Rating
: like always T :)
Genre
: Romance
Cast
:
Demylia
Lorenzo
Jorge
Lorenzo
Other
Kenapa ganti nama tokoh? Biar kalian nggak bosen sama
sebuah nama yang bunyinya Zi. Inspirasi dari lagunya Utopia - Antara Ada dan
Tiada.
****
" Mama kak Jojo nakal." Myla menangis
kencang ketika boneka pandanya direbut oleh Jojo, kakaknya. Bocah kecil itu
langsung menitikan airmata.
" Jo, kamu jangan jahil." Mrs. Lorenzo
langsung mencubit pipi tembem anak laki-lakinya itu dan menyerahkan kembali
boneka panda kesayangan Myla.
" Kak Jojo nakal." teriak Myla disela-sela
tangisannya.
" Manja." balas Jojo mencibir Myla yang
masih sibuk menyeka air matanya.
" Mamaa kak Jojo." kali ini Myla berteriak
lebih kencang. Ia tak terima dicibir, itu adalah hal yang paling Myla benci.
Myla benci dikatakan manja, Myla kuat itulah kata hatinya.
" Jojo jangan ganggu adikmu." sekali lagi
Mrs. Lorenzo harus menegur Jojo.
****
-12 tahun kemudian-
Disebuah malam dimusim semi. Dimana udara dingin sisa
musim salju berhembus pelan. Mendinginkan kulit Myla yang baru saja pulang dari
rumah Emily. Ia berjalan dengan santainya sambil terus menggosokkan kedua
telapak tangannya. Rupanya jaket tebal yang dipakainya tidak cukup membuat
dirinya hangat.
Langkahnya terhenti, ia mendengar sekelumit percakapan
antara ayah dan ibunya—mengenai Jojo. Ia kemudian menempelkan kupingnya di
pintu kamar kedua orang tuanya itu.
" Jojo sudah duapuluh tahun, apa kita musti
seperti ini terus menerus. Aku jadi kasihan dengannya."
" Sudah terlambat untuk memberitahunya."
" Tidak ada kata terlambat pa, kasihan Jojo. Dan
kulihat sepertinya Myla mengagumi Jojo, bukankah lebih baik kalau mereka berdua
kita jodohkan. Dengan begitu kita tidak akan kehilangan Jojo."
" Iya kalau Jojo mencintai Myla juga, kalau
tidak? Kau taukan bagaimana sifat Jojo pada Myla sejak keci?"
Keduanya kemudian terdiam. Myla mendengarkan
percakapan tadi dengan perasaan kacau. Dari kesimpulan yang ia dapat Jojo bukan
kakak kandungnya. Yah, Jojo bukan kakak kandungnya. Dan rencana ibunya untuk
menjodohkannya dengan Jojo, itu jelas gila.
Dalam hati Myla sangat ingin itu terjadi. Tapi kembali
lagi, apakah Jojo mau dengan gadis sepertinya? Myla mendesah dalam hati.
" Heh penguping." suara Jojo dari arah
tangga mengagetkan Myla.
" Belum tidur eoh?"
" Belum, kamu sendiri? Kerjaan hanya menjadi
penguping, stalker. Huh, parasit."
" Jaga ucapanmu." Myla berjalan menuju
kamarnya dengan langkah kesal. Jojo terlalu dingin dan terlalu menyebalkan.
Didalam kamar Myla langsung meraih gitar kesayangannya
dan memainkannya sembarangan. Dari lantai atas—kamar Jojo—tak kalah ribut. Jojo
menyaingi permainan abstrak gitar Myla dengan memencet tuts pianonya acak. Jojo
melakukan hal itu sambil tersenyum jahil, sementara itu Myla semakin memajukan
bibirnya. Ia tak suka ditiru kakaknya itu.
" Plagiat." teriakknya.
" Stalker." balas Jojo.
" Maamaaa." suara melengking Myla membuat
Jojo refleks untuk menutup kupingnya.
" Myla ini sudah malam." sepertinya Mrs.
Lorenzo sudah terlalu muak dengan kelakuan kedua anaknya itu.
" Tuh Myl udah malam."
" Aahh fuck you Jo."
" Myla." suara datar tapi tegas milik Mr.
Lorenzo langsung menghentikan perdebatan antara Myla dan Jojo. Keduanya langsung
diam dan beranjak tidur.
****
Suasana sarapan sangat hening. Myla menghancurkan
omlete nya, sedangkan Jojo hanya mengamati adiknya itu heran.
" Cantik-cantik makannya kok gitu sih Myl."
" Tumben muji aku." pipi Myla memanas.
" Terserah deh." Jojo kembali ke sifat
asalnya. Myla langsung memajukan bibirnya. Kalimat yang hampir jadi moodbooster
nya malah menjadi bom baginya.
Disambarnya tas pink miliknya kemudian berlalu begitu
saja. Jojo hanya mengamati Myla sambil terus melongo.
" Cantik sih, tapi galak dan aneh." ucapnya
lirih. Lalu melanjutkan acara makan paginya.
Dikampus Myla langsung disambut Emily, gadis bermata
sipit itu langsung berlari menghampiri Myla.
" Apa?"
" Ih Myl jangan galak-galak nanti nggak ada cowok
yang mau deket loh."
" Iya apa?" Myla mencoba bersikap manis.
" Kamu mau memberikan ini ke kakakmu?"
Myla menaikkan sebelah alisnya. Surat(lagi)? Pikirnya.
Sejujurnya ia cemburu dengan kelakuan beberapa gadis yang mengirimi kakaknya
surat dan beberapa bingkisan imut. Menurutnya ini tidak pantas. Bukan tidak
pantas karena kakaknya tidak tampan, tidak. Hanya saja ia ingin wajah tampan
itu—tanpa tabiat sang pemilik—hanya miliknya, dan hanya dikaguminya bukan untuk
siapapun selainnya.
" Ok nanti aku sampaiin."
" Janji ya Myl." Emily menatapnya penuh
harap.
" Kalau dia tidak sibuk dengan
dunianya—piano."
" Aku mohon Myl."
" Baiklah." dengan santainya Myla berlalu
melewati Emily.
Ia cemburu dengan gadis-gadis yang bisa mengirimkan
pesan-pesan cinta pada Jojo seenak jidatnya. Sedangkan dia? Selalu dianggap
stalker oleh Jojo. Ia juga sempat berpikir bagaimana kalau Jojo juga tau bahwa
mereka bukan saudara kandung. Apa Jojo juga memiliki perasaan yang sama? Myla
menghela napas berat.
Dengan langkah berat ia tetap menuju ruang kelasnya.
Menikmati setiap jengkal penderitaannya bersama selembar kertas yang tadi Emily
beri padanya.
" Cemberut kenapa?" Han memasang tampang
termanisnya.
" Jojo." jawab Myla singkat. Ia sedang tidak
mood pada siapapun.
" Kalian bertengkar?"
" Bukannya itu wajar?"
" Untuk kalian."
Han diam, Myla ikut diam. Pikirannya berkecamuk,
terlalu banyak hal yang ia pikirkan. Dan naasnya terlalu banyak Jojo dalam
pikirannya.
****
Sesampainya dirumah Myla langsung melempar kertas
pemberian Emily tadi. Jojo yang tengah asyik menikmati acara tivi nya langsung
terlonjak kaget.
" Surat dari para penggemarmu." Myla tak
menoleh sedikitpun.
" Siapa?"
" Terlalu banyak penggemar kah? Emily."
" Kau tidak berpikiran untuk memberiku ini?"
Jojo mengacungkan suratnya tadi. Seringai jahil menghiasi wajah rupawannya.
" Bermimpilah selagi bisa atau aku akan
meremukkan tulang belakangmu."
" Baiklah aku akan terus bermimpi." Jojo
tertawa terbahak-bahak sementara Myla langsung menutup pintu kamarnya
keras-keras.
Tangannya kemudian meraih sebuah binder yang
tergeletak disebelah laptop putih milikknya. Tak ada hal yang paling pas selain
menodai binder polosnya itu dengan coretan-coretan tangannya yang terkadang
bermakna kadang tidak.
Pulpen yang ia pegang seolah menari-nari diatas
kertas. Tintanya mencoba mengungkapkan bagaimana perasaan Myla sekarang.
Perlahan sebutir airmata meleleh juga dari pelupuk matanya, lama-kelamaan
matanya mulai buram, padangannya kabur. Myla menangis, bahunya pelahan ikut
tersengal bersama tangisan sang empunya.
" Myl mau ikut keluar bersamaku?"
Butuh waktu lama bagi Myla untuk menjawab pertanyaan
itu. Setidaknya untuk meredakan tangis yang sempat pecah tadi.
" Tunggu."
" Lima menit aku tunggu di garasi."
Myla tak menjawab, dirainya cardingan ungu miliknya,
kemudian tangan satunya lagi sibuk menyemprotkan pafrum. Merasa cukup
rapi—walau dengan mata sedikit bengkak—Myla langsung berlari menuju garasi.
" Cepet banget?"
" Berangkat atau tidak?"
Jojo yang terbengong lalu sadar dan membukakan pintu
untuk Myla. " Tumben?"
" Mau apa tidak?" ketus Jojo.
Dalam hati Myla ingin sekali menjitak kepala Jojo saat
ini juga. Mumpung ayah dan ibunya memang sedang tidak ada, tapi niatan itu ia
urungkan.
Sepanjang perjalanan Myla masih memajukan bibirnya.
Dirinya terlalu kesal dengan tingkah Jojo yang terlalu mengejeknya. Ah, sialan.
Umpatnya dalam hati.
****
Besok Jojo akan meninggalkan Spanyol, pergi menuju
California USA untuk mengejar salah satu mimpinya, menjadi seorang pianist.
Hari terberat bagi Myla, terutama karena berpisah dengan Jojo. Walaupun
menyebalkan tapi Jojo selalu membuatnya menjadi diri sendiri. Ia menjadi dingin
juga karena ia ingin seperti Jojo.
Myla lebih memilih duduk beranda rumahnya, menatap
keheningan malam yang berlaburkan cahaya remang rembulan. Airmatanya kembali
meminta izin untuk menetes tapi dihalaunya. Ia harus bisa sekarang, ia harus
mampu sekarang. Tanpa Jojo, tanpa perdebatan tak perlu lagi.
" Kenapa Myl?" Mrs. Lorenzo yang melihat
Myla merenung sendirian langsung menghampiri anak gadis nya itu.
" Jojo." ucapnya lirih. Bahkan
mengucapkan namanya saja tak semudah dulu. Batinnya.
" Sudahlah kakakmu pergi kan untuk menuntut
ilmu." Mrs. Lorenzo hanya mengelus pelas rambut panjang bergelombang milik
Myla.
Myla hanya terisak, mungkin yang ada dalam benak ibu
nya adalah ia tak pernah tau bahwa Jojo bukan kakak kandungnya. Jojo hanyalah
anak angkat. Dan yang terpenting ibunya tak pernah tau kalau ia mencintai Jojo.
" Datangi kakakmu dan bilang kalau kamu sayang
dia. Kalian sih kalau berdua perang terus." Myla hanya nyengir membalas
celetukan mamanya itu.
Hati Myla bergetar menatap pintu berwana coklat itu.
Beberapa stiker kecil tertempel disana. Dalam hati ia terus bertanya, apakah ia
kuat? Apa ia mampu mengatakan apa yang mamanya sruh tadi. Myla mundur, kemudian
maju lagi selangkah, mundur lagi, maju lagi. Ia teramat ragu.
" Datangi dia, Jojo juga sayang kamu Myl."
suara ibunya yang muncul secara tiba-tiba membuat jantung Myla seakan ingin
melompat dari asalnya.
Kemudian diketuknya pelan pintu kamar itu. Wajah kucel
tapi rupawan milik Jojo langsung menyambutnya.
" Myl kamu kenapa?"
" Aku sayang kamu Jo, walaupun aku nyebelin, kamu
juga nyebelin, jadi intiny kita sama-sama nyebelin tapi aku sayang kamu Jo. Aku
nggak mau pisah sama kamu." Myla langsung memeluk Jojo, entah apa yang dia
pikirkan, tapi ia bisa memeluk Jojo adalah kesempatan langka.
Jojo langsung membalas pelukan itu, " Aku juga
sayang kamu Myl, baik-baik ya sendiri dirumah selagi aku, mama, papa, nggak
ada."
Pelukan hangat Jojo itu terasa berbeda bagi Myla. Ini
bisa menjadi yang terakhir baginya. California, bukan sejengkalan kaki untuk
kau tuju dari Barcelona. Bukan juga sebatas pematang sawah yang akan
memisahkannya dengan Jojo. Itu ribuan mil, ribuan kilometer. Bahkan sekalipun
kau melihat globe, ia melintasi sebuah samudra luas dan menyebrangi beberapa
zona waktu. Terlalu mengenaskan jika kamu berpisah dengan orang yang kamu
cintai dengan jarak sejauh itu.
" Bisa tidak Jo kamu kuliahnya di Europe aja?"
" Ini cita-citaku Myl." Jojo masih tetap
memeluk erat Myla.
" Aku terima itu, tapi California itu terlalu
jauh."
" Tenang, aku pasti kembali untukmu kok aku
janji."
" Semoga kamu tepati janjimu Jo, semoga." Myla berdoa dalam dekapan Jojo.
****
Dibandara Myla melepas kepergian Jojo bersama keluarga
yang lain. Hatinya yang paling hancur, setidaknya ia ingin pergi ke California
bersama Jojo. Menanggalkan semua mimpinya sekarang asal ia bisa bersama Jojo.
Andai rahasia itu terbongkar, andai Jojo juga memiliki sebuah rasa yang sama
dengannya. Andai, apa artinya sebuah andai sekarang baginya? Hanya khayalan.
" Jaga dirimu baik-baik disana ya." Mrs.
Lorenzo memeluk Jojo dengan haru.
" Iya ma."
" Kejar mimpimu, bukan yang lain. Fokus Jo."
timbal Mr. Lorenzo.
" Aku akan ingat pesan papa."
Saat berhadapan dengan Myla suasana langsung berubah
canggung. Mata Myla membengkak akibat tangisan yang susah sekali ia hentikan
alirannya.
" Jangan diri baik-baik ya kecil, kalau kangen
telpon aja." Jojo mendekap tubuh mungil Myla.
" Iya kak."
" Kamu manggil aku apa tadi?"
" Kak, kenapa? Tidak boleh?"
" Akhirnya kamu mengakui ku sebagai kakakmu
juga." Jojo tersenyum, Myla membalasnya dengan keterpaksaan.
Selama ini aku tidak memanggilmu 'kakak' karena aku
tau siapa aku bagimu dan siapa kamu bagiku. Kamu bukan kakakku, lalu apakah aku
harus terpaksa menyebutkan kata itu untuk sekedar memanggilmu disaat yang
bersamaan aku bisa memanggil namamu? batin Myla bertanya lirih.
****
-Tiga tahun kemudian-
( Ceritanya Jojo sama Myla udah sama-sama nikah ^^)
Myla duduk santai diberanda rumahnya, sambil menikmati
orange juice. Matanya menerawang entah kemana.
" Kok bengong sih Myl."
Myla malah menatap Jojo yang tengah berdiri
dihadapannya heran. Tak ada sepatah katapun yang terlontar, " Eh malah
nambah bengong, ibu hamil nggak bagus lo banyak nglamun."
" Eh Jo sejak kapan disini?"
" Astaga Myla, makannya kalau nglamun jangan
niat." Jojo memposisikan dirinya disamping Myla.
" Nggak kok Jo, Emily mana?"
" Didalam." Jojo menjawab singkat, "
Yang didalam tadi suamimu?"
" Han?" Myla mencoba untuk mempertegas.
" Iya yang sama kayak Emily." Jojo menarik
kedua ujung kelopak matanya agar terlihat sipit. Myla memaksakan tawa.
" Kan Han orang China Jo."
" Selera kita sama ya Myl, sama-sama suka yang
sipit."
Lagi-lagi Myla hanya memaksakan senyum untuk
kakak—yang bukan kakaknya—itu. Sampai kapan ia harus bertahan seperti ini?
Berdiri diatas pedih dan ketidaktahuan.
" Myla." suara melengking milik Emily
menyambut Myla. Rupanya ia sedang berbincang bersama Han.
" Miss you bestie." Myla langsung memeluk
tubuh Emily yang sedikit lebih jangkung darinya. Myla merasa kalau sudah
terlalu lama ia tak menatap wajah oriental dan mata sipit itu. Yang biasanya
setiap pagi menyambutnya dikampus.
" Kita berkumpul lagi disini." Han merangkul
Emily dan Myla yang tengah berpelukan. Jojo yang baru masuk ke ruang tengah
hanya tersenyum. Tiga orang tadi memang satu fakultas dan satu angkatan.
Wajarlah kalau mereka seperti itu.
" Kak Jojo sini, kita pelukan bareng-bareng."
suara Han membuat Jojo melangkah mendekati ketiga orang yang tengah berpelukan
tadi.
" Berasa paling tua hehehe…" celetukan Jojo
membuat Han dan Emily tertawa bersamaan. Myla? Ia hanya terpengkur dalam diam.
****
Jojo sibuk membereskan rumah. Rumah berukuran lumayan
besar itu akan ia tempati bersama Emily—karena Myla dan Han akan menetap di
China. Saat memasuki kamar yang dulu ditempati Myla sebuah perasaan rindu yang
berkecamuk menyusupi relung Jojo.
Ia bereskan kamar itu, mungkin saja suatu saat nanti
bisa ditempati oleh salah satu anaknya—atau mungkin kalau Myla kembali lagi ke
Barcelona. Beberapa barang berharga milik Myla masih tertinggal, salah satunya
adalah binder usang berwarna biru muda yang tergeletak di atas meja riasnya.
Jojo membuka halaman pertamanya ia langsung menyerngit
heran " Untuk kakak yang bukan kakakku" ia terlalu bingung
memaknai kata tadi.
Kemudian dibacainya satu persatu kalimat didalamnya,
lembar demi lembar ia balik. Matanya terbelalak ketika akhirnya ia tau. Ia
bukan bagian inti keluarga Lorenzo, ia hanya anak angkat ketika Mrs. Lorenzo
belum memiliki anak.
Hati Jojo lebih miris ketika ia tau kalau orang tuanya
akan menjodohkannya dengan Myla. Juga tersayat ketika tau bahwa Myla
mencintainya. Yup, Myla mencintainya, dan itulah alasan kenapa Myla selalu
bersikap dingin pada semua orang. Hanya karena Myla ingin menjadi dirinya.
Jojo merutuki dirinya yang tidak tau apa-apa sama
sekali. Bahkan ia terlalu buta soal cinta yang Myla berikan padanya. Lalu ia
masih menganggap ia pantas menjadi kakak untuk Myla? Terlalu lucu kalau ia
memaksakan hal itu.
****
Hampir sama seperti ketika Jojo pertama kali
menginjakan kakinya di Barcelona setelah tiga tahun menuntut ilmu di sebuah
universitas di California. Tapi kali ini suasanya beda. Myla tak lagi tengah
mengandung, anaknya Lynn telah lahir. Dan ia tengah menanti kelahiran anak
pertamanya.
Jojo dan Myla tengah duduk berdua diberanda rumah.
Mereka hanya saling diam dan terkadang mencuri pandang.
" Kau tau Myl, jodoh tak pernah tertukar. Tuhan
juga tidak pernah menukar jodoh seseorang. Cintailah yang mencintaimu ketika
yang kamu cintai mencoba mencintai yang lain—yang belum tentu ia cintai."
Myla hanya menatap Jojo sambil mencoba mencerna kata demi kata yang Jojo
ucapkan.
Airmatanya seakan ingin meleleh ketika ia tau apa yang
Jojo maksud, Jojo mencintainya. Hanya saja yang Jojo tau dia adik kandungnya.
Myla mencoba menahan tangis. Tangis yang dulu sering mengiringi nya ketika
menulis kata-kata bersama coretan di binder miliknya.
Jojo benar, jodoh tak pernah ditukar oleh tuhan.
Mungkin sejak awal dia dan Jojo tak pernah diizinkan tuhan untuk bersama.
Ku
tak bisa menggapaimu
Takkan
pernah bisa
Walau
sudah letih aku
Tak
mungkin lepas lagi
Kau
hanya mimpi bagiku
Tak
untuk jadinya
Dan
segala rasa buatmu
Harus
padam dan berakhir
[
Utopia – Antara Ada dan Tiada ]
-Tamat-

