24
Desember 2015
Sesosok mayat pria berusia delapan
belas tahun ditemukan di salah satu lorong rumah sakit jiwa di kawasan mode
Milan. Sebenarnya tidak ada yang mengejutkan jika ada seseorang yang meninggal,
apanya yang istimewa? Hanya saja karena yang meninggal adik seorang Valentino
Rossi dan meninggal dengan segelintir pesan berantai yang aneh akhirnya berita
ini diekspose habis-habisan.
Lucu juga, tapi memang sih Vale
termasuk orang berpengaruh di negara pemegang empat kali juara piala dunia itu.
Pokoknya kalau sudah membahas Italia dan kalian tidak menyertakan seorang Vale
disana kalian kehilangan sesuatu.
Penyelidikan dilakukan sana sini,
terutama karena kasus ini lebih mengarah ke kasus pembunuhan yang sangat rapi
dan terencana. Buktinya sebuah pesan tentang seseorang yang hidupnya terancam
apabila Luca masih hidup. Si pembunuh mengatakan kalau Luca hidup semuanya akan
hancur dan tidak ada lagi alasan baginya untuk hidup, apalagi membiarkan Luca
hidup.
Para penyelidik bertanya-tanya, apa
yang membahayakan dari seorang Luca Marini? Dia hanya anak kemarin sore yang
dilebihi ketampanan ekstra. Soal balapan pun kemampuannya sangat standart,
apalagi kalau kau bandingkan dengan kakaknya. Lalu apa bahayanya Luca?
Banyak yang berpendapat ini masalah
asmara, tapi bukan karena cinta segitiga. Ini lebih dari sekedar rumit.
----
Sementara itu ditempat lain di depan
sebuah hotel berbintang di pulau dewata Bali segerombolan wartawan yang berebut
ingin mewawancarai Vale. Yup, Vale tengah menghabiskan masa libur musim
dinginnya dengan berburu matahari di pulau cantik ini.
“ Apa yang harus ku lakukan? Aku
tidak bisa keluar dan kembali ke Italia untuk menghadiri pemakaman adikku. Aku
juga tidak bisa memberikan penjelasan apapun untuk wartawan-wartawan itu?” Vale
berjalan mondar-mandir. Sementara Linda, kekasihnya, hanya memandangi pacarnya
itu bingung. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
Vale hanya menatap kosong pemandangan
sunset indah dari pantai Jimbaran di depannya. Apa guna nya indah pantai ini
kalau hatinya tengah remuk? Adiknya, Luca, adik kesayangannya meninggal dengan
cara yang sangat tragis. Siapa setan yang tega melakukan itu? Vale menjerit
dalam batinnya.
“ Memangnya kalau kau bisa keluar kau
akan langsung ke Italia dan melihat adikmu?” Linda bertanya sanksi.
“ Tidak.” Vale menjawab lemah.
&&&&
Nun jauh di Italia sana dua orang
polisi berseragam bebas sedang berusaha mengusut kasus pembunuhan ini. Dari
penyelidikan yang mereka lakukan tak ada bukti yang cukup kuat tentang motif
pembunuhan terhadap Luca. Selain tidak adanya masalah yang dihadapi Luca—baik
asmara atau apapun—Luca juga tidak sedang bersinggungan dengan siapapun.
“ Fabio.” Mei memanggil rekan
sepenyelidikan(?)nya itu.
“ Kau menemukan sesuatu?”
“ Ini.” Fabio menyerahkan sebuah
flashdisk berbentuk karakter Pikachu.
“ Selera cowok itu kekanakan juga.”
Mei mencibir.
Mereka lalu mencolokkan flashdisk itu
ke computer yang ada di kamar Luca. Isinya sangat mengecewakan. Semuanya adalah
video dari AKB48.
“ Ada hubungannya dengan ini?” Fabio
bertanya heran. Tapi sejurus kemudian matanya menemukan sebuah dokumen dengan
nama aneh. Bertuliskan huruf mandarin. Iseng Fabio membukanya dan isinya wajah
Monalisa dengan tangisan darah. Kontan Fabio meminimize dokumen tersebut.
“ Kenapa? Ada apa?” Mei yang melihat
gelagat aneh Fabio langsung mendekat.
Fabio kembali membuka dokumen itu,
Mei hanya menatap tajam kearah mata Monalisa. Ia kemudian menscroll down dokumen
itu dan menemukan sebuah kalimat dalam kode binner.
“ Apa maksudnya angka kosong satu
kosong satu?” Fabio tak mengerti kalau itu adalah kode.
“ Tidak setiap saat orang menggunakan
pesan untuk berkomunikasi.” hanya itu jawaban Mei dan membuat Fabio semakin
bingung. Apa maksudnya berkomunikasi dengan angka?
“ Sudah, sebaiknya kita kembali ke
markas.” ajak Mei. Fabio hanya mengikuti di belakang.
&&&&
Sementara itu di sebuah kamar hotel
di Athena, Yunani sepasang muda-mudi tengah bercinta dengan seru. Mereka adalah
Marc dan Laia, pasangan yang tengah
dimabuk asmara ini bercinta seakan tak ada hari esok untuk melakukan salah satu
contoh cara berkembang biaknya makhluk hidup yang satu ini.
“ Nyalakan AC nya Marc.” Laia
memerintah.
“ Tapi aku sudah menyalakan AC nya
sejak tadi.” ucap Marc disela-sela aksinya.
“ Panas ah.” Laia mendesah, sengaja
menggoda Marc.
“ Kau mau yang lebih panas?” Marc
memasang smirk mautnya. Laia hanya mengangguk.
Marc buru-buru melepas kaitannya
dengan Laia, ehem kau taukan kaitan yang mana jadi tak perlu dijelaskan. Marc
lalu berlari ke kamarnya dan mengambil sesuatu.
“ Kalau kau mau lebih panas pakai
ini.” Marc menyerahkan balsam.
“ Maksudku bukan panas yang ini.”
Laia memajukan bibirnya. Marc mengecupnya, pertama hanya kecupan bercanda tapi
ya kau taulah tak ada namanya kecupan bercanda jika sepasang muda-mudi tanpa
busana di sebuah kamar hotel.
“ Aku selalu mengerti panas mana yang
kau maksud.” Marc memegang pinggang mungil Laia.
“ Dan aku selalu menunggu panas yang
kau hadirkan untukku.” balas Laia.
Lalu adegan sebelum Marc mengambil
balsam pun terulang hingga lima kali.
&&&&
Jorge iseng memvideo call Vale,
walaupun Jorge akan menggunakan alibi tentang kematian Luca sejujurnya bukan
itu maksud utamanya.
Minggu lalu Jorge mengumumkan bahwa
dirinya adalah seorang homosex, mungkin itu alasan kenapa ia selalu menulis
caption ‘just a friend’ ketika berfoto dengan teman wanitanya.
Hal ini tak hanya membuat hati para
fangirlsnya remuk redam tapi juga hati para rider dan mekanik pria di sirkuit
yang ketar-ketir soal perasaan Jorge kepada mereka. Mulai dari itu tidak ada
yang berani topless di sirkuit, apalagi di depan Jorge. Bisa jadi mereka hilang
keperjakaan di tempat.
Walaupun dianggap berbahaya di
lintasan karena orientasi seks nya yang cukup menyimpang sejujurnya Jorge sama
sekali tak terbebani. Toh dalam hatinya hanya ada satu nama dihatinya. Vale.
Alasan kenapa Jorge pernah membuat 'sekat' antara dia dan Vale adalah karena kabar burung tentang Vale menghamili
seorang wanita dan penolakan mentah-mentah Vale terhadap pengakuannya kala itu.
“ Ayolah terima vc ku.” Jorge
menggigit bibir bawahnya gugup.
Hingga percobaan ketiga barulah Vale
mau bervc ria dengan Jorge.
“ Apa?” Vale bertanya sinis.
“ Turut berduka cita ya.” Jorge
sebisa mungkin menutupi rona bahagia nya karena Vale mau bervc dengannya. Diwaktu
libur seperti ini susah bertemu dengan Vale dan ia sama sekali tak bisa
memendam rindunya.
“ Terimakasih Jo.”
“ Kau dimana?”
“ Di Jimbaran, kenapa?”
Vale masih dengan nada dinginnya dan
naas nya Jorge sangat suka dengan nada dingin Vale.
“ Kapan ke Italia lagi?”
“ Aku keluar hotel aja gak bisa.”
Hening. Jorge tak tahu harus
berbicara apa lagi. Ia suka Vale yang dingin tapi ia selalu bingung tentang
topik apa yang akan mereka bahas.
“ Baiklah, hati hati disana.”
Tanpa salam Vale menutup sambungan
itu. Sekali lagi hati Jorge hancur karena hal yang disukainya.
“ Kapan kau akan membuka mata
untukku? Kenapa kau selalu membuka mata untuknya?” sebulir air mata menetes
diujung mata rider garputala itu.
&&&&
Seminggu setelah kabar meninggalnya
Luca di depan hotel tempat Vale menginap semakin sepi. Hanya para tetamu hotel
yang berlalu lalang, para wartawan yang tak dapat informasi seciulpun lebih
memilih kembali dan mencari berita lain yang lebih pasti.
“ Para wartawan sudah bubar apa kau
ingin pulang ke Italia?”
“ Bisa kau pesankan tiket?”
“ Oke.”
Linda lalu menekan sebuah aplikasi
pemesanan tiket dan memilih penerbangan mana yang cocok.
“ Aku sudah memesan dua tiket yang
berangkat sore ini.”
Vale hanya diam. Matanya masih
menatap kosong terhadap apapun. Mungkin dia masih belum bisa menerima
sepenuhnya kepergian Luca. Memang siapapun akan pergi tapi apa semua orang yang
akan ditinggalkan akan siap?
“ Lin.”
“ Hmmm?”
“ I love you, jangan pergi ya. Cukup
Luca.” Vale mengecup dalam puncak kepala gadisnya itu.
Linda lalu memeluk Vale dalam
senyumnya.
-----
Mei dan Fabio masih disibukkan dengan
penyelidikannya. Sudah seminggu dan tidak ada bukti lain yang menguatkan motif
pembunuhan ini, hanya saja sepertinya orang yang membunuh Luca dekat dengan
Luca. Dan tanpa sadar Luca mengetahui sesuatu yang sangat fatal tentang orang
ini. Dia tidak mau Luca membocorkannya atau hidup dengan bayang-bayang ancaman
Luca. Dan kemudian pembunuhan ini terjadi.
“ Aku hanya menyimpulkan kalau ini
masalah yang sangat pribadi, tapi masih belum jelas sama sekali masalah apa.”
Mei menatap deretan komik one piece milik Luca.
“ Mungkin masalah cinta.”
“ Ku pikir bukan. Kita sudah membaca
semua chat terakhir Luca dan tak ada satupun chat yang berhubungan tentang
hubungan percintaan.”
“ Entahlah.”
Mei membolak-balik sebuah photobook
SKE48. Luca menandai beberapa oshi nya dengan pulpen bertinta pink. Mei kadang
tak habis pikir dengan hobby Luca yang satu ini, karena saat di sirkuit Luca
tak pernah terlihat seperti wota pada umumnya.
“ Kenapa kau tertawa?” Fabio menatap
Mei heran.
“ Lucu saja hobby Luca yang ini.”
“ Untuk ukuran seorang rider hobby
ini sangat aneh. Tapi…” Fabio tak melanjutkan kalimatnya karena lagi-lagi dia
menemukan sesuatu yang aneh dari photobook itu. Kode binner lagi, kali ini
ditulis dengan tinta merah.
“ Kenapa semua petunjuk ini semakin
membuatku pusing?”
Fabio hanya menatap Mei bingung,
petunjuk yang mana? 0 1 ini petunjuk? Ia menatap kode binner itu heran.
“ Kau bisa membacanya?”
“ Menurutmu?”
***Bersambung***
Huwaaa
gatau ini feelnya bakalan gimana, sama sekali gatau cara kerja otak pas nulis
ini -_-
