SpongeBob SquarePants

Minggu, 18 Oktober 2015

You've Got Me From Hello [One Shot]


Hana POV

Aku lari tunggang langgang. Prescon sudah mulai lima menit yang
lalu dan aku dengan temanku, Stev, masih lari tunggang langgang menuju
lokasi prescon.

Brak! Karena terburu-buru aku membuka pintu dengan kasar dan membuat
semua mata wartawan dan mata beberapa rider mengarah kepadaku.

Ada tiga rider yang menatapku. Yang pertama Jorge Lorenzo dengan
tatapan sinisnya, heuh sepertinya rider satu ini tidak punya tatapan
lain selain sinis. Valentino Rossi dengan tatapan bingungnya dan Marc
Marquez dengan tatapan yang susah aku artikan. Wajah Marc menunjukan
kebingungan tapi matanya mengatakan hal lain.

Aku langsung mencari tempat duduk. Dan seperti yang sudah aku duga aku
dan Stev mendapat kursi di baris belakang. Tentu tak ada wartawan
manapun yang akan membiarkan kursi depan kosong.

"Hana, I'm sorry."

"Sudahlah Stev, yang jelas kita datang saat prescon baru dimulai."

Aku merasa sedikit bersyukur karena dipeliputan kali ini aku
dipasangkan dengan Stev. Karena kalau dengan partner yang lain pasti
akan lebih repot lagi. Terlebih ini adalah kali pertama aku meliput
gelaran motogp, biasanya aku meliput pertandingan bola.


&&&&


Marc POV

Brak! Dan dua orang masuk. Satu orang pria dengan kamera dan seorang
wanita berambut blonde dengan binder di tangannya. Aku tangguhkan
mereka berdua adalah wartawan.

Satu, dua, tiga, dan aku terpesona dengan wanita berambut blonde itu.
Wajahnya perpaduan Turki dan Asia Timur. Sungguh cantik.

Selama prescon manik mataku mengekor gerakannya. Sesekali ia tersenyum
dan darahku terasa lebih cepat desirannya.

Hingga akhirnya dia berdiri dan memberiku pertanyaan.

"Marc, apa..."

"Kau tak berniat untuk memperkenalkan dirimu terlebih dahulu?" tanyaku
menggoda.  Ia memutarkan bola matanya sebal.

"Baiklah perkenalkan nama saya Hana Jung, saya ingin menanyakan
sesuatu untuk Marc," ia menghela napasnya. "Marc apa targetmu di
Philip Island tahun ini, mengingat kau sudah tidak berpeluang untuk
menjadi juara dunia. Terimakasih."

Pertanyaan yang menohok, dan dari caranya bertanya seperti menyimpan
dendam padaku. Padahal tadi saat ia menanyai Jorge Lorenzo tidak
seperti itu, bahkan ia tersenyum kepada Jorge.

"Ehem, semua rider pasti memiliki target. Dan akupun begitu. Mungkin
aku akan menargetkann podium dirace kali ini," jawabku singkat sambil
melempar senyum yang dibalasnya dengan muka masam.

Seperti baru saja melihat pria bajingan yang tengah mencoba
menggodanya. Eh tapi kan aku tengah mencoba menggodanya. Yah
setidaknya aku bukan pria bajingan (menurutku).

"Kalau kau mau, aku bisa memberimu podium satu," tambahku setengah
menggoda. Seisi ruangan bergemuruh dengan tawa dan tepuk tangan.

Dan bisa ditebak dia memberiku wajah yang semakin menunjukkan
ketidaksukaannya dan mencoba untuk segera keluar dari ruangan ini.


&&&&


Hana POV

"Memangnya dia pikir dia siapa?" aku mengomel sepanjang jalan aku
keluar dari ruang prescon.

Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajah orang yang katanya sudah
menjuarai MotoGP dua kali itu. Menyebalkan.

"Sudahlah Han, kamu sih terlalu cantik makanya Marc naksir ke kamu
(barangkali)," Stev mencoba menghiburku.

"Kau juga Stev. Kalau kamu gak nginggalin kameramu kita nggak bakalan
telat dan Marc (sepertinya) nggak akan sadar sama keberadaanku."

Aku malah jadi menyalahkan Stev, ia hanya menunduk dan sepertinya
merasa bersalah.

"Hana, sebagai tanda maafku mari ku traktir kau ice cream. Aku tau
kedai ice cream yang enak disini."

Stev benar-benar tahu betul apa yang aku mau saat moodku sedang jatuh.

Aku mengenal Stev sejak di bangku kuliah. Dia dulu adalah kakak
tingkatku, yang sejujurnya sempat aku idolakan.

Dan sepertinya Tuhan berkehendak lain. Stev sudah menikah dan sudah
memiliki anak sekarang.

Sesampainya di kedai itu aku buru-buru masuk dan memilih ice cream
yang aku suka. Hal yang paling aku sukai selain meliput adalah mencoba
kedai ice cream baru, dan ternyata pekerjaanku sangat membantuku untuk
melaksanakan hobby ku yang satu ini.

“Kau mau apa?” tanya ku pada Stev.

“Aku ikut kamu aja.”

Ia lalu memilih tempat duduk di luar kafe. Hmm, cukup nyaman sepertinya makan ice cream sambil mengamati orang yang berlalu lalang di sirkuit.

"Green tea dua," ucapku bersemangat.

"Vanila."

Suara berat milik seseorang disebelahku membuatku tersontak. Aku baru
mendengar suara itu namun aku yakin betul siapa pemiliknya.

Aku menoleh dan... sialan sekali pria itu muncul lagi.

"Hai Mrs. Jung. Or should I called you with Mrs. Marquez?" tanyanya
dengan nada genit.

"Only in your dream," ucapku setengah membentak dan berlalu sambil
membawa nampan berisi dua porsi ice cream untukku dan Stev.
Seleraku dengan ice cream hilang seketika. Aku bahkan tak pernah tau
kalau aku bisa hilang selera dengan hal terindah di dunia ini.

"Boleh aku duduk disini?"

Sialan. Si brengsek itu datang lagi dan mencoba menanyakan satu kursi
kosong diantara ku dan Stev. Stev yang memang memiliki sifat tidak
tegaan langsung mengiyakan permintaan alien keparat itu.

"Kau tidak keberatan kan Mrs. Jung?" dengan sengaja Marc membisikkan
kata-kata itu ditelingaku. Menjijikkan.

"Kalaupun aku keberatan apa kau akan pergi dan mencari tempat lain?"

"Tentu tidak."

Enteng sekali dia menjawab. Tidak salah ternyata aku membencinya. Dia
lebih menyebalkan dari yang aku kira.

"Sudahlah Han. Lihat ice cream mu mulai mencair," Stev mencoba
menengahi perang antara aku dan Marc.

"Ice cream mu saja mencair melihatku. Masa kamu tidak?"

"Bermimpilah selagi kau bisa."

Aku langsung pergi. Salah satu harus ada yang mengalah disini.


&&&&


Author POV

Marc merasa terkejut. Sejauh ini Hana adalah wanita pertama yang
menolaknya mentah-mentah. Sebelumnya belum ada wanita manapun yang
menolaknya seperti Hana.

"Gadis itu harus aku dapatkan," gumamnya dalam hati.

Marc kemudian menghabiskan ice cream yang ia pesan tadi sambil
membayangkan senyum manis Hana di prescon tadi. Yang naasnya senyuman
itu ditujukan kepada rival senegaranya. Jorge Lorenzo.

"Atau karena aku tidak cool seperti Jorge ya?" ia bertanya-tanya sendiri.

Orang mungkin akan berfikir kalau Marc setengah waras kalau melihat
kelakuannya sekarang.


----


Hana duduk di salah satu sudut sirkuit sembari meneguk segelas
milkshake. Stev sedang sibuk membidik gambar para rider Moto3 yang
melakukan sesi latihan bebas.

"Hai cantik."

Hana langsung membuang milkshakenya dan berlalu pergi dari orang yang
baru saja menyapanya. Yup, orang itu adalah Marc Marquez. Orang yang
paling Hana benci.

"Tunggu sampai aku mendapatkanmu," tekat rider repsol honda tersebut.


&&&&


Marc POV

Qualification day! Itu artinya besok race dan beberapa hari kemudian
aku akan bertolak ke Sepang, Malaysia. Lalu Hana? Apakah gadis itu
akan bertolak ke Sepang juga?

"Jangan nglamun," Dani menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum.

"Hana aku bakalan pole buat kamu."
Aku keluar dari garasi dan segera menunggangi kuda besi yang sudah
selesai disetting para mekanik. Dalam otakku hanya ada dua pilihan.
Meraih pole dan semakin mendekati Hana atau tidak pole dan menjauhi
gadis itu.

Sepertinya aku sudah dibuat gila oleh gadis berambut blonde yang
akhir-akhir ini ku ketahui ternyata dia keturunan Turki-Korea(Utara).


----


Hana POV

Aku menonton kualifikasi di samping Stev yang sedang mengambil
beberapa gambar. Walau aku harus merelakan kulitku sedikit terbakar
tapi menonton dari sudut ini lumayan oke juga.

"Hana kalau Marc beneran suka sama kamu gimana?" Stev menatapku dengan
tatapan seriusnya.

"Aku tolak."

Lalu ia menatapku seperti bertanya, seriously?

"Aku tidak suka rider itu, diluar dia seperti pria baik-baik yang easy
going tapi aslinya..."

Aku sengaja menggantung perkataanku karena aku bingung untuk memilih
kata yang pas.

"Kau tak takut dihujat sebagai gadis yang angkuh?"

"Aku lebih memilih menjadi wanita yang angkuh ketimbang dicap menjadi
wanita perebut pacar orang lain," aku sengaja membentuk tanda kutip
saat menyebutkan kata pacar dan Stev tertawa.

"Honey aku pole!"

Seseorang menutup mataku dan aku tahu siapa orang itu.

"Aku bukan madumu," jawabku asal.

"Hana sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku?"

"Sampai kau tidak memiliki kepribadian ganda."

"Tapi aku tidak berkepribadian ganda."

"Yes, You are. Aku yang di depan kamera dan yang dibelakang kamera
jelas-jelas jauh berbeda."

"Perasaan sama aja. Aku tetap tampan."

Huh. Pe-De nya kumat. (lagi-lagi) Aku memutar bola mataku dan pergi
sambil setengah menyeret Stev yang masih asyik dengan kamera dan
kualifikasi Moto2.


&&&&


Author POV

Race day! Hari yang membahagiakan bagi Hana karena dia akan terbebas
dari seorang penguntit bernama Marc Marquez. Sebaliknya Marc tak rela
waktunya di Australia semakin singkat.

Ting! Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Hana. Sebuah nomor tak dikenal

From No name : Doakan aku ya honey. 93

Dan saat melihat angka terakhir dari pesan itu Hana langsung memasang
muka jengah.

To No name : I'm never be your honey.

Hana mensilent handphonenya lalu mengikuti langkah Stev dari belakang. Saat nya menikmati Philip Island. Tanpa gangguan Marc, yang tentunya sedang melakukan tugasnya sebagai seorang pembalap.

Mereka berdua menonton jalannya balap dari salah satu sudut sirkuit yang sedikit teduh. Setidaknya tidak seperti saat Hana harus merelakan kulitnya terbakar. Hana sama sekali tidak fokus menonton jalannya race—kecuali saat Andrea Iannone menabrak seekor burung berwanra putih. Ia hanya menatap sirkuit dengan tatapan kosong walaupun jalannya balap begitu seru—menurut semua orang kecuali Hana. Hingga akhirnya Marc mengakhiri perlawanan Jorge Lorenzo di tikungan terakhir.

“Hana berbaliklah, aku ingin mengambil gambarmu dari belakang.”

Hana mengikuti saja apa kata Stev, lagi pula selama ia di Philip Island kali ini belum ada satupun foto yang terabadikan.

“Bagus Hana,” Stev menunjukan hasil jepretannya. Dan Hana dengan refleksnya langsung menghampiri sang fotografer.

“Kau baru tahu ya kalau Hana selalu cantik,” Marc langsung merangkulkan tanganya ke pundak Hana dan mencium kening gadis itu singkat.

PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus rider bernomor sembilan tiga itu.

“Apa kau selalu seperti ini terhadap pria?” Marc memegangi pipinya yang memerah.
“Ya. Selama dia brengsek aku akan melakukannya kenapa?”

“Jadi kau pikir aku pria yang brengsek?”

“Akhirnya kau sadar diri,” Hana melipat tangannya didada.

&&&&

Marc POV
Hana. Jung Hana. Hana Jung. Atau apalah nama gadis itu akan selalu aku ingat. Dia gadis pertama yang menolakku mentah-mentah. Dia juga sukses menjadi wanita pertama yang menamparku. Dan mungkin saja dia wanita pertama yang menjadi Anti-fanku. Tapi aku tak peduli. Aku mencintainya.

“Hana, kenapa sih kamu selalu mencoba menjauhi ku? Ada yang salah dengan ku?”

“Maaf Mr. Marquez kalau anda berpikir semua wanita bisa jatuh dalam dekapan anda, anda salah besar.”

“Tapi Hana..”

“Jangan karena kau kaya, terkenal dan tampan kau bisa membuat semua wanita jatuh cinta kepadamu, dan mungkin saja kau juga berpikiran untuk menidurinya.”

Aku terhenyak dengan jawabannya, apakah aku tipe pria yang demikian?

“Marc, hidupmu dan karirmu akan lebih bagus tanpa ada aku didalamnya.”
Ia memegang pundakku pelan, aku rasakan ada sengalan dan isakan kecil disana. Namun aku hanya diam, tak tahu harus berbuat apa. Mungkin aku sudah keterlaluan pada Hana.

&&&&

Hana POV

Philip island 2016

Aku kembali ke sirkuit ini setelah setahun lamanya. Aku datang bukan karena aku mendapat tugas untuk meliput jalannya MotoGP lagi seperti tahun lalu. Tapi lebih karena aku tidak tega untuk membuat seseorang terus membuang uangnya hanya demi membelikanku secarik kertas.

Dan orang itu adalah Marc Marquez. Yang sejak Sepang tahun lalu selalu mengirimkan tiket dan paddock pass untukku supaya aku mau datang.

Tapi saat itu aku masih terlalu keras kepala untuk menilainya dari sudut yang lain, terlalu buta untuk melihat kegigihannya kepadaku dan terlalu terburu-buru untuk mengatakan bahwa dirinya brengsek. Untuk fakta yang terakhir aku tersenyum dan bertanya dalam hati, sebenarnya siapa yang lebih brengsek disini?

Marc menyuruhku untuk duduk manis di paddocknya dan aku menuruti saja perintah yang ia berikan lewat line itu. Dan ternyata perintah Marc ini berdampak buruk, beberapa kamera menyoroti ku, juga beberapa mekanik yang menatapku aneh. Mungkin mereka mengira aku kekasih Marc.

Sampai akhirnya balap aku hanya menengok ke kiri dan ke kanan. Aku bingun, apakah aku harus tetap menonton jalannya race dengan tenang saat beberapa tatapan asing dan kamera menyorot ke arah ku? Jujur saja aku mengharapkan Marc segera menyelesaikan selebrasinya dan kembali ke paddock—dan menyelesaikan semuanya.

“Hana?”

Suara Marc yang cukup familiar ditelingaku—karena saking seringnya dia menelponku—aku langsung mengenalinya.

“Kau semakin cantik.”

Tentu. Aku tidak blushing sama sekali.

“Akhirnya kau datang juga setelah lima belas tiket yang aku belikan.”

“Sebenarnya setelah tujuh belas tiket,” aku menjawab dengan canggung.

“Sebanyak itu kah?”

Suasana canggung yang tak terelakan. Yang sudah aku duga sebelumnya.

“Lalu bagaimana?” tanyanya.

“Apa?”

“Sama seperti pertanyaanku tahun lalu,” tanyanya malu-malu.

“Aku memilih untuk menjadi sesaeng[1]mu.”

“Dalam artian?”

“Aku akan mengikutimu kemanapun,” jawabku malu.

Marc langsung memelukku—tanpa menciumku seperti tahun lalu. Aku malu pada diriku sendiri. Dulu aku membencinya, sangat-sangat membencinya. Tapi sekarang? Aku menghargai perjuangannya.

“Jadi kau sudah tau cara how to love Mr. Marquez, Jung Hana?”

“Siapa bilang aku mencintaimu, aku hanya bilang kalau aku mau menjadi penguntitmu saja.”

"Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu begitu ngotot mendapatkanku yang jelas-jelas anti-fan mu?"

"Memangnya kenapa kalau aku jatuh cinta dengan anti-fanku sendiri?"

"Tidak. Hanya saja kau punya banyak fans yang pastinya lebih rela kalau kau cintai. Lagipula..."

"Lagipula apa?"

Aku hanya diam.

"Kalau aku mencintai salah satu saja fansku bukankah itu akan membuat fansku lainnya akan cemburu. Kan lebih baik begini aku membuat semua fansku cemburu karena aku mencintai anti-fanku sendiri," jawabnya sambil mengulum senyum.

“Gila!” cibirku.

“Apa kau bilang?” lalu dia memelukku dengan erat.






-END-
Thanks to Kim Eun Jeong eonni buat novelnya yang sangat menginspirasi.

[1] penguntit

Selasa, 13 Oktober 2015

The Architect and I

"Tak akan pernah setinggi Burj Khalifa, namun lebih berarti dari
mimpiku."
— Jo Hye Eun


&&&&


Aku merentangkan tangan bahagia, ku lempar topi toga ku dengan
perasaan yang campur aduk. Lega rasanya perjuanganku selama tiga
setengah tahun belakangan ini tak sia-sia. Beberapa temanku memberi
selamat atas pencapaikanku yang menuntaskan jejak ku sebagai seorang
mahasiswa dengan sempurna. Ingin rasanya aku berteriak seperti saat
aku menerima pemberitahuan kalau aku diterima di Universitas ini. Saat
itu karena saking gembiranya aku berlonjak dan berteriak "AKU AKAN
MENJADI ARSITEK KOREA YANG PALING KEREN" di sebuah restoran Jepang.

"Hye Eun-ssi selamat ya," jantungku berdegup kencang. Salah seorang
sunbae favoritku, Lee Hyun Joon, memberiku selamat.

Sebenernya Lee Hyun Joon sunbae-nim setahun lebih dahulu menjadi
mahasiswa ketimbang aku, namun karena banyaknya kegiatan yang dia
ikuti jadilah kuliahnya terbengkalai.

"Terimakasih."

Hanya itu kata yang sukses aku ucapkan dengan lancar. Hyun Joon
sunbae-nim tersenyum tipis dan berlalu. Aku ikut tersenyum, sepertinya
ini adalah pertemuan terakhir ku dengannya. Karena setelah ini aku
akan bertolak ke Praha untuk mengejar impianku. Menjadi arsitek paling
keren seantero Korea.

Dalam hati aku berteriak, "Goodbye Seoul, annyeong Praha. The city of
(my) dreams."


&&&&



Saat ini Praha memasuki musim gugur, hampir sama seperti Seoul. Dari
balik kaca mobil aku menatap jalan Praha dengan bahagia, tentunya.
Lagi-lagi jantung ini tak karuan, bukan seperti ketika Lee Hyun Joon
sunbae-nim memberiku ucapan selamat atau saat ketika mata kami tak
sengaja bertemu. Detak jantung ku kali ini lebih ekstream menurutku,
mungkin lebih seperti ketika aku pertama kali menonton konser Dong
Bang Shin Ki beberapa tahun lalu. Rasanya seperti ada yang meremas
jantungku.

Mobil sedan hitam yang aku tumpangi berhenti disebuah gedung menjulang
tinggi yang lazim aku jumpai di Gangnam. Arsitektur luarnya tidak
terlalu menonjol, tapi desain interiornya boleh mendapat acungan
jempol dari siapapun. Semuanya tertata rapi, dengan warna kontras tak
senada namun tetap menimbulkan kesan elegant, anggun dan jauh dari
kata norak. Aku tetegun, benarkah ini kantor yang akan menjadi tempat
kerjaku? Menurutku ini lebih cocok untuk dijadikan gedung Entertaiment
besar seperti SM atau JYP.

"Hai kau Jo Hye Eun kan?" seorang pemuda kira-kira berumur dua atau
tiga tahun lebih tua dariku melempar senyum.

Tanpa perkenalan pun aku akan tahu siapa dia, dia adalah Marc Marquez,
seorang perancang desain interior yang cukup handal asal Spanyol. Dan
akhirnya aku mengerti kenapa desain interior gedung ini begitu hebat.

"Kau pasti baru datang ya, baiklah ikuti aku. Kita akan keruangan
Jorge," senyum manisnya terus mengembang.

Deg. Dia bilang ke ruangan Jorge, mungkinkah Jorge yang dimaksud
adalah Jorge Lorenzo? Eum sebenarnya ini sedikit konyol karena Marc
dan Jorge adalah partner dalam desain mendesain.

Aku masih membisu namun Marc mencoba untuk terus tersenyum. Aku
mencoba untuk menikmati sedikit demi sedikit momen langka ini. Momen
dimana aku bisa begitu dekat dengan Marc.
Di dalam lift aku hanya diam sambil memainkan ujung cardigan yang ku
kenakan. Marc juga dengan cueknya menyeruput kopi. Huh, sepertinya aku
terlalu berharap untuk ditawari secangkir kopi oleh Marc. Memangnya
aku siapa? Aku mengeluh dalam hati.

Waktu terasa berjalan lambat, namun akhirnya aku sampai di lantai
empat, lantai dimana (sepertinya) aku akan bertemu dengan arsitek muda
idolaku, Jorge Lorenzo.

"Ikuti aku," Marc berjalan sedikit lebih cepat.

Ku coba untuk mengimbangi langkahnya. Tapi rok mini dan heels yang ku
kenakan sepertinya tak rela kalau aku berjalan sejajar dengan Marc.
Dalam hati aku sedikit mengutuk selera berpakaianku yang sedikit tidak
menguntungkan ini.

Setelah beberapa langkah yang penuh derita aku sampai juga di depan
ruangan Jorge, ruangan itu cukup unik karena berwarna putih polos.
Lebih mirip ruangan praktek milik seorang dokter ketimbang ruangan
milik arsitek.

"Masuklah," Marc memberikan jalan untukku. Ladies first.

Setelah mengucap doa aku masuk dengan perasaan gugup. Di dalam Jorge
sedang sibuk dengan autocad nya.

"Bro, lihat aku sedang bersama siapa."

Dan, GRAB! Marc melingkarkan tangannya di pundakku. Aku hanya diam,
dan sedikit menikmati.

"Hmm," hanya itu respon
yang Jorge berikan. Jujur saja aku sedikit kecewa.

Bayangkan untuk sampai kesini tidaklah mudah. Selain jarak yang cukup
jauh, aku juga harus mengalahkan fresh-graduated lain untuk bisa
bergabung di perusahaan ini.

"Hye...," Marc menunjukkan wajah bimbang.

"Hye Eun," aku menyela perkataan Marc.

"Hye Eun, sepertinya kita perlu untuk menjelajah sebentar."

Lagi-lagi senyumnya membuatku sedikit terhibur. Mungkin Jorge memang
sedang sibuk sekarang.

Marc mengajakku berkeliling, dia mengenalkanku dengan beberapa tempat
penting di gedung ini dan beberapa pegawai yang ia kenal. Dari
penjelasan Marc aku akan diikutkan kedalam team putih, disana aku akan
bekerja sama dengan Marc dan Jorge, Emily, Sandara dan Dian.

"Kau tau, team putih adalah team incaran siapapun disini," ia
membisikkan kalimat itu tepat di telingaku.

Tentu saja, siapa yang tidak ingin tergabung dengan Jorge dan Marc.

"Tapi kau harus ingat, team ini bisa membuatmu bersinar atau malah
sebaliknya. Fyi, Jorge adalah orang yang keras. Kesalahan sekecil
apapun tak tertoleransi."

Aku mengangguk, bukankah hal itu diterapkan disetiap tempat. Dan
tentulah sebelum kesini aku sudah kenyang kedisplinan ala militer
karena ayahku adalah seorang tentara.

"Setelah ini aku akan mengenalkanmu dengan anggota lain team putih.
Emily, Sandara dan Dian."

Ku ikuti saja semua arahan Marc. Toh selama ini dia asyik-asyik saja
dan tak berbuat macam-macam.

Kami terus berjalan hingga sampai disebuah ruangan dengan plang nama
berukuran sedang, mirip dengan plang nama diatas kelas di kampusku
dulu.

Marc membuka pintu, didalamnya mirip dengan ruangan Jorge tadi
berwarna putih polos. Hatiku sedikit tergelitik, apakah ruangan setiap
team berbeda-beda warnanya?

"Hello guys, perkenalkan anggota baru kita. The Korean Octopus."

Aku terkejut, bagaimana Marc tahu julukanku itu?

"Kenapa? Ada yang salah? Gurita kan cerdik," ia terkekeh. Aku hanya
diam, tak berminat untuk melanjutkan perdebatan.

"Hai namaku Emily."

"Dian."

"Sandara."

Dan merekapun membungkukan badan. Karena refleks aku juga ikut
membungkukkan badan, "Jo Hye Eun-imnida."

"Emily dan Dian lulusan teknik arsitektur juga sepertimu, sedangkan
Sandara dia lulusan perencanaan wilayah kota."

Marc memperkenalkan mereka bertiga secara lebih jelasnya. Tidak sulit
untukku  mengingat mereka. Emily dengan rambut blonde nya,
Sandara dengan wajah arabian nya, dan dian dengan wajah eksotis dan
kacamata nya. Sebenarnya membedakan mereka cukup mudah kalau
dibandingkan membandingkan orang Korea sendiri. Nama mereka
mirip-mirip dan wajahnya tidak jauh beda, entah yang asli atau yang
mahakarya dokter bedah.

"Eum sebaiknya kalian saling mengenal dulu. Aku harus pergi."

Kami berempat mengangguk mengiyakan. Dan setelah Marc pergi suasana
sedikit canggung, tidak ada suara yang keluar dan sepertinya mereka
sedang tidak ada pekerjaan berarti hari ini. Tidak ada alasan untuk
mengalihkan perhatian.

"Jo Hye Eun bagaimana aku harus memanggilnya?" Emily membuka suara.

"Hye Eun, tapi kau bisa juga memanggilku Hye Eun-ah."

Dan suasana kembali hening.


&&&&

Pagi pertamaku resmi bekerja, yup bisa dibilang seperti itu. Karena
kemarin hanyalah perkenalan basa-basi.

Mungkin sudah setengah jam aku mematut didepan cermin,
membolak-balikkan badan, beberapa kali membongkar lemari dan mencari
baju yang
cocok, mengganti gaya rambut, bongkar pasang aksesori rambut hingga
gonta-ganti warna eyeshadow.

Karena semakin lama aku semakin bingung harus berdandan seperti apa
akhirnya aku memutuskan memakai make up simpel ala ulzzang yang sering
aku tonton di youtube. Sebenarnya ini dandanan yang amat biasa untukku
karena setiap pergi ke kampus aku selalu seperti ini, tapi masa bodo
lah orang sini mana tahu bagaimana rupaku saat di kampus.

Setelah merasa cukup puas dengan penampilan ala kadarnya ini aku
segera turun meniti tangga dan besiap untuk mencegat taksi.


----


Sesampainya di depan kantor aku segera membayar ongkos taksi dan
bergegas masuk. Namun euforiaku tiba-tiba turun saat baru saja aku
memasuki kantor megah itu aku melihat Jorge menggandeng tangan Emily
dengan mesra. Yah, you know untuk siapa aku mencoba terlihat cantik,
dan karena itu juga aku patah semangat.

"Hye Eun-ah!"

Dari sudut lain aku melihat Marc membawa dua cangkir kopi ditangannya.
Aku hanya membalas sapaannya dengan senyuman.

"Untukmu," dia lalu menyerahkan salah satu gelasnya. "Aku tahu kau
suka latte kan?" lanjutnya.

"Gomawo sunbae-nim."

Tak ada balasan lain yang lebih cocok selain kata terima kasih. Lalu
kami berjalan menuju ruangan team putih dengan hening, hanya bunyi
sepatu yang menyentuh lantai. Selain itu kami terdiam dengan pikiran
masing-masing.


-----


Di ruangan aku hanya diam, dalam hati gemas rasanya ingin bertanya ke
Emily tentang hubungannya dengan Jorge tapi apa hak ku untuk bertanya
demikian. Lalu aku urungkan niatku tadi.

Mungkin agak sedikit aneh bagiku, memanggil orang yang lebih tua
dengan namanya secara langsung tanpa embel-embel eonni, oppa atau
sunbae-nim disini tapi begitulah kebiasaannya. Mereka memintaku untuk
langsung memanggil nama tanpa embel-embel.

Dengan sedikit kebosanan yang melanda aku mencoba untuk 'iseng'
menggambar rumah idamanku. Yang rencananya sih akan ku bangun di pulau
Jeju.

Tanganku yang sudah terbiasa membuat pola dan garis  cuek saja
menggores kertas didepanku dengan garis tipis namun tajam. Aku terus
menunduk dan berkonsentrasi lalu masuk ke dalam duniaku.

"Desainmu cantik."

Sebuah suara mengagetkanku, aku mendongak dan deg. Getaran pertama
saat aku tiba di gedung ini terasa lagi.

"Sepertinya cocok untuk proyek kita," ia melanjutkan komentarnya. Aku
hanya nyengir, itu adalah kebiasaanku saat tersipu malu.

"Tapi kalau boleh tahu dapat dari mana kamu ide seperti itu?" Jorge
mengatakan itu tepat di telinga kananku. Yup, orang yang sejak tadi
mengomentari gambaranku adalah Jorge Lorenzo.

"Ini adalah rumah idamanku, rumah yang selalu aku bayangkan sejak
lama," jawabku sedikit bangga. Saking seringnya aku menggambar rumah
itu sampai aku hapal setiap lekukannya.

Sebenarnya rumah yang aku desain biasa saja sih, mirip dengan rumah
bertipe minimalis modern yang sekarang sedang menjadi trend. Aku hanya
menambahkan sedikit aksen rumah eskimo di bagian atap teras dan sebuah
gazebo yang menyerupai bola.

"Sepertinya aku tak salah memilihmu," jawabnya sambil mengacak rambutku pelan.

Jantungku mencelos, benarkah itu tadi Jorge Lorenzo? Arsitek muda
terkenal yang tadi pagi menggandeng Emily? Kemudian ku beranikan
diriku melirik Emily and damn Jorge sudah berada disana dengan senyum
manisnya.

Ku remas kertas bergambar rumah idamanku tadi dan ku buang asal.

"Hei kenapa desain bagus ini kau buang?" aku hapal suara siapa itu
walau baru dua hari mendengarnya secara langsung.

Aku tak bersemangat untuk menjawab pertanyaan tadi.

"Kenapa kau lesu?"

Tak sengaja ekor mataku tertuju pada kemesraan Jorge dan Emily.

"Apa karena Jorge?"

Aku menggeleng lemah. Aku tak yakin, aku seperti ini karena Jorge,
arsitek yang aku kagumi, atau karena hal lain.

"Walaupun bukan karena dia sebaiknya kau perlu berhati-hati dengannya?"

Ku tatap mata coklat di depanku bingung. "Memangnya kenapa?"

"Nanti kau akan tau," dia lalu pergi dengan senyum misterius yang
susah aku artikan.






-bersambung-

haduh ff baru lagi padahal yang lama dilanjutin juga enggak. Ehem klu
buat What's your number udah ada sedikit ide cuma lagi males
ngembanginnya. Cuma kalau buat a part of my life aku bener-bener have
no idea mau ngapain si janda sialan itu *tabok* but i hope you like
this one. Thanks {{}}