc berusaha sebisa mungkin membujuk Kylie yang akhir-akhir ini mulai sedikit menjauhinya. Pesepakbola bertato itu bahkan ngebela-belain pergi ke kota Madrid hanya untuk sebuah kata maaf dari kekasihnya.
“ Kamu nggak punya salah kok.” Jawab Kylie sewot.
“ Lah terus kenapa kamu diem-dieman mulu sama aku?”
“ Fans mu itu loh.”
“ Please dong beb, mereka nggak tau apa-apa tentang kita.” Cesc memasang wajah semelas mungkin―supaya Kylie mau mengasihani nya.
“ Mereka emang nggak tau apa-apa tentang kita. Tapi mereka tau semua tentang kamu.” Kylie menunjuk Cesc penuh amarah. Cewek itu mencoba berlalu sekuat tenaga sebelum ada sebulirpun air mata yang berjatuhan. Tapi refleks Cesc tak kalah cepat. Tangan Kylie ia tarik lalu dibaliknya tubuh gadis itu. Mata mereka saling bertemu. Kylie gugup setengah mati.
“ Mau apa kamu?”
“ Maafin aku ya?”
Kylie hanya bisa mengangguk sambil menelan ludahnya.
“ Nah itu baru pacar ku yang baik.” Cesc lalu mengecup kening Kylie―dalam. Satu lagi cerita dibawah hamparan bintang yang memenuhi langit kota Madrid.

****

Zi hanya menatap makanan didepannya—tak berselera. Seporsi ramen yang sering ia pesan direstoran-restoran Asia Timur dan sering membuat nafsu makannya meningkat tajam kini telah gagal membuatnya merasa lapar.
“ Ayo Zi kamu kudu makan.” Ucapnya untuk diri sendiri. Baru satu suapan yang masuk ke mulut Zi langsung mendorong jauh-jauh mangkok ramennya. Ditatapnya mangkok berwarna coklat itu.
Namun bukan bayangan mangkok itu yang ada dibenak Zi. Melainkan wajah Morata dan Neymar yang berlalu lalang. Wajah kedua pria itu seperti saling bergantian mengisi setiap inci pikiran Zi. Ia mengerang pelan. “ Siapa mereka untukku? Bukan siapa-siapa. Lalu siapa aku untuk mereka? Bukan siapa-siapa juga. Terus kenapa mereka sering ada dipikiranku?” Zi menggigit bibir bawahnya.
Ditariknya kembali mangkok yang tadi ia jauhkan. Perlahan sesumpit demi sesumpit mi ramen tadi di makannya. Dingin. Tapi tak pernah lebih dingin dan kaku ketimbang apa yang ia rasakan sekarang.

****

Myla merapatkan jaketnya. Cuaca dingin yang menusuk tulang ditambah udara malam yang mampu membekukan tubuh membuatnya harus berusaha ekstra supaya suhu tubuhnya tetap stabil.
Kampus tampak sepi—suasana yang mulai akrab dengannya. Hanya beberapa mahasiswa yang memang mengambil jam kuliah di malam hari.
" Wih calon dosen sekarang kuliah malam terus." Dave mencoba menggoda Myla yang tengah asyik duduk sambil membaca buku.
" Ah iya Dave. Kamu jugakan calon dosen."
" Amin deh dibilang gitu." Dave nyengir.
" Ih sok nggak tau kalau kamu juga mulai jadi asisten dosen di Univ sebelah."
" Iya deh iya. Sama-sama calon dosen."
Seusai kuliah jam sudah menunjukan pukul 11pm.
" Semoga masih ada taxi." Myla mempercepat langkahnya.
" Myl." seseorang memanggilnya dari kejauhan. Lamat-lamat Myla mencoba mengingat suara siapa itu tadi. Selesai melahap mata kuliah Myla memang bukan tipe orang yang cepat tanggap.
" Mor? Ngapain?"
" Aku juga baru selesai kuliah. Pulang bareng yuk, sekalian makan malem mau kan? Anak kost belum keisi nih." Morata memegangi perutnya.
" Boleh." hati Myla kian berbunga-bunga.
Diantar pulang Morata sudah seperti anugrah baginya apalagi ditambah dengan makan malam. Itu ibarat kau menjadi seorang kiper dan mencetak gol dari tendangan gawang—difinal piala dunia.
" Habis makan mau nggak Myl nemenin aku nyari buku bentaran?"
Jantung Myla berdegup kencang. Gadis itu bahkan merasa kalau dia sekarang menjadi salah satu penderita tachyarrhytmia—keadaan dimana jantung berdetak lebih dari 100kali/menit[1]. Dengan tambahan mencari buku? Seseorang bangunkan aku tolong, ini pasti cuman mimpiku. Jeritnya dalam hati.
" Bolehlah." jawabnya singkat dengan rona bahagia disetiap sudut.
" Boleh terus dari tadi." Morata mencoba memancing Myla agar mengatakan sesuatu yang lain. Bolehlah menurutnya bukan jawaban ikhlas.
" Kalau nggak mau ditemenin ya udah." Myla memancungkan bibirnya.
" Iya Myla sayang. Mau kok." Morata mencubit pipi Myla dengan tangan kanannya. Tangan kirinya masih berkutat dengan setir mobilnya.
Pipi Myla memanas. Jantungnya semakin berdetak liar, penerangan didalam mobil yang remang membuatnya sedikit terselamatkan. Kalau tidak, bukan tak mungkin Morata akan mendapati wajahnya dengan kondisi semerah jersey timnas Spanyol (semerah kepiting rebus sama tomat itu udah biasa, cari yang beda dong :p).

****

" Sakit ya Zi? Mukamu pucet."
" Nggak kok Ney." Zi mencoba untuk berkelah.
Apa yang Neymar katatakan adalah benar. Akhir-akhir ini ia sangat jarang makan, tak pernah bersemangat untuk melakukan sesuatu, bahkan tak memiliki semangat hidup.
" Aduh Zi jujur aja deh. Muka mu itu pucet banget, bahkan lebih pucet ketimbang terakhir kali aku liat kamu pas pingsan."
" Efek kedinginan mungkin Ney. Aku kalau kedinginan emang gini." lagi-lagi Zi berbohong.
" Lain kali bawa jaket yang tebel ya Zi. Musim dingin bentar lagi datang. Dan kayaknya jaketku kurang tebal buat bikin kamu hangat." Neymar melepaskan jaket yang tadi membalut tubuhnya. Mengenakannya di bahu Zi, sebisa mungkin ia ingin melihat Zi terlihat hangat.
" Makasih ya Ney."
" Jaga kondisi ya Zi. Jangan menantang penyakit."
" Aku tau kok Ney, lagian juga nggak ada kok orang yang mau sakit."
" Yaiyalah Zi. Mau ku antar pulang?"
" Nggak usah deh, aku juga masih ada perlu sama anak-anak lain."
" Ok aku duluan ya."
" Jaketnya?"
" Pakai aja dulu."
Neymar berlalu, namun aroma parfume pesepakbola yang melekat dijaketnya menyusupi setiap relung di jiwa Zi. Mengisi setiap inci kekosongan yang sedang melandanya—saat ini.

****

Morata menatap rumah dengan warna cat biru muda itu. Matanya tak henti-hentinya memandang rumah minimalis itu.
" Mor?" sebuah suara menyebutkan namanya—jernih. Dan Morata tau siapa pemilik suara yang memanggilnya itu.
" Eh Zi udah pulang ngampus?"
" Udah. Kenapa ya kok kesini?"
" Cuma mau main, boleh kan?"
" Tentu, tunggu ya aku buka dulu pagarnya."
Morata mengamati setiap gerak-gerik Zi. " Masukin aja mobilnya. Gak enak ganggu jalan orang. Pamali." Morata hanya mengangguk. Menyetujui saja apapun arahan Zi.
" Maaf ya kalau berantakan." Zi mencoba membereskan beberapa majalah yang bertebaran di atas meja. Ruang tamu yang langsung menghadap televisi membuat Zi banyak menghabiskan waktu dirumahnya diruangan itu.
" Nggak papa kok Zi, apartemenku juga berantakan. Malah lebih absurd lagi."
Morata duduk dengan kikuknya. Zi sedari tadi hanya bisa menelan ludahnya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang masuk kedalam mimpinya semalam sampai Morata datang kerumahnya. Bahkan rela berpanas hanya untuk menatap rumahnya yang masih digembok.
" Ini minumnya." Zi menyerahkan sebotol minuman berserat rendah lemak nya.
" Anak kedokteran minumannya kayak gini ya?" Morata tertawa. Seumur-umur dia memang belum pernah meminum minuman sejenis itu.
" Kenapa? Kalau kamu nggak suka aku ada kok minuman yang lain kalau kamu mau."
" Apa?"
" Air mineral."
Morata menyerngitkan dahi nya, kedua alisnya mencoba untuk saling bertautan. " Minuman mu semua kayak gini Zi?" Zi mengangguk bangga(?).
Diliriknya botol minuman yang tadi Zi beri. "Rasa Apel, nggak buruk buruk banget."  batinnya sambil menenggak nya sedikit. " Rasanya lumayan ternyata Zi. Selera anak kedokteran boleh juga, sehat pula."
Darah Zi menghangat, perlahan pipinya memerah. Itu tadi memang bukan pujian, tapi perkataan Morata yang mengindikasikan kalau anak kedokteran—termasuk dirinya—adalah orang-orang yang cukup pintar memilih nutrisi membuatnya tersanjung.
" Sebenernya aku kesini ada sesuatu yang mau aku sampaiin Zi."
Jantung Zi berdegup tak karuan. Tangan kanannya menggengam erat pojokan sofa yang tengah didudukinya.
Dengan sekuat nyali yang telah tadi dikumpulkannya, akhirnya sebuah kalimat yang paling Zi nanti bunyinya terlontar juga dari mulut Morata. " I Love you Zi. Wo Ai Ni." (yey si eMor(?) bisa bahasa China, China ngawur).
Zi tak segera merespon pengakuan Morata. Ia malah terdiam. Berbagai pertanyaan berkecamuk dibenaknya. Seperti, semerah apakah wajahnya sekarang? Benarkah lelaki dihadapannya ini Morata—bukan Neymar? Zi mengerjapkan matanya, benar memang Morata yang dihadapannya. Pemuda itu masih terus tersenyum sambil memandang ekspresi aneh Zi yang berubah-ubah.
" Mor…"
" Emm…"
" I'm Sorry…" Morata langsung merubah air mukanya—cemas. "  Sorry I can't hate you. And I can't stop loving you." Zi melanjutkan kata-katanya. Kecemasan Morata kini berakhir, direngkuhnya tubuh mungil Zi. Memeluk gadis itu seperti tak mau seorang pun menariknya dari dalam dekapan. Zi hanya bisa membalas, semua memiliki kejelasan sekarang.
Morata milikknya—dirinya milik Morata.

****

" Ciye yang punya pacar baru." Kylie langsung menempatkan dirinya diantara Morata dan Myla yang tengah duduk berdua disebuah bangku di taman kampus.
Mata Myla langsung mengarah pada Morata. Benarkah? Morata memiliki kekasih?
" Apaan sih Ky." Morata tersipu malu—Pipinya memerah.
" Alah sok nggak diakuin nih. Ku laporin lo."
" Iya deh iya terserah mu aja."
" Emang siapa pacarnya Mor?" setelah terdiam melihat perdebatan dua sahabat tadi akhirnya Myla mengeluarkan suaranya juga.
" Masa kamu nggak tau Myl?" Myla hanya menggeleng lemah ketika Kylie menanyainya. " Morata kan baru aja jadian sama Zi. Ya kan Mor?" ucap Kylie sambil menyenggol bahu Morata.
Myla merasakan tubuhnya melemas. Hal yang paling cemaskan sejak ia tau siapa itu Zi akhirnya menjadi kenyataan. Morata dan Zi saling mencintai, lalu apa yang ia bisa perbuat sekarang? Memisahkan mereka? 1 : 1010 hal itu akan berhasil.
" Eh Myl kok langsung diem kenapa?"
" Eh nggak papa Ky, lagi mikirin materi kuliah tadi."
" Kirain kenapa kok langsung bengong gitu."
Dalam hati Myla menahan sakit. Menahan pedihnya keputusan Morata yang ia rasa seperti sebuah tusukan belati berkarat yang baru saja menghujamnya dari belakang. Menghujam tanpa ampun, dan belati itu begitu keras untuk ia cabut. Karat-karatnya bercokol disana. Membuat semua semua usaha yang coba ia lakukan sekarang untuk mengaburkan bayangan—indah— Morata terasa sia-sia.
" Kenapa Mor senyum-senyum sendiri?" perkataan Kylie membuyarkan lamunan Myla tadi.
" Nggak papa kok. Iseng aja pengen senyum." Morata nyengir. Menampakkan deretan giginya yang rapi.
" Efek punya pacar kali yah. Senyum aja iseng."
" Alah kayak nggak pernah aja Ky." kini giliran Kylie yang nyengir.
Myla hanya diam membisu melihat kelakuan kedua sahabatnya itu. Hatinya terlalu pedih walau hanya untuk tersenyum—pahit.

****

Zi memandang layar hapenya sambil terus tersenyum. Kata-kata rayuan yang Morata kirimkan melalui pesan singkat membuat senyumnya tak pernah mau pergi begitu saja dari wajahnya—senantiasa menghiasi.
" Ciye senyum-senyum terus." candaan Tello hanya berbalas senyum simpul Zi.
Neymar mengaduk orange juice nya tak bersemangat. Kenyataan bahwa Zi telah 'resmi' dengan Morata membuatnya tak memiliki semangat pagi ini.
" Kenapa sih Ney dari tadi kayak orang gak punya nyawa aja. Ada masalah sama Bruna ya?"
" Enggak kok Zi. Kurang mood aja sama dosen." Neymar berkelah. Setelah mendengar jawaban Neymar,  Zi kembali berkutat dengan layar hape nya.
" Setidaknya aku masih punya Bruna kan?"  Neymar membatin. " Bukannya dari awal harusnya aku udah tau kalau Zi memang mencintai Morata—begitupun sebaliknya. Jadi kalau mereka jadian itu kan bukan suatu kejutan—dan juga bukan masalahku."  batin Neymar berkecamuk.
" Ney. Kok bengong?" Zi menggerak-gerakkan tangannya dihadapan Neymar.
" Nggak papa Zi."
" Bayangin Bruna ya?" Zi tersenyum lebar. Mata nya semakin sipit. Neymar hanya membalas dengan senyum penuh keterpaksaan.
Sahabatnya ini telah bahagia sekarang—diantara sakit yang ia derita. Mungkin Zi telah melupakan tetang perasaannya, juga melupakan bagaimana kenekatan Neymar ketika menciumnya dibawah guyuran hujan saat pulang dari makan malam bersama Morata. Neymar mengehela napasnya, mencoba melenyapkan pedihnya seperti lenyapnya udara yang baru saja keluar—lenyap bersama luka lainnya.

****

" Myl kita akhir pekan mau ke Barca. Ikut nggak?" suara melengking Kylie dari seberang telepon membuat Myla langsung menjauhkan benda itu dari telinganya.
" Kita? Siapa aja?"
" Yang jelas aku sama Morata kamu mau ikut?"
Myla menggigit bibir bawahnya. Ia gugup. Terima atau tidak?
" Heh Myl kok diem?"
" Eh sorry Ky aku pikir-pikir dulu ya soalnya bisa jadi aku ada jadwal kuliah akhir pekan."
" Tapi kalau nggak ada kuliah bisa kan Myl? Please Myl, kamu sekarang ngindar terus kenapa sih?"
" Aku usahain ya Ky aku nggak janji." suara Myla lemah.
Benarkah ia sudah terlalu mengindar? Kalau iya sejauh apa? Apa itu terlalu kentara? Apa perubahan itu langsung signifikan?
" Maafkan aku semuanya. Aku berlaku seperti ini karena aku tak pernah ingin kalian tau betapa rapuhnya aku. Betapa aku terpuruk hanya karena sebuah luka." Myla menyandarkan punggungnya didinding.
Sebenarnya ia ingin ikut ke Barcelona. Ingin mengetahui seberapa ia bisa bertahan melihat Zi dan Morata bersama. Tapi disatu sisi ia juga tak sanggup membayangkan hal itu akan dialaminya didunia nyata.

****


Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re beautiful

If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
But that’s what makes you beautiful
[ One Direction - What Makes You Beautiful ]


Sesaat setelah Morata selesai menyanyikan lagunya semua orang disitu bertepuk tangan. Neymar, Bruna, Cesc, Kylie, Zi, Myla dan Tello. Lagu itu Morata nyanyikan untuk Zi, ditemani nada-nada dari petikan gitar yang dimainkannya. Zi terharu. Punggung tangannya tak henti-hentinya mencoba menghapus air mata yang mengalir disudut matanya.
" Ah so sweet. Sayang aku mau." Bruna bergelayut manja di bahu Neymar.
" Tapi aku nggak tau lagu One Direction." Neymar mengelak.
" Lagu apa aja terserah yang penting romantis."
" Aku juga mau beb." Kylie seperti tak mau kalah. Ia juga meninta Cesc menyanyikan sebuah lagu untuknya.
Diantara keributan pasangan-pasangan tadi Tello dan Myla hanya saling tatap. Maklum hanya mereka berdua yang tidak memiliki pasangan disini.
" Kamu nggak pingin aku nyanyiin lagu buat kamu kan?" Tello menatap ke arah Myla.
" Kalau kamu mau nyanyiin aku terima. Nggak dinyanyiin ya nggak papa." Myla mengangkat bahunya.
" Mau request juga gak papa. Satu lagu cuma 50euro aja." Myla dan Tello pun tertawa secara bersamaan.
" Eh kenapa ini dua makhluk pada ketawa-ketiwi?" Cesc yang biasanya pendiam kini jadi yang pertama bersuara.
" Itu pasti semacam tanda." Kylie menimpali sambil tersenyum jahil.
" Ok ini siapa yang bakalan nyanyi pertama?" Morata bertanya sambil mengangkat gitarnya.
" Cesc aja deh dulu."
" Langsung reff nya gak papa kan beb?"
" Yang penting lagunya romantis beb."

'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
[ Cristian Bautista - The Way You Look At Me ]

" Udah gitu aja?" Kylie melongo.
" Katanya boleh reff nya aja. Aku kan nggak hafal lagunya." Cesc menatap Kylie penuh pengharapan.
" Gak papa deh lagunya romantis juga."
" Sayang giliran kamu." Bruna menatap manja kearah Neymar. Neymar meraih gitar yang tadi baru saja dipakai Cesc untuk konsernya.

I know you're somewhere out there
Somewhere far away
I want you back, I want you back
My neighbors think I'm crazy
But they don't understand
You're all I had, You're all I had

At night when the stars light up my room
I sit by myself talking to the moon.
Trying to get to you
In hopes you're on the other side talking to me too.
Or am I a fool who sits alone talking to the moon?
[ Bruno Mars - Talking To The Moon ]

" Seandainya kamu tau, itulah yang aku lakukan setiap malam saat kamu berada jauh dariku." ucapan Neymar ini mengakhiri lagunya.
Tanpa banyak berkata lagi Bruna langsung menghamburkan pelukannya kepada Neymar. Neymar membalas mengusap lembut rambut Bruna kemudian dikecupnya lembut bibir gadis itu. Untuk pertama kalinya Neymar merasa bisa melupakan Zi sejenak walaupun Zi ada dihadapannya. Ada satu hal yang bisa Bruna beri dan sepertinya tak akan pernah Zi beri untuknya. Sebuah kepastian.
" Kamu nggak jadi nyanyi?" Kylie melirik Tello yang masih bengong.
" Eh aku nyanyi juga ya? Ya udah deh demi fans." Tello cengar-cengir sendiri.
" Fans?" semuanya langsung berteriak hampir bersamaan. Tello refleks langsung menutup kedua telinganya.
“ Eh Sorry ya kalau lagunya nggak romantic.” Tello nyengir sambil memengang gitar.
“ Udah nyanyi aja.” Cesc mendorong-dorong tubuh Tello supanya maju ketengah-tengah lingkarang api unggun. Tempat dimana tadi dia bernyanyi.

Your stare was holding
Ripped jeans, skin was showing
Hot night, wind was blowing
Where you think you're going, baby?

Hey I just met you and this is crazy
But here's my number, so call me maybe
It's hard to look right at you baby
But here's my number, so call me maybe
Hey I just met you and this is crazy
But here's my number, so call me maybe
And all the other
girls try to chase me
But here's my number, so call me maybe
[ Carly Rae Japsen – Call Me Maybe ]

“ Ciye Myl tanda tuh. Suruh nelpon si Tello.” ucapan Kylie yang asal ceplos membuat semua orang disitu langsung tertawa. Kecuali Myla dan Tello yang tampak kikuk dengan suasana yang ada.
“ Kayaknya bakalan ada satu pasangan baru nih.” senyum jahil Morata yang mengarah ke Myla langsung membuat Myla menunduk. Morata menginginkannya bersama Tello? Dengan lelaki bertato ini? Dalam pikiran Myla berkecamuk—hatinya pedih.

…..
Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tau
Meski kau takkan pernah tau
…..
Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk, seluruh hatiku
[ #backsound : Dewa 19 – Pupus ]

Selain Myla semua orang disitu menikmati kegiatan api unggun mereka. Api unggun dibawah bintang-bintang malam dan beralaskan rumput-rumput yang mulai diselimuti dingin karena salju sepertinya akan segera datang.
Myla berpikir kalau ia akan sakit hati karena Zi. Tapi ternyata perkiraannya salah. Ia tak sakit hati karena gadis itu. Ia sakit hati karena Morata. Laki-laki itu sepertinya benar-benar tak menganggapnya lebih. Hanya seorang sahabat yang ia kenal sejak SMA—mungkin itu saja. Dadanya sesak tapi dia tak mau menangis.
Dia bertekad untuk tidak menangis dihadapan pria itu sekarang. Ia harus terlihat kuat. Toh memang ini kan yang ia mau. Tak pernah menginginkan Morata tau bahwa dia mencintainya—sejak pertama bertemu.

****

“ Myl tunggu.”
Merasa seseorang memanggilnya Myla langsung berbalik “ Tello?”
“ Ini buat kamu.” Tello menyerahkan sebuah kotak yang entah isinya apa kepada Myla. Setelah kotak itu diterima Myla, Tello langsung berbalik arah—melawan arah yang akan dituju Myla.
“ Coklat?” Myla berdesis.
“ Makasih ya.” ucapan terimakasih Myla setengah berteriak karena Tello sudah berjalan cukup jauh
Tello langsung berbalik dan memberikan senyum. Myla membalas senyum itu.
“ Aneh.” Myla mengangkat bahunya. “ Lumayan coklat gratis.” ia lalu mengikik pelan.




 -Bersambung Insya Allah, doain yah ;)-






[1] Jantung normal berdetak antara 60 sampai 100 kali per menit