31 Desember 2015
Vale dan Linda mengambil keberangkatan dimalam pergantian tahun. Malam dimana jutaan kembang api dilontarkan ke langit dengan saling bersahutan. Vale menatap bunga api itu diam, tangannya ia sentuhkan ke kaca pesawat yang menerbangkan mereka ke Milan.
Linda menatap Vale kasihan, kekasihnya itu sangat terpukul dengan
kehilangan sosok adik yang sangat dibanggakannya.
"Tidurlah kalau kau lelah."
Ucapan Linda hanya berbalas senyum tipis Vale. Linda membalas
senyum itu dan bersandar ke bahu Vale.
"Aku tahu ini berat. Tapi aku akan mencoba membantumu
mengurangi bebannya."
Vale tersenyum dan mengusap puncak kepala Linda. Kemudian ia
menengok ke bawah. Banyak bunga api yang di lontarkan ke langit, paduan
warnanya membuat langit terlihat ceria. Tapi hatinya tak seindah langit malam
pergantian tahun.
&&&&
Fabio dan Mei lanjutkan penyelidikan mereka. Sebenarnya dua polisiㅡeum
lebih tepatnya hanya Fabioㅡitu sudah frustasi karena bukti
yang mereka dapatkan tidak valid dan membingungkan. Lagi pula, sepertinya kasus
ini akan berlalu.
"Mei bagaimana kalau kita katakan saja ini kasus bunuh
diri." Fabio tertunduk di salah satu sudut ruang kerjanya.
"Kalau kau mau mundur aku persilahkan dari sekarang, aku akan
menyiasati nya sendiri."
"Tapi Mei kita punya banyak kasus lain?"
"Kita?" Mei menyerngit.
"Kita kan satu team Mei jangan sampai kau lupa."
"Memang kita satu team, tapi kalau kau memilih mundur
sekarang ku persilahkan kau untuk cari patner lain," ketus Mei.
Fabio hanya diam, Mei adalah patner terbaiknya. Siapapun pasti
ingin memiliki patner seperti Mei. Dia cerdas, teliti dan cekatan. Ditambah
paras Jepang-Italy nya yang imut dan sexy serta body nya yang aduhai. Tentunya
Fabio sangat senang saat dipasangkan dengan Mei walau hanya sebatas teman
kerja.
"Lanjutkan saja penelusuranmu aku ingin membuat kopi. Kau
mau?"
"Tidak terimakasih." Mei kembali berkutat dengan
komputernya dan Fabio berjalan ke arah mesin pembuat kopi di lantai satu.
Saat berjalan ke lantai satu Fabio tak sengaja bertemu dengan
Valentino Rossi. Sebenarnya Fabio tidak heran dengan tujuan Vale ke kantornya
tapi tetap saja dia gemetar dekat dengan idolnya itu.
Fabio hanya menatap sang idola yang menggandeng gadis cantik yang
sudah pasti adalah Linda.
"Sepertinya bertahan dikasus ini ada untungnya juga."
Fabio tersenyum lebar.
Dengan kasus ini dia pasti akan banyak bertemu atau bahkan bisa
menanyai idolanya tersebut. Dengan catatan Mei tak mendahuluinya.
&&&&
Marc dan Laia menghabiskan tahun baru mereka di Amsterdam. Entah
mengapa pasangan itu memilih menghabiskan malam pergantian tahun di negri
kincir angin. Tapi setidaknya disini mereka sedikit 'aman' dari media yang
selalu mengekor.
"Kau lihat bunga api itu." Laia menunjuk deretan bunga
api yang terlontar kelangit.
Marc tak menjawab. Ia malah menenggelamkan wajahnya di bahu polos
Laia.
Yaps, dimalam pergantian tahun mereka hanya melewatkannya dengan
berendam di kolam renang berdua sambil menatap langit yang menyala.
"Mereka lucu ya."
Lagi-lagi
Marc masih membisu. Laia tetap dengan ocehannya tentang pemandangan
dihadapannya.
"Semoga
pergantian tahun berikutnya kita tidak hanya berdua." Laia membalik
badannya dan menatap wajah Marc.
Marc tak
berkutik. Sesungguhnya dia tahu maksud Laia dengan tidak berdua lagi. Dia
bingung harus menjawab kekasihnya itu dengan kalimat yang mana dan bahasa yang
seperti apa. Ia memilih bungkam.
Perlu
pertimbangan matang untuk mewujudkan mimpi Laia yang satu ini. Terlebih
sekarang ia sedang dipuncak karirnya dan pastinya akan banyak hujatan yang
terlontar kalau sampai ia mengikuti permintaan Laia.
&&&&
"Anda
kakak dari Luca?"
Sebenarnya pertanyaan Mei ini konyol. Bagaimana ia tidak tahu
seorang Valentino Rossi padahal ia sudah tinggal di Italia sekitar limabelas
tahun.
"Iya."
Vale menjawab kikuk.
"Dari
penyelidikan yang telah kami lakukan kami simpulkan ini kasus pembunuhan. Dan
yang terpenting pembunuhnya menguasai kode binner."
Vale
menatap bingung kearah Mei. "Kode binner apa?"
"Itu
sebuah sistem komunikasi menggunakan angka."
"Oh."
Vale dan Linda ber-oh ria serempak.
"Lalu
apa kau sudah bisa menebak siapa pembunuhnya?"
Ini
adalah pertanyaan yang sudah Vale simpan sejak tadi.
"Kami
belum bisa memastikan siapa tersangkanya. Yang jelas dia sepertinya dekat
dengan Luca karena pelaku bisa meninggalkan kode binnernya di photobook idol
kesayangan Luca."
"Eum
ngomong-ngomong soal komunikasi dengan angka aku sering melihat Luca menulis
angka-angka aneh. Kau yakin itu tulisan pembunuhnya?"
"Aku
yakin karena aku bisa membaca kode itu. Memangnya kenapa?"
"Tidak."
Semua
orang diruangan itu diam. Dan Fabio masuk membawa segelas kopi.
"Baiklah
kalau ada info lainnya segera hubungi aku. Dan ini nomor telpon ku." Vale
menyerahkan secarik kertas dengan deretan nomor disana.
Fabio
menatap idolanya yang berlalu keluar. "Kenapa dia sudah pulang?"
"Karena
urusannya sudah selesai." Mei menjawab dengan cueknya.
"Kau
tidak berusaha mencegahnya untuk sedikit saja lebih lama disini?"
"Untuk
apa? Agar kau bisa minta tanda tangan dan foto bersama? Kau pikir ini jumpa
fans apa." ketus Mei.
Fabio
hanya menunduk diam. Tapi setidaknya Mei sudah mengantongi nomor rider pemegang
juara dunia terbanyak itu.
"Kalau
kau berpikir untuk meminta nomor Vale dan menghubungi nya untuk kepentingan
diluar pekerjaan jangan harap."
Mei
berlalu keluar dan Fabio memanyunkan bibirnya. Kesempatannya untuk dekat dengan
Vale pupus sudah.
&&&&
Ping!
Sebuah pesan masuk ke handphone Jorge. Pesan singkat yang menanyakan apakah
dirinya bisa diajak bertemu sekarang dan Jorge menyanggupinya.
Jorge
segera bergegas menuju tempat yang dimaksud. Sebuah kafe di dekat apartemennya
di Barcelona. Kafe kecil yang sering menjadi tongkrongan anak gaul di sekitar
sini.
Ternyata
Jorge datang lebih cepat dari sang peminta janji. Ia menunggu sembari menikmati
segelas latte yang baru saja ia pesan.
"Hai
Jo." seseorang dengan suara imut memanggil Jorge.
"Hyun."
Jorge langsung memeluk gadis dihadapannya.
"Miss
you." Hyun membisikkan kalimat itu tepat di telinga Jorge.
"Miss
you too." Jorge membalasnya hambar.
Hyun
adalah cinta pandangan pertama Jorge dan cinta pertama Jorge. Jorge pertama
kali bertemu dengan Hyun saat ia baru pertama kali masuk ke kelas 250cc. Saat
itu Jorge bukan siapa siapa, ia hanya pembalap biasa. Bukan juara dunia seperti
sekarang. Dan Hyun adalah seorang idol K-Pop yang tengah melakukan tour ke
Jepang.
"Jo."
pelukan Hyun semakin erat. "Kenapa kau memilih untuk menjadi seperti
ini?"
"Apa
maksudmu Hyun? Aku terlahir seperti ini. Menjadi seorang rider hebat dengan
ketampanan ekstra."
Hyun
mencubit pinggang Jorge pelan. Jorge hanya nyengir, sebetulnya ia sudah tau apa
yang akan diucapkan Hyun.
"Jorge
yang kau katakan tadi benar?" Hyun menatap mata abu-abu Jorge lamat.
"Kau bisa mendapatkan wanita manapun dengan semua itu. Lalu kenapa kau
memilih untuk menjadi seorang yang..." Hyun tak menyelesaikan kalimatnya.
Ia menengok ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan.
"Gay
kan? Katakan saja kalau kau mau tentang statusku yang sekarang, semua orang
sudah mengetahui itu." Jorge menjawab dengan santainya.
"Kenapa
kau memilih jalan ini?"
"Aku
nyaman dengan semua ini. Aku menikmatinya."
"Tapikan
Jo. Kau tidak terlahir dengan gen gay kan? Aku masih ingat ketika kau bercerita
padaku tentang seorang gadis yang kau sukai saat kau masih dikelas 250cc."
"Hanya
dia wanita yang aku idamkan Hyun. Dan gadis itu kini telah pergi."
"Kemana?"
Hyun bertanya dengan polosnya.
Jorge
kelu untuk menjawab. Rasanya ia ingin berteriak kalau gadis sepuluh tahun yang
lalu itu adalah dirinya. Hyun.
"Entahlah."
Jorge dengan santai menyeruput lattenya.
“ Jo,
aku berharap kamu dating. Ini konser pertamaku setelah keluar dari grup.” Hyun menyerahkan
secarik tiket konser. Jorge menatapnya dengan malas. Dia sudah tahu kalau
disana nanti akan banyak sekali pria yang akan meneriakkan nama Hyun.
Hyun keluar
dari kafe itu, Jorge menyeruput latte terakhirnya dan beranjak pergi. Satu yang
akan ia ingat hari ini. Seorang Jo Hye Eun atau Hyun, tidak akan pernah
dimilikinya.
Sebuah kenyataan
pahit yang harusnya ia sudah ketahui sejak pertama bertemu dengan Hyun sepuluh
tahun lalu.
&&&&
Malamnya
Jorge tetap memenuhi permintaan Hyun untuk dating ke konsernya. Suasana riuh
yang sudah lama akrab dengan Jorge ia lewati dengan santai. Seperti dugaannya
banyak pria yang datang ke konser Hyun.
Jorge
memaklumi itu, Hyun adalah seorang idol k-pop yang terkenal dengan image sexy
nya semenjak debut. Wajar kalau dia memiliki banyak fans pria, tapi bukan
berarti tanpa fans wanita. Karena Jorge melihat banyak juga fangirls yang
datang ke konser dengan atribut lengkap.
Hanya dia
yang datang hanya dengan dua carik kertas. Satu tiket dan satu kertas yang akan
dia berikan kepada Hyun di belakang panggung nanti.
01001001
00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111
01110101.
-bersambung-
Huwaaa maaf baru bisa lanjut soalnya sibuk
banget sama pra ospek, ospek, pengenalan prodi. Pokoknya lagi sibuk banget
(beneran sibuk bukan pura-pura loh ya) maaf banget atas ketelatannya dan
makasih buat yang nunggu *deep bow*^^
