Tittle : Between
Rating : T
Genre : Romance sedikit
mistery di akhir
Cast:
Enzi Garcia
Marc Marquez
Marc Bartra
Cristian Tello
Jessica
And other....
Summary : “ Aku tak tau apa
itu cinta, seingatku mereka memabukkan.”
>>>>
Kupercepat
langkah kaki ku menuju kelas, aku takut kalau-kalau sudah ada guru yang masuk
ke kelasku. Syukurlah! Didalam kelas ternyata belum ada guru yang mengajar. Aku
langsung duduk di sebelah Jessica –karena itu satu-satunya kursi kosong yang
tersedia untukku. Jessica tersenyum padaku, kubalas senyum.
“
Zi kau tau tidak?” matanya yang sipit berbinar.
“
Apa?” mencoba tampak ceria.
“
Tello mengajakku kencan.” Well, harusnya aku sudah tau kemana arah pembicaraan
nya.
“
Lalu kau mau?”
Dia
mengangguk dengan senyum yang merekah, Jes memang sudah lama naksir sama Tello.
Setauku Tello juga sama naksir nya dengan Jes, tapi mereka begitu pandai
menutupi hubungan mereka.
“
Hai magnae.” Tello menyapaku. Usiaku dan Tello serta mayoritas anak dikelas ini
terpaut 2tahun serta hobbyku mengoleksi lagu-lagu Korea pantaslah aku selalu
dipanggil magnae[i].
Termuda dikelas mungkin saja.
“
Emmm.” Aku jadi merasa sangat canggung didekat pasangan yang dimabuk cinta.
Mereka seolah memiliki bahasa yang tak aku mengerti; hanya mereka yang tau.
“
Aku tak mengganggu kan?”
“
Sama sekali tidak. Bagaimana hubunganmu dengan Marc?” Tello sedikit memainkan
alisnya.
“
Yah begitulah, tak terlalu baik. Terkadang.” Aku sangat tidak mood membahas
adik kelas yang setahun lebih tua dariku itu.
“
Kau pacaran dengan nya Zi?” Jessica bertanya dengan mata yang berbinar.
“
Tidak.” Jawabku –singkat.
“
Bukannya dia pernah menembakmu?”
“
Memang.”
“
Kenapa nggak diterima aja Zi?”
“
Jes dia itu adik kelasku.”
“
Tapi dia lebih tua darimu.”
“
Nggak ah, tetep dia adik kelasku.”
Kedatangan
Mr. Hayden membuyarkan percakapan kami, Tello kembali ke tempat duduknya; aku
dan Jess mencoba memperhatikan materi tentang sel yang disampaikan Mr. Hayden.
Ketika
istirahat pertama —sebelum istirahat makan siang— Tello dan Jes mengajakku
duduk di taman belakang sekolah. Aku menolak, memilih pergi ke perpustakaan dan
menenggelamkan diriku sebentar dengan ribuan buku didalam nya. Toh seandanya
aku ikut dengan Tello dan Jes aku tak ingin bersua dengan Marc yang bakalan
mencegatku saat melewati kelasnya.
Saat
memasuki perpustakaan suasana sunyi yang ku sukai langsung berbaur dengan
diriku. Kuambil sebuah buku tanpa melihat judulnya dan langsung membawanya ke
sudut perpustakaan yang masih menyisakan bangku kosong. Aku menunduk dan
langsung asyik dengan buku tadi. Ternyata itu adalah novel yang mengisahkan
ratu Cleopatra dan Julio Cesar.
“
Hai boleh aku duduk disini?” seorang cowok kebingungan mencari tempat duduk,
entah kenapa perpustakaan hari ini lebih ramai dari biasanya.
Aku
mendongak dan ternyata orang itu berbicara kepadaku, karena hanya disebelahku
lah tersisa bangku kosong. “ Tentu.” Jawabku singkat.
Kuteruskan
kembali bacaanku tanpa memperhatikan dia sedikitpun, sekilas tadi dia berkaca
mata. Dia yang duduk disebelahku juga asyik dengan buku bacaannya.
Kulirik
jam tanganku sekilas ternyata istirahat akan berakhir 3 menit lagi, aku
buru-buru mengembalikan buku ku ketempat asalnya dan kembali kekelas. Untung
saja guru yang selalu tepat waktu –Mr. Ramos, belum datang. Jadi aku melangkah
dengan santainya menuju tempat duduk ku.
Tak
kusangka cowok yang kutemui di perpustakaan tadi masuk kedalam kelas membawa
buku-buku tebal yang entah apa isinya.
“
Jes kau kenal dia?”
“
Zi kita sudah hampir dua tahun sekelas dan sebentar lagi kelulusan kau masih
juga belum kenal dia?” Jes menggeleng-gelengkan kepalanya.
“
Belum, memang siapa dia?”
“
Dia juara kelas ini dan juara umum disekolah, kau masih tak tau?” Jes menatapku
heran.
Bagaimana
mungkin aku yang selalu juara 2 mulai dari kelas XI bisa tak kenal dengan dia.
“
Siapa dia?”
“
Marc Bartra.”
Ah,
Marc lagi, Marc lagi. Tapi secara penampilan cowok ini lebih dibandingkan Marc.
Rambutnya yang hitam pekat, kulit yang cukup putih, berkacamata, dengan warna
mata biru, serta postur tubuh yang lebih ideal. Sedangkan Marc, kelebihannya
adalah dia pintar balapan –terutama menggunakan jet darat; F1. Ia juga pernah
menjuarai race Sepang Malaysia dengan mutlak; selisih duapuluh lima detik
dengan posisi dua. Tapi secara pendidikan dia nol dibandingkan Bartra.
“
Beri salam.” Jes setengah berbisik saat Mr. Ramos yang sangat killer itu masuk
ke kelas kami.
Aku
berdiri dan memberi salam pada Mr. Ramos masuk ke kelas. Pelajaran kali ini
akan sangat membosankan, aku yakin akan hal ini.
Benar
apa kataku, belum apa-apa Mr. Ramos sudah memberi ulangan. Benar-benar stuck
aku dengan semua pelajaran-pelajaran nya.
Istirahat
makan siang aku manfaatkan sebalik mungkin. Setelah ini pelajaran nya tak kalah
menguras emosi, pelajaran fisika yang akan kami habiskan bersama Mrs. Sarah.
“
Kau mau pesan apa Zi?” Tello menanyaiku, aku tak melihat tanda-tanda adanya
Jessica.
“
Ice Cream.” Aku sedang ingin ice cream saat ini.
“
Hay Zi.” Marc langsung merangkulkan tangannya di pundakku, kutepis.
“
Marc.” Kupelototi dia sehingga sedikit menjauh dariku.
“
Hai.” Suara Jes yang anggun terdengar sangat ceria melihat aku, Tello, dan
Marc. Tapi dia jalan tak sendirian, dia bersama Bartra.
“
Jes aku duduk disebelahmu ya?” aku bergerak cepat sebelum tempat itu di dahului
Tello.
“
Kamu?” Bartra terheran denganku.
“
Iya kenapa denganku?” kutatap matanya lekat.
“
Siapa namamu? Kita belum berkenalan tadi. Aku Bartra, Marc Bartra.”
Tello
dan Jessica saling pandang, ternyata bukan hanya aku yang tak mengenal teman
sekelas. Bartra juga tak mengenalku.
“
Enzi Garcia, panggil saja Zi.”
Dia
menatapku terus-menerus selama makan siang. Aku jadi sedikit kikuk, ditambah
dengan tatapan Marc yang tak biasa.
Pulang
sekolah Marc sudah menungguku di depan kelas. Seperti hari-hari sebelumnya dia
selalu menawariku tumpangan, dan selalu kutolak. Karena aku sudah dijemput oleh
kakakku.
Kugandeng
tangan Jes menuju gerbang sekolah, sebenarnya Jes akan diantar Tello. Tapi
kubujuk untuk menunggu Tello di gerbang saja. Jes awalnya keberatan tapi
akhirnya luluh juga dengan tatapan melas ku.
“
Baiklah sampai kak Juan datang, atau sampai Tello datang okay?”
“
Baiklah, tak terlalu buruk.”
Tenyata
jemputan kakak ku lebih dahulu ketimbang usaha Tello untuk mengeluarkan Ferari
keluaran 2012 miliknya dari parkiran. Saat memasuki mobil kulihat Audi keluaran
terbaru yang dikendarai Marc; aku berpaling.
“
Harimu menyenangkan?” kakakku sudah mulai berbasa-basi, pasti ada hal penting
yang akan dia bicarakan padaku; secepatnya.
“
Seperti biasa –tak ada yang menarik.” Ku silangkan tangan ku didada sambil
merebahkan tubuhku di sandaran jok belakang.
“
Zi sebentar lagi ayah akan pulang.”
“
Pulang?” bukannya masa jabatan ayah di kedubes Spanyol untuk Kanada masih
setahun lagi?
“
Iya pulang, tapi Cuma sebentar hanya untuk mencari rumah.”
“
Untuk apa mencari rumah lagi? Memangnya rumah kita kurang besar untuk kita
berdua, mungkin juga berempat jika papa dan mama kembali ke Spanyol.” Aku
mendesah.
“
Bukan untuk kita tapi untukku.” Mata birunya berbinar.
“
Kau ingin menghindariku?” ketusku.
“
Bukan. Tapi untukku nanti setelah menikah.” Senyumnya semakin mengembang, aku
bahkan tak pernah melihat senyumnya semenawan ini.
“
Kau mau menikah?” aku tak bisa menutupi keherananku. Setahuku kakakku ini sama
judesnya dengan lawan jenis sepertiku; terhadap Marc.
“
Satu atau dua tahun kedepan memang tidak.”
Mobil
terus melaju di kecepatan 40 mil per jam, setelah sampai dirumah aku langsung
menuju kamar, menguncinya dan tidur. Rencanaku setelah ini adalah membaca
beberapa buku yang kemarin aku beli di toko buku bersama kakak.
Belum
sempat aku mengatupkan mataku seseorang mengetuk pintu kamarku pelan.
“
Siapa?” jawabku malas.
“
Zi ada Marc, dia bilang ada perlu.” Suara kalem kakakku menyahut dari luar.
Kutendang
guling yang tadi kupeluk, dengan muka kucel aku menuruni tangga sambil menggerutu.
Entah apa yang aku gumamkan mengganggu kakak, yang jelas dia menatapku dengan
sedikit marah. Mungkin karena aku tak menghargai tamu.
“
Zi.” Suara ceria Marc langsung membuatku mual.
“
Kau mau apa?” aku masih berada di tangga, tangga terakhir.
“
Malam ini ada acara?”
“
Tidak.”
“
Mau ikut denganku?”
“
Kemana?”
“
Menonton El-Clasico. Aku punya dua tiket, kalau kau mau.”
Mataku
langsung berbinar saat ia menawarkan tiket El-Clasico, pertandingan yang
terakhir ku tonton tahun lalu. Aku langsung saja mengiyakan tanpa memandang
siapa yang mengajakku. Yang terpenting aku menonton El-clasico.
>>>>
Setelah
acara ‘nonton’ itu aku jadi merasa salah menilai Marc, dia tak seburuk yang ku
kira. Dia memiliki beberapa kesamaan denganku. Mulai dari menyukai Barcelona;tentu
saja, menyukai warna silver, suka dengan Simple Plan, memiliki pemikiran yang
sama dalam hal belajar dan lain sebagainya. Aku semakin dekat dengan nya.
Tapi
aku juga terperangkap dengan Bartra, meski dia lebih sering membaca buku
pelajaran di perpustakaan dibandingkan bergaul dengan anak laki-laki yang lain,
tapi aku suka. Cara dia menyampaikan penjelasan sebuah materi yang tak
kupahami, terkadang juga mengajakku ke toko buku sebagai kencannya. Dia memang
tak paham masalah sepak bola, jadi aku bingung memulai pembicaraan. Apa harus
dengan hukum Newton? Apa tentang teori Dalton? Atau aku harus membahas
bagaimana sebuah galaksi bisa bertabrakan dan menciptakan supernova. Entahlah
susah untuk memulai pembicaraan jika topik nya adalah itu, walaupun aku sering
memulai mengajaknya berbicara menganai sel dan sebagainya.
Lain
halnya dengan Marc yang langsung nyambung pembicaraan dengan ku. Terkadang aku
sering membandingkan mereka berdua di hadapan Jessica. Ia mencibirku, mungkin
karena aku dulu mentah-mentah menolak Marc karena belum kenal betul. Tapi jika
aku disuruh memilih antara Marc dan Bartra. Aku akan memilih Bartra karena dia
begitu mempesona dengan kepintarannya yang diatas rata-rata, dan IQ nya yang
169 merupakan paket lengkap bagiku yang hanya memiliki IQ 130.
Ujian
sebentar lagi dan aku tak boleh pecah konsentrasi hanya karena mereka berdua.
From : Bartra
I Love You :*
Aku
terkejut dengan sms Bartra yang kuterima malam ini, apa maksudnya? Salah kirim
mungkin.
To : Bartra
Maksudmu? Tidak salah kirim?
Kubalas
cepat supaya tau apa maksudnya. Kalau saja yang mengirim sms ini adalah Marc
aku sudah sangat kebal, karena saking seringnya.
From : Bartra
Tidak, sama sekali tidak. Kau
tau kaulah satu-satunya dalam hidupku yang bisa membuatku terpana dalam ratusan
hari sepanjang tahun. Memandangmu itu sangatlah memabukkan.
To : Bartra
Kau anggap aku wine?
From : Bartra
Kau lebih dari sekedar wine,
kalau wine kurasakan dulu baru aku mabuk. Kalau kau tak perlu kurasakan aku
sudah ku buat mabuk.
To : Bartra
Lalu kau anggap aku apa?
From : Bartra
Enzi Garcia, will you marry
me?
Tenggorokan
ku seperti tercekat, dia begitu blak-blakan. Seharusnya aku sekarang sudah
sangat bahagia karena lelaki yang kucintai memintaku untuk menikah dengannya.
Aku malah memikirkan Marc, memikirkan pernyatan-pernyatan cintanya yang entah
sudah berapa ribu kali ia ucapkan. Aku menangis terisak-isak dikamarku, bahuku
tersengal akibat tangisanku.
“
Zi kau kenapa?”
Rupanya
kakakku mendengar suara tangisanku, aku langsung menghambur kepelukannya.
Mengeratkan pelukkanku seakan dia akan pergi begitu aku melepas genggaman itu.
Menjadi abu.
Tanganya
tak sengaja menyentuh hpku yang kembali berdering. Ternyata sms yang sama dari
Bartra. Kakakku memandang dengan perasaan sedikit heran.
“
Siapa Bartra?”
Aku
bingung, memangnya siapa Bartra dalam hidupku selain teman sekelas yang baru
kenal walaupun hampir dua tahun bersama.
“
Dia teman sekelasku, juara umum disekolah.” Ucapku lirih, teramat lirih.
“
Kau mencintainya?”
Aku
mengangguk dan kembali mengangis, kali ini lebih keras ketimbang yang tadi.
“
Lalu apa yang kau tangisi? Kau punya pacar?”
“
Tidak.”
Kakakku
menyerngitkan dahi nya semakin tak paham. Matanya menyapu isi kamarku, mencoba
mencari petunjuk.
“
Foto siapa ini?” ia menunjuk dua buah foto. Yang satu aku dan Marc setelah
menonton pertandingan derbi Catalan, foto itu diambil dengan latar Camp Nou
saat malam. Satunya lagi fotoku bersama Tello, Jess dan Bartra. Jes digendong
Tello dan aku menyandarkan kepalaku di bahu kiri Bartra. Kami berfoto didalam
lab dan masih menggunakan jas lab.
“
Itu fotoku dengan Marc,” tunjukku pada foto yang dibingkai figura warna silver;
hadiah dari Marc. “ Dan itu fotoku bersama Jess, Tello, dan Bartra.” Tunjukku
pada foto dengan figura berbentuk Doraemon.
“
Kau pacaran dengan nya?” ia menyelidik.
“ Mana
mungkin aku pacaran dengan adik kelas yang lebih tua dariku sekalipun ia pernah
mengajakku nonton El-Clasico.”
“
Kau mencintainya? Kalian punya hubungan khusus sepertinya. Buktinya foto ini
sampai kau pajang disamping tempat tidurmu. Yakin hanya teman?”
Sulit
mengatakan “Iya” apalagi “Tidak”. Tapi benar kata kakakku, ada hubungan apa
sebenarnya antara aku dan Marc? Pacaran? Tentu saja bukan. Teman dekat? Kami
sering berkelahi.
“
Tidak.” jawabku lemas.
Ia
pergi meninggalkan ku tanpa berkata-kata lagi. Wajahnya masih menunjukan kalau
dia menyimpan seribu pertanyaan kepadaku. Kurebahkan tubuhku dan terlelap tanpa
aku sadari setelah kelelahan menangis.
Ketika
sampai disekolah aku selalu menunduk seperti tak ingin menghiraukan orang-orang
yang berjalan disebelahku.
“
Zi.”
Suara
ceria Jess tak akan mengubah tampilan murungku. Aku hanya tersenyum kepadanya,
masuk ke kelas dan menunduk.
“
Kau kenapa Zi?”
Mana
mungkin aku berbohong dengan mengatakan “ Aku tidak apa-apa” saat mataku
bengkak setelah menangis. Alasan klise.
“
Aku hanya menyakiti diriku sendiri.”
Seseorang
memasuki kelas, ternyata Bartra. Mukanya datar seperti tak ada hal penting
semalam. Mungkin hanya penting bagiku, bukan baginya.
“
Ada hubungannya dengan Bartra?”
“ Tidak.”
Jawabku singkat.
>>>>
Sebulan
sudah aku mengabaikan Bartra, termasuk permintaannya untuk menjadi rekan lab
ku, dan malah memilih Luther. Aku semakin dekat dengan Marc, meskipun tak ada
desiran yang berbeda saat disebelahnya tapi aku merasa nyaman. Beda dengan
Bartra, aku selalu kacau disebelahnya tapi terkadang merasa begitu nyaman
dengan kacaunya aku. Terutama saat aku dan Tello membahas berita ter update
tentang sepakbola yang sama sekali tak ia pahami.
Tapi
aku bersyukur saat ulang tahunku yang ke enambelas tepat tanggal sembilan April
lalu dia memberiku hadiah sebuah boneka kelinci putih yang mengenakan jersey
Barcelona dan sebuah jaket yang tentunya jaket Barcelona. Jess juga bercerita
kalau dia rela antre dan berdesak-desakan di Botiga –megastore official
Barcelona yang terletak di salah satu sudut di Camp Nou.
Namun
itu tak cukup membuatku bahagia karena yang memberikan hadian bukan dia tapi
Tello. Lebih dari itu ia juga akan berpisah denganku, mungkin kah ini menjadi
kado perpisahan?
Siang
ini saat istirahat makan siang aku lebih memilih mengasingkan diriku di taman
belakang sekolah. Duduk di tepi danau buatan yang cukup luas. Membaca sebuah
buku milik kakak ku yang sebenarnya adalah diktat untuk mahasiswa kedokteran, spesialisasi syaraf. Dari sekian banyak buku milik kakak di rumah aku paling suka yang
ini, jadi beberapa kali kubawa kesekolah tanpa sepengetahuan nya.
Suasana
sangat tenang disini, jarang sekali memang ada murid yang kesini kecuali ingin
berduaan dengan pacarnya. Semilir angin yang sejuk ditambah dengan pemandangan
danau dan beberapa pohon besar yang mengelilingnya membuatku ingin berlama-lama
ditempat ini. Sungguh indah.
“
Zi.” Samar-samar seseorang memanggilku.
“
Kau?” mataku langsung terbelalak.
“
Indah ya Zi disini?” tangannya ia masukan di kantung celana miliknya.
Aku
hanya diam. Tiba-tiba tangan nya meraih daguku dan mendekatkan wajahnya dengan
wajahku. Mata kami saling bertemu, aku yakin sekali diriku saat ini kacau
sekali.
“
Kau mencintaiku Zi?”
Aku
masih bergeming dan tak menjawab, sebenarnya tubuh ini sudah sangat ingin
berpaling dan lari daripadanya. Tapi semua itu akan sangat sia-sia jika tubuh
ini tak pernah bisa lunak saat dihadapan nya. Tegang.
“
Mau kah kamu Enzi Garcia ikut dengan ku. Kita akan sama-sama menjadi mahasiswa
Oxford?”
“
Emmm....” dari sekian ribu kata yang telah kupikirkan hanya itu yang keluar
melalui mulutku.
“
Akan ku berikan kau waktu untuk berfikir.” Ia melepaskan cengkraman tangannya
di daguku lalu duduk dengan santainya disebelahku.
“
Aku tak tau harus bebicara apa saat kau ada disisiku.” Kata-kata itu meluncur
begitu saja.
“
Terkadang aku merasa sangat bodoh dan kikuk disebelahmu.” Ia meliriku. “ Wajar
karena kita sedang jatuh cinta.” Lanjutnya.
Aku
langsung menoleh saat ia mengatakan kata jatuh cinta, ia juga menoleh kearahku.
Alhasil mata kami kembali bertemu, kali ini mata biru nya terlihat kikuk saat
menatapku. Baru kali ini aku melihatnya dengan keadaan yang seperti itu.
Kurasakan
wajahnya yang semakin mendekat, hebusan nafasnya seakan telah menyatu dengan
hebusan nafasku. Ia mengatupkan mata, dan aku ikuti. Dia menciumku, iya
menciumku, ciuman pertama bagiku.
“
Kau sudah pernah ciuman Zi?”
“
Belum.” Jawabku malu-malu.
“
Sama, aku juga.” Lalu kami tertawa bersama-sama.
“
First Kiss.”
“
Ternyata membuat wanita terkesan itu gampang, cium saja dia.” Ia tertawa
terbahak-bahak. Aku mempelototinya dan ia mengakhiri tawanya. Ekspresinya
menunjukan dia ingin tertawa tapi takut menyakiti perasaanku.
“
Bukan berarti aku terkesan padamu setelah kau cium.” Ku kerucutkan bibirku.
“
Lalu setelah apa?”
“
Karena kau pintar.”
“
Hanya itu saja?” ia kecewa.
“
Kau mempesona.” Ucapku lirih.
“
Kau juga.” Jawabnya lalu merengkuh diriku dalam dekapannya.
>>>>
Hari-hari
berjalan lebih indah setelah aku dan Bartra telah “resmi”, lebih indah lagi
karena aku juga diterima di Oxford University untuk jurusan Teknik mesin. Suatu
saat nanti aku ingin membuat pesawat untuk diriku sendiri. Sedang Bartra
mengambil jurusan seperti kakakku, pendidikan dokter. Ia juga berencana untuk mengambil spesialisasi syaraf nantinya.
Entah
karena semakin dekatnya aku dengan Bartra atau terlalu sibuknya aku dengan
Ujian aku jadi hilang kontak dengan Marc. Ada yang bilang di ke Italy untuk
mendapatkan sponsor yang akan menunjang karirnya di dunia balap, ada juga yang
bilang dia sudah terlalu sibuk untuk balapan ketimbang sekolah. Mana yang betul
aku pun tak tau, dua-dua nya sama-sama meyakinkan.
Tapi
dengan begini aku akan dengan mudahnya melupakan Marc dan konsentrasi dengan
rencana-rencana ku untuk masa depan.
“
Selamat ya Zi kau lulus dengan nilai terbaik, kedua.” Jess memelukku dan
diikuti Tello.
“
Selamat juga ya udah diterima di Oxford.” Tello menimpali.
Sulit
sekali bagiku untuk berpisah dengan mereka, aku tau mereka juga akan sama
sulitnya dengan ku. Terutama Tello, dia selalu sekelas denganku mulai dari SMP.
Tak ayal dia ikut menangis saat aku menangis; ketika memeluknya.
“
Janji padaku kalau kalian akan tetap saling mencintai walaupun jauh.”
Tello
akan kuliah di Cordoba dan Jess akan kuliah di Sevilla. Mereka mengangguk
bersamaan dan memelukku lagi. Tello memelukku dengan keras, aku bahkan berfikir
kalau tulang igaku sudah remuk akibat pelukan nya.
Kini
giliran Bartra yang menatapku dalam.
“
Apa?” tanyaku.
“
Kau tidak mengucapkan selamat padaku seperti yang lain?”
“
Kau juga tak mengucapkan nya. Satu sama.” Kami saling pandang beberapa lama,
lalu tertawa bersamaan. Berpelukan.
“
Zi semua ini untukmu.” Tiba-tiba aku merasa kalau ada air yang mengalir di
bahuku. Dia menangis?
“
Hey kenapa kau menangis?”
“
Aku menangis bahagia.” Bibirnya yang hangat menyapu bibirku, mata kami saling
mengatup. Tak peduli dengan dimana kami sekarang.
>>>>
Kuhempaskan
tubuhku di tempat tidur setelah aku mencapai kamar apartemen yang akan
kutinggali bersama Bartra. Kami belum menikah tapi orang tua kami setuju-setuju
saja kalau kami tinggal bersama. Ia juga ikut-ikutan menghempaskan tubuhnya
disebelahku.
Kami
saling pandang lalu tertawa disaat yang hampir bersamaan. Matanya seolah hilang
saat ia tertawa. Begitu sipit.
“
Zi kau taruh mana peralatan mandi ku?”
“
Di ransel bersama dengan handuk-handuknya.”
Ia
berdiri, menggeledah ransel. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia langsung
keluar kamar. Aku duduk ditepian ranjang, memijit-mijit pelan kepalaku yang
sedikit pening akibat jet lag. Melepaskan kuciran rambutku lalu mengambil
perlengkapan mandiku dan pakaian yang akan kukenakan nanti setelah mandi.
Sembari
menunggunya selesai mandi, aku pilih untuk menonton tv. Ternyata sedang
menanyangkan salah satu ajang pencarian bakat dibidang tari. Aku sedikit
tertarik dengan salah satu kontestannya yang baru berumur sebelas tapi sudah
sangat luwes menarikan beberapa tarian yang menurutku cukup rumit, apalagi
untuk anak seusianya. Kuyakin kalau aku yang mencoba menarikannya pasti besok
aku akan berjalan terpincang.
Suara
pintu kamar mandi terbuka, aku menoleh. Astaga! Ternyata ia hanya mengekanan
handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Dada bidang dan perut yang sixpack
terpampang jelas dihadapanku. Butuh empatpuluh detik untuk membuatku sadar
kembali. Saat kusadar ternyata ia sudah masuk kedalam kamar tanpa menghiraukan
ku. Mungkin ia sekarang sudah mengikik senang melihat ekspresiku.
Malamnya
kami makan malam dalam suasana yang cukup hening, hanya bunyi piring dan sendok
yang terdengar. Sesekali kami saling pandang, tapi itu tak lebih dari lima
detik. Usai makan malam aku langsung tidur, dia masih menonton pertandingan
antara Arsenal dan MU yang tersisa limabelas menit lagi. Mungkin kalau itu yang
sedang berlaga Oscar dan kawan-kawan maka aku akan ikut menonton dengan
seksama.
Entah
mulai kapan ia jadi sering memperhatikan dunia persepakbolaan, terbawa arus ku
dan Tello mungkin. Karena tiap hari kami selalu membicaraka nya, di negara
sepakbola seperti Spanyol dan Inggris tak susah menjumpai media masa yang
menjadikan sepakbola sebagai topik utama setiap hari.
Kudengar
pintu kamar dibuka lalu ditutup kembali, dia berbaring disebelahku. Mengecup
keningku lalu jari telunjuknya menelusuri bibirku, mengecupnya sekilas dan ikut
terlelap hingga esok paginya.
>>>>
Setengah
tahun sudah aku dan Bartra tinggal serumah, seranjang. Tapi tak ada hal yang
tidak-tidak yang kami lakukan, hanya Frech kiss sesekali. Itu saja, hanya itu.
Setengah tahun yang sama sekali tidak membosankan. Hingga suatu ketika Marc
kembali datang dalam kehidupanku dan menyembulkan kembali luka yang sudah bisa
kusingkirkan.
Ternyata
selama ini dia tinggal tak jauh dariku. Dia memintaku kembali, aku tak bisa. Dia memaksaku, tetap saja aku tak mau. Hingga
ia hampir saja melakukan hal yang sangat menjijikkan dalam kamus hidupku, dia
hampir merenggut mahkota yang sangat aku jaga selama ini. Kesucianku;
keperawananku.
Untung
saja sebelum ia sempat melakukan nya, ia mengerang dan menjotoskan tanganya
ketembok lalu mengatupkan kedua tanganya kewajah, mengatakan kata-kata yang
akan selalu kuingat selamanya.
“
Zi ada satu hal yang aku ketahui aku mencintaimu karena nafsu bukan karena
cinta yang sesungguhnya. Lust without love.”
“
Aku sebenarnya tak tau apa itu cinta Marc, seingatku mereka sangat memabukkan
siapapun yang sedang mengalaminya. Rasanya lebih dari sebotol tequilla atau
vodka bahkan mungkin lebih memabukkan ketimbang segenggam kokain. Mereka
memabukkan juga meracuni jutaan syarafmu. Dia tak memiliki obat untuk kau bisa mencegahnya.”
“
Bahagiakan Bartra, dia mencintaimu –aku yakin akan hal itu.” Itulah kata-kata
terakhirnya.
Lalu
dia menatapku dalam-dalam seperti inilah wajahku untuk terakhir kalinya ia
lihat dan pergi dari dalam hidupku untuk selamanya tanpa bisa aku telusuri
lagi. Aku juga tak mendengar karir balapnya lagi, entah kemana dia aku juga
tidak tau. Ada yang bilang hidupnya hancur setelah ada masalah antara ayah dan
ibunya? IDK.
>>>>
“
Zi dimana kau?”
“
Didapur.”
“
Kau memasak?”
“
Tidak aku sedang memberi makan kucing, cepat kesini.” Perintahku.
“
Kucing? Kucing siapa?” sebelum ia pulang kuliah kami memang tak punya kucing.
“
Tadi aku beli, lucu tidak?” tanyaku lagi saat ia sudah berjongkok disebelahku.
“
Warnanya lucu; kuning dan putih. Kau beri nama siapa dia?” dia ikut-ikutan
mengelus bulu kucing yang sedang makan itu.
“
Ceming.” Mataku berbinar, “ Bagaimana? Lucu tidak namanya?”
“
Ceming?”
“
Iya, aku dapat nama itu dari temanku yang dari Indonesia, kau ingat tidak
sayang dengan Winda? Dia sering menceritakan kucingnya yang bernama ceming,
jadinya ku namakan kucing ini dengan nama ceming juga.” Aku malah berceloteh
kesana-kemari, semenjak hamil hormonku jadi tak beraturan.
Dia
mengacak-acak rambutku dengan gemas lalu berdiri. Sebelum langkahnya semakin
menjauh, kupanggil ia dengan nada manja.
“
Sayang.”
“
Iya?” ia berbalik untuk memandangku. Wajahnya yang rupawan ditambah dengan
kacamata yang terpasang indah semakin membuat matanya menarik. Tubuh
proposionalnya dibalut dengan kemeja warna biru muda, celana jeans berwana biru
malam serta jas yang kancingnya tak dikaitkan satu sama lain, membuat ia
menjadi mahasiswa Oxford yang paling mempesona.
“
Gendong.” Kulurkan kedua tanganku, ia meraihnya lalu mengangkat tubuhku.
Digendongnya aku ala bridal style.
“
Setelah acara gendong-gendongan ini aku akan mendapat imbalan kan?” senyuman
nakalnya membuatku gemas hingga ku tarik hidungnya yang telah mancung.
“
Nakal.” Sungutku.
“
Kalau aku nggak nakal kita nggak bakalan bisa punya anak.”
“
Ngaco.”
“
Sayang” Panggilnya pelan saat ia sudah merebahkanku di ranjang.
“
Emm.”
“
Kapan kau mau menikah denganku?”
“
Setelah kakakku menikah.”
“
Tapi aku tak bisa seperti ini terus.”
“
Jangan desak aku, desak kakakku.”
Ia
terdiam, melepaskan kacamatanya lalu duduk ditepi lainnya dari ranjang.
Kudekati dia, memeluknya dari belakang, menikmati aroma maskulin yang ia
ciptakan. Ia balas membelai lembut rambutku.
“
Tunggu sampai anak ini lahir, kalau kak Juan tak kunjung menikah kita akan
melewatinya.”
Matanya
terbelalak lalu berbalik, “ Kau serius?”
“
Kau pikir aku berbohong.” Hormonku kembali naik turun, “ Sayang ayo kita nonton
TV, aku baru ingat kalau hari ini ada pertandingan Chelsea melawan Swansea.”
Tanpa
berkata-kata lagi ia langsung menggendongku menuju ruang TV.
“
Kau tak perlu menggendongku, kaki ku masih berfungsi.” Bibirku cembetut dan itu
semakin membuatnya gemas.
“
Kau hamil muda nggak boleh beraktivitas berat.”
“
Jalan dari kamar ke ruang TV nggak sejauh kalau aku jalan kaki kembali ke
Barcelona, sayang.”
“
Ya kalau kau mau jalan kaki dari sini ke Barcelona.” Dia mengikik. Bukannya
sebal aku malah senang dengan ekspresinya.
“
Cepat nyalakan tv nya.” Pintaku.
>>>>
“
Mama.” Laura menangis sekencang-kencangnya saat ia jatuh tersandung batu.
“
Sayang mana yang luka? Mana sini ayah lihat.”
Laura
menunjuk lututnya yang sedikit merah, meskipun ia terjatuh dipasir tapi ku rasa
ia jatuh cukup keras.
Kali
ini aku bersama Bartra dan Laura serta kak Juan dan istrinya, Steffany memilih
untuk berlibur di Pattaya, Thailand. Aku kini sedang mengandung
anak kedua ku bersama Bartra, tentulah dengan siapa lagi? Sedangkan Steffany
baru mengandung anak pertamanya setelah lima tahun menikah. Itupun juga dengan
sedikit bantuan Laura, dengan cara Laura dititipkan dirumah mereka agar
Steffany terangsang untuk memiliki jiwa keibuan.
“
Sudahlah Laura jangan cengeng, Laura sudah tujuh tahun masa masih cengeng sih.
Mau punya adek juga.” Kak Juan menghibur Laura dengan caranya sendiri. Setelah
itu Laura langsung diam.
“
Papa Laura minta gendong.” Laura memang terbiasa untuk memanggil kak Juan
dengan sebutan papa, Steffany dengan sebutan mama. Sedangkan untuk memanggilku
dan Bartra dia terbiasa memanggil Ayah-Bunda.
“
Jangan itu merepotkan.”
“
Tidak masalah.” Kak Juan menggendong Laura seperti Laura adalah anaknya
sendiri.
“
Kita cari kedai makanan Spanyol yuk. Aku lapar.” Rasanya perutku sudah melilit
minta diisi.
“
Aku juga lapar.” Steffany langsung menimpali.
Tibalah
kami disebuah kedai yang menyediakan khas Spanyol; mayoritas makanan yang
disediakan adalah makanan yang lazim dijumpai di Barcelona. Kedai itu cukup
besar, malah lebih mirip kafe yang ada didalam pusat perbelanjaan mewah.
Suasana dibuat se-Catalan mungkin, dugaanku yang memiliki kedai ini adalah
orang Catalan. Beberapa pernak-pernik Barcelona juga dipajang, mataku tertuju
pada sebuah couple cup.
“
Kak, couple cupnya Cuma satu.” Aku menarik lengan baju kak Juan.
“
Mungkin yang satunya lagi sedang di Catalan, bisa saja yang punya kedai ini
juga punya kedai yang seperti ini di Catalan.”
Anehnya
semakin melihat cangkir itu aku semakin ingat Marc. Dulu saat kami jalan-jalan
di Botiga aku ingin sekali membeli couple cup yang persis dengan yang dipajang
ini. Karena aku yang sudah terlalu banyak membeli barang hingga menghabiskan
uangku, akhirnya ku urungkan niatanku itu.
“
Zi kau mau pesan apa?” pertanyaan kak Juan membuatku berpaling dari cangkir
tadi.
“
Apa yang dipesan Bartra.”
Aku
berjalan menunduk menuju meja, menghindari mataku yang mengeluarkan airmata
terlihat orang lain.
“Bruk”
aku menabrak sesuatu, bukan seseorang.
“
Maaf.” Ucapnya.
Suara
itu, suara yang sangat aku kenal dimanapun berada. Suara yang akan susah sekali
untuk dilupakan
“
Marc.” Bibirku bergetar, merasa namanya disebutkan ia memandangku lekat.
“
Zi.” Ia terbelalak.
Tanpa
sepatah kata pun ia langsung berlari meninggalkan ku, ku kejar dia semampuku.
Kulihat melalu salah satu sudut mataku Bartra dan kak Juan mengejarku. Entah
dapat kekuatan dari mana aku bisa berlari sekencang ini dalam keadaan hamil
sekalipun. Kuraih pundak Marc, ia berhenti. Bartra dan kak Juan berhenti.
“
Kenapa kau menghindariku?” ia masih memunggungiku.
Ia
berbalik, matanya sembab. “ Karena aku sadar siapa aku, aku sadar wajahmu tak
selayaknya aku lihat, aku tak pantas melihatnya.”
“
Kenapa kau bicara seperti itu dengan teman lamamu?” suaraku meninggi.
“
Aku hina Zi. Sedang kau sempurna, tak selayaknya aku memandangmu dan
menyentuhmu. Jalan terbaik aku menjauhimu.”
“
Kau jahat, kejam. Kau tega melakukan itu padaku?”
“
Demi kebaikanmu.” Kini ia kembali memunggungiku, berjalan perlahan meninggalkan
ku.
“
Mau kemana lagi kamu?”
“
Ketempat yang tidak kamu ketahui keberadaannya.”
“
Bagaimana dengan kedaimu ini, aku ingin mengunjunginya lagi.” Tentunya sambil
berharap aku bertemu dengannya.
“
Aku akan mengurusnya dari sana, kunjungilah jika ingin berkunjung. Tapi jangan
kunjungi aku.” Ia seolah tau apa yang sedang aku pikirkan.
Bartra
berjalan mendekatiku setelah Marc berjalan semakin jauh, bahkan punggungnya
saja sudah tak sudi lagi menatapku. Bartra langsung menggenggam jemariku dan
memegang cincin pernikahan kami.
“
Kau tau Zi dari siapa cincin ini?” matanya basah.
“
Dari mu, semua orang tau itu.”
“
Aku hanyalah perantara datangnya cincin ini, tapi tak ada satu bagian tubuhku
yang berhak mengakui nya.”
Aku
memandangnya curiga, jangan-jangan...
“
Marc lah yang berhak mengakui cincin ini, tapi ia tak berhak atas pemiliknya.”
Ia memelukku sembari menangis, aku juga ikut menangis.
“
Kenapa kau menerimanya?”
“
Dia bilang dia mencintaimu, dia ingin mempersuntingmu tapi tak bisa. Lalu ia
memberiku cincin ini. Berkat cincin aku bisa memiliki mu dan memberanikan diri
untuk memintamu melakukan hal yang membuahkan Laura sebelum kita terikat.”
“
Kenapa dia tak bisa?” kudongakkan kepalaku, mata kami bertemu.
“
Dia pasti punya alasan khusus yang tak bisa dia katakan.”
“
Kapan dia memberimu cincin itu?”
“
Tanggal limabelas Desember.”
“
Tepatnya?”
“
Limabelas Desember 2013.”
Berarti
itu lima hari setelah ia mengunjungiku di apartemen. Peristiwa tujuhtahun yang
lalu
>>>>
Setelah
kembali ke Barcelona aku langsung mengunjungi rumah ayah dan ibu Marc. Mereka
langsung menangis saat aku bertanya bagaimana keadaan Marc.
“ Kau
tidak tau kalau Marc sudah meninggal tujuh tahun yang lalu?” mata ayah Marc
berkaca-kaca.
“
Meninggal?” wajahku langsung pucat pasi.
“
Iya, dia meninggal akibat kanker hati yang dideritanya bertahun-tahun.”
“
Kapan tepatnya?”
“
Tigabelas Desember 2013.”
Kakiku
langsung terkulai lemas, bagaimana aku bisa menjelaskan kejadian di Pattaya dan
cincin ini. Semuanya bukan khayalan, Bartra dan kak Juan juga melihat Marc yang
berlari setelah melihatku. Bartra juga orang yang menerima cincin ini
“
Apa dia punya kedai di Pattaya?”
“
Ya dia punya.”
“
Masih beroprasi?”
“
Masih, kami yang memantaunya dari sini.”
Syukurlah
kedai itu bukan imajiasiku.
“
Dimana ia meninggal?”
“
Di London Inggris. Tiga hari sebelumnya ia melarikan diri dari rumah sakit.”
Aku
kembali bernafas lega, Marc yang mengunjungiku bukanlah khayalan. Tapi saat itu
dia tak nampak pucat.
“
Baiklah saya permisi dulu.”
Kakiku
perlahan meninggalkan pekarangan menuju mobil. Kukendarai dengan kecepatan
limapuluh kilometer per jam. Sesampainya dirumah aku langsung menceritakan apa
yang terjadi pada Bartra. Wajahnya tak kalah pucat pasi, namun aku tetap tak
menceritakan kejadian di apartemen.
“
Lalu siapa yang memberiku cincin ini? Siapa juga yang ada di Pattaya itu?”
“
Aku tak tau.”
