"Tak
akan pernah setinggi Burj Khalifa, namun lebih berarti dari
mimpiku." — Jo Hye Eun
&&&&
Aku merentangkan tangan bahagia, ku lempar topi toga ku dengan
perasaan yang campur aduk. Lega rasanya perjuanganku selama tiga
setengah tahun belakangan ini tak sia-sia. Beberapa temanku memberi
selamat atas pencapaikanku yang menuntaskan jejak ku sebagai seorang
mahasiswa dengan sempurna. Ingin rasanya aku berteriak seperti saat
aku menerima pemberitahuan kalau aku diterima di Universitas ini. Saat
itu karena saking gembiranya aku berlonjak dan berteriak "AKU AKAN
MENJADI ARSITEK KOREA YANG PALING KEREN" di sebuah restoran Jepang.
"Hye Eun-ssi selamat ya," jantungku berdegup kencang. Salah seorang
sunbae favoritku, Lee Hyun Joon, memberiku selamat.
Sebenernya Lee Hyun Joon sunbae-nim setahun lebih dahulu menjadi
mahasiswa ketimbang aku, namun karena banyaknya kegiatan yang dia
ikuti jadilah kuliahnya terbengkalai.
"Terimakasih."
Hanya itu kata yang sukses aku ucapkan dengan lancar. Hyun Joon
sunbae-nim tersenyum tipis dan berlalu. Aku ikut tersenyum, sepertinya
ini adalah pertemuan terakhir ku dengannya. Karena setelah ini aku
akan bertolak ke Praha untuk mengejar impianku. Menjadi arsitek paling
keren seantero Korea.
Dalam hati aku berteriak, "Goodbye Seoul, annyeong Praha. The city of
(my) dreams."
&&&&
Saat ini Praha memasuki musim gugur, hampir sama seperti Seoul. Dari
balik kaca mobil aku menatap jalan Praha dengan bahagia, tentunya.
Lagi-lagi jantung ini tak karuan, bukan seperti ketika Lee Hyun Joon
sunbae-nim memberiku ucapan selamat atau saat ketika mata kami tak
sengaja bertemu. Detak jantung ku kali ini lebih ekstream menurutku,
mungkin lebih seperti ketika aku pertama kali menonton konser Dong
Bang Shin Ki beberapa tahun lalu. Rasanya seperti ada yang meremas
jantungku.
Mobil sedan hitam yang aku tumpangi berhenti disebuah gedung menjulang
tinggi yang lazim aku jumpai di Gangnam. Arsitektur luarnya tidak
terlalu menonjol, tapi desain interiornya boleh mendapat acungan
jempol dari siapapun. Semuanya tertata rapi, dengan warna kontras tak
senada namun tetap menimbulkan kesan elegant, anggun dan jauh dari
kata norak. Aku tetegun, benarkah ini kantor yang akan menjadi tempat
kerjaku? Menurutku ini lebih cocok untuk dijadikan gedung Entertaiment
besar seperti SM atau JYP.
"Hai kau Jo Hye Eun kan?" seorang pemuda kira-kira berumur dua atau
tiga tahun lebih tua dariku melempar senyum.
Tanpa perkenalan pun aku akan tahu siapa dia, dia adalah Marc Marquez,
seorang perancang desain interior yang cukup handal asal Spanyol. Dan
akhirnya aku mengerti kenapa desain interior gedung ini begitu hebat.
"Kau pasti baru datang ya, baiklah ikuti aku. Kita akan keruangan
Jorge," senyum manisnya terus mengembang.
Deg. Dia bilang ke ruangan Jorge, mungkinkah Jorge yang dimaksud
adalah Jorge Lorenzo? Eum sebenarnya ini sedikit konyol karena Marc
dan Jorge adalah partner dalam desain mendesain.
Aku masih membisu namun Marc mencoba untuk terus tersenyum. Aku
mencoba untuk menikmati sedikit demi sedikit momen langka ini. Momen
dimana aku bisa begitu dekat dengan Marc.
mimpiku." — Jo Hye Eun
&&&&
Aku merentangkan tangan bahagia, ku lempar topi toga ku dengan
perasaan yang campur aduk. Lega rasanya perjuanganku selama tiga
setengah tahun belakangan ini tak sia-sia. Beberapa temanku memberi
selamat atas pencapaikanku yang menuntaskan jejak ku sebagai seorang
mahasiswa dengan sempurna. Ingin rasanya aku berteriak seperti saat
aku menerima pemberitahuan kalau aku diterima di Universitas ini. Saat
itu karena saking gembiranya aku berlonjak dan berteriak "AKU AKAN
MENJADI ARSITEK KOREA YANG PALING KEREN" di sebuah restoran Jepang.
"Hye Eun-ssi selamat ya," jantungku berdegup kencang. Salah seorang
sunbae favoritku, Lee Hyun Joon, memberiku selamat.
Sebenernya Lee Hyun Joon sunbae-nim setahun lebih dahulu menjadi
mahasiswa ketimbang aku, namun karena banyaknya kegiatan yang dia
ikuti jadilah kuliahnya terbengkalai.
"Terimakasih."
Hanya itu kata yang sukses aku ucapkan dengan lancar. Hyun Joon
sunbae-nim tersenyum tipis dan berlalu. Aku ikut tersenyum, sepertinya
ini adalah pertemuan terakhir ku dengannya. Karena setelah ini aku
akan bertolak ke Praha untuk mengejar impianku. Menjadi arsitek paling
keren seantero Korea.
Dalam hati aku berteriak, "Goodbye Seoul, annyeong Praha. The city of
(my) dreams."
&&&&
Saat ini Praha memasuki musim gugur, hampir sama seperti Seoul. Dari
balik kaca mobil aku menatap jalan Praha dengan bahagia, tentunya.
Lagi-lagi jantung ini tak karuan, bukan seperti ketika Lee Hyun Joon
sunbae-nim memberiku ucapan selamat atau saat ketika mata kami tak
sengaja bertemu. Detak jantung ku kali ini lebih ekstream menurutku,
mungkin lebih seperti ketika aku pertama kali menonton konser Dong
Bang Shin Ki beberapa tahun lalu. Rasanya seperti ada yang meremas
jantungku.
Mobil sedan hitam yang aku tumpangi berhenti disebuah gedung menjulang
tinggi yang lazim aku jumpai di Gangnam. Arsitektur luarnya tidak
terlalu menonjol, tapi desain interiornya boleh mendapat acungan
jempol dari siapapun. Semuanya tertata rapi, dengan warna kontras tak
senada namun tetap menimbulkan kesan elegant, anggun dan jauh dari
kata norak. Aku tetegun, benarkah ini kantor yang akan menjadi tempat
kerjaku? Menurutku ini lebih cocok untuk dijadikan gedung Entertaiment
besar seperti SM atau JYP.
"Hai kau Jo Hye Eun kan?" seorang pemuda kira-kira berumur dua atau
tiga tahun lebih tua dariku melempar senyum.
Tanpa perkenalan pun aku akan tahu siapa dia, dia adalah Marc Marquez,
seorang perancang desain interior yang cukup handal asal Spanyol. Dan
akhirnya aku mengerti kenapa desain interior gedung ini begitu hebat.
"Kau pasti baru datang ya, baiklah ikuti aku. Kita akan keruangan
Jorge," senyum manisnya terus mengembang.
Deg. Dia bilang ke ruangan Jorge, mungkinkah Jorge yang dimaksud
adalah Jorge Lorenzo? Eum sebenarnya ini sedikit konyol karena Marc
dan Jorge adalah partner dalam desain mendesain.
Aku masih membisu namun Marc mencoba untuk terus tersenyum. Aku
mencoba untuk menikmati sedikit demi sedikit momen langka ini. Momen
dimana aku bisa begitu dekat dengan Marc.
Di dalam lift aku hanya diam sambil memainkan
ujung cardigan yang ku
kenakan. Marc juga dengan cueknya menyeruput kopi. Huh, sepertinya aku
terlalu berharap untuk ditawari secangkir kopi oleh Marc. Memangnya
aku siapa? Aku mengeluh dalam hati.
Waktu terasa berjalan lambat, namun akhirnya aku sampai di lantai
empat, lantai dimana (sepertinya) aku akan bertemu dengan arsitek muda
idolaku, Jorge Lorenzo.
"Ikuti aku," Marc berjalan sedikit lebih cepat.
Ku coba untuk mengimbangi langkahnya. Tapi rok mini dan heels yang ku
kenakan sepertinya tak rela kalau aku berjalan sejajar dengan Marc.
Dalam hati aku sedikit mengutuk selera berpakaianku yang sedikit tidak
menguntungkan ini.
Setelah beberapa langkah yang penuh derita aku sampai juga di depan
ruangan Jorge, ruangan itu cukup unik karena berwarna putih polos.
Lebih mirip ruangan praktek milik seorang dokter ketimbang ruangan
milik arsitek.
"Masuklah," Marc memberikan jalan untukku. Ladies first.
Setelah mengucap doa aku masuk dengan perasaan gugup. Di dalam Jorge
sedang sibuk dengan autocad nya.
"Bro, lihat aku sedang bersama siapa."
Dan, GRAB! Marc melingkarkan tangannya di pundakku. Aku hanya diam,
dan sedikit menikmati.
"Hmm," hanya itu respon
yang Jorge berikan. Jujur saja aku sedikit kecewa.
Bayangkan untuk sampai kesini tidaklah mudah. Selain jarak yang cukup
jauh, aku juga harus mengalahkan fresh-graduated lain untuk bisa
bergabung di perusahaan ini.
"Hye...," Marc menunjukkan wajah bimbang.
"Hye Eun," aku menyela perkataan Marc.
"Hye Eun, sepertinya kita perlu untuk menjelajah sebentar."
Lagi-lagi senyumnya membuatku sedikit terhibur. Mungkin Jorge memang
sedang sibuk sekarang.
Marc mengajakku berkeliling, dia mengenalkanku dengan beberapa tempat
penting di gedung ini dan beberapa pegawai yang ia kenal. Dari
penjelasan Marc aku akan diikutkan kedalam team putih, disana aku akan
bekerja sama dengan Marc dan Jorge, Emily, Sandara dan Dian.
"Kau tau, team putih adalah team incaran siapapun disini," ia
membisikkan kalimat itu tepat di telingaku.
Tentu saja, siapa yang tidak ingin tergabung dengan Jorge dan Marc.
"Tapi kau harus ingat, team ini bisa membuatmu bersinar atau malah
sebaliknya. Fyi, Jorge adalah orang yang keras. Kesalahan sekecil
apapun tak tertoleransi."
Aku mengangguk, bukankah hal itu diterapkan disetiap tempat. Dan
tentulah sebelum kesini aku sudah kenyang kedisplinan ala militer
karena ayahku adalah seorang tentara.
"Setelah ini aku akan mengenalkanmu dengan anggota lain team putih.
Emily, Sandara dan Dian."
Ku ikuti saja semua arahan Marc. Toh selama ini dia asyik-asyik saja
dan tak berbuat macam-macam.
Kami terus berjalan hingga sampai disebuah ruangan dengan plang nama
berukuran sedang, mirip dengan plang nama diatas kelas di kampusku
dulu.
Marc membuka pintu, didalamnya mirip dengan ruangan Jorge tadi
berwarna putih polos. Hatiku sedikit tergelitik, apakah ruangan setiap
team berbeda-beda warnanya?
"Hello guys, perkenalkan anggota baru kita. The Korean Octopus."
Aku terkejut, bagaimana Marc tahu julukanku itu?
"Kenapa? Ada yang salah? Gurita kan cerdik," ia terkekeh. Aku hanya
diam, tak berminat untuk melanjutkan perdebatan.
"Hai namaku Emily."
"Dian."
"Sandara."
Dan merekapun membungkukan badan. Karena refleks aku juga ikut
membungkukkan badan, "Jo Hye Eun-imnida."
"Emily dan Dian lulusan teknik arsitektur juga sepertimu, sedangkan
Sandara dia lulusan perencanaan wilayah kota."
Marc memperkenalkan mereka bertiga secara lebih jelasnya. Tidak sulit
untukku mengingat mereka. Emily dengan rambut blonde nya,
Sandara dengan wajah arabian nya, dan dian dengan wajah eksotis dan
kacamata nya. Sebenarnya membedakan mereka cukup mudah kalau
dibandingkan membandingkan orang Korea sendiri. Nama mereka
mirip-mirip dan wajahnya tidak jauh beda, entah yang asli atau yang
mahakarya dokter bedah.
"Eum sebaiknya kalian saling mengenal dulu. Aku harus pergi."
Kami berempat mengangguk mengiyakan. Dan setelah Marc pergi suasana
sedikit canggung, tidak ada suara yang keluar dan sepertinya mereka
sedang tidak ada pekerjaan berarti hari ini. Tidak ada alasan untuk
mengalihkan perhatian.
"Jo Hye Eun bagaimana aku harus memanggilnya?" Emily membuka suara.
"Hye Eun, tapi kau bisa juga memanggilku Hye Eun-ah."
Dan suasana kembali hening.
&&&&
kenakan. Marc juga dengan cueknya menyeruput kopi. Huh, sepertinya aku
terlalu berharap untuk ditawari secangkir kopi oleh Marc. Memangnya
aku siapa? Aku mengeluh dalam hati.
Waktu terasa berjalan lambat, namun akhirnya aku sampai di lantai
empat, lantai dimana (sepertinya) aku akan bertemu dengan arsitek muda
idolaku, Jorge Lorenzo.
"Ikuti aku," Marc berjalan sedikit lebih cepat.
Ku coba untuk mengimbangi langkahnya. Tapi rok mini dan heels yang ku
kenakan sepertinya tak rela kalau aku berjalan sejajar dengan Marc.
Dalam hati aku sedikit mengutuk selera berpakaianku yang sedikit tidak
menguntungkan ini.
Setelah beberapa langkah yang penuh derita aku sampai juga di depan
ruangan Jorge, ruangan itu cukup unik karena berwarna putih polos.
Lebih mirip ruangan praktek milik seorang dokter ketimbang ruangan
milik arsitek.
"Masuklah," Marc memberikan jalan untukku. Ladies first.
Setelah mengucap doa aku masuk dengan perasaan gugup. Di dalam Jorge
sedang sibuk dengan autocad nya.
"Bro, lihat aku sedang bersama siapa."
Dan, GRAB! Marc melingkarkan tangannya di pundakku. Aku hanya diam,
dan sedikit menikmati.
"Hmm," hanya itu respon
yang Jorge berikan. Jujur saja aku sedikit kecewa.
Bayangkan untuk sampai kesini tidaklah mudah. Selain jarak yang cukup
jauh, aku juga harus mengalahkan fresh-graduated lain untuk bisa
bergabung di perusahaan ini.
"Hye...," Marc menunjukkan wajah bimbang.
"Hye Eun," aku menyela perkataan Marc.
"Hye Eun, sepertinya kita perlu untuk menjelajah sebentar."
Lagi-lagi senyumnya membuatku sedikit terhibur. Mungkin Jorge memang
sedang sibuk sekarang.
Marc mengajakku berkeliling, dia mengenalkanku dengan beberapa tempat
penting di gedung ini dan beberapa pegawai yang ia kenal. Dari
penjelasan Marc aku akan diikutkan kedalam team putih, disana aku akan
bekerja sama dengan Marc dan Jorge, Emily, Sandara dan Dian.
"Kau tau, team putih adalah team incaran siapapun disini," ia
membisikkan kalimat itu tepat di telingaku.
Tentu saja, siapa yang tidak ingin tergabung dengan Jorge dan Marc.
"Tapi kau harus ingat, team ini bisa membuatmu bersinar atau malah
sebaliknya. Fyi, Jorge adalah orang yang keras. Kesalahan sekecil
apapun tak tertoleransi."
Aku mengangguk, bukankah hal itu diterapkan disetiap tempat. Dan
tentulah sebelum kesini aku sudah kenyang kedisplinan ala militer
karena ayahku adalah seorang tentara.
"Setelah ini aku akan mengenalkanmu dengan anggota lain team putih.
Emily, Sandara dan Dian."
Ku ikuti saja semua arahan Marc. Toh selama ini dia asyik-asyik saja
dan tak berbuat macam-macam.
Kami terus berjalan hingga sampai disebuah ruangan dengan plang nama
berukuran sedang, mirip dengan plang nama diatas kelas di kampusku
dulu.
Marc membuka pintu, didalamnya mirip dengan ruangan Jorge tadi
berwarna putih polos. Hatiku sedikit tergelitik, apakah ruangan setiap
team berbeda-beda warnanya?
"Hello guys, perkenalkan anggota baru kita. The Korean Octopus."
Aku terkejut, bagaimana Marc tahu julukanku itu?
"Kenapa? Ada yang salah? Gurita kan cerdik," ia terkekeh. Aku hanya
diam, tak berminat untuk melanjutkan perdebatan.
"Hai namaku Emily."
"Dian."
"Sandara."
Dan merekapun membungkukan badan. Karena refleks aku juga ikut
membungkukkan badan, "Jo Hye Eun-imnida."
"Emily dan Dian lulusan teknik arsitektur juga sepertimu, sedangkan
Sandara dia lulusan perencanaan wilayah kota."
Marc memperkenalkan mereka bertiga secara lebih jelasnya. Tidak sulit
untukku mengingat mereka. Emily dengan rambut blonde nya,
Sandara dengan wajah arabian nya, dan dian dengan wajah eksotis dan
kacamata nya. Sebenarnya membedakan mereka cukup mudah kalau
dibandingkan membandingkan orang Korea sendiri. Nama mereka
mirip-mirip dan wajahnya tidak jauh beda, entah yang asli atau yang
mahakarya dokter bedah.
"Eum sebaiknya kalian saling mengenal dulu. Aku harus pergi."
Kami berempat mengangguk mengiyakan. Dan setelah Marc pergi suasana
sedikit canggung, tidak ada suara yang keluar dan sepertinya mereka
sedang tidak ada pekerjaan berarti hari ini. Tidak ada alasan untuk
mengalihkan perhatian.
"Jo Hye Eun bagaimana aku harus memanggilnya?" Emily membuka suara.
"Hye Eun, tapi kau bisa juga memanggilku Hye Eun-ah."
Dan suasana kembali hening.
&&&&
Pagi
pertamaku resmi bekerja, yup bisa dibilang seperti itu. Karena
kemarin hanyalah perkenalan basa-basi.
Mungkin sudah setengah jam aku mematut didepan cermin,
membolak-balikkan badan, beberapa kali membongkar lemari dan mencari
baju yang
cocok, mengganti gaya rambut, bongkar pasang aksesori rambut hingga
gonta-ganti warna eyeshadow.
Karena semakin lama aku semakin bingung harus berdandan seperti apa
akhirnya aku memutuskan memakai make up simpel ala ulzzang yang sering
aku tonton di youtube. Sebenarnya ini dandanan yang amat biasa untukku
karena setiap pergi ke kampus aku selalu seperti ini, tapi masa bodo
lah orang sini mana tahu bagaimana rupaku saat di kampus.
Setelah merasa cukup puas dengan penampilan ala kadarnya ini aku
segera turun meniti tangga dan besiap untuk mencegat taksi.
----
Sesampainya di depan kantor aku segera membayar ongkos taksi dan
bergegas masuk. Namun euforiaku tiba-tiba turun saat baru saja aku
memasuki kantor megah itu aku melihat Jorge menggandeng tangan Emily
dengan mesra. Yah, you know untuk siapa aku mencoba terlihat cantik,
dan karena itu juga aku patah semangat.
"Hye Eun-ah!"
Dari sudut lain aku melihat Marc membawa dua cangkir kopi ditangannya.
Aku hanya membalas sapaannya dengan senyuman.
"Untukmu," dia lalu menyerahkan salah satu gelasnya. "Aku tahu kau
suka latte kan?" lanjutnya.
"Gomawo sunbae-nim."
Tak ada balasan lain yang lebih cocok selain kata terima kasih. Lalu
kami berjalan menuju ruangan team putih dengan hening, hanya bunyi
sepatu yang menyentuh lantai. Selain itu kami terdiam dengan pikiran
masing-masing.
-----
Di ruangan aku hanya diam, dalam hati gemas rasanya ingin bertanya ke
Emily tentang hubungannya dengan Jorge tapi apa hak ku untuk bertanya
demikian. Lalu aku urungkan niatku tadi.
Mungkin agak sedikit aneh bagiku, memanggil orang yang lebih tua
dengan namanya secara langsung tanpa embel-embel eonni, oppa atau
sunbae-nim disini tapi begitulah kebiasaannya. Mereka memintaku untuk
langsung memanggil nama tanpa embel-embel.
Dengan sedikit kebosanan yang melanda aku mencoba untuk 'iseng'
menggambar rumah idamanku. Yang rencananya sih akan ku bangun di pulau
Jeju.
Tanganku yang sudah terbiasa membuat pola dan garis cuek saja
menggores kertas didepanku dengan garis tipis namun tajam. Aku terus
menunduk dan berkonsentrasi lalu masuk ke dalam duniaku.
"Desainmu cantik."
Sebuah suara mengagetkanku, aku mendongak dan deg. Getaran pertama
saat aku tiba di gedung ini terasa lagi.
"Sepertinya cocok untuk proyek kita," ia melanjutkan komentarnya. Aku
hanya nyengir, itu adalah kebiasaanku saat tersipu malu.
"Tapi kalau boleh tahu dapat dari mana kamu ide seperti itu?" Jorge
mengatakan itu tepat di telinga kananku. Yup, orang yang sejak tadi
mengomentari gambaranku adalah Jorge Lorenzo.
"Ini adalah rumah idamanku, rumah yang selalu aku bayangkan sejak
lama," jawabku sedikit bangga. Saking seringnya aku menggambar rumah
itu sampai aku hapal setiap lekukannya.
Sebenarnya rumah yang aku desain biasa saja sih, mirip dengan rumah
bertipe minimalis modern yang sekarang sedang menjadi trend. Aku hanya
menambahkan sedikit aksen rumah eskimo di bagian atap teras dan sebuah
gazebo yang menyerupai bola.
"Sepertinya aku tak salah memilihmu," jawabnya sambil mengacak rambutku pelan.
Jantungku mencelos, benarkah itu tadi Jorge Lorenzo? Arsitek muda
terkenal yang tadi pagi menggandeng Emily? Kemudian ku beranikan
diriku melirik Emily and damn Jorge sudah berada disana dengan senyum
manisnya.
Ku remas kertas bergambar rumah idamanku tadi dan ku buang asal.
"Hei kenapa desain bagus ini kau buang?" aku hapal suara siapa itu
walau baru dua hari mendengarnya secara langsung.
Aku tak bersemangat untuk menjawab pertanyaan tadi.
"Kenapa kau lesu?"
Tak sengaja ekor mataku tertuju pada kemesraan Jorge dan Emily.
"Apa karena Jorge?"
Aku menggeleng lemah. Aku tak yakin, aku seperti ini karena Jorge,
arsitek yang aku kagumi, atau karena hal lain.
"Walaupun bukan karena dia sebaiknya kau perlu berhati-hati dengannya?"
Ku tatap mata coklat di depanku bingung. "Memangnya kenapa?"
"Nanti kau akan tau," dia lalu pergi dengan senyum misterius yang
susah aku artikan.
-bersambung-
haduh ff baru lagi padahal yang lama dilanjutin juga enggak. Ehem klu
buat What's your number udah ada sedikit ide cuma lagi males
ngembanginnya. Cuma kalau buat a part of my life aku bener-bener have
no idea mau ngapain si janda sialan itu *tabok* but i hope you like
this one. Thanks {{}}
kemarin hanyalah perkenalan basa-basi.
Mungkin sudah setengah jam aku mematut didepan cermin,
membolak-balikkan badan, beberapa kali membongkar lemari dan mencari
baju yang
cocok, mengganti gaya rambut, bongkar pasang aksesori rambut hingga
gonta-ganti warna eyeshadow.
Karena semakin lama aku semakin bingung harus berdandan seperti apa
akhirnya aku memutuskan memakai make up simpel ala ulzzang yang sering
aku tonton di youtube. Sebenarnya ini dandanan yang amat biasa untukku
karena setiap pergi ke kampus aku selalu seperti ini, tapi masa bodo
lah orang sini mana tahu bagaimana rupaku saat di kampus.
Setelah merasa cukup puas dengan penampilan ala kadarnya ini aku
segera turun meniti tangga dan besiap untuk mencegat taksi.
----
Sesampainya di depan kantor aku segera membayar ongkos taksi dan
bergegas masuk. Namun euforiaku tiba-tiba turun saat baru saja aku
memasuki kantor megah itu aku melihat Jorge menggandeng tangan Emily
dengan mesra. Yah, you know untuk siapa aku mencoba terlihat cantik,
dan karena itu juga aku patah semangat.
"Hye Eun-ah!"
Dari sudut lain aku melihat Marc membawa dua cangkir kopi ditangannya.
Aku hanya membalas sapaannya dengan senyuman.
"Untukmu," dia lalu menyerahkan salah satu gelasnya. "Aku tahu kau
suka latte kan?" lanjutnya.
"Gomawo sunbae-nim."
Tak ada balasan lain yang lebih cocok selain kata terima kasih. Lalu
kami berjalan menuju ruangan team putih dengan hening, hanya bunyi
sepatu yang menyentuh lantai. Selain itu kami terdiam dengan pikiran
masing-masing.
-----
Di ruangan aku hanya diam, dalam hati gemas rasanya ingin bertanya ke
Emily tentang hubungannya dengan Jorge tapi apa hak ku untuk bertanya
demikian. Lalu aku urungkan niatku tadi.
Mungkin agak sedikit aneh bagiku, memanggil orang yang lebih tua
dengan namanya secara langsung tanpa embel-embel eonni, oppa atau
sunbae-nim disini tapi begitulah kebiasaannya. Mereka memintaku untuk
langsung memanggil nama tanpa embel-embel.
Dengan sedikit kebosanan yang melanda aku mencoba untuk 'iseng'
menggambar rumah idamanku. Yang rencananya sih akan ku bangun di pulau
Jeju.
Tanganku yang sudah terbiasa membuat pola dan garis cuek saja
menggores kertas didepanku dengan garis tipis namun tajam. Aku terus
menunduk dan berkonsentrasi lalu masuk ke dalam duniaku.
"Desainmu cantik."
Sebuah suara mengagetkanku, aku mendongak dan deg. Getaran pertama
saat aku tiba di gedung ini terasa lagi.
"Sepertinya cocok untuk proyek kita," ia melanjutkan komentarnya. Aku
hanya nyengir, itu adalah kebiasaanku saat tersipu malu.
"Tapi kalau boleh tahu dapat dari mana kamu ide seperti itu?" Jorge
mengatakan itu tepat di telinga kananku. Yup, orang yang sejak tadi
mengomentari gambaranku adalah Jorge Lorenzo.
"Ini adalah rumah idamanku, rumah yang selalu aku bayangkan sejak
lama," jawabku sedikit bangga. Saking seringnya aku menggambar rumah
itu sampai aku hapal setiap lekukannya.
Sebenarnya rumah yang aku desain biasa saja sih, mirip dengan rumah
bertipe minimalis modern yang sekarang sedang menjadi trend. Aku hanya
menambahkan sedikit aksen rumah eskimo di bagian atap teras dan sebuah
gazebo yang menyerupai bola.
"Sepertinya aku tak salah memilihmu," jawabnya sambil mengacak rambutku pelan.
Jantungku mencelos, benarkah itu tadi Jorge Lorenzo? Arsitek muda
terkenal yang tadi pagi menggandeng Emily? Kemudian ku beranikan
diriku melirik Emily and damn Jorge sudah berada disana dengan senyum
manisnya.
Ku remas kertas bergambar rumah idamanku tadi dan ku buang asal.
"Hei kenapa desain bagus ini kau buang?" aku hapal suara siapa itu
walau baru dua hari mendengarnya secara langsung.
Aku tak bersemangat untuk menjawab pertanyaan tadi.
"Kenapa kau lesu?"
Tak sengaja ekor mataku tertuju pada kemesraan Jorge dan Emily.
"Apa karena Jorge?"
Aku menggeleng lemah. Aku tak yakin, aku seperti ini karena Jorge,
arsitek yang aku kagumi, atau karena hal lain.
"Walaupun bukan karena dia sebaiknya kau perlu berhati-hati dengannya?"
Ku tatap mata coklat di depanku bingung. "Memangnya kenapa?"
"Nanti kau akan tau," dia lalu pergi dengan senyum misterius yang
susah aku artikan.
-bersambung-
haduh ff baru lagi padahal yang lama dilanjutin juga enggak. Ehem klu
buat What's your number udah ada sedikit ide cuma lagi males
ngembanginnya. Cuma kalau buat a part of my life aku bener-bener have
no idea mau ngapain si janda sialan itu *tabok* but i hope you like
this one. Thanks {{}}

Hei, ada apa dengan Jorge?? Kenapa harus hati-hati? Kayaknya Jorge agak misterius gitu yaa orangnya ._. Suka tokohnya Jorge sama Marc, apalagi kalo ada Dani gabung, hihihihi.. Next kak! :D
BalasHapusKenapa Jorge berbahaya? Karena Jorge suka bengbeng dingin sedngkan aku sukanya bengbeng langsung
HapusYey zi punya ff baru 😝😝 ku kira tdi ff ny tntang artis korea ternyta diriku slh mengira 😢 marc jorge jd patner gk kebayang deh tpi ysdh lh. Jorge sbnr ny playboy atau ap ni penasaran deh. Tpi enak jd hye eun awal" dpt marc uy next zii next
BalasHapusHahaha jorge ga playboy dia play group
HapusBagus Kak Zi....
BalasHapusFfnya keren....
Ada Jorge sama marcnya lagi....
Next kak Zi
Mkasih udh mu baca^^
HapusSeru kak Zi....
BalasHapusFF nya keren²....
Ada Jorge & Marc...
Lanjut Kak....
FF-nya keren kak Zi...
BalasHapusAda Jorge & Marc...
Lanjut Kak...
Makasih ya udh ngetag aku di twitter. Aku senang bgt.
BalasHapusAwalnya pikir ff korea eh ga taunya korea + motogp. Meski agak aneh sih karena orang barat kayaknya yang tahu Korea ga banyak. *Seketika bayangin Marc sm Jorge jadi fanboys-nya Sistar*
Tach mai badeh
Hapus