SpongeBob SquarePants

Jumat, 28 Maret 2014

El-Love-Classico-Ketika Cintaku Salah Assist Part 7


Tittle : Vacation disaster
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter
Kylie Mourinho
Demylia Sanchez
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Cristian Tello
Other….

Nggak tau mau sampai mana, liatin aja deh :). Sampe FF ini habis tolong anggap saja Neymar sama Bruna masih pacaran *jleb*

****

" Akhirnya Mor kamu nggak pergi."
" Ini semua demi kamu." Zi langsung mendongak, wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang.
Myla mengamati dalam diam tingkah Zi dan Morata itu dari kejauhan. Dihatinya terus berkecamuh pertanyaan-pertanyaan tentang perasaannya kepada Morata. " Kenapa ia tak bisa menggapai wajah yang sudah dihadapannya itu? Mau sampai kapan ia terus-terusan menyimpan perasaan ini?" batinnya terus-terusan berkecamuk.
" Kenapa sih Myl? Murung?" Tello menatap kekasihnya itu prihatin.
" Mungkin ini jadwal bulananku." Myla menjawab ngasal. Mendengar kata jatah bulanan Tello hanya mengangguk.
Selanjutnya suasana sangat hening, Zia dan Morata hanya saling tatap sambil sesekali tersenyum, entah apa yang ada dipikiran mereka. Bertingkah seperti idiot. Sedangkan Myla dan Tello hanya saling diam dengan pikiran masing-masing.
Entah mengapa disaat seperti ini Myla malah menginginkan si ceria Kylie tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka dan membuat beberapa celotehan yang pastinya akan menghadirkan tawa. Myla lalu merutuki ketidakbisaannya melucu dihadapan orang, dia terlalu canggung untuk melakukan hal-hal konyol.
" Ah kenapa harus seperti ini ceritanya?" Myla menggumam.
" Apanya yang seperti ini? Cerita apa?" Tello yang dengan jelas mendengar gumaman Myla tadi langsung mencerca gadis itu dengan nada menyelidik.
" Ah tidak apa-apa, lupakanlah."
" Kamu ada masalah ya Myl? Cerita saja. Akukan pacarmu, aku juga bisa jadi tempatmu membagi sedikit masalahmu, banyak juga gak papa kok." Tello tersenyum tulus sambil memegang tangan kanan Myla.
" Mungkin bukan sekarang waktunya." Myla menggigit bibir bawahnya getir. " Kenapa dunia ini terasa adil bagi Zi? Bukan aku? Kenapa keadilan tak pernah mencoba menyapaku?"  setitik kristal air menetes dari sudut mata Myla.

&&&&

" Zi aku ada rencana liburan dengan SMA ku dulu. Kamu mau ikut?"
Pagi buta, matahari saja masih mau menampakkan diri dan Morata sudah bertamu untuk mengajak Zi pergi berlibur. Ini memang sedang liburan semester ganjil, tapi bukan untuk mahasiswa seperti Zi yang mengambil semester pendek. Liburan mereka sudah berakhir itupun juga hanya tiga hari, bukan seperti mahasiswa dengan semester normal yang dua minggu bahkan lebih.
" Bukannya nggak menghargai ajakan kalian tapi sepertinya aku gak bisa."
" Loh kenapa sih Zi? Inikan liburan semester."
" Kamu memangnya nggak ingat Mor kalau aku mengambil semester pendek, itu artinya tidak ada liburan."
Morata menggaruk canggung kepalanya yang sama sekali tak gatal. Ia jadi merasa telah melakukan hal terkonyol yang pernah manusia lakukan.
" Tapi lain kali kita bisa berlibur bedua kan Zi?" Morata mengalihkan rasa malunya.
" Tergantung Mor. Kapan kamu mengajaknya."
" Nanti setelah kamu menyelesaikan kuliah mu, sebelum kamu kembali ke Cina sesuai rencana mu." Morata mengucapkannya sambil terus menunduk. Ia merasa kalau kalimat yang baru saja ia ucapkan lebih tajam ketimbang pisau belati.
Jantung Zi mencelos, apa maksud kalimat Morata tadi pria itu merelakan ia kembali ke Cina tanpa mencegahnya sama sekali? Ataupun setidaknya berusaha untuk ikut serta ke Cina, memulai hidup baru berdua. Tidak kah Morata memikirkan kalau Zi sangat menginginkan itu? Morata bersamanya.
" Baiklah." Zi menjawab pelan. Gadis itu mengigit bibir bawahnya karena menahan tangis, dadanya terasa sesak.
" Kamu mau jalan-jalan Zi? Tidak ada kuliah kan?"
" Sekarang?"
" Iya, memangnya kenapa kalau sekarang?"
" Maaf Mor, aku ada kuliah pagi ini."
" Ya sudah. Semangat ya Zi." Morata tersenyum sampai matanya menyipit. Zi hanya membalas dengan senyuman hambar.

------

Sepeninggal Morata Zi langsung menangkupkan kepala ke bantal dan mengangis sepuas hatinya. Ia terpaksa berbohong kalau pagi ini dia ada kelas padahal kelasnya hari ini baru dimulai jam dua siang nanti. Dengan sisa air mata yang ada gadis itu mencurahkan semua emosinya ke boneka beruang berwarna putih yang pernah Morata berikan padanya.
Terpaan dinginnya udara pagi diperalihan musim dingin ke musim semi tak digubris Zi, gadis itu terus menangis dihadapan boneka beruang berwarna putih tadi. Terkadang Zi merangkul beruang itu, terkadang juga ia meninju boneka itu hingga terpental cukup jauh, tapi terkadang ia juga membelai lembut bulu-bulu halus boneka tadi dan sesekali menciumi wajah boneka lucu tersebut.
" STUPID." dengan sisa tenaganya Zi menendang boneka tadi hingga mencelat sampai ke pintu. Ia sudah tak peduli, yang ia rasakan sekarang hanya sakit. Dan boneka tadi satu-satunya barang pelampiasannya.
" Zi Zi." seseorang memanggilnya dan suara itu sungguh tak asing baginya.
" Ney?" Zi bertanya memastikan siapa yang memanggilnya.
" Iya ini aku, kamu dimana?"
" Dikamar."
" Boleh masuk?" Melihat kamar Zi yang tertutup rapat, membuat Neymar meragukan pertanyaan nya tadi. Karena biasanya pagi-pagi begini Zi baru saja bangun tidur, dan cewek itu paling benci ketika wajah bangun tidurnya ketahuan orang lain.
" Masuk lah."
Neymar membuka pintu kamar berwarna coklat terang itu pelan-pelan. Napasnya tercekat ketika mendapati kondisi Zi yang memprihatinkan. Penampilan awut-awutan, mata bengkak dan   keadaan kamar yang berantakan.
" Kamu kenapa Zi?"
" Tidak apa-apa."
" Jujur saja Zi. Kamu seperti tidak mengenalku saja kalau seperti itu, apa kamu sudah nggak percaya sama aku lagi?"
Zi hanya bisa mengigit bibir bawahnya—lagi-lagi—kemudian menarik napas panjang dan menceritakan hal yang baru saja membuatnya menangis meraung-raung.
" Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula pasti Morata juga memikirkan bagaimana caranya untuk bisa bersamamu terus Zi. Yakinlah." Neymar mencoba menenangkan Zi dengan cara merangkul pundak gadis itu dan sedikit menasehatinya. Padahal dalam hatinya sendiri gemuruh tak henti-hentinya berbunyi. Satu lagi langkah mundur yang Neymar ambil, dan sebuah kenyataan pahit yang terkuak.

&&&&

" Mor kamu bawa baju berapa? Jangan cuma sepasang aja. Kita disana seminggu loh." Kylie meledek Morata yang memang jarang sekali membawa baju lebih dari sepasang—baju dan celana—ketika bepergian. Cowok itu lebih suka berbelanja baju baru ditempat yang ia tuju.
" Tenang Ky, aku sudah bawa dua kok gak sepasang lagi." entah apa lucunya kalimat tadi yang jelas Kylie dan Morata langsung serempak tertawa.
" Kamu gak bawa Zi?"
" Dia kan anak semester pendek liburnya hanya tiga hari. Mana mau ikut-ikut acara begini, mending di perpus."
Kylie dan Morata pun langsung tertawa bersama(lagi). Dua sobat karib itu memang sangat susah untuk tidak menertawakan hal apapun (sarap).
" Heh kamu liat Myla nggak?" Morata mengedarkan pandangan, tapi wajah Myla memang tak nampak.
" Oh Myla tadi bilang bakalan datang sedikit telat." Kylie menjawab dengan entengnya sambil mengutak-atik hape hitam kesayangannya.
Brak. Myla yang terengah-engah menggebrak pintu asal. Wajahnya sedikit merah karena terkena sengatan matahari.
" Eh elu Myl?" Kylie menatap Myla dari atas sampai bawah.
" Bukan." ketus Myla.
" Lah terus?"
" Gumiho baru lewat."
Morata hanya melongo mendapati dua sahabatnya itu yang saling melempar tatapan sadis(?).
" Udah cepetan berkemas, biar cepet berangkatnya."
Kylie mengacungkan jempol kanannya bersemangat, sementara Myla hanya membalas dengan anggukan sambil merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.

------

" Capeknyaa…" Morata sedikit membanting tubuhnya di kasur.
" Mor… Mor…"
" Siapa?"
" Aku Myla."
" Ada apa Myl?"
" Mau makan siang bareng? Temen-temen udah nunggu diluar."
" Kamu tunggu diluan dulu deh, aku masih kenyang."
" Eummm…" Myla berjalan mundur lalu menutup pintu kamar Morata pelan-pelan.

" Mana Morata?" Kylie berkacak pinggang didekat tangga.
" Katanya suruh duluan, dia masih kenyang." Myla mengangkat bahu tak mengerti.
" Aish, waktuku yang berharga." Kylie mendadak melow.
" Baru 5menit Ky."
" 5menit aku sudah bisa menghabiskan seporsi steak Myl."
Myla memutar bola matanya. Terkadang Kylie sedikit berlebihan.

&&&&


To : Morata Gege
Bagaimana liburanmu? Menyenangkan?

From : Morata Gege
Lumayan, tapi aku pinginnya sama kamu :* :(

To : Morata Gege
Lain kali yaa {}

From : Morata Gege
Janji ya tapi

To : Morata Gege
Janji :* selamat bersenang-senang

From : Morata Gege
Tanpamu :( {}

Zi tersenyum-senyum sendiri. Neymar, Tello, Bartra yang duduk didepannya hanya bisa mlongo dan menatap gadis itu dengan ekspresi cengonya masing-masing.
" Ada apa Zi?" tanya Bartra masih dengan menggigiti sedotan yang belum sempat ia lepas tadi—karena terbegong dengan senyum nyeleneh Zi.
" Morata. Bukan apa-apa." Zi masih terus cekikikan sambil berkonsentrasi menatap layar ponselnya.
Neymar hanya melirik sekilas, baginya sekarang sudah jelas. Melangkah mundur dari pusaran cinta Zi lebih baik. Karena sepertinya semakin hari semakin susah saja Zi dan Morata dipisahkan.
" Loh bukannya Morata liburan? Bareng temen-temen SMA nya kan?"
" Eoh. Dia emang lagi liburan, pasti pulang-pulang aku akan semakin terlihat seperti salju kalau berjalan dengannya." Zi, Tello dan Bartra langsung serempak tertawa bersama.
" Kenapa Ney? Kok diem aja? Gak biasanya." Tello menyenggol pelan lengan Neymar.
" Sakit gigi."
" Tadi katanya sariawan, mana yang bener? Sakit gigi apa sariawan?" Bartra menatap heran kearah Neymar.
" Keduanya." Neymar menjawab tanpa minat. Matanya menerawang keluar jendela menatap beberapa burung kecil yang sedang mematuk-matuk tanah mencari biji-biji yang mungkin saja terjatuh.

&&&&

" Mor nanti malam kita diajak nge-wine. Mau ikut?" Kylie asyik membolak-balik majalah sport yang dibelinya tadi pagi.
" Oke lah. Lama nggak nge-wine bareng kalian."
" Eh Mor, tadi Myla nangis. Kamu tau nggak dia ada masalah apa?"
" Eung…" Morata menggelengkan kepalanya. " Kemarin aku lihat dia mentionan sama Tello masih adem ayem." Morata menaruh hape nya. Setahunya Myla memang bukan type cewek yang mudah menangis karena hal sepele.
" Dia bilang ini ada hubungannya sama cinta pertamanya. Kamu tau nggak siapa cinta pertamanya?" Kylie menatap bola mata Morata dalam.
Morata mengaburkan pandangan, ingatannya terlempar ke masa ia kenal Myla. Myla bercerita kalau baru saja ada cowok yang berhasil membuatnya terpesona dan membuat jantungnya berdebar untuk pertama kali.

Flashback On
" Mor, kamu bisa jaga rahasia kan?" Myla menggoyang-goyangkan kakinya sambil duduk diatas ayunan.
" Rahasia apa?"
" Sepertinya akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang orang-orang sebut dengan jatuh cinta."
" Jatuh cinta?"
" Iya."
" Rasanya bagaimana?" Morata bertanya dengan polosnya.
" Kamu nggak tau Mor?"
" Enggak. Memangnya kenapa?"
" Kayaknya aku salah tempat curhat." Myla mendengus kesal. Rupanya cinta pertamanya ini akan bertepuk sebelah tangan.
" Kamu gak salah kok. Kalau mau curhat silahkan, curhat aja."
" Gimana aku mau curhat masalah cinta kalau yang ku ajak curhat aja gak pernah ngalamin rasanya jatuh cinta." Myla berdiri lalu mengambil langkah kesal.
" Myl." panggilan Morata menghentikan Myla. " Kalau kamu suka bilang aja suka ke cowok itu. Telpon dia atau langsung bicara padanya kalau kamu suka."
" Baik, akan kuturuti perkataanmu."
Malamnya hape Morata berdering enam kali, nomor yang sama. Itu adalah Myla yang menelponya, namun setiap Morata mengangkatnya, Myla hanya diam. Tidak ada suara apapun, kecuali hembusan napas.
Flashback Off

Kelebatan bayangan kejadian itu muncul kembali dalam benak Morata.
" Tidak mungkin." tiba-tiba Morata berkata setengah berteriak.
" Apanya yang tidak mungkin?"
" Sepertinya aku tau siapa cinta pertama Myla." Kylie menatap Morata penuh harap, " Tapi aku tidak yakin." Morata langsung menunduk.
" Kamu gimana sih, katanya tau. Tapi ragu."
" Cintakan gak kayak hitung-hitungan Matematikan Ky yang jawabannya pasti."
" Iya juga sih."

&&&&

" Mor kayaknya Myla mabuk berat tuh, kamu bisa kan anterin dia ke kamarnya?"
" Eum."
Suasana jadi terasa sangat canggung buat Morata. Untunglah Myla sedang mabuk, coba Myla dalam keadaan sadar.
" Myl? Kamu kuat jalan nggak?"
" Huh?"
" Kalau gak kuat naiklah ke punggung ku. Kugendong aja." tanpa berkata apa-apa lagi Myla langsung memposisikan dirinya.
Entah dapat perasaan dari mana yang jelas Morata merasa suhu tubuhnya panas menadadak. Ada sesuatu yang sepertinya ingin meledak dari dalam tubuhnya.
" Aish kenapa dia gak tau sih." Myla mulai meracau dibawah kendali alkohol.
" Tau apa Myl?"
" Morata…" Myla tidak meneruskan perkataannya.
Racauan Myla semakin tidak jelas, Myla bahkan juga meracau menggunakan bahasa Prancis. Dan selama perjalanan Morata mencoba menahan dirinya sebisa mungkin.
KLEK. Pintu kamar Myla terbuka, Morata buru-buru membaringkan Myla di tempat tidur.
" Bisa tolong ambilkan hape ku." Morata mengambil hape putih milik Myla.
Myla—dalam keadaan setengah sadar—memandangi layar hapenya dengan muka frustasi.
" Ah berapa tanggal lahir anak itu? Kenapa aku jadi pelupa begini." Myla mengacak-aca rambutnya sendiri.
" Tanggal lahir siapa? Tanggal lahir Tello?" Morata menebak ngasal.
" Sejak kapan aku menaruh tanggal lahir mu di hapeku eoh."
Morata melongo, jadi Myla menganggapnya Tello?
" Lalu tanggal lahir siapa yang kamu jadikan kata sandi?" Morata berpura-pura menjadi Tello.
" Seseorang yang pernah ada dalam hati ku, cinta pertamaku. Ah…." lagi-lagi Myla mengacak-acak rambutnya sendiri.
" Siapa?"
" Tapi kamu jangan marah ya."
" Iya aku gak bakalan marah."
" Morata." Myla menjawab lirih.
Morata langsung menarik hape ditangan Myla dan menuliskan tanggal lahirnya. Dan benar, tanggal lahirnya memang digunakan Myla sebagai kata sandi.
" Tello."
Wajah Myla semakin dekat dengan Morata yang Myla anggap sebagai Tello. Morata hanya bisa diam terpaku saat bibirnya bersentuhan dengan bibir mungil milik Myla. Bagaimana bisa ciuman pertamanya adalah sahabatnya sendiri? Bukan seorang Hwang Zia Carter kekasihnya?
Dan semua hal itu terjadi begitu saja tanpa bisa keduanya sadari. " Tello kamu mau kan maafin aku malam ini?"
Morata hanya terdiam. " Kalau Tello tau mungkin kita berdua tak kan termaafkan. Bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Zi."
Setelah merapikan bajunya dan baju Myla, Morata segera kembali ke kamar hotelnya.

&&&&

" Ah hari terakhir." Kylie merentangkan tangannya di balkon. " Kamu ada rencana beli sesuatu gak buat oleh-oleh?" Kylie melirik kearah Morata yang dua hari belakangan ini banyak merenung. Terutama saat ia berpapasan dengan Myla.
" Kamu ada masalah?"
" Enggak kok Ky, cuman lagi bingung. Kira-kira cewek suka cincin yang kayak gimana?"
" Kamu mau nglamar Zi?"
" Sepertinya, sebelum terlambat. Kamu tau kan apa rencana Zi."
" Kembali ke Cina?"
" Tepat."
" Ngomongin apa sih?" Myla tiba-tiba muncul dari belakang. Suasana canggung langsung muncul dipihak Morata.
" Morata mau nyari cincin buat Zi." Kylie menjelaskan sambil nyengir, karena ia sama sekali tak tau problem kedua sahabatnya itu.
" Oh." Myla hanya menjawab sekenanya.

-------

Disebuah toko perhiasan Morata melihat sebuah cincin mungil yang manis. Morata sudah membayangkan betapa cantiknya cincin itu tersemat di jari manis Zi.
" Yang itu bagus Mor." suara Myla membuyarkan lamunan Morata.
" Iya."
Myla melihat raut wajah Morata yang sedari tadi tersenyum saat melihat cincin-cincin pernihakan itu. Hatinya terasa perih.


Everytime I hear your voice
I grow I grow I grow
Endless waiting I can't control
I wonder if you hear me now oh hear my cry
( #backsound : Lunafly - Day by Day)

&&&&

From : Morata Gege
Besok aku pulang :*

Zi hanya melirik tulisan itu tanpa ekspresi, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Melihat nama Morata rasanya ada sesuatu yang aneh menggganjal dirinya.

&&&&

Pagi pagi sekali, Zi sudah dibangunkan dengan suara gaduh petasan.
" Siapa sih jam segini main petasan, kayak kurang kerjaan." Zi membanting guling yang tadi dipeluknya.
" Zi keluar lah." seseorang memanggilnya dan Zi sangat tidak asing dengan suara itu. Buru-buru Zi keluar rumah.
" Mor…" Suara Zi terhenti ketika ia melihat Morata berlutut didepan pintu rumahnya sambil memegang kotak cincin.
" Zi, would you marry me?"
Tenggorokan Zi tercekat, gadis itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan kekuatan yang ia miliki sekarang Zi hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Morata langsung memeluk gadis nya itu, kemudian menciumnya.

I want to be your oppa
Why don't you know my heart for you?
Even if you ignore me
Even if you act cold
I can't push you out of my mind
I want to be your oppa
I will be your man, just watch
So that my heart can touch yours
I will run to you right now
( #Backsound : BTS - Boy in Luv)

" Mau jalan-jalan nyonya Morata?" Morata melirik Zi sambil memainkan alisnya. Zi hanya mengangguk dan menggandeng lengan Morata.

&&&&

From : Zi
Ney, Morata melamar ku #fly

 Neymar menatap layar hape nya nanar. Semuanya sudah terlambat.

I was thinking about her, thinking about me
Thinking about us, what we gone be
Open my eyes, it was only just a dream
So I travelled back down that road
Will she come back? No one knows
I reliaze, it was only just a dream
( #backsound : LC9 - Just a dream)





















Senin, 24 Maret 2014

A Part Of My Life Part 5



Yeay gue balik lagi, dengan ff geje ini. FF berseries yang ngisahin kejadian yang sama sekali nggak ada dikehidupan nyata. Tokoh-tokohnya masih sama kayak musim semalam, paling ntar nambah satu apa dua orang gitu ^^. Semakin gak waras dan semakin gak karuan.
Selamat menikmati *buing buing*

&&&&

Suasana panas di Qatar nggak ngalangin semangat Zi buat tetep datang ke tempat itu, pasalnya pan akhir pekan ntar motogp bakalan mulai lagi.
Dengan baju ala-ala gadis(jualan)payung Zi keliling-keliling muterin sirkuit Losail sambil bawa-bawa es dawet, rencana dari awal sih emang mau jualan.
" Eh Ziiii." seperti biasanya si Alicia langsung nimbrung gitu aja pas Zi lewat depan paddocknya si Etep.
" Apa Al?"
" Lu jualan?"
" Iya Al buat nyambung hidup." tsah kata-kata nya Zi.
" Gaya lu Zi, eh kamu liat Etep gak?"
" Lah kan yang punya si Etep elu ngapain nanya ke gue? Lu kan dipaddock dia Al."
" Emang kalau gue di paddocknya si Etep, Etepnya otomatis ada gitu?" dih si Alicia nyolot.
" Terserah." Zi melenggang gitu aja sambil teriak, " Dawet dawet, murah murah. Panas-panas enak minum dawet lho."

" Loh kak Zi kok jualan?" bocah-bocah ingusan moto3 yang Zi sendiri gak apal semua namanya berhenti tepat didepan Zi.
" Iya nih iseng. Mau beli?" Zi masang tampang se oenyoeh mungkin supaya tuh anak ingusan mau beli dawetnya.
" Aku mau beli kak tapi…"
" Tapi apa?" Zi mulai curiga.
" Mau gak jadi umbrella girl ku?" kini giliran anak moto3 tadi yang kedip-kedip lenjeh ke Zi.
Karena merasa aura gak enak disitu akhirnya Zi ngajir dan ninggalin barang jualannya tadi gitu aja.
" ASYIK GRATIS." kelima bocah yang udah persis boyband nyegat Zi tadi langsung kegirangan.

&&&&

" Bred… Scott…" Zi masih berdiri didepan motorhomenya Bred.
" Eh kunyuk dua kemana kalian?" Zi udah gak tahan bener berdiri didepan motorhome kek orang gak punya kerjaan.
" BRED…. SCOTT…." suara Zi dikencengin volumenya.
" Kenapa sih teriak-teriak? Gak tau orang lagi sakit gigi apa?" Aleix yang tiba-tiba muncul dengan penampilan pipi ditempelin koyo membuat muka Zi langsung pucet. Ketakutan doi.
" Nggak papa kak, nggak papa." Zi mundur, mepetin dirinya kepintu motorhome.
" Eh, Zi ternyata yang teriak-teriak tadi. Kirain siapa, kalau kamu yang teriak aku rela aja kok Zi." Aleix kedip mata lenjeh. Zi memcoba ngebulatin matanya kek dipilem-pilem tapi hasilnya nihil orang dia sipitnya kuadrat.
" Nggak jadi deh kak, nyarinya pake GPU aja."
" GPS kali Zi, GPU mah minyak goreng(?)." oke sama-sama sarap.
" Ya udah kak permisi."
Belum ada setengah langkah, Zi musti berhenti karena teriakan Aleix. " Zi. Lain kali jangan manggil kak dong berasa tua aku." Aleix menunduk malu. Lu bukannya berasa tua tapi emang udah tua bang #digebuk.
" Lah terus manggil apa dong?" sebenernya Zi udah tau apa maksud Aleix, tapi doi pura-pura gak tau. Biar ntar, aku terkejut.
" Beb gitu."
Aura horor mendadak menyelimuti Zi, " Eh kalau manggilnya Aleix gege aja gimana?" Zi sambil lari terpontang-panting pas bilang itu tadi.
Gara-gara aksi Zi menghindari Aleix tadi Jarpis musti ngerelain obeng berlapis kristal f(x) nya terbelah jadi 2, Bati musti ngerelain kaset ya*dong terbarunya patah jadi 3 bagian, dan Ipet musti rela sendal mewahnya(baca nipon)talinya putus sebelah. Dahsyat ya aksi Zi :3.

&&&&

Disudut lain sirkuit anak-anak moto2 sejenis Rabbat, Nakagami, Maverick, Salom, Jordi Alba, Nico Terrol sama anak-anak moto3 kayak Alex Marquez, Rins, ama Kent pada asyik ngebor tanah. Usut punya usut mereka mau kerja sampingan jadi pengusaha minyak selama di Qatar.
" Awas jangan dalem-dalem. Tar keluar lumpur lapindo loh." Rabbat memberi aba-aba dengan muka yang super ngeselin(lu tau sendiri kan muka Rabbat?).
" Elah kalau disini kagak bakalan keluar lumpur Lapindo kali." Nakagami sama Terrol yang megangin mesin bor melempar tatapan ganas(?) ke Rabbat.
" Lah terus keluar apa dong?" Rabbat masang tampang cengo(padahal muka Rabbat kan udah ….*gak usah diterusin deh*)
" Lumpur Losail." Mack, Alex, Rins, sama Salom nyebutinnya barengan. Kemudian keempat bocah tadi ber toss ria. Keknya masa-masa indah bersama di moto3 taun lalu belum terlupakan.
" Eh kunyuk-kunyuk, bantuin napa! Berat nih ngebor dari tadi gak nyampe-nyampe satu meter pun." kunyuk-kunyuk yg dimaksud Terrol disini itu ke empat cowok yg tadi bertoss ria.
" Ah elu sih ngebor pake pose goyang itik, nih sini gue praktekin cara ngebor yang baik dan benar." Rins langsung narik mesin bor tadi.
Dengan pose nya, Rins ngebor dengan sangat-sangat profesional. Mbak Inul yang pertama kali ngepopulerin tuh tarian aja kalah.
Tapi belum sempet tuh kerjaan Rins selesai, seorang bapak-bapak berpakaian ala orang timur tengah datang sambil marah-marah dan nunjuk-nunjuk muka rider yang sekarang bisa dibilang lagi masang buka bingung, cengo, dan setengah gak sadar.
" Nak(?) tuh bapak-bapak ngomong apa sih?" Alba nyenggol-nyenggol bahu Nakagami.
" Gak tau gue, lagi ngaji mungkin."
" Gak ah, masa ngaji sama Eminem lagi ngerap balapan cepet nya. Masih cepetan bapak itu lagi."
" PANGGIL KAREL CEPET PANGGIL KAREL." teriakan Rabbat membuyarkan kecengoan orang-orang tadi.
" Karel Abraham?" Terrol memastikan.
" Iyalah." Rabbat masih panik kek emak-emak jemurannya keujanan.
" Emang mau ngapain sih manggil-manggil si Karel?" Nakagami jadi penasaran.
" Pan dia mukanya arab tuh, kali aja bisa ngomong arab."
Tanpa diperintah, para anak-anak moto3 ngacir nyari Karel Abraham. Untungnya gak berselang lama mereka balik sambil bawa Karel Abraham yang masih pakai baju koko, sarung kotak-kotak, kupiah item yang beludrunya hampir ilang-_-(katanya kaya).
" Ada apa ini? Ada apa, saya gak mau ada kamera kenapa ini."
PLAK. Rabbat langsung nggeplak Karel, " Gue kesini minta elu jadi penerjemah bahasa bukannya shooting termewek-mewek."
" Maaf, maaf."
Bapak-bapak yang tadi sempet menghentikan kemarahannya karena gak ngerti sama tingkah aneh rider-rider kelas dunia dihadapannya itu kini ngelanjutin marah-marah nya setelah orang yg dimarahi dapet penerjemah(bahasa gue ribet amat dah).
Karel cuman ngangguk-ngangguk dan masang muka bloon.
" Heh elu dari tadi ngangguk-ngangguk mulu, tau kagak dia ngomong apaan?" Terrol mengguncang bahu Karel yang sepertinya udah mulai mabok kata-kata dalam bahasa arab.
" Kagak." kemudian Karel nyengir.
PLAK. BUK. TAK. DOOM(?). Sontak orang-orang tadi, kecuali sang bapak-bapak yang lagi marah langsung gebukin Karel.

&&&&

Di paddocknya si Vale, Demi lagi asyik ngelus-ngelus perutnya yang udah gede. Maklum kehamilan Demi udah masuk bulan ke sembilan. Itu artinya bentar lagi doi bakalan lahiran.
" Eh istriku tercinta gak jalan-jalan? Tumben betah banget didalam paddock?"
" Gak lagi pengen kualiti time sama baby." tsah Demi, tumben-tumbennya dia normal.
" Em gitu ya." Vale berjongkok didepan Demi sambil ikutan ngelus-ngelus perut Demi. " Doain papa ya sayang." Vale lalu mengecup perut Demi.
" Oh, gitu perutnya doang." Demi ngerucutin bibir merah merona miliknya.
~chu~ sebuah kecupan singkat nan hangat mendarat tepat dibibir Demi yang masih lancip(?). Vale mengacak-acak rambut istrinya itu gemas.

------

" Sayang kamu gak yakin ninggalin stick PS nya dirumah?"
Marc membongkar semua koper yang ada di motorhome. Termasuk koper Alex yang isinya cuman laptop ama mie instan(ini Alex di Spanyol jadi anak kost yee?), dan kopernya Dwi yang isinya harta karun :3.
" Udah aku masukin kekoper kok, seingatku sih."
" Biarin lah, kan bisa beli lagi."
" Tapi itukan hadiah dari Rachel." Marc mulai mewek.
" Siapa Rachel?" Dwi menatap Marc kek psikopat ketemu ama target nya.
" Eh itu…" Marc gelagapan.
" Siapa?"
" Mantan." Marc menjawab lemah.
" Huwaaaaa kamu masih nyimpen barang-barang dari mantan? Kamu jahat." Dwi langsung guling-gulingan.

------

" Ayo dong sayang sekali lagi yaa." Etep ndempel-ndempel ke punggung Alicia.
" Ogah ah, capek aku."
" Baru dibobol tiga kali udah ngambek. Jelek loh." heh apa ini?
" Biarin."
" Elah, ayo dong sayang sekali ini aja."
" Tapi aku boleh pakai Bayern Munchen kan? Kamu Dortmund."
Etep mikir sedikit agak lama, " Oke deh, tapi temenin main PES nya."
" Let's go!" Alicia kembali masang posisi buat main PES.

&&&&

Sesi kualipikasi hampir aja dimulai. Seperti biasa para WAG's udah majang diri dipaddock pacar masing-masing. Tapi nggak buat Zi, doi kebingungan musti stay di paddock siapa. Mau stay di paddock Scott takut Bred ngambek, mau ke paddock Bred ntar takutnya Scott pundung. Serba salah, lagian kan gak mungkin Zi ditempat yang berbeda diwaktu yang sama. Kecuali Zi berguru dulu sama naruto.
" Bingung Zi kenapa?" Pol mainin alis tebel nya yang udah saingan sama keset yang ada tulisannya 'WELCOME' (bayangin dah).
" Iya nih Pol aku bingung, musti dipaddock siapa. Bred apa Scott?"
" Di paddock aku aja gimana?" entah dari mana asalnya yang jelas di Aleix tiba-tiba muncul gitu aja.
" Boleh… ge." hati Aleix udah kembang kempis dipanggil Ge sama Zi.
Jadinya selama waktu kualipikasi, mau itu kelas moto3, moto2, sampai motogp Zi tetep stay anteng kek sinden. Doi gak berani keluar, takut ketemu Bred ama Scott.

-----

Usai kualipikasi Zi baru keluar buat balik ke motorhome. Pas ngelewati paddocknya Marc, Zi ngeliat hal yang paling mengharukan(?) seperti biasa Dwi bakalan meluk Marc. Pas ngelewatin paddocknya Etep Zi malah melihat Alicia ama Etep lagi bercipokan mesra. Tapi pas ngelewatin paddocknya Vale doi malah melihat KDRT, yah kayak yang udah-udah si Demi lagi nyubitin pinggang Vale karena Vale cuman bisa start di posisi 10.
" Aku janji deh sayang aku besok bakalan podium."
" Awas kalau kagak." Demi ngebanting sendal swallow nya ketanah penuh emosi.
Zi tersenyum melihat keunikan sisi lain dari sangar nya motogp. Olahraga yang selalu disangkut pautkan dengan terancamnya nyawa sang pembalap. Tanpa sadar sebulir airmata mengalir disudut mata sipitnya.
" Kenapa Zi?" Zi menoleh, ternyata Aleix.
" Seneng aja ngeliat mereka kayak gini."
" Gak nyangka ya Zi kamu udah 5bulan ngejanda?"
Zi menatap heran kearah Aleix tapi ia tak menganggapinya berlebihan, " Iya udah lima bulan."
" Nggak ada rencana gitu Zi buat nikah lagi? Pacaran mungkin?"
" Kayaknya belum saatnya deh ge."
" Masih sayang mantan ya?"
Tanpa ngucapin apapun Zi langsung ngibrit gitu aja ninggalin Aleix. Tapi untungnya kali ini Zi jalannya hati-hati, jadi doi gak ngrusak properti orang lain lagi.

&&&&

Race moto3 belum dimulai, warm up lap juga belum tapi suasana udah memanas. Satu sirkuit digemparkan sama berita kalau Alex punya pacar. Sontak ini langsung jadi topik panas, bahkan para mekanik jadi gak peduli sama statistik motor lagi, statistik gosip lebih menarik. Terutama karena cewek yang jadi pacarnya Alex bukan cewek sembarangan. Cewek ini udah terkenal jadi model panas di negara asalnya, Indonesia. Itu karena ceweknya si Alex ini sering jadi model iklan panci, kompor dan mesin las -_-(model panas banget ini mah).
" Adek kakak kok hobinya sama orang Indonesia sih." seorang fangirl dari kedua rider itu mengeluh sambil membanting payung yang bakalan digunain buat mayungin Rins.

Sementara itu…
" Beb kamu sadar gak sih kamu disorot banget." Alex mendekatkan rangkulannya di pinggang ramping pacar barunya itu.
" Tenang aja sayang, Nikita udah biasa kok disorot." cewek yang diketahui bernama Nikita Marjani(?) itu malah melakukan pose-pose "menantang" seperti kuda-kuda wushu sama posisi orang mau pencak silat.

" Mak aku juga mau pacar kayak pacarnya Alex mak." anak-anak moto3 yang masih pada ngejones langsung mewek jamaah minta ke emak masing-masing pacar baru -_-.

&&&&

Race moto2 memang gak teralu menarik, sebelum race juga gak ada gembar-gembor gosip mengenai rider-rider yang bakalan tanding(?) di kelas itu. Alhasil race berjalan normal terkendali.

&&&&

Kayak biasanya Race motogp pasti menyuguhkan sesuatu yang beda. Mulai dari UG, gosip terbaru, sampai nomor hape baru rider pun ikut terkuak disini.

-----

" Jangan ngecewain ya beb. Udah pole position loh." Dwi mengecup pelan pipi mulus Marc yang udah kek guci amplasan sebagai pelecut semangat.
" Makasih ya sayang, doain terus." Marc menggenggam erat tangan Dwi, tak lama Dwi mewek karena terharu.

" Tunjukin beb kalau kamu itu bisa." Alicia bergelayut manja di pundak Etep.
" Doanya ya beb." Etep malah membelai lembut jemari Alicia kek orang gak punya daya *tsah*

" Pokoknya aku gak mau tau kamu musti podium, demi anak kita sayang." Demi langsung ngelus-ngelus perutnya yang membesar.
" Iya sayang." sebenernya Vale juga kurang optimis juga, tapi demi nih anak sama emaknya dia berusaha sebisa mungkin.

Kali ini Zi kedapatan jatah mayungin Bred karena semalam Scott kalah adu suit sama Bred. Dengan sedikit berat hati Zi harus nerima kenyataan. Karena tempat Zi gak jauh dari tempat Aleix. Bahkan Zi bisa dengan jelas ngeliat Aleix dari tempatnya. Sebenernya Zi udah ngebet banget pengen ngelempar tuh orang pakai sepatu yang dia pake cuman sayang. Wajahnya terlalu ganteng -_____-
" Hati-hati ya Bred, cukup finish aja."
" Loh kamu kok gitu, aku udah start posisi 3 loh."
" Aku cuman lagi gak yakin aja." pandangan Zi masih terarah ke Aleix.
" Kamu kenapa?" Bred ngikutin ekor mata Zi, " Kenapa sama Aleix?"
Zi gak ngomong apa-apa tapi langsung ninggalin Bred gitu aja, ngelempar tuh payung sembarangan. Sontak perhatian kamera yang tadi ngeshoot muka Marc langsung beralih ke Bred yang ditinggalin sang UG.

&&&&

" Al boleh nonton bareng?" Zi menatap Alicia penuh harap, kek hamtaro pas minta kuaci.
" Boleh kok."
Alicia ngefokusin pandangannya ke layar sambil nyemangatin Etep, sementara Zi matanya boleh kelayar tapi pikirannya kemana-mana? Hanya satu pertanyaan yang masih mengganjal, " Apa aku masih mengharapkan masa lalu ku?"
" AHHHH TIDAK ETEP MA BEIBEH." teriakan Alicia yang bisa bikin orang tuli permanen seketika langsung membuat Zi tersadar dari lamunan.
" Etep kenapa?"
" Etep crash." Alicia langsung nangis meraung-raung cuman gara-gara Etep crash.
Setelah selesai Alicia nangisnya kedua cewek tadi nonton jalannya race tanpa antusias. Bahkan sampai selesai race Zi gak tau sama sekali kalau Bred crash.
Pas lagi dijalan menuju kearah podium Zi dicegat sama Aleix.
" Maaf ya aku gak bisa mempersembahkan podium buat kamu." Aleix menggenggam erat tangan Zi.
" Ha?"
" Zi, to the point aja boleh?"
" Apa?"
" Would you be my girl?"
"…………."

&&&&

" Vale cepet sini Vale cepetan." seorang mekanik yang tengah memasang muka panik manggil-manggil Vale sambil bawa Toa.
" Ada apa sih, mau selebrasi nih."
" Itu Demi, Demi."
" Demi kenapa Demi?" Vale mengguncang tubuh mekanik tadi biar lebih dramatis.
" Demi kayaknya mau lahiran gara-gara tadi terlalu bersemangat buat dukung kamu, kayaknya sih tuh anaknya juga mau keluar buat ketemu kamu."
Vale langsung capcus ketempa Demi akan melangsungkan persalinan.
" Valentino Rossi kan?" seorang dokter muda, yang kayaknya lebih muda 2 tahun ketimbang Vale langsung nyambut pas Vale baru aja tiba di rumah sakit.
" Iya saya." padahal dalem hati Vale ngebatin 'Elah ini orang udik atau apa sih? Masa gak tau seorang Valentino Rossi.'
" Mari saya antar ke ruangan bu Demi."
" Anaknya udah keluar dok?"
" Maaf nama saya Adam bukan dok, iya anaknya udah lahir. Cowok."
Dengan raut muka berbinar, Vale langsung berlari keruangan nya si Demi.



-To Be Continued-