Tittle :
El"Love"Classico-"Ketika Cintaku Salah Assist"
Rating : T aja deh
:D
Genre : Romance
seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter
(@fauziahfitri_)
Kylie Mourinho
(@kusuma_wij)
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Other….
EYD nya acak-adul
ini, maap. Nih FF sebenernya mau dibikin ber-series tapi liat respon aja dulu,
banyak nggak yang mau ini FF dibikin ber-series. Kalau banyak ya dibikin
berseries, kalau nggak ya enggak -_- <<---- tanda pasrah.
****
Membincangkan laga
antara Barcelona vs Real Madrid emang nggak ada abisnya. Apalagi ketika
menjelang laga paling panas di ranah Spanyol ini. Zi nggak kalah heboh dari
yang lainnya dong. Akhir-akhir ini memang laga ini sedang banyak
diperbincangkan, mulai dari dunia nyata, dunia maya sampai dunia lain.
" Eh pegang
berapa Zi?"
" Nggak tau,
jangan seratus ya, nggak kuat gue. Taukan kalau abis push up gimana aku."
" Paling-paling
mimisan Zi."
Eits ini taruhan nya
push up ya, inilah kelakuan temen-temen kelasku pas ada big match. Ya kalau
klub jagoannya kalah kan ada imbalannya, sixpact :3.
" Heleh itu
kalau aku kepanasan kali." Zi njitak kepala Neymar. Sekalipun Neymar ini
adalah seorang pesepakbola handal tapi kalau udah sama Zi dia bakalan nggak
peduli sama statusnya sebagai pemain bola.
" Dukung aku ya
Zi. Dukung Barca sih tepatnya hehe."
" Nyata sudah.
Sekalipun Barca nggak ada kamu pun aku bakalan dukung Barca kali." Zi
ngikik.
" Emang kenapa
kalau ada aku?"
" Kamu kan
sahabat terbaikku."
" Makasih Zi.
Boleh minta peluk?"
"
Silahkan."
Dan mereka pun berpelukan
di kantin kampus -_-.
****
" Zi pakai ini
ya." Neymar mengalungkan sebuah ID Card.
" Buat apa
ini?"
" Kalau pakai
ini kamu bebas masuk Camp Nou, termasuk ke loker room."
" Serius?"
mata Zi langsung berbinar.
" Iya."
" Makasih
ya."
Neymar hanya mengangguk,
semua ini Neymar lakukan karena ia tertarik pada Zi, lebih pada ia tertarik
terhadap Bruna. Lagi pula Zi juga baik terhadap Davi, dan sepertinya Davi juga
sangat nyaman dengan Zi. Tapi masalahnya apakah Zi juga tertarik padanya? Zi
memang baik padanya dan pada semua orang. Cara dia tersenyum, berbicara, sampai
tatapannya pun sama kepada setiap orang. Tak ada satupun tanda Zi tertarik
padanya. Zi hanya nyaman ketika bersamanya, tak lebih.
" Kamu nanti
ada diloker room ya pas aku datang."
" Emmm…. Baiklah."
" Asyik."
Zi berlari seperti
anak kecil, Zi berlari menuju Botiga. Ada sesuatu yang harus ia cari dan dibeli
disana.
" Zi."
" Apa?" Zi
berbalik.
" Janji ke
loker room ya."
Zi hanya mengangguk.
>>>>
15menit sebelum
laga, Zi tak kunjung juga ke loker room, Neymar mulai gelisah.
" Zi kemana
kamu? Kenapa nggak datang?" Neymar mondar-mandir kesana kemari kayak
setrikaan rusak. Kelakuan Neymar ini mendapat tatapan aneh dari beberapa pemain
Barca lainnya, terutama duo sobat Bartra-Tello yang doyang ngegosip.
" Kenapa sih
kamu mondar-mandir mulu? Nggak ditelpon ama Bruna ya." Bartra tertawa
jahil.
Neymar tersontak,
dia ingat seharian ini dia tak sekalipun menelpon dan melakukan kontak dengan
Bruna. Astaga apa yang dia lakukan? Zi semua ini karena Zi. Elah, Zi lagi yang
salah.
" Hey siapa
kamu kau tak boleh masuk kesini." seseorang petugas mencegat Zi ketika ia
berlari tanpa haluan menuju loker room.
" Aku teman
Neymar, dan aku punya…" kata-kata Zi terputus. " sialan aku
meninggalkannya di Botiga." Zi merutuki kecerobohannya.
" Kau tidak
bisa masuk."
" Tapi aku
sudah ada janji percayalah aku teman Neymar."
Keributan yang
terjadi tepat didepan loker room itu membuat Neymar mendengar dengan jelas
suara Zi. Seketika Neymar keluar, melupakan hal tentang Bruna yang sempat ia
pikirkan tadi. Zi lebih penting saat ini.
" Zi."
" Neymar."
Petugas itu langsung
bersikap ramah terhadap Zi, sedangkan Zi memasang muka gahar seperti ingin
menjitak kepala botak sang petugas.
" Ayo Zi ikut
aku."
" Kemana?"
kesadaan Zi kayaknya belum pulih habis debat ama petugas tadi :D.
" Ke loker room
lah Zi."
" Ada Xavi
Hernandez tidak?" tentulah pasti ini yang akan pertama kali Zi tanyakan.
" Tentu, kau
mau minta tandatangan? Foto bareng?"
" Semuanya
kalau perlu Xavi nya ku bawa pulang."
" Nggak bisa
dong Zi, ntar jendral lapangan tengah Barca siapa?"
" Ya kalau pas
pertandingan ama latihan aku balikin."
" Kalau
istrinya nyariin?"
" Bagi
dua."
" Ziii."
"
Neymaaarr."
Sepertinya mereka
berdua nggak peduli kalau mereka lagi ada didalam loker room anak-anak Barca.
" Cewek baru
ya?" Tello usil + kepo + mupeng :3.
" Cantik
juga." Bartra menimpali.
" Hey boleh
minta foto bareng?" Zi mengabaikan gurauan-gurauan mereka.
" Boleh
cantik." Jawab Barta ama Tello serempak. Eleh tepe-tepe mereka.
" Katanya tadi
janji mau nemuin aku sama Xavi Hernandez." Zi menagih janjinya Neymar
tadi.
" Ayo."
refleks Neymar meraih bahu Zi dan menggandengnya.
" Nggak gini
juga kali." Zi protes. Neymar jadi gugup, sepertinya Zi mulai membuatnya
gila dalam artian tergila-gila bukan gila beneran.
" Aaaa Xavi
Hernandez." belum sempat Neymar membuka mulutnya, teriakan Zi sudah
menggema.
" Boleh minta
tanda tangan, foto bareng, pelukan. Aaa minta semuanya."
" Tentu
:)." Ihh ini Xavi Hernandes baik banget.
Zi nggak cuman minta
1 atau 2 foto dan tanda tangan tapi berkali kali. Termasuk foto mereka pelukan
:D. authornya ngebayangin sambil nyidam -_-
" Makasih ya,
kamu pemain yang baik banget."
" Kamu juga
fans yang baik. Eh btw kamu siapa nya Neymar?" Xavi menatap curiga.
" Hanya teman
kampus."
Kata-kata Zi boleh
terdengar biasa ditelinga orang lain. Tapi di telinga Neymar itu seperti
geledek yang menghantamnya, "
Hanya Teman Kampus" bisa jadi hanyalah kata sederhana
tapi meruntuhkan semua harapan. Memang benar Zi tak pernah menaruh harap
padanya.
" Ney aku ke
bangku penonton duluan ya. Semangat buat laga nanti malam. Bikin gol ya buat
aku." Zi mengedipkan mata. Ihir panggilan Neymar kek orang India “Ney”
" Ini debut Zi.
Tapi kalau gol itu untukmu pasti ku beri."
Zi mendekap erat
Neymar, Neymar tak bisa apa-apa selain membeku ditempat. Ia bahkan takut kalau
debaran jantungnya yang tak karuan terdengar oleh Zi.
Dengan senyum
mengembang Zi keluar loker room menuju bangku-bangku penonton di stadion.
" Hey
kamu." seseorang berteriak. Zi pun menoleh, kalau-kalau dia yang
dipanggil. Zi tengak-tengok kesana kemari, memang benar tak ada orang lain
selain dia dan orang yang berteriak tadi.
" Iya
kamu."
" Aku?” Zi
menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa?"
" Apa benda ini
milikmu." laki-laki itu mengacungkan sebuah gantungan hape berbentuk
boneka dengan baju Barca mini.
" Oh,
terimakasih."
"
Sama-sama." cowok itu langsung berbalik.
" Tunggu, siapa
namamu?"
" Alvaro,
Alvaro Morata."
" Kau pemain Real
Madrid?" Zi sedikit ragu. Bahkan Zi nggak tau Morata, emejing.
" Iya dan
kamu?"
" Zi dan aku
bukan siapa-siapa."
" Lalu kenapa
kamu bisa masuk kesini. Bukankah penjagaan untuk El-Classico sangat
ketat?"
" Ah itu…"
Zi ragu untuk mengatakan nya. " Aku punya kenalan tapi aku tak bisa
mengatakannya." Zi ngacir begitu saja. Zi jadi bingung kenapa ia jadi
sangat kacau dihadapan Morata?
****
" Mata gadis
itu, matanya." itulah
kata yang sedari tadi di ucapkan Morata dalam hati. Mata sipit Zi sangat tak
biasa. Mata itu mirip dengan mata Sung Hye; gadis Korea yang sempat ia kagumi
di kampus.
" Hey dari mana
saja kamu? Kick off sebentar lagi." Karim Benzema memergoki Morata sedang
menunduk ketika memasuk loker room.
" Aku hanya
jalan-jalan." jawab Morata datar. Tak mungkin ia bilang kalau ia hendak
mendatangi loker room Barca untuk menemui Tello dan Bartra. Bisa digorok
anak-anak el-Real yang lain ntar.
" Ada
masalah?" Benzema peka banget.
" Enggak
kok."
" Jujur aja deh
pasti ada."
Morata hanya
mengangguk kecil tanda mengiyakan.
" Udahlah nggak
usah dipikirin. Ntar malah ganggu performa kamu." Benzema menepuk-nepuk
ringan Bahu Morata sebagai tanda semangat.
Mata sipit gadis
tadi memang sedikit demi sedikit mengingatkan kenangannya dengan Sung Hye.
Siapapun gadis itu ia ingin menemuinya sekali lagi, dan mengatakan bahwa dia
memiliki mata yang indah. Dan juga wajah yang cantik.
****
Ketika Zi sampai
dibangku penonton ternyata disana sudah sangat ramai tapi tak penuh sesak
karena Zi dapat tempat di bangku VIP. Sebenarnya ini bukan mau Zi, tapi
lagi-lagi Neymar yang memaksanya. Zi sebenarnya lebih suka duduk dibangku
tribun, kenapa Zi suka? karena disana dia bisa lebih akrab dengan fans yang
lain, dan menambah teman tentunya. Tak seperti di bangku VIP, isinya tak
terlalu banyak :p. Ini semua Neymar lakukan karena jika ia mencetak gol saat
debutnya di El-Classico ia akan dengan mudah menjumpai wajah Zi.
Kedua kesebelasan
mulai memasuki lapangan, hawa merinding yang selalu Zi rasakan ketikan menonton
El-Classico semakin terasa.
" Ayoo Cesc,
aku padamu." suara seorang cewek memekakan telinga Zi. Saat Zi menoleh
kearah sumber suara. Betapa kagetnya dia, cewek yang tadi meneriakkan nama Cesc
adalah anak mantan pelatih Real Madrid; Jose Mourinho. Dan parahnya lagi tuh
cewek pakai baju Madrid. Ciri-ciri El-Love-Classico kayak gini kali yah.
Memang pernah ada
selentingan yang menyatakan bahwa Kylie menjalin kedekatan dengan Cesc tapi
berita itu berlalu begitu saja. Kini terbukti sudah kebenaran berita itu, tapi
kenapa Kylie nggak ikut bokapnya ke Chelsea dan milih nyangsang di Madrid?
Zi menatap aneh
Kylie. " Kenapa heran ya?" Kylie menyibakan kipas tangannya, iyalah
kipas angin mana bisa.
" Nggak."
Zi kembali fokus dengan jalannya laga.
" Yey Gol.
Neymar kau tepati janjimu." Zi begitu bahagia. Nggak hanya Neymar yang
selebrasi di lapangan, di bangku penonton Zi juga berselebrasi dengan mencium
gantungan hape yang ia beli tadi. Itu gantungan hape yang ditemuin Morata tadi.
" Ah sialan.
Ayo Cesc getak gol juga dong, kegawang Valdes tapi." Kylie mengumpat
dengan lemas. Cesc bobol gawang Valdes? Pffftt
Neymar yang sedang
selebrasi memang tak sulit menemukan Zi diantara hampir seratus ribu orang.
Matanya menerawang ke udara sembari membayangkan senyuman terindah milik Zi
beserta masa sipit khas Chinanya.
Zi : Iya Bayangin
terus senyumanku Neymar #dilemparsendal.
*bact to Story*
" Hay siapa
namamu?" Kylie tiba-tiba sudah ada disebelah Zi.
" Hwang Zia.
Kamu Kylie Mourinho kan?"
" Eh kok kamu
tau." Kylie langsung ke PeDean." Namamu China, matamu sipit. Kau
orang China?"
Zi mengangguk dan
dia rasa itu cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Kylie.
" Hey aku tadi
melihatmu ada diloker room bersama Neymar. Kalian pacaran ya?"
Mata Zi terbelalak. "Damn!."
" Tidak kami
hanya berteman."
" Enelan?"
Kylie ngikik. Wahaha di Barca ada Enelan? Ciyus miapahnya mana.
Diakhir pertandingan
akhirnya Zi lah yang tersenyum karena tim kebanggaannya memenangkan laga.
Sedangkan Kylie harus cembetut dan bisa dipastikan besok kayaknya dia nggak
ngampus :p.
( kenapa nih
pertandingannya main skip aja? Karena authornya nggak nonton. Kenapa nggak
nonton? Karena jantung saya lagi kambuh :( #poorZi.)
****
" Zi
tunggu."
" Eh Morata
kenapa?"
" Boleh aku
minta nomor hapemu?"
" Untuk
apa?"
" Mungkin aja
ya kalau kita bisa ketemu lagi."
" Baiklah.
Zi menyebutkan
beberapa angka yang diketik Morata. Neymar yang tak sengaja melihat kedekatan
antara Zi dan Morata langsung meninjukan tangannya ke pintu loker room, setelah
itu ia megangin tangannya karena kesakitan -_-.
" Bye Zi."
" Bye." Zi
melamun.
Suara ribut-ribut
sepasang kekasih terdengar saat Zi mulai sadar dari lamunannya.
" Kenapa kamu
nggak ngegolin ke gawang Valdes." Kylie lagi berantem ama Cesc.
" Mana bisa
beb, kau mau aku dipecat?"
" Iya. Dan kamu
pindah club." Kylie berlalu pergi tanpa menghiraukan Cesc lagi.
" Hay Zi."
dan Kylie bisa langsung tersenyum pada Zi setelah marah-marah sama Cesc. HEBAT.
" Kenapa
dia?" Zi menanyai Cesc.
" Aku nggak
bikin gol."
" Ke gawang
Valdes kan yang di tagih?"
" Iya."
Cesc masuk ke loker room sambil cembetut.
Baru beberapa
langkah Zi berjalan seseorang meraih bahunya. Ternyata Neymar.
" Selamat ya
kau tepati janjimu."
Tanpa menjawab
ucapan Zi, Neymar langsung mendekap Zi. Mendekap sahabatnya itu dengan Sangat
erat. Davi Luca hanya memandanginya, bocah kecil itu memang jarang sekali
digendong.
" Gol itu
untukmu Zi, untuk sahabat terbaikku."
" Terima kasih
Ney." Zi menitikan airmatanya. Merasakan tetesan Airmata Zi dibahunya
Neymar pun ikut menitikan airmata walau hanya beberapa tetes.
Tapi sebenernya Neymari
nangis bukan karena si Zi nangis sih, melainkan karena kakinya keinjek Zi :|.
Sedangkan Zi nangis karena meratapi nasip kaki nya yang udah nyut-nyutan gegara
pake stiletto (apalah itu sandal yang runcing(?) unjungnya).
" Papa ayo pulang."Davi
menggoyang-goyangkan kaki Neymar.
" Kau mau
kuantar pulang Zi."
" Terserah kau
saja."
Malam El-Classico
itu ditutup dengan senyum. Neymar sedikit melupakan kedekatan Zi dengan Morata
tadi, lagian kan besok masih bisa ditanyakan pada Zi kenapa Morata begitu dekat
dengannya.
****
Zi belum juga bisa
memejamkan matanya ketika sampai dirumahnya. Hp nya berdering tanda sms masuk,
sebuah nomor tak dikenali
Hay Zi ini aku
Morata :)
Zi langsung men-save
nomor itu lalu membalasnya.
To : Morata
Apa kau sudah sampai
ke hotel?
From : Morata
Belum, kau sendiri?
To : Morata
Aku sudah sampai
rumah :)
From : Morata
Kau sudah makan
malam?
"Astaga."
Zi panik, dia baru ingat. Dia belum makan malam dan meminum obat penguat
jantungnya.
Sesegera mungkin ia
menuju dapur. Untung saja sore tadi ia sempat menanak nasi di rice-cooker yang
belum tersentuh. Dengan skill memasak yang sudah terasah Zi meracik bumbu untuk
makanan tersimple, nasi goreng -_-.
Hp nya beberapa kali
berdering tapi ia abaikan, hal ini lebih penting dari apapun sekarang. Bahkan
termasuk berita keuangan dari orang tuanya.
Seusai makan dan
minum obat Zi langsung menuju kamar mandi. Zi memang tak akan mandi karena ia
pasti akan kembung jika mandi malam-malam. Dan kalau Zi kembung itu akibatnya
fatal. Zi hobby amat sakit.
Limabelas pesan
masuk yang belum terbaca. 14belas dari Neymar dan 1dari Morata.
From : Neymar
Zi kau sudah makan
malam? Obatnya jangan lupa diminum ya :). Sleep well good night, have a nice
dream {}
Dan 13sisanya sama.
From : Morata
Zi kau sudah tidur?
Have a nice dream :*
Zi jadi bingung
sendiri yang satu emote nya {} yang satu malah lebih parah :*. Tanpa berfikir
panjang dengan ulah kedua laki-laki yang sebenarnya menaruh hati padanya tanpa
ia sadari, Zi terlelap dengan mimpinya.
****
Besoknya di kampus
Zi dengan PeDenya menggunakan barang-barang serba Barca. Mulai dari baju, tas,
gantungan kunci, jam, gelang, skin laptop + Hp, sampai-sampai ia juga
mengenakan pin sama jepit rambut Barca *emang ada?*.
" Wih Zi niat
banget deh."
" Iya
dong."
Zi berjalan
menyusuri lorong kampus dengan senyum yang mengembang dan ia harap Neymar juga
akan tersenyum sepertinya.
" Hey kenapa
kamu cemberut?" Zi menatap Neymar yang sepertinya tak ada euforia sama
sekali setelah semalam bisa mengalahkan Real Madrid + cetak 1gol.
" Eh Zi kamu
kapan datang?"
Kini giliran Zi yang
cemberut.
" Zi kenapa
kamu cemberut. Aku salah ya?"
" Enggak
kok." still cembetut.
" Ya udah maaf
tadi aku nggak tau kamu datang."
" Bukannya
gitu, pertanyaanku belum kamu jawab eh kamunya udah nanya balik." elah Zi
Zi.
" Masalah
Davi." kelah Neymar, dengan berbohong tentunya.
" Yakin bukan
masalah Bruna."
" Aku seperti
ini karena memikirkan mu Zi." batin Neymar.
" Bukan Zi
tenang saja aku baik-baik saja dengannya. Eh boleh tau semalam kau ada apa
dengan Morata?"
Kerongkongan Zi
tercekat, bagaimana Neymar bisa tau tentang itu?
" Hah aku?
Tidak dia hanya meminta nomor hape ku saja."
" Untuk
apa?"
" Untuk…"
jawaban Zi menggantung. Dia baru ingat kalau semalam ia membeli sepasang
gantungan hape lucu yang rencanya akn ia berikan untuk Neymar.
" Nah! Untuk
ini." Zi memberikan sebuah gantungan hape kepada Neymar.
" Apa
ini?"
" Lihat."
Zi mengangkat hape putih miliknya.
" Couple?"
" Iya." Zi
mengangguk sambil tersenyum.
" Makasih Zi.
Eh tapi apa hubungannya gantungan ini dengan Morata?"
" Gantungan ini
kemaren kan jatuh terus ditemuin sama Morata. Nggak taunya pas habis
pertandingan dia minta nomor hape ku." Zi memasang wajah bingung.
" Ney titip
dulu ya ini, aku kebelet nih."
" Ok."
Tak lama setelah Zi
pergi hape nya berdering.
From : Morata
Zi malam ini kau ada
acara? Aku masih di Barca kau mau makan malam bareng aku?
Benar dugaan Neymar
sebelumnya, Morata juga tertarik dengan Zi. Bagaimana dengan Zi? Apa dia
tertarik dengan Morata juga?
" Ney,
Ney." Zi menggerak-gerakan tangannya di hadapan Neymar yang sedang
melamun.
" Eh Zi, ini
tadi ada sms dari Morata."
Zi meraih hapenya.
Matanya langsung terbelalak dengan muka yang pucat pasi.
" Bagaimana
ini?"
" Terserah
mu." Neymar mendengus pasrah.
" Aku mau pergi
kalau kau ikut." Zi menatap dalam mata Neymar.
" Kau gila Zi?
Dia hanya memintamu bukan aku. Dan sepertinya itu undangan khusus."
" Aku nggak
peduli. Pokoknya aku sama kamu, titik." Zi berlalu, meninggalkan Neymar
yang masih mlongo.
" Zi
tunggu."
Zi tak bergeming, ia
tetap melangkah dengan kesalnya. Kesal karena Neymar tak mau menemaninya makan
malam bersama Morata. :|
" Zi aku mau
menemanimu." Neymar berteriak.
Sontak Zi berbalik.
" Kau serius?"
" Aku serius."
" Janji."
Zi mengangkat jari kelingking nya.
" Janji."
Neymar juga ikut menaikkan jari kelingking nya.
***
Apakah Zi akan
kencan sambil bawa temen cowok? Kita tunggu aja nih kelanjutannya "Ketika
Cintaku Salah Assist"
-Bersambung tapi
nunggu respon :)-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar