SpongeBob SquarePants

Rabu, 22 Juli 2015

What's Your Number? #`1

24 Desember 2015
Sesosok mayat pria berusia delapan belas tahun ditemukan di salah satu lorong rumah sakit jiwa di kawasan mode Milan. Sebenarnya tidak ada yang mengejutkan jika ada seseorang yang meninggal, apanya yang istimewa? Hanya saja karena yang meninggal adik seorang Valentino Rossi dan meninggal dengan segelintir pesan berantai yang aneh akhirnya berita ini diekspose habis-habisan.
Lucu juga, tapi memang sih Vale termasuk orang berpengaruh di negara pemegang empat kali juara piala dunia itu. Pokoknya kalau sudah membahas Italia dan kalian tidak menyertakan seorang Vale disana kalian kehilangan sesuatu.
Penyelidikan dilakukan sana sini, terutama karena kasus ini lebih mengarah ke kasus pembunuhan yang sangat rapi dan terencana. Buktinya sebuah pesan tentang seseorang yang hidupnya terancam apabila Luca masih hidup. Si pembunuh mengatakan kalau Luca hidup semuanya akan hancur dan tidak ada lagi alasan baginya untuk hidup, apalagi membiarkan Luca hidup.
Para penyelidik bertanya-tanya, apa yang membahayakan dari seorang Luca Marini? Dia hanya anak kemarin sore yang dilebihi ketampanan ekstra. Soal balapan pun kemampuannya sangat standart, apalagi kalau kau bandingkan dengan kakaknya. Lalu apa bahayanya Luca?
Banyak yang berpendapat ini masalah asmara, tapi bukan karena cinta segitiga. Ini lebih dari sekedar rumit.

----

Sementara itu ditempat lain di depan sebuah hotel berbintang di pulau dewata Bali segerombolan wartawan yang berebut ingin mewawancarai Vale. Yup, Vale tengah menghabiskan masa libur musim dinginnya dengan berburu matahari di pulau cantik ini.
“ Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa keluar dan kembali ke Italia untuk menghadiri pemakaman adikku. Aku juga tidak bisa memberikan penjelasan apapun untuk wartawan-wartawan itu?” Vale berjalan mondar-mandir. Sementara Linda, kekasihnya, hanya memandangi pacarnya itu bingung. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
Vale hanya menatap kosong pemandangan sunset indah dari pantai Jimbaran di depannya. Apa guna nya indah pantai ini kalau hatinya tengah remuk? Adiknya, Luca, adik kesayangannya meninggal dengan cara yang sangat tragis. Siapa setan yang tega melakukan itu? Vale menjerit dalam batinnya.
“ Memangnya kalau kau bisa keluar kau akan langsung ke Italia dan melihat adikmu?” Linda bertanya sanksi.
“ Tidak.” Vale menjawab lemah.

&&&&

Nun jauh di Italia sana dua orang polisi berseragam bebas sedang berusaha mengusut kasus pembunuhan ini. Dari penyelidikan yang mereka lakukan tak ada bukti yang cukup kuat tentang motif pembunuhan terhadap Luca. Selain tidak adanya masalah yang dihadapi Luca—baik asmara atau apapun—Luca juga tidak sedang bersinggungan dengan siapapun.
“ Fabio.” Mei memanggil rekan sepenyelidikan(?)nya itu.
“ Kau menemukan sesuatu?”
“ Ini.” Fabio menyerahkan sebuah flashdisk berbentuk karakter Pikachu.
“ Selera cowok itu kekanakan juga.” Mei mencibir.
Mereka lalu mencolokkan flashdisk itu ke computer yang ada di kamar Luca. Isinya sangat mengecewakan. Semuanya adalah video dari AKB48.
“ Ada hubungannya dengan ini?” Fabio bertanya heran. Tapi sejurus kemudian matanya menemukan sebuah dokumen dengan nama aneh. Bertuliskan huruf mandarin. Iseng Fabio membukanya dan isinya wajah Monalisa dengan tangisan darah. Kontan Fabio meminimize dokumen tersebut.
“ Kenapa? Ada apa?” Mei yang melihat gelagat aneh Fabio langsung mendekat.
Fabio kembali membuka dokumen itu, Mei hanya menatap tajam kearah mata Monalisa. Ia kemudian menscroll down dokumen itu dan menemukan sebuah kalimat dalam kode binner.
“ Apa maksudnya angka kosong satu kosong satu?” Fabio tak mengerti kalau itu adalah kode.
“ Tidak setiap saat orang menggunakan pesan untuk berkomunikasi.” hanya itu jawaban Mei dan membuat Fabio semakin bingung. Apa maksudnya berkomunikasi dengan angka?
“ Sudah, sebaiknya kita kembali ke markas.” ajak Mei. Fabio hanya mengikuti di belakang.

&&&&

Sementara itu di sebuah kamar hotel di Athena, Yunani sepasang muda-mudi tengah bercinta dengan seru. Mereka adalah Marc  dan Laia, pasangan yang tengah dimabuk asmara ini bercinta seakan tak ada hari esok untuk melakukan salah satu contoh cara berkembang biaknya makhluk hidup yang satu ini.
“ Nyalakan AC nya Marc.” Laia memerintah.
“ Tapi aku sudah menyalakan AC nya sejak tadi.” ucap Marc disela-sela aksinya.
“ Panas ah.” Laia mendesah, sengaja menggoda Marc.
“ Kau mau yang lebih panas?” Marc memasang smirk mautnya. Laia hanya mengangguk.
Marc buru-buru melepas kaitannya dengan Laia, ehem kau taukan kaitan yang mana jadi tak perlu dijelaskan. Marc lalu berlari ke kamarnya dan mengambil sesuatu.
“ Kalau kau mau lebih panas pakai ini.” Marc menyerahkan balsam.
“ Maksudku bukan panas yang ini.” Laia memajukan bibirnya. Marc mengecupnya, pertama hanya kecupan bercanda tapi ya kau taulah tak ada namanya kecupan bercanda jika sepasang muda-mudi tanpa busana di sebuah kamar hotel.
“ Aku selalu mengerti panas mana yang kau maksud.” Marc memegang pinggang mungil Laia.
“ Dan aku selalu menunggu panas yang kau hadirkan untukku.” balas Laia.
Lalu adegan sebelum Marc mengambil balsam pun terulang hingga lima kali.

&&&&

Jorge iseng memvideo call Vale, walaupun Jorge akan menggunakan alibi tentang kematian Luca sejujurnya bukan itu maksud utamanya.
Minggu lalu Jorge mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang homosex, mungkin itu alasan kenapa ia selalu menulis caption ‘just a friend’ ketika berfoto dengan teman wanitanya.
Hal ini tak hanya membuat hati para fangirlsnya remuk redam tapi juga hati para rider dan mekanik pria di sirkuit yang ketar-ketir soal perasaan Jorge kepada mereka. Mulai dari itu tidak ada yang berani topless di sirkuit, apalagi di depan Jorge. Bisa jadi mereka hilang keperjakaan di tempat.
Walaupun dianggap berbahaya di lintasan karena orientasi seks nya yang cukup menyimpang sejujurnya Jorge sama sekali tak terbebani. Toh dalam hatinya hanya ada satu nama dihatinya. Vale.
Alasan kenapa Jorge pernah membuat 'sekat' antara dia dan Vale adalah karena kabar burung tentang Vale menghamili seorang wanita dan penolakan mentah-mentah Vale terhadap pengakuannya kala itu.
“ Ayolah terima vc ku.” Jorge menggigit bibir bawahnya gugup.
Hingga percobaan ketiga barulah Vale mau bervc ria dengan Jorge.
“ Apa?” Vale bertanya sinis.
“ Turut berduka cita ya.” Jorge sebisa mungkin menutupi rona bahagia nya karena Vale mau bervc dengannya. Diwaktu libur seperti ini susah bertemu dengan Vale dan ia sama sekali tak bisa memendam rindunya.
“ Terimakasih Jo.”
“ Kau dimana?”
“ Di Jimbaran, kenapa?”
Vale masih dengan nada dinginnya dan naas nya Jorge sangat suka dengan nada dingin Vale.
“ Kapan ke Italia lagi?”
“ Aku keluar hotel aja gak bisa.”
Hening. Jorge tak tahu harus berbicara apa lagi. Ia suka Vale yang dingin tapi ia selalu bingung tentang topik apa yang akan mereka bahas.
“ Baiklah, hati hati disana.”
Tanpa salam Vale menutup sambungan itu. Sekali lagi hati Jorge hancur karena hal yang disukainya.
“ Kapan kau akan membuka mata untukku? Kenapa kau selalu membuka mata untuknya?” sebulir air mata menetes diujung mata rider garputala itu.

&&&&

Seminggu setelah kabar meninggalnya Luca di depan hotel tempat Vale menginap semakin sepi. Hanya para tetamu hotel yang berlalu lalang, para wartawan yang tak dapat informasi seciulpun lebih memilih kembali dan mencari berita lain yang lebih pasti.
“ Para wartawan sudah bubar apa kau ingin pulang ke Italia?”
“ Bisa kau pesankan tiket?”
“ Oke.”
Linda lalu menekan sebuah aplikasi pemesanan tiket dan memilih penerbangan mana yang cocok.
“ Aku sudah memesan dua tiket yang berangkat sore ini.”
Vale hanya diam. Matanya masih menatap kosong terhadap apapun. Mungkin dia masih belum bisa menerima sepenuhnya kepergian Luca. Memang siapapun akan pergi tapi apa semua orang yang akan ditinggalkan akan siap?
“ Lin.”
“ Hmmm?”
“ I love you, jangan pergi ya. Cukup Luca.” Vale mengecup dalam puncak kepala gadisnya itu.
Linda lalu memeluk Vale dalam senyumnya.

-----

Mei dan Fabio masih disibukkan dengan penyelidikannya. Sudah seminggu dan tidak ada bukti lain yang menguatkan motif pembunuhan ini, hanya saja sepertinya orang yang membunuh Luca dekat dengan Luca. Dan tanpa sadar Luca mengetahui sesuatu yang sangat fatal tentang orang ini. Dia tidak mau Luca membocorkannya atau hidup dengan bayang-bayang ancaman Luca. Dan kemudian pembunuhan ini terjadi.
“ Aku hanya menyimpulkan kalau ini masalah yang sangat pribadi, tapi masih belum jelas sama sekali masalah apa.” Mei menatap deretan komik one piece milik Luca.
“ Mungkin masalah cinta.”
“ Ku pikir bukan. Kita sudah membaca semua chat terakhir Luca dan tak ada satupun chat yang berhubungan tentang hubungan percintaan.”
“ Entahlah.”
Mei membolak-balik sebuah photobook SKE48. Luca menandai beberapa oshi nya dengan pulpen bertinta pink. Mei kadang tak habis pikir dengan hobby Luca yang satu ini, karena saat di sirkuit Luca tak pernah terlihat seperti wota pada umumnya.
“ Kenapa kau tertawa?” Fabio menatap Mei heran.
“ Lucu saja hobby Luca yang ini.”
“ Untuk ukuran seorang rider hobby ini sangat aneh. Tapi…” Fabio tak melanjutkan kalimatnya karena lagi-lagi dia menemukan sesuatu yang aneh dari photobook itu. Kode binner lagi, kali ini ditulis dengan tinta merah.
“ Kenapa semua petunjuk ini semakin membuatku pusing?”
Fabio hanya menatap Mei bingung, petunjuk yang mana? 0 1 ini petunjuk? Ia menatap kode binner itu heran.
“ Kau bisa membacanya?”
“ Menurutmu?”



***Bersambung***


Huwaaa gatau ini feelnya bakalan gimana, sama sekali gatau cara kerja otak pas nulis ini -_-