Tittle
: Wedding Dress
Rating
: T aja deh :D
Genre
: Romance seperlunya komedi
Cast
:
Hwang
Zia Carter
Kylie
Mourinho
Demylia
Sanchez
Bruna
Marquezine
Neymar
Alvaro
Morata
Cesc
Fabregas
Cristian
Tello
Other….
Nggak
tau mau sampai mana, liatin aja deh :). Sampe FF ini habis tolong anggap saja
Neymar sama Bruna masih pacaran *jleb*
&&&&
Morata dan Zi memilih untuk melangsungkan
pernikahan secepatnya. Lagipula tidak ada alasan juga bagi mereka menangguhkan
acara sakral ini.
" Mor bagaimana desain undangan ini?
Lucu tidak? Aku juga menulis namamu dalam tulisan China supaya keluargaku yang
tidak tau sama sekali bahasa Spanyol bisa membacanya. Karena undangan ini aku
tulis dalam bahasa Spanyol." Zi menjelaskan detail undangan pernikahan
mereka nanti yang Zi desain sendiri.
" Bagaimana kalau kamu membuat yang
berbahasa China juga. Untuk keluarga dan teman teman mu yang berasal dari
China."
" No, itu pemborosan. Ini lebih
baik."
" Tapi ini momen sekali seumur hidup
Zi. Tolong jangan terlalu menggunakan prinsip ekonomi mu kali ini."
" Tidak bisa Mor. Lagi pula kalau kita
terlalu banyak menggukan kertas kita berarti mendukung pembabatan hutan. Kertas
itu asalnya dari pohon."
" Baiklah. Kita kan go green."
Morata kalah kali ini. Alasan yang Zi
katakan susah dibantah, lebih susah karena Morata sudah salah sangka
sebelumnya. Ah, sial.
" Setelah kita menikah nanti apa kamu
masih akan memanggilku Mor?"
" Eummm…"
Zi mengangguk kecil tapi matanya masih terpokus dengan layar laptopnya.
" Kamu tidak berpikiran untuk memanggilku
honey, baby atau apa?"
Zi menatap Morata dalam, " Kamu bukan
madu ku, kamu juga bukan bayi ku. Tapi kamu adalah Morata ku. Tidak ada alasan
aku untuk memanggilmu dengan panggilan-panggilan nyeleneh tadi. Just be my
Morata oke?"
" Eung…
Baiklah."
" Nggak ada permintaan yang lain lagi
kan?" Zi menatap dalam kearah lensa mata milik calon suaminya itu.
" Akan ku pikir kan lagi nanti."
&&&&
" Kenapa murung sih Myl? Sebentar lagi
kan Morata mau nikah. Kok kamu malah murung-murungan gini sih?" Kylie mengelus
pelan punggung Myla.
" Justru itu." Myla mengatakannya
sangat pelan.
" Justru kenapa? Kamu nggak setuju
kalau Morata menikah dengan Zi? Apa Zi kurang baik untuk Morata?"
" Bukannya Zi kurang baik untuk
Morata. Tapi…."
" Tapi apa Myl? Ayolah cerita."
" Bagaimana rasanya kalau kamu
menantikan seseorang selama hampir 7tahun dan orang yang kamu nantikan pergi
bersama seseorang yang baru dia kenal?" pelupuk mata Myla mulai bergenang
air mata.
" Sakit lah." Kylie menjawab
cuek, gadis itu sama sekali tidak peka kalau yang Myla tanyakan ada sangkut
pautnya dengan Morata dan Zi.
" Dan itu yang terjadi padaku
Ky." Tangis Myla pecah. " Morata adalah laki-laki 3detik ku. Kamu
ingatkan tentang teori ku kalau ada seorang laki-laki yang bisa membuat jantung
ku berdetak lebih keras hanya dengan 3detik maka laki-laki itu adalah
cintaku?"
" Jadi selama ini laki-laki 3detikmu
itu Morata?" Kylie menutup mulutnya yang ternganga(?) dengan tangan.
Myla hanya menunduk dalam. 7tahun memendam
rasa seperti dirinya terlampau sakit. Ok, penantiannya memang hanya sekedar
penantian tanpa balasan.
" Morata tau?"
" Aku pernah hampir mengatakannya saat
kita masih SMA tapi sudahlah, lebih baik dia tidak tau sama sekali."
Kylie langsung merangkul sahabatnya itu.
Mencoba merasakan perih yang sudah Myla tanggung selama ini.
" Tuhan sudah punya jalan buat kamu
Myl." dan kedua wanita cantik itupun menangis secara bersamaan.
Around
me, lonliness is spreading
Vision,
is being blurred by tears
I
left " I Love you " at the bottom of my heart
And
put them on the tip of my lips
(
#Backsound : SJM - Blue Tomorrow )
&&&&
Disuatu malam dibawah taburan bintang
dilangit Barcelona dan diantara cahaya lilin yang berjajar Kylie dan Cesc
melakukan kencan romantis mereka.
" Kamu gak berniat kayak Morata sama
Zi, Ky?" Cesc membelai lembut tangan kekasihnya.
" Pingin sih, tapi kata ayah aku harus
memikirkan matang-matang." Kylie mengigit bibir bawahnya.
" Pasti ayahmu nggak ngebolehin aku
nikahnya sama kamu." Cesc berkata sedikit menyelidik.
" Siapa bilang gak boleh." entah
sejak kapan munculnya yang jelas Jose Mourinho sudah berdiri dibelakang Cesc.
" Eh om." Cesc hanya bisa
memasang muka tak berdosa nya didepan calon mertua.
" Duh." Kylie menggerutu sambil
menunduk.
" Ky, hayo ngomong apa?" suara tegas
papa nya membuat Kylie langsung ciut nyali.
" Jadi gimana rencanamu tadi?"
lanjut Mou.
" Rencana yang mana ya om?" Cesc
sedikit grogi sampai lupa dengan kata kata nya tadi.
" Yang katanya mau nyusul Morata.
Emang Morata mau kemana?"
Sebenarnya Kylie dan Cesc sudah mau bilang
Gubrak secara bersamaan tapi mereka mencoba menahannya didepan papa nya Kylie.
" Gak kemana-mana om. Morata mau
S2." Cesc berkelah.
" Oh." dan Mou pun hanya ber oh
ria. " Ya sudah papa mau balik ke London Ky, mau ndampingin anak-anak
latihan. Jaga Kylie ya Cesc, aku percaya sama kamu."
" Udah papamu jauh-jauh dari London ke
sini cuman buat kayak gitu tadi?"
Kylie mengangguk kecil.
" Nggak habis pikir aku Ky." Cesc
hanya menggaruk-garuk kepalanya.
" Mau dansa Cesc?" Kylie melihat
beberapa pasangan yang bergandengan tangan dilantai dansa.
" Baiklah." Cesc menyerah,
kelakuan aneh pacar dan ayah pacarnya membuatnya sedikit penat.
Cesc dan Kylie menggerakkan badannya pelan
mengikuti alunan musik klasik yang mengalun pelan.
" Kamu suka dansa?" Cesc menanyai
Kylie yang sepertinya larut dengan gerakan dansa nya.
" Aku lebih suka cover dance."
dan Kylie pun tertawa.
" Ky?"
Kylie mendongak dan matanya langsung
bertemu dengan mata Cesc yang menatapnya sendu. Wajah mereka semakin dekat dan Kylie
refleks menutup matanya. Alih-alih mencium bibir mungil Kylie Cesc malah
mengecup pelan kening kekasihnya itu.
" Kenapa kamu menutup mata? Bukalah
matamu." Cesc tersenyum geli melihat tingkah Ky.
Flying
up high in the sky
Oh
with the beautiful stars
Living
in a movie now
Kissing
under raindrops (wanna go)
Let’s
see a whole brand new world
Oh
take my hand and you know
You're
in this movie too
[
#backsound : Lunafly - Stardust (eng. Ver) ]
&&&&
" Ge yang ini bagus nggak?" Zi
menunjukan sebuah gantungan kunci berbentuk hello kitty kearah Morata.
" Zi kita ini memilih suvenir buat
pernikahan bukan acara ulang tahun anak SD."
Zi memanyunkan bibirnya, Morata hanya
menatap gemas dan mencubit pipi tembem calon istrinya itu.
" Tapi ge itu kan lucu."
" Gimana kalau ini?" Morata
menunjuk sebuah pulpen.
" Bolpoin? Suvenir pernikahan
kita?" Zi menatap aneh.
Morata mengangguk mantap. " Baiklah
kalau gege mau itu aku ngikut sajalah."
" Zi mau kan?"
" Oke deh, lebih pantas ketimbang
gantungan kunci helo kitty tadi."
" Yasudah kita pilih-pilih yang lain,
buat pernikahan kita." Morata menggandeng pinggang ramping Zi. Zi hanya
tersenyum melihat tingkah Morata yang tiba-tiba.
Zi dan Morata masih asyik mengamati etalase
beberapa toko-toko suvenir. Sebenarnya urusan mereka memang sudah selesai tapi
mereka masih ingin menghabiskan sedikit waktu disini.
" Kalau kita nikah nanti kamu masih
mau kembali ke Cina seperti rencana awalmu?"
Dengan ragu Zi menganggukan kepalanya
pelan, " Kan aku sudah janji kalau aku pingin mengabdi ke tanah
kelahiranku."
" Tapi bisa ditunda kan? Aku gamau
kita jauh." Zi mengangguk dalam. Baginya ini sudah menjadi konsekuensi
bagi pasangan pernikahan internasional.
" Kamu gak papa kan kalau rencanamu
ditunda?"
" Gak papa kok."
&&&&
Neymar menatap nanar undangan dihadapannya,
yang ia rasakan sekarang hanyalah langit yang runtuh menimpanya. Semuanya
terasa berat.
" Kamu kenapa sih sayang? Kok murung
gitu? Temennya mau nikah kok malah murung." Bruna memeluk Neymar dari
belakang.
" Lagi gak enak badan aja kok,
capek." Neymar berkilah.
Bruna memegang kening Neymar, " Gak
panas kok."
" Aku gak demam sayang." Neymar
mengecup pelan pipi Bruna, " Davi kemana?"
" Tidur." Bruna menjawab sambil
menatap kearah pintu kamar Davi.
" Calon mamanya gak sekalian?"
Neymar memberikan smirk kearah Bruna. Bruna hanya menunduk menahan blushing(?).
&&&&
" Ti…tidak."
Myla membanting testpack yang dipegangnya, dua garis yang menunjukan dirinya
positif(?).
" Sekalipun aku menginginkan bayi ini
tapi aku gamau menghadirkan masalah diatas kebahagian orang yang aku sayangi.
Nggak, aku gamau."
Myla masih berteriak-teriak seperti orang
kesetanan. Rambutnya sudah acak-acakan kesana kemari karena ia acak-acak.
Setelah cukup bisa mengendalikan dirinya
Myla meraih ponselnya dan mendial nomor 1. Sialnya itu adalah nomor Morata.
Myla hanya bisa diam tidak dijawabnya sama
sekali.
----
" Myla menelpon sepagi ini?"
Morata mengamati layar ponselnya lalu menjawab panggilan Myla.
" Hallo Myl."
Hanya terdengar hembusan napas yang cepat,
" Myl kamu gak apa-apa kan?" suara hembusan napas Myla semakin tak
beraturan.
" Myl kamu dimana? Kamu gak
kenapa-napa kan?" Morata semakin panik.
" A..ku..ggak..apa..apa." Myla
menjawab dengan terbata-bata.
" Kamu diapartemen kan Myl, aku kesana
sekarang."
Panggilan itu langsung Morata putus dan
Morata beranjak menuju garasi mobil. Selama diperjalanan Morata sama sekali
tidak tenang. Suara Myla yang gemetar dan hembusan napas yang menunjukkan
ketakutan membuatnya gelisah.
Sampai di apartemen Myla, Morata langsung
membuka pintunya tanpa permisi. Digeledahnya satu persatu ruangan apartemen
milik Myla. Ternyata Myla tengah meringkuk didalam bathtube.
" Kamu kenapa Myl? Ada yang jahatin
kamu? Ada perampok atau apa?" Morata langsung memberondongi Myla dengan pertanyaan-pertanyaannya.
" Aku gak kenapa napa kok Mor."
Myla mencoba tersenyum walau terpaksa.
" Jujur saja Myl sama aku, kamu
terlihat berantakan kayak gini dan kamu masih bilang kamu gak apa-apa."
" Aku emang beneran gak apa-apa kok
Mor, kamunya aja yang terlalu khawatir."
" Kalau kamu gabisa cerita sekarang,
lain kali juga gak papa kok ceritanya."
Myla mengangguk, lalu berdiri dari
bathtube. " Maaf udah bikin kamu khawatir."
" Kamu sahabatku, gak perlu merasa
bersalah.
Kamu sahabatku, memang benar. Bagi Morata
Myla hanyalah sahabat.
&&&&
" Tello aku mau ngomong sama
kamu." Myla mencoba membuat suaranya senormal mungkin, dengan perasaan
yang hancur lebur.
" Silahkan." Tello membalas
dengan senyuman.
" Aku hamil." singkat padat dan
jelas perkataan Myla tapi membuat Tello melotot.
" Tapi kan kita gapernah…"
" Ini memang bukan anakmu, ini anak
Morata." Myla memelankan suaranya.
" Bagaimana bisa?"
" Kami melakukannya dalam keadaan
sama-sama tidak sadar, aku tau aku sudah mengkhianatimu. Maaf aku gabisa menjaga
kepercayaanmu ke aku." Myla hanya menunduk.
" Besok pernikahan Zi dan Morata
kan?"
" Iya aku tau, dan aku tidak tau aku
harus bersikap apa." perlahan air mata Myla mengalir.
" Kalau aku ada diposisimu aku juga
gak tau harus berbuat apa. Lakukanlah sesuai kata hatimu Myla." Tello
menepuk pundak Myla dan berlalu pergi dengan sejuta kepedihan.
" Maafkan aku semuanya, aku terlalu
egois dalam masalah ini."
&&&&
From
: Morata Gege
How can a person be like this?
I start to feel like I’m
the only one living in this world
You pass by my side
A sweet wind called you is blowing in my
heart
Even if you don’t
put on makeup
You’ll
put on your perfume called Attraction
I never believed that there was a god
But now you make me believe because to me,
you’re a goddess
Whether you’re
young or old, whether you have a hidden child
I don’t
care because I love you
If I’m
with you, anywhere we go is a flower garden
Instead of holding designer bags, you hold
my hand
Instead of jealousy and envy, you
understand my nature
With you, I draw out my future
In between our couple shoes are a pair of
baby sneakers[1]
Zi hanya tersenyum melihat pesan yang
dikirim Morata. Belum sempat ia membalas pesan tadi sebuah pesan baru masuk.
From : Morata Gege
Kamu suka?
To : Morata Gege
Suka, sangat sukaY
&&&&
Hari pernikahan yang selalu dinantikan Zi
dan Morata tiba juga, dengan gugup Zi berjalan menuju altar pernikahannya.
Morata sudah menantinya dengan senyum mengembang.
" Kamu terlihat lebih cantik hari ini.
Aku bahkan susah membedakan kamu dengan bidadari yang diceritakan
dinovel-novel." Morata membisikan kata-kata itu tepat ditelinga Zi, dan Zi
hanya bisa menahan tawanya.
" Baiklah bagi pasangan pengantin
silahkan mengucapkan janji sehidup semati."
" Saya Hwang Zia Carter bersedia mene…"
" Tunggu." Myla datang dengan
lari yang tergopoh-gopoh.
" Myla?" Morata dan Zi menatap
aneh, begitupun para undangan yang hadir.
" Aku cuma mau ngasih ini Mor."
Myla buru-buru memberikan testpack yang dari tadi ia pegang.
Morata langsung terbelalak karena melihat
dua garis di testpack itu. Kejadian dihotel saat di Prancis pun seperti
terulang kembali dalam benaknya. Karena jarak Myla yang belum terlalu jauh maka
Morata bisa dengan mudah mengejar gadis itu lalu memelukknya.
Saat itu juga Zi merasakan sesuatu yang
sangat berat menimpa dirinya. Karena keseimbangannya mulai berkurang Zi pingsan
dialtar pernikahan.
----
Yang pertama Zi lihat saat membuka matanya
adalah selang infus yang berada ditangannya, lalu Morata, Myla Neymar, Bruna,
Kylie dan Cesc yang duduk mengelilingi ranjang.
" Kalian kenapa?"
" Zi maafin aku." tangis Myla
langsung pecah, " Aku gak pernah berniat buat ngancurin kebahagiaan kamu
Zi."
" Kalian kenapa sih?" bulir-bulir
airmata mengalir deras dari mata Zi.
" Kita sebaiknya keluar, ini urusan
mereka bertiga." Cesc mengajak Kylie Neymar dan Bruna keluar.
Tinggal Morata Myla dan Zi. Zi masih enggan
menatap Morata dan Myla, hatinya terlalu perih untuk menatap mereka.
" Zi.."
" Cukup." Zi memotong perkataan
Morata, " Aku punya satu permintaan, tolong kabulkan permintaanku
ini."
Morata dan Myla menatap Zi dengan seksama.
Zi menggigit bibir bawahnya keras-keras,
" Aku pingin Morata…" belum selesai
perkataannya Zi kembali pingsan. Zi sebenarnya tidak sanggup untuk mengatakan
kata-kata paling menyedihkan yang akan dia lontarkan seumur hidupnya.
" Zi, Zi bangun Zi."
Zi tetap diam dalam pingsannya(?)
-bersambung-

bukan penggemar el clasico, tapi tetep bisa enjoy ff ini. good job! dilanjut ya. :D mind to read mine? http://sweeterthanfanfiction.wordpress.com/ thank you.
BalasHapusThanks yaa, will be read read your's asap ;)
BalasHapus