SpongeBob SquarePants

Sabtu, 07 September 2013

Between

Tittle : Between
Rating : T
Genre : Romance sedikit mistery di akhir
Cast:
Enzi Garcia
Marc Marquez
Marc Bartra
Cristian Tello
Jessica
And other....

Summary : “ Aku tak tau apa itu cinta, seingatku mereka memabukkan.”
>>>> 
Kupercepat langkah kaki ku menuju kelas, aku takut kalau-kalau sudah ada guru yang masuk ke kelasku. Syukurlah! Didalam kelas ternyata belum ada guru yang mengajar. Aku langsung duduk di sebelah Jessica –karena itu satu-satunya kursi kosong yang tersedia untukku. Jessica tersenyum padaku, kubalas senyum.
“ Zi kau tau tidak?” matanya yang sipit berbinar.
“ Apa?” mencoba tampak ceria.
“ Tello mengajakku kencan.” Well, harusnya aku sudah tau kemana arah pembicaraan nya.
“ Lalu kau mau?”
Dia mengangguk dengan senyum yang merekah, Jes memang sudah lama naksir sama Tello. Setauku Tello juga sama naksir nya dengan Jes, tapi mereka begitu pandai menutupi hubungan mereka.
“ Hai magnae.” Tello menyapaku. Usiaku dan Tello serta mayoritas anak dikelas ini terpaut 2tahun serta hobbyku mengoleksi lagu-lagu Korea pantaslah aku selalu dipanggil  magnae[i]. Termuda dikelas mungkin saja.
“ Emmm.” Aku jadi merasa sangat canggung didekat pasangan yang dimabuk cinta. Mereka seolah memiliki bahasa yang tak aku mengerti; hanya mereka yang tau.
“ Aku tak mengganggu kan?”
“ Sama sekali tidak. Bagaimana hubunganmu dengan Marc?” Tello sedikit memainkan alisnya.
“ Yah begitulah, tak terlalu baik. Terkadang.” Aku sangat tidak mood membahas adik kelas yang setahun lebih tua dariku itu.
“ Kau pacaran dengan nya Zi?” Jessica bertanya dengan mata yang berbinar.
“ Tidak.” Jawabku –singkat.
“ Bukannya dia pernah menembakmu?”
“ Memang.”
“ Kenapa nggak diterima aja Zi?”
“ Jes dia itu adik kelasku.”
“ Tapi dia lebih tua darimu.”
“ Nggak ah, tetep dia adik kelasku.”
Kedatangan Mr. Hayden membuyarkan percakapan kami, Tello kembali ke tempat duduknya; aku dan Jess mencoba memperhatikan materi tentang sel yang disampaikan Mr. Hayden.
Ketika istirahat pertama —sebelum istirahat makan siang— Tello dan Jes mengajakku duduk di taman belakang sekolah. Aku menolak, memilih pergi ke perpustakaan dan menenggelamkan diriku sebentar dengan ribuan buku didalam nya. Toh seandanya aku ikut dengan Tello dan Jes aku tak ingin bersua dengan Marc yang bakalan mencegatku saat melewati kelasnya.
Saat memasuki perpustakaan suasana sunyi yang ku sukai langsung berbaur dengan diriku. Kuambil sebuah buku tanpa melihat judulnya dan langsung membawanya ke sudut perpustakaan yang masih menyisakan bangku kosong. Aku menunduk dan langsung asyik dengan buku tadi. Ternyata itu adalah novel yang mengisahkan ratu Cleopatra dan Julio Cesar.
“ Hai boleh aku duduk disini?” seorang cowok kebingungan mencari tempat duduk, entah kenapa perpustakaan hari ini lebih ramai dari biasanya.
Aku mendongak dan ternyata orang itu berbicara kepadaku, karena hanya disebelahku lah tersisa bangku kosong. “ Tentu.” Jawabku singkat.
Kuteruskan kembali bacaanku tanpa memperhatikan dia sedikitpun, sekilas tadi dia berkaca mata. Dia yang duduk disebelahku juga asyik dengan buku bacaannya.
Kulirik jam tanganku sekilas ternyata istirahat akan berakhir 3 menit lagi, aku buru-buru mengembalikan buku ku ketempat asalnya dan kembali kekelas. Untung saja guru yang selalu tepat waktu –Mr. Ramos, belum datang. Jadi aku melangkah dengan santainya menuju tempat duduk ku.
Tak kusangka cowok yang kutemui di perpustakaan tadi masuk kedalam kelas membawa buku-buku tebal yang entah apa isinya.
“ Jes kau kenal dia?”
“ Zi kita sudah hampir dua tahun sekelas dan sebentar lagi kelulusan kau masih juga belum kenal dia?” Jes menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Belum, memang siapa dia?”
“ Dia juara kelas ini dan juara umum disekolah, kau masih tak tau?” Jes menatapku heran.
Bagaimana mungkin aku yang selalu juara 2 mulai dari kelas XI bisa tak kenal dengan dia.
“ Siapa dia?”
“ Marc Bartra.”
Ah, Marc lagi, Marc lagi. Tapi secara penampilan cowok ini lebih dibandingkan Marc. Rambutnya yang hitam pekat, kulit yang cukup putih, berkacamata, dengan warna mata biru, serta postur tubuh yang lebih ideal. Sedangkan Marc, kelebihannya adalah dia pintar balapan –terutama menggunakan jet darat; F1. Ia juga pernah menjuarai race Sepang Malaysia dengan mutlak; selisih duapuluh lima detik dengan posisi dua. Tapi secara pendidikan dia nol dibandingkan Bartra.
“ Beri salam.” Jes setengah berbisik saat Mr. Ramos yang sangat killer itu masuk ke kelas kami.
Aku berdiri dan memberi salam pada Mr. Ramos masuk ke kelas. Pelajaran kali ini akan sangat membosankan, aku yakin akan hal ini.
Benar apa kataku, belum apa-apa Mr. Ramos sudah memberi ulangan. Benar-benar stuck aku dengan semua pelajaran-pelajaran nya.
Istirahat makan siang aku manfaatkan sebalik mungkin. Setelah ini pelajaran nya tak kalah menguras emosi, pelajaran fisika yang akan kami habiskan bersama Mrs. Sarah.
“ Kau mau pesan apa Zi?” Tello menanyaiku, aku tak melihat tanda-tanda adanya Jessica.
“ Ice Cream.” Aku sedang ingin ice cream saat ini.
“ Hay Zi.” Marc langsung merangkulkan tangannya di pundakku, kutepis.
“ Marc.” Kupelototi dia sehingga sedikit menjauh dariku.
“ Hai.” Suara Jes yang anggun terdengar sangat ceria melihat aku, Tello, dan Marc. Tapi dia jalan tak sendirian, dia bersama Bartra.
“ Jes aku duduk disebelahmu ya?” aku bergerak cepat sebelum tempat itu di dahului Tello.
“ Kamu?” Bartra terheran denganku.
“ Iya kenapa denganku?” kutatap matanya lekat.
“ Siapa namamu? Kita belum berkenalan tadi. Aku Bartra, Marc Bartra.”
Tello dan Jessica saling pandang, ternyata bukan hanya aku yang tak mengenal teman sekelas. Bartra juga tak mengenalku.
“ Enzi Garcia, panggil saja Zi.”
Dia menatapku terus-menerus selama makan siang. Aku jadi sedikit kikuk, ditambah dengan tatapan Marc yang tak biasa.
Pulang sekolah Marc sudah menungguku di depan kelas. Seperti hari-hari sebelumnya dia selalu menawariku tumpangan, dan selalu kutolak. Karena aku sudah dijemput oleh kakakku.
Kugandeng tangan Jes menuju gerbang sekolah, sebenarnya Jes akan diantar Tello. Tapi kubujuk untuk menunggu Tello di gerbang saja. Jes awalnya keberatan tapi akhirnya luluh juga dengan tatapan melas ku.
“ Baiklah sampai kak Juan datang, atau sampai Tello datang okay?”
“ Baiklah, tak terlalu buruk.”
Tenyata jemputan kakak ku lebih dahulu ketimbang usaha Tello untuk mengeluarkan Ferari keluaran 2012 miliknya dari parkiran. Saat memasuki mobil kulihat Audi keluaran terbaru yang dikendarai Marc; aku berpaling.
“ Harimu menyenangkan?” kakakku sudah mulai berbasa-basi, pasti ada hal penting yang akan dia bicarakan padaku; secepatnya.
“ Seperti biasa –tak ada yang menarik.” Ku silangkan tangan ku didada sambil merebahkan tubuhku di sandaran jok belakang.
“ Zi sebentar lagi ayah akan pulang.”
“ Pulang?” bukannya masa jabatan ayah di kedubes Spanyol untuk Kanada masih setahun lagi?
“ Iya pulang, tapi Cuma sebentar hanya untuk mencari rumah.”
“ Untuk apa mencari rumah lagi? Memangnya rumah kita kurang besar untuk kita berdua, mungkin juga berempat jika papa dan mama kembali ke Spanyol.” Aku mendesah.
“ Bukan untuk kita tapi untukku.” Mata birunya berbinar.
“ Kau ingin menghindariku?” ketusku.
“ Bukan. Tapi untukku nanti setelah menikah.” Senyumnya semakin mengembang, aku bahkan tak pernah melihat senyumnya semenawan ini.
“ Kau mau menikah?” aku tak bisa menutupi keherananku. Setahuku kakakku ini sama judesnya dengan lawan jenis sepertiku; terhadap Marc.
“ Satu atau dua tahun kedepan memang tidak.”
Mobil terus melaju di kecepatan 40 mil per jam, setelah sampai dirumah aku langsung menuju kamar, menguncinya dan tidur. Rencanaku setelah ini adalah membaca beberapa buku yang kemarin aku beli di toko buku bersama kakak.
Belum sempat aku mengatupkan mataku seseorang mengetuk pintu kamarku pelan.
“ Siapa?” jawabku malas.
“ Zi ada Marc, dia bilang ada perlu.” Suara kalem kakakku menyahut dari luar.
Kutendang guling yang tadi kupeluk, dengan muka kucel aku menuruni tangga sambil menggerutu. Entah apa yang aku gumamkan mengganggu kakak, yang jelas dia menatapku dengan sedikit marah. Mungkin karena aku tak menghargai tamu.
“ Zi.” Suara ceria Marc langsung membuatku mual.
“ Kau mau apa?” aku masih berada di tangga, tangga terakhir.
“ Malam ini ada acara?”
“ Tidak.”
“ Mau ikut denganku?”
“ Kemana?”
“ Menonton El-Clasico. Aku punya dua tiket, kalau kau mau.”
Mataku langsung berbinar saat ia menawarkan tiket El-Clasico, pertandingan yang terakhir ku tonton tahun lalu. Aku langsung saja mengiyakan tanpa memandang siapa yang mengajakku. Yang terpenting aku menonton El-clasico.
>>>> 
Setelah acara ‘nonton’ itu aku jadi merasa salah menilai Marc, dia tak seburuk yang ku kira. Dia memiliki beberapa kesamaan denganku. Mulai dari menyukai Barcelona;tentu saja, menyukai warna silver, suka dengan Simple Plan, memiliki pemikiran yang sama dalam hal belajar dan lain sebagainya. Aku semakin dekat dengan nya.
Tapi aku juga terperangkap dengan Bartra, meski dia lebih sering membaca buku pelajaran di perpustakaan dibandingkan bergaul dengan anak laki-laki yang lain, tapi aku suka. Cara dia menyampaikan penjelasan sebuah materi yang tak kupahami, terkadang juga mengajakku ke toko buku sebagai kencannya. Dia memang tak paham masalah sepak bola, jadi aku bingung memulai pembicaraan. Apa harus dengan hukum Newton? Apa tentang teori Dalton? Atau aku harus membahas bagaimana sebuah galaksi bisa bertabrakan dan menciptakan supernova. Entahlah susah untuk memulai pembicaraan jika topik nya adalah itu, walaupun aku sering memulai mengajaknya berbicara menganai sel dan sebagainya.
Lain halnya dengan Marc yang langsung nyambung pembicaraan dengan ku. Terkadang aku sering membandingkan mereka berdua di hadapan Jessica. Ia mencibirku, mungkin karena aku dulu mentah-mentah menolak Marc karena belum kenal betul. Tapi jika aku disuruh memilih antara Marc dan Bartra. Aku akan memilih Bartra karena dia begitu mempesona dengan kepintarannya yang diatas rata-rata, dan IQ nya yang 169 merupakan paket lengkap bagiku yang hanya memiliki IQ 130.
Ujian sebentar lagi dan aku tak boleh pecah konsentrasi hanya karena mereka berdua.
From : Bartra
I Love You :*
Aku terkejut dengan sms Bartra yang kuterima malam ini, apa maksudnya? Salah kirim mungkin.
To : Bartra
Maksudmu? Tidak salah kirim?
Kubalas cepat supaya tau apa maksudnya. Kalau saja yang mengirim sms ini adalah Marc aku sudah sangat kebal, karena saking seringnya.
From : Bartra
Tidak, sama sekali tidak. Kau tau kaulah satu-satunya dalam hidupku yang bisa membuatku terpana dalam ratusan hari sepanjang tahun. Memandangmu itu sangatlah memabukkan.
To : Bartra
Kau anggap aku wine?
From : Bartra
Kau lebih dari sekedar wine, kalau wine kurasakan dulu baru aku mabuk. Kalau kau tak perlu kurasakan aku sudah ku buat mabuk.
To : Bartra
Lalu kau anggap aku apa?
From : Bartra
Enzi Garcia, will you marry me?
Tenggorokan ku seperti tercekat, dia begitu blak-blakan. Seharusnya aku sekarang sudah sangat bahagia karena lelaki yang kucintai memintaku untuk menikah dengannya. Aku malah memikirkan Marc, memikirkan pernyatan-pernyatan cintanya yang entah sudah berapa ribu kali ia ucapkan. Aku menangis terisak-isak dikamarku, bahuku tersengal akibat tangisanku.
“ Zi kau kenapa?”
Rupanya kakakku mendengar suara tangisanku, aku langsung menghambur kepelukannya. Mengeratkan pelukkanku seakan dia akan pergi begitu aku melepas genggaman itu. Menjadi abu.
Tanganya tak sengaja menyentuh hpku yang kembali berdering. Ternyata sms yang sama dari Bartra. Kakakku memandang dengan perasaan sedikit heran.
“ Siapa Bartra?”
Aku bingung, memangnya siapa Bartra dalam hidupku selain teman sekelas yang baru kenal walaupun hampir dua tahun bersama.
“ Dia teman sekelasku, juara umum disekolah.” Ucapku lirih, teramat lirih.
“ Kau mencintainya?”
Aku mengangguk dan kembali mengangis, kali ini lebih keras ketimbang yang tadi.
“ Lalu apa yang kau tangisi? Kau punya pacar?”
“ Tidak.”
Kakakku menyerngitkan dahi nya semakin tak paham. Matanya menyapu isi kamarku, mencoba mencari petunjuk.
“ Foto siapa ini?” ia menunjuk dua buah foto. Yang satu aku dan Marc setelah menonton pertandingan derbi Catalan, foto itu diambil dengan latar Camp Nou saat malam. Satunya lagi fotoku bersama Tello, Jess dan Bartra. Jes digendong Tello dan aku menyandarkan kepalaku di bahu kiri Bartra. Kami berfoto didalam lab dan masih menggunakan jas lab.
“ Itu fotoku dengan Marc,” tunjukku pada foto yang dibingkai figura warna silver; hadiah dari Marc. “ Dan itu fotoku bersama Jess, Tello, dan Bartra.” Tunjukku pada foto dengan figura berbentuk Doraemon.
“ Kau pacaran dengan nya?” ia menyelidik.
“ Mana mungkin aku pacaran dengan adik kelas yang lebih tua dariku sekalipun ia pernah mengajakku nonton El-Clasico.”
“ Kau mencintainya? Kalian punya hubungan khusus sepertinya. Buktinya foto ini sampai kau pajang disamping tempat tidurmu. Yakin hanya teman?”
Sulit mengatakan “Iya” apalagi “Tidak”. Tapi benar kata kakakku, ada hubungan apa sebenarnya antara aku dan Marc? Pacaran? Tentu saja bukan. Teman dekat? Kami sering berkelahi.
“ Tidak.” jawabku lemas.
Ia pergi meninggalkan ku tanpa berkata-kata lagi. Wajahnya masih menunjukan kalau dia menyimpan seribu pertanyaan kepadaku. Kurebahkan tubuhku dan terlelap tanpa aku sadari setelah kelelahan menangis.
Ketika sampai disekolah aku selalu menunduk seperti tak ingin menghiraukan orang-orang yang berjalan disebelahku.
“ Zi.”
Suara ceria Jess tak akan mengubah tampilan murungku. Aku hanya tersenyum kepadanya, masuk ke kelas dan menunduk.
“ Kau kenapa Zi?”
Mana mungkin aku berbohong dengan mengatakan “ Aku tidak apa-apa” saat mataku bengkak setelah menangis. Alasan klise.
“ Aku hanya menyakiti diriku sendiri.”
Seseorang memasuki kelas, ternyata Bartra. Mukanya datar seperti tak ada hal penting semalam. Mungkin hanya penting bagiku, bukan baginya.
“ Ada hubungannya dengan Bartra?”
“ Tidak.” Jawabku singkat.
>>>> 
Sebulan sudah aku mengabaikan Bartra, termasuk permintaannya untuk menjadi rekan lab ku, dan malah memilih Luther. Aku semakin dekat dengan Marc, meskipun tak ada desiran yang berbeda saat disebelahnya tapi aku merasa nyaman. Beda dengan Bartra, aku selalu kacau disebelahnya tapi terkadang merasa begitu nyaman dengan kacaunya aku. Terutama saat aku dan Tello membahas berita ter update tentang sepakbola yang sama sekali tak ia pahami.
Tapi aku bersyukur saat ulang tahunku yang ke enambelas  tepat tanggal sembilan April lalu dia memberiku hadiah sebuah boneka kelinci putih yang mengenakan jersey Barcelona dan sebuah jaket yang tentunya jaket Barcelona. Jess juga bercerita kalau dia rela antre dan berdesak-desakan di Botiga –megastore official Barcelona yang terletak di salah satu sudut di Camp Nou.
Namun itu tak cukup membuatku bahagia karena yang memberikan hadian bukan dia tapi Tello. Lebih dari itu ia juga akan berpisah denganku, mungkin kah ini menjadi kado perpisahan?
Siang ini saat istirahat makan siang aku lebih memilih mengasingkan diriku di taman belakang sekolah. Duduk di tepi danau buatan yang cukup luas. Membaca sebuah buku milik kakak ku yang sebenarnya adalah diktat untuk mahasiswa kedokteran, spesialisasi syaraf. Dari sekian banyak buku milik kakak di rumah aku paling suka yang ini, jadi beberapa kali kubawa kesekolah tanpa sepengetahuan nya.
Suasana sangat tenang disini, jarang sekali memang ada murid yang kesini kecuali ingin berduaan dengan pacarnya. Semilir angin yang sejuk ditambah dengan pemandangan danau dan beberapa pohon besar yang mengelilingnya membuatku ingin berlama-lama ditempat ini. Sungguh indah.
“ Zi.” Samar-samar seseorang memanggilku.
“ Kau?” mataku langsung terbelalak.
“ Indah ya Zi disini?” tangannya ia masukan di kantung celana miliknya.
Aku hanya diam. Tiba-tiba tangan nya meraih daguku dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Mata kami saling bertemu, aku yakin sekali diriku saat ini kacau sekali.
“ Kau mencintaiku Zi?”
Aku masih bergeming dan tak menjawab, sebenarnya tubuh ini sudah sangat ingin berpaling dan lari daripadanya. Tapi semua itu akan sangat sia-sia jika tubuh ini tak pernah bisa lunak saat dihadapan nya. Tegang.
“ Mau kah kamu Enzi Garcia ikut dengan ku. Kita akan sama-sama menjadi mahasiswa Oxford?”
“ Emmm....” dari sekian ribu kata yang telah kupikirkan hanya itu yang keluar melalui mulutku.
“ Akan ku berikan kau waktu untuk berfikir.” Ia melepaskan cengkraman tangannya di daguku lalu duduk dengan santainya disebelahku.
“ Aku tak tau harus bebicara apa saat kau ada disisiku.” Kata-kata itu meluncur begitu saja.
“ Terkadang aku merasa sangat bodoh dan kikuk disebelahmu.” Ia meliriku. “ Wajar karena kita sedang jatuh cinta.” Lanjutnya.
Aku langsung menoleh saat ia mengatakan kata jatuh cinta, ia juga menoleh kearahku. Alhasil mata kami kembali bertemu, kali ini mata biru nya terlihat kikuk saat menatapku. Baru kali ini aku melihatnya dengan keadaan yang seperti itu.
Kurasakan wajahnya yang semakin mendekat, hebusan nafasnya seakan telah menyatu dengan hebusan nafasku. Ia mengatupkan mata, dan aku ikuti. Dia menciumku, iya menciumku, ciuman pertama bagiku.
“ Kau sudah pernah ciuman Zi?”
“ Belum.” Jawabku malu-malu.
“ Sama, aku juga.” Lalu kami tertawa bersama-sama.
“ First Kiss.”
“ Ternyata membuat wanita terkesan itu gampang, cium saja dia.” Ia tertawa terbahak-bahak. Aku mempelototinya dan ia mengakhiri tawanya. Ekspresinya menunjukan dia ingin tertawa tapi takut menyakiti perasaanku.
“ Bukan berarti aku terkesan padamu setelah kau cium.” Ku kerucutkan bibirku.
“ Lalu setelah apa?”
“ Karena kau pintar.”
“ Hanya itu saja?” ia kecewa.
“ Kau mempesona.” Ucapku lirih.
“ Kau juga.” Jawabnya lalu merengkuh diriku dalam dekapannya.
>>>> 
Hari-hari berjalan lebih indah setelah aku dan Bartra telah “resmi”, lebih indah lagi karena aku juga diterima di Oxford University untuk jurusan Teknik mesin. Suatu saat nanti aku ingin membuat pesawat untuk diriku sendiri. Sedang Bartra mengambil jurusan seperti kakakku, pendidikan dokter. Ia juga berencana untuk mengambil spesialisasi syaraf nantinya.
Entah karena semakin dekatnya aku dengan Bartra atau terlalu sibuknya aku dengan Ujian aku jadi hilang kontak dengan Marc. Ada yang bilang di ke Italy untuk mendapatkan sponsor yang akan menunjang karirnya di dunia balap, ada juga yang bilang dia sudah terlalu sibuk untuk balapan ketimbang sekolah. Mana yang betul aku pun tak tau, dua-dua nya sama-sama meyakinkan.
Tapi dengan begini aku akan dengan mudahnya melupakan Marc dan konsentrasi dengan rencana-rencana ku untuk masa depan.
“ Selamat ya Zi kau lulus dengan nilai terbaik, kedua.” Jess memelukku dan diikuti Tello.
“ Selamat juga ya udah diterima di Oxford.” Tello menimpali.
Sulit sekali bagiku untuk berpisah dengan mereka, aku tau mereka juga akan sama sulitnya dengan ku. Terutama Tello, dia selalu sekelas denganku mulai dari SMP. Tak ayal dia ikut menangis saat aku menangis; ketika memeluknya.
“ Janji padaku kalau kalian akan tetap saling mencintai walaupun jauh.”
Tello akan kuliah di Cordoba dan Jess akan kuliah di Sevilla. Mereka mengangguk bersamaan dan memelukku lagi. Tello memelukku dengan keras, aku bahkan berfikir kalau tulang igaku sudah remuk akibat pelukan nya.
Kini giliran Bartra yang menatapku dalam.
“ Apa?” tanyaku.
“ Kau tidak mengucapkan selamat padaku seperti yang lain?”
“ Kau juga tak mengucapkan nya. Satu sama.” Kami saling pandang beberapa lama, lalu tertawa bersamaan. Berpelukan.
“ Zi semua ini untukmu.” Tiba-tiba aku merasa kalau ada air yang mengalir di bahuku. Dia menangis?
“ Hey kenapa kau menangis?”
“ Aku menangis bahagia.” Bibirnya yang hangat menyapu bibirku, mata kami saling mengatup. Tak peduli dengan dimana kami sekarang.
>>>> 
Kuhempaskan tubuhku di tempat tidur setelah aku mencapai kamar apartemen yang akan kutinggali bersama Bartra. Kami belum menikah tapi orang tua kami setuju-setuju saja kalau kami tinggal bersama. Ia juga ikut-ikutan menghempaskan tubuhnya disebelahku.
Kami saling pandang lalu tertawa disaat yang hampir bersamaan. Matanya seolah hilang saat ia tertawa. Begitu sipit.
“ Zi kau taruh mana peralatan mandi ku?”
“ Di ransel bersama dengan handuk-handuknya.”
Ia berdiri, menggeledah ransel. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia langsung keluar kamar. Aku duduk ditepian ranjang, memijit-mijit pelan kepalaku yang sedikit pening akibat jet lag. Melepaskan kuciran rambutku lalu mengambil perlengkapan mandiku dan pakaian yang akan kukenakan nanti setelah mandi.
Sembari menunggunya selesai mandi, aku pilih untuk menonton tv. Ternyata sedang menanyangkan salah satu ajang pencarian bakat dibidang tari. Aku sedikit tertarik dengan salah satu kontestannya yang baru berumur sebelas tapi sudah sangat luwes menarikan beberapa tarian yang menurutku cukup rumit, apalagi untuk anak seusianya. Kuyakin kalau aku yang mencoba menarikannya pasti besok aku akan berjalan terpincang.
Suara pintu kamar mandi terbuka, aku menoleh. Astaga! Ternyata ia hanya mengekanan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Dada bidang dan perut yang sixpack terpampang jelas dihadapanku. Butuh empatpuluh detik untuk membuatku sadar kembali. Saat kusadar ternyata ia sudah masuk kedalam kamar tanpa menghiraukan ku. Mungkin ia sekarang sudah mengikik senang melihat ekspresiku.
Malamnya kami makan malam dalam suasana yang cukup hening, hanya bunyi piring dan sendok yang terdengar. Sesekali kami saling pandang, tapi itu tak lebih dari lima detik. Usai makan malam aku langsung tidur, dia masih menonton pertandingan antara Arsenal dan MU yang tersisa limabelas menit lagi. Mungkin kalau itu yang sedang berlaga Oscar dan kawan-kawan maka aku akan ikut menonton dengan seksama.
Entah mulai kapan ia jadi sering memperhatikan dunia persepakbolaan, terbawa arus ku dan Tello mungkin. Karena tiap hari kami selalu membicaraka nya, di negara sepakbola seperti Spanyol dan Inggris tak susah menjumpai media masa yang menjadikan sepakbola sebagai topik utama setiap hari.
Kudengar pintu kamar dibuka lalu ditutup kembali, dia berbaring disebelahku. Mengecup keningku lalu jari telunjuknya menelusuri bibirku, mengecupnya sekilas dan ikut terlelap hingga esok paginya.
>>>> 
Setengah tahun sudah aku dan Bartra tinggal serumah, seranjang. Tapi tak ada hal yang tidak-tidak yang kami lakukan, hanya Frech kiss sesekali. Itu saja, hanya itu. Setengah tahun yang sama sekali tidak membosankan. Hingga suatu ketika Marc kembali datang dalam kehidupanku dan menyembulkan kembali luka yang sudah bisa kusingkirkan.
Ternyata selama ini dia tinggal tak jauh dariku. Dia memintaku kembali, aku tak bisa.  Dia memaksaku, tetap saja aku tak mau. Hingga ia hampir saja melakukan hal yang sangat menjijikkan dalam kamus hidupku, dia hampir merenggut mahkota yang sangat aku jaga selama ini. Kesucianku; keperawananku.
Untung saja sebelum ia sempat melakukan nya, ia mengerang dan menjotoskan tanganya ketembok lalu mengatupkan kedua tanganya kewajah, mengatakan kata-kata yang akan selalu kuingat selamanya.
“ Zi ada satu hal yang aku ketahui aku mencintaimu karena nafsu bukan karena cinta yang sesungguhnya. Lust without love.”
“ Aku sebenarnya tak tau apa itu cinta Marc, seingatku mereka sangat memabukkan siapapun yang sedang mengalaminya. Rasanya lebih dari sebotol tequilla atau vodka bahkan mungkin lebih memabukkan ketimbang segenggam kokain. Mereka memabukkan juga meracuni jutaan syarafmu. Dia tak memiliki obat untuk kau bisa mencegahnya.”
“ Bahagiakan Bartra, dia mencintaimu –aku yakin akan hal itu.” Itulah kata-kata terakhirnya.
Lalu dia menatapku dalam-dalam seperti inilah wajahku untuk terakhir kalinya ia lihat dan pergi dari dalam hidupku untuk selamanya tanpa bisa aku telusuri lagi. Aku juga tak mendengar karir balapnya lagi, entah kemana dia aku juga tidak tau. Ada yang bilang hidupnya hancur setelah ada masalah antara ayah dan ibunya? IDK.
>>>> 
“ Zi dimana kau?”
“ Didapur.”
“ Kau memasak?”
“ Tidak aku sedang memberi makan kucing, cepat kesini.” Perintahku.
“ Kucing? Kucing siapa?” sebelum ia pulang kuliah kami memang tak punya kucing.
“ Tadi aku beli, lucu tidak?” tanyaku lagi saat ia sudah berjongkok disebelahku.
“ Warnanya lucu; kuning dan putih. Kau beri nama siapa dia?” dia ikut-ikutan mengelus bulu kucing yang sedang makan itu.
“ Ceming.” Mataku berbinar, “ Bagaimana? Lucu tidak namanya?”
“ Ceming?”
“ Iya, aku dapat nama itu dari temanku yang dari Indonesia, kau ingat tidak sayang dengan Winda? Dia sering menceritakan kucingnya yang bernama ceming, jadinya ku namakan kucing ini dengan nama ceming juga.” Aku malah berceloteh kesana-kemari, semenjak hamil hormonku jadi tak beraturan.
Dia mengacak-acak rambutku dengan gemas lalu berdiri. Sebelum langkahnya semakin menjauh, kupanggil ia dengan nada manja.
“ Sayang.”
“ Iya?” ia berbalik untuk memandangku. Wajahnya yang rupawan ditambah dengan kacamata yang terpasang indah semakin membuat matanya menarik. Tubuh proposionalnya dibalut dengan kemeja warna biru muda, celana jeans berwana biru malam serta jas yang kancingnya tak dikaitkan satu sama lain, membuat ia menjadi mahasiswa Oxford yang paling mempesona.
“ Gendong.” Kulurkan kedua tanganku, ia meraihnya lalu mengangkat tubuhku. Digendongnya aku ala bridal style.
“ Setelah acara gendong-gendongan ini aku akan mendapat imbalan kan?” senyuman nakalnya membuatku gemas hingga ku tarik hidungnya yang telah mancung.
“ Nakal.” Sungutku.
“ Kalau aku nggak nakal kita nggak bakalan bisa punya anak.”
“ Ngaco.”
“ Sayang” Panggilnya pelan saat ia sudah merebahkanku di ranjang.
“ Emm.”
“ Kapan kau mau menikah denganku?”
“ Setelah kakakku menikah.”
“ Tapi aku tak bisa seperti ini terus.”
“ Jangan desak aku, desak kakakku.”
Ia terdiam, melepaskan kacamatanya lalu duduk ditepi lainnya dari ranjang. Kudekati dia, memeluknya dari belakang, menikmati aroma maskulin yang ia ciptakan. Ia balas membelai lembut rambutku.
“ Tunggu sampai anak ini lahir, kalau kak Juan tak kunjung menikah kita akan melewatinya.”
Matanya terbelalak lalu berbalik, “ Kau serius?”
“ Kau pikir aku berbohong.” Hormonku kembali naik turun, “ Sayang ayo kita nonton TV, aku baru ingat kalau hari ini ada pertandingan Chelsea melawan Swansea.”
Tanpa berkata-kata lagi ia langsung menggendongku menuju ruang TV.
“ Kau tak perlu menggendongku, kaki ku masih berfungsi.” Bibirku cembetut dan itu semakin membuatnya gemas.
“ Kau hamil muda nggak boleh beraktivitas berat.”
“ Jalan dari kamar ke ruang TV nggak sejauh kalau aku jalan kaki kembali ke Barcelona, sayang.”
“ Ya kalau kau mau jalan kaki dari sini ke Barcelona.” Dia mengikik. Bukannya sebal aku malah senang dengan ekspresinya.
“ Cepat nyalakan tv nya.” Pintaku.
>>>> 
“ Mama.” Laura menangis sekencang-kencangnya saat ia jatuh tersandung batu.
“ Sayang mana yang luka? Mana sini ayah lihat.”
Laura menunjuk lututnya yang sedikit merah, meskipun ia terjatuh dipasir tapi ku rasa ia jatuh cukup keras.
Kali ini aku bersama Bartra dan Laura serta kak Juan dan istrinya, Steffany memilih untuk berlibur di Pattaya, Thailand. Aku kini sedang mengandung anak kedua ku bersama Bartra, tentulah dengan siapa lagi? Sedangkan Steffany baru mengandung anak pertamanya setelah lima tahun menikah. Itupun juga dengan sedikit bantuan Laura, dengan cara Laura dititipkan dirumah mereka agar Steffany terangsang untuk memiliki jiwa keibuan.
“ Sudahlah Laura jangan cengeng, Laura sudah tujuh tahun masa masih cengeng sih. Mau punya adek juga.” Kak Juan menghibur Laura dengan caranya sendiri. Setelah itu Laura langsung diam.
“ Papa Laura minta gendong.” Laura memang terbiasa untuk memanggil kak Juan dengan sebutan papa, Steffany dengan sebutan mama. Sedangkan untuk memanggilku dan Bartra dia terbiasa memanggil Ayah-Bunda.
“ Jangan itu merepotkan.”
“ Tidak masalah.” Kak Juan menggendong Laura seperti Laura adalah anaknya sendiri.
“ Kita cari kedai makanan Spanyol yuk. Aku lapar.” Rasanya perutku sudah melilit minta diisi.
“ Aku juga lapar.” Steffany langsung menimpali.
Tibalah kami disebuah kedai yang menyediakan khas Spanyol; mayoritas makanan yang disediakan adalah makanan yang lazim dijumpai di Barcelona. Kedai itu cukup besar, malah lebih mirip kafe yang ada didalam pusat perbelanjaan mewah. Suasana dibuat se-Catalan mungkin, dugaanku yang memiliki kedai ini adalah orang Catalan. Beberapa pernak-pernik Barcelona juga dipajang, mataku tertuju pada sebuah couple cup.
“ Kak, couple cupnya Cuma satu.” Aku menarik lengan baju kak Juan.
“ Mungkin yang satunya lagi sedang di Catalan, bisa saja yang punya kedai ini juga punya kedai yang seperti ini di Catalan.”
Anehnya semakin melihat cangkir itu aku semakin ingat Marc. Dulu saat kami jalan-jalan di Botiga aku ingin sekali membeli couple cup yang persis dengan yang dipajang ini. Karena aku yang sudah terlalu banyak membeli barang hingga menghabiskan uangku, akhirnya ku urungkan niatanku itu.
“ Zi kau mau pesan apa?” pertanyaan kak Juan membuatku berpaling dari cangkir tadi.
“ Apa yang dipesan Bartra.”
Aku berjalan menunduk menuju meja, menghindari mataku yang mengeluarkan airmata terlihat orang lain.
“Bruk” aku menabrak sesuatu, bukan seseorang.
“ Maaf.” Ucapnya.
Suara itu, suara yang sangat aku kenal dimanapun berada. Suara yang akan susah sekali untuk dilupakan
“ Marc.” Bibirku bergetar, merasa namanya disebutkan ia memandangku lekat.
“ Zi.” Ia terbelalak.
Tanpa sepatah kata pun ia langsung berlari meninggalkan ku, ku kejar dia semampuku. Kulihat melalu salah satu sudut mataku Bartra dan kak Juan mengejarku. Entah dapat kekuatan dari mana aku bisa berlari sekencang ini dalam keadaan hamil sekalipun. Kuraih pundak Marc, ia berhenti. Bartra dan kak Juan berhenti.
“ Kenapa kau menghindariku?” ia masih memunggungiku.
Ia berbalik, matanya sembab. “ Karena aku sadar siapa aku, aku sadar wajahmu tak selayaknya aku lihat, aku tak pantas melihatnya.”
“ Kenapa kau bicara seperti itu dengan teman lamamu?” suaraku meninggi.
“ Aku hina Zi. Sedang kau sempurna, tak selayaknya aku memandangmu dan menyentuhmu. Jalan terbaik aku menjauhimu.”
“ Kau jahat, kejam. Kau tega melakukan itu padaku?”
“ Demi kebaikanmu.” Kini ia kembali memunggungiku, berjalan perlahan meninggalkan ku.
“ Mau kemana lagi kamu?”
“ Ketempat yang tidak kamu ketahui keberadaannya.”
“ Bagaimana dengan kedaimu ini, aku ingin mengunjunginya lagi.” Tentunya sambil berharap aku bertemu dengannya.
“ Aku akan mengurusnya dari sana, kunjungilah jika ingin berkunjung. Tapi jangan kunjungi aku.” Ia seolah tau apa yang sedang aku pikirkan.
Bartra berjalan mendekatiku setelah Marc berjalan semakin jauh, bahkan punggungnya saja sudah tak sudi lagi menatapku. Bartra langsung menggenggam jemariku dan memegang cincin pernikahan kami.
“ Kau tau Zi dari siapa cincin ini?” matanya basah.
“ Dari mu, semua orang tau itu.”
“ Aku hanyalah perantara datangnya cincin ini, tapi tak ada satu bagian tubuhku yang berhak mengakui nya.”
Aku memandangnya curiga, jangan-jangan...
“ Marc lah yang berhak mengakui cincin ini, tapi ia tak berhak atas pemiliknya.” Ia memelukku sembari menangis, aku juga ikut menangis.
“ Kenapa kau menerimanya?”
“ Dia bilang dia mencintaimu, dia ingin mempersuntingmu tapi tak bisa. Lalu ia memberiku cincin ini. Berkat cincin aku bisa memiliki mu dan memberanikan diri untuk memintamu melakukan hal yang membuahkan Laura sebelum kita terikat.”
“ Kenapa dia tak bisa?” kudongakkan kepalaku, mata kami bertemu.
“ Dia pasti punya alasan khusus yang tak bisa dia katakan.”
“ Kapan dia memberimu cincin itu?”
“ Tanggal limabelas Desember.”
“ Tepatnya?”
“ Limabelas Desember 2013.”
Berarti itu lima hari setelah ia mengunjungiku di apartemen. Peristiwa tujuhtahun yang lalu
>>>> 
Setelah kembali ke Barcelona aku langsung mengunjungi rumah ayah dan ibu Marc. Mereka langsung menangis saat aku bertanya bagaimana keadaan Marc.
“ Kau tidak tau kalau Marc sudah meninggal tujuh tahun yang lalu?” mata ayah Marc berkaca-kaca.
“ Meninggal?” wajahku langsung pucat pasi.
“ Iya, dia meninggal akibat kanker hati yang dideritanya bertahun-tahun.”
“ Kapan tepatnya?”
“ Tigabelas Desember 2013.”
Kakiku langsung terkulai lemas, bagaimana aku bisa menjelaskan kejadian di Pattaya dan cincin ini. Semuanya bukan khayalan, Bartra dan kak Juan juga melihat Marc yang berlari setelah melihatku. Bartra juga orang yang menerima cincin ini
“ Apa dia punya kedai di Pattaya?”
“ Ya dia punya.”
“ Masih beroprasi?”
“ Masih, kami yang memantaunya dari sini.”
Syukurlah kedai itu bukan imajiasiku.
“ Dimana ia meninggal?”
“ Di London Inggris. Tiga hari sebelumnya ia melarikan diri dari rumah sakit.”
Aku kembali bernafas lega, Marc yang mengunjungiku bukanlah khayalan. Tapi saat itu dia tak nampak pucat.
“ Baiklah saya permisi dulu.”
Kakiku perlahan meninggalkan pekarangan menuju mobil. Kukendarai dengan kecepatan limapuluh kilometer per jam. Sesampainya dirumah aku langsung menceritakan apa yang terjadi pada Bartra. Wajahnya tak kalah pucat pasi, namun aku tetap tak menceritakan kejadian di apartemen.
“ Lalu siapa yang memberiku cincin ini? Siapa juga yang ada di Pattaya itu?”
“ Aku tak tau.”




[i] Julukan untuk Member termuda