SpongeBob SquarePants

Kamis, 21 Agustus 2014

El-Love-Classico-Ketika Cintaku Salah Assist Part 10 [END]

Huwaa ini last part buat El-love-classico makasih buat yg setia membaca/? Disarankan saat baca part ini sambil dengerin lagunya Usher yang Separated biar makin nyes/?

&&&&

Morata memasuki apartementnya dengan gontai. Kepalanya pening. Bau alkohol juga menyeruak dari bibirnya.
" Mor kamu gapapa kan?" Myla menahan tubuh Morata yang hampir ambruk.
" Zi…"
" Kamu mabuk?" Myla membulatkan matanya ketika bau alkohol menyeruak.
" Zi…."
" Kenapa dengan Zi?"
" Aku menceraikannya… tidak dia memintaku menceraikannya."
" Kamu serius?"
Morata hanya menganggukkan kepalanya. Myla masih tidak bisa mempercayai perkataan Morata.
" Aku memang sedang dalam pengaruh alkohol Myl, tapi aku sadar sama apa yang aku ucapkan." mata sayu Morata menatap dalam Myla. Yang ditatap hanya menunduk.
" Mau aku ambilkan air putih Mor?"
" Eum…" Morata mengangguk.

&&&&

" Zi….." Bartra melambaikan tangannya saat Zi berjalan ke arah cafeteria.
Zi balik melambaikan tangannya ceria, tapi saat melihat ekspresi Neymar disebelah Bartra dia menurunkan tangannya ragu. Mimik wajah Neymar berubah saat melihat Zi.
" Kok jarang sama Morata lagi Zi?" Bartra menyenggol bahu Zi.
Mendengar nama itu wajah Zi berubah, matanya menahan tangis. " Aku… Udah pisah." Zi mengucapkannya dengan volume yang sangat pelan.
" Kamu cerai?"
Teriakan Bartra sukses membuat beberapa orang yang ada di cafeteria menoleh, tak terkecuali Neymar yang langsung menengok saat Bartra menyebutkan kata 'cerai'.
" Kamu serius Zi?"
" Takdir." Zi menjawab enteng.
Disela-sela kesibukannya dengan handphone(?) Neymar melirik Zi yang tersenyum ke Bartra, dan Bartra yang masih pucat karena shock.
" Oh ya bulan depan aku sepertinya bakalan balik ke China."
" Kuliahmu Zi?"
" Akan kuteruskan di China, pamanku memberiku penawaran untuk magang di rumah sakit miliknya." Zi mengangkat kedua bahu nya.
" Kamu bakalan balik ke sini kan Zi?" Bartra menghembuskan napas lemah(?).
" Kalau untuk liburan mungkin iya kalau buat menetap sepertinya enggak deh."
" Yah ga ada Zi lagi."
Sontak Bartra memeluk Zi. Zi merasakan airmatanya menetes. Ternyata masih ada orang yang menerimanya.
Manik mata Zi menatap Neymar yang masih tidak beralih dari tempatnya dan masih dengan posisi yang sama. Perih. Padahal ia mengharap pelukan dari pria itu.
" Pesanlah apa yang kalian mau, aku traktir."
" Serius Zi?"
" Eum… Ini hari terakhirku dikampus."
Neymar otomatis menoleh. Zi pergi? Zi benar-benar pergi?

&&&&


To : Myla

Selamat ya Myl anakmu udah lahir kkk~

Zi mengirim pesan saat tau anak Myla―dengan Morata―telah lahir. Bahagia? Tentu. Sedikit kecewa? Mungkin.

From : Myla

Terimakasih Ya Zi ^^

To : Myla

Boleh aku bertemu?

Myla menggigit bibir bawahnya. Apakah ia harus mengizinkan Zi datang menemuinya―dan pastinya akan bertemu Morata juga.

From : Myla

Baiklah.

Dengan segera Zi mengambil tas nya dan bergegas keluar rumah untuk mencegat taksi. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Myla dan Morata tentunya.

&&&&

" Myla…" Zi langsung memeluk Myla saat menemukan ruangan Myla.
Morata melihat kerukunan―istri dan mantan istrinya―itu dengan lemah. Andai mereka berdua masih miliknya. Ah tidak, itu akan membuat Zi terluka.
" Oh ya Zi selamat buat kehamilannya."
Zi memaksakan senyum sambil melirik Morata. Dan diamnya Morata juga melirik Zi, mencoba mencari tau bagaimana reaksinya.
" Denger-denger mau balik ke China Zi?"
" Iya Myl, aku berangkat besok."
" Besok?" Myla membulatkan mata.
" Iya besok jam sembilan pagi."
" Kenapa cepat sekali." Myla memukul pelan bahu Zi.
" Hanya itu tiket yang aku dapat untuk penerbangan dalam waktu dekat ini."
" Enjoy your flight darl." kini giliran Myla yang mendekap erat Zi.
Pandangan Zi dan Morata saling bertemu. Dari tatapan itu bisa disimpulkan kalau mereka satu sama lain saling mengatakan "Selamat tinggal."

It's foolish but you know I'm this kind of girl
So please, this is my last favor
If you ever run to me
Will you please smile at me, who can't  forget you?
[ Jiyeon - 1Min 1Sec ]

&&&&

Zi masih menunggu anak-anak Barca menyelesaikan latihannya dipinggir lapangan. Karena banyaknya pemain Barca berserta staff nya yang kenal dengan Zi makanya dengan mudah ia keluar masuk area latihan bahkan loker room.
" Ney…" Zi melambaikan tangannya ke Neymar saat seluruh latihan telah berakhir.
Tapi apa yang Zi terima, hanya sebuah tatapan singkat dan sikap dingin dan acuh Neymar. Bartra yang melihat Zi mendunduk setelah dicampakkan Neymar langsung berlari kecil kearah Zi.
" Zi… Udah lama?"
" Baru kok." tentu saja Zi bohong karena ia sudah disitu sejak dua jam yang lalu.
" Ada perlu?"
" Eung bilangin ya ke Neymar aku berangkat besok pagi, kalau dia masih menganggapku teman datang kerumahku nanti malam. Ada yang mau aku sampaikan."
" Baiklah nanti aku bilangin ke Neymar. Oh ya mau aku traktir?"
" Nggak usah, aku harus balik ke rumah."
" Oke…"


----


" Ney." Bartra menepuk pundak Neymar.
" Eung…"
" Besok pagi Zi berangkat ke China."
Hati Neymar seperti terjatuh, secepat inikah Zi kembali ke China? Bahkan sebelum kuliahnya Selesai.
" Lalu?" Neymar mencoba untuk tidak menaruh minat.
" Dia bilang kalau kamu masih menganggapnya teman datanglah malam ini kerumahnya. Katanya ada yang mau dia sampaikan."
" Memangnya siapa yang perlu? Cih." Neymar tersenyum sinis.
" Datanglah, buang egomu yang sebesar Titanic itu." Bartra mencibir Neymar.
"  Sudahlah ini urusanku." Neymar sedikit membentak Bartra yang sudah melenggang keluar pintu.
" Aku hanya memberi saran, datangi Zi sebelum terlambat." suara Bartra perlahan menghilang, tinggal Neymar yang masih menunduk dalam hening.


----


Jam sembilan Malam Neymar masih bimbang, memberhentikan mobilnya didepan jalan rumah Zi. Rumah itu nampak kosong, hanya lampu ruang tamu yang terlihat menyala. Sambil terus memegangi tangannya yang mulai basah akibat keringat dingin. Neymar mencoba meyakinkan dirinya dalam hati.
" Ayolah, hanya menemui Zi. Bahkan ini bisa yang terakhir."
Neymar memegangi ponselnya mencoba menghubungi Zi. Ditekannya dial number 2. Suara sambungan terhubung.
Sementara disini lain Zi langsung terlonjak kaget saat nama yang beberapa bulan ini jarang sekali ia temui dilayar handphone nya kini muncul kembali.
" Ney?"
Tidak ada jawaban sama sekali
" Ney? Kamu disana?"
Tuutt tuttt tuuttt. Bunyi sambungan telepon terputus. Zi menatap layar handphone nya lemas. Apa Neymar hanya membuatnya menunggu seperti ini.
" Why you wont talk with me?"

&&&&

Pukul tujuh pagi Zi sudah sampai di Bandara. Tidak ada seorangpun yang bersamanya. Hanya sebuah pesan dari paman Zhang kalau ia akan dijemput saat tiba nanti.
Zi menangkupkan kedua tangannya kedinginan. Sedikit uap dari napasnya menambah kesan sunyi didiri Zi.
Dari kejauhan sepasang mata memandang kearah Zi―hanya kearah Zi. Dipelupuk itu sudah bergelayut kristal-kristal airmata yang hendak mengalir.
" Zi?" Zi refleks menoleh. Senyum Morata menyambutnya.
Sepasang mata yang dari tadi memandangi Zi dari kejauhan semakin menumpukkan butiran-butiran airmata yang semakin jelas.
Morata memeluk Zi saat gadis itu sudah masuk jangkauannya(?).
" Jaga dirimu baik-baik ya Zi… Suatu saat aku pasti akan menemuimu lagi." Morata mengeratkan pelukkannya.
" Jaga Myla ya…" Zi membalas dekapan erat Morata.
Kini Morata beralih menatap intens mata sipit milik Zi. Yang ditatap hanya gelagapan. Seperti kebanyakan kisah di novel maupun film, Morata mengecup pelan bibir mungil Zi. Kecupan terakhirnya.
Pemilik sepasang mata yang sedari tadi memandangi Zi dari kejauhan membantik sebuah benda kecil yang sejak tadi ia genggam di tangan kanannya.
Ya, Neymarlah yang sejak tadi memandang Zi dari kejauhan. Neymar datang kebandara hanya untuk memberikan sebuah cincin pemberian ibunya dulu. Ibunya selalu bilang bahwa cincin itu hanya kepada wanita yang ia cintai―sangat-sangat ia cintai.
Seperti sudah ditakdirkan, semua kejadian dibawah langit memang sudah memiliki kepastian. Dan tak pernah bisa ia miliki Zi juga telah menjadi sebuah kepastian.

&&&&


Whered you go? You said you never leave me
All alone, my heart is barely beating
Like a ghost you haunt me everyday, that you're gone
I'm not the same, now something went missing
There's a cage, it feels like a prison
Here, I stay until you comeback home…
[ The Cab - Lovesick Fool ]

Lagu itu bergelayut manja selama limabelas menit pertama saat didalam pesawat ditelinga Zi. Kenapa hanya limabelas menit? Karena berjam-jam selanjutnya Zi sudah tertidur pulas.

&&&&

*** 18Tahun kemudian***

Rho Morata memperhatikan seorang gadis seusianya tengah menyeret sebuah koper lumayan besar bergambar hello kitty. Wajah gadis itu sangat Asia tapi entah kenapa wajah gadis itu nampak sangat tidak asing.
Kemudian datang lagi sepasang suami-istri―seumuran dengan ayah-ibu Rho―yang berwajah sangat Asia, kemungkinan terbesar kedua orang tua gadis tersebut.
" Lim… Jalanmu lambat sekali." Zi menjitak pelan kepala Yelim Wang―anaknya, dengan Morata.
Manik mata Zi tak sengaja menatap wajah anak muda yang tidak asing baginya. Wajah itu mengingatkannya pada satu hal. Morata. Ngomong-ngomong bagaimana kabar pria itu? Apakah berubah setelah delapan belas tahun.
" Eomma melihat apa?" Lim menengok kebelakang menatap wajah cowok yang sepertinya sejak tadi diperhatikan Zi.
" Tidak teruslah." Zi mendorong bahu Lim menyusul appa nya yang sudah jalan duluan.
" Eomma kira-kira bagaimana wajah Pyo dengan Rho ya?"
Lim membayangkan wajah kedua adik kembarnya yang sudah sekitar duatahun tidak ia temui karena memilih untuk bersekolah di Spanyol. Sedangkan ia sibuk dengan sekolahnya di Jerman.
" Oh ya eomma, eomma bilang aku punya kakak? Tapi kenapa eomma tidak pernah mengenalkannya padaku?" Lim seketika teringat dengan cerita eomma nya tentang 'kakak'nya.
Zi menoleh kebelakang, remaja tadi sudah tidak ada. " Nanti akan eomma ceritakan saat sampai di Spanyol."


----


" Perhatian kepada seluruh penumpang pesawat Asia Airlines dengan nomor penerbangan A165 tujuan Berlin-Guangzhou agar segera menuju ruang tunggu…."

Saat mendengar suara pengumuman keberangkatannya menuju Guangzhou Rho langsung bergegas keruang tunggunya.

" Akhirnya aku bertemu juga dengan adikku, Yelim aku datang." Rho mengembangkan senyumnya.
Baik Lim maupun Rho tidak ada yang tau kalau mereka tidak perlu melintas benua untuk bertemu. Yelim sudah limatahun belakangan tinggal di Jerman dan baru saja mereka saling tatap, berada dibawah naungan langit yang sama, menghirup udara yang sama. Takdir kah ini?



-END-

Gimana? Ga sesuai harapan? Pastinya(?). Makasih buat semua yang udah ngikutin FF ini dari awal. Ga nyangka bakalan habis kkk~ Maybe it’s my last FF. Maybe


































Sabtu, 09 Agustus 2014

El-Love-Classico-Ketika Cintaku Salah Assist Part 9



Tittle : Cant Choose one
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter
Kylie Mourinho
Demylia Sanchez
Neymar
Alvaro Morata
Other.

Sorry labil, tapi disini ceritanya Neymar-Bruna putusan /bakar mercon/

&&&&

Myla dan Morata masih menunggu kata-kata apa yang akan terlontar dari mulut Zi.
" Aku cuma pingin Morata menikahi Myla" kalimat Zi menggantung, " dan aku."
Jleb. Dua kata terakhir Zi mampu meruntuhkan kebahagiaan Myla beberapa detik sebelumnya.
" Oke aku tau aku egois, aku terlalu ingin memiliki Morata. Aku mencintai Morata terlalu berlebihan? Memang. Ini karena aku sayang." Zi menangis diatas ranjang rumah sakit dengan tangan yang masih berhiaskan selang infus.
" Kalau kamu gak bisa nikahi aku secara sipil."
Belum selesai Zi berbicara Morata langsung memotongnya dengan sebuah pelukan hangat, " Aku akan menikahi kalian berdua."

&&&&

Myla POV
PERIH. Kenapa dunia tidak pernah adil padaku. Huh, semuanya seperti berjalan indah pada Zi. Menyenangkan, selalu mendapat apa yang ia mau. Terutama mendapatkan Moratalelaki yang sama-sama kami cintai.
Morata selalu melihatnya, selalu menyayanginya. Padahal pertemuan mereka terbilang baru. Aku? Selalu dipandang sebelah mata oleh laki-laki tampan itu.
Bahkan disaat seperti ini Morata masih mementingkan Zi ketimbang aku yang mengandung anaknya. Well, walau bayi ini hasil kecelakaan tetap saja kan ini anak Morata.
Mor lihatlah aku sekali saja. Kali ini saja.

&&&&

Morata POV
Aku boleh mengambil keputusan terberat saat ini. Mungkin bagi beberapa laki-laki diluar sana, posisiku sangat mereka dambakan saat ini. Direbutkan dua wanita cantik. Dan dua-duanya memintaku menikahinya.
Tapi bagiku ini dilema, Zi wanita yang sangat aku sayangi. Myla, sahabat kuyang sedang mengandung anakku.
" Arrrgghhh." aku menjambak rambutku sendiri. Kamar apartement acak-acakan setelah aku hambur(?).
" Zi kenapa kamu meminta hal seperti ini? Kenapa Zi?" aku menatap nanar sebuah bingkai foto. Foto Zi tengah tersenyum dengan pose Vfoto Zi saat masih SMA.

&&&&

Zi POV
Sekarang mungkin akulah orang paling egois didunia ini. Memisahkan dua insan manusia yanghampirberjodoh. Tidak tidak.. Morata jodohku. Walau kiamat sekarang Morata jodohku.

&&&&

Author POV
" Ky kamu benar akan ke London?" Myla membantu Kylie mengepak barang-barangnya yang akan ia bawa pindahan ke London. Menyusul ayahnyasebenarnya menyusul pacarnya.
" Ya kau tau, Cesc sudah beberapa waktu lalu pindah ke London dan urusanku disini baru selesai sekarang." Kylie menjawab cuek sambil terus mengepak baju-bajunya.
" Aku gak punya temen dong." Myla memanyunkan bibirnya.
" Kamu kan mau menikah sayang, Morata pasti akan menemanimu." Kylie mencubit pipi Myla gemas.
" Dan Zi juga." Myla berucap pelan.
" Ayolah Myl Cerialah." Kylie tersenyum tiga jari.
Mau tak mau Myla ikut tersenyum karena kelakuan sahabatnya.
" Baiklah kita selesaikan ini, lebih cepat maka lebih banyak waktumu untuk istirahat."
Kylie sumringah melihat senyum terkembang di bibir Myla. Akhirnya dia tersenyum juga.

&&&&

Pernikahan Zi-Morata-Myla dilakukan secara sangat sederhana karena hanya dicatat di catatan sipil tanpa sebuah acara pesta resepsi.
" Mor maaf ya aku langsung balik Barcelona lagi." Zi langsung pamit undur diri(?) saat Mereka bertiga baru akan kembali ke apartement Morata.
" Kenapa Zi?" Myla menatap Zi sendu.
" Tugas-tugas aku numpuk jadi aku harus balik ke Barcelona." Zi memegangi tengkuknya.
Morata melihat kilat kebohongan dipelupuk mata Zi. Tapi dia tak bisa mencegah kalau Zi memang mau kembali ke Barcelona.
" Hati-hati di jalan ya Zi." Morata mengecup pelan puncak kepala Zi.
Zi hanya tersenyum lalu memeluk erat Morata, " Da" Zi melambaikan tangannya sebelum memasuki mobil putih mungil miliknya.
" Ayo kita pulang." Morata meraih pinggang ramping Myla. Bahkan hanya dengan diperlakukan seperti itu Myla sudah merasakan jutaan kupu-kupu berterbangan didalam perutnya.

&&&&

Sesampainya di rumah Zi langsung menceburkan diri kedalam bathtube, menenangkan syaraf-syaraf nya yang penat dengan semua pikiran yang berkecamuk dipikirannya.
Limabelas menit waktu yang Zi butuhkan untuk berendam. Usai berendam Zi langsung berpakaian lalu menonton tv.

Tokk tokk tokk.

" Siapa?" Zi masih belum beranjak dari sofa.
" Aku." tanpa jawaban lebih Zi sudah tau siapa yang ada dibalik pintu itu.
Senyum Neymar menyambut Zi saat ia membuka pintu.
" Selamat ya Zi." Neymar langsung memeluk erat tubuh mungil Zi. Zi yang dipeluk hanya melongo kebingungan.
" Kamu kenapa?"
Neymar memasang wajah datar. Tanpa menggubris Zi yang masih bingung didepan pintu. Dengan santainya Neymar melewati Zi lalu duduk di sofa.
" Zi kamu sakit?"
Pertanyaan Neymar menyadarkan Zi dan buru-buru ia menyusul Neymar yang tengah duduk disofa nya. Zi memegangi tengkuknya karena gugup. Betapa idiotnya dia tadi.
" Morata kemana?" Neymar celingukan mencari sosok Morata yang memang tidak ada.
" Dia di Madrid." Zi menjawab lemas.
" Ya, kamu ini. Bagaimana bisa sepasang pengantin baru pisah rumah?" Neymar menatap Zi tak percaya.
" Tugas kuliahku banyak yang tertunda. Jadi aku 'pinjamkan' dulu dia pada Myla. Toh pasti Myla butuh Morata disebelahnya, kalau-kalau dia mendadak nyidam(?)." Zi menangkupkan kedua tangannya ke wajah. " Sudahlah Ney, aku butuh ketenangan. Kalau kamu kesini hanya mau mengusikku sebaiknya pulanglah."
Dengan gerakan refleks Neymar malah langsung memeluk Zi, membuat gadis itu senyaman mungkin didalam dekapannya. " Kalau kamu punya masalah ceritalah Zi." Neymar mengelus pelan rambut Zi.
" Mungkin bukan sekarang." Zi melepaskan dekapan Neymar. Berlalu menuju kamarnya.
Neymar tau itu tanda kalau Zi memang sedang ingin sendirian. Menenangkan otaknya yang penat. " Zi jaga dirimu baik-baik ya."
Suara pintu tertutup. Neymar sudah keluar dari apartement Zi. Dengan sisa tenaga nya Zi menumpahkan semua airmata yang sudah memenuhi pelupuk matanya sejak tadi. Tangis yang selama ini ia tahan tertumpah sudah.
" Ya tuhan apa ujian ini masih akan berlanjut?" baju kaos yang tadi dikenakan Zi sudah penuh dengan airmata.

&&&&

" Apa kamu sudah menghubungi Zi?" Myla melihat kegelisahan diwajah Morata. Suaminyasuami Zi jugaitu terlihat lesu sambil sesekali mengacak-acak rambutnya.
" Belum. Nomor Zi tidak bisa dihubungi sama sekali." Morata makin mengkucelkan wajahnya(?).
" Coba kamu hubungi teman terdekatnya." Myla tidak mencoba menyebutkan nama teman dekat Zi, karena pasti Morata juga akan tertuju pada satu nama. Neymar.
Melihat Morata yang tak kunjung menyentuh handphone nya untuk menghubungi seseorangyang bisa dimintai informasi tentang ZiMyla diam-diam mengirim sebuah pesan singkatmenggunakan salah satu aplikasi chatpada Neymar.
" Aku baru saja memberi pesan Neymar lewat li*ne." Myla menyentuh pelan bahu suaminya itu. Morata memandang sejenak kearah Myla. Setidaknya Myla juga peduli pada Ziatau padanya.
" Kamu gak tidur Myl? Ibu hamil gaboleh tidur larut loh." Morata mengacak gemas rambut Myla.
Myla memanyunkan bibirnya, " Rusak kan rambutku."
" Gapapa kok, makin cantik."
-blush- pipi Myla memerah. Astaga, hanya diperlakukan seperti itu oleh Morata, Myla sudah blushing. Myla menundukkan wajahnya menahan malu, apalagi kalau sampai Morata melihat pipinya yang memerah.
Myla terlonjak ketika tiba-tiba Morata menggendongnyaala bridal stylesontak ia langsung mengalungkan tangannya ke leher Morata.
" Apa aku tidak berat?"
" Kamu ringan seperti bulu, sayang."
Lagi-lagi perlakuan Morata membuat pipinya semakin memerah. Morata merebahkan Myla diranjang king size mereka.
" Tidurlah." Morata mengecup pelan kening Myla. " Eung, Myl"
" Iya?"
" Minggu depan aku boleh ke Barcelona?"
Myla sedikit merasakan kekecewaan. Walau Morata sekarang pintar membuatnya melayangsembari merasakan kupu-kupu yang beterbangan diperutnyaternyata Morata yang sekarang masih seperti itu. Otaknya penuh dengan hal-hal yang berhubungan dengan satu nama. Zi.

&&&&

Morata menyulap apartement Zi menjadi lebih romantis. Lilin dimana-mana, bau mawar semerbak mengisi seluruh ruangan. Belum lagi kamar Zi yang penuh dengan kelopak bunga mawar.
" Zi pasti akan senang, satu jam lagi pasti dia pulang dari kuliahnya."
Morata hanya bilang kalau sekitar jam 5sore nantisekitar satu jam dari sekarangia akan menghubungi Zi melalui skype. Sudah pasti Zi akan pulang karena gadis itu sedang tidak membawa laptop hari ini.

-----

Saat Zi membuka pintu, lampu dirumahnya langsung mati. Tinggalah temaram cahaya lilin-lilin yang tadi Morata susun rapi(?).
" Kamu suka Zi?" Morata menaikkan sebelah alisnya
Tanpa berkata apa-apa lagi Zi langsung menubruk Morata. Memeluk pria dihadapannya erat sambil menitikkan airmata.
" Kamu nangis?"
" Aku bahagia."
Zi masih belum mengalihkan wajahnya didada bidang Morata. Walau menghindar sebenarnya Zi sangat merindukan Morata. Merindukan pelukan pria itu, merindukan suaranya yang selalu terdengar lembut dan semua yang ada pada Morata.
" Jangan ngindar lagi ya." Morata mengacak pelan rambut Zi. Zi mengangguk kecil. " Yuk makan, aku udah buatin kamu makanan."
" Really?"
" Tapi aku gatau enak apa nggak nya." Morata menjawab ragu.
Morata menggandeng Zi ke ruang makan. Tak berbeda jauh dengan ruang tamunya tadi. Ruang makan Zi juga telah Morata sulap, walau tak banyak lilin-lilin kecil tapi warnanya berubah jadi sedikit pink karena kelopak-kelopak bunga mawar pink yang Morata tebar.
Lagi-lagi Zi menitikan airmatanya bahagia, makan malam romantis yang lama ia inginkan.
" Like that MV right?" Morata menanyai Zi dengan sedikit seringaianyang tidak Zi perhatikan.
Zi hening menatap Morata, " MV yang mana?"
" Yang di laptopmu. Aku tidak tau judulnya. Bukan bahasa Spanyol sih."
" Oh." Zi berlagak sok tau, padahal dia tidak tau MV apa yang Morata maksud. Ada ratusan MV di laptopnya, sebagian besar tidak sering ia tonton. Mana ia ingat. " Mari makan, aku sudah sangat lapar."
" Baiklah." Morata memberi senyum terbaiknya. " Kalau tidak enak bilang ya."
Zi memasukkan sepotong daging yang baru ia iris. Asin. Itulah rasa pertama yang ia rasakan " Enak kok Mor, lain kali masak lagi ya." Zi tersenyum, " Tanpa garam berlebih." tambahnya dalam hati.
Selesai makan Zi melirik jam tangan kecilnya. Sudah pukul 19.00 rupanya. Saatnya mengerjakan tugas.
" Mor" Zi terlonjak ketika Morata tiba-tiba menggendongnya ala bridal.
" Kenapa? Kaget?" Morata tersenyum seduktif.
" Aku tidak suka digendong seperti ini. Turunkan."
Dengan berat hati Morata menurunkan Zi, " Lalu kamu mau digendong seperti apa?"
" Berbalik."
" Apa?"
" Kamu mau menggendongku apa tidak?"
" Kamu minta gendong belakang?"
" Eum" Zi mengangguk.
" Naiklah."
" Nah seperti ini lebih mengasyikkan."
" Tapi ini kurang romantis." Morata melayangkan protesnya.
Saat sampai didepan kamar Zi Morata membukanya hanya dengan medorongkan tubuhnya. Tentu saja semua ini telah Morata setting sedemikian rupa.
" Kamu benar-benar melakukannya." Zi menatap ke arah ranjangnya yang penuh dengan kelopak bunga.
" Mawar merah romantis untuk bulan madu. Maaf tidak bisa membawamu pergi kesuatu tempat yang ideal."
" Ini lebih dari segalanya." Zi mengecup pelan pipi Morata.
Merasa sudah mendapat izin, Morata langsung mencium bibir Zi. Awalnya hanya lumatan-lumatan pelan, tapi lama kelamaan lumatan diantara mereka semakin liar dan kasar.
Karena kehabisan napas Zi mendorong tubuh Morata.
" Kenapa? Kau tidak suka?"
" Aku kehabisan napas."
" Bisa aku lanjutkan?" seringai Morata membuat Zi luluh. Gadis itu mengangguk
Morata membimbing Zi menuju ranjang yang penuh kelopak bunga tadi, " Kamu siap?"
" Eum" Zi mengangguk, " Tapi Mor"
" Iya?"
" Lakukan dengan pelan ya, kau taukan ini pengalaman pertamaku?"
" As you wish baby." Morata mengecup pelan kening Zi.
Malam itu disela-sela adegan erotis mereka, diantara suara desahan yang beradu. Morata telah resmi memiliki Zi(?).

I can't do anything because of you all day
I think my heart has been taken away by you
It's as if you're right next to me
My heart is drunk with thoughts of last night
I can't sober up, it's all because of you
I'm going crazy, I want you
I want to have you, I want to touch you
I'm falling for you, deeper and deeper
[ 2PM - All Day Think Of You ]

&&&&


Your eyes, nose, lips
Your touch that used to touch me,
To the ends of your fingertips
I can still feel you
But like a burnt out flame
Burnt and destroyed all of our love
It hurts so much
But now I'll call you a memory
[ Taeyang - Eyes Nose Lips ]

Neymar menatap keluar jendela apartement nya, baginya semua kini kosong. Dia sudah kehilangan dua orangwanitasekaligus. Brunagadis yang mencintainyadan Zigadis yang ia cintai.
" Tuhan pasti punya rencana untukku." ia bergumam sambil menyesap kopinya. Headset masih terpasang ditelinganya. Mendengarkan lagu yang sesuai dengan isi hatinyalagu yang memiliki lirik menyayat hati.
" Kapan aku bisa lepas dari bayang-bayang kalian berdua, huh?"
Ditatapnya langit yang mulai mendukung, bahkan langitpun ikut sedih. Apa benar? Matanya nanar, butir-butir kristal mulai menyusuri pipinya. Menumpahkan kesedihan dengan caranya sendiri.

&&&&

*Tujuh bulan berlalu*
Disebuah malam dirumah Zi, Morata dan Zi sedang menyantap makan malam mereka dengan hening. Morata merasakan hal yang aneh pada diri Zi belakangan ini.
" Mor, aku ingin bicara."
" Bicaralah."
" Aku ada hadiah untukmu." Zi masih memasang wajah datarnya.
" Hadiah?" Morata membulatkan matanya senang.
Zi menyerahkan sebuah testpack dan selembar data USG.
" Zi kamu hamil? 3minggu?" Morata semakin tak bisa membendung kebahagiannya.
" Aku juga ada permintaan."
" Katakanlah." Morata tak bisa menghentikan senyumnya.
Kali ini Zi menyerahkan beberapa lembar kertas, " Aku minta kamu menandatangani ini."
" Su surat cerai?" Morata menatap heran Zi, bagaimana bisa istrinya ini menerbangkannya lalu menjatuhkannya dalam sekejap.
" Kamu gak bercanda kan Zi?"
Zi masih bergeming, ia malah menyerahkan beberapa kembar kertas dengan tulisan-tulisan bernada mengancam.
" Siapa yang mengirimi semua ini Zi?"
Lagi-lagi Zi hanya diam dan malah menyerahkan sebuah kertas lagi pada Morata.

" Jauhi anakku, atau kamu akan kehilangan dia dan bayimu."

Zi menyerahkan satu kertas lagi.

" Ceraikan anakmu, kalau kamu ingin bayimu selamat."

" Jadi ini ulah ibuku?"
Zi mengangguk mengiyakan. " Ibumu menginginkan aku menggugurkan anak ini kalau aku memilihmu, dan aku menolaknya."
" Tapikan kita bisa membuatnya lagi(?)."
" Apa kamu pikir hidupku akan berakhir seperti ini? Hamil-menggugurkannya-hamil-menggugurkannya? Aku juga ingin bahagia Mor, aku juga ingin punya anak? Dan aku tau kalau aku memilih jalan bersamamu aku tidak akan pernah menjadi seorang ibu." Zi berteriak dalam tangisnya yang pecah. Tangis yang sejak tadi ia tahan.
" Kenapa kamu gak pernah bisa jadi ibu kalau memilih denganku?"
" Kamu tidak peka? Ibumu tidak mau kamu punya anak dariku, dia tidak mau memiliki cucu dari rahimku."
" Tidak mungkin, ibu menyayangimu."
" Itu yang kamu tau. Ibumu beranggapan aku yang merebut kebahagiaan Myla. Aku tau aku salah tapi haruskah aku terjebak seperti ini?"
Morata memeluk Zi erat, jadi selama ini istrinya tertekan karena perilaku ibunya sendiri?
" Aku kan mengikuti keinginanmu, jaga bayiku."
Zi menghentikan tangisnya, mengelap airmata yang mengalir dipipinya. " Terimakasih Mor, terimakasih sudah pernah menjadikanku serpihan kisah hidupmu."
" Serpihan yang paling aku sayang."
" Maaf kalau beberapa waktu belakangan ini aku mengecewakanmuberlalu dengan yang lain. Karena aku tertekan dengan ibumu."
" Sekarang aku mengerti."


Aku tau ini semua tak adil
Aku tau ini sudah terjadi
Mau bilang apa akupun tak sanggup
Airmatapun tak lagi mau menetes
….
Jujurlah sayang aku tak mengapa
Biar semua jelas tak berbeda
Jika nanti aku yang harus pergi
Kuterima walau sakit hati
[ Repvblik – Sandiwara Cinta ]



Huah gimana? Alurnya kecepetan? Feelnya gadapet? Jujur lagi bingung ide ini kkk~ Kayaknya ini FF bakalan habis 1-2 eps(?) mendatang. Yesh(?).