SpongeBob SquarePants

Sabtu, 31 Mei 2014

El-Love-Classico-Ketika Cintaku Salah Assist Part 8


Tittle : Wedding Dress
Rating : T aja deh :D
Genre : Romance seperlunya komedi
Cast :
Hwang Zia Carter
Kylie Mourinho
Demylia Sanchez
Bruna Marquezine
Neymar
Alvaro Morata
Cesc Fabregas
Cristian Tello
Other.

Nggak tau mau sampai mana, liatin aja deh :). Sampe FF ini habis tolong anggap saja Neymar sama Bruna masih pacaran *jleb*

&&&&

Morata dan Zi memilih untuk melangsungkan pernikahan secepatnya. Lagipula tidak ada alasan juga bagi mereka menangguhkan acara sakral ini.
" Mor bagaimana desain undangan ini? Lucu tidak? Aku juga menulis namamu dalam tulisan China supaya keluargaku yang tidak tau sama sekali bahasa Spanyol bisa membacanya. Karena undangan ini aku tulis dalam bahasa Spanyol." Zi menjelaskan detail undangan pernikahan mereka nanti yang Zi desain sendiri.
" Bagaimana kalau kamu membuat yang berbahasa China juga. Untuk keluarga dan teman teman mu yang berasal dari China."
" No, itu pemborosan. Ini lebih baik."
" Tapi ini momen sekali seumur hidup Zi. Tolong jangan terlalu menggunakan prinsip ekonomi mu kali ini."
" Tidak bisa Mor. Lagi pula kalau kita terlalu banyak menggukan kertas kita berarti mendukung pembabatan hutan. Kertas itu asalnya dari pohon."
" Baiklah. Kita kan go green."
Morata kalah kali ini. Alasan yang Zi katakan susah dibantah, lebih susah karena Morata sudah salah sangka sebelumnya. Ah, sial.
" Setelah kita menikah nanti apa kamu masih akan memanggilku Mor?"
" Eummm" Zi mengangguk kecil tapi matanya masih terpokus dengan layar laptopnya.
" Kamu tidak berpikiran untuk memanggilku honey, baby atau apa?"
Zi menatap Morata dalam, " Kamu bukan madu ku, kamu juga bukan bayi ku. Tapi kamu adalah Morata ku. Tidak ada alasan aku untuk memanggilmu dengan panggilan-panggilan nyeleneh tadi. Just be my Morata oke?"
" Eung Baiklah."
" Nggak ada permintaan yang lain lagi kan?" Zi menatap dalam kearah lensa mata milik calon suaminya itu.
" Akan ku pikir kan lagi nanti."

&&&&

" Kenapa murung sih Myl? Sebentar lagi kan Morata mau nikah. Kok kamu malah murung-murungan gini sih?" Kylie mengelus pelan punggung Myla.
" Justru itu." Myla mengatakannya sangat pelan.
" Justru kenapa? Kamu nggak setuju kalau Morata menikah dengan Zi? Apa Zi kurang baik untuk Morata?"
" Bukannya Zi kurang baik untuk Morata. Tapi."
" Tapi apa Myl? Ayolah cerita."
" Bagaimana rasanya kalau kamu menantikan seseorang selama hampir 7tahun dan orang yang kamu nantikan pergi bersama seseorang yang baru dia kenal?" pelupuk mata Myla mulai bergenang air mata.
" Sakit lah." Kylie menjawab cuek, gadis itu sama sekali tidak peka kalau yang Myla tanyakan ada sangkut pautnya dengan Morata dan Zi.
" Dan itu yang terjadi padaku Ky." Tangis Myla pecah. " Morata adalah laki-laki 3detik ku. Kamu ingatkan tentang teori ku kalau ada seorang laki-laki yang bisa membuat jantung ku berdetak lebih keras hanya dengan 3detik maka laki-laki itu adalah cintaku?"
" Jadi selama ini laki-laki 3detikmu itu Morata?" Kylie menutup mulutnya yang ternganga(?) dengan tangan.
Myla hanya menunduk dalam. 7tahun memendam rasa seperti dirinya terlampau sakit. Ok, penantiannya memang hanya sekedar penantian tanpa balasan.
" Morata tau?"
" Aku pernah hampir mengatakannya saat kita masih SMA tapi sudahlah, lebih baik dia tidak tau sama sekali."
Kylie langsung merangkul sahabatnya itu. Mencoba merasakan perih yang sudah Myla tanggung selama ini.
" Tuhan sudah punya jalan buat kamu Myl." dan kedua wanita cantik itupun menangis secara bersamaan.


Around me, lonliness is spreading
Vision, is being blurred by tears
I left " I Love you " at the bottom of my heart
And put them on the tip of my lips
( #Backsound : SJM - Blue Tomorrow )

&&&&

Disuatu malam dibawah taburan bintang dilangit Barcelona dan diantara cahaya lilin yang berjajar Kylie dan Cesc melakukan kencan romantis mereka.
" Kamu gak berniat kayak Morata sama Zi, Ky?" Cesc membelai lembut tangan kekasihnya.
" Pingin sih, tapi kata ayah aku harus memikirkan matang-matang." Kylie mengigit bibir bawahnya.
" Pasti ayahmu nggak ngebolehin aku nikahnya sama kamu." Cesc berkata sedikit menyelidik.
" Siapa bilang gak boleh." entah sejak kapan munculnya yang jelas Jose Mourinho sudah berdiri dibelakang Cesc.
" Eh om." Cesc hanya bisa memasang muka tak berdosa nya didepan calon mertua.
" Duh." Kylie menggerutu sambil menunduk.
" Ky, hayo ngomong apa?" suara tegas papa nya membuat Kylie langsung ciut nyali.
" Jadi gimana rencanamu tadi?" lanjut Mou.
" Rencana yang mana ya om?" Cesc sedikit grogi sampai lupa dengan kata kata nya tadi.
" Yang katanya mau nyusul Morata. Emang Morata mau kemana?"
Sebenarnya Kylie dan Cesc sudah mau bilang Gubrak secara bersamaan tapi mereka mencoba menahannya didepan papa nya Kylie.
" Gak kemana-mana om. Morata mau S2." Cesc berkelah.
" Oh." dan Mou pun hanya ber oh ria. " Ya sudah papa mau balik ke London Ky, mau ndampingin anak-anak latihan. Jaga Kylie ya Cesc, aku percaya sama kamu."
" Udah papamu jauh-jauh dari London ke sini cuman buat kayak gitu tadi?"
Kylie mengangguk kecil.
" Nggak habis pikir aku Ky." Cesc hanya menggaruk-garuk kepalanya.
" Mau dansa Cesc?" Kylie melihat beberapa pasangan yang bergandengan tangan dilantai dansa.
" Baiklah." Cesc menyerah, kelakuan aneh pacar dan ayah pacarnya membuatnya sedikit penat.
Cesc dan Kylie menggerakkan badannya pelan mengikuti alunan musik klasik yang mengalun pelan.
" Kamu suka dansa?" Cesc menanyai Kylie yang sepertinya larut dengan gerakan dansa nya.
" Aku lebih suka cover dance." dan Kylie pun tertawa.
" Ky?"
Kylie mendongak dan matanya langsung bertemu dengan mata Cesc yang menatapnya sendu. Wajah mereka semakin dekat dan Kylie refleks menutup matanya. Alih-alih mencium bibir mungil Kylie Cesc malah mengecup pelan kening kekasihnya itu.
" Kenapa kamu menutup mata? Bukalah matamu." Cesc tersenyum geli melihat tingkah Ky.


Flying up high in the sky
Oh with the beautiful stars
Living in a movie now
Kissing under raindrops (wanna go)
Lets see a whole brand new world
Oh take my hand and you know
You're in this movie too
[ #backsound : Lunafly - Stardust (eng. Ver) ]

&&&&

" Ge yang ini bagus nggak?" Zi menunjukan sebuah gantungan kunci berbentuk hello kitty kearah Morata.
" Zi kita ini memilih suvenir buat pernikahan bukan acara ulang tahun anak SD."
Zi memanyunkan bibirnya, Morata hanya menatap gemas dan mencubit pipi tembem calon istrinya itu.
" Tapi ge itu kan lucu."
" Gimana kalau ini?" Morata menunjuk sebuah pulpen.
" Bolpoin? Suvenir pernikahan kita?" Zi menatap aneh.
Morata mengangguk mantap. " Baiklah kalau gege mau itu aku ngikut sajalah."
" Zi mau kan?"
" Oke deh, lebih pantas ketimbang gantungan kunci helo kitty tadi."
" Yasudah kita pilih-pilih yang lain, buat pernikahan kita." Morata menggandeng pinggang ramping Zi. Zi hanya tersenyum melihat tingkah Morata yang tiba-tiba.
Zi dan Morata masih asyik mengamati etalase beberapa toko-toko suvenir. Sebenarnya urusan mereka memang sudah selesai tapi mereka masih ingin menghabiskan sedikit waktu disini.
" Kalau kita nikah nanti kamu masih mau kembali ke Cina seperti rencana awalmu?"
Dengan ragu Zi menganggukan kepalanya pelan, " Kan aku sudah janji kalau aku pingin mengabdi ke tanah kelahiranku."
" Tapi bisa ditunda kan? Aku gamau kita jauh." Zi mengangguk dalam. Baginya ini sudah menjadi konsekuensi bagi pasangan pernikahan internasional.
" Kamu gak papa kan kalau rencanamu ditunda?"
" Gak papa kok."

&&&&

Neymar menatap nanar undangan dihadapannya, yang ia rasakan sekarang hanyalah langit yang runtuh menimpanya. Semuanya terasa berat.
" Kamu kenapa sih sayang? Kok murung gitu? Temennya mau nikah kok malah murung." Bruna memeluk Neymar dari belakang.
" Lagi gak enak badan aja kok, capek." Neymar berkilah.
Bruna memegang kening Neymar, " Gak panas kok."
" Aku gak demam sayang." Neymar mengecup pelan pipi Bruna, " Davi kemana?"
" Tidur." Bruna menjawab sambil menatap kearah pintu kamar Davi.
" Calon mamanya gak sekalian?" Neymar memberikan smirk kearah Bruna. Bruna hanya menunduk menahan blushing(?).

&&&&

" Titidak." Myla membanting testpack yang dipegangnya, dua garis yang menunjukan dirinya positif(?).
" Sekalipun aku menginginkan bayi ini tapi aku gamau menghadirkan masalah diatas kebahagian orang yang aku sayangi. Nggak, aku gamau."
Myla masih berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Rambutnya sudah acak-acakan kesana kemari karena ia acak-acak.
Setelah cukup bisa mengendalikan dirinya Myla meraih ponselnya dan mendial nomor 1. Sialnya itu adalah nomor Morata.
Myla hanya bisa diam tidak dijawabnya sama sekali.

----

" Myla menelpon sepagi ini?" Morata mengamati layar ponselnya lalu menjawab panggilan Myla.
" Hallo Myl."
Hanya terdengar hembusan napas yang cepat, " Myl kamu gak apa-apa kan?" suara hembusan napas Myla semakin tak beraturan.
" Myl kamu dimana? Kamu gak kenapa-napa kan?" Morata semakin panik.
" A..ku..ggak..apa..apa." Myla menjawab dengan terbata-bata.
" Kamu diapartemen kan Myl, aku kesana sekarang."
Panggilan itu langsung Morata putus dan Morata beranjak menuju garasi mobil. Selama diperjalanan Morata sama sekali tidak tenang. Suara Myla yang gemetar dan hembusan napas yang menunjukkan ketakutan membuatnya gelisah.
Sampai di apartemen Myla, Morata langsung membuka pintunya tanpa permisi. Digeledahnya satu persatu ruangan apartemen milik Myla. Ternyata Myla tengah meringkuk didalam bathtube.
" Kamu kenapa Myl? Ada yang jahatin kamu? Ada perampok atau apa?" Morata langsung memberondongi Myla dengan pertanyaan-pertanyaannya.
" Aku gak kenapa napa kok Mor." Myla mencoba tersenyum walau terpaksa.
" Jujur saja Myl sama aku, kamu terlihat berantakan kayak gini dan kamu masih bilang kamu gak apa-apa."
" Aku emang beneran gak apa-apa kok Mor, kamunya aja yang terlalu khawatir."
" Kalau kamu gabisa cerita sekarang, lain kali juga gak papa kok ceritanya."
Myla mengangguk, lalu berdiri dari bathtube. " Maaf udah bikin kamu khawatir."
" Kamu sahabatku, gak perlu merasa bersalah.
Kamu sahabatku, memang benar. Bagi Morata Myla hanyalah sahabat.

&&&&

" Tello aku mau ngomong sama kamu." Myla mencoba membuat suaranya senormal mungkin, dengan perasaan yang hancur lebur.
" Silahkan." Tello membalas dengan senyuman.
" Aku hamil." singkat padat dan jelas perkataan Myla tapi membuat Tello melotot.
" Tapi kan kita gapernah"
" Ini memang bukan anakmu, ini anak Morata." Myla memelankan suaranya.
" Bagaimana bisa?"
" Kami melakukannya dalam keadaan sama-sama tidak sadar, aku tau aku sudah mengkhianatimu. Maaf aku gabisa menjaga kepercayaanmu ke aku." Myla hanya menunduk.
" Besok pernikahan Zi dan Morata kan?"
" Iya aku tau, dan aku tidak tau aku harus bersikap apa." perlahan air mata Myla mengalir.
" Kalau aku ada diposisimu aku juga gak tau harus berbuat apa. Lakukanlah sesuai kata hatimu Myla." Tello menepuk pundak Myla dan berlalu pergi dengan sejuta kepedihan.
" Maafkan aku semuanya, aku terlalu egois dalam masalah ini."

&&&&


From : Morata Gege

How can a person be like this?
I start to feel like Im the only one living in this world
You pass by my side
A sweet wind called you is blowing in my heart
Even if you dont put on makeup
Youll put on your perfume called Attraction
I never believed that there was a god
But now you make me believe because to me, youre a goddess
Whether youre young or old, whether you have a hidden child
I dont care because I love you
If Im with you, anywhere we go is a flower garden
Instead of holding designer bags, you hold my hand
Instead of jealousy and envy, you understand my nature
With you, I draw out my future
In between our couple shoes are a pair of baby sneakers[1]

Zi hanya tersenyum melihat pesan yang dikirim Morata. Belum sempat ia membalas pesan tadi sebuah pesan baru masuk.

From : Morata Gege
Kamu suka?

To : Morata Gege
Suka, sangat sukaY

&&&&

Hari pernikahan yang selalu dinantikan Zi dan Morata tiba juga, dengan gugup Zi berjalan menuju altar pernikahannya. Morata sudah menantinya dengan senyum mengembang.
" Kamu terlihat lebih cantik hari ini. Aku bahkan susah membedakan kamu dengan bidadari yang diceritakan dinovel-novel." Morata membisikan kata-kata itu tepat ditelinga Zi, dan Zi hanya bisa menahan tawanya.
" Baiklah bagi pasangan pengantin silahkan mengucapkan janji sehidup semati."
" Saya Hwang Zia Carter bersedia mene"
" Tunggu." Myla datang dengan lari yang tergopoh-gopoh.
" Myla?" Morata dan Zi menatap aneh, begitupun para undangan yang hadir.
" Aku cuma mau ngasih ini Mor." Myla buru-buru memberikan testpack yang dari tadi ia pegang.
Morata langsung terbelalak karena melihat dua garis di testpack itu. Kejadian dihotel saat di Prancis pun seperti terulang kembali dalam benaknya. Karena jarak Myla yang belum terlalu jauh maka Morata bisa dengan mudah mengejar gadis itu lalu memelukknya.
Saat itu juga Zi merasakan sesuatu yang sangat berat menimpa dirinya. Karena keseimbangannya mulai berkurang Zi pingsan dialtar pernikahan.

----

Yang pertama Zi lihat saat membuka matanya adalah selang infus yang berada ditangannya, lalu Morata, Myla Neymar, Bruna, Kylie dan Cesc yang duduk mengelilingi ranjang.
" Kalian kenapa?"
" Zi maafin aku." tangis Myla langsung pecah, " Aku gak pernah berniat buat ngancurin kebahagiaan kamu Zi."
" Kalian kenapa sih?" bulir-bulir airmata mengalir deras dari mata Zi.
" Kita sebaiknya keluar, ini urusan mereka bertiga." Cesc mengajak Kylie Neymar dan Bruna keluar.
Tinggal Morata Myla dan Zi. Zi masih enggan menatap Morata dan Myla, hatinya terlalu perih untuk menatap mereka.
" Zi.."
" Cukup." Zi memotong perkataan Morata, " Aku punya satu permintaan, tolong kabulkan permintaanku ini."
Morata dan Myla menatap Zi dengan seksama.
Zi menggigit bibir bawahnya keras-keras, " Aku pingin Morata" belum selesai perkataannya Zi kembali pingsan. Zi sebenarnya tidak sanggup untuk mengatakan kata-kata paling menyedihkan yang akan dia lontarkan seumur hidupnya.
" Zi, Zi bangun Zi."
Zi tetap diam dalam pingsannya(?)

-bersambung-






















[1] Lirik lagu BTS – Miss Right