SpongeBob SquarePants

Kamis, 03 September 2015

What's Your Number? #2



31 Desember 2015

Vale dan Linda mengambil keberangkatan dimalam pergantian tahun. Malam dimana jutaan kembang api dilontarkan ke langit dengan saling bersahutan. Vale menatap bunga api itu diam, tangannya ia sentuhkan ke kaca pesawat yang menerbangkan mereka ke Milan.

Linda menatap Vale kasihan, kekasihnya itu sangat terpukul dengan kehilangan sosok adik yang sangat dibanggakannya.

"Tidurlah kalau kau lelah."

Ucapan Linda hanya berbalas senyum tipis Vale. Linda membalas senyum itu dan bersandar ke bahu Vale.

"Aku tahu ini berat. Tapi aku akan mencoba membantumu mengurangi bebannya."

Vale tersenyum dan mengusap puncak kepala Linda. Kemudian ia menengok ke bawah. Banyak bunga api yang di lontarkan ke langit, paduan warnanya membuat langit terlihat ceria. Tapi hatinya tak seindah langit malam pergantian tahun.


&&&&


Fabio dan Mei lanjutkan penyelidikan mereka. Sebenarnya dua polisieum lebih tepatnya hanya Fabioitu sudah frustasi karena bukti yang mereka dapatkan tidak valid dan membingungkan. Lagi pula, sepertinya kasus ini akan berlalu.

"Mei bagaimana kalau kita katakan saja ini kasus bunuh diri." Fabio tertunduk di salah satu sudut ruang kerjanya.

"Kalau kau mau mundur aku persilahkan dari sekarang, aku akan menyiasati nya sendiri."

"Tapi Mei kita punya banyak kasus lain?"

"Kita?" Mei menyerngit.

"Kita kan satu team Mei jangan sampai kau lupa."

"Memang kita satu team, tapi kalau kau memilih mundur sekarang ku persilahkan kau untuk cari patner lain," ketus Mei.

Fabio hanya diam, Mei adalah patner terbaiknya. Siapapun pasti ingin memiliki patner seperti Mei. Dia cerdas, teliti dan cekatan. Ditambah paras Jepang-Italy nya yang imut dan sexy serta body nya yang aduhai. Tentunya Fabio sangat senang saat dipasangkan dengan Mei walau hanya sebatas teman kerja.

"Lanjutkan saja penelusuranmu aku ingin membuat kopi. Kau mau?"

"Tidak terimakasih." Mei kembali berkutat dengan komputernya dan Fabio berjalan ke arah mesin pembuat kopi di lantai satu.

Saat berjalan ke lantai satu Fabio tak sengaja bertemu dengan Valentino Rossi. Sebenarnya Fabio tidak heran dengan tujuan Vale ke kantornya tapi tetap saja dia gemetar dekat dengan idolnya itu.

Fabio hanya menatap sang idola yang menggandeng gadis cantik yang sudah pasti adalah Linda.

"Sepertinya bertahan dikasus ini ada untungnya juga." Fabio tersenyum lebar.
Dengan kasus ini dia pasti akan banyak bertemu atau bahkan bisa menanyai idolanya tersebut. Dengan catatan Mei tak mendahuluinya.


&&&&


Marc dan Laia menghabiskan tahun baru mereka di Amsterdam. Entah mengapa pasangan itu memilih menghabiskan malam pergantian tahun di negri kincir angin. Tapi setidaknya disini mereka sedikit 'aman' dari media yang selalu mengekor.

"Kau lihat bunga api itu." Laia menunjuk deretan bunga api yang terlontar kelangit.

Marc tak menjawab. Ia malah menenggelamkan wajahnya di bahu polos Laia.
Yaps, dimalam pergantian tahun mereka hanya melewatkannya dengan berendam di kolam renang berdua sambil menatap langit yang menyala.
"Mereka lucu ya."

Lagi-lagi Marc masih membisu. Laia tetap dengan ocehannya tentang pemandangan dihadapannya.

"Semoga pergantian tahun berikutnya kita tidak hanya berdua." Laia membalik badannya dan menatap wajah Marc.

Marc tak berkutik. Sesungguhnya dia tahu maksud Laia dengan tidak berdua lagi. Dia bingung harus menjawab kekasihnya itu dengan kalimat yang mana dan bahasa yang seperti apa. Ia memilih bungkam.

Perlu pertimbangan matang untuk mewujudkan mimpi Laia yang satu ini. Terlebih sekarang ia sedang dipuncak karirnya dan pastinya akan banyak hujatan yang terlontar kalau sampai ia mengikuti permintaan Laia.


&&&&


"Anda kakak dari Luca?"

Sebenarnya pertanyaan Mei ini konyol. Bagaimana ia tidak tahu seorang Valentino Rossi padahal ia sudah tinggal di Italia sekitar limabelas tahun.

"Iya." Vale menjawab kikuk.

"Dari penyelidikan yang telah kami lakukan kami simpulkan ini kasus pembunuhan. Dan yang terpenting pembunuhnya menguasai kode binner."

Vale menatap bingung kearah Mei. "Kode binner apa?"

"Itu sebuah sistem komunikasi menggunakan angka."

"Oh." Vale dan Linda ber-oh ria serempak.

"Lalu apa kau sudah bisa menebak siapa pembunuhnya?"

Ini adalah pertanyaan yang sudah Vale simpan sejak tadi.

"Kami belum bisa memastikan siapa tersangkanya. Yang jelas dia sepertinya dekat dengan Luca karena pelaku bisa meninggalkan kode binnernya di photobook idol kesayangan Luca."

"Eum ngomong-ngomong soal komunikasi dengan angka aku sering melihat Luca menulis angka-angka aneh. Kau yakin itu tulisan pembunuhnya?"

"Aku yakin karena aku bisa membaca kode itu. Memangnya kenapa?"

"Tidak."

Semua orang diruangan itu diam. Dan Fabio masuk membawa segelas kopi.

"Baiklah kalau ada info lainnya segera hubungi aku. Dan ini nomor telpon ku." Vale menyerahkan secarik kertas dengan deretan nomor disana.

Fabio menatap idolanya yang berlalu keluar. "Kenapa dia sudah pulang?"

"Karena urusannya sudah selesai." Mei menjawab dengan cueknya.

"Kau tidak berusaha mencegahnya untuk sedikit saja lebih lama disini?"

"Untuk apa? Agar kau bisa minta tanda tangan dan foto bersama? Kau pikir ini jumpa fans apa." ketus Mei.

Fabio hanya menunduk diam. Tapi setidaknya Mei sudah mengantongi nomor rider pemegang juara dunia terbanyak itu.

"Kalau kau berpikir untuk meminta nomor Vale dan menghubungi nya untuk kepentingan diluar pekerjaan jangan harap."

Mei berlalu keluar dan Fabio memanyunkan bibirnya. Kesempatannya untuk dekat dengan Vale pupus sudah.


&&&&

Ping! Sebuah pesan masuk ke handphone Jorge. Pesan singkat yang menanyakan apakah dirinya bisa diajak bertemu sekarang dan Jorge menyanggupinya.

Jorge segera bergegas menuju tempat yang dimaksud. Sebuah kafe di dekat apartemennya di Barcelona. Kafe kecil yang sering menjadi tongkrongan anak gaul di sekitar sini.

Ternyata Jorge datang lebih cepat dari sang peminta janji. Ia menunggu sembari menikmati segelas latte yang baru saja ia pesan.

"Hai Jo." seseorang dengan suara imut memanggil Jorge.

"Hyun." Jorge langsung memeluk gadis dihadapannya.

"Miss you." Hyun membisikkan kalimat itu tepat di telinga Jorge.

"Miss you too." Jorge membalasnya hambar.

Hyun adalah cinta pandangan pertama Jorge dan cinta pertama Jorge. Jorge pertama kali bertemu dengan Hyun saat ia baru pertama kali masuk ke kelas 250cc. Saat itu Jorge bukan siapa siapa, ia hanya pembalap biasa. Bukan juara dunia seperti sekarang. Dan Hyun adalah seorang idol K-Pop yang tengah melakukan tour ke Jepang.

"Jo." pelukan Hyun semakin erat. "Kenapa kau memilih untuk menjadi seperti ini?"

"Apa maksudmu Hyun? Aku terlahir seperti ini. Menjadi seorang rider hebat dengan ketampanan ekstra."

Hyun mencubit pinggang Jorge pelan. Jorge hanya nyengir, sebetulnya ia sudah tau apa yang akan diucapkan Hyun.

"Jorge yang kau katakan tadi benar?" Hyun menatap mata abu-abu Jorge lamat. "Kau bisa mendapatkan wanita manapun dengan semua itu. Lalu kenapa kau memilih untuk menjadi seorang yang..." Hyun tak menyelesaikan kalimatnya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan.

"Gay kan? Katakan saja kalau kau mau tentang statusku yang sekarang, semua orang sudah mengetahui itu." Jorge menjawab dengan santainya.

"Kenapa kau memilih jalan ini?"

"Aku nyaman dengan semua ini. Aku menikmatinya."

"Tapikan Jo. Kau tidak terlahir dengan gen gay kan? Aku masih ingat ketika kau bercerita padaku tentang seorang gadis yang kau sukai saat kau masih dikelas 250cc."

"Hanya dia wanita yang aku idamkan Hyun. Dan gadis itu kini telah pergi."

"Kemana?" Hyun bertanya dengan polosnya.

Jorge kelu untuk menjawab. Rasanya ia ingin berteriak kalau gadis sepuluh tahun yang lalu itu adalah dirinya. Hyun.

"Entahlah." Jorge dengan santai menyeruput lattenya.

“ Jo, aku berharap kamu dating. Ini konser pertamaku setelah keluar dari grup.” Hyun menyerahkan secarik tiket konser. Jorge menatapnya dengan malas. Dia sudah tahu kalau disana nanti akan banyak sekali pria yang akan meneriakkan nama Hyun.

Hyun keluar dari kafe itu, Jorge menyeruput latte terakhirnya dan beranjak pergi. Satu yang akan ia ingat hari ini. Seorang Jo Hye Eun atau Hyun, tidak akan pernah dimilikinya.

Sebuah kenyataan pahit yang harusnya ia sudah ketahui sejak pertama bertemu dengan Hyun sepuluh tahun lalu.


&&&&


Malamnya Jorge tetap memenuhi permintaan Hyun untuk dating ke konsernya. Suasana riuh yang sudah lama akrab dengan Jorge ia lewati dengan santai. Seperti dugaannya banyak pria yang datang ke konser Hyun.

Jorge memaklumi itu, Hyun adalah seorang idol k-pop yang terkenal dengan image sexy nya semenjak debut. Wajar kalau dia memiliki banyak fans pria, tapi bukan berarti tanpa fans wanita. Karena Jorge melihat banyak juga fangirls yang datang ke konser dengan atribut lengkap.

Hanya dia yang datang hanya dengan dua carik kertas. Satu tiket dan satu kertas yang akan dia berikan kepada Hyun di belakang panggung nanti.


01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101.





-bersambung-


Huwaaa maaf baru bisa lanjut soalnya sibuk banget sama pra ospek, ospek, pengenalan prodi. Pokoknya lagi sibuk banget (beneran sibuk bukan pura-pura loh ya) maaf banget atas ketelatannya dan makasih buat yang nunggu *deep bow*^^



7 komentar:

  1. Kok yang diatas rasanya kayak pernah lo posting deh kak? Apa sengaja biar gak lupa?

    BalasHapus
  2. Udah lama gak baca ini.. makin seru nih, masih belum tau siapa pembunuhnya. Bikin penasaran. Eh, Jorge selaluu.. senyum-senyum sendiri ngebayangin Jorge, haha.

    BalasHapus
  3. Mbb zii,makin seru aj ni cerita gk sabar next part bkl kyk gmn... bg jorge atgfirullah luar biasa 😂😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. jorge mah cowok idaman disitu... idaman homo

      Hapus
  4. Kancrut si Jojo tambah parah udah Vale Hyun lagi. Eh itu kode biner setelah paragraf terakhir punya Jo ya? Jangan jangan Jojo yang .... *lirik lirik misterius*
    Ane tungguin updetnya gan, yang ente sama si Ian Ian itu juga diupdate dong, wkwkwk maksa ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ini bukan Afgan, bukan juga Megan apalagi agan-agan kaskuser. btw makasih ya gan buat komenannya, tapi tenang aja yg bunuhbelum ketahuan jd silahkan berspekulasi

      Hapus