SpongeBob SquarePants

Sabtu, 27 September 2014

I Love To Kill—You


 
Btw Inspirasi awalnya dari MV nya Lyn yang Duet sama Leo ;)
&&&&

Namanya Jorge Lorenzo, mungkin hampir satu kampus mengenalnya. Wajahnya yang sangat Eropa itu, ditambah mata abu-abunya yang seksi membuat dirinya sangat tidak susah untuk mendapatkan gadis manapun dikampus. Beberapa mahasiswi malah merelakan apa saja asal bisa dianggap sebagai mantan Jojo—panggilan akrab Jorge Lorenzo—atau bahkan hanya sebagai one night stand nya.
Dibalik Jojo yang tampan dan dikagumi banyak gadis ada sesuatu yang tersembunyi dari pria duapuluh satu tahun itu. Sebuah rahasia besar, dosa besar, aib besar atau apapun lah itu.
Jojo yang nampak diluar sangat bertolak belakang bahkan jauh dari kata Jojo yang sebenarnya. Jojo yang bengis, keji dan haus darah. Jojo yang memiliki kebiasaan aneh—mengambil organ tubuh kekasih-kekasihnya. Jojo yang tanpa ampun menghabisi nyawa pacar-pacarnya itu hanya untuk sebuah ginjal, mata, jantung, paru-paru, bahkan kadang hanya untuk mengambil darah dari bagian tubuh tertentu gadisnya—tentunya bukan darah keperawaanan akibat pecahnya selaput dara, karena susah ngambilnya :p.

&&&&

Disetiap tahun ajaran baru tiba Jojo selalu mengandeng gadis baru pula—terkadang juga sebelum tahun ajaran baru gandengannya sudah baru. Beberapa bulan kemudian pasti gadis yang ia dekati hilang tanpa jejak begitu saja. Seperti sebutir debu diatas aspal yang terkena hujan—hilang tanpa ada yang mencarinya lagi. Tak pernah ada yang curiga atau bahkan bertanya-tanya. Semua berjalan normal, sesuai harapan—Jojo.
Dibalik aura maskulinnya Jojo sangat gemar menjahit. Terdapat satu set mesin jahit dikamar apartemen nya. Mesin jahit itu juga yang selalu setia menemani Jojo membuatkan baju terakhir untuk para gadisnya, baju pengantar Jojo menyebutnya.

&&&&

Tahun ajaran kali ini—disemesternya yang kedelapan dan entah dikorbannya yang keberapa—Jojo bertemu dengan seorang gadis separo Jepang separo Spanyol. Namanya Utsina Mei, gadis itu punya kembaran bernama Utsina Marc. Mata gadis itu entah kenapa seperti membutakan Jojo, seperti ada perasaan tulus yang membiusnya.
Mata sipit Mei membuat Jojo ingin memilikinya, dalam arti kiasannya. Bukan dengan mencongkel paksa itu dari persemayaman nyamannya. Jojo merasa aneh, kenapa saat ia melihat Utsina Mei berbeda dengan saat ia melihat gadis-gadis sebelumnya. Bahkan dengan para korban-korbannya.
Akankah aku berubah? Perburuanku selama ini hanya sampai disini? Sampai pada sosok Utsina Mei? Jojo semakin bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Batinnya berperang, setengah mengajak untuk berhenti, setengahnya lagi meminta untuk menjadikan Mei ‘koleksi’ terbarunya.
Melihat wajah kebingungan Mei membuat Jojo gemas. Ingin rasanya ia cubit pipi chubby milik Mei tapi ia takut kalau Mei tidak suka dan bagaimana kalau dia kalap dan malah pipi Mei akan menjadi barang barunya.
Bayangan kedua membuatnya bergidik ngeri, itu akan membuat seluruh dunia tahu kalau dia kejam. Kalau dia suka mempermainkan nyawa orang demi hobbynya. Kalau dia tak pernah serius dengan para gadisnya. Dan dia telah mengecewakan semuanya.

&&&&

Akibat pertemuan singkat itu dan tak perlu waktu lama akhirnya Mei jatuh juga dalam pelukan setan Jojo.
Hari-hari diawal hubungan mereka sangat lancar, karena Mei juga hobby menggambar makanya dia sering menemani Jojo mendesain beberapa baju. Selain untuk Jojo jual baju-baju itu juga Jojo buat untuk Mei.
Aneh! Iya aneh. Selama tiga bulan menjalin kasih dengan Mei, Jojo tidak sekalipun punya niatan untuk memiliki bagian tubuh Mei. Bahkan hanya untuk mendapatkan bibir gadis itu—melumatnya hingga habis.
Sangat-sangat-sangat berbeda dengan Jojo yang bahkan kadang hanya seminggu saja sudah ingin mengambil sebelah ginjal pacarnya.
Jojo tersenyum lalu menggeleng pelan. Benar memang, perburuannya hanya sampai pada Utsina Mei. Tuhan telah memberikan jalan untuknya, jalan dimana kelak ia bisa juga seperti manusia lain pada umumnya—merasakan surgaNya.
“ Kenapa senyum-senyum sendiri?” Mei menggoda Jojo usil. Tangan lentik itu masih terus menggambar busana sekolah yang biasanya ada di anime-anime.
“ Lucu kali ya kalau kamu pake baju kayak gini.” Jojo tidak bisa menyembunyikan senyumnya—tapi menyembunyikan maksudnya.
“ Aku di Jepang juga sekolah pake baju kayak gini.”
Jawaban polos Mei malah membuat Jojo kaku, badannya seakan seperti es dikutub. Jojo yang sebenarnya sangat akrab dengan keadaan seperti ini semakin gugup. Akankan dia kembali? Menjadi Jojo yang bengis? Jojo yang tidak tahu dosa dan tidak menghargai orang lain?
Jangan… Jangan… Jangan sekarang… Aku mohon. Jojo menahan dirinya sekuat mungkin agar tidak membahayakan Mei, bahkan tidak rela kalau gadis itu sampe lecet sedikit saja.
Kemana perginya obat-obat sialan itu? Kemana huh? Saat diperlukan saja kalian malah main petak umpet. Jojo mengumpat dalam hatinya. Ah, obat sialan. Batinnya.
Dan PLAK. Kesadarannya benar-benar sudah entah kemana sekarang. Tiba-tiba tangannya malah menampar pipi mulus Mei. Gadis itu tersungkur, entah sejak kapan airmatanya meleleh. Bukan karena sakitnya tamparan Jojo dipipinya, tapi guratan—cakaran—yang Jojo buat dihatinya. Seumur-umur baru ini ada orang berani menamparnya.
Jojo Lancang. Hanya itu yang terfikirkan oleh gadis bermata sipit itu. Apa salahnya? Kenapa hanya karena dia memegang benang warna merah tadi Jojo langsung menamparnya.
Dengan airmata yang masih bertahan disudut pelupuk matanya Mei berlari keluar apartemen, pulang kerumah. Setengah niat Jojo sudah hendak mengejar gadis itu, tapi setengahnya menyuruhnya untuk mengobrak-abrik ruangan itu sampai menemukan obat-obat sialan yang hilang entah kemananya.

&&&&

Seperti biasa Mei menemani Jojo mendesain baju-bajunya. Kali ini Mei sedang tidak dalam moodnya untuk membantu Jojo mendesain, jadilah ia hanya memandangi pangerannya itu tengah memainkan ujung pensilnya. Menghasilkan mahakarya yang kalau dipamerkan akan dipuji banyak orang—Mei tahu betul masalah fashion show. Tapi Jojo malah suka memajangnya dibutik-butik teman angkatan atau butik orang tua mereka. Kalau tidak ya dikasihkan kepada kekasihnya. Seperti yang sudah tiga bulan dia lakukan pada Mei.
Kejadian penamparan seminggu yang lalu rupanya sudah mulai terlupakan oleh Mei, Mei memaklumi mungkin sama saat itu Jojo tidak sengaja atau apalah. Toh Mei memilih untuk tidak peduli.
“ Ah lucu sekali.” Mei langsung menarik kertas hasil gambaran Jojo yang baru saja selesai.
Melihat gelagat Mei yang mengajaknya bercanda Jojo langsung mengejar gadisnya itu mengelilingi kamar apartemennya. Dipelukknya Mei dari belakang supaya gadis itu berhenti berlari, malah kini gantian Mei yang memeluk Jojo dari belakang.
Mei mencoba menikmati setiap detiknya bersama pria itu, pria yang sudah membuat hidupnya bahagia belakangan ini. Pria yang mengerti tentang dirinya—selain Marc tentunya.
“ Apa kamu bahagia?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir tipis milik Mei.
Bukannya dapat jawaban yang menyenangkan atau sebuah senyum yang meneduhkan. Mei malah mendapat sikutan ‘kecil’ dari Jojo. Tubuhnya tersungkur, kepalanya membentur pinggiran lemari hingga pelipisnya sedikit berdarah.
Melihat darah itu Mei panik dan langsung keluar kamar untuk pulang. Beda dengan Jojo yang saat melihat darah dipelipis Mei malah membuatnya semakin ingin memiliki gadis itu, bukan sebagai pendampingnya. Tapi sebagai salah satu ‘koleksinya’.

&&&&

Hari-hari penuh tawa Mei berubah. Sikap Jojo sekarang semakin tidak menentu, setiap ada masalah dengan gambarannya maka yang menjadi pelampiasan adalah Mei. Mulai dari ditampar, didorong kelantai hingga gadis itu tersungkur, dan berbagai perlakuan yang semestinya bisa dibilang tidak manusiawi.
Mei sudah terbiasa, entahlah mungkin karena ia sudah terlalu cinta dengan Jojonya itu. Sampai apapun yang Jojo lakukan dia hanya pasrah dan kemudian menangis didalam kamarnya.
Sejahat apapun Jojo padanya Mei masih tetap bersyukur. Jojo berbeda dengan cowok lainnya yang selalu untuk menjelajahi gadisnya, memberi tanda sana sini, padahal mereka sama-sama tahu kalau tanda itu akan hilang seminggu kemudian. Apa cinta mereka hanya akan seumuran dengan tanda itu? entah lah.
Jangankan sampai melakukan adengan khusus dengan rating tertentu, menciumnya saja Jojo tidak pernah. Yang Jojo lakukan—kebanyakan akhir-akhir ini—ya seperti ini. Memberikan banyak bekas luka—rata-rata dikepalanya.

&&&&

Hari ini seperti hari yang sudah-sudah Mei mengunjungi Jojo di apartemennya. Tapi apartemen itu kosong, isinya berantakan kesana-kemari. Dengan sabar Mei mengambil benda-benda yang terhambur itu. Tangan-tangannya tak sengaja menyentuh pil-pil yang berserakan.
Matanya memandang aneh, kagum, bingung dengan pil-pil itu. Sejak kapan Jojo mengoleksi pil? Pil apa memangnya ini?
Diambilnya satu per satu pil-pil itu lalu ia masukan kedalam botol lalu merapikannya kedalam box kecil yang Mei yakini sebagai asal muasal tempat pil tersebut.
Seluruh ruangan telah Mei bereskan. Matanya baru meyadari ada sebuah box putih dengan pita biru diatasnya. Dengan sejuta pertanyaan Mei memegang box itu—berusaha untuk membukanya.
Sial. Belum sempat Mei melihat sepucuk pun dari isi box itu tangan Jojo sudah lebih dahulu menghalangi nya. Tangan kekar itu menyingkirkan tangan Mungil Mei hanya dengan satu hentakan—yang pastinya membuat tangan mungil itu sedikit sakit.
“ Apa aku memerintahkanmu untuk membereskan apartemen ku?”
Kalimat tajam Jojo membuat Mei diam. Ingin sekali ia jawab pertanyaan Jojo itu dengan semua unek-uneknya tapi semua perkataan itu malah raib entah kemana.
Hanya satu yang bisa dilakukan Mei saat ini. Menangis, bulir airmata itu turun perlahan. Dan membuatnya berakhir dalam pelukan Jojo yang hangat, penuh cinta dan kasih. Sangat berbeda dengan Jojo yang baru saja membentaknya dan membuatnya menangis.
“ Kamu pasti capek. Berbaring lah, aku akan mandi.” Jojo mengusap puncak kepalanya lalu melesat kekamar mandi.
Dalam pikiran Mei adalah “ Apakah Jojo bipolar?”. Ah sudahlah, mungkin Jojo hanya khawatir padanya. Mei tersenyum pelan lalu merebahkan badannya ke ranjang nyaman Jojo.
Sambil menunggu Jojo selesai mandi, matanya menerawang ke langit-langit kamar Jojo. Imajinasinya entah sudah sampai mana sampai membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
KREK. Suara pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan sosok seorang Jojo hanya dalam balutan handuk yang menutupi pusar hingga atas lututnya. Bagi Jojo terlihat seperti itu sudah terlampau biasa, tapi bagi Mei? Ini pertama kalinya dalam sejarah gadis itu melihat ‘pemandangan’ baru seperti itu. Mei mengalihkan pandangannya, juga menghindarkan pipinya yang sudah bersemu merah terlihat Jojo.
Jojo begitu santai melewati Mei yang sangat-sangat salah tingkah. Badan Jojo yang terekpos sempurna dengan air yang membasahinya…. Arrgghhh kenapa itu membuat Mei frustasi dan membayangkan sesuatu yang iya-iya dengan Jojo, adengan erotis diantara mereka. Saat-saat dimana Mei memegang otot bisep itu… oh Tuhan.
Jojo kumohon jangan menggodaku seperti ini…. Kumohon. Mei merintih dalam hatinya, juga berdoa kepada Tuhan agar adengan-adengan yang iya-iya tadi tidak pernah terjadi—setidaknya hingga sebuah pernikahan suci mengikatnya dengan seorang laki-laki dikemudian hari.
Saking asyiknya dengan pikirannya sendiri Mei bahkan tidak menyadari bahwa Jojo sudah merebahkan badan disebelahnya. Anehnya Mei dengan otomatis masuk kedalam dekapan pria itu, melupakan rasa canggungnya tadi.
Mata Mei semakin terasa berat. Jojo menikmati pemandangan dihadapannya. Tangannya bergerak memegang pelan pipi chubby Mei—kemudian menariknya. Mei yang menikmati sentuhan itu—sangat menikmati dan menginginkannya—menarik kembali tangan Jojo. Tapi Jojo malah bersikeras untuk menarik kembali tangannya. Tak berharap pipi mulus Mei terkena seujungpun kulitnya.
Mei merasakan perih. Sakit, kenapa Jojonya sekarang selalu berubah? Kenapa Jojonya sekarang menjadi dingin? Adapakah denganmu Jo? Apa aku melakukan salah?

&&&&

Seminggu sudah Jojo melarang Mei mendatanginya, juga memilih menghindar dari gadis itu ketika dikampus. Jojo bilang ia akan fokus dengan skripsinya dan Mei hanya manut-manut saja.
Bukannya ketenangan yang ia dapatkan, melainkan sebuah teror… bukan dari Mei tapi dari bayangan kelam Jia. Gadis campuran Thailand-Jepang itu hadir lagi dalam kehidupannya. Tentunya dalam imajinasi Jojo saja, karena Jojo sangat yakin kalau Jia sudah ia kubur di apartemennya yang dulu dan sepasang bola mata cantik gadis itu ada disalah satu botol di lemari koleksinya.
Bayangan ketika ia dan Jia masih terngiang, bayangan bagaimana piawainya gadis itu membuatkan ia Tom Yam dan makanan-makanan eksotis asal negeri gajah putih—negara ayahnya. Jia juga seorang penulis komik.
Hubungannya dan Jia berjalan normal. Bahkan lebih normal dari hubungannya dengan Mei. Jia mengenakan baju pengantin yang ekornya menyapu lantai sebagai baju pengantarnya—pengantar maut Jojo.
Jojo tak pernah mengerti kenapa bayangan gadis yang bahkan nama aslinya tak pernah bisa Jojo eja—saking susahnya—gadis yang hanya Jojo tahu dengan nama Jia dan nama pena Uthori Zui.
Semua kenangannya dengan Jia yang sudah menguap kembali mengkristal. Kembali ke daratan, padahal Jojo sudah seyakin mungkin bahwa kenangan itu sudah sampai ke ruang angkasa—diruangan hampa udara. Terbunuh bersama partikel-partikel pecahan bintang neutron dan terserap lubang hitam.

&&&&

Disaat bayangan Jia yang semakin pelik, Jojo menghambur seluruh apartemennya. Melepaskan amarahnya pada bayangan yang tidak kunjung pergi. Dan laknatnya bayangan ketika ia menjamah Jia juga terlintas. Ah ini kenapa bisa terjadi? kenapa bayangan tak senonoh itu muncul? Apa karena aku terlalu…? Aih. Batin Jojo berkutat dengan gemuruhnya.
CKLEK. Mei membuka pintu, melihat Jojo yang berdiri dan tampak lusuh gadis itu mendekat. Memeluk kekasihnya erat seolah Jojo akan pergi. Jojo tidak membalas pelukan itu. Ia benamkan wajahnya di leher mulus nan jenjang milik Mei. Dihisapnya pelan aroma tubuh kekasihnya, dengan sedikit gerakan seduktif yang membuat Mei geli.
Apakah aku benar-benar mencintaimu Mei? Apa arti ingin memiliki bagimu Mei? Apa sama dengan yang aku fikirkan?
Dalam satu hentakan Jojo menendang tubuh Mei tepat diulu hatinya. Gadis itu jatuh dan memuntahkan darah. Mata bengis Jojo menatap Mei dengan pandangan sejuta makna. Mei memegangi perut dan menampung darah yang terus ia keluarkan.
“ Apa maumu Jo?”
Baru selesai Mei bertanya ternyata Jojo sudah mengeluarkan sebuah pisau bedah yang sudah jangan ditanya lagi. Jojo memiliki mereka lengkap walaupun dia bukan anak fakultas kedokteran.
“ Kumohon Jo…” nada suara Mei bergetar. Gadis itu takut. Takut dengan orang yang paling ia cintai. Takut kehilangan? Sepertinya.
Dan KREK. Jojo membelah perut Mei tanpa ampun. Gadis itu menghembuskan napas terakhirnya. Kemudian Jojo mengoyak dada Mei, mencari letak jantungnya. Mencabutnya dengan paksa kemudian memasukkannya kedalam sebuah botol bersama darah Mei yang sempat ia ambil.
“ Thanks Mei.” dikecupnya pelan puncak kepala—bangkai—seorang Utsina Mei. “ Aku punya sesuatu untukmu…”—terakhir untukmu.
Jojo mempreteli satu persatu pakaian yang Mei kenakan. “ Ternyata badanmu bagus juga, sayangnya tidak terlalu menggoda untuk ke sentuh.” Senyuman licik menghiasi wajah tampannya.
Dikecupnya pelan baju pengantar Mei. Kemudian ia kenakan. Setelah semua pakaian lengkap dia dirikan Mei diantara baju-bajunya yang lain—dengan manekin yang benar-benar manekin.
Wajah pucat Utsina Mei yang sedikit tertempa cahaya langit sore kota Sevilla membuatnya cantik—dengan wajah datarnya

----
Sementara itu ditempat lain Marc sedang berusaha keras menghubungi saudara kembarnya yang bilang hanya akan keluar rumah limabelas menit saja. Dengan perasaan kesal Marc menstater motornya. Tujuan utama adalah apartemen Jojo, dimana itu adalah tempat tersering Mei kunjungi—melebihi kunjungan ke kampusnya sendiri.
BRAK. Marc langsung mendobrak tanpa ampun pintu apartemen Jojo. Pemandangan mengejutkan, tubuh Mei yang sudah kaku dengan balutan baju penganti sebatas lutut—sambil menggenggam sebucket bunga mawar putih.
Seluruh badannya lungai, tapi ada satu tekatnya. Ia sangat yakin ini adalah ulah Jojo. Siapa lagi memang?
Jojo keluar dari arah lemari koleksinya dengan mengenakan tuxedo. Wajahnya sumringah—koleksinya bertambah, sebuah jantung.
“ Apa yang kau lakukan pada adikku?” Marc langsung mencerca Jojo dengan pertanyaan brutalnya.
“ Tenang bro, aku tidak melakukan apapun pada adikmu yang manis ini.” Jojo menyentuh pelan dagu Mei—dingin.
“ YA!!”
Baru satu teriakan tapi gerakan Jojo tak kalah cepat. Ternyata dari tadi pisau bedah yang ia buat untuk mengambil jantung Mei masih ia selipkan dibalik tuxedonya yang rapi. Dengan satu hentakan nyawa Marc sudah menguap. Dan pemuda itu jatuh terkapar di apartemennya. Woah rekor bagus Jo, dua orang dalam sehari.
Senyuman begis itu kembali muncul. “ Sorry Marc tidak ada yang aku harapkan darimu. Aku hanya tidak ingin ada yang tahu tentang kelakuan bejatku selama ini. Dan terimakasih untuk adikmu yang telah memberiku jantung indahnya.”—catatan : Jojo hanya mengambil orang wanita.
Jojo meninggalkan dua jasad sepasang kembar pengantin itu dengan tanpa dosa. Diseretnya koper penuh organ-organ tubuh kekasihnya—mantan lebih tepatnya, karena sekarang mereka sudah tidak berhubungan kan? Walau tanpa kata putus.

&&&&

Dua bulan semenjak kejadian itu Jojo melarikan diri ke sebuah kota di Ukraina. Memulai hidup barunya. Namun bukan seperti biasanya Jojo bisa dengan mudah menaklukan hati kaum hawa, kini rasanya semua pesona seperti hilang tak membekas. Dua bulan dan Jojo masih sendiri, oh ayolah ini mustahil.
Handphonenya berdering. Sebuah nomor menelponnya, nomor asing. Tanpa ragus Jojo mengangkat panggilan itu.
“ Hallo?” kening Jojo berkerut.
“ Pa.” suara anak kecil mengejutkannya.
“ Ha?”
Pa? apa maksudnya? Kebingungannya semakin memuncak.
“ Jojo-ya.”
GLEK. Jojo ingat kalau hanya Jia yang memanggilnya seperti itu. Terkadang juga phi-Jo.
“…..” Jojo terdiam.
“ Pa, Jien sekarang sudah bisa menulis sendiri.” suara anak perempuan kecil mengoceh diseberang.
“ Phi, apa kamu tidak ingat dengan anak kita?”
Jojo semakin terdiam. Anak kita? Maksudnya?
“ Aku tahu kamu tidak pernah mengharapkan kedatangannya. Tapi kumohon anggap dia ada.” suara putus asa Jia menutup percakapan aneh itu.
Aku tidak bermimpi kan? Jojo menepuk pipinya. Tidak. Jelas ini bukan mimpi.
Memorinya bergerak lamban kebelakang, tepatnya dikejadian tiga tahun lalu. Saat umurnya baru delapanbelas tahun. Jia adalah kekasih pertamanya, perebut keperjakaannya, dan juga koleksi pertamanya.
Ia ingat apa yang mendasarinya membunuh Jia kala itu. Karena Jia memberinya sebuah benda kecil laknat denga  dua garis manis yang menghiasnya. Kala itu Jia mendesaknya untuk menjelaskan ke orang tuanya, Jia yang masih mempertahankan adat ketimuran merasa seperti terkena cambuk.
Tanpa pikir panjang Jojo menikam Jia, mengambil mata gadis itu sebagai kenang-kenangan dan menguburkannya di apartemen lamanya di Valencia kemudian pindah ke Sevilla.
Mulai dari itu Jojo selalu mengambil bagian tubuh gadis yang ia kencani—sebagai kenang-kenangan dan koleksinya—walaupun tidak sampai membuat perusahaan investasi saham dirahim para gadisnya—tidak seperti yang ia lakukan pada Jia.
Beda dengan Jia yang ia kuburkan didalam apartemen. Pada gadis selanjutnya Jojo akan menjualnya pada mahasiswa kedokteran yang tengah butuh mayat untuk praktek atau kepada orang-orang yang hobby menayantap daging manusia.

&&&&

Tengah malam handphonenya kembali berdering. Seseorang mengiriminya sebuah poto melalui line.
Mukanya langsung pucat saat ia melihat poto yang dikirimkan. Foto Mei dan Marc disebuah pantai, entah pantai mana. Dengan tanggal yang baru kemarin. Mukanya memucat. Benarkah ini foto yang baru diambil kemarin?
Seseorang menelponya. Dengan ragu Jojo menjawab panggilan asing itu.
“ Lain kali datanglah ke Utrech, aku dan adikku ada disini.” suara ngebass milik Marc terdengar dari seberang.
Suasana sunyi, setelah mengatakan kalimat itu Marc langsung menghentikan percakapan dan menutup sambungan telepon.
Dengan batin tertekan Jojo menghampiri lemari kolekisnya, kemudian menumpahkan semua yang ada didalam lemari itu. organ-organ berserakan. Berhamburan kesana kemari. Melihat itu saja mungkin akan membuat orang normal akan muntah dan tidak enak makan selama sebulan.
Bahu Jojo tersengal, ia menangis. Iya, seorang Jorge Lorenzo menangis. Menginat semua masa lalunya yang kelam.
Dalam sebuah isakan ia meminta, “ Semuanya maafkan aku, Tuhan bisakah kamu menerima ku sebagai hambamu—lagi?”



I’m sorry for the painful times
I won’t lose you again
…..
I’ll stay here now
Because I have so much to do for you
Because there’s so much I owe you
Because I’m so thankful


[ LYn  feat  VIXX Leo - Blossom tears ]

Kamis, 21 Agustus 2014

El-Love-Classico-Ketika Cintaku Salah Assist Part 10 [END]

Huwaa ini last part buat El-love-classico makasih buat yg setia membaca/? Disarankan saat baca part ini sambil dengerin lagunya Usher yang Separated biar makin nyes/?

&&&&

Morata memasuki apartementnya dengan gontai. Kepalanya pening. Bau alkohol juga menyeruak dari bibirnya.
" Mor kamu gapapa kan?" Myla menahan tubuh Morata yang hampir ambruk.
" Zi…"
" Kamu mabuk?" Myla membulatkan matanya ketika bau alkohol menyeruak.
" Zi…."
" Kenapa dengan Zi?"
" Aku menceraikannya… tidak dia memintaku menceraikannya."
" Kamu serius?"
Morata hanya menganggukkan kepalanya. Myla masih tidak bisa mempercayai perkataan Morata.
" Aku memang sedang dalam pengaruh alkohol Myl, tapi aku sadar sama apa yang aku ucapkan." mata sayu Morata menatap dalam Myla. Yang ditatap hanya menunduk.
" Mau aku ambilkan air putih Mor?"
" Eum…" Morata mengangguk.

&&&&

" Zi….." Bartra melambaikan tangannya saat Zi berjalan ke arah cafeteria.
Zi balik melambaikan tangannya ceria, tapi saat melihat ekspresi Neymar disebelah Bartra dia menurunkan tangannya ragu. Mimik wajah Neymar berubah saat melihat Zi.
" Kok jarang sama Morata lagi Zi?" Bartra menyenggol bahu Zi.
Mendengar nama itu wajah Zi berubah, matanya menahan tangis. " Aku… Udah pisah." Zi mengucapkannya dengan volume yang sangat pelan.
" Kamu cerai?"
Teriakan Bartra sukses membuat beberapa orang yang ada di cafeteria menoleh, tak terkecuali Neymar yang langsung menengok saat Bartra menyebutkan kata 'cerai'.
" Kamu serius Zi?"
" Takdir." Zi menjawab enteng.
Disela-sela kesibukannya dengan handphone(?) Neymar melirik Zi yang tersenyum ke Bartra, dan Bartra yang masih pucat karena shock.
" Oh ya bulan depan aku sepertinya bakalan balik ke China."
" Kuliahmu Zi?"
" Akan kuteruskan di China, pamanku memberiku penawaran untuk magang di rumah sakit miliknya." Zi mengangkat kedua bahu nya.
" Kamu bakalan balik ke sini kan Zi?" Bartra menghembuskan napas lemah(?).
" Kalau untuk liburan mungkin iya kalau buat menetap sepertinya enggak deh."
" Yah ga ada Zi lagi."
Sontak Bartra memeluk Zi. Zi merasakan airmatanya menetes. Ternyata masih ada orang yang menerimanya.
Manik mata Zi menatap Neymar yang masih tidak beralih dari tempatnya dan masih dengan posisi yang sama. Perih. Padahal ia mengharap pelukan dari pria itu.
" Pesanlah apa yang kalian mau, aku traktir."
" Serius Zi?"
" Eum… Ini hari terakhirku dikampus."
Neymar otomatis menoleh. Zi pergi? Zi benar-benar pergi?

&&&&


To : Myla

Selamat ya Myl anakmu udah lahir kkk~

Zi mengirim pesan saat tau anak Myla―dengan Morata―telah lahir. Bahagia? Tentu. Sedikit kecewa? Mungkin.

From : Myla

Terimakasih Ya Zi ^^

To : Myla

Boleh aku bertemu?

Myla menggigit bibir bawahnya. Apakah ia harus mengizinkan Zi datang menemuinya―dan pastinya akan bertemu Morata juga.

From : Myla

Baiklah.

Dengan segera Zi mengambil tas nya dan bergegas keluar rumah untuk mencegat taksi. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Myla dan Morata tentunya.

&&&&

" Myla…" Zi langsung memeluk Myla saat menemukan ruangan Myla.
Morata melihat kerukunan―istri dan mantan istrinya―itu dengan lemah. Andai mereka berdua masih miliknya. Ah tidak, itu akan membuat Zi terluka.
" Oh ya Zi selamat buat kehamilannya."
Zi memaksakan senyum sambil melirik Morata. Dan diamnya Morata juga melirik Zi, mencoba mencari tau bagaimana reaksinya.
" Denger-denger mau balik ke China Zi?"
" Iya Myl, aku berangkat besok."
" Besok?" Myla membulatkan mata.
" Iya besok jam sembilan pagi."
" Kenapa cepat sekali." Myla memukul pelan bahu Zi.
" Hanya itu tiket yang aku dapat untuk penerbangan dalam waktu dekat ini."
" Enjoy your flight darl." kini giliran Myla yang mendekap erat Zi.
Pandangan Zi dan Morata saling bertemu. Dari tatapan itu bisa disimpulkan kalau mereka satu sama lain saling mengatakan "Selamat tinggal."

It's foolish but you know I'm this kind of girl
So please, this is my last favor
If you ever run to me
Will you please smile at me, who can't  forget you?
[ Jiyeon - 1Min 1Sec ]

&&&&

Zi masih menunggu anak-anak Barca menyelesaikan latihannya dipinggir lapangan. Karena banyaknya pemain Barca berserta staff nya yang kenal dengan Zi makanya dengan mudah ia keluar masuk area latihan bahkan loker room.
" Ney…" Zi melambaikan tangannya ke Neymar saat seluruh latihan telah berakhir.
Tapi apa yang Zi terima, hanya sebuah tatapan singkat dan sikap dingin dan acuh Neymar. Bartra yang melihat Zi mendunduk setelah dicampakkan Neymar langsung berlari kecil kearah Zi.
" Zi… Udah lama?"
" Baru kok." tentu saja Zi bohong karena ia sudah disitu sejak dua jam yang lalu.
" Ada perlu?"
" Eung bilangin ya ke Neymar aku berangkat besok pagi, kalau dia masih menganggapku teman datang kerumahku nanti malam. Ada yang mau aku sampaikan."
" Baiklah nanti aku bilangin ke Neymar. Oh ya mau aku traktir?"
" Nggak usah, aku harus balik ke rumah."
" Oke…"


----


" Ney." Bartra menepuk pundak Neymar.
" Eung…"
" Besok pagi Zi berangkat ke China."
Hati Neymar seperti terjatuh, secepat inikah Zi kembali ke China? Bahkan sebelum kuliahnya Selesai.
" Lalu?" Neymar mencoba untuk tidak menaruh minat.
" Dia bilang kalau kamu masih menganggapnya teman datanglah malam ini kerumahnya. Katanya ada yang mau dia sampaikan."
" Memangnya siapa yang perlu? Cih." Neymar tersenyum sinis.
" Datanglah, buang egomu yang sebesar Titanic itu." Bartra mencibir Neymar.
"  Sudahlah ini urusanku." Neymar sedikit membentak Bartra yang sudah melenggang keluar pintu.
" Aku hanya memberi saran, datangi Zi sebelum terlambat." suara Bartra perlahan menghilang, tinggal Neymar yang masih menunduk dalam hening.


----


Jam sembilan Malam Neymar masih bimbang, memberhentikan mobilnya didepan jalan rumah Zi. Rumah itu nampak kosong, hanya lampu ruang tamu yang terlihat menyala. Sambil terus memegangi tangannya yang mulai basah akibat keringat dingin. Neymar mencoba meyakinkan dirinya dalam hati.
" Ayolah, hanya menemui Zi. Bahkan ini bisa yang terakhir."
Neymar memegangi ponselnya mencoba menghubungi Zi. Ditekannya dial number 2. Suara sambungan terhubung.
Sementara disini lain Zi langsung terlonjak kaget saat nama yang beberapa bulan ini jarang sekali ia temui dilayar handphone nya kini muncul kembali.
" Ney?"
Tidak ada jawaban sama sekali
" Ney? Kamu disana?"
Tuutt tuttt tuuttt. Bunyi sambungan telepon terputus. Zi menatap layar handphone nya lemas. Apa Neymar hanya membuatnya menunggu seperti ini.
" Why you wont talk with me?"

&&&&

Pukul tujuh pagi Zi sudah sampai di Bandara. Tidak ada seorangpun yang bersamanya. Hanya sebuah pesan dari paman Zhang kalau ia akan dijemput saat tiba nanti.
Zi menangkupkan kedua tangannya kedinginan. Sedikit uap dari napasnya menambah kesan sunyi didiri Zi.
Dari kejauhan sepasang mata memandang kearah Zi―hanya kearah Zi. Dipelupuk itu sudah bergelayut kristal-kristal airmata yang hendak mengalir.
" Zi?" Zi refleks menoleh. Senyum Morata menyambutnya.
Sepasang mata yang dari tadi memandangi Zi dari kejauhan semakin menumpukkan butiran-butiran airmata yang semakin jelas.
Morata memeluk Zi saat gadis itu sudah masuk jangkauannya(?).
" Jaga dirimu baik-baik ya Zi… Suatu saat aku pasti akan menemuimu lagi." Morata mengeratkan pelukkannya.
" Jaga Myla ya…" Zi membalas dekapan erat Morata.
Kini Morata beralih menatap intens mata sipit milik Zi. Yang ditatap hanya gelagapan. Seperti kebanyakan kisah di novel maupun film, Morata mengecup pelan bibir mungil Zi. Kecupan terakhirnya.
Pemilik sepasang mata yang sedari tadi memandangi Zi dari kejauhan membantik sebuah benda kecil yang sejak tadi ia genggam di tangan kanannya.
Ya, Neymarlah yang sejak tadi memandang Zi dari kejauhan. Neymar datang kebandara hanya untuk memberikan sebuah cincin pemberian ibunya dulu. Ibunya selalu bilang bahwa cincin itu hanya kepada wanita yang ia cintai―sangat-sangat ia cintai.
Seperti sudah ditakdirkan, semua kejadian dibawah langit memang sudah memiliki kepastian. Dan tak pernah bisa ia miliki Zi juga telah menjadi sebuah kepastian.

&&&&


Whered you go? You said you never leave me
All alone, my heart is barely beating
Like a ghost you haunt me everyday, that you're gone
I'm not the same, now something went missing
There's a cage, it feels like a prison
Here, I stay until you comeback home…
[ The Cab - Lovesick Fool ]

Lagu itu bergelayut manja selama limabelas menit pertama saat didalam pesawat ditelinga Zi. Kenapa hanya limabelas menit? Karena berjam-jam selanjutnya Zi sudah tertidur pulas.

&&&&

*** 18Tahun kemudian***

Rho Morata memperhatikan seorang gadis seusianya tengah menyeret sebuah koper lumayan besar bergambar hello kitty. Wajah gadis itu sangat Asia tapi entah kenapa wajah gadis itu nampak sangat tidak asing.
Kemudian datang lagi sepasang suami-istri―seumuran dengan ayah-ibu Rho―yang berwajah sangat Asia, kemungkinan terbesar kedua orang tua gadis tersebut.
" Lim… Jalanmu lambat sekali." Zi menjitak pelan kepala Yelim Wang―anaknya, dengan Morata.
Manik mata Zi tak sengaja menatap wajah anak muda yang tidak asing baginya. Wajah itu mengingatkannya pada satu hal. Morata. Ngomong-ngomong bagaimana kabar pria itu? Apakah berubah setelah delapan belas tahun.
" Eomma melihat apa?" Lim menengok kebelakang menatap wajah cowok yang sepertinya sejak tadi diperhatikan Zi.
" Tidak teruslah." Zi mendorong bahu Lim menyusul appa nya yang sudah jalan duluan.
" Eomma kira-kira bagaimana wajah Pyo dengan Rho ya?"
Lim membayangkan wajah kedua adik kembarnya yang sudah sekitar duatahun tidak ia temui karena memilih untuk bersekolah di Spanyol. Sedangkan ia sibuk dengan sekolahnya di Jerman.
" Oh ya eomma, eomma bilang aku punya kakak? Tapi kenapa eomma tidak pernah mengenalkannya padaku?" Lim seketika teringat dengan cerita eomma nya tentang 'kakak'nya.
Zi menoleh kebelakang, remaja tadi sudah tidak ada. " Nanti akan eomma ceritakan saat sampai di Spanyol."


----


" Perhatian kepada seluruh penumpang pesawat Asia Airlines dengan nomor penerbangan A165 tujuan Berlin-Guangzhou agar segera menuju ruang tunggu…."

Saat mendengar suara pengumuman keberangkatannya menuju Guangzhou Rho langsung bergegas keruang tunggunya.

" Akhirnya aku bertemu juga dengan adikku, Yelim aku datang." Rho mengembangkan senyumnya.
Baik Lim maupun Rho tidak ada yang tau kalau mereka tidak perlu melintas benua untuk bertemu. Yelim sudah limatahun belakangan tinggal di Jerman dan baru saja mereka saling tatap, berada dibawah naungan langit yang sama, menghirup udara yang sama. Takdir kah ini?



-END-

Gimana? Ga sesuai harapan? Pastinya(?). Makasih buat semua yang udah ngikutin FF ini dari awal. Ga nyangka bakalan habis kkk~ Maybe it’s my last FF. Maybe