SpongeBob SquarePants

Sabtu, 27 September 2014

I Love To Kill—You


 
Btw Inspirasi awalnya dari MV nya Lyn yang Duet sama Leo ;)
&&&&

Namanya Jorge Lorenzo, mungkin hampir satu kampus mengenalnya. Wajahnya yang sangat Eropa itu, ditambah mata abu-abunya yang seksi membuat dirinya sangat tidak susah untuk mendapatkan gadis manapun dikampus. Beberapa mahasiswi malah merelakan apa saja asal bisa dianggap sebagai mantan Jojo—panggilan akrab Jorge Lorenzo—atau bahkan hanya sebagai one night stand nya.
Dibalik Jojo yang tampan dan dikagumi banyak gadis ada sesuatu yang tersembunyi dari pria duapuluh satu tahun itu. Sebuah rahasia besar, dosa besar, aib besar atau apapun lah itu.
Jojo yang nampak diluar sangat bertolak belakang bahkan jauh dari kata Jojo yang sebenarnya. Jojo yang bengis, keji dan haus darah. Jojo yang memiliki kebiasaan aneh—mengambil organ tubuh kekasih-kekasihnya. Jojo yang tanpa ampun menghabisi nyawa pacar-pacarnya itu hanya untuk sebuah ginjal, mata, jantung, paru-paru, bahkan kadang hanya untuk mengambil darah dari bagian tubuh tertentu gadisnya—tentunya bukan darah keperawaanan akibat pecahnya selaput dara, karena susah ngambilnya :p.

&&&&

Disetiap tahun ajaran baru tiba Jojo selalu mengandeng gadis baru pula—terkadang juga sebelum tahun ajaran baru gandengannya sudah baru. Beberapa bulan kemudian pasti gadis yang ia dekati hilang tanpa jejak begitu saja. Seperti sebutir debu diatas aspal yang terkena hujan—hilang tanpa ada yang mencarinya lagi. Tak pernah ada yang curiga atau bahkan bertanya-tanya. Semua berjalan normal, sesuai harapan—Jojo.
Dibalik aura maskulinnya Jojo sangat gemar menjahit. Terdapat satu set mesin jahit dikamar apartemen nya. Mesin jahit itu juga yang selalu setia menemani Jojo membuatkan baju terakhir untuk para gadisnya, baju pengantar Jojo menyebutnya.

&&&&

Tahun ajaran kali ini—disemesternya yang kedelapan dan entah dikorbannya yang keberapa—Jojo bertemu dengan seorang gadis separo Jepang separo Spanyol. Namanya Utsina Mei, gadis itu punya kembaran bernama Utsina Marc. Mata gadis itu entah kenapa seperti membutakan Jojo, seperti ada perasaan tulus yang membiusnya.
Mata sipit Mei membuat Jojo ingin memilikinya, dalam arti kiasannya. Bukan dengan mencongkel paksa itu dari persemayaman nyamannya. Jojo merasa aneh, kenapa saat ia melihat Utsina Mei berbeda dengan saat ia melihat gadis-gadis sebelumnya. Bahkan dengan para korban-korbannya.
Akankah aku berubah? Perburuanku selama ini hanya sampai disini? Sampai pada sosok Utsina Mei? Jojo semakin bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Batinnya berperang, setengah mengajak untuk berhenti, setengahnya lagi meminta untuk menjadikan Mei ‘koleksi’ terbarunya.
Melihat wajah kebingungan Mei membuat Jojo gemas. Ingin rasanya ia cubit pipi chubby milik Mei tapi ia takut kalau Mei tidak suka dan bagaimana kalau dia kalap dan malah pipi Mei akan menjadi barang barunya.
Bayangan kedua membuatnya bergidik ngeri, itu akan membuat seluruh dunia tahu kalau dia kejam. Kalau dia suka mempermainkan nyawa orang demi hobbynya. Kalau dia tak pernah serius dengan para gadisnya. Dan dia telah mengecewakan semuanya.

&&&&

Akibat pertemuan singkat itu dan tak perlu waktu lama akhirnya Mei jatuh juga dalam pelukan setan Jojo.
Hari-hari diawal hubungan mereka sangat lancar, karena Mei juga hobby menggambar makanya dia sering menemani Jojo mendesain beberapa baju. Selain untuk Jojo jual baju-baju itu juga Jojo buat untuk Mei.
Aneh! Iya aneh. Selama tiga bulan menjalin kasih dengan Mei, Jojo tidak sekalipun punya niatan untuk memiliki bagian tubuh Mei. Bahkan hanya untuk mendapatkan bibir gadis itu—melumatnya hingga habis.
Sangat-sangat-sangat berbeda dengan Jojo yang bahkan kadang hanya seminggu saja sudah ingin mengambil sebelah ginjal pacarnya.
Jojo tersenyum lalu menggeleng pelan. Benar memang, perburuannya hanya sampai pada Utsina Mei. Tuhan telah memberikan jalan untuknya, jalan dimana kelak ia bisa juga seperti manusia lain pada umumnya—merasakan surgaNya.
“ Kenapa senyum-senyum sendiri?” Mei menggoda Jojo usil. Tangan lentik itu masih terus menggambar busana sekolah yang biasanya ada di anime-anime.
“ Lucu kali ya kalau kamu pake baju kayak gini.” Jojo tidak bisa menyembunyikan senyumnya—tapi menyembunyikan maksudnya.
“ Aku di Jepang juga sekolah pake baju kayak gini.”
Jawaban polos Mei malah membuat Jojo kaku, badannya seakan seperti es dikutub. Jojo yang sebenarnya sangat akrab dengan keadaan seperti ini semakin gugup. Akankan dia kembali? Menjadi Jojo yang bengis? Jojo yang tidak tahu dosa dan tidak menghargai orang lain?
Jangan… Jangan… Jangan sekarang… Aku mohon. Jojo menahan dirinya sekuat mungkin agar tidak membahayakan Mei, bahkan tidak rela kalau gadis itu sampe lecet sedikit saja.
Kemana perginya obat-obat sialan itu? Kemana huh? Saat diperlukan saja kalian malah main petak umpet. Jojo mengumpat dalam hatinya. Ah, obat sialan. Batinnya.
Dan PLAK. Kesadarannya benar-benar sudah entah kemana sekarang. Tiba-tiba tangannya malah menampar pipi mulus Mei. Gadis itu tersungkur, entah sejak kapan airmatanya meleleh. Bukan karena sakitnya tamparan Jojo dipipinya, tapi guratan—cakaran—yang Jojo buat dihatinya. Seumur-umur baru ini ada orang berani menamparnya.
Jojo Lancang. Hanya itu yang terfikirkan oleh gadis bermata sipit itu. Apa salahnya? Kenapa hanya karena dia memegang benang warna merah tadi Jojo langsung menamparnya.
Dengan airmata yang masih bertahan disudut pelupuk matanya Mei berlari keluar apartemen, pulang kerumah. Setengah niat Jojo sudah hendak mengejar gadis itu, tapi setengahnya menyuruhnya untuk mengobrak-abrik ruangan itu sampai menemukan obat-obat sialan yang hilang entah kemananya.

&&&&

Seperti biasa Mei menemani Jojo mendesain baju-bajunya. Kali ini Mei sedang tidak dalam moodnya untuk membantu Jojo mendesain, jadilah ia hanya memandangi pangerannya itu tengah memainkan ujung pensilnya. Menghasilkan mahakarya yang kalau dipamerkan akan dipuji banyak orang—Mei tahu betul masalah fashion show. Tapi Jojo malah suka memajangnya dibutik-butik teman angkatan atau butik orang tua mereka. Kalau tidak ya dikasihkan kepada kekasihnya. Seperti yang sudah tiga bulan dia lakukan pada Mei.
Kejadian penamparan seminggu yang lalu rupanya sudah mulai terlupakan oleh Mei, Mei memaklumi mungkin sama saat itu Jojo tidak sengaja atau apalah. Toh Mei memilih untuk tidak peduli.
“ Ah lucu sekali.” Mei langsung menarik kertas hasil gambaran Jojo yang baru saja selesai.
Melihat gelagat Mei yang mengajaknya bercanda Jojo langsung mengejar gadisnya itu mengelilingi kamar apartemennya. Dipelukknya Mei dari belakang supaya gadis itu berhenti berlari, malah kini gantian Mei yang memeluk Jojo dari belakang.
Mei mencoba menikmati setiap detiknya bersama pria itu, pria yang sudah membuat hidupnya bahagia belakangan ini. Pria yang mengerti tentang dirinya—selain Marc tentunya.
“ Apa kamu bahagia?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir tipis milik Mei.
Bukannya dapat jawaban yang menyenangkan atau sebuah senyum yang meneduhkan. Mei malah mendapat sikutan ‘kecil’ dari Jojo. Tubuhnya tersungkur, kepalanya membentur pinggiran lemari hingga pelipisnya sedikit berdarah.
Melihat darah itu Mei panik dan langsung keluar kamar untuk pulang. Beda dengan Jojo yang saat melihat darah dipelipis Mei malah membuatnya semakin ingin memiliki gadis itu, bukan sebagai pendampingnya. Tapi sebagai salah satu ‘koleksinya’.

&&&&

Hari-hari penuh tawa Mei berubah. Sikap Jojo sekarang semakin tidak menentu, setiap ada masalah dengan gambarannya maka yang menjadi pelampiasan adalah Mei. Mulai dari ditampar, didorong kelantai hingga gadis itu tersungkur, dan berbagai perlakuan yang semestinya bisa dibilang tidak manusiawi.
Mei sudah terbiasa, entahlah mungkin karena ia sudah terlalu cinta dengan Jojonya itu. Sampai apapun yang Jojo lakukan dia hanya pasrah dan kemudian menangis didalam kamarnya.
Sejahat apapun Jojo padanya Mei masih tetap bersyukur. Jojo berbeda dengan cowok lainnya yang selalu untuk menjelajahi gadisnya, memberi tanda sana sini, padahal mereka sama-sama tahu kalau tanda itu akan hilang seminggu kemudian. Apa cinta mereka hanya akan seumuran dengan tanda itu? entah lah.
Jangankan sampai melakukan adengan khusus dengan rating tertentu, menciumnya saja Jojo tidak pernah. Yang Jojo lakukan—kebanyakan akhir-akhir ini—ya seperti ini. Memberikan banyak bekas luka—rata-rata dikepalanya.

&&&&

Hari ini seperti hari yang sudah-sudah Mei mengunjungi Jojo di apartemennya. Tapi apartemen itu kosong, isinya berantakan kesana-kemari. Dengan sabar Mei mengambil benda-benda yang terhambur itu. Tangan-tangannya tak sengaja menyentuh pil-pil yang berserakan.
Matanya memandang aneh, kagum, bingung dengan pil-pil itu. Sejak kapan Jojo mengoleksi pil? Pil apa memangnya ini?
Diambilnya satu per satu pil-pil itu lalu ia masukan kedalam botol lalu merapikannya kedalam box kecil yang Mei yakini sebagai asal muasal tempat pil tersebut.
Seluruh ruangan telah Mei bereskan. Matanya baru meyadari ada sebuah box putih dengan pita biru diatasnya. Dengan sejuta pertanyaan Mei memegang box itu—berusaha untuk membukanya.
Sial. Belum sempat Mei melihat sepucuk pun dari isi box itu tangan Jojo sudah lebih dahulu menghalangi nya. Tangan kekar itu menyingkirkan tangan Mungil Mei hanya dengan satu hentakan—yang pastinya membuat tangan mungil itu sedikit sakit.
“ Apa aku memerintahkanmu untuk membereskan apartemen ku?”
Kalimat tajam Jojo membuat Mei diam. Ingin sekali ia jawab pertanyaan Jojo itu dengan semua unek-uneknya tapi semua perkataan itu malah raib entah kemana.
Hanya satu yang bisa dilakukan Mei saat ini. Menangis, bulir airmata itu turun perlahan. Dan membuatnya berakhir dalam pelukan Jojo yang hangat, penuh cinta dan kasih. Sangat berbeda dengan Jojo yang baru saja membentaknya dan membuatnya menangis.
“ Kamu pasti capek. Berbaring lah, aku akan mandi.” Jojo mengusap puncak kepalanya lalu melesat kekamar mandi.
Dalam pikiran Mei adalah “ Apakah Jojo bipolar?”. Ah sudahlah, mungkin Jojo hanya khawatir padanya. Mei tersenyum pelan lalu merebahkan badannya ke ranjang nyaman Jojo.
Sambil menunggu Jojo selesai mandi, matanya menerawang ke langit-langit kamar Jojo. Imajinasinya entah sudah sampai mana sampai membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
KREK. Suara pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan sosok seorang Jojo hanya dalam balutan handuk yang menutupi pusar hingga atas lututnya. Bagi Jojo terlihat seperti itu sudah terlampau biasa, tapi bagi Mei? Ini pertama kalinya dalam sejarah gadis itu melihat ‘pemandangan’ baru seperti itu. Mei mengalihkan pandangannya, juga menghindarkan pipinya yang sudah bersemu merah terlihat Jojo.
Jojo begitu santai melewati Mei yang sangat-sangat salah tingkah. Badan Jojo yang terekpos sempurna dengan air yang membasahinya…. Arrgghhh kenapa itu membuat Mei frustasi dan membayangkan sesuatu yang iya-iya dengan Jojo, adengan erotis diantara mereka. Saat-saat dimana Mei memegang otot bisep itu… oh Tuhan.
Jojo kumohon jangan menggodaku seperti ini…. Kumohon. Mei merintih dalam hatinya, juga berdoa kepada Tuhan agar adengan-adengan yang iya-iya tadi tidak pernah terjadi—setidaknya hingga sebuah pernikahan suci mengikatnya dengan seorang laki-laki dikemudian hari.
Saking asyiknya dengan pikirannya sendiri Mei bahkan tidak menyadari bahwa Jojo sudah merebahkan badan disebelahnya. Anehnya Mei dengan otomatis masuk kedalam dekapan pria itu, melupakan rasa canggungnya tadi.
Mata Mei semakin terasa berat. Jojo menikmati pemandangan dihadapannya. Tangannya bergerak memegang pelan pipi chubby Mei—kemudian menariknya. Mei yang menikmati sentuhan itu—sangat menikmati dan menginginkannya—menarik kembali tangan Jojo. Tapi Jojo malah bersikeras untuk menarik kembali tangannya. Tak berharap pipi mulus Mei terkena seujungpun kulitnya.
Mei merasakan perih. Sakit, kenapa Jojonya sekarang selalu berubah? Kenapa Jojonya sekarang menjadi dingin? Adapakah denganmu Jo? Apa aku melakukan salah?

&&&&

Seminggu sudah Jojo melarang Mei mendatanginya, juga memilih menghindar dari gadis itu ketika dikampus. Jojo bilang ia akan fokus dengan skripsinya dan Mei hanya manut-manut saja.
Bukannya ketenangan yang ia dapatkan, melainkan sebuah teror… bukan dari Mei tapi dari bayangan kelam Jia. Gadis campuran Thailand-Jepang itu hadir lagi dalam kehidupannya. Tentunya dalam imajinasi Jojo saja, karena Jojo sangat yakin kalau Jia sudah ia kubur di apartemennya yang dulu dan sepasang bola mata cantik gadis itu ada disalah satu botol di lemari koleksinya.
Bayangan ketika ia dan Jia masih terngiang, bayangan bagaimana piawainya gadis itu membuatkan ia Tom Yam dan makanan-makanan eksotis asal negeri gajah putih—negara ayahnya. Jia juga seorang penulis komik.
Hubungannya dan Jia berjalan normal. Bahkan lebih normal dari hubungannya dengan Mei. Jia mengenakan baju pengantin yang ekornya menyapu lantai sebagai baju pengantarnya—pengantar maut Jojo.
Jojo tak pernah mengerti kenapa bayangan gadis yang bahkan nama aslinya tak pernah bisa Jojo eja—saking susahnya—gadis yang hanya Jojo tahu dengan nama Jia dan nama pena Uthori Zui.
Semua kenangannya dengan Jia yang sudah menguap kembali mengkristal. Kembali ke daratan, padahal Jojo sudah seyakin mungkin bahwa kenangan itu sudah sampai ke ruang angkasa—diruangan hampa udara. Terbunuh bersama partikel-partikel pecahan bintang neutron dan terserap lubang hitam.

&&&&

Disaat bayangan Jia yang semakin pelik, Jojo menghambur seluruh apartemennya. Melepaskan amarahnya pada bayangan yang tidak kunjung pergi. Dan laknatnya bayangan ketika ia menjamah Jia juga terlintas. Ah ini kenapa bisa terjadi? kenapa bayangan tak senonoh itu muncul? Apa karena aku terlalu…? Aih. Batin Jojo berkutat dengan gemuruhnya.
CKLEK. Mei membuka pintu, melihat Jojo yang berdiri dan tampak lusuh gadis itu mendekat. Memeluk kekasihnya erat seolah Jojo akan pergi. Jojo tidak membalas pelukan itu. Ia benamkan wajahnya di leher mulus nan jenjang milik Mei. Dihisapnya pelan aroma tubuh kekasihnya, dengan sedikit gerakan seduktif yang membuat Mei geli.
Apakah aku benar-benar mencintaimu Mei? Apa arti ingin memiliki bagimu Mei? Apa sama dengan yang aku fikirkan?
Dalam satu hentakan Jojo menendang tubuh Mei tepat diulu hatinya. Gadis itu jatuh dan memuntahkan darah. Mata bengis Jojo menatap Mei dengan pandangan sejuta makna. Mei memegangi perut dan menampung darah yang terus ia keluarkan.
“ Apa maumu Jo?”
Baru selesai Mei bertanya ternyata Jojo sudah mengeluarkan sebuah pisau bedah yang sudah jangan ditanya lagi. Jojo memiliki mereka lengkap walaupun dia bukan anak fakultas kedokteran.
“ Kumohon Jo…” nada suara Mei bergetar. Gadis itu takut. Takut dengan orang yang paling ia cintai. Takut kehilangan? Sepertinya.
Dan KREK. Jojo membelah perut Mei tanpa ampun. Gadis itu menghembuskan napas terakhirnya. Kemudian Jojo mengoyak dada Mei, mencari letak jantungnya. Mencabutnya dengan paksa kemudian memasukkannya kedalam sebuah botol bersama darah Mei yang sempat ia ambil.
“ Thanks Mei.” dikecupnya pelan puncak kepala—bangkai—seorang Utsina Mei. “ Aku punya sesuatu untukmu…”—terakhir untukmu.
Jojo mempreteli satu persatu pakaian yang Mei kenakan. “ Ternyata badanmu bagus juga, sayangnya tidak terlalu menggoda untuk ke sentuh.” Senyuman licik menghiasi wajah tampannya.
Dikecupnya pelan baju pengantar Mei. Kemudian ia kenakan. Setelah semua pakaian lengkap dia dirikan Mei diantara baju-bajunya yang lain—dengan manekin yang benar-benar manekin.
Wajah pucat Utsina Mei yang sedikit tertempa cahaya langit sore kota Sevilla membuatnya cantik—dengan wajah datarnya

----
Sementara itu ditempat lain Marc sedang berusaha keras menghubungi saudara kembarnya yang bilang hanya akan keluar rumah limabelas menit saja. Dengan perasaan kesal Marc menstater motornya. Tujuan utama adalah apartemen Jojo, dimana itu adalah tempat tersering Mei kunjungi—melebihi kunjungan ke kampusnya sendiri.
BRAK. Marc langsung mendobrak tanpa ampun pintu apartemen Jojo. Pemandangan mengejutkan, tubuh Mei yang sudah kaku dengan balutan baju penganti sebatas lutut—sambil menggenggam sebucket bunga mawar putih.
Seluruh badannya lungai, tapi ada satu tekatnya. Ia sangat yakin ini adalah ulah Jojo. Siapa lagi memang?
Jojo keluar dari arah lemari koleksinya dengan mengenakan tuxedo. Wajahnya sumringah—koleksinya bertambah, sebuah jantung.
“ Apa yang kau lakukan pada adikku?” Marc langsung mencerca Jojo dengan pertanyaan brutalnya.
“ Tenang bro, aku tidak melakukan apapun pada adikmu yang manis ini.” Jojo menyentuh pelan dagu Mei—dingin.
“ YA!!”
Baru satu teriakan tapi gerakan Jojo tak kalah cepat. Ternyata dari tadi pisau bedah yang ia buat untuk mengambil jantung Mei masih ia selipkan dibalik tuxedonya yang rapi. Dengan satu hentakan nyawa Marc sudah menguap. Dan pemuda itu jatuh terkapar di apartemennya. Woah rekor bagus Jo, dua orang dalam sehari.
Senyuman begis itu kembali muncul. “ Sorry Marc tidak ada yang aku harapkan darimu. Aku hanya tidak ingin ada yang tahu tentang kelakuan bejatku selama ini. Dan terimakasih untuk adikmu yang telah memberiku jantung indahnya.”—catatan : Jojo hanya mengambil orang wanita.
Jojo meninggalkan dua jasad sepasang kembar pengantin itu dengan tanpa dosa. Diseretnya koper penuh organ-organ tubuh kekasihnya—mantan lebih tepatnya, karena sekarang mereka sudah tidak berhubungan kan? Walau tanpa kata putus.

&&&&

Dua bulan semenjak kejadian itu Jojo melarikan diri ke sebuah kota di Ukraina. Memulai hidup barunya. Namun bukan seperti biasanya Jojo bisa dengan mudah menaklukan hati kaum hawa, kini rasanya semua pesona seperti hilang tak membekas. Dua bulan dan Jojo masih sendiri, oh ayolah ini mustahil.
Handphonenya berdering. Sebuah nomor menelponnya, nomor asing. Tanpa ragus Jojo mengangkat panggilan itu.
“ Hallo?” kening Jojo berkerut.
“ Pa.” suara anak kecil mengejutkannya.
“ Ha?”
Pa? apa maksudnya? Kebingungannya semakin memuncak.
“ Jojo-ya.”
GLEK. Jojo ingat kalau hanya Jia yang memanggilnya seperti itu. Terkadang juga phi-Jo.
“…..” Jojo terdiam.
“ Pa, Jien sekarang sudah bisa menulis sendiri.” suara anak perempuan kecil mengoceh diseberang.
“ Phi, apa kamu tidak ingat dengan anak kita?”
Jojo semakin terdiam. Anak kita? Maksudnya?
“ Aku tahu kamu tidak pernah mengharapkan kedatangannya. Tapi kumohon anggap dia ada.” suara putus asa Jia menutup percakapan aneh itu.
Aku tidak bermimpi kan? Jojo menepuk pipinya. Tidak. Jelas ini bukan mimpi.
Memorinya bergerak lamban kebelakang, tepatnya dikejadian tiga tahun lalu. Saat umurnya baru delapanbelas tahun. Jia adalah kekasih pertamanya, perebut keperjakaannya, dan juga koleksi pertamanya.
Ia ingat apa yang mendasarinya membunuh Jia kala itu. Karena Jia memberinya sebuah benda kecil laknat denga  dua garis manis yang menghiasnya. Kala itu Jia mendesaknya untuk menjelaskan ke orang tuanya, Jia yang masih mempertahankan adat ketimuran merasa seperti terkena cambuk.
Tanpa pikir panjang Jojo menikam Jia, mengambil mata gadis itu sebagai kenang-kenangan dan menguburkannya di apartemen lamanya di Valencia kemudian pindah ke Sevilla.
Mulai dari itu Jojo selalu mengambil bagian tubuh gadis yang ia kencani—sebagai kenang-kenangan dan koleksinya—walaupun tidak sampai membuat perusahaan investasi saham dirahim para gadisnya—tidak seperti yang ia lakukan pada Jia.
Beda dengan Jia yang ia kuburkan didalam apartemen. Pada gadis selanjutnya Jojo akan menjualnya pada mahasiswa kedokteran yang tengah butuh mayat untuk praktek atau kepada orang-orang yang hobby menayantap daging manusia.

&&&&

Tengah malam handphonenya kembali berdering. Seseorang mengiriminya sebuah poto melalui line.
Mukanya langsung pucat saat ia melihat poto yang dikirimkan. Foto Mei dan Marc disebuah pantai, entah pantai mana. Dengan tanggal yang baru kemarin. Mukanya memucat. Benarkah ini foto yang baru diambil kemarin?
Seseorang menelponya. Dengan ragu Jojo menjawab panggilan asing itu.
“ Lain kali datanglah ke Utrech, aku dan adikku ada disini.” suara ngebass milik Marc terdengar dari seberang.
Suasana sunyi, setelah mengatakan kalimat itu Marc langsung menghentikan percakapan dan menutup sambungan telepon.
Dengan batin tertekan Jojo menghampiri lemari kolekisnya, kemudian menumpahkan semua yang ada didalam lemari itu. organ-organ berserakan. Berhamburan kesana kemari. Melihat itu saja mungkin akan membuat orang normal akan muntah dan tidak enak makan selama sebulan.
Bahu Jojo tersengal, ia menangis. Iya, seorang Jorge Lorenzo menangis. Menginat semua masa lalunya yang kelam.
Dalam sebuah isakan ia meminta, “ Semuanya maafkan aku, Tuhan bisakah kamu menerima ku sebagai hambamu—lagi?”



I’m sorry for the painful times
I won’t lose you again
…..
I’ll stay here now
Because I have so much to do for you
Because there’s so much I owe you
Because I’m so thankful


[ LYn  feat  VIXX Leo - Blossom tears ]