Hana POV
Aku lari tunggang langgang. Prescon sudah mulai lima menit yang
lalu dan aku dengan temanku, Stev, masih lari tunggang langgang menuju
lokasi prescon.
Brak! Karena terburu-buru aku membuka pintu dengan kasar dan membuat
semua mata wartawan dan mata beberapa rider mengarah kepadaku.
Ada tiga rider yang menatapku. Yang pertama Jorge Lorenzo dengan
tatapan sinisnya, heuh sepertinya rider satu ini tidak punya tatapan
lain selain sinis. Valentino Rossi dengan tatapan bingungnya dan Marc
Marquez dengan tatapan yang susah aku artikan. Wajah Marc menunjukan
kebingungan tapi matanya mengatakan hal lain.
Aku langsung mencari tempat duduk. Dan seperti yang sudah aku duga aku
dan Stev mendapat kursi di baris belakang. Tentu tak ada wartawan
manapun yang akan membiarkan kursi depan kosong.
"Hana, I'm sorry."
"Sudahlah Stev, yang jelas kita datang saat prescon baru dimulai."
Aku merasa sedikit bersyukur karena dipeliputan kali ini aku
dipasangkan dengan Stev. Karena kalau dengan partner yang lain pasti
akan lebih repot lagi. Terlebih ini adalah kali pertama aku meliput
gelaran motogp, biasanya aku meliput pertandingan bola.
&&&&
Marc POV
Brak! Dan dua orang masuk. Satu orang pria dengan kamera dan seorang
wanita berambut blonde dengan binder di tangannya. Aku tangguhkan
mereka berdua adalah wartawan.
Satu, dua, tiga, dan aku terpesona dengan wanita berambut blonde itu.
Wajahnya perpaduan Turki dan Asia Timur. Sungguh cantik.
Selama prescon manik mataku mengekor gerakannya. Sesekali ia tersenyum
dan darahku terasa lebih cepat desirannya.
Hingga akhirnya dia berdiri dan memberiku pertanyaan.
"Marc, apa..."
"Kau tak berniat untuk memperkenalkan dirimu terlebih dahulu?" tanyaku
menggoda. Ia memutarkan bola matanya sebal.
"Baiklah perkenalkan nama saya Hana Jung, saya ingin menanyakan
sesuatu untuk Marc," ia menghela napasnya. "Marc apa targetmu di
Philip Island tahun ini, mengingat kau sudah tidak berpeluang untuk
menjadi juara dunia. Terimakasih."
Pertanyaan yang menohok, dan dari caranya bertanya seperti menyimpan
dendam padaku. Padahal tadi saat ia menanyai Jorge Lorenzo tidak
seperti itu, bahkan ia tersenyum kepada Jorge.
"Ehem, semua rider pasti memiliki target. Dan akupun begitu. Mungkin
aku akan menargetkann podium dirace kali ini," jawabku singkat sambil
melempar senyum yang dibalasnya dengan muka masam.
Seperti baru saja melihat pria bajingan yang tengah mencoba
menggodanya. Eh tapi kan aku tengah mencoba menggodanya. Yah
setidaknya aku bukan pria bajingan (menurutku).
"Kalau kau mau, aku bisa memberimu podium satu," tambahku setengah
menggoda. Seisi ruangan bergemuruh dengan tawa dan tepuk tangan.
Dan bisa ditebak dia memberiku wajah yang semakin menunjukkan
ketidaksukaannya dan mencoba untuk segera keluar dari ruangan ini.
&&&&
Hana POV
"Memangnya dia pikir dia siapa?" aku mengomel sepanjang jalan aku
keluar dari ruang prescon.
Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajah orang yang katanya sudah
menjuarai MotoGP dua kali itu. Menyebalkan.
"Sudahlah Han, kamu sih terlalu cantik makanya Marc naksir ke kamu
(barangkali)," Stev mencoba menghiburku.
"Kau juga Stev. Kalau kamu gak nginggalin kameramu kita nggak bakalan
telat dan Marc (sepertinya) nggak akan sadar sama keberadaanku."
Aku malah jadi menyalahkan Stev, ia hanya menunduk dan sepertinya
merasa bersalah.
"Hana, sebagai tanda maafku mari ku traktir kau ice cream. Aku tau
kedai ice cream yang enak disini."
Stev benar-benar tahu betul apa yang aku mau saat moodku sedang jatuh.
Aku mengenal Stev sejak di bangku kuliah. Dia dulu adalah kakak
tingkatku, yang sejujurnya sempat aku idolakan.
Dan sepertinya Tuhan berkehendak lain. Stev sudah menikah dan sudah
memiliki anak sekarang.
Sesampainya di kedai itu aku buru-buru masuk dan memilih ice cream
yang aku suka. Hal yang paling aku sukai selain meliput adalah mencoba
kedai ice cream baru, dan ternyata pekerjaanku sangat membantuku untuk
melaksanakan hobby ku yang satu ini.
“Kau mau apa?” tanya ku pada Stev.
“Aku ikut kamu aja.”
Ia lalu memilih tempat duduk di luar kafe. Hmm, cukup nyaman sepertinya makan ice cream sambil mengamati orang yang berlalu lalang di sirkuit.
"Green tea dua," ucapku bersemangat.
"Vanila."
Suara berat milik seseorang disebelahku membuatku tersontak. Aku baru
mendengar suara itu namun aku yakin betul siapa pemiliknya.
Aku menoleh dan... sialan sekali pria itu muncul lagi.
"Hai Mrs. Jung. Or should I called you with Mrs. Marquez?" tanyanya
dengan nada genit.
"Only in your dream," ucapku setengah membentak dan berlalu sambil
membawa nampan berisi dua porsi ice cream untukku dan Stev.
"Green tea dua," ucapku bersemangat.
"Vanila."
Suara berat milik seseorang disebelahku membuatku tersontak. Aku baru
mendengar suara itu namun aku yakin betul siapa pemiliknya.
Aku menoleh dan... sialan sekali pria itu muncul lagi.
"Hai Mrs. Jung. Or should I called you with Mrs. Marquez?" tanyanya
dengan nada genit.
"Only in your dream," ucapku setengah membentak dan berlalu sambil
membawa nampan berisi dua porsi ice cream untukku dan Stev.
Seleraku dengan ice cream hilang seketika. Aku bahkan tak pernah tau
kalau aku bisa hilang selera dengan hal terindah di dunia ini.
"Boleh aku duduk disini?"
Sialan. Si brengsek itu datang lagi dan mencoba menanyakan satu kursi
kosong diantara ku dan Stev. Stev yang memang memiliki sifat tidak
tegaan langsung mengiyakan permintaan alien keparat itu.
"Kau tidak keberatan kan Mrs. Jung?" dengan sengaja Marc membisikkan
kata-kata itu ditelingaku. Menjijikkan.
"Kalaupun aku keberatan apa kau akan pergi dan mencari tempat lain?"
"Tentu tidak."
Enteng sekali dia menjawab. Tidak salah ternyata aku membencinya. Dia
lebih menyebalkan dari yang aku kira.
"Sudahlah Han. Lihat ice cream mu mulai mencair," Stev mencoba
menengahi perang antara aku dan Marc.
"Ice cream mu saja mencair melihatku. Masa kamu tidak?"
"Bermimpilah selagi kau bisa."
Aku langsung pergi. Salah satu harus ada yang mengalah disini.
kalau aku bisa hilang selera dengan hal terindah di dunia ini.
"Boleh aku duduk disini?"
Sialan. Si brengsek itu datang lagi dan mencoba menanyakan satu kursi
kosong diantara ku dan Stev. Stev yang memang memiliki sifat tidak
tegaan langsung mengiyakan permintaan alien keparat itu.
"Kau tidak keberatan kan Mrs. Jung?" dengan sengaja Marc membisikkan
kata-kata itu ditelingaku. Menjijikkan.
"Kalaupun aku keberatan apa kau akan pergi dan mencari tempat lain?"
"Tentu tidak."
Enteng sekali dia menjawab. Tidak salah ternyata aku membencinya. Dia
lebih menyebalkan dari yang aku kira.
"Sudahlah Han. Lihat ice cream mu mulai mencair," Stev mencoba
menengahi perang antara aku dan Marc.
"Ice cream mu saja mencair melihatku. Masa kamu tidak?"
"Bermimpilah selagi kau bisa."
Aku langsung pergi. Salah satu harus ada yang mengalah disini.
&&&&
Author POV
Marc merasa terkejut. Sejauh ini Hana adalah wanita pertama yang
menolaknya mentah-mentah. Sebelumnya belum ada wanita manapun yang
menolaknya seperti Hana.
"Gadis itu harus aku dapatkan," gumamnya dalam hati.
Marc kemudian menghabiskan ice cream yang ia pesan tadi sambil
membayangkan senyum manis Hana di prescon tadi. Yang naasnya senyuman
itu ditujukan kepada rival senegaranya. Jorge Lorenzo.
"Atau karena aku tidak cool seperti Jorge ya?" ia bertanya-tanya sendiri.
Orang mungkin akan berfikir kalau Marc setengah waras kalau melihat
kelakuannya sekarang.
----
Hana duduk di salah satu sudut sirkuit sembari meneguk segelas
milkshake. Stev sedang sibuk membidik gambar para rider Moto3 yang
melakukan sesi latihan bebas.
"Hai cantik."
Hana langsung membuang milkshakenya dan berlalu pergi dari orang yang
baru saja menyapanya. Yup, orang itu adalah Marc Marquez. Orang yang
paling Hana benci.
"Tunggu sampai aku mendapatkanmu," tekat rider repsol honda tersebut.
&&&&
Marc POV
Qualification day! Itu artinya besok race dan beberapa hari kemudian
aku akan bertolak ke Sepang, Malaysia. Lalu Hana? Apakah gadis itu
akan bertolak ke Sepang juga?
"Jangan nglamun," Dani menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum.
"Hana aku bakalan pole buat kamu."
Aku keluar dari garasi dan segera menunggangi kuda besi yang sudah
selesai disetting para mekanik. Dalam otakku hanya ada dua pilihan.
Meraih pole dan semakin mendekati Hana atau tidak pole dan menjauhi
gadis itu.
Sepertinya aku sudah dibuat gila oleh gadis berambut blonde yang
akhir-akhir ini ku ketahui ternyata dia keturunan Turki-Korea(Utara).
----
Hana POV
Aku menonton kualifikasi di samping Stev yang sedang mengambil
beberapa gambar. Walau aku harus merelakan kulitku sedikit terbakar
tapi menonton dari sudut ini lumayan oke juga.
"Hana kalau Marc beneran suka sama kamu gimana?" Stev menatapku dengan
tatapan seriusnya.
"Aku tolak."
Lalu ia menatapku seperti bertanya, seriously?
"Aku tidak suka rider itu, diluar dia seperti pria baik-baik yang easy
going tapi aslinya..."
Aku sengaja menggantung perkataanku karena aku bingung untuk memilih
kata yang pas.
"Kau tak takut dihujat sebagai gadis yang angkuh?"
"Aku lebih memilih menjadi wanita yang angkuh ketimbang dicap menjadi
wanita perebut pacar orang lain," aku sengaja membentuk tanda kutip
saat menyebutkan kata pacar dan Stev tertawa.
"Honey aku pole!"
Seseorang menutup mataku dan aku tahu siapa orang itu.
"Aku bukan madumu," jawabku asal.
"Hana sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku?"
"Sampai kau tidak memiliki kepribadian ganda."
"Tapi aku tidak berkepribadian ganda."
"Yes, You are. Aku yang di depan kamera dan yang dibelakang kamera
jelas-jelas jauh berbeda."
"Perasaan sama aja. Aku tetap tampan."
Huh. Pe-De nya kumat. (lagi-lagi) Aku memutar bola mataku dan pergi
sambil setengah menyeret Stev yang masih asyik dengan kamera dan
kualifikasi Moto2.
&&&&
Author POV
Race day! Hari yang membahagiakan bagi Hana karena dia akan terbebas
dari seorang penguntit bernama Marc Marquez. Sebaliknya Marc tak rela
waktunya di Australia semakin singkat.
Ting! Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Hana. Sebuah nomor tak dikenal
From No name : Doakan aku ya honey. 93
Dan saat melihat angka terakhir dari pesan itu Hana langsung memasang
muka jengah.
To No name : I'm never be your honey.
Hana mensilent handphonenya lalu mengikuti langkah Stev dari belakang. Saat nya menikmati Philip Island. Tanpa gangguan Marc, yang tentunya sedang melakukan tugasnya sebagai seorang pembalap.
Mereka berdua menonton jalannya balap dari salah satu sudut sirkuit yang sedikit teduh. Setidaknya tidak seperti saat Hana harus merelakan kulitnya terbakar. Hana sama sekali tidak fokus menonton jalannya race—kecuali saat Andrea Iannone menabrak seekor burung berwanra putih. Ia hanya menatap sirkuit dengan tatapan kosong walaupun jalannya balap begitu seru—menurut semua orang kecuali Hana. Hingga akhirnya Marc mengakhiri perlawanan Jorge Lorenzo di tikungan terakhir.
“Hana berbaliklah, aku ingin mengambil gambarmu dari belakang.”
Hana mengikuti saja apa kata Stev, lagi pula selama ia di Philip Island kali ini belum ada satupun foto yang terabadikan.
“Bagus Hana,” Stev menunjukan hasil jepretannya. Dan Hana dengan refleksnya langsung menghampiri sang fotografer.
“Kau baru tahu ya kalau Hana selalu cantik,” Marc langsung merangkulkan tanganya ke pundak Hana dan mencium kening gadis itu singkat.
PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus rider bernomor sembilan tiga itu.
“Apa kau selalu seperti ini terhadap pria?” Marc memegangi pipinya yang memerah.
“Ya. Selama dia brengsek aku akan melakukannya kenapa?”
“Jadi kau pikir aku pria yang brengsek?”
“Akhirnya kau sadar diri,” Hana melipat tangannya didada.
&&&&
Marc POV
Hana. Jung Hana. Hana Jung. Atau apalah nama gadis itu akan selalu aku ingat. Dia gadis pertama yang menolakku mentah-mentah. Dia juga sukses menjadi wanita pertama yang menamparku. Dan mungkin saja dia wanita pertama yang menjadi Anti-fanku. Tapi aku tak peduli. Aku mencintainya.
“Hana, kenapa sih kamu selalu mencoba menjauhi ku? Ada yang salah dengan ku?”
“Maaf Mr. Marquez kalau anda berpikir semua wanita bisa jatuh dalam dekapan anda, anda salah besar.”
“Tapi Hana..”
“Jangan karena kau kaya, terkenal dan tampan kau bisa membuat semua wanita jatuh cinta kepadamu, dan mungkin saja kau juga berpikiran untuk menidurinya.”
Aku terhenyak dengan jawabannya, apakah aku tipe pria yang demikian?
“Marc, hidupmu dan karirmu akan lebih bagus tanpa ada aku didalamnya.”
Ia memegang pundakku pelan, aku rasakan ada sengalan dan isakan kecil disana. Namun aku hanya diam, tak tahu harus berbuat apa. Mungkin aku sudah keterlaluan pada Hana.
&&&&
Hana POV
Philip island 2016
Aku kembali ke sirkuit ini setelah setahun lamanya. Aku datang bukan karena aku mendapat tugas untuk meliput jalannya MotoGP lagi seperti tahun lalu. Tapi lebih karena aku tidak tega untuk membuat seseorang terus membuang uangnya hanya demi membelikanku secarik kertas.
Dan orang itu adalah Marc Marquez. Yang sejak Sepang tahun lalu selalu mengirimkan tiket dan paddock pass untukku supaya aku mau datang.
Tapi saat itu aku masih terlalu keras kepala untuk menilainya dari sudut yang lain, terlalu buta untuk melihat kegigihannya kepadaku dan terlalu terburu-buru untuk mengatakan bahwa dirinya brengsek. Untuk fakta yang terakhir aku tersenyum dan bertanya dalam hati, sebenarnya siapa yang lebih brengsek disini?
Marc menyuruhku untuk duduk manis di paddocknya dan aku menuruti saja perintah yang ia berikan lewat line itu. Dan ternyata perintah Marc ini berdampak buruk, beberapa kamera menyoroti ku, juga beberapa mekanik yang menatapku aneh. Mungkin mereka mengira aku kekasih Marc.
Sampai akhirnya balap aku hanya menengok ke kiri dan ke kanan. Aku bingun, apakah aku harus tetap menonton jalannya race dengan tenang saat beberapa tatapan asing dan kamera menyorot ke arah ku? Jujur saja aku mengharapkan Marc segera menyelesaikan selebrasinya dan kembali ke paddock—dan menyelesaikan semuanya.
“Hana?”
Suara Marc yang cukup familiar ditelingaku—karena saking seringnya dia menelponku—aku langsung mengenalinya.
“Kau semakin cantik.”
Tentu. Aku tidak blushing sama sekali.
“Akhirnya kau datang juga setelah lima belas tiket yang aku belikan.”
“Sebenarnya setelah tujuh belas tiket,” aku menjawab dengan canggung.
“Sebanyak itu kah?”
Suasana canggung yang tak terelakan. Yang sudah aku duga sebelumnya.
“Lalu bagaimana?” tanyanya.
“Apa?”
“Sama seperti pertanyaanku tahun lalu,” tanyanya malu-malu.
“Aku memilih untuk menjadi sesaeng[1]mu.”
“Dalam artian?”
“Aku akan mengikutimu kemanapun,” jawabku malu.
Marc langsung memelukku—tanpa menciumku seperti tahun lalu. Aku malu pada diriku sendiri. Dulu aku membencinya, sangat-sangat membencinya. Tapi sekarang? Aku menghargai perjuangannya.
“Jadi kau sudah tau cara how to love Mr. Marquez, Jung Hana?”
“Siapa bilang aku mencintaimu, aku hanya bilang kalau aku mau menjadi penguntitmu saja.”
"Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu begitu ngotot mendapatkanku yang jelas-jelas anti-fan mu?"
"Memangnya kenapa kalau aku jatuh cinta dengan anti-fanku sendiri?"
"Tidak. Hanya saja kau punya banyak fans yang pastinya lebih rela kalau kau cintai. Lagipula..."
"Lagipula apa?"
Aku hanya diam.
"Kalau aku mencintai salah satu saja fansku bukankah itu akan membuat fansku lainnya akan cemburu. Kan lebih baik begini aku membuat semua fansku cemburu karena aku mencintai anti-fanku sendiri," jawabnya sambil mengulum senyum.
“Gila!” cibirku.
“Apa kau bilang?” lalu dia memelukku dengan erat.
-END-
Thanks to Kim Eun Jeong eonni buat novelnya yang sangat menginspirasi.

Akhirnyaaa... akhirnyaaa, Marc!!! Perjuanganmu ga sia-sia, hahaha. Sukaaa kak sama endingnya. Keren! :D
BalasHapusDi edit dek :)))
HapusHana keras kepala bgt ya ampun,tp pd akhir ny utng lh tuh anak luluh juga krna marc suka dehh sm cerita ny imipian kyk ny :v
BalasHapusPerasaan Hana ke Marc real, perasaan Marc ke Hana jangan di harap
BalasHapus